![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Ughh, kepalaku masih saja sakit." gerutu Miroku sambil memijit kepalanya yang sakit.
"Kita tidak boleh minum lagi hari ini." tambah Sango sambil menutup mata karena perasaan pusing dan mual yang dirasakannya.
"Masa hanya begini saja kalian berdua sudah menyerah," Inukimi yang ada di samping mereka berdua mengernyitkan dahinya. "Siapa yang akan menemaniku minum malam ini?"
Miroku dan Sango menggeleng kepala putus asa mendengar pertanyaan Inukimi. Mereka berdua benar-benar salut dan berlutut dengan kemampuan minum mantan penguasa tanah barat itu, setelah minum sebanyak itu, dia masih biasa-biasa saja.
Menoleh wajahnya, mata emas Inukimi bisa melihat sebagian besar youkai yang masih tertidur, dan sebagian lagi sedang makan atau menikmati sinar mentari pagi dengan damai.
Lalu, pandangan mata mantan penguasa tanah barat kemudian jatuh pada sosok Inuyasha yang duduk sambil memijit kepala Kagome yang berbaring berbantal kakinya. Senyum merekah di wajah cantik inuyoukai itu. "Putra Taisho, kau sama sekali tidak minum semalam. Malam ini, kau dan miko aneh harus menemani diriku minum."
"Tidak!" tepis Inuyasha cepat. Dia membuang muka dan melipat kedua tangan di dada. "Aku dan Kagome tidak akan melakukan itu."
"Ugh," gumam Kagome pelan. Bangkit dari posisi berbaringnya, dia membuka mata menatap Inukimi dengan senyum kecil. "Aku tidak akan sanggup minum lagi, Inukimi-san. Kurasa kau bisa mencari yang lain."
"Ahhh," Inukimi menghela napas pelan. Senyum di wajahnya menghilang. "Apa aku mengajak Kira, Kiri dan Sesshoumaru saja, ya? Atau aku mengajak Rin-kecil."
"Jangan mengajak Rin bertanding minum seperti itu!" protes Inuysha kesal. "Dia masih kecil!"
Inukimi tidak mempedulikan protes Inuyasha. Namun, menyebut nama Rin, seketika juga dia sadar gadis itu masih belum hadir di taman sakura ini, meski matahari sudah bersinar di atas langit.
"Benar juga, aku sama sekali tidak melihat Rin kecil sejak semalam. Apakah dia masih ada di kamarnya, ya?" tanya Inukimi pelan. Bangkit berdiri dia melangkah pelan. "Aku akan mencarinya."
Melihat Inukimi yang berjalan menjauh, Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango memutuskan untuk mengikuti inuyoukai itu. Meski ketiga manusia itu masih merasa mual dan pusing, mereka tetap menyeret kaki mereka menuju kamar Rin. Mereka tidak mungkin bisa beristirahat dengan tenang sebelum memastikan keadaan gadis manusia itu.
Tiba di kamar Rin, yang pertama kali dilihat Inuyasha dan yang lainnya adalah sosok Kira dan Kiri yang duduk tenang menjaga pintu kamar. Seperti biasa, wajah mereka tenang tanpa ekspresi.
"Inukimi-sama." Kira dan Kiri segera memberikan salam melihat Inukimi dan yang lainnya.
Namun, Inukimi tidak membalas. Dia berdiri tegak, kedua mata emasnya terbelalak menatap pintu kamar yang tertutup, begitu juga dengan Inuyasha. Sedangkan Kagome, Miroku dan Sango hanya menatap bingung mereka bedua.
"Kurang ajar!!" teriak Inuyasha kesal tiba-tiba. Kemarahan seketika memenuhi hatinya. Namun, Inukimi yang ada di sampingnya justru tertawa bahagia. Berlari cepat, inuyoukai mantan penguasa tanah barat langsung bergerak ke arah pintu kamar.
