Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 20


__ADS_3

Mata emas Shiro menatap lekat-lekat sosok Shura yang sedang berlatih mengayunkan pedang di tangannya dalam taman Istana Tanah Selatan. Kedua alis matanya bertaut, ekspresi bingung terlihat jelas di wajahnya.


"Kak Shiro, kenapa Kakak terus menatap Kak Shura?" tanya Sakura yang ada di samping Shiro tiba-tiba.


"Biarkan saja Kakakmu itu, Sakura-chan. Dia hanya sedang merenung memikirkan sesuatu yang tidak dapat diterima pikirannya." Kata Mamoru yang juga berada di sana.


"Diam kau Mamoru!" hardik Shiro kesal.


"Iya, iya, iya. Aku diam." Balas Mamoru cuek.


Sakura yang melihat reaksi Shiro hanya bisa menghela napas. Dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan kakaknya, dan sepertinya, kakaknya itu juga belum bersedia memberitahunya. Menghela napas sekali lagi, hanyou kecil itu kemudian menolehkan kepalanya menatap sosok Shura yang sedang berlatih mengayunkan pedang di depan.


Kepala Shiro sebenarnya sedang penuh dengan pertanyaan dan juga ketidak percayaan akan sosok inuyoukai di depannya. Dia tidak bisa mempercayai bahwa luka begitu parah yang dialami Shura kini telah sembuh sepenuhnya. Youkai memang mempunyai kemampuan menyembuhkan luka yang sangat cepat, Shiro tahu itu, tapi demi segala Tuhan yang ada! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sebab, baru seminggu berlalu! Predeksinya, luka-luka itu baru akan sembuh dalam jangka waktu sebulan.


Lalu, satu hal lagi yang sangat menganggu pikiran dan membuat kesal Shiro, yakni Shura yang menolak bantuannya. Saat dia menawarkan diri untuk membantu inuyoukai itu untuk mengalahkan Akihiko, dengan dingin tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Shura menolak.


"Tidak perlu. Aku tidak memerlukan bantuan darimu yang lemah."


Teringat jawaban Shura saat itu, Shiro hanya bisa berusaha keras menahan kekesalan dalam hatinya yang seakan ingin meledak. Inuyoukai itu benar-benar mirip dengan ayah kandungnya, Sesshoumaru, Sang Penguasa Tanah Barat alias pamannya. Sikap yang sangat sombong, dingin dan menganggap siapa pun lemah.


"Jangan kau pikirkan terlalu banyak, Shiro. Jalan pikirannya berbeda dengan kita," kata Mamoru tiba-tiba, membuat Shiro dan juga Sakura menoleh kepala menatapnya. Matanya menerawang menatap langit biru di atas. "Aku tidak mengerti kenapa, Shura begitu ngotot menepati perjanjian tidak pernah terucapkan yang ada. Ah, bodoh sekali. Janji kan dibuat untuk dilanggar?"


"Iya! Benar! Seperti dirimu yang berjanji ntuk menjaga Sakura, tapi pada akhirnya kau tinggalkan demi mengintip monyet mandi!" teriak Shiro kesal.


Ucapan Shiro hanya membuat Mamoru tertawa gugup. Dia mengutuk dirinya sendiri sekarang. Tidak seharusnya dia mengungkit-ngungkit kata janji di depan hanyou ini. Sedangkan Shura yang sebenarnya bisa mendengar jelas pembicaraan mereka dengan indra pendengarannya yang tajam tetap saja cuek.


Tiba-tiba saja, Shiro, Shiro, Sakura dan Mamoru yang berada di taman merasakan aura mengerikan seorang youkai yang mendekat ke arah mereka. Tidak ada sedikit pun kepanikan yang mereka rasakan, sebab tidak ada niat buruk darinya yang terasa. Lalu, mereka juga tahu, youkai yang mendekat adalah Akihiko, Sang Penguasa Tanah Selatan.


Shura tetap saja melanjutkan latihannya mengayunkan pedang ditangannya, begitu juga dengan Shiro, Sakura dan Mamoru yang sedang menontonnya saat Akihiko telah tiba di dekat mereka. Dengan tenang, Akihiko kemudian duduk di samping Sakura. Matanya menatap sosok inuyoukai kecil yang sedang mengayunkan pedangnya dalam diam.


Sakura yang ada di samping Akihiko mulai merasakan ketidak nyamanan. Ada sesuatu yang sangat menganggu hatinya. Memberanikan diri, dia mengangkat wajah menatap Penguasa Tanah Selatan itu. "Ehm... Anu, Akihiko-sama. S-Sakura ingin meminta sesuatu pada anda.."


