![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Angin berhembus membuat siapapun yang merasakannya akan kedinginan, sebab angin itu adalah angin musim dingin. Musim gugur telah berlalu, dan semua orang tahu, tidak lama lagi, daun-daun berwarna coklat yang gugur akan ditutupi putihnya salju.
Musim dingin adalah musim yang ditakuti banyak orang, terutama mereka yang miskin. Mereka akan khawatir, apakah pakaian mereka dapat menghangatkan badan, dan apakah mereka memiliki persediaan makanan untuk melewati musim dingin.
Dulu sekali, saat masih kecil, Rin yang baru kehilangan keluarganya juga mengalami itu. Dalam musim yang dinginnya menusuk tulang, sendiri dan kelaparan—dia sendiri sebenarnya tidak ingat lagi bagaimana dia berhasil melewati musim dingin saat itu.
Mungkin karena kesedihan kehilangan segalanya, Rin tidak pernah mengingat jelas lagi masa lalu paling kelam dalam hidupnya. Yang dia ingat paling jelas saat-saat itu hanyalah; dingin, lapar dan gelap—sendiri.
Musim dingin adalah musim yang menakutkan. Musim dingin adalah musim dimana yang kuat hidup dan yang lemah musnah. Namun, untuk musim dingin yang seperti itu, Rin tidak pernah membencinya.
Memang tidak seindah dan sehangat musim semi yang memiliki jutaan warna, tapi warna putih salju di mana mata memandang sesungguhnya juga sangatlah; menawan. Ada keindahan dalam musim yang menakutkan itu, seperti—Sesshoumaru.
Jika semua orang yang mengenalnya selalu mengatakan bahwa dia adalah lambang musim semi, maka dalam mata Rin, Sesshoumaru adalah lambang dari musim dingin. Kuat, menakutkan, dingin dan mematikan—cocok sekali bukan?
Namun, seperti halnya keindahan musim dingin yang dilihatnya, Rin bisa melihat jelas juga keindahan tersembunyi dari seorang inu daiyoukai bernama Sesshoumaru.
Keindahan sesungguhnya dari Sesshoumaru yang tidak dapat dilihat siapapun kecuali dirinya, Rin tidak memiliki kata untuk menjelaskannya. Tapi, dia sudah bisa melihatnya sejak kecil hingga sekarang—inuyoukai itu indah tidak terjelaskan. Inuyoukai yang menyelamatkannya, melindunginya dan memilihnya dari sekian banyak wanita di dunia—pria yang dia cintai dengan seluruh jiwa raganya.
"Apa yang kau lihat, Rin?" tanya Sesshoumaru pelan. Kedua mata emasnya menatap Rin yang duduk menyandarkan pungung pada dadanya. Kedua tangannya memeluk erat dan lembut perut wanita manusia yang menatap lurus ke luar jendela.
Rin menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru dan tersenyum lembut. "Rin melihat musim dingin di luar Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru mengangguk kepala pelan mendengar jawaban yang didapatkannya. Menatap wajah Rin yang masih pucat, dia menggerakkan moko-mokonya menyelimuti kaki dan badan wanita dalam pelukan, untuk mengusir hawa dingin yang ada.
Senyum Rin hanya semakin lebar dengan apa yang dilakukan Sesshoumaru. Perhatian inuyoukai itu, dia sungguh menyukainya. Perlahan, dengan senyum tidak berubah di wajah cantiknya, kisaki tanah barat kembali menoleh wajah menatap keluar jendela. "Musim dingin sudah tiba, Sesshoumaru-sama," ujarnya pelan. "Tidak lama lagi, mungkin salju sudah akan turun."
Sesshoumaru mengeratkan pelukannya dan mengangguk kepala pelan sekali lagi. Musim dingin memang telah tiba, dan tidak lama lagi, dunia akan berubah menjadi putih karena salju yang turun menutupi tanah.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin kemudian. Bangkit, dia dengan pelan dan hati-hati membalikkan badan menatap Sesshoumaru. Kedua mata coklatnya berbinar gembira. "Musim dingin—tidak lama lagi anda akan berulang tahun, kan? Apa yang hadiah yang anda inginkan?"