Kira dan Kiri bergerak cepat, kedua pengawal itu langsung berdiri tegak menghentikan Inukimi yang menatap mereka penuh kebahagiaaan.
"Berengsek!!!" teriak Inuyasha lagi. Dia berlari cepat ke arah pintu seperti halnya Inukimi. Menggerakkan tangan kanannya, dia menyerang Kira, walau dengan gampang inuyoukai itu menghindar dan memukul balik.
Meloncat ke belakang, Inuyasha menatap penuh kemarahan Kira dan Kiri. "Biarkan kami masuk, sialan!!"
Kagome, Miroku dan Sango yang tidak tahu apa yang terjadi menatap bingung apa yang terjadi di depan mereka. Reaksi Inuyasha dan Inukimi benar-benar membuat mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi.
"Biarkan mereka."
Suara datar dan berat seorang laki-laki tiba-tiba terdengar dan memecahkan keributan yang ada dari dalam kamar Rin.
Mata Kagome, Miroku dan Sango terbelalak tidak percaya begitu mendengar suara itu. Pusing dan mual yang dirasakan mereka seketika menghilang digantikan terkejut. Suara itu jelas merupakan suara-Sesshoumaru. Bagaimana bisa inuyoukai itu ada dalam kamar Rin?!
Tidak membuang waktu lagi, Inukimi kembali tertawa. Melangkah maju lagi, Kira dan Kiri membuka jalan untuk mantan penguasa tanah barat tersebut. Dengan kedua tangannya, daiyoukai itu kemudian membuka lebar pintu kamar, membuat semua yang ada bisa melihat apa isi kamar.
Di dalam kamar, di depan jendela yang terbuka, sinar matahari pagi menyinari dua sosok yang ada di atas futon. Seorang inuyoukai duduk tenang dengan seorang gadis manusia yang tertidur pulas di sampingnya. Kepala sang gadis tidak beralas bantal, melainkan kaki youkai itu. Lalu, tanpa selimut moko-moko inuyoukai itu menyelimuti badan mungil sang gadis menjaganya tetap hangat.
Mulut Kagome, Miroku dan Sango terbuka besar tidak percaya. Apakah mereka masih mabuk? Ataukah ini mimpi?—sosok di atas futon itu Sesshoumaru dan Rin, kan?
"Berengsek!!!" teriak Inuyasha lagi. Kemarahan memenuhi hatinya. "Mengerti sekarang?? Jadi ini maksudmu semalam?? Mencuri masuk ke kamar seorang gadis pada malam hari saat dia tidur??!"
Rin yang masih tertidur pulas mengernyitkan dahinya dan bergerak sedikit karena keributan yang ada. Namun, dengan lembut, tangan kanan Sesshoumaru segera membelai lembut kepala sang gadis itu. Sedangkan, moko-mokonya bergerak perlahan mengelilingi badan mungil itu dalam kelembutan dan tidur yang tenang.
"Kecilkan suaramu. Rin masih tidur." Perintah Sesshoumaru pelan. Tapi, matanya sama sekali tidak terarah pada Inuyasha. Sepasang mata emas itu terus menatap lembut Rin yang kini tersenyum dalam tidurnya.
"Aku bermimpi.. Aku pasti sedang bermimpi." guman Kagome sambil menggeleng kepala. Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa Sesshoumaru bersikap lembut seperti ini pada Rin di depan semua orang?
Mengangkat tangannya, Sango mencubit pipi Miroku yang segera berteriak kesakitan. "Apa ini, Sango?" tanya biksu itu bingung.
"Bukan mimpi..." gumam Sango tidak mempedulikan Miroku sedikitpun. Kedua matanya masih menatap Sesshoumaru dan Rin.
"Sesshoumaru!! Kau!!" teriak Inuyasha tidak peduli. Dia masih menaikkan suaranya penuh kekesalan. Namun, satu kata 'osuwari' yang tiba-tiba meluncur keluar dari mulut Kagome langsung menekannya jatuh tersungkup ke bawah.
