![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sesshoumaru terus berjalan dengan langkah kakinya yang pelan menuju paviliun timur dalam Istana Tanah Barat. Tidak dipedulikannya sedikit pun para youkai dalam istana yang segera membungkukkan badan memberi hormat saat melihat tuan mereka.
Nama no naka
Telinga Sesshoumaru yang tajam dapat mendengar jelas suara merdu bagaikan dentingan lonceng yang sedang menyandungkan sebuah lagu. Meski wajahnya tetap tanpa ekspresi, hatinya bisa merasakan kelucuan dan juga ketertarikan akan lagu yang didengarnya. Sepertinya, pemilik suara itu memang tidak akan pernah lelah maupun bosan menyanyikan lagu aneh yang dikarangnya sendiri.
Kaze no naka
Memasuki taman di paviliun timur, mata Sesshoumaru langsung menangkap beraneka ragam warna yang kini mengelilinginya. Merah, kuning, biru, jinga, putih-berpuluh-puluh jenis bunga bermekaran dengan begitu indah memenuhi taman tersebut. Hidungnya mencium jelas bau musim semi yang ada. Memusatkan pikirannya, dia berhasil menangkap sebuah bau lagi; bau yang identik dengan musim semi itu sendiri, namun dia tahu bukan. Mencium bau itu, dia bagaikan merasakan musim semi dalam musim semi. Bau yang menyenangkan dan sangat disukainya.
Yume no naka
Melangkahkan kaki memasuki taman, mata emas Sesshoumaru langsung menangkap sosok sang pemilik bau dan suara; seorang gadis kecil berusia dua belas tahun. Gadis itu sedang duduk di tengah bunga-bunga yang bermekaran dengan begitu indahnya merangkai mahkota bunga. Mengenakan sehelai kosode putih berlambang barat yang sangat sederhana, dengan rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir munggil, mata coklat jernih besar dan bersinar penuh keluguan—ditengah-tengah taman bunga itu, dia terlihat bagaikan salah satu dari bunga itu sendiri.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Ada kehangatan dalam hati yang dirasakan inuyoukai itu saat mendengar namanya meluncur keluar dari mulut munggil itu. Perasaan hangat yang sangat asing itu sama sekali tidak dibencinya, malahan sesungguhnya, sangat disukainya. Perasaan hangat yang dirasakannya sekarang, Sesshoumaru tidak pernah mengetahuinya dengan jelas artinya. Namun, dia tahu akan satu hal, perasaan tersebut adalah suatu perasaan yang selalu dirasakannya saat melihat gadis manusia di depannya sekarang.
Watashi wa hitori de machimashou
Sesshoumaru-sama omodori wo
Perasaan hangat yang dirasakannya semakin menguat, menyebar memenuhi setiap relung hatinya. Dia bagaikan ingin tersenyum—sesuatu yang sama sekali bukan sifatnya, sang inuyoukai penguasa tanah barat.
Menunggunya.
Gadis itu sedang menunggunya, akan menunggu dan selalu menunggu kepulangannya.
"Rin."
Suara tenang dan berat tanpa emosi yang memanggil namanya, membuat gadis manusia itu menolekan kepala menatap Sesshoumaru. Melihatnya, seketika juga, Rin segera berdiri. Kedua kaki kecilnya yang tidak beralas segera bergerak secepat yang dia bisa mendekati inuyoukai tersebut, mata coklat besarnya berbinar-binar karena kebahagiaan, senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. "Sesshoumaru-sama!"
Sesshoumaru tidak bergerak sedikitpun, dia tetap berdiri ditempat dengan wajah tanpa ekspresi. Mata emasnya terus mengikuti sosok gadis manusia itu. Rin sudah mulai tumbuh besar. Saat pertama kali bertemu, gadis itu masih sangat kecil, tingginya hanya sampai pada lututnya. Kini, tinggi gadis itu sudah mencapai pinggangnya. Beberapa tahun lagi, dia pasti akan tumbuh lagi, melewati pinggangnya, mencapai dadanya, mencapai bahunya.
Manusia.
Manusia memiliki laju pertubuhan yang sangat cepat daripada youkai sepertinya. Gadis di depannya akan berubah dan terus berubah. Namun, melihat gadis itu, dia juga tahu satu hal; kepolosan, binar kebahagiaan dalam mata coklat jernih itu, dan yang terpenting, senyumnya—itu semua tidak akan mungkin berubah, sebab dia akan selalu menjaganya.