Pertanyaan dan binar gembira di mata Rin membuat Sesshoumaru tersenyum kecil. "Kau juga akan segera berulang tahun."
Ucapan Sesshoumaru membuat Rin tertegun. Sejenak kemudian, dia kembali tersenyum. Dirinya hampir lupa, hari ulang tahun Sesshoumaru juga merupakan hari ulang tahunnya. Tahun lalu, inuyoukai itu telah mengumumkannya.
"Apapun yang kau inginkan, Sesshoumaru ini akan memberikannya padamu, Rin?" tanya Sesshoumaru pelan. Mengangkat tangan kanannya, dia mengelus pelan pipi Rin lembut.
Rin tertawa dan menggeleng kepala. "Anda telah memberikan hadiah paling luar biasa pada Rin, Sesshoumaru-sama," jawabnya lembut. Tangannya perlahan bergerak menyentuh perutnya. "Anda telah memberikan Shura untuk Rin. Rin tidak membutuhkan apa-apa lagi."
Jawaban Rin hanya membuat Sesshoumaru kembali tersenyum. Perlahan, dia mendekatkan wajah mereka dan mencium lembut dahi wanita di depannya.
Rin yang tidak membutuhkan apa-apa saat dirinya, Sesshoumaru sang penguasa tanah barat bersedia memberikan segalanya. Tidak pernah berubah; wanita manusia yang tidak pernah egois—wanita yang sudah merasa cukup hanya dengan memiliki mereka yang dicintainya.
Sentuhan yang hangat dan lembut di dahinya membuat Rin menutup mata. Dia baru kembali membuka matanya saat Sesshoumaru telah menjauhkan bibirnya.
Tertawa kecil, Rin menatap sepasang mata emas yang menatapnya lembut. "Apa yang anda inginkan, Sesshoumaru-sama? Selagi Rin bisa, Rin pasti akan memberikannya."
Mengelus lembut pipi Rin, Sesshoumaru kembali tersenyum. Apa yang dia inginkan? Inuyoukai itu tahu. Hal yang sekarang dan selamanya akan menjadi satu-satunya yang dia inginkan.
"Selamanya bersama."
"Eh??" Rin tertegun mendengar jawaban Sesshoumaru.
"Hadiah yang Sesshoumaru ini inginkan adalah ingin bersama dengan Rin selamanya."
Hadiah yang Sesshoumaru inginkan, jawaban dan ucapannya—Rin ingat jelas, itu adalah apa yang dia inginkan dan ucapkan tahun lalu pada malam inuyoukai itu bertanya apa yang dirinya inginkan sebagai hadiah ulang tahun.
Selamanya bersama.
Air mata mengalir menuruni pipi Rin tanpa bisa dihentikannya. Kehangatan memenuhi seluruh relung hatinya, dan senyum seindah musim semi menghiasi wajah cantiknya. Menggerakkan kedua tangannya, dia memeluk leher Sesshoumaru dan menenggelamkan wajahnya pada celah leher inuyoukai tersebut.
Selamanya bersama.
Kata itu adalah kebahagiaan bagi Rin. Kebahagiaan yang paling dia inginkan dalam keberadaannya. Dua kata sederhana yang membahagiakan dan sekaligus—menyakitkan.
Selalu dan selamanya, tidak ingin terpisah. Keinginan seperti itu, Rin tahu. Konsekuensi yang ada, kenyataan yang ada—perbedaan mereka; youkai dan manusia.
Selamanya yang mereka ucapkan, itu berapa lama? Waktu yang tidak bisa dicurangi, takdir yang tidak bisa dilawan, kenyataan di depan mata—selamanya bersama; mungkinkah?