"K-Kagome!!" teriak Inuyasha lagi.
"Osuwari, osuwari, osuwari, osuwari." gumam Kagome terus, tidak mempedulikan Inuyasha yang tidak bisa bergerak lagi di atas tanah karena tekanan gravitasi kasat mata berturut-turut. Tersenyum lebar, miko masa depan itu kemudian menatap Sesshoumaru. "Maafkan Inuyasha, Kakak. Kami tidak akan menganggu lagi, Rin sepertinya masih perlu istirahat."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa dengan ucapan Kagome. Dia masih menatap Rin tanpa gerak.
"Bagus! Bagus sekali!" puji Inukimi tertawa gembira. Menatap Sesshoumaru, dia tersenyum puas. "Aku tidak akan menganggumu lagi, putraku. Kami akan kembali ke taman, jaga Rin baik-baik."
Tidak menunggu jawaban Sesshoumaru juga, Inukimi kemudian kembali menutup pintu kamar yang dibukanya lebar-lebar. Membalikkan badan, dia berjalan ke arah Inuyasha dan yang lainnya. Tangan kanannya dengan segera menyeret kaki hanyou yang masih terkapar di atas tanah. "Ayo kita kembali ke taman." tawanya gembira.
Kagome mengangguk setuju, begitu juga dengan Sango. Untuk Miroku, dia hanya bisa menghela napas. Dia sadar sekarang, kombinasi Kagome, Sango dan Inukimi adalah kombinasi yang sangat mengerikan.
"Sake! Sake! Kita harus merayakan apa yang kita lihat dengan sake lagi!!" suara tawa bahagia Inukimi memenuhi taman di luar kamar Rin.
Sesshoumaru yang ada dalam kamar bisa mendengar dan merasakan Inuyasha dan yang lainnya menjauh. Dia bisa melihat jelas ekspresi bahagia Inukimi dan terkejut Inuyasha serta temannya. Namun dia tidak peduli. Dia sudah memutuskan untuk tidak ragu dan menyembunyikannya lagi apa arti Rin baginya.
"Sesshoumaru-sama.." suara lembut Rin memanggil namanya terdengar. Sesshoumaru bisa melihat senyum di wajah gadis itu semakin melebar. Gadis itu sedang memimpikannya-ada perasaan hangat menyelimuti hatinya.
Semalam, saat dia memeluk dan mencium kening Rin. Badan gadis mematung karena terkejut, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia terus memeluknya. Hingga tidak tahu kapan, gadis itu tertidur dengan senyum bahagia di wajah.
Lalu, saat mengembalikannya ke kamar, tangan Rin yang tiba-tiba menarik lengan haorinya sama sekali tidak mau lepas. Tidak berkeinginan menganggu tidur gadis manusia itu, penguasa tanah barat kemudian memutuskan untuk menemaninya sepanjang malam.
Berbantal kaki dan berselimut moko-mokonya, Sesshoumaru menjaga tidur Rin dalam diam. Menatap wajah cantik sang gadis yang terus tersenyum bahagia, dia merasa hatinya sangat—damai.
Keputusannya tidak salah, mungkin tidak mudah, dan mungkin ada banyak yang menentang, tapi Sesshoumaru tidak peduli. Gadis manusia ini adalah satu-satunya wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Kebahagiaan.
Sesshoumaru tahu sekarang, apa itu sesungguhnya kebahagiaan. Saat dia melihat wajah gadis manusia yang tertidur damai, dia sadar—Rin adalah kebahagiaan yang akhirnya ditemukan setelah ratusan tahun.
Dua perasaan yang sama dengan sejuta perbedaannya, dan saat bergabung, semua menjadi jelas. Masa lalu, masa sekarang dan masa depan, benang merah yang terjalin tidak akan terputuskan—ikatan ini adalah ikatan abadi yang tidak akan pernah terputuskan.