"Sesshoumaru-sama!" membuka kedua tangan, dengan cepat, Rin memeluk pinggang Sesshoumaru. Mengangkat kepala menatap inuyoukai itu, senyum di wajahnya menjadi semakin lebar dan lebar. "Kapan anda pulang, Sesshoumaru-sama? Bagaimana perjalanannya? Apakah Tanah Timur menyenangkan? Apakah musim semi di Tanah Timur lebih indah dari Tanah Barat? Apakah bunga sakura di sana juga sudah bermekaran? Apa—"
"Rin." potong Sesshumaru pelan dengan suaranya yang tetap datar, walau dalam hati, dia cukup merasa lucu. Gadis kecil di depannya tidak pernah berubah, yakni; tidak pernah takut dan penuh rasa ingin tahu.
__ADS_1
Rin langsung melepaskan pelukannya dan mengangkat tangan menutup mulut. Wajahnya yang menatap Sesshoumaru langsung berubah menjadi takut-takut, "M-maaf, Sesshoumaru-sama.. Rin tidak bermaksud tidak sopan..."
Ekspresi Rin hanya membuat Sesshoumaru menutup matanya. Dia tidak suka. Ekspresi takut-takut itu, tidak peduli betapa kecilnya, Sesshoumaru tidak menyukainya. Dia tidak ingin Rin takut padanya, dia hanya ingin gadis itu tersenyum dan tertawa untuknya. Membuka mata, dia segera menggendong gadis kecil itu dengan hati-hati agar baju jirah besinya tidak melukai badan rapuh itu.
Terkejut dengan gendongan Sesshoumaru yang tiba-tiba, Rin segera meletakan kedua tangan kecilnya pada pundak inuyoukai itu. Ketakutan di wajah segera menghilang, diganti bingung, dan saat dia melihat wajah tampan di depannya lagi-melihat mata emas yang kini menatapnya dengan lembut, perasaan gembira memenuhi hatinya. Sesshoumaru tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tiada henti, Ssshoumaru tidak marah padanya.
"Sesshoumaru-sama," mengangkat tangan kanan kecilnya, Rin menyusuri wajah tampan inuyoukai di depannya dengan lembut. Sebuah senyum lebar kembali memenuhi wajahnya. "Rin lupa mengatakannya, 'Okaeri', Rin senang Sesshoumaru-sama akhirnya pulang.."
Kata-kata yang sangat sederhana serta senyum itu, sekali lagi, berhasil membuat kehangatan asing itu memenuhi hati Sesshoumaru. Tangan kecil yang menyentuh wajahnya begitu berbeda dengan tangannya yang kasar dan dingin, tangan itu begitu lembut dan hangat—tangan yang akan dijaganya, selamanya.
"Sesshoumaru-sama!" panggil Rin lagi dengan senyum yang masih mengembang di wajah. "Rin ingin menyampaikan pada Sesshoumaru-sama! Bunga anggrek yang ditanam Rin sudah berbunga! Rin ingin menunjukkannya pada Sesshoumaru-sama. Sesshoumaru-sama ingin melihatnya, kan?"
Sesshoumaru mengangguk pelan kepala dan mendapat balasan suara tawa Rin yang merdu. "Kalau begitu, ayo kita pergi melihatnya bersama, Sesshoumaru-sama!"
Melangkah kaki, Sesshoumaru langsung berjalan menuju tempat dimana dia tahu bunga anggrek yang dimaksud Rin berada. Dia tidak menurunkan gadis manusia itu, dan itu membuat sang gadis kembali tertawa kecil penuh kebahagiaan, sebab, Rin memang selalu menyukainya; kedekatan mereka.
Dulu sekali, saat Rin baru mulai mengikuti inuyoukai itu, sentuhan, gendongan dan pelukan diantara mereka adalah sesuatu yang sangat jarang. Namun, semenjak hari itu, satu tahun yang lalu, saat Rin mengajukan pertanyaan bolehkah dirinya memeluk inuyoukai itu. Sentuhan, gendongan dan pelukan menjadi sesuatu yang kerap mereka lakukan. Sesshoumaru jadi sering menggendong Rin, sedangkan Rin menjadi sering memeluk Seshoumaru, walau, hanya di saat mereka berduaan saja, jauh dari pandangan orang lain.
Rin tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi, tapi dia tidak pernah bertanya akan itu pada inuyoukai tersebut, sebab itu semua tidak penting. Yang penting, sentuhan, gendongan dan pelukan adalah sesuatu yang sangat disukai gadis itu, sesuatu yang selalu diharapkannya.
Saat mereka tiba di depan bunga Angrek yang dimaksud Rin, mata emas Sesshoumaru menangkap berpuluh-puluh bunga angrek yang ditanam rapi dan bermekaran dengan indah.