Ucapan Sakura kontan membuat semua yang ada di sana menoleh kepala menatapnya, termasuk Shura yang sedang mengayunkan pedang di tangan. Namun, hanyou kecil itu tidak menyadarinya, dengan terbata-bata, dia membuka mulutnya. "J-Jangan melukai Kak Shura lagi..," air mata langsung mengalir turun menuruni pipinya. "S-Sakura tidak ingin Kak Shura terluka..."


Permohonan Sakura hanya membuat Akihiko yang melihatnya ingin tertawa. Dia tidak dapat mempungkiri, meski mewarisi darah hanyou yang tidak pernah disukainya serta manusia terkasar yang pernah dilihatnya, hanyou kecil ini sungguh sangat mengemaskan.


Shiro hanya mencibir sambil membuang muka mendengar permohonan Sakura, dia tidak suka dengan kenyataan adiknya yang terus saja memperhatikan Shura. Mamoru hanya bisa menggeleng kepala dan bergumam, "Ah, masa muda..."


Sedangkan untuk Shura, dia menggeram penuh kekesalan. Dia tidak menyukai sikap Sakura yang berusaha keras melindungi dirinya, sebab bukan Sakura, dirinyalah yang seharusnya melindungi hanyou kecil itu. Menyarungkan kembali pedangnya, dia segera berjalan mendekati Sakura. Tangannya segera terangkat menghapus air mata yang ada, "Jangan menangis." perintahnya datar.


Merasakan kehangatan tangan Shura, Sakura segera mengangkat kepala menatap wajah inuyoukai di depannya.


"Kalau kau mau, tertawa untukku. Bukan menangis untukku." Tambah Shura tetap dengan suara datarnya yang tanpa emosi.

__ADS_1


Kata Shura itu benar-benar membuat semua yang ada di sana terkejut. Akihiko langsung tertawa lepas. Apa yang dikatakan Tsubasa padanya memang benar, hanyou kecil ini benar-benar telah berhasil mencair hati es inuyoukai tersebut. Shiro hanya bisa kembali mencibir dan membuang muka, sedangkan Mamoru juga hanya bisa tersenyum. Lalu, untuk Sakura, dia hanya bisa mengangkat tangan kecilnya mengenggam tangan Shura yang sedang menghapus air mata dipipinya, mempelihatkan senyum dan tawa terbaik yang dimilikinya.


Melihat senyum dan tawa itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Shura tertegun hingga tidak tahu harus berbuat apa. Senyum dan tawa itu berhasil membuat jantungnya berdetak cepat. Tidak mempedulikan sekelilingnya, dia segera menurunkan tangan yang ada di pipi hanyou kecil itu dan memeluknya dengan erat.


"Hei! Anjing mesum! Lepaskan Adikku!" teriak Shiro panik penuh kemarahan begitu melihat Shura memeluk Sakura. Namun, yang bersangkutan tidak peduli. Dia mempererat pelukannya, begitu juga dengan Sakura, dia hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan membalas pelukan itu dengan sama eratnya.


"Lepaskan Adikku, anjing mesum!" teriak Shiro lagi. Kedua tangannya segera bergerak untuk memisahkan pelukan Shura dan Sakura. Namun, Shura segera meloncat ke belakang sambil mengendong Sakura. Kepalanya terangkat menatap tajam Shiro dengan mata yang telah berubah warna semarah darah dan menggeram penuh kemarahan.


"Jangan menggeram dan menatapku seperti itu! Aku tidak takut, anjing mesum!" teriak Shiro lagi tanpa takut dan melangkah kaki untuk menarik adiknya.


Aikihiko dan Mamoru hanya bisa duduk melihat pemandangan di depan mereka, yakni Shura yang terus menghindari Shiro sambil menggendong Sakura. Sedangkan Sakura yang menjadi pokok permasalahan hanya bisa tertawa lepas penuh kegembiraan, seakan apa yang terjadi adalah sebuah permainan.


Tidak tahan dengan Shiro yang terus-terus saja berusaha merebut Sakura, Shura akhirnya memutuskan untuk meninggalkan taman tempat mereka berada sekarang. Darah youkai dalam dirinya terasa sangat bergelojak, dia tidak bisa membiarkan siapa pun yang berniat merebut Sakura darinya meski itu adalah Kakak Kandungnya. Terlebih lagi, dia sendiri tidak dapat mempercayai dirinya mampu menahan diri untuk tidak melukai Shiro jika ini terus berlanjut. Mungkin satu-satunya hal yang membuat dirinya bisa berpikir seperti ini adalah dirinya tidak ingin Sakura menangis jika melihat Kakaknya yang bodoh itu terluka karena dirinya.