Arti mencintai, terutama mencintai seorang manusia—Sesshoumaru akhirnya mengerti kenapa dulu Inu No Taisho, ayahanda yang begitu dihormatinya bersedia mati untuk Izayoi. Dia juga akan melakukan hal yang sama dengan ayahandanya, jika dia berada di posisi beliau.
Seseorang yang dicintai, seseorang yang ingin dilindungi, seseorang yang paling berharga—Sesshoumaru memilikinya sekarang.
Perlahan, tangan Sesshoumaru turun menyentuh pipi Rin. Menutup mata, dia membungkukkan badan dan mencium kening gadis manusia itu. "Tunggulah sebentar lagi, Rin. Sesshoumaru ini akan memberikan segala yang pantas kau dapatkan..."
....xOxOx....
"Antar ini semua pada Rin." perintah Akihiko sambil tersenyum. Kedua mata biru langitnya menatap kimono-kimono sutra mutu terbaik dan emas permata di depannya penuh kepuasan. Dia membayangkan betapa gadis manusia itu akan gembira dengan hadiahnya ini.
"Baik, Akihiko-sama." Jawab seorang youkai, kepala dayang istana tanah selatan sambil memberi hormat. Begitu juga dengan lima orang youkai dayang istana di belakangnya.
"Dan, aku ingin kalian membantunya mempersiapkan diri untuk pertunjukkan malam ini." Tambah Akihiko lagi.
"Mengerti." Jawab para dayang itu serentak. Tidak membuang waktu, mereka langsung bergerak mengangkat kimono-kimono serta amas permata yang ada di depan Akihiko.
Mata para dayang berkilau penuh kekaguman. Kimono dan emas permata di tangan mereka benar-benar merupakan barang dengan kualitas terbaik dan juga langkah. Menghadiahkan ini semua kepada seorang gadis manusia yang dilayani selayaknya tamu kehormatan—sepertinya, selatan yang akan menyambut seorang Kisaki memang benar.
Tsubasa yang berada di samping Akihiko tidak mengatakan apa-apa. Kedua mata merahnya menatap penguasa tanah selatan itu datar, tapi jauh dalam hati, dia ingin tertawa dan juga sekaligus—sakit.
Tertawa karena melihat kebodohan Akihiko yang masih belum menyerah dan berpikir bisa memenangkan hati gadis manusia itu. Sakit karena youkai yang dicintainya menyukai orang lain.
Jawaban Rin kepada Akihiko semalam, Tsubasa mendengarnya, dan dia tahu, tidak akan pernah ada ruang untuk penguasa tanah selatan dalam hati gadis itu. Dirinya tidak menyukai Rin, tapi, dia sangat mengerti cinta gadis manusia itu untuk Sesshoumaru, penguasa tanah barat.
Kenapa?—karena mereka berdua mirip. Mereka berdua adalah sebuah jiwa yang hidup karena di selamatkan. Seperti halnya Sesshoumaru menyelamatkan Rin, dirinya, Tsubasa diselamatkan Akihiko. Lalu, berlalunya waktu, mereka mencintai penyelamat mereka.
Rin mengatakan dia tidak akan menjadi Rin yang sekarang jika Sesshoumaru tidak ada, bukankah Tsubasa juga seperti itu?—dirinya hanyalah seekor burung kecil yang akan mati di tangan seekor burung elang. Tidak akan ada Tsubasa dari selatan tanpa Akihiko.
Cinta yang dalam dan sepenuh hati. Cinta sepanjang hidup mereka—cinta seperti ini tidak akan mudah berubah. Mereka mirip sekali bukan? Bedanya hanyalah cinta gadis manusia itu terbalas, tidak seperti cintanya yang sepihak saja.
....xOxOx....
Matahari siang telah bersinar terik di langit biru musim semi. Dalam kamarnya di istana tanah selatan, Rin duduk dalam diam. Di luar, Kira dan Kiri masih setia menjaga pintu kamar.
