![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Cantik sekali.." Kata Rin penuh kagum. Kedua mata coklat besarnya berbinar-binar menatap taman istana tempatnya berada. Pohon sakura yang bermekaran tertanam dengan rapi memenuhi taman, kelopak-kelopak bunga sakura terbang dibawa angin yang bertiup, dan bau bunga sakura yang harum tercium dengan jelas—musim semi sangat yang dicintainya.
"Kau ingin bermain, Rin kecil?" tanya Inukimi yang ada di samping Rin pelan.
Rin segera mengangguk kepala dengan cepat sambil tersenyum lebar, "Boleh?" tanyanya.
Inukami tersenyum dan mengangguk pelan kepalanya. Rin langsung tertawa, tidak membuang waktu, dia berlari ke depan. Kedua tangannya terangkat ke atas, meloncat-loncat, dia berusaha menangkap kelopak-kelopak bunga sakura yang dibawa angin. Sesekali, dia akan menoleh kepala ke belakang, menatap Inukimi yang duduk di atas sebuah kursi santai dan tersenyum lebar.
Mata emas Inukimi terus menatap sosok Rin dengan penuh pujaan, mengikuti setiap langkah kaki kecilnya, lalu, saat gadis kecil itu tersenyum padanya, dia akan segera membalas senyum itu. Kiri dan Kira yang berada di samping Inukimi melihat semuanya, sudah dua hari berlalu semenjak gadis manusia aneh di depan mereka sekarang berada di istana tanah barat ini, dan tidak diragukan lagi, bahwa dengan mudah dan tidak tahu bagaimana caranya, dia telah berhasil menaklukkan hati Inuyoukai penguasa tanah barat itu.
"Inukimi-sama," kata Kira tiba-tiba, "Hamba sudah melakukan apa yang anda perintahan. Tapi, apakah kini anda masih ingin menjalankan rencana anda membawa Rin-sama kemari?" tanyanya.
Senyum di wajah Inukimi menghilang mendengar pertanyaan Kira. Perlahan, dia menoleh kepala menatap pengawalnya dengan wajah ekspresi wajah tidak peduli, "Biarkan saja," jawabnya. "Aku sudah tidak peduli lagi dengan rencana itu."
"Hamba mengerti."
Inukimi kemudian menatap Kiri. "Kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan, Kiri?"
"Sudah, Inukimi-sama." jawab Kiri cepat. "Onigumo sudah selesai membuat kimono-kimono baru untuk Rin-sama. Besok pagi, kimono-kimono itu sudah akan ada dihadapan anda."
"Bagus." Senyum kembali terlintas dalam wajah Inukimi. Dia telah memerintah Onigumo, youkai laba-laba perajut benang untuk membuat kimono-kimono baru dan indah untuk Rin. Baginya sekarang, gadis kecil manusia itu hanya pantas mengenakan kimono-kimono sutra dengan mutu terbaik di dunia. Dia sudah tidak sabar menunggu besok saat kimono-kimono itu tiba, dengan tangannya sendiri, dia pasti akan memakaikan semua kimono itu pada Rin. Putri kecilnya pasti akan menjadi putri tercantik dan termanis di dunia.
"A-anu.. I-ibunda.." panggil Rin tiba-tiba. Dia kini berdiri di samping Inukimi yang duduk di atas kursi santai.
"Ya, ada apa, Rin kecil." Inukimi menatap kembali Rin dengan senyum dan pandangan mata lembut.
Dengan pelan dan malu-malu, Rin mengangkat tangan dan mengalungkan sebuah rantai bunga sakura yang dibuatnya kepada Inukimi. "Untuk anda, Ibunda." katanya sambil tersenyum lebar.