Tidak membuang waktu, Shura langsung mengubah dirinya dan juga Sakura menjai bola api berwarna biru dan terbang menjauh. Tidak bisa membiarkan begitu saja, Shiro langsung melangkahkan kaki untuk mengejar. Namun, Akihiko tiba-tiba menghentikannya. "Hentikan, hanyou. Biarkan mereka berdua atau kau akan terluka."


Shiro membalikkan kepala menatap Akihiko penuh kemarahan. "Apa maksudmu!? Enak saja! Aku tidak bisa mempercayai anjing mesum itu!?"


"Shura adalah seekor Alpha sejati. Melindungi dan menyerang tanpa bulu siapapun yang berani melawan atau pun berniat merebut sesuatu miliknya sudah mengakar dalam dirinya. Dia sudah mengangap Sakura adalah miliknya. Karena itu, kurasa dia juga tidak akan segan menyerangmu jika kau terus bersikap seperti ini." Jelas Akihiko tanpa menolehkan kepalanya ada Shiro. Matanya menatap lurus langit biru akhir musim gugur di atasnya.


"Sakura bukan miliknya, tahu!? Sakura itu milik kami! Milikku, Ayah dan Ibuku! Dan kau pikir aku takut dengan anjing mesum itu!?"


"Jangan pernah meremehkan Shura, hanyou." Akihiko dengan pelan menurunkan kepalanya menatap Shiro. "Shura kuat. Sangat kuat. Kelak, saat dewasa, dia pasti akan menjadi sangat kuat melebihi siapapun, bahkan diriku maupun anjing arogan itu."


"Maaf, Akihiko-sama. Jika itu keyakinan anda, berarti anda juga tahu, kan? Anda tidak akan bisa menahan Shura selamanya di sini. Dengan kata lain, anda tidak mungkin dapat mengrahasiakan siapa Rin sesungguhnya untuk selamanya.." Jelas Mamoru pelan dengan hati-hati.


Akihiko hanya diam membisu. Namun, sejenak kemudia dia kembali mengangkat kepala menatap langit di atas. "Ya. Aku sudah tahu. Namun, jika saat itu tiba. Aku yakin, dia tidak akan mungkin memilih barat. Anjing arogan yang tidak pernah menginginkannya, serta kenyataan pahit bahwa dialah penyebab kematian Rin.... Shura akan memilih selatan, menjadi pewarisku."


"Cih!" cibir Shiro tiba-tiba. Dia menatap penuh kekesalan Akihiko. "Sudah berapa kali aku katakan! Kau yang tidak tahu apa yang terjadi serta ikatan mereka bertiga tahu apa?! Tidak akan ada yang bisa membuat Shura memilih selatan! Terlebih lagi, kau pikir para bawahanmu mau?! Shura adalah anak Sang Penguasa tanah Barat! Kau pikir bawahanmu mau menerimanya menjadi pemimpin mereka! Kau terlalu bermimpi!"


"Tidak akan ada yang keberatan, hanyou." Balas Akihiko tenang, tetap tidak menolehkan kepalanya pada Shiro yang kebingungan dengan ucapannya. "Siapa Shura sebenarnya, semua youkai yang ada di selatan tahu. Karena itu, jika Shura ingin menjadi Penguasa Tanah Selatan, tidak akan ada satu pun klan youkai di selatan yang akan keberatan."


"Apa maksudmu?" tanya Shiro semakin bingung.


"Perang antara barat dan selatan dua belas tahun yang lalu adalah perang tanpa pemenang. Semua orang tahu itu, tapi, sesungguhmya itu salah. Ada pemenang dalam perang itu."


"Ehm, sepertinya perlu kukoreksi, Akihiko-sama? Anda yang memimpin selatan dan Sesshoumaru yang memimpin barat tidak menjadi pemenang. Batas wilayah antara barat dan selatan tidak pernah berubah sedikitpun." Koreksi Mamoru pelan. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengoreksi kesalahpahaman ini, sebab meski masih kecil, dia ada di sana, pada detik-detik terakhir perang besar antar barat dan selatan yang di luar dugaan.


"Karena pemenangnya bukan diantara kami berdua." Akihiko kembali menurunkan kepala menatap Shiro dan Mamoru. "Pemenang perang itu adalah pemenang tunggal yang tidak pernah terucapkan dan diceritakan."


"Siapa?" tanya Shiro penuh kebingungan. Dia tidak pernah mengingat jelas akhir perang itu meski dia ada di sana, karena dia masih sangat kecil saat itu. Namun, dalam hidupnya, dari cerita-cerita yang ada, memang tidak ada pemenang dalam perang itu.