Kamar Rin sangat sunyi tanpa suara, tenang dan damai. Tapi, tidak dengan wajah dan hati gadis manusia itu. Wajahnya kini merah padam, sedangkan hatinya terus saja berdetak kencang tidak dapat dihentikan.
Bagaimana dia tidak seperti ini, jika apa yang terjadi semalam antaranya dan Sesshoumaru masih terus terbayang. Dia akan mengira itu semua hanya mimpi, jika saja wajah penguasa tanah barat itu adalah hal pertama yang dilihatnya membuka mata dan bangun dari tidur.
Rin membuka kedua matanya setelah tertidur sekian lama. Pandangan yang buram karena masih tidak fokus dengan segera membuat dia menutup mata lagi. Senyum bahagia memenuhi wajahnya—dia bermimpi indah.
Rin bermimpi Sesshoumaru bertanya, berapa lama dia akan mencintainya. Lalu, dia juga bermimpi inuyoukai itu memeluknya erat, mencium keningnya lembut dan terus memeluknya. Jika saja bisa, Rin ingin selalu berada di mimpi itu tanpa sadar lagi.
Tersenyum malu, Rin menggangkat kedua tangan menutup wajahnya yang dia tahu, pasti sangat merah sekarang. Bahkan, sampai sekarang, meski sudah bangun, dia masih bisa mencium bau khas dan merasakan kehangatan inuyoukai itu. Dia benar-benar ingin seperti ini saja selamanya.
Selimut lembut penuh bulu yang menyelimutinya tiba-tiba bergerak, membungkusnya lebih erat penuh kelembutan. Rin merasa sangat hangat, selimut ini, mau tidak mau mengingatkannya pada moko-moko Sesshoumaru yang seling menyelimutinya saat kecil dulu.
"Kau sudah bangun, Rin?" suara datar dan berat yang selalu diingat Rin ditangkap indra pendengarannya.
Seketika, badan Rin langsung mematung begitu mendengar suara itu. Terkejut, dia segera menurunkan tangan dan membuka matanya. Lalu, yang pertama kali dilihatnya adalah sepasang mata emas yang menatapnya lembut—Sesshoumaru.
Seketika, Rin sadar dengan posisinya sekarang, dia berbaring dengan kaki Sesshoumaru sebagai bantal, dan selimut bulu yang menyelimutinya sekarang memanglah moko-moko inuyoukai itu.
Bangkit, Rin menatap tidak percaya Sesshoumaru. Wajahnya dengan segera kembali menjadi merah. Apa yang terjadi? Kenapa Sesshoumaru ada di sini? Kenapa dia bisa tidur dengan posisi seperti itu?—apakah mimpinya itu bukanlah mimpi? Atau, dia masih bermimpi?
"S-sesshoumaru-sama.." terbata-bata, Rin memanggil nama Sesshoumaru, namun, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa-apa.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, perhalan, tangan kanannya terangkat menyentuh pipi kanan Rin lembut. "Rin.."
Rin mengangguk kepala cepat. Tidak tahu harus berbuat apa lagi, dia menundukkan wajah ke bawah. Tangan hangat di pipinya menyadarkan dirinya, ini semua bukan mimpi.
Tangan Sesshoumaru yang ada di pipi Rin kemudian bergerak ke bawah dagu gadis manusia itu. Perlahan, inuyoukai mengangkat wajah cantik itu.
Mata emasnya yang bersinar lembut menatap wajah Rin. Dengan wajah cantik yang merah, ekspresi terkejut dan malu yang bercampur jadi satu, lalu sepasang mata coklat jernih yang menatapnya lurus—perlahan, kedua ujung Sesshoumaru terangkat, membentuk sulas senyum lembut.
Sesshoumaru selalu berwajah datar tanpa ekspresi. Terkadang dia bisa berwajah marah atau tertawa sebelum membantai musuhnya. Lalu, terkadang juga, Rin bisa melihat kelembutan di wajah inuyoukai yang memiliki nama penghancur kehidupan saat menatapnya.
