![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Tsubasa berdiri diam membisu di atas atap paviliun timur istana tanah barat. Menatap sosok punggung Akihiko yang ada di depannya, dia tahu apa yang ada dalam pikiran penguasa tanah selatan sekarang.
Melalui pintu shoji yang terbuka, meski berada cukup jauh dan di atas atap, baik Akihiko maupun Tsubasa yang memiliki indra penglihatan sangat tajam bisa melihat jelas apa yang terjadi, yakni; Rin yang sedang menangis dalam pelukan Sesshoumaru di kelilingi Inuyasha, Kagome dan yang lainnya. Mereka juga bisa mendengar jelas pembicaraan yang ada.
"Di mana rubah itu berada sekarang?" tanya Akihiko tiba-tiba. Kedua matanya menatap lekat sosok Rin yang menangis dalam pelukan Sesshoumaru berubah menjadi merah darah penuh niat membunuh.
"Akiko, Hime dari tanah timur berada di kamarnya dalam istana tanah barat menyembuhkan diri," jawab Tsubasa pelan dengan tenang. "Sesshomaru-sama menyerangnya saat dia ingin bertemu dengan Kisaki tanah barat."
Jawaban Tsubasa membuat Akihiko terdiam. Mata merah darahnya kembali menjadi biru langit. Tapi, jari-jemarinya terkepal kuat. Niat membunuh dalam hatinya menghilang, tapi kekesalan dan kebencian memenuhi dirinya. Lagi-lagi Sesshoumaru. Jika saja dirinya tidak meninggalkan istana tanah barat untuk berkoordinasi langsung dengan bawahannya yang mencari informasi fushi no kusuri, maka yang akan menghentikan Akiko adalah dirinya; bukan Sesshoumaru.
Sesshoumaru.
Untuk Rin, dia mencari fushi no kusuri meski harus menjungkir balikkan dunia. Untuk Rin, dia mau mendengarkan permintaan Akiko yang tidak masuk akal, dan untuk Rin juga—inuyoukai itu bersedia melepaskan tahtanya sebagai penguasa tanah barat.
Kegilaan Sesshoumaru sudah tersebar ke seluruh dunia, cerita akan seorang inudaiyoukai yang akan membuang semua miliknya untuk seorang wanita manusia. Seperti Inu No Taisho, Sesshoumaru telah menjadi seperti ayah kandungnya—mencintai seorang manusia melebihi segalanya.
Akihiko mau tidak mau mulai bertanya pada dirinya sendiri. Jika dirinya berada di posisi Sesshoumaru; apakah dia juga akan melakukan itu? Apakah dia juga akan sanggup membuang semua yang dia miliki hanya untuk bersama Rin?—penguasa tanah selatan tidak tahu pasti.
Tapi, jika Sesshoumaru bisa, Akihiko yakin dirinya pasti juga bisa, sebab cintanya untuk Rin tidak kalah dari inuyoukai itu sedikitpun. Matahari dalam hidupnya, wanita yang dicintainya—semua itu akan sepandan, kan?
Tsubasa yang masih menatap Akihiko kemudian tersenyum. Apakah youkai serigala itu sedang membandingkan dirinya dengan Sesshoumaru? Membandingkan apakah dirinya juga akan melakukan segala sesuatu yang dilakukan inuyoukai itu jika berada di posisi yang sama?
Ah—Tsubasa sungguh ingin tertawa. Kenapa dirinya bisa dengan begitu mudah menebak isi pikiran Akihiko? Hanya menatapnya saja, dia sudah tahu apa yang dirasakan youkai serigala tersebut.
Membalikkan badan, tanpa menoleh pada Tsubasa sedikitpun, Akihiko kemudian meloncat kelangit. "Jaga Rin."
Tsubasa membungkuk badan pelan mendengar perintah Akihiko. "Hamba mengerti."
Meluruskan badannya, mata merah Tsubasa masih mengikuti sosok Akihiko yang terbang menjauh. Seulas senyum sendu memenuhi wajahnya yang sedari tadi tenang tanpa emosi.
Rin.
Selalu hanya nama ini yang diucapakan dan dipikirkan youkai serigala itu. Apakah akan ada hari di mana Tsubasa-lah yang akan diucap serta dipikirkan Akihiko? Apakah akan ada hari di mana dirinyalah yang akan mengisi seluruh relung hati itu?—menjadi wanita yang paling berharga dalam sepasang mata biru langit itu.
Menutup mata, Tsubasa tertawa. Namun, dalam hati, dia merasa dirinya sungguh kasihan. Dirinya tidak pernah penting di mata Akihiko. Bahkan berhadapan dengannya barusan saja, youkai serigala itu tidak bertanya sedikitpun dengan luka yang ada di lehernya—dirinya memang tidak pernah sebanding dengan wanita manusia itu.
Membuka matanya lagi, Tsubasa mengandah kepala menatap langit musim dingin di atas. "Apa lagi yang kau harapkan, Tsubasa?"
....xOxOx....
Inukimi berjalan masuk memasuki kamar tidur penguasa tanah barat. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tidak ada sedikitpun senyum dan tawa. Tidak mempedulikan Kiri serta Kira yang mengawal pintu kamar yang tertutup, dia membukanya dan berjalan masuk.