"Indah, kan, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin pelan.
Pujian Sesshoumaru membuat wajah Rin merona merah. Menundukkan kepala ke bawah, dia mati-matian menahan tawa yang ingin meluncur keluar. 'Kerja yang sangat bagus, Rin.', betapa pujian singkat itu membuatnya bahagia. Bagi inuyoukai itu, dirinya meski sedikit, kini, telah berguna.
Pujian.
Bagi Sesshoumaru, pujian itu sesungguhnya memang merupakan sesuatu yang sangat pantas didapatkan gadis manusia itu. Setahun setelah dia menyerahkan taman ini padanya, Rin telah berhasil mengubahnya dari taman biasa menjadi taman terindah yang pernah ada. Rin memiliki sepasang tangan hijau; tangan kehidupan. Tidak peduli bunga apa yang ditanamanya, bunga itu pasti akan tumbuh sangat cepat, baik dan mekar dengan indah.
Menatap Rin lagi, Sesshoumaru kembali mengamati gadis itu. Kosode sederhana berlambang barat, dan kaki yang tidak beralas, jika Inukimi melihat sosok Rin yang seperti ini, dia pasti tidak akan senang. Tapi, Sesshoumaru tidak peduli. Bebas dari kimono dua belas lapis yang berat, tabi dan sandal, sosok yang sangat sederhana, namun tetap indah tak tertandingi, itulah Rin yang sesungguhnya.
Mengangkat kepala dengan pelan, Rin tersenyum kecil menatap Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama, setelah kembali dari timur kali ini, Sesshoumaru-sama tidak akan kemana-mana lagi, kan? Dalam waktu dekat ini.."
Tetap diam seribu bahasa, Sesshoumaru mengangguk kepala dengan pelan sebagai jawaban. Dia tidak akan kemana-mana lagi selama setahun ini. Dia akan melewati sisa musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin di Istana Tanah Barat, menjalani semua tugasnya sebagai seorang penguasa serta memperhatikan pendidikan Rin.
Ya. Pendidikan Rin. Setahun yang lalu juga, semenjak dia menyerahkan taman ini pada Rin. Beberapa youkai dari berbagai tempat tiba-tiba datang ke Istana Tanah Barat, dan mereka semua adalah para youkai yang diperintahkan secara langsung oleh Inukimi untuk mendidik Rin. Dari tata krama, cara membaca dan menulis, ikebana, musik, menari, pengetahuan umum, sejarah youkai, bahkan politik—semua itu diajarkan pada Rin. Sesshoumaru tidak keberatan dengan itu, sebab dia memang ingin Rin lebih terdidik dari pada siapapun, dan gadis itu sendiri juga sangat tertarik dengan itu semua. Rasa ingin tahunya yang besar, selalu membuatnya bertanya dan giat belajar. Namun, dari semua itu, yang agak diluar dugaan mungkin adalah Rin selalu mendapatkan nilai sempurna dari semua pelajaran. Meski selalu polos dan naif, para youkai yang mengajarnya mengakui bahwa Rin sebenarnya adalah seorang anak yang sangat pintar.
Kesibukan dengan pelajaran dan juga mengurus taman yang menjadi aktivitas Rin seari-hari, meski aneh dan tidak dapat diterima siapapun, ternyata tidak menjauhkan gadis manusia itu dari para youkai rendahan di Istana Tanah Barat. Disela-sela kesibukannya, dia tetap saja dapat memanfaatkan waktu untuk membantu dan berbaur dengan mereka secara sembunyi-sembunyi. Kiri dan Kira telah menyerah untuk menjauhkan gadis itu dari para youkai rendahan, dan Sesshoumaru sendiri meski tidak suka, dia mengijinkan Rin berbuat sesukanya, sebab dia tidak mau gadis itu bersedih.
"Benarkah? Sesshoumaru-sama tidak akan kemana-mana?" tanya Rin riang penuh semangat. "Sisa musim semi, lalu musim panas, musim gugur dan musim dingin tahun ini, kita akan melaluinya lagi seperti tahun lalu, Sesshoumaru-sama?"
Sesshoumaru menganguk kepala dengan pelan. Sama dengan tahun lalu, mereka akan melewati tahun ini seperti tahun lalu.