Tapi, ekspresi lembut itu sama sekali tidak dapat dibanding dengan ekspresi yang dilihatnya sekarang. Di depannya, inuyoukai itu tersenyum—tersenyum dengan lembut menatapnya.
Rin merasa dunia bagaikan terhenti. Senyum lembut itu, dia tidak menemukan kata untuk mendeskripsikannya. Tidak bisa berpikir, dia hanya dapat menatap senyum di wajah tampan itu seperti orang bodoh.
Perlahan, tangan Sesshoumaru meninggalkan dagu Rin. Tapi, dengan senyum yang masih ada, dia bangkit dan berjalan menuju pintu keluar kamar gadis manusia itu.
"Jangan lupa sarapan, Rin." ujar Sesshoumaru pelan sebelum menghilang dari pandangan Rin.
Menutup wajahnya dengan kedua tangan, Rin ingin sekali bersembunyi dalam lubang sekarang. Setelah ini semua, dengan ekspresi apa dia harus berhadapan dengan inuyoukai itu? Apakah dia masih bisa bersikap seperti biasanya? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi sekarang??
Rin bahkan tidak berani memginjak kaki keluar dari kamar, padahal dia tahu, hanami masih berlanjut. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
"Rin-sama." suara panggilan seorang wanita tiba-tiba terdengar. "Hamba Fumi menghadap anda."
Terkejut, dengan wajah yang masih merah, Rin segera menoleh pandangan pada pintu kamar yang tertutup. "Silakan."
Pintu kamar Rin terbuka, bersama dengan Kira Kiri yang berjalan masuk dan segea berdiri di belakangnya, mata coklat Rin kebingungan menemukan enam orang dayang istana barat membungkuk memberi hormat dengan kimono dan emas permata di tangan.
"I-ini?" tanya Rin terbata-bata menatap dayang-dayang tersebut.
"Akihiko-sama meminta kami mengantarkan hadiah ini pada anda, Rin-sama." Jawab Fumi, kepala dayang yang berada paling depan. Dia tersenyum ramah menatap gadis manusia itu.
__ADS_1
"Eh??" terkejut. Mata Rin terbelalak. Dia bisa melihat jelas kimono dan emas permata itu adalah barang-barang yang tidak ternilai harganya, kenapa Akihiko menghadiahkan ini semua padanya?
"Kami semua juga akan membantu anda mempersiapkan diri untuk pertunjukkan anda malam ini, Rin-sama." Lanjut Fumi lagi penuh kesopanan. Senyum di wajahnya menjadi semakin lebar.
"Eh??" seru Rin lagi karena terkejut. Ada apa dengan hari ini? Kenapa Akihiko juga bersikap sangat aneh seperti ini??
....xOxOx....
"Kanpai!!" teriak Inukimi bahagia, suaranya bergema memenuhi tamn sakura istana tanah selatan. Tangannya mengangkat sebotol sake, di sekelilingnya, beberapa youkai selatan juga ikut mengangkat botol sake mereka sambil tertawa.
Malam sudah tiba lagi, dan pesta yang masih berlanjut kembali ramai. Makanan, minuman yang tiada henti kembali disajikan, panggung hiburan yang hening juga kembali penuh suara musik dan tarian. Para youkai ini sepertinya kini menganggap malam untuk berpesta dan siang untuk tidur.
"Kau tidak makan, Inuyasha? Jangan salahkan kami kalau nanti kau tidak kebagian." ujar Miroku yang mulutnya penuh makanan melihat Inuyasha yang ada di sampingnya.
Inuyasha hanya menoleh kepala sejenak pada Miroku dan kemudian membuang muka. Kedua tangannya terlipat di dada.
"Makanan dan minuman akan terus belanjut hingga pagi seperti semalam. Kau tidak perlu khawatir, Miroku." sela Sango yang ada di samping Miroku pelan. Kedua matanya fokus memisahkan daging ikan dan tulang yang dimakannya.
