Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 95


__ADS_3

"Apa yang kau dengar itu benar?" tanya seorang penjual buah pada temannya yang merupakan seorang penjual sayur.


Dalam pasar dalam kota manusia yang ramai, kedua pria itu sedang bercerita dengan suara keras sambil menjaga stan dagangan mereka. Mereka tidak mempedulikan sedikitpun pandangan orang-orang yang terarah kepada mereka.


"Kalian lagi membahas apa sampai seheboh ini?" tanya seorang wanita tiba-tiba. Dia berjalan mendekati stan buah sambil tersenyum. "Tolong bungkuskan sekilo apel untukku."


Sang penjual buah tertawa mendengar ucapan dari wanita yang merupakan pelanggan setianya sejak dulu. Tangannya dengan segera memilih apel dari stannya. Tersenyum, dia kemudian menoleh wajah menatap wanita itu. "Kami sedang membahas rumor tentang youkai penguasa tanah barat dan kisakinya."


"Oh?" seru wanita itu. Senyum di wajahnya semakin lebar. "Aku juga mendengarnya. Tentang wanita manusia yang menjadi istri youkai, kan?"


"Iya," sela penjual sayur yang tidak dapat menahan dirinya untuk mengikuti pembicaraan. Suaranya tiba-tiba kembali mengeras. "Manusia menjadi kisaki youkai!! Apa jadinya dunia ini ke depannya!!??


Suara teriakannya dengan segera menarik perhatian beberapa penduduk kota yang berjalan. Mendekati stan penjual buah dan sayur, beberapa orang diam mendengar sedangkan beberapa orang ikut mengeluarkan pendapat.


"Hmn," berdecik tidak suka, seorang pria muda membuka mulutnya. "Kudengar, wanita murahan itu bersedia menjadi kisaki karena dibutakan kemewahan yang ditawarkan youkai."


"Tidak hanya itu," seeorang wanita segera menyambung ucapan pria muda itu. "Kudengar dia juga dijanjikan wilayah dan kekuasaan. Wanita murahan itu ingin menjadi Ratu para manusia. Dia wanita yang serakah."


"Jika itu terjadi, apa jadinya hidup kita ke depan," seorang nenek tua yang ada di sana menghela napas mendengar ucapan wanita itu. "Hari-hari kita pasti akan menjadi sangat sulit."


Semua yang ada di tempat terdiam mendengar ucapan nenek tua itu. Tapi, dalam hati, mereka semua setuju. Youkai penguasa tanah barat adalah youkai yang sangat ditakuti manusia. Wilayah, kekuasaan dan kekuatannya mencakup luas seluruh tanah di jepang, dan juga, tidak dapat dipungkiri ribuan youkai yang bersedia mati untuk penguasa itu–jika penguasa tanah barat mau, dia bisa menghancurkan manusia dengan mudahnya.


"T-tapi, aku tidak mengerti" suara seorang wanita muda tiba-tiba memecahkan keheningan. "Kenapa youkai penguasa tanah barat mau mengangkat seorang wanita manusia menjadi kisakinya?"


Pertanyaan itu dengan segera menarik perhatian semua yang ada.


"Kudengar wanita murahan itu sangat cantik," jawab penjual sayur yang diam dari tadi dengan ekspresi wajah menghina. "Youkai penguasa tanah barat itu menyukai kecantikannya."


"Kau salah," potong seorang pemuda tiba-tiba. Dia berdiri di samping nenek tua yang mengatakan hari-hari kedepan manusia akn sulit. "Kudengar penguasa tanah barat mengangkat wanita murahan itu menjadi kisaki karena wanita itu mempunyai kekuatan yang luar biasa."


"Kekuatan?" tanya penjual sayur bingung. Tapi sejenak dia tersadar. "Maksudmu kekuatan membangkitkan youkai yang telah mati??"