Mata emas Inukimi segera jatuh pada sosok Sesshoumaru yang duduk menatap Rin serta Shura yang tertidur di atas futon dengan tenang. "Kalau Rin kecil sudah tahu, jangan mengundur waktu lagi."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Inukimi, kedua mata emasnya terus menatap Rin serta Shura. Begitu lembut bagaikan menatap sesuatu yang paling indah di dunia ini.
"Lebih baik lebih cepat," lanjut Inukimi lagi. Wajah tenangnya tidak berubah meski Sesshoumaru tidak memberikan reaksi sedikitpun, sebab dia tahu putranya mendengar jelas apa yang dia katakan. "Dengan begitu, Rin kecil juga tidak akan menderita lagi setiap hari."
Ucapan Inukimi, Sesshoumaru mengerti, dan dia; setuju. Dirinya tidak perlu lagi mengulur waktu mencari cara terbaik untuk menyampaikan kenyataan dirinya yang turun tahta pada Rin. Sekarang, dia tidak akan peduli pada apapun lagi. Seperti apa tanah barat kelak—itu tidak ada hubungan dengan mereka sedikitpun lagi. "Saat Rin bangun, dia akan memberikan jawaban pada Akiko."
Senyum memenuhi wajah Inukimi begitu mendengar balasan Sesshoumaru. Mengangguk kepala, dia tertawa kecil. "Iya. Memang Rin kecillah yang akan menjawab."
Inukimi tidak sabar melihat reaksi Akiko nanti. Mantan penguasa tanah barat tersebut sungguh ingin menghancurkan rubah itu sehancur-hancurnya; melihat keputusasaan di wajah rubah itu saat sadar bahwa apa yang paling dia inginkan tidak akan pernah menjadi kenyataan.
"Baiklah," senyum Inukimi lagi. Kedua mata emasnua berbinar penuh kegembiraan. "Aku akan mengumpulkan putra Taisho, miko aneh dan yang lainnya—mereka tidak boleh ketinggalan pertunjukkan menarik itu nantinya."
Sesshoumaru tidak membalas apa yang dikatakan Inukimi lagi. Diam membisu, dia membiarkannya berjalan keluar. Dirinya sudah terbiasa dengan ibu kandungnya yang suka datang dan pergi sesuka hatinya.
Kamar kembali menjadi sepi sepeninggalan Inukimi. Menggerakkan tangan kanannya, Sesshoumaru mengelus lembut pipi Rin. Gerakannya pelan dan hati-hati, karena dia tahu, dirinya sedang menyentuh sesuatu yang paling berharga dalam keberadaannya.
Rin yang tertidur tenang setelah menangis hebat sama sekali tidak terbangun dengan kehadiran Inukimi, membuktikan bahwa dia benar sangat kelelahan. Di tambah, badan yang terus melemah dan tidak bertenaga—Sesshoumaru tahu Rin membutuhkan banyak istirahat.
'Sesshoumaru-sama.'
Bayangan Rin terbayang dalam pikiran Sesshoumaru. Di alam bebas, di bawah pohon sakura yang menggugurkan kelopak bunganya, wanita manusia itu duduk sambil memeluk Shura. Tersenyum lalu tertawa memanggil namanya, dengan kedua mata coklat jernih yang bersinar penuh kebahagiaan, dia akan berdiri dan berjalan ke arahnya—Sesshoumaru tidak dapat lagi menghentikan senyum yang merekah di wajahnya.
Rin akan sehat. Sesegera mungkin, dia tidak akan lagi terbaring lemah dan menderita setiap harinya dibalik pintu shoji yang tertutup. Kesakitan dan penderitaan tidak akan menyentuhnya lagi, sebab kebahagiaanlah yang akan hadir menemani.
Menundukkan kepalanya ke bawah, Sesshoumaru mengecup pelan kening Rin. "Cepatlah bangun, Rin. Kita temukan Fushi No Kusuri dan menikmati hidup kebersamaan kita yang akan abadi—selamanya bersama seperti katamu."
....xOxOx....
"Apa katamu??" teriak Akiko marah. Duduk di atas futon, kedua matanya menatap lekat pada Rika, youkai kucing dari istana tanah barat yang sekaligus juga merupakan dayang Rin sejak kecil.
"Rin-sama mengundang anda ke kamar beliau," balas Rika tenang. Tidak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya melihat kemarahan Akiko di depannya, bahkan kedua matanya penuh dengan pandangan mencemooh. "Beliau ingin menyampaikan sesuatu pada anda."
Akiko terdiam mendengar jawaban Rika. Ketakutan memenuhi hatinya, kenapa wanita manusia itu tiba-tiba mengundang dirinya ke kamar? Menyampaikan sesuatu? Apakah wanita manusia itu akan memberikan jawaban sekarang?—bagaimana dengan Sesshoumaru? Apakah inuyoukai itu benar akan turun tahta dan meninggalkan tanah barat?
"Aku tidak bisa menemuinya sekarang," balas Akiko kemudian. Berusaha menghindar dan mengulur waktu, dia tahu dia harus melakukan sesuatu agar Sesshoumaru tidak meninggalkan tahtanya. "Aku terluka dan butuh istirahat."
Rika yang menatap Akiko kemudian tersenyum senang. Youkai rubah tersebut memang terluka, dan luka itu adalah luka yang didapatkannya dari Sesshoumaru saat dia ingin menemui Rin. Ironis sekali karena luka itu kini dia gunakan sebagai alasan untuk menghindar wanita yang ingin ditemuinya sampai membuat keributan beberapa saat yang lalu.