Ah, Rin kembali tertawa kecil. Apa yang dia pikirkan? Bukankah dia sudah memutuskan jauh-jauh hari, dia akan menjadikan itu mungkin. Tidak peduli dengan konsekuensinya, dia ingin selamanya bersama dengan Sesshoumaru dan juga—Shura.
"Iya," ujar Rin bahagia dan menutup matanya. "Rin akan memberikan itu pada Sesshoumaru-sama; selamanya bersama."
Sesshoumaru mengangguk kepala dan membalas pelukan Rin. Seulas senyum kembali memenuhi wajah tampannya. "Sesshoumaru ini akan menunggu hadiahnya."
__ADS_1
Rin kembali tertawa dan mengangguk kepala. "Iya. Rin janji; selamanya bersama."
Apa yang dimintanya, kebersamaan untuk selamanya, Sesshoumaru tahu, itu adalah—sesuatu yang mustahil. Tapi, dia tidak peduli. Inuyoukai itu ingin Rin mengucapkannya sendiri, ingin wanita itu berjanji. Semakin sering semakin baik, semakin banyak janji yang dibuat akan semakin sempurna. Sebab, dengan begitu wanita manusia itu akan selalu ingat; tidak akan pernah meninggalkannya—selalu berada di sampingnya.
"Selamanya bersama."
....xOxOx...
Seulas senyum memenuhi wajah cantik Shui. Mata putihnya menatap gerbang istana tanah selatan yang ada di depan.
Perlahan, pintu gerbang itu terbuka, dan Tsubasa berjalan keluar dengan anggun. Wajah selir penguasa tanah selatan itu tanpa ekspresi, matanya menatap tajam pemimpin tanah netral di depan.
Shui tidak mengatakan sepatah katapun, dengan senyum yang tidak berubah di wajah, dia membalas tatapan tajam Tsubasa.
Membungkukkan badan memberikan hormat, Tsubasa kemudian mengalihkan pandangan matanya. "Silakan mengikuti hamba, Shui-sama. Akihiko-sama telah menunggu anda."
Shui membalas ucapan Tsubasa dengan anggukan pelan. Melangkah kakinya, dia kemudian mengikuti youkai burung itu memasuki istana tanah selatan.
Kedatangan Shui ke istana tanah selatan ini adalah kunjungan tanpa undangan yang tiba-tiba, karena itu mata semua youkai prajurit yang ada dalam istana tertuju pada youkai bermata putih itu. Kebingungan dan penuh pertanyaan—ekspresi mereka terlihat jelas.
Tsubasa yang berjalan di depan bisa merasakan jelas kebingungan semua penghuni istana. Tapi, berbeda dengan mereka, selir Akihiko ini tahu jelas tujuan kemunculan Shui hari ini.
Youkai bermata putih pemimpin tanah netral yang muncul di depan istana tanah barat tanpa menyembunyikan auranya, serta surat yang diterima tanah selatan seminggu lalu—semua terlihat jelas.
Memasuki ruang utama istana tanah selatan, Tsubasa yang membimbing Shui membungkuk badan memberikan hormat pada Akihiko yang duduk dengan wajah tanpa ekspresi. "Shui-sama telah tiba, Akihiko-sama."
Akihiko tidak mengatakan apa-apa, mata biru langitnya perlahan terarah pada Shui yang masih tersenyum ramah.
Bangkit berdiri, Tsubasa melangkah maju dan berdiri di samping Koga yang berada di belakang Akihiko. Tidak mengubah ekpresi wajahnya sedikitpun, dia kembali menatap Shui yang masih diam membisu.
"Apa yang kau inginkan, Shui?" tanya Akihiko kemudian memulai pembicaraan. Kedua matanya menatap Shui tidak peduli.
Senyum Shui semakin lebar. "Kau tahu apa maksud kedatanganku, Akihiko-san."
Akihiko tertawa mendengar ucapan Shui. Kedua matanya menatap penuh kegeliaan dan hinaan pada youkai bermata putih itu. "Ternyata tanah netral benar-benar—pecunda."