Inukimi tertegun dengan apa yang dilakukan Rin, dan sejenak kemudian, dia segera mengangkat tangan memeluk gadis kecil itu dengan erat, "Kau manis sekali, Rin kecil!" tawanya. Dia gembira sekali, selama ini, tidak ada yang pernah melakukan hal-hal seperti ini padanya, menghadiahkannya bunga dan memanggilnya 'Ibunda' dengan senyum tulus penuh kegembiraan. Kebahagiaan menjadi seorang ibu, dicintai anaknya, ini adalah pertama kalinya dia merasakan itu semua.
Rin tertawa dan membalas pelukan Inukimi dengan sama eratnya, membenamkan wajah pada dada inuyoukai itu. Sama seperti Inukimi, dia bahagia, sebab dirinya kini telah kembali memiliki seorang ibu. Dia bisa bermanja-manja, memberikan bunga dan memanggil 'Ibunda' pada seseorang lagi. Dirinya masih ingat, betapa hangat, menyenangkan dan nyenyak tidurnya semalam. Dia tidur dalam kamar Inukimi, di atas tempat tidurnya, di sampingnya. Kedua lengan Inukimi memeluknya, begitu juga dengan mokomoko yang seakan menjadi selimutnya. Lalu, saat dia bangun, Inukimi masih ada disampingnya, mencium lembut keningnya dan berbisik pelan, 'Selamat pagi, putri kecilku..'. Dalam mimpi pun tidak pernah terbayangkan olehnya.
__ADS_1
Inukimi melepaskan pelukannya, namun senyum di wajahnya masih tetap ada. Tangannya dengan lembut menyampingkan poni Rin yang hampir menutup mata. "Apakah ada yang kau inginkan sekarang Rin-kecil? Permen? Boneka? Mainan?" tanyanya "Katakan pada Ibunda, apapun yang kau inginkan, Ibunda pasti akan memberiknnya padamu."
Rin menggeleng kepala, "Rin tidak butuh apa-apa," jawabnya dan kembali tersenyum malu-malu. "Rin sekarang hanya ingin Ibunda ada di samping Rin.."
Kedua mata emas Inukimi langsung terbelalak mendengar jawaban Rin yang di luar dugaan, sejenak kemudian, dia langsung tertawa. "Oh, Rin kecil," ucapnya dan mencium kening Rin dengan lembut. "Ibunda ada di sini. Ibunda tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita."
Seorang ibu yang tidak pernah merasakan bagaimana sebenarnya rasa menjadi seorang ibu, serta seorang anak yang kehilangan dan mendambakan seorang ibu, meski mereka adalah youkai dan manusia, mereka ternyata sanggup saling melengkapi dengan sempurna. Kiri dan Kira yang melihat interaksi antara Inukimi dan Rin tahu, apa yang dikatakan penguasa tanah barat itu adalah benar, Inuyoukai itu tidak diragukan lagi, tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan gadis manusia itu dari sisinya, termasuk putra kandungnya, Sesshoumaru.
Rin tiba-tiba menoleh kepala menatap Kiri dan Kira yang berada di samping mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Mengangkat tangannya dia kemudian menyerahkan dua untai gelang bunga sakura pada mereka. "Kiri-sama, Kira-sama, untuk anda berdua. Rin membuatkan ini untuk anda berdua." senyumnya.
Kedua inuyoukai bersaudara tertegun dengan ucapan Rin. Mata emas mereka terbelalak tidak percaya. Mereka tidak mengerti kenapa gadis kecil ini bisa bersikap seperti ini pada mereka, memberikan gelang bunga buatannya kepada youkai yang baru saja dikenalnya?
Melihat kedua inuyoukai bersaudara yang tidak mengambil gelang bunga yang ada ditanggannya, senyum diwajah Rin meredup. Inukimi yang bisa merasakan, mencium dan melihat perubahan suasana gadis manusia itu, segera mengangkat kepala menatap kedua pengawalnya dengan tajam.
Menyadar pandangan tajam Inukimi, Kiri dan Kira segera mengangkat tangan untuk menerima gelang bunga yang ada di tangan Rin dengan sopan penuh hormat, "Terima kasih, Rin-sama." ucap mereka bersamaan.