__ADS_1
Sisa musim semi, akan mereka lewati dengan bersama. Sesshoumaru akan mengurus semua tugasnya seperti biasa, lalu pada saat dia memiliki waktu luang, dia akan menghabiskan waktu itu di taman ini, duduk menikmati musim semi bersama Rin. Rin akan bercerita padanya akan apa yang dialaminya pada hari itu, merangkai bunga, membaca serta menulis sajak puisi bersama, dan kadang, gadis kecil itu akan memainkan shamisen, bernyanyi dan menari untuknya jika sudah cukup yakin menguasainya.
Untuk Musim panas, pada awal musim, Sesshoumaru akan duduk di taman menatap sosok Rin yang mulai menanam dan memekarkan bunga-bunga musim panas. Dan saat bunga-bunga telah bermekaran, dia akan kembali mendengar semua cerita gadis kecil itu, membiarkannya merangkai bunga, membaca dan menulis sajak puisi bersama, mendengar shamisen yang dipetik, nanyian serta tarian seperti musim semi lagi. Lalu, malamnya, mereka akan duduk bersama, menatap bintang atau bulan sambil mendengar suara jangkrit menikmati musim panas.
Musim gugur, seperti awal musim panas, Sesshoumaru akan kembali melihat sosok Rin yang menanam dan memekarkan bunga musim gugur, begitu juga dengan apa yang akan mereka lakukan selanjut saat bunga telah bermekaran, tetap sama seperti musim semi dan musim panas. Beda dari musim gugur dengan musim semi dan panas adalah tempat dimana mereka menikmatinya. Mereka akan duduk dibawah pohon-pohon marple di ujung taman, dimana daun-daun telah berubah menjadi merah dan berguguran. Sewaktu-waktu, dia akan bisa melihat gadis kecil manusia itu berlari, meloncat penuh tawa untuk menangkap daun marple yang berguguran.
Lalu, untuk musim dingin, musim yang paling disukai Sesshoumaru. Musim dimana hanya yang kuat yang bisa hidup, musim dimana tidak ada bunga yang bermekaran. Rin akan membangun boneka salju untuknya. Rin tidak akan dijinkan olehnya untuk memainkan shamisen ataupun menari di musim ini dalam taman, sebab inuyoukai tersebut tidak ingin gadis itu kedinginan. Dengan balutan kimono tebal, gadis kecil itu akan selalu duduk di sampingnya, diselubungi mokomokonya supaya hangat. Hanya nyanyian serta membuat dan membaca sajak puisi bersama yang akan mereka lakukan untuk mengisi keseharian mereka, dan itupun agak jarang, sebab musim dingin adalah musim yang akan mereka nikmati dalam keheningan yang damai.
"Rin sangat senang, Sesshoumaru-sama! Rin sangat senang karena bisa menikmati semua musim lagi bersama Sesshoumaru-sama seperti tahun lalu!" membuka tangan, Rin segera memeluk leher Sesshoumaru dan membenamkan wajah pada mokomokonya sambil tertawa.
Pelukan Rin membuat Sesshoumaru menutup mata. Menghirup bau Rin, merasakan sensasi musim semi dalam musim semi, dia merasa sangat nyaman. Gadis kecil ini memeluknya seperti ini, tidak tahu kenapa, selalu terasa sangat benar.
"Rin." Panggil Sesshoumaru kemudian. Matanya kembali terbuka, dan dengan pelan dia kembali menempatkan kaki tak beralas gadis kecil itu di atas tanah. Melepaskan pelukan tangannya, Rin menatap inuyoukai itu mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam lengan kimononya dan menyerahkan sesuatu pada dirinya, yakni; bibit bunga sakura.
"S-Sesshoumaru-sama, ini.."
"Bunga sakura di timur cukup indah. Namun, aku yakin kau bisa menumbuhkan sakura yang lebih indah lagi ditaman ini."
Mulut Rin langsung terbuka menganga karena terkejut dengan apa yang dikatakan Sesshoumaru. Menerimanya, gadis itu menatap lekat bibit bunga sakura ditangannya. Air mata mengalir menuruni pipi, kebahagiaan yang tiada tara memenuhi hati kecilnya, hingga untuk bernapas saja dirinya merasa sulit. Sesshoumaru-sama membawakannya bibit bunga sakura dari perjalanannya, apakah ini artinya, Sesshoumaru-sama memikirkannya selama perjalanannya? Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, pertanyaan yang sudah lama sekali ingin ditanyakannya pada inuyoukai itu sejak hari dimana dia dititipkan di desa manusia.
Tangan kanan Rin kemudian terangkat mengenggam erat hakama Sesshoumaru, wajahnya yang masih penuh air mata menatap wajah inuyoukai itu. Pipinya yang selalu merona kemerahan bagaikan mawar semakin memerah, ekspresi wajahnya yang biasanya selalu penuh kebahagiaan dan senyum berubah menjadi ekspresi wajah malu-malu suatu ekspresi yang sangat mengemaskan dan tidak pernah dilihat Sesshoumaru selama ini.