"Kau harus menemui beliau sekarang." Suara datar dan tenang seseorang tiba-tiba terdengar menyela pembicaraan bersamaan dengan pintu kamar shoji yang terbuka.
Mata Akiko terbelalak saat dia melihat siapa yang berjalan masuk, yakni inuyoukai yang memotong salah satu ekornya, pengawal pribadi Kisaki tanah barat; Kiri.
"Kiri-sama." Rika dengan segera memberikan salam pada Kiri. Senyum di wajahnya tidak menghilang, malahan semakin melebar. Dengan keberadaan inuyoukai pengawal pribadi sang Kisaki tanah barat di tempat, Akiko tidak akan memiliki kesempatan untuk menolak lagi.
"Aku datang untuk menjemput dan mengantarkanmu menemui Rin-sama, Akiko-san." Jelas Kiri datar. Kedua mata emasnya berbinar penuh kegilaan. Dia masih ingat dengan apa yang dilakukan Akiko, yakni; menganggu istirahat tuannya. Jika saja dia bisa, dia sungguh ingin mencabut kedelapan ekor yang masih tersisa dari rubah di depannya sekarang.
Akiko tidak dapat mengatakan apa-apa. Dia ingin menolak, tapi melihat sepasang mata emas yang bersinar penuh kegilaan itu, dia mengurungkan niatnya. Kiri tidak akan memberikan kesempatan baginya untuk menolak, inuyoukai itu akan tetap memaksanya bertemu dengan wanita manusia itu walaupun harus menyeretnya paksa.
Mengepal jari jemarinya erat, Akiko kemudian bangkit dengan penuh kesulitan. Luka yang didapatkannya tidaklah terlalu parah, namun juga tidaklah ringan. Mengulurkan tangannya, salah satu bawahannya yang juga berada dalam kamar dengan segera bergerak membantunya.
"Baiklah," ujar Akiko pelan. Wajahnya tenang, dan dia mati-matian berusaha menyembunyikan kebingungan dan ketidak berdayaan akan apa yang terjadi sekarang. "Antarkan aku menemuinya."
Kiri mengangguk kepala mendengar jawaban Akiko. Tidak mempedulikan apapun, dengan segera, inuyoukai itu membalikkan badan dan berjalan keluar dari kamar.
Akiko bersama para bawahannya mengikuti dari belakang. Berjalan pelan dan dibantu salah satu pengawalnya, Hime dari timur menyusuri koridor istana tanah barat. Tidak ada seorangpun penghuni istana yang dilihatnya, tapi dia bisa merasakan puluhan pasang mata terarah padanya. Tatapan mata yang penuh dengan—kebencian. Seakan mereka siap meloncat keluar membunuhnya setiap saat.
Mencapai paviliun timur istana tanah barat, dari jalan setapak dalam taman menuju kamar tidur penguasa tanah barat, Akiko bisa melihat Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Shippo, Kohaku, Kiri dan bahkan Akihiko serta Tsubasa. Mereka semua berdiri di luar kamar dengan mata terarah padanya
Akiko berhenti berjalan. Berdiri mematung, dia menatap mereka semua dalam diam. Dirinya tidak mengikuti Kiri yang kembali berdiri menjaga pintu kamar shoji yang tertutup bersama Kira seperti biasanya.
"Cih, akhirnya dia tiba juga." Cibir Inuyasha menatap Akiko. Melipat kedua tangan di dada dia membuang muka seakan yang dilihatnya adalah sesuatu yang sangat menjijikan.
Kagome tidak memberikan reaksi sedikitpun melihat kemunculan Akiko, begitu juga dengan Miroku dan yang lainnya. Namun tidak untuk Akihiko, penguasa tanah selatan tersebut menatap tajam Hime dari timur penuh kebencian, karena baginya, youkai rubah di depannya adalah penyebab wanita manusia yang dicintainya menangis sedih tidak lama ini.
Tsubasa juga tidak mengatakan apa-apa seperti halnya Kagome dan yang lainnya. Berdiri diam membisu di belakang Akihiko, dia terlihat sekaan tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi.
__ADS_1
Pintu kamar shoji yang tertutup tiba-tiba terbuka, dan pandangan semua yang ada dengan segera terarah kepada Inukimi yang berjalan keluar. Senyum lebar memenuhi wajah mantan penguasa tanah barat tersebut, dan kedua matanya yang berbinar jatuh pada sosok Akiko.
"Masuklah, rubah kecil," ujar Inukimi tidak memperdulikan Akiko yang menatapnya penuh keraguan. "Manantuku akan memberikan jawaban—pilihan yang akan dipilih."
Akiko benar tidak dapat menyembunyikan kepanikan di wajahnya lagi begitu mendengar ucapan Inukimi. Tebakannya benar, wanita manusia itu benar akan memberikan jawaban akan posisi Kisaki tanah barat sekarang—apa jawabannya? Bagaimana jika itu tidak sesuai keinginannya?
Senyum di wajah Inukimi bertambah lebar meihat reaksi kepanikan Akiko. Tidak mengatakan sepatah katapun, dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam kamar. Dari pintu shoji kamar yang terbuka lebar, semua yang ada bisa melihat dengan jelas ke dalam.