Senyum lebar kembali merekah di wajah Rin dan membuat kedua inuyoukai bersaudara kembali tertegun. Gadis manusia ini benar-benar tidak dapat dipredeksi, kenapa dia bisa tersenyum begitu gembira hanya karena mereka menerima gelang bunga buatannya? Sungguh gadis yang aneh, namun yang paling penting, tidak tahu mengapa, mereka menyukai senyum lebar itu. Mereka tidak dapat menjelaskan senyum itu dengan kata, senyumnya itu sungguh sangat indah dan dapat menenangkan hati. Mereka berdua berpikir, mungkin memang senyum inilah yang merebut hati Inukimi, begitu juga dengan Sesshoumaru yang terkenal begitu membenci manusia.
....xOxOx....
"Tidak boleh, bodoh!" balas Kagome, "Kita harus tetap mengikuti Kakak."
"Kau yang duduk di atas punggungku jelas tidak apa-apa, tapi aku sudah sangat lelah tahu!"
Kagome terdiam begitu mendengar protes Inuyasha. Mata hitamnya menatap Miroku dan Sango di atas Kirara serta Kaeda dan Kohaku di atas Ah-Un, kelelahan terlihat jelas di wajah mereka. Dirinya bisa memaklumi itu, bahkan sejujurnya, dirinya juga sudah sangat lelah. Mereka telah melakukan perjalanan semalaman tanpa istirahat.
Menoleh kepala kembali menatap sosok asli youkai Sesshoumaru, Kagome menghela napasnya, mungkin mereka memang harus beristirahat sebentar. Namun, kedua bola matanya tiba-tiba menatap sesuatu yang aneh, Sesshoumaru yang dari kemarin terus berlari dengan begitu cepat tiba-tiba berhenti berlari.
"Ada apa dengan Kakak, Inuyasha?" tanya Kagome kebingungan. Sesshoumaru yang berhenti berlari mengangkat kepala menatap langit. Hidungnya mengendus-endus udara dan sejenak kemudian, matanya kembali menatap pepohonan di depannya.
"Mana aku tahu!" teriak Inuyasha lagi penuh kemarahan. Dia tidak mengerti istrinya, kenapa dia selalu menanyakan sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dijawabnya, "Kuberitahu, Kagome! meski aku dan si berengsek itu memiliki ayah yang sama, kami ini buk—" jelasnya, namun penjelasan itu terhenti saat hidungnya berhasil menangkap sebuah bau yang ada di udara. Larinya terhenti, dan wajahnya memucat, "T-tidak mungkin...."
__ADS_1
"Ada apa, Inuyasha?" tanya Miroku yang ada di ats punggung Kirara kebingungan. Youkai kucing itu berhenti, begitu juga dengan Ah-Un yang dikendarai Kaeda dan Kohaku. Namun, sebelum hanyou itu berhasil menjawab pertanyaan tersebut, Sesshoumaru yang ada di depan mereka tiba-tiba meraung dengan sangat keras, kaki depan yang memiliki kuku besar dan tajam mencakar-cakar tanah di bawah, mata merahnya semakin menggelap , dan dari mulutnya yang terbuka, air liur mengalir turun, menetes ke atas rumput dan menghanguskannya—air liur beracunnya.
Tidak ada yang bergerak, mereka semua mematung. Ketakutan memenuhi hati mereka, inuyoukai itu memang sudah terlihat marah semenjak dia mengetahui Rin menghilang, tapi sepertinya kemarahannya ini semakin memuncak. Apa yang harus mereka lakukan sekarang, mereka benar-benar tidak tahu lagi.
Tidak mempedulikan apa-apa, Sesshoumaru kembali berlari, merobos pohon-pohon di depannya. Saat sosok Sesshoumaru menghilang dari pandangan, Inuyasha segera menurunkan Kagome dan berlari ke depan, meloncat ke atas, dia menarik sesuatu yang terikat di atas dahan salah satu pohon.