Menelan ludah dan mengumpulkan segenap keberanian, Rin segera memejamkan kedua matanya dengan kuat. "S-Sesshoumaru-sama, apakah anda merindukan Rin? Selama Rin tidak ada di samping, apakah Sesshoumru-sama merindukan Rin, seperti Rin selalu merindukan Sesshoumaru-sama?"
Mata emas Sesshoumaru terbelalak mendengar pertanyaan yang diajukan Rin padanya. Menatap sosok Rin yang masih menutup mata menunggu jawabannya, untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Menarik napas pendek, inuyoukai itu kemudian menutup mata dan menjawab pertanyaan itu dengan sebuah jawaban yang selalu diberikannya pada gadis tersebut.
"Jangan menanyakan sesuatu yang tidak berguna."
Jawaban Sesshoumaru segera membuat Rin membuka mata. Ekspresi wajahnya segera berubah, dengan cepat dia kembali menundukkan kepala ke bawah. Tidak tahu kenapa? Hatinya tiba-tiba merasa sangat sakit dengan jawaban yang di dapatkannya. Kecewa. Ada perasaan kecewa yang tidak dapat dibendung yang kini memenuhi hatinya. Dia sedih, Sesshoumaru tidak merindukannya, dirinya ada atau tidak disamping, bagi inuyoukai itu, semuanya sama saja.
Sesshoumaru bisa merasakan kesedihan serta kekecewaan hati Rin dengan sangat jelas, dan dia tidak manyukainya. Mengangkat tangan, dia dengan cepat menarik badan gadis kecil itu mendekatinya. Melingkarkan tangan pada pinggang gadis itu dan membungkukkan badan, dia segera memeluknya dengan erat.
Rindu.
Apakah dia merindukan Rin selama mereka berpisah? Sesshoumaru tidak pernah tahu. Karena sejujurnya, dia sendiri sebenarnya tidak pernah mengerti, apa itu perasaan rindu. Dia tidak mau membohongi gadis kecil itu, dirinya yang tidak tahu apa itu rindu, tidak akan mungkin bisa menjawab pertanyaan gadis itu. Selama perjalanannya, selama mereka berpisah, bagaimana perasaan yang dia rasakan pada gadis itu, dia tidak mengerti, namun, dia cukup tahu akan satu hal, yakni; setiap kali gadis itu tidak ada disampingnya, dia akan selalu memikirkannya. Memikirkan baunya yang menyenangkan, memikirkan suaranya yang merdu bagaikan dentingan lonceng, memikirkan sentuhannya yang hangat, memikirkan senyumnya yang memesonakan. Itu semua tidak akan pernah menghilang sedetikpun dari dalam pikirannya, dan saat mereka bertemu lagi, dia akan selalu ingin mencium baunya, mendengar suara, melihat senyuman, memeluk dan merasakan kehangatan badan kecil itu—ingin dia selalu berada disampingnya.
"S-Sesshoumaru-sama.." Rin sangat terkejut dengan pelukan Sesshoumaru yang tiba-tiba, sebab, ini adalah pertama kalinya Sesshoumaru memeluknya seperti ini. Selama ini, dia yang sering memeluknya, bukan inuyoukai itu. Inyoukai itu hanya selalu mengendongnya, bukan memeluknya. Namun, merasakan kehangatan badan itu lebih lama lagi, Rin segera membuang jauh-jauh kebingungan dalam hatinya. Mengangkat tangan dengan pelan, dia membalas pelukan itu dan tersenyum kecil.
'Apakah Sesshoumaru-sama merindukan Rin?'
Pertanyan itu kembali terlintas dalam pikiran Rin. Pertanyaan itu dijawab Sesshoumaru dengan jawaban yang sudah benar-benar menjadi ciri khasnya. Tapi, sikap inuyoukai itu sekarang, boleh, kan? Bolehkan dia berpikir bahwa inuyoukai yang begitu berharga baginya sebenarnya juga sangat merindukan dirinya saat mereka berpisah? Tidak tahu mengapa, tanpa dijawab lagi, sebuah jawaban muncul dalam hatinya. Jawaban yang langsung membuat air mata kebahagiaan mengalir turun dan tertawa lepas sambil memperat pelukannya.
'Iya. Sesshoumaru ini juga merindukan Rin.'
__ADS_1
....xOxOx....