Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 23


__ADS_3

"Aku hanya ingin pulang ke rumah..."


Kata yang diucapkan Shura dibalik pintu shoji kamarnya yang tertutup, terus tergiang dalam kepala Shiro. Kakinya bergerak cepat mencari Akihiko. Kemarahan memenuhi dirinya. Di belakangnya, Mamoru, Aya dan Maya berlari mengejar, berusaha menghentikan hanyou tersebut. Namun, mereka yang merupakan manusia memang mustahil dapat menyusulnya yang merupakan seorang hanyou.


Mengedus udara dan mencari aura Penguasa Tanah Selatan, meski berada di dalam istana yang penuh dengan youkai, Shiro tidak mengalami kesulitan besar dalam menemukannya. Dia berhasil menemukannya dalam taman istana tanah selatan yang penuh dengan pohon sakura. Penguasa Tanah Selatan sedang duduk sambil menyandarkan badan pada dahan pohon sakura menatap langit biru di atas.


"Hei! Serigala berengsek!" teriak Shiro penuh kemarahan.


Akihiko tidak mempedulikan Shiro, matanya masih menatap langit biru di atas, begitu juga dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah. Dia tahu, hanyou itu pasti datang karena ketidakpuasan terhadap sikapnya pada Shura.


"Hei! Aku sedang berbicara padamu!" teriak Shiro lagi sambil berjalan ke depan Penguasa Tanah Selatan itu. Mata emasnya menatap tajam Akihiko. Tidak ada ketakutan sedikit pun di wajahnya.


"Apa maumu, hanyou?" tanya Akihiko kemudian dengan pelan penuh kemalasan. Kepalanya kemudian menatap Shiro.


"Biarkan Shura pulang."


"Tidak akan." Balas Akihiko pelan.


Tidak mempedulikan Akihiko, Shiro langsung mencengkeram kerah haori Akihiko. "Biarkan dia pulang! Kau pikir, kau ini siapa!? Kau tidak punya hak untuk menahannya di sini!"


Mata Akihiko langsung berubah menjadi merah darah. Sikap Shiro ini benar-benar telah kelewatan. Kemarahan memenuhi hatinya, dia akan memberikan pelajaran pada hanyou kurang ajar di depannya sekarang. Dia tidak dapat mentoleransi kekurang ajar sikapnya lagi.


Melihat kemarahan Akihiko, Shiro segera melepaskan tangannya dan meloncat ke belakang. Namun, tetap tidak ada ketakutan di wajahnya, dia masih menatap tajam Penguasa Tanah Selatan itu. Dia tahu, youkai yang ada di depannya akan menyerang. Dengan segera dia memasang kuda-kuda siap untuk bertarung.


"Shiro! Hentikan!" teriak Aya dan Maya bersamaan tiba-tiba.


Kedua saudara kembar yang baru saja di tempat mereka tidak dapat menyembunyikan kepanikan mereka lagi. Shiro tidak mungkin dapat mengalahkan Akihiko, dan melihat kemarahan youkai tersebut sekarang, mereka tahu, hanyou itu sedang berada dalam masalah. Sedangkan Mamoru yang juga baru tiba bersama kedua kakaknya tidak mengucapkan apa pun. Dia hanya diam membisu menatap apa yang terjadi.

__ADS_1


Shiro tidak mempedulikan teriakan Aya dan Maya, dia menatap tajam Akihiko, "Kau mengatakan Shura baru boleh pulang jika mengalahkanmu, kan?" tanya nya tiba-tiba. "Kalau begitu, biar aku yang melawanmu, berengsek!"


"Tambahkan aku sekalian, Shiro," sela Mamoru tiba-tiba, membuat semua yang di sana menatapnya. Dengan pelan taijiya muda itu berjalan mendekati Shiro, mengeluarkan beberapa lembar kertas mantra yang tersembunyi di punggung kimononya dan memasang kuda-kuda siap bertarung. "Aku menatangmu, Akihiko-sama. Untuk kebebasan Shura." Katanya serius.