"Inuyasha, ada apa?" tanya Kagome bingung, dia berlari mendekati hanyou itu, begitu juga dengan yang lainnya.
Inuyasha tidak menjawab, dia memperlihatkan pada mereka semua apa yang baru saja ditariknya dari dahan pohon. Mata mereka semua langsung terbelalak karena terkejut, yang ada di tangan Inuyasha adalah secarik kain sutra berwarna hijau dengan mutu terbaik, dan mereka semua kenal dengan baik kain itu, kain itu adalah kain yang sama dengan motif kimono yang dikenakan Rin saat diculik. Namun, yang sebenarnya sangat mengejutkan mereka adalah warna hijau pada kain sutra itu tidak lagi sepenuhnya berwarna hijau, ada warna merah memenuhinya—darah.
"Katakan padaku bahwa apa yang aku lihat itu salah, dan warna kain kimono itu adalah hijau sepenuhnya." Kata Miroku tidak mau mempercayai apa yang dilihatnya.
"Tidak salah lagi, kain ini adalah kain kimono gadis kecil itu. Baunya masih tertiggal, dan darah yang ada..." jelas Inuyasha pelan dengan ekspresi wajah bingung bercampur tidak suka, "Tidak salah lagi, itu darahnya."
"Darah Rin?" tanya Kohaku dengan wajah pucat.
"Iya," jawab Inuyasha cepat, "Lalu, satu lagi. Aku memang sudah berhasil mendapatkan bau gadis kecil itu, kurasa begitu juga dengan Sesshoumaru, hanya saja aku tidak tahu mana arah yang benar."
"Maksudmu, Inuyasha?" tanya Sango bingung.
Inuyasha mengangkat kepala dan mengendus udara. "Tempat ini, angin yang bertiup dari seluruh penjuru arah bertemu, dan aku bisa mencium jelas bau darah gadis kecil itu di dalamnya."
"Siapapun yang menculik Rin, mungkin mengikatkan kimono dengan bau darah Rin untuk membingungkan kau dan Sesshoumaru yang memiliki indra penciuman sangat tajam. Trik yang hebat sekali.." Puji Miroku, walau wajahnya terlihat tidak gembira, sebab ini artinya mereka masih tidak berhasil menemukan petunjuk akan keberadaan Rin.
Semua yang ada kembali diam membisu, kepala mereka memikirkan kemungkinan di mana Rin berada sekarang, hingga akhirnya Kaeda yang dari tadi diam membisu memecahkan keheningan. "Kalian semua, apakah sekarang kalian akan membiarkan Seshoumaru-san begitu saja?"
Pertanyaan Kaeda kontan membuat Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango yang ada di sana tersadar. Mereka semua tahu, dengan keadaan seperti inuyoukai itu sekarang, mereka benar-benar tidak boleh membiarkanya begitu saja, tapi mengikutinya terus juga terasa sangat salah. Bagimana jika dia tiba-tiba mengamuk dan menyerang mereka?
"Kurasa lebih baik kita mengikuti Sesshoumaru-sama," Kata Kohaku tiba-tiba, "Tidakkah kalian merasakannya? Meski bau darah Rin-chan ada di semua penjuru, arah yang beliau tetap tidak berubah. Beliau terus berlari ke barat. Kurasa beliau benar-benar tahu siapa yang menculik serta di mana Rin-chan berada."
"Kau benar sekali, Kohaku," setuju Kagome. Apa yang dikatakan Kohaku memang sangat masuk akal, begitu juga dengan Miroku, Sango dan Kaeda.
__ADS_1
Inuyasha mencibir dan membuang muka, namun, jauh dalam hati dia setuju dengan apa yang dikatakan taijiya muda itu. Tangannya kemudian menyentuh Tessaiga yang ada di pinggangnya. Menarik napas dia hanya dapat berharap, semoga dia memang tidak akan perlu menghadapi keadaan dimana hingga dia harus mengangkat pedang kepada Kakak tirinya itu lagi.
....xOxOx....