"Biarkan saja dia Miroku," tawa Kagome yang juga sedang makan di samping Inuyasha tidak peduli. "Saat dia lapar, dia akan makan."
Ucapan Kagome langsung membuat Inuyasha menoleh kepala menatap istri dan sahabatnya. "Kalian kenapa bisa dengan sesantai ini membiarkan si berengsek berduaan dengan Rin di kamarnya seperti ini? Apakah kalian tidak khawatir dengannya?"
Pertanyaan Inuyasha dengan seketika membuat Kagome, Miroku dan Sango menoleh menatap inuhanyou itu bersamaan. Sedetik kemudian mereka bertiga tertawa bersama.
"Kakak tidak akan melakukan apa-apa pada Rin-chan, Inuyasha." Tawa Kagome keras.
"Kau benar, Kagome," setuju Sango sambil tertawa juga. "Sesshoumaru yang berharga diri tinggi tidak akan melakukan sesuatu yang akan menodai reputasinya, Inuyasha."
"Sesshoumaru tidak mungkin melukai Rin-chan, Inuyasha. Jadi tenanglah." tambah Miroku sambil menepuk pundak Inuyasha berkali-kali. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Inuyasha menatap bingung ketiga manusia di depannya. Kemarin Akihiko dan sekarang Sesshoumaru, apakah dalam pandangan mereka, kedua daiyoukai penguasa tanah jepang itu adalah youkai tidak berbahaya?—lupakah mereka, bahwa kedua penguasa itu merupakan youkai haus darah pembenci manusia?
"Tapi, tidak kusangka Sesshoumaru berani bersikap seperti itu di depan kita semua." Senyum Sango terbayang kejadian tadi pagi. "Dia benar-benar berubah."
"Iya," setuju Kagome semangat. Kedua matanya berbinar-binar. "Seperti cerita dongeng yang indah, seorang youkai yang jatuh cinta pada gadis manusia yang dibesarkannya."
Inuyasha kembali membuang muka mendengar ucapan Kagome dan Sango. Perasaan tidak suka dalam hatinya makin membesar, walau dia tetap diam membisu.
"Kagome!!" panggil suara seseorang penuh semangat tiba-tiba.
Inuyasha secara reflek langsung berdiri. Dia kenal baik suara itu, siapa lagi kalau bukan—Koga. Mata emasnya langsung menatap penuh kejengkelan pada youkai serigala yang berjalan mendekati mereka.
"Apa maumu serigala kurus?!!" teriak Inuyasha kesal.
Koga tidak peduli. Dia langsung duduk di depan Kagome dan tersenyum. "Apakah kau merindukanku, Kagome? Maaf aku baru muncul sekarang."
Kagome hanya tertawa dengan godaan Koga dan protes Inuyasha, dia sudah terlalu biasa dengan keadaan seperti ini. Tersenyum, miko masa depan itu kemudian bertanya. "Apa kau sibuk Koga?"
Pertanyaan Kagome dengan segera membuat senyum di wajah Koga menghilang. Dia menggerutu pelan. "Iya, aku sibuk.."
Koga tidak berbohong saat mengatakan dia sibuk. Sehari sebelum pesta dimulai, tiba-tiba saja, Akihiko memintanya ke timur untuk membeli kimono, lalu ke utara untuk membeli permata. Tidak tahu kenapa, dia merasa seperti seorang pelayan sekarang.
Koga tahu, semenjak penguasa tanah selatan tahu, bahwa Rin pernah mati di taring serigala kelompoknya, posisinya menjadi aneh. Youkai serigala ini tidak tahu akan jadi apa dirinya saat gadis manusia itu menjadi Kisaki selatan.
"Akihiko-sama."
"Selamat malam, Akihiko-sama."
Suara sapaan penuh hormat yang memanggil nama Akihiko tiba-tiba terdengar, membuat Inuyasha dan yang lainnya termasuk Koga menatap sosok penguasa tanah selatan yang baru saja hadir di taman ini hari ini.