Di atas futon, Rin duduk dalam pangkuan Sesshoumaru. Kedua tangan inuyoukai itu membimbing tangan mungil yang ada memeluk putra mereka yang tertidur tenang. Seulas senyum memenuhi wajah cantik yang pucat—senyum musim semi yang indah dan hangat.
Akiko tidak dapat berkata apa-apa melihat Rin. Terakhir kali dia melihat wanita manusia itu adalah pada akhir perang barat-selatan. Dibanding dengan saat itu, wanita manusia itu mengurus banyak dan juga melemah. Tapi, dengan senyum dan sepasang mata jernihnya yang penuh kehidupan, dia tetap saja sangat menawan.
Mengepal tangan, kebencian seketika memenuhi hati Akiko. Melihatnya, dia hanya dapat kembali berpikir; andaikan saja wanita manusia itu tidak ada. Jika saja wanita itu tidak ada, dirinyalah yang akan menjadi wanita paling terhormat di dunia youkai. Hidupnya tidak akan seperti ini—wanita manusia itulah yang merebut segalanya darinya!
"Akiko-sama," panggil Rin pelan. Dia sebenarnya tidak tahu harus bersikap apa saat berhadapan dengan Akiko. Tapi, dia memutuskan untuk tetap menjadi dirinya, karena itulah dia tersenyum. "Maaf karena telah memanggil anda tiba-tiba seperti ini."
"Ah, kau tidak perlu meminta maaf, Rin," potong Inuyasha tiba-tiba. Berdiri di luar kamar, dia menatap Rin dengan seulas senyum. "Dia sendiri juga sangat ingin bertemu denganmu. Bukankah dia sampai membuat keributan hanya untuk berbicara denganmu?"
Kebingungan dengan pertanyaan Inuyasha, senyum Rin berubah menjadi canggung. Dia kembali tidak tahu harus barsikap seperti apa untuk berhadapan dengan Akiko.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan. Melihat Rin berhadapan dengan Akiko, dia tidak menyukainya sama sekali. Tapi, dia tidak bisa membunuh youkai rubah itu sekarang, karena itu, dia ingin menyelesaikan semua masalah ini secepat mungkin. "Berikanlah jawabanmu."
"Eh?" Rin tertegun sejenak menatap Sesshoumaru. Namun sejenak kemudian dia mengangguk kepala tanda dia mengerti.
Menoleh matanya lagi pada Akiko yang berdiri di luar kamar menatapnya, Rin menelan ludah. Jawaban yang dia berikan akan mengubah kehidupan dirinya, Sesshoumaru dan Shura untuk selamanya, tapi—untuk kita.
Untuk Sesshoumaru, untuk Shura, untuk mereka yang menyanyanginya dan untuk dirinya sendiri. Demi kebahagiaan abadi di masa depan—Rin tahu, dia tidak akan ragu lagi.
"Akiko-sama, Rin akan menyerahkan posisi sebagai Kisaki tanah barat pa—"
"Berhenti!!!!!!!!!!"
"Hentikan Rin-chan!!"
Suara teriakan yang sangat keras tiba-tiba terdengar memotong ucapan Rin. Terkejut, semua yang ada segera menoleh pandangan pada sumber suara. Dari atas langit sore musim dingin, mereka bisa melihat Kenji dan Myoga terbang turun dengan seorang pria tua di sampingnya.
"Kenji-san??"
"Kakek Myoga??"
Panggil Inuyasha, Kagome dan yang lainnya terkejut dengan kemunculan Kenji dan Myoga yang tiba-tiba. Mata mereka kemudian terarah pada pria tua dengan wajah penuh keriput di samping youkai monyet dan youkai kutu tersebut, kebingungan memenuhi hati mereka, karena mereka sama sekali tidak mengenalnya.
"Bokuseno?" ujar Inukimi bingung melihat kemunculan pria tua di samping Kenji. Dia jelas ingat salah satu bawahan Inu No Taisho yang telah berusia ribuan tahun tersebut.
Akiko tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya begitu menyadari siapa yang ada di samping Kenji sekarang. Dia tidak mengerti bagaimana bisa youkai pohon berusia ribuan tahun itu bisa muncul di istana tanah barat sekarang. Keadaan benar-benar telah berada diluar kendalinya. Dia tidak bermaksud untuk mengungkapkan keberadaan fushi no kusuri bukan? Dia tidak bermaksud melanggar janjinya pada Inu No Taisho, kan?
Mendarat di atas tanah bersalju di bawah, Kenji menatap Sesshoumaru dan Rin. Seulas senyum memenuhi wajahnya. "Sesshoumaru, anjing itu pasti akan tertawa terbahak-bahak di alam sana melihatmu sekarang—demi seorang wanita manusia kau bahkan akan membuang tahtamu."
Dari perjalanannya menuju istana tanah barat, Kenji telah mendengar berita akan Sesshoumaru yang bersedia membuang tahtanya untuk Rin—hanya untuk menjaga bahwa wanita manusia itulah satu-satunya wanita dalam hidupnya. Saat Inu No Taisho mati untuk Izayoi serta Inuyasha, dia telah menjadi youkai bodoh di mata semua youkai, dan sekarang Sesshoumaru lebih bodoh lagi. Apakah semua inuyoukai seperti itu? Jika iya, maka dia berencana memberitahu para wanita di klannya untuk mencari inuyoukai sebagai pasangan hidup saja.