Ucapan penjual sayur dengan seketika membuat semua yang ada tersadar dan mulai berbisik-bisik serta berasumsi dalam hati mereka sendiri. Perang barat dan selatan yang terjadi tahun lalu masih teringat jelas dalam pikiran mereka. Perang aneh yang tidak memiliki korban di kedua pihak, dan rumor mengatakan, kisaki tanah barat yang saat itu masih merupakan hime dari baratlah yang membangkitkan semua youkai dari kematian dalam perang.


"Iya," balas pemuda itu sambil mengangguk kepala. Wajahnya sangat serius, tapi juga mengandung ketakutan dan kengerian. "Karena itu, youkai penguasa tanah barat mengangkatnya menjadi kisaki. Kalian bisa membayangkan?–betapa menakutkannya youkai dari barat, jika meski telah dibunuhpun mereka bisa hidup kembali."


Ucapan pemuda itu dengan seketika membuat semua yang ada di sana panik. Ketakutan memenuhi wajah mereka semua. Apa yang dikatakan pemuda itu sangat beralasan, kecantikan manusia mungkin bisa menarik perhatian youkai, tapi tidak sampai dapat menjadi seorang kisaki. Tapi, tidak untuk kemampuan membangkitkan mereka yang mati–seluruh manusia akan dalam bahaya besar jika youkai tidak bisa mati.


"Apakah para manusia lemah seperti kita masih bisa melanjutkan hidup ke depannya jika youkai menyerang?" desah sang nenek yang ada di samping pemuda itu lagi. Kesedihan di wajahnya terlihat jelas.


"Menyerang?" seru wanita yang tadi membeli buah terkejut dan menatap sang nenek.


Sang nenek mengangguk kepala. "Aku sudah hidup sangat lama, nak. Seperti apa youkai itu, aku tahu. Mereka; kejam. Jika memiliki kekuatan yang luar biasa, mereka pasti mau menguasai dunia dan menghancurkan atau memperbudak kita para manusia."


Penjelasan sang nenek kembali menjadi sesuatu yang dibahas dan dipikirkan semua yang ada. Tapi, mereka semua setuju dan percaya akan ucapan dia yang lebih tua.


"Kita harus melakukan sesuatu sebelum itu terjadi." Ujar seorang pria setengah baya tiba-tiba. Suaranya sangat tinggi, ada kemarahan terlihat jelas di wajahnya. "Kita tidak boleh membiarkan anak-cucu kita hidup seperti itu!!"


Apa yang dikatakan pria separuh baya itu dengan segera disambut semua yang ada. Mereka semua setuju–mereka memang harus melakukan sesuatu untuk menghindari masa depan yang akan menghancurkan keberadaan manusia.


Keributan pecah dalam pasar itu, semua yang ada mulai melontarkan pendapat dan cara-cara yang mungkin manusia lakukan untuk menghentikan masa depan yang tidak diinginkan. Dari menyewa taijiya untuk melawan youkai penguasa tanah barat hingga–membunuh sang pembuat masalah; kisaki tanah barat.


Dalam keributan yang ada, tidak ada seorangpun yang menyadari, nenek tua yang yakin akan serangan youkai dan pemuda di sampingnya menghilang dari pandangan.


Jauh dari kerumuran manusia, dua sosok itu berubah menjadi bola api dan lenyap tanpa bekas.


....xOxOx....


Shui tersenyum kecil menatap bonsai di depannya. Tangannya yang memegang gunting, mengunting dahan bonsai itu dan berusaha menata tanaman itu sesuai keinginannya.


"Aku benar tidak mengertimu," ujar Takeru, sang penguasa tanah utara. Kedua mata hijaunya menatap bingung sosok Shui yang ada di depan. "Kau masih saja santai seperti ini. Kukira kau sudah akan segera bergerak sekembali dari barat."


Shui tidak membalas ucapan Takeru, bahkan dia tidak menolehkan pandangannya youkai ular tersebut, fokusnya masih ada pada bonsai di depan.


"Timur sudah mulai bergerak," lanjut Takeru lagi, dan membaringkan badan di atas tatami di bawahnya. "Rubah tua itu menuliskan surat padaku, dan ingin meminta bantuanku membuat rumor di wilayahku."