Penguasa tanah selatan itu berjalan pelan menuju tempat duduknya semalam. Wajah tampannya melukiskan seulas senyum. Dia tidak mengatakan apa-apa meski para youkai selatan memberikan salam dan hormat. Duduk di tempatnya, kedua mata birunya kemudian mengarah pada panggung kosong di depan.
Bersamaan dengan kedatangan Akihiko, Kira dan Kiri yang selalu setia menjaga Rin juga muncul untuk pertama kalinya di taman sakura. Kedua inuyoukai bersaudara itu tidak mengatakan apa-apa, mereka berdua duduk di samping Miroku dalam diam. Kedua mata mereka terarah ke atas panggung.
"Kira-san, Kiri-san," sapa Kagome melihat kedua inuyoukai itu. "Rin-chan dimana?"
"Yang akan melakukan pertunjukkan selanjutnya adalah Rin-sama." jawab Kiri tanpa memalingkan wajahnya.
"Putriku??" tanya Inukimi yang masih meminum sake tiba-tiba. Dirinya segera meninggalkan para youkai selatan dan duduk di Kiri. Wajahnya berseri bahagia menatap panggung. "Akhirnya putriku muncul!!"
Perlahan, dari panggung, sosok seorang gadis manusia muncul. Bau harum musim semi yang unik memenuhi indra penciuman para youkai. Semua pasang mata dengan segera terarah pada panggung, seketika keheningan memenuhi taman yang penuh keributan tersebut.
Bulan di atas menyinari gadis manusia itu. Duduk sendirian dengan sebuah shamisen di tangan-dia merebut pandangan semua yang ada.
Dia mengenakan kimono dua belas lapis yang mewah dan indah. Rambut hitam panjangnya tergerai membingkai wajah cantiknya. Kulit putih bagaikan salju, pipi dan bibir yang merona bagaikan mawar merah dan sepasang mata coklat besar yang jernih—dia sungguh memesona.
Gadis manusia itu selalu cantik, tapi untuk sekarang, dengan bulan di langit dan sakura di belakang, kecantikannya semakin bersinar. Bulan dan bunga pun kalah—dia bagaikan ilusi yang ditangkap mata.
Semua terpesona. Youkai barat menobatkan dia sebagai wanita tercantik yang pernah ada di dunia, kini youkai selatan mengerti, kata itu benar, Rin, Hime dari barat memang merupakan wanita tercantik di dunia.
Rin yang ada di atas panggung bisa melihat semua pasang mata yang ada di bawah panggung terarah padanya. Rasa gugup dengan seketika memenuhi hatinya, dia berharap semoga dia tidak melakukan kesalahan yang akan memalukan dirinya sendiri.
Menguatkan diri, Rin menarik napas pelan. Namun, seketika juga, dirinya tertegun. Mata coklatnya dapat menangkap dengan jelas, sosok seorang inuyoukai yang terbang turun dari langit dan mendarat di samping Inukimi.
Berambut perak dengan kulit putih, dua pasang garis keungguan di pipi, bulan sabit di dahi, dan mata emas yang unik dan indah—Sesshoumaru.
Sesshoumaru duduk dengan tenang, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasanya. Mengarahkan pandangannya ke atas panggung, dia menatap gadis manusia yang bagaikan ilusi itu.
Emas dan coklat beradu.
Dalam keheningan malam, dalam taman sakura yang bermekaran, meski dipisahkan jarak, mata coklat gadis manusia itu bisa melihat sepasang mata emas yang menatapnya lembut.
Perlahan, ujung bibir gadis itu terangkat, melukiskan seulas senyum yang lebih indah dari bunga—senyum musim semi abadi dalam hati inuyoukai itu.
__ADS_1
Detik itu juga, tangan sang gadis bergerak. Suara indah shamisen memenuhi taman.
....xOxOx....