Shiro, Aya dan Maya sangat terkejut mendengar kata Mamoru. Tidak pernah sedikit pun terpikirkan oleh mereka bahwa, Mamoru yang selama ini selalu cuek dan tidak mau ikut campur akan berkata seperti itu.


"Mamoru! Kau gila ya?!" teriak Aya kebingungan bercampur panik.


"Hetikan Mamoru!" teriak Maya.


Mamoru menolehkan kepalanya pada kedua kakaknya dan tersenyum kecil. "Kak Aya, Kak Maya, siapa Shura sebenarnya, kita semua tahu. Sejak dia dilahirkan, dia sudah merupakan bagian dari keluarga besar kita secara tidak langsung. Dan serendahnya aku, aku tidak bisa membiarkan salah satu anggota keluargaku terperangkap dalam masalah."


Mata Aya dan Maya benar-benar terbelalak begitu mendengar penjelasan Mamoru. Mereka terdiam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa. Dengan senyum yang masih ada di wajah, Mamoru kemudian menatap Akihiko. "Anda tidak keberatan jika bertambah satu orang, kan, Akihiko-sama?"


Kemarahan yang memenuhi hati Akihiko menghilang. Kebingungan menguasai hatinya melihat sikap Shiro dan Mamoru. Dia tidak mengerti sikap hanyou dan manusia di depannya. Namun, dia mengesampingkan itu semua. Dia tidak bisa membiarkan mereka bersikap seenaknya terus.


Terkejut, Shiro, Mamoru, Aya dan Maya segera menolehkan kepala pada sumber suara. Tidak jauh dari mereka, Shura berdiri dengan bantuan Sakura dan Tsubasa menatap mereka semua. Ekspresi wajahnya tetap saja datar seperti biasa. Saat dia mendengar suara teriakan Aya, Maya dan Mamoru yang memanggil nama Shiro dalam kamarnya, dia tahu, pasti ada yang tidak beres, dan ternyata firasatnya itu memang terbukti benar.


"Masalahku aku sendiri yang akan menyelesaikannya, bukan kalian. Jadi, mundur." Lanjutnya lagi.


Ucapan Shura membuat Shiro menarik napasnya. Kekesalan memenuhi dirinya. Wajahnya tidak dapat menahan kejengkelan yang dirasakanya lagi. Melangkahkan kakinya, dia mendekati inuyoukai tersebut. Tangannya segera terangkat ke atas. Tidak mempedulikan luka yang ada, dia langsung memukul kepala Shura dengan kuat. "Jangan memerintahku, bodoh!" teriaknya.


"Kakak! Apa yang kau lakukan?!" teriak Sakura terkejut.


Shura yang dipukul tiba-tiba langsung menatap tajam Shiro. Mata emasnya langsung berubah jadi merah darah karena kemarahan. Namun, belum sempat dia mengatakan sesuatu, kedua tangan Shiro tiba-tiba menyentuk kedua pundak Inuyoukai dan menempelkan dahi mereka. "Dulu, saat masih kecil, aku pernah berjanji untuk menjaga dan melindungimu. Karena itulah, aku memutuskan untuk membantumu kemarin.."


Shura menatap bingung Shiro, kemarahannya segera berubah menjadi kebingungan.

__ADS_1


"Namun, ternyata aku salah untuk itu. Bukan janji atau apa, sudah menjadi sebuah kewajiban bagiku untuk menjaga, melindungi dan membantumu. Kau adalah anak paman Sesshoumaru. Darah yang mengalir dalam nadimu juga mengalir dalam nadiku. Kau adalah sepupuku, keluargaku.."


Mata Shura langsung terbelalak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang, dan itu membuat Shiro tersenyum. Dia menjauhkan dahinya, lalu, tangan kirinya bergerak mengacak-acak rambut Shura. Dalam hatinya, dia sangat senang, gembira dan puas. Pertanyaan dalam hatinya kini telah terjawab. Sejak pertama kali dia bertemu dengan Shura, dia tidak menyukainya, karena inuyoukai itu selalu bersikap seakan Sakura, adiknya adalah miliknya. Tapi, saat dia melihat dengan kepala mata sendiri apa yang dilalui inuyoukai itu, hatinya merasa sakit, sedih dan tidak tega. Shura masih sangat kecil, bahkan belum genap berusia sepuluh tahun. Di tempat yang asing ini, dia tidak bisa mengandalkan siapa pun. Namun, tidak untuk sekarang, sebab kini dia telah berada di sini—keluarga ada untuk saling membantu, keluarga ada untuk saling menyokong.


"Peraturan pertama dalam sebuah keluarga. Yang lebih tua menjaga yang lebih muda. Aku harus menjagamu, keluargaku, adikku.."


Kata-kata Shiro benar-benar membuat Shura terdiam seribu bahasa. Mata emasnya semakin terbelalak. Tidak mempedulikannya, hanyou itu mengangkat tangan memeluk erat dirinya.


Sakura yang ada di samping tidak mengerti jelas yang terjadi, tapi, ini adalah pertama kalinya Shiro bersikap seperti itu terhadap Shura. Dan, bukankah ini yang diharapkannya? Kedua orang yang sangat berarti baginya berdamai, tidak beradu mulut dan bertengkar lagi. Tidak membuang waktu, dia pun tertawa dan mengangkat tangan ikut memeluk Shura.


"Hei, jangan lupakan aku," Ujar Mamoru tiba-tiba. Dia juga ikut membuka tangan memeluk mereka bertiga. "Aku yang paling besar diantara kalian. Melindungi kalian semua seharusnya adalah tugasku," tawanya. Matanya kemudian terarah pada Aya dan Maya. "Kak Aya, kak Maya, kemarilah. Kalian tidak mau ketinggalan pelukan besar keluarga besar kita yang pertama, kan?"


Aya dan Maya tertegun mendengar ajakan Mamoru. Namun melihat apa yang terjadi di depannya. Maya tiba-tiba tertawa. Siapa yang menyangka adik kandungnya bisa berkata itu, dan yang terpenting, bagaimana dia bisa menolak ajakan yang begitu benar itu. Menolehkan kepala menatap saudara kembarnya yang kini juga ikut tertawa dan diyakininya juga berpikir sama, mereka berdua pun berlari mendekati keempat anggota keluarga mereka, membuka lebar tangan dan ikut dalam adegan peluk-pelukan yang ada.


Tertawa.


Mereka semua tertawa lebar memeluk Shura yang kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Shura tidak mengerti apa-apa. Mereka yang baru dikenalnya tidak lama memeluknya dengan erat. Bau mereka dapat diciumnya dengan kuat. Bau hanyou dan manusia menyelimutinya. Namun, tidak tahu mengapa, dia tidak menemukan kekuatan untuk membebaskan dirinya dari pelukan tersebut, dan dia tahu, itu bukan karena luka disekujur tubuhnya.


Tidak mengerti kenapa, kedua tangan Shura bergerak sendiri, tidak dapat dihentikannya. Tangan itu bergerak memeluk Shiro yang paling dekat dengannya. Membenamkan wajahnya pada dada bidang di depannya.


Keluarga.


Keluarga? Dalam hidupnya. Dia tidak pernah menganggap siapa pun keluarganya selain Ayahanda dan Ibundanya. Namun. dia bertanya pada diri sendiri, kenapa kata itu terdengar begitu benar? Kenapa pelukan mereka semua sekarang ini begitu hangat? Kenapa jantungnya berdetak dengan begitu cepat? Kenapa hatinya terasa begitu hangat? Kenapa dia merasa air matanya bagaikan ingin menetes jatuh dari matanya? Kenapa?


"Kau tidak sendirian lagi, Shura. Kami ada di sini. Keluargamu akan selalu ada untukmu.." Bisik Shiro pelan.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2