"Apa kau ingin mati?" balas Sesshoumaru pelan. Kedua matanya menatapa tajam Kenji yang tersenyum lebar kepadanya.
"Tidak," tertawa keras Kenji menggaruk kepalanya. "Kau benar-benar putranya, dan kau juga makin lama makin mirip dengannya. Dia pasti sangat bangga melihat dirimu yang sekarang ini. Kau telah menemukan sesuatu yang ingin kau lindungi—keluargamu."
Sesshoumaru tertegun dengan jawaban Kenji. Tapi, sejenak kemudian dia mengabaikannya. Kata-kata itu tidak ada artinya lagi bagi dirinya. Menjadi kebanggaan ayahandanya, melebihi ayahandanya—itu tidak pernah penting lagi baginya.
Gadis kecil yang tersenyum dengan wajah penuh luka dan gigi yang lepas satu dalam hutan—Sesshoumaru sadar pertama kalinya. Di mulai dari saat itu, dari dalam hatinya yang terdalam, dia sesungguhnya telah ingin melindungi senyum itu untuk selamanya—senyum Rin yang dicintainya melebihi segalanya. Karena itu, teruntuk ayahandanya yang telah tiada, pedoman dan kebanggannya—dia sudah tahu sejak dulu bahwa dia memiliki sesuatu yang ingin dia lindungi.
Bokuseno tidak menjawab pertanyaan Sesshoumaru, atau lebih tepatnya tidak mendengar. Kedua matanya terpusat pada sosok Shura yang tertidur tenang dalam pelukan kedua orang tuanya. Inuyoukai berdarah termurni hasil dari penyatuan inuyoukai dan manusia—keajaiban dunia yang tidak seharusnya ada tapi ada. Namun yang paling penting, youkai pohon itu juga bisa melihat kekuatan luar biasa tanpa batas yang terpendam. Betapa menakutkan pewaris tanah barat itu akan menjelma kelak?—dia akan melampaui ayah kandungnya, Sesshoumaru yang telah menjadi youkai terkuat di dunia.
Perlahan, mata Bokuseno bergerak naik menatap Rin yang juga balas menatapnya. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Kisaki manusia dari tanah barat yang begitu terkenal, dan dia merasa wanita itu benar-benar seperti setiap rumor yang ada.
Walau pucat dan lemah, wanita manusia itu tetaplah sangat cantik. Lalu, yang terpenting, sepasang mata coklatnya yang jernih begitu indah, sekali lihat, youkai pohon berusia ribuan tahun itu juga tahu, wanita manusia di depannya adalah wanita yang sangat berbeda dari semua yang ada di dunia ini. Alasan Sesshoumaru memilih wanita manusia itu, Bokuseno sepertinya mengerti sekarang—inuyoukai itu tidak akan berkutik dihadapan Kisakinya, sebab wanita itu adalah makhluk hidup dengan jiwa termurni yang pernah dilihatnya.
Bertemu dengan kisakinya, mungkin adalah sebuah kebetulan dalam hidup Sesshoumaru. Tapi, dalam kebetulan itu, takdir di mulai—inuyoukai berhati dingin dengan kebanggaan tinggi itu tidak akan pernah dapat berpaling darinya. Karena wanita itu adalah segala dari sesuatu yang berbeda dengannya, sekaligus terindah baginya.
Rin yang terus ditatap Bokuseno kemudian tersenyum dan mengangguk kepala pelan memberi salam. Bokuseno. Dia jelas tahu siapa itu—salah satu bawahan kepercayaan Inu No Taisho, youkai yang dipercayakan untuk menyerahkan tensaiga pada Sesshoumaru.
Bokuseno ikut tersenyum dan mengangguk kepala pada Rin. Wanita yang begitu lembut, dia menyukainya, dan dia juga merasa Inu No Taisho juga akan sangat menyukai menantu putra sulungnya ini.
"Kenapa kau ada di sini Bokuseno?" tanya Inukimi. Dia menatap Bokuseno dan mengeryitkan dahinya. Dari semua bawahan kepercayaan Inu no Taisho, youkai pohon ini adalah satu-satunya youkai yang cukup aneh. Dia tidak pernah bergerak dari hutan tempatnya tinggal, bahkan saat tuan yang dihormatinya mati pun, dia juga tidak bergerak. Jadi kenapa dia bisa berada di sini sekarang?
"Sesshoumaru-sama!! Inukimi-sama!!" Myoga yang berada di bahu Kenji berteriak-teriak memanggil Sesshoumaru dan Inukimi. Kedua mata besarnya berbinar bahagia karena dia tahu beban yang dipikulnya beberapa bulan ini akan terangkat. "Bokuseno memiliki informasi akan keberadaan fushi no kusuri!!"
Suara teriakan keras Myoga membuat semua orang terkejut. Pandangan semua orang yang terarah pada Myoga dengan seketika kembali pada Bokuseno yang masih saja tersenyum menatap Rin.
"Bohong!! Beraninya kau berbohong!!" teriak Akiko penuh kepanikan. Bergerak maju ke arah Bokuseno, dia mengangkat tangan kanannya yang memiliki cakar panjang untuk menyerang. Dia tahu, dia tidak bisa berdiam diri lagi. Membunuh untuk menutup mulut youkai pohon itu adalah jalan terbaik yang dia miliki.