Shui tidak tersinggung sedikitpun dengan ucapan Akihiko yang penuh hinaan. Senyum tetap mengembang di wajahnya. "Baik tanah utara maupun tanah timur menyangupi permintaan tanah netral, Akihiko-san."
Akihiko kembali tertawa. Tanah utara dan tanah timur yang bersedia membantu tanah netral sama sekali tidak aneh baginya. Mereka yang licik tidak mungkin membuang kesempatan yang ada—berapa banyak keuntungan didapatkan mereka jika semuanya berjalan lancar?
Shui tertawa kecil dan mengangguk kepalanya. Dia sudah menpredeksi ucapan Akihiko tersebut. Selatan yang kuat setelah barat, selatan yang memiliki kebanggaan dan harga diri tinggi—tujuan dari apa yang disampaikan suratnya jelas merupakan sebuah; lelucon.
Dunia youkai adalah dunia dengan hukum rimba, dimana yang kuat hidup dan yang lemah musnah. Tanah netral yang lemah dan takut terhadap manusia—mereka tidak pantas disebut youkai; mereka adalah keberadaan yang pantas mati.
"Kau tidak membalas suratku," lanjut Shui lagi dengan senyum ramahnya. "Makanya, aku datang kemari untuk mendengar jawabanmu langsung, Akihiko-san."
Tertawa keras, Koga yang ada dibelakang Akihiko tidak dapat menahan dirinya lagi. Dari tadi dia telah berusaha mati-matian mengotrol perasaannya mendengar pembicaraan penguasa tanah selatan dan Shui.
Tsubasa tidak tertawa seperti Koga, wajahnya tetap serius. Pembicaraan yang didengarnya memang sangat lucu, yakni; youkai yang takut pada manusia. Tapi, Shui bukanlah orang yang bodoh. Dia seharusnya sudah tahu bahwa tanah selatan tidak mungkin akan menyetujui dan membantu tanah netral. Tapi, dia tetap datang dan bertanya—apa yang dipikirkannya?
Akihiko tidak menghentikan Koga yang tertawa keras di belakangnya. Sikap Shui sekarang sesungguhnya sangat janggal dalam matanya. Dia mengenal sifat asli pemimpin tanah netral di depannya—Shui bukan karakter yang sederhana.
Tapi, tidak peduli dengan apa yang dilakukan Shui, tanah netral, timur maupun utara, Akihiko tidak ingin ikut campur. Terlebih lagi, menekan tanah barat? Menurunkan kisaki tanah barat dan menghentikan niat Sesshoumaru mengangkat anak dalam perut Rin sebagai pewaris?—dia tidak tahu apa dia bisa melakukannya. Akihiko tidak tahu apa dia sanggup membuat wanita yang dicintainya sedih.
Tersenyum menyeringai, kedua mata biru langit Akihiko berbinar penuh hinaan. "Musnahlah kalian semua."
"Pikirkanlah baik-baik dulu, Akihiko-san," tawa Shui. Perasaan gembira memenuhi hatinya, Akihiko benar-benar seperti yang diduganya selama ini.
"Apa yang perlu dipikirkan lagi?" sela Koga sambil tertawa, dia benar-benar tidak dapat menahan dirinya lagi untuk berbicara. "Kalian hanya memalukan youkai saja!"
Shui tidak mempedulikan ucapan Koga. Kedua mata putihnya berbinar gembira tetap terarah pada Akihiko. "Sanggupi permintaan ini, dan aku akan memberikanmu apa yang paling kau inginkan, Akihiko-san."
Tawa Koga terhenti begitu mendengar ucapan Shui yang diluar dugaan. Kedua matanya menatap youkai bermata putih itu bingung. "Apa maksudmu?"
Tersenyum menyeringai, Shui menjawab."—aku bisa memberikan Rin padamu."
....xOxOx....
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Rin-chan?" tanya Kagome sambil tersenyum pada Rin yang duduk di atas futonnya.
"Rin merasa jauh lebih baik daripada kemarin, Kagome-sama." Jawab Rin sambil tersenyum lebar.