Akihiko tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia bisa melihat jelas kebingungan dalam wajah mereka berdua. "Rin. Dialah pemenang sesungguhnya dari perang dua belas tahun yang lalu."

__ADS_1


Mata Shiro dan Mamoru langsung terbelalak karena terkejut dengan jawaban di luar dugaan tersebut.


"Dalam perang itu, semua klan youkai di selatan dan barat berhutang budi padanya. Selatan dan barat masih bisa seperti ini sekarang adalah berkat keajaiban yang dimilikinya. Karena itu, jika Shura ingin menjadi Penguasa Tanah Selatan di masa mendatang, tidak akan ada yang keberatan. Mereka akan menerimanya dengan senang hati."


Shiro dan Mamoru tidak dapat membalas kalimat Akihiko.


Di bawah langit senja yang memerah. Gadis manusia itu tersenyum lebar dengan mata penuh air mata keahagiaan. Tangannya memeluk erat kalung yang ada di dadanya. Di hadapannya, beratus-ratus pasang mata youkai menatap tidak percaya gadis itu, terkejut, sebab apa yang dilakukan gadis manusia itu memang merupakan sebuah keajaiban. Mulut kecil gadis itu kemudian terbuka dan mengucapkan sesuatu yang sangat sederhana.


"Syukurlah... Terima Kasih..."


"Tidak! Tidak! Ini bukan saatnya untuk memikirkan siapa yang menang siapa yang kalah dalam perang dua belas tahun yang lalu!" teriak Shiro tiba-tiba sambil mengeleng-geleng kepala. Dia kembali menatap tajam Akihiko. "Kau salah! Aku tidak peduli kata-katamu itu! Shura tidak akan mungkin memilih selatan! Akan aku seret dia pulang ke barat jika dia berani melakukan itu!"


Akihiko tertawa mendengar ucapan Shiro. "Terserah katamu, hanyou." Tidak mempedulikan Shiro maupun Mamoru, penguasa tanah selatan itu kemudian bangkit dan berjalan menjauh.


"Hei! Tunggu! Jangan pergi!" teriak Shiro berusaha menghentikan Akihiko, namun Mamoru segera menghentikannya.


"Lepaskan aku Mamoru!" protes Shiro. "Aku harus memberitahu dengan sejelas-jelasnya pada serigala bodoh itu bahwa apa yang direncanakannya tidak akan berhasil."


"Hentikan, Shiro! Kita sekarang berada di selatan. Jangan membuat sesuatu yang bisa membahayakan nyawa kita! Ingat, Sakura-chan juga berada di sini."


Shiro langsung terhenti begitu mendengar nama adiknya disebutkan, dan itu benar-benar membuat Mamoru bernapas lega. Sama seperti ayah kandungnya, Shiro selalu saja bertindak sebelum berpikir. Menatap hanyou di depannya, Mamoru hanya bisa mengeleng kepala penuh kebingungan lagi. "Kenapa denganmu, Shiro? kupikir kau tidak menyukai Shura. Tapi melihatmu sekarang, sepertinya aku salah, ternyata kau sangat menyanyangi sepupumu itu..."


Kalimat Mamoru membuat mata Shiro terbelalak. "Kau salah, Mamoru! Aku membenci anjing mesum itu! Aku tidak menya—" protes Shiro panic. Tapi, ucapannya itu segera terhenti karena dari belakang, dia mendengar suara Aya dan Maya yang berteriak memanggilnya dan Mamoru penuh kepanikan.


"Shiro! Mamoru!"


Shiro dan Mamoru tahu ada yang tidak beres, mereka segera berlari mendekati kedua saudara kembar itu.


"Ada apa kak Aya, Kaka Maya?" tanya Mamoru cepat.


"Kami menerima pesan dari Ibu lewat burung merpati yang dikirimnya." Jawab Aya cepat. Matanya penuh dengan kepanikan.


"Pesan apa?" tanya Shiro cepat.


"Pesan bahwa kita tidak boleh pulang ke barat. Barat telah terdesak oleh utara. Istana Tanah Barat telah berhasil diserang hingga rusak parah oleh youkai dari utara." Jawab Maya.


"Tidak mungkin!" teriak Shiro dan Mamoru terkejut.


"Ya, itu tidak mungkin..." ujar seseorang dari belakang mereka tiba-tiba.


Semua yang mendengar suara itu tahu siapa pemilik suara tenang tersebut. Mereka segera menolehkan kepala ke belakang dan menemukan Shura berdiri menatap mereka dengan pandangan tanpa ekspresi. Namun begitu, Shiro dapat melihat dengan jelas kepanikan serta ketidakpercayaan dalam sepasang mata emas itu.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2