Namun, Inuyasha yang berada tidak jauh dari Akiko bergerak lebih cepat. Seketika juga, dia telah mencabut tessaiga untuk menahan serangan yang ada. Kedua mata emasnya menatap tajam hime dari tanah timur, tapi seulas senyum memenuh wajahnya. "Kenapa? Kau takut karena ada orang lain selain dirimu yang tahu akan keberadaan fushi no kusuri?"
"Oh, kau adalah Inuyasha, kan?" tanya Bokuseno melihat Inuyasha yang melindunginya. Senyum di wajahnya melebar melihat putra kedua dari tuannya untuk pertama kali. "Kau sama sekali tidak mirip dengan Toga-sama."
"Cih," cibir Inuyasha mendengar ucapan Bokuseno. Dia tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya yang begitu terkenal, karena itu dia tidak tahu seperti apa beliau. Tapi, dari mereka yang mengenal baik ayah kandungnya, dia tahu dirinya mungkin memang berbeda dengan sosok itu. "Aku tahu aku tidak mirip dengan beliau—yang mirip dengan ayah itu Sesshoumaru."
Bokuseno mengangguk kepala dan tertawa. "Sesshoumaru-sama mungkin memang lebih mirip dengan Toga-sama daripada dirimu, Inuyasha."
"Ahh, berisik!!" teriak Inuyasha. Dia merasa pembicaraan ini sama sekali tidak ada gunanya, sebab mirip atau tidak mereka berdua, mereka tetap memiliki ayah kandung yang sama. Menatap kembali Akiko, inuhanyou itu kemudian kembali menggerakkan tessaiga untuk mendorong youkai rubah itu ke belakang. "Mati kau, rubah!!!!!"
Inuyasha tidak segan-segan lagi untuk bertarung dengan Akiko. Kini telah muncul orang yang memiliki informasi akan keberadaan fushi no kusuri, jadi, hidup atau mati rubah dari timur itu sudah tidak penting lagi, kan?
Akiko meloncat ke belakang dan mendarat tidak jauh dari bawahannya yang dengan segera bergerak cepat. Mengelilingi tuan mereka bagaikan pelindung, mereka semua menghunuskan senjata siap untuk bertarung.
"Hah!!" teriak Inuyasha gembira melihat Akiko dan bawahannya. "Ayo kemarilah!! Biar aku ya—"
"Osuwari!!!"
Bersamaan dengan suara teriakan Kagome, Inuyasha jatuh tertekan ke bawah karena tekanan gravitasi kasat mata yang ada.
"Kagome!!! Apaaan kau??!" teriak Inuyasha kesal. Menatap Kagome, kedua mata emasnya yang penuh kejengkelan meminta penjelasan. "Rubah itu yang memulainya duluan!!"
"Diam," balas Kagome kesal. Dia membalas tatapan Inuyasha tajam tanpa takut. "Bisakah kau belajar mengontrol emosi dan berhenti menggunakan kekerasan setiap saat!!!?"
Miroku, Sango, Shippo dan Kohaku tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Kagome, mereka berempat sudah terlalu terbiasa dengan aksi kedua suami istri ini, begitu juga dengan yang lainnya.
"Oh," seru Bokuseno menatap Kagome. Kedua mata tuanya berbinar gembira. Dia bisa melihat jelas kekuatan spiritual yang kuat dari wanita manusia itu. "Apakah kau adalah istri, Inuyasha?"
Kagome tersenyum dan mengangguk kepala menjawab pertanyaan Bokuseno. Dia tidak tahu siapa youkai di depannya itu, tapi dia dari caranya menyebutkan Inu No Taisho, miko masa depan tahu, youkai itu pasti adalah teman atau sahabat dari ayah mertuanya yang telah tiada.
"Ahh, Toga-sama akan senang sekali jika dia tahu dirinya memiliki dua menantu seperti ini." Tawa Bokuseno gembira. Kuat dan tidak takut apa-apa, Inu no Taisho pasti juga akan sangat menyukai menantu yang dapat menjinakkan putra keduanya yang liar tersebut.
__ADS_1
"Cukup basa-basinya," potong Inukimi yang dari tadi melihat tiba-tiba. Dia tidak berkeinginan melihat pembicaraan tidak berguna ini lebih lama, sebab sekarang prioritas utamanya adalah fushi no kusuri. "Apakah kau benar memiliki informasi akan fushi no kusuri, Bokuseno?"
Tidak ada seorangpun yang bergerak ataupun mengatakan sepatah katapun mendengar pertanyaan Inukimi. Sesshoumaru tetap tenang dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya seakan tidak terjadi apa-apa, sedangkan untuk Rin, dia menatap Bokuseno penuh harap.
Jika Bokuseno memang memiliki informasi keberadaan fushi no kusuri, maka Sesshoumaru tidak perlu melepaskan tahtanya—inuyoukai itu tetap akan memiliki segalanya yang menjadi haknya.
Bokuseno kembali menatap Rin mendengar pertanyaan Inukimi. Melihat kedua mata coklat yang berbinar indah penuh harapan, dia kemudian menutup mata. Membuka mata lagi, dengan pelan dia kemudian melangkah kakinya memasuki kamar.
Semua pasang mata yang ada mengikuti Bokuseno, namun yang bersangkutan terlihat tidak peduli. Duduk di depan Sesshoumaru dan Rin, youkai pohon tersebut tetap tidak mengatakan apa-apa. Namun, matanya terarah lurus pada keluarga utama penguasa tanah barat.