"Oh, ya?" tawa Shui pelan, tapi dia tetap tidak menoleh wajah pada Takeru. "Kau membantunya?"


Takeru tertawa, "Aku terlalu malas melakukan itu," bangkit dan duduk dengan seulas senyum menyeringai di wajah, dia menatap kembali sang pemimpin youkai netral. "Kau tidak terkejut?–kau sudah tahu rencana timur, ya?"


Shui tidak menjawab, tapi senyum di wajahnya semakin lebar.


Takeru menatap senyum Shui dan berusaha menerka apa yang ada dalam pikirannya. Shui, si putih dari netral adalah saudara sepupu jauhnya, dan meski hubungan mereka tidak dapat dikatakan baik, hubungan mereka juga tidak buruk.


Delapan ratus tahun yang lalu, mereka berdua dibesarkan bersama saat kecil dalam istana tanah utara, dan sessungguhnya, Shui merupakan salah satu kandidat yang bersaing dengannya untuk menjadi penguasa tanah utara dulunya. Tapi, tanpa alasan jelas, saat berusia kurang lebih dua ratus tahun, youkai bermata putih ini tiba-tiba membuang semua itu dan meninggalkan utara.


Lalu, tanpa alasan yang jelas juga, seratus tahun kemudian, dia tiba-tiba muncul lagi, menjadi sosok youkai yang sangat dipercayai youkai klan netral dan adik angkat dari Inu No Taisho, inuyoukai penguasa tanah barat saat itu.


Shui–dia adalah youkai yang penuh teki-teki. Dia tidak mengikat dirinya pada siapapun, tidak untuk barat yang merupakan wilayah kakak angkatnya, maupun utara, tempatnya berasal. Di mata semua yang ada, baik youkai maupun manusia, dia adalah youkai netral aneh yang mencintai perdamaian.


Si putih dari netral adalah julukan yang diberikan oleh manusia padanya ratusan tahun lalu, dan bertahan hingga sekarang. Julukan itu diberikan sebagai tanda terima kasih karena dia melindungi dan menyelamatkan satu kota dari amukan seorang youkai. Di mata manusia, meski dia youkai, dia putih bersih–seorang pelindung.

__ADS_1


Lalu, sang terhormat dari netral, pemimpin dari youkai klan netral–julukan itu juga tidak didapatkannya tanpa alasan. Shui itu, sekali lihat saja, semua orang tahu, dia adalah youkai yang sangat kuat. Tidak ada yang tahu jelas kekuatannya, tapi ratusan tahun lalu, di hadapan banyak youkai, Inu no taisho dari barat pernah berkata bahwa adik angkatnya itu tidak kalah kuat darinya.


Hukum di dunia youkai adalah hukum rimba. Hukum di mana yang kuat hidup dan yang lemah mati. Bagi youkai klan netral yang rata-rata adalah klan youkai lemah, keberadaan mereka bisa saja hilang sewaktu-waktu. Karena itu, mereka membutuhkan sosok youkai kuat yang tidak berpihak pada siapapun sebagai tempat untuk bersandar. Shui adalah satu-satunya youkai yang memenuhi semua persyaratan itu. Karena itulah, semua youkai klan netral mengikutinya.


Nama yang terkenal, reputasi yang baik dan kehormatan yang tinggi; youkai yang baik. Segala julukan yang menjelaskan Shui–Takeru sungguh ingin tertawa mendengar semua itu. Siapa Shui, dia yang hidup bersamanya saat kecil sangat mengetahuinya–dia adalah youkai paling gila yang pernah dilihatnya dalam delapan ratus tahun hidupnya.


"Jangan menatapku seperti itu terus," tawa Shui kemudian. Kedua mata putihnya kembali jatuh pada bonsai yang diguntingnya. "Aku tidak tahu akan rencana timur."


Takeru sama sekali tidak percaya dengan ucapan Shui. Tapi, dia juga tidak peduli. Kembali berbaring di atas tatami, dia kemudian tertawa. "Kalau begitu kau pasti juga sudah tahu si rubah kecil yang menuju selatan."


Shui kembali tertawa mendengar ucapan Takeru, mengerakkan tangannya, dia menggunting daun bonsai dengan hati-hati. "Akiko pasti tidak bisa berdiam diri saat apa yang paling diinginkannya menjadi milik Rin."


Takeru kembali duduk dan menatap Shui. Seulas senyum menyeringai menghiasi wajahnya. "Rin," ujarnya pelan. "Kau memanggil nama manusia itu dengan begitu lembut, sepertinya kau memang sangat tertarik padanya."


"Rin terlalu menawan hingga tidak dapat kuabaikan," aku Shui dengan senyum yang makin lebar di wajahnya. Wajah tersenyum manis wanita manusia itu terbayang dalam pikirannya. "Dia terlalu bersinar.."


Senyum menyeringai di wajah Takeru semakij lebar. "Karena itu aku penasaran, kenapa kau tidak bergerak? Apa yang kau tunggu?"


Tertawa, Shui mengangkat wajahnya menatap langit biru di luar jendela. "Aku ingin Sesshoumaru dan Rin bahagia," ujarnya pelan. "Aku ingin melihat mereka berdua berada di atas puncak kebahagiaan."


"Lalu?" tanya Takeru menahan tawa di wajahnya.


Menurunkan wajahnya, Shui kembali menatap Takeru. Senyum tetap ada di wajahnya, namun tidak dengan matanya. Kedua mata putih itu bersinar penuh kegilaan. "Saat mereka jatuh dari puncak kebahagiaan–itu akan menjadi pemandangam terindah yang akan kulihat."


....xOxOx....


Tsubasa menatap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi pada Akiko, hime dari timur di depannya. Berdiri di samping Akihiko, sang penguasa tanah selatan yang duduk di kursi singgasananya, dia diam membisu tidak mengatakan apapun.


"Kau kelihatan berantakan sekali, Akihiko-san." Senyum Akiko. Namun, mata hijaunya jelas mentertawakan kondisi sang penguasa tanah selatan yang ada di depannya.


"Jaga mulutmu, Akiko-sama." Peringat Tsubasa. Mata merahnya menajam, sedangkan bibirnya terangkat memperihatkan seringai kemarahan.


Akihiko mengangkat tangan kanannya memerintah Tsubasa untuk berhenti. Mata biru langitnya yang terarah pada Akiko kemudian menajam, tapi dia tetap tidak mengatakan apa-apa.


Tsubasa mengarahkan pandangannya pada Akihiko. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi, pada akhirnya dia mengurungkan niatnya. Akihiko, sang penguasa tanah selatan memang telah berubah dalam beberapa waktu ini.


Penguasa tanah selatan adalah youkai serigala yang selalu santai tidak mempedulikan banyak hal. Kedua mata biru langitnya selalu bersinar penuh kebosanan. Namun, senyum dan tawa, serta binar kehangatan dan kebahagiaan selalu menghiasi wajah tampannya itu tidak lama setelah dia mengenal seorang gadis manusia.


Semua yang ada di tanah selatan bisa melihat, betapa Akihiko tertarik dan menyukai gadis manusia itu. Untuk semua yang dilakukannya, tidak ada yang ragu jika ada yang mengatakan bahwa sang penguasa tanah selatan ingin menjadikan gadis manusia itu wanitanya. Tapi, mereka ternyata salah. Gadis manusia itu ternyata menjadi kisaki tanah barat–wanita yang paling terhormat di barat yang besar.


Reaksi Akihiko menjadi sesuatu yang tidak diharapkan semua yang ada dalam istana tanah selatan. Kemurkahannya–berapa banyak dayang, prajurit maupun selirnya yang terluka maupun mati tanpa sebab.


Mata biru langit yang selalu bosan kini bersinar penuh kemarahan, begitu juga dengan wajahnya–penuh kemurkahan. Akihiko jelas terlihat tidak bisa menerima kenyataan bahwa gadis manusia yang diinginkannya menjadi wanita dari Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.


Akihiko tetap tidak menjawab, tapi kemarahan di wajahnya semakin jelas.


"Meskipun dia memiliki tanda sah sebagai pasangan Sesshoumaru dari barat," lanjut Akiko sambil tertawa. Kedua matanya bersinar penuh kegembiraan. "Kau tidak dapat melepaskannya begitu saja, kan?–kisaki dari tanah barat."


Akihiko tetap tidak menjawab. Tapi, dalam hatinya, dia mengakui ucapan Akiko.


Akihiko-sama.


Suara dan senyum tawa gadis manusia yang begitu berarti baginya melintas dalam pikiran. Gadis manusia yang begitu berbeda dan bagaikan matahari musim semi dalam hidupnya. Gadis manusia yang dicintainya sepenuh hati–bagaimana dia bisa melepaskannya?


Pertama kali dia mencintai, dan tanpa dapat melakukan apapun, dia kehilangan. Sesshoumaru dengan liciknya menjadikan gadis itu sebagai kisaki tanah barat.


Undangan.


Undangan yang diucapkan Sesshoumaru pada hari gadis itu pulang ke barat, undangan yang ditunggunya agar dirinya dapat mengunjungi istana tanah barat dan mempersunting gadis yang dicintainya–undangan itu berubah menjadi undangan untuk menghadiri hari dimana anjing itu menandai dan mengangkat gadis manusia yang dicintainya menjadi kisaki tanah barat?–sungguh, kebencian dalam hati Akihiko pada Sesshoumaru tidak terukur lagi.


Lalu, untuk pilihan gadis manusia itu yang jatuh pada Sesshoumaru. Betapa Akihiko ingin melihat penyesalan di wajah cantik itu pada akhirnya? Kisaki tanah barat?–sungguh, dia ingin melihat berapa lama jabatan itu dapat disandangnya. Betapa merana serta hancurnya gadis itu saat mengetahui bahwa anjing itu tidak sungguh-sungguh mencintainya–yang diinginkan sang penguasa tanah barat hanyalah kekuatan meido seki.


"Aku tidak tertarik dengan segala rencana kalian dari timur," ujar Akihiko kemudian. Seulas senyum penuh kegilaan menghiasi wajahnya. "Cepat atau lambat, dia akan kembali padaku."


Akihiko tahu, cepat atau lambat, Sesshoumaru pasti akan membuang gadis manusia itu. Pada saat itu, tiba, dia yakin, gadis manusia itu akan sadar, siapa yang sesungguhnya benar-benar mencintainya, siapa yang bisa selalu berada di sampingnya.


"Rin akan kembali padaku.."


Akiko tidak mengatakan apa-apa lagi mendengar ucapan Akihiko. Tapi, senyum di wajah tetap mengembang. Dia mungkin tidak mendapatkan jawaban dari penguasa tanah selatan ini, tapi, setidaknya apa yang dia inginkan telah terpenuhi–Akihiko tidak akan berada dipihak wanita tersebut pada saat itu tiba.


Tsubasa yang diam mendengar ucapan Akihiko, tanpa sadar, telah mengepal erat kuat kedua jemari tangannya hingga berdarah. Ekspresi wajah Akihiko–apakah Akihiko masih belum menyerah? Apakah penguasa tanah selatan ini masih tidak dapat melepaskan wanita itu meski wanita itu telah menyandang tanda dari pria lain?–cinta youkai serigala ini kini telah berubah menjadi sebuah obsesi.


Wanita yang dapat mengubah Akihiko menjadi seperti ini–betapa dirinya iri dan membenci wanita manusia itu sekarang! Kenapa bukan dirinya? Kenapa Akihiko tidak pernah melihatnya?


'Cinta anda–Rin mengerti.'


Tsubasa tertegun sejenak saat ucapan itu melintas dalam pikirannya. Suara lembut yang berujar pelan, serta pelukan yang hangat. Perasaan lega dan juga damai yang diberikan–Tidak! Tsubasa tidak mau memikirkan semua itu. Dia membencinta wanita itu, teramat sangat membencinya. Jika dia bisa, dia ingin membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri.


Tapi..


Kenapa kata penuh pengertian itu selalu tergiang dalam kepala? Kenapa dalam lubuk hatinya yang terdalam, dirinya tidak dapat membenci wanita manusia yang merebut apa yang paling diinginkannya?

__ADS_1


....xOxOx....


Dalam kamar tidur penguasa tanah barat dan kisakinya, Jinenji menutup mata menfokuskan diri pada apa yang dilakukannya, yakni; memeriksa kesehatan Rin, sang kisaki tanah barat.


Semenjak Rin pulang dari tanah selatan pada awal musim semi hingga hari ini pertengahan musim panas, Jinenji tetap diwajibkan menjaga kesehatan wanita itu meski wanita itu sudah dinyatakan sehat. Hanyou itu tahu, rutinitas ini akan menjadi tugas hariannya sampai meido seki dapat dipisahkan dari Rin.


"Rin tidak apa-apa, kan, Jinenji-san?" tanya Rin dengan senyum lebar di wajahnya.


Jinenji ikut tersenyum melihat senyum Rin. Mengangguk kepala pelan, dia tertawa pada wanita manusia yang telah dikenalnya sejak kecil. "Apakah anda memiliki keluhan, Rin-sama?"


"Hmnn," gumam Rib pelan. Mengernyitkan dahinya, dia berusaha memikirkan apakah dia memiliki keluhan akan kesehatannya akhir-akhir ini. "Ah! Ada Jinenji-san!!" serunya tiba-tiba penuh semangat.


Ucapan Rin segera membuat Jinenji dan juga Kiri yang ada di sampingnya menoleh kepala pada wanita manusia tersebut.


"Rin akhir-akhir ini sering terjatuh," jawab Rin pelan dengan ekspresi wajah yang sangat serius. "Rin selalu kehilangan keseimbangan dan merasa kaki tidak bertenaga."


Jinenji tertawa canggung mendengar penjelasan Rin. Dirinya adalah orang yang diangkat sebagai tabib pribadi kisaki tanah barat. Lebih dari siapapun, dia paling mengetahui kesehatan wanita manusia ini. Pertanyaan yang yang diajukan Rin barusan adalah pertanyaan yamg sangat sederhana, tapi memiliki jawaban yang tidak sederhana untuk dijelaskan.


Masih dengan tawa canggung serta wajah yang kemudian berubah menjadi memerah, Jinenji berujar pelan. "Hamba tidak dapat melakukan banyak hal untuk itu, Rin-sama. Mungkin anda bisa menceritakannya pada Sesshoumaru-sama."


"Eh?" seru Rin bingung.


Wajah Jinenji semakin memerah. Melihat wajah polos Rin yang menataonya, hanyou itu merasa pembicaraan sekarang sangat sulit.  "Kaki anda kehilangan keseimbangan dan merasa lemas, mungkin karena.. aktivitas anda pada malam hari."


Wajah Rin memerah sempurna mendengar penjelasan Jinenji. Terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Rasa malu yang luar biasa memenuhi hatinya.


"T-tapi, anda tidak perlu khawatir Rin-sama," lanjut Jinenji cepat. Dia berpikir keras untuk membawa topik pembicaraan mereka ke arah lain. "Anda sehat. Keseluruhan, kondisi tubuh anda sangat sehat."


Rin tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk kepala dengan wajah yang masih memerah.


Kiri yang berdiri di samping tidak mengatakan apapun, bahkan ekspresi wajahnya juga tidak berubah. Sesungguhnya dia tidak mengerti kenapa baik Rin maupun Jinenji berekspresi seperti ini. Aktivitas malam hari?–bukankah itu sesuatu yang biasa dilakukan sepasang suami-istri? Apa yang memalukan dari aktivitas itu?


"Hamba akan meramu obat untuk menguatkan stamina dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk anda, Rin-sama," ujar Jinenji lagi dan tersenyum kecil. "Jadi, tidak perlu khawatir."


"Terima kasih, Jinenji-san." Balas Rin dan memaksakan seulas senyum di wajahnya.


"Apakah anda memiliki keluhan lainnya, Rin-sama?" tanya Jinenji lagi.


Rin menggeleng kepala cepat. "Tidak, Jinenji-san."


"Baiklah," bangkit berdiri, dia kemudian membungkuk memberikan hormat. "Kalau begitu hamba permisi dulu."


Rin juga ikut berdiri, bermaksud mengantar hanyou itu keluar. Namun sedetik kemudian, dia terduduk kembali. Dia bisa merasakan kedua kakinya melemas dan kehilangan keseimbangan lagi.


"Rin-sama." panggil Kiri terkejut. Kedua tangannya langsung menangkap tangan wanita manusia itu.


Jinenji juga segera bergerak cepat. Menyentuh nadi tangan Rin, dia kembali memeriksa kesehatan kisaki tanah barat tersebut.


"R-rin tidak apa-apa," ujar Rin pelan dengan wajah yang kembali memerah. Dia hanya kembali merasa kakinya lemas serta kehilangan keseimbangan, dan penyebabnya Jinenji sudah menjelaskan tadi. Tapi, untuk sekarang ini, dia benar tidak tahu harus mengucapkan apa. "Rin.. Rin..."


Kiri dan Jinenji kembali menatap Rin bersamaan dalam diam. Melihat wajah merahnya, mereka segara sadar dengan apa yang terjadi.


Memastikan Rin benar-benar tidak apa-apa, Jinenji kembali tertawa canggung. "Kalau begitu, hamba akan pergi meramu obat sekarang juga."


Rin mengangguk kepala cepat. Wajahnya yang memerah semakin memerah, dia benar-benar tidak berani berdiri dan mengantar Jinenji sekarang. Menatap Kiri, dia kemudian berujar pelan. "Kiri-sama, tolong gantikan Rin mengantar Jinenji-san."


Kiri tidak mengatakan apa-apa dan menuruti ucapan Rin. Tidak mempedulikan tolakan Jinenji, inuyoukai itu dengan wajah datarnya tetap mengantar Jinenji hingga keluar dari kamar.


Rin menundukkan kepala ke bawah. Kedua tangannya terangkat menutup wajahnya yang masih memerah. Ini adalah pertama kalinya dia merasa malu seperti ini dihadapan Kiri dan Jinenji.


"Sesshoumaru-sama."


"Sesshoumaru-sama."


Rin segera menurunkan tangannya mendengar suara Kiri dan Jinenji yang memanggil nama sang penguasa tanah barat. Melihat ke arah pintu, dia menemukan Kiri dan Jinenji membungkuk memberi hormat pada Sesshoumaru yang berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sesshoumaru-sama." Panggil Rin pelan. Dengan wajahnya yang masih memerah, seulas senyum mengembang di wajah cantiknya.


Sesshoumaru berjalan mendekati Rin. Berdiri di depan istrinya itu, dia membungkukkan badannya hingga pandangan mata mereka sejajar. "Wajahmu merah. Ada apa, Rin?"


Pertanyaan Sesshoumaru membuat Rin terkejut. Wajahnya semakin memerah lagi, dia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Menoleh ke arah pintu berusaha mencari pertolongan dari keadaan yang memalukan ini, dia tidak menemukan lagi sosok Jinenji maupun Kiri.


"Rin."


Suara Sesshoumaru yang memanggil namanya membuat Rin kembali menolehkan wajah menatap inuyoukai itu. Tapi, belum sempat dia melakukan apa-apa, sepasang tangan penguasa tanah barat tiba-tiba mengendong badan mungilnya ke atas.


"S-sesshoumaru-sama!!" teriak Rin terkejut. Kedua tangannya segera menyentuh pundak Sesshoumaru mencari keseimbangan.


"Ada apa?" tanya Sesshoumaru sekali lagi. Wajah menatap lurus wajah Rin, sedangkan sepasang mata emasnya bersinar penuh keseriusan dan menginginkan jawaban.


Rin benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Wajahnya dari malu berubah menjadi terkejut, kemudian menjadi pucat dan kembali lagi menjadi merah karena malu–apa salahnya dia hingga bisa berada dalam kondisi seperti ini hari ini??

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2