"Bagus kalau begitu." Tawa Kagome yang baru saja selesai memeriksa kesehatan Rin. Tapi kenyataannya, dalam hati, dia meragukan jawaban yang didapatkan.
__ADS_1
Kesehatan Rin, Kagome dan semua yang melihat tahu, wanita manusia itu tidak membaik sedikitpun. Wajah pucat dan badan yang lemah tidak berubah, namun, yang bersangkutan selalu saja tersenyum dan mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Rin-chan," suara Shiro yang berada di samping Kagome tiba-tibal terdengar. Kedua mata emasnya menatap perut besar Rin. "Shiro akan dapat bertemu Shura tidak lama lagi, kan?"
Pertanyaan Shiro yang tiba-tiba membuat Rin tersenyum semakin lebar. Mengangguk kepala, dia menatap perut besarnya dan mengelusnya penuh kasih sayang. "Iya, tidak lagi.."
Keberadaan Shura yang berada dalam perut Rin sampai hari ini masih penuh dengan teka-teki, sebab dia tidak dapat dirasakan. Namun, sesuai perhitungan, dia akan lahir pada akhir musim dingin ini.
"Shiro sudah tidak sabar menunggu Shura," senyum Shiro dengan mata berbinar bahagia. "Shiro akan mengajaknya bermain jika dia sudah lahir."
"Iya," balas Rin kembali menatap Shiro. Dia menatap lembut inuhanyou di sampingnya. "Shura pasti akan sangat senang jika Shiro mengajaknya bermain kelak."
"Rin-chan," sela suara Mamoru tiba-tiba. Dia yang duduk di tengah Sango dan kedua saudaranya, menatap Rin dengan sebuah kerutan kecil di wajah. "Dia perempuan, bukan laki-laki."
"Diam kau, Mamoru." Potong Aya sambil mencubit pipi kiri Mamoru.
"Rin yakin anaknya laki-laki, jadi dia laki-laki." Tambah Maya dan mencubit pipi kanan Mamoru.
"Cakit!! Lepaskan!!" teriak Mamoru yang tiba-tiba saja dicubit oleh kedua kakaknya. Air mata menumpuk di matanya. "Ibu tolong!!"
Sango menggeleng kepala dan menyuruh Aya dan Maya berhenti menganggu Mamoru. Taijiya itu mulai khawatir, sepertinya sampai hari ini, putranya masih terobsebsi dengan anak dalam kandungan Rin. Sungguh, ucapan Miroku dulu adalah malapetaka bagi putra mereka.
Rin tertawa kecil melihat interaksi keluarga Sango yang ada di depannya. Hari ini, setelah sekian lama, Sesshoumaru akhirnya meninggalkan kamar dan membiarkan Kagome, Sango serta anak-anak menemaninya.
Rin tahu, Sesshoumaru meninggalkan kamar dan mengijinkan anak-anak dalam kamar mereka adalah karena desakan Kagome. Miko masa depan itu tidak ingin dirinya merasa terkurung, dan dia percaya bahwa keceriaan anak-anak akan memberikan efek yang bagus untuk kesehatan mentalnya.
"Rin-chan," panggil Mamoru lagi. Kedua tangannya mengelus-ngelus pipinya yang memerah karena cubitan Aya dan Maya. "Mamoru percaya anak Rin-chan perempuan. Jadi, Rin-chan harus memikirkan nama perempuan untuknya."
"Mamoru, hentikan." Perintah Sango. Melihat sikap putranya sekarang, dia hanya dapat berpikir, kekerasan kepalanya karena lawan jenis ini—apakah merupakan turunan dari Miroku??
Rin tersenyum mendengar ucapan Mamoru. "Rin sudah memiliki nama untuknya, jika anak Rin adalah perempuan."
"Eh??" seru semua yang ada dalam terkejut menatap Rin.
"Awal kehamilan Rin, saat Rin belum tahu dia laki-laki atau perempuan, Rin sebenarnya sudah memiliki nama untuk anak perempuan. " Jelas Rin sambil tertawa kecil.
"Oh, ya? Apa namanya?" tanya Kagome. Dia menatap penasaran menunggu jawaban Rin.
"Sakura," jawab Rin dan menutp mata membayangkan keindahan bunga berwarna merah jambu tersebut. "Jika memiliki anak perempuan, Rin akan menamakannya; Sakura. Bunga yang melambangkan musim semi, bunga yang indah dan dicintai banyak orang—Rin ingin anak perempuan Rin tumbuh seperti musim semi yang hangat dan dicintai semua orang."
Penjelasan Rin membuat Kagome dan Sango yang mendengarnya tersenyum. Harapan dan doa Rin jika anaknya adalah perempuan terlihat jelas. Sakura—indah, hangat dan dicintai.
"Sakura, sakura, sakura," gumam Mamoru terus dan sedetik kemudian dia tertawa lebar. "Baiklah, mulai sekarang, Mamoru akan memanggil anak dalam perut Rin; Sakura. Sakura, istri masa depan Mamoru!!"
"Bukan! Shura, Mamoru!! Bukan Sakura!!" protes Shiro dan menatap tidak suka pada Mamoru yang sedang tertawa lebar.
"Tidak! Sakura!" balas Mamoru tidak mau kalah.
"Shura!!" teriak Shiro penuh kemarahan. Dia tidak menginginkan adik perempuan, sebab baginya adik laki-laki lebih baik.
"Sudah, sudah," lerai Sango sekali lagi sambil menghela napas putus asa melihat sikap kedua anak kecil tersebut, terutama pada Mamoru. "Jangan ribut dan menganggu Rin-chan."
Baik Shiro maupun Mamoru langsung terdiam mendengar apa yang diucapkan Sango. Membuang muka, mereka berdua duduk diam dengan wajah cemberut.
"Shura, Mamoru, bukan Sakura." bisik Aya pada Mamoru melihat wajah cemberut adiknya. Dia tersenyum menyeringai karena tidak bisa menahan perasaan untuk mengdodanya dalam hati.
"Iya," tambah Maya ikut berbisik pada Mamoru. Matanya berbinar penuh godaan. "Laki-laki, bukan perempuan."
"Kakak!!!" teriak Mamoru penuh kekesalan pada sikap kedua kakaknya yang terus menggodanya.
"Jangan ribut," sela Sango. Kerutan kecil muncul di wajah cantiknya. Tangan kanannya bergerak mencubit pipi Mamoru, sedangkan matanya menatap Aya dan Maya. "Kalian jangan menggoda Mamoru terus."
Aya dan Maya mengangguk kepala dan diam membisu. Tapi, saat Sango tidak menatap mereka lagi, suara tawa meluncur keluar tidak terhentikan. Menggoda Mamoru adalah hal yang paling mereka sukai.
Interaksi anak-anak yang dilihatnya sekali lagi membuat Rin tertawa. Meski terus menggoda Mamoru, mata coklat Rin bisa melihat jelas kedekatan dan kasih sayang yang ada dalam mata Aya dan Maya—keluarga.
"Mamo—" panggil Rin pelan. Tapi, ucapannya itu terhenti karena tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka.
Kiri yang menjaga pintu kamar berlari masuk dan berdiri di depan Rin. Pedang di tangannya terancung, dan mata emasnya menatap ke arah pintu yang terbuka. Suara geraman penuh kemarahan terdengar jelas dari inuyoukai tersebut.
Semua yang ada dalam kamar terkejut dan kebingungan dengan kemunculan tiba-tiba Kiri serta sikapnya yang aneh.
Mengikuti arah pandang Kiri, mata coklat Rin perlahan menatap keluar pintu yang terbuka, dan dalam taman diluar kamar, dia menangkap seorang youkai berdiri dengan seulas senyum di wajah cantiknya. Berambut biru dan bermata putih yang berbinar gembira namun penuh kegilaan.
__ADS_1
"Shui-sama?"
....xOxOx....