"Kau memiliki informasi fushi no kusuri, Bokuseno?" tanya Sesshoumaru yang sedari tadi diam membisu kemudian. Kedua matanya menatap tajam Bokuseno, sebab dia merasa ada yang aneh. Youkai pohon itu pasti sudah tahu dirinya mencari fushi no kusuri sejak dulu, karena itu; kenapa dia diam membisu meski dia mengetahui keberadaan obat itu?
Bokuseno tidak menjawab pertanyaan Sesshoumaru, pandangannya kemudian terarah pada Rin yang berada dalam pelukan suaminya. "Rin-sama," panggilnya pelan. "Apakah anda menginginkan fushi no kusuri?"
"Iya," jawab Rin cepat sambil mengangguk kepala. "Rin menginginkannya."
"Kenapa anda menginginkannya?" tanya Bokuseno lagi.
"Karena Rin ingin bersama dengan mereka yang Rin cintai selamanya." Jawab Rin lagi. Untuk bersama mereka yang dia cintai, untuk kebahagiaan di masa depan—untuk kita.
Bokuseno menutup mata mendengar jawaban Rin. Keinginan yang sederhana namun begitu berat. Masa depan seperti apa yang akan dihadapi Kisaki manusia di depannya ini?—dirinya sungguh tidak tahu lagi. Membuka mata, Bokuseno kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik kimononya.
Kotak itu berwarna hitam dan tidak memiliki keistimewaan sama sekali. Membukanya, Bokuseno meletaknya di atas lantai tatami dan mendorongnya ke arah Rin. "Fushi No Kusuri yang diciptakan Toga-sama, hamba kembalikan pada anda, Rin-sama."
Ucapan Bokuseno membuat mata semua yang ada terbelalak terkejut. Fushi no kusuri, obat keabadian yang dicari-cari selama ini ternyata berada di tangan youkai pohon berusia ribuan tahun tersebut?
"Kenapa kau berbohong padaku, Bokuseno???" teriak Myoga marah. Meloncat-loncat di bahu Kenji, dia menatap tidak percaya pada Bokuseno. "Aku sudah bertanya berkali-kali padamu akan keberadaannya dan kau menjawab tidak tahu!! Tapi, ternyata kau memilikinya selama ini!!!"
Baik Inuyasha, Kagome, Miroku, Shippo dan Kohaku menatap tidak percaya apa yang terjadi di depan. Mereka telah bersiap sedia berpacu dengan waktu saat mencari fushi no kusuri setelah mendapatkan informasi keberadaannya. Namun, semudah inikah sesuatu yang mereka cari-cari muncul di depan mata?
Berbeda dengan Myoga yang marah, atau Inuyasha dan yang lainnya yang tidak percaya. Sesshoumaru, Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira menatap Bokuseno penuh tanda tanya. Youkai pohon itu adalah youkai yang sangat bijaksana. Dia bagaikan panasihat bagi Inu No Taisho semasa hidupnya, karena itu kenapa dia merahasiakan bahwa dirinya memiliki fushi no kusuri?—tidak ada alasan baginya untuk berbohong selama ini, kan?
Lalu untuk Akihiko dan Tsubasa, mereka hanya menatap dan mengamati apa yang terjadi dengan ekspresi wajah mereka yang tenang tanpa ekspresi.
Rin juga tidak mengatakan apa-apa, kedua matanya tertuju pada fushi no kusuri yang ada di depan mata. Obat itu tidak terlihat seperti obat, melainkan seperti sebuah mutiara berwarna putih. Ukurannya juga tidak besar, hanya sekitar dua centimeter. Sekali lihat, tidak akan ada seorangpun yang akan menyadari bahwa itu adalah fushi no kusuri. Tapi, bagi Rin sekarang, melihat fushi no kusuri dengan matanya sendiri, kebahagiaan memenuhi hatinya. Yang ada di depannya adalah harapannya, kebahagiaannya yang akan abadi—selamanya bersama yang didambakan.
"Fushi no kusuri tidak sempurna," ujar Bokuseno pelan menyadarkan Rin. "Tapi, hamba rasa anda bisa menyempurnakannya."
"Apa itu, Bokuseno-sama?" tanya Rin lagi.
"Air mata," jawab Bokuseno. Dia bisa mendengar jelas suara dua detak jantung yang berbeda dari badan Rin, dan dia tahu, itu adalah suara detak jantung manusia dan juga meido seki. "Air mata meido seki—air mata anda."
Meido seki yang menjadi satu dengan kisaki tanah barat, Bokuseno telah mengetahui itu. Air matanya adalah air mata meido seki sendiri, karena itulah, di dunia ini hanya wanita manusia itulah satu-satunya yang dapat menyempurnakan fushi no kusuri.
Rin menatap tidak percaya Bokuseno. Namun sejenak kemudian dia tersenyum dan tertawa dengan begitu bahagia dan indahnya. Fushi no kusuri—dirinya bisa menyempurnakannya.
"Apa maksud semua ini, Bokuseno?" tanya Sesshoumaru menyela. Dia menatap semakin tajam Bokuseno. Meski fushi no kusuri telah ada di depan mata, perasaan tidak nyamanlah yang memenuhi hatinya.
Bokuseno menatap Sesshoumaru yang menatapnya tajam. Inuyoukai kecil yang kini telah dewasa, walau semua orang mengatakan dia telah berubah, tapi dia tetaplah inuyoukai yang dikenalnya. Dia menyadari keanehan yang ada dari semua ini. Menutup mata tuanya lagi, youkai pohon itu tahu, dia tidak bisa menyembunyikn kenyataan yang ada lagi. "Sesshoumaru-sama, apakah anda tahu kenap fushi no kusuri tidak sempurna?"
Sesshoumaru terdiam mendengar pertanyaan Bokuseno.
"Apakah anda tahu kenapa Toga-sama tidak menyempurnakannya?" tanya Bokuseno lagi.
Sesshoumaru tetap diam membisu tidak menjawab pertanyaan Bokuseno. Dia ingin menjawab bahwa ayahnya tidak bisa mendapatkan air mata meido seki. Tapi, dia tahu sifat ayahnya dengan baik—beliau tidak akan meninggalkan sesuatu yang dibuatnya di tengah jalan, apalagi itu untuk Izayoi yang lebih penting dari hidupnya sendiri.
Membuka mata lagi, mata Bokuseno menatap lurus pada Rin yang masih tersenyum menatapnya. "Itu karena—fushi no kusuri tidak berefek bagi mereka yang telah mati dan dihidupkan kembali."
Mata Sesshoumaru terbelalak mendengar ucapan Bokuseno, begitu juga dengan yang lainnya. Waktu bagaikan berhenti, dan mereka tidak tahu harus mengatakan apa. Fushi no kusuri tidak berefek bagi mereka yang telah mati dan dihidupkan kembali?—bukankah itu artinya fushi no kusuri tidak berguna untuk Rin?
Bokuseno menatap Rin, dia bisa melihat mata yang terbelalak besar serta senyum yang perlahan menghilang. Kenyataan itu kejam—terutama untuk kisaki tanah barat di depannya. Fushi no kusuri yang sejak awal merupakan harapannya sesungguhnya bukanlah harapan, akan tetapi sebuah jurang keputus asaan yang baru.
Inukimi, Kiri, Kira, Kenji dan Myoga tidak bergerak. Apa yang dikatakan Bokuseno membawakan perasaan terkejut, tidak percaya dan juga jawaban akan kebingungan yang ada. Itukah alasannya kenapa youkai pohon itu tidak pernah mau mengatakan fushi no kusuri ada padanya selama ini?—karena dia tahu kejamnya kenyataan yang ada.
"Jangan bercanda!!" teriak Inuyasha. Berjalan mendekati Bokuseno, dia mencengkeram kerah kimono badan tua itu dan menariknya ke atas. "Candamu itu tidak lucu sama sekali!!!"
Bokuseno tidak mengatakan apa-apa, reaksi Inuyasha, dia bisa menduganya. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Hahahaha!" suara tawa keras Akiko tiba-tiba terdengat jelas. Dia yang dari tadi diam membisu melihat apa yang terjadi tertawa terbahak-bahak tidak mempedulikan apa-apa. Menatap Rin yang ada di depan, kedua mata birunya berbinar gembira. "Fushi no kusuri tidak berguna! Kau memang ditakdirkan untuk mati tidak peduli apa yang kau lakukan!!!"
Akihiko yang dari tadi berdiam diri tidak dapat menahan kemarahan dalam hatinya mendengar ucapan Akiko. Dalam satu kedipan mata, dia telah berada di depan youkai rubah itu dan mencengkeram lehernya kuat.
Para bawaham Akiko yang terkejut dengan serangan tiba-tiba Akihiko segera bergerak untuk menyelamatkan tuan mereka. Namun, tidak tahu sejak kapan, Tsubasa telah berada di depan mereka dan memukul kembali setiap serangan yang terarah.
"Menurutmu siapa yang akan mati duluan?" tanya Akihiko pelan. Suaranya berat dan mata biru langitnya telah berubah menjadi merah darah. "Rin atau kau?"
Akiko tetap tersenyum, dia tidak takut dengan pertanyaan Akihiko, bahkan jika yang di depannya sekarang adalah Sesshoumaru, dia juga tidak akan takut, sebab kebahagiaan memenuhi seluruh relung hatinya sekarang. Wanita manusia itu akan mati. Tidak peduli apa yang dilakukan, hidupnya akan berakhir tidak lama lagi.
Melalui Asano, Akiko sudah tahu bahwa fushi no kusuri ada pada Bokuseno, karena Inu No Taisho dulu memberikannya pada youkai pohon itu tanpa menyempurnakannya. Namun, baik dirinya maupun ayahnya tidak pernah mengerti kenapa Inu No Taisho tidak menyempurnakannya, atau kenapa Bokuseno tidak mengatakan dia memilikinya. Awal mereka berpikir, Inu No Taisho tidak bisa menyempurnakannya dan Bokuseno tidak ingin kehilangan sesuatu yang begitu luar biasa, tapi ternyata—kenyataan yang ada sangat mengejutkan dan juga sekaligus; menyenangkan sekali baginya.
"Akihiko-sama, hentikan." Suara pelan Rin tiba-tiba terdengar memecahkan ketegangan yang ada.
Seketika pandangan semua yang ada segera tertuju pada Rin. Duduk dipangkuan Sesshoumaru, dia tersenyum lembut dengan wajahnya yang damai dan tenang.
"Inuyasha-sama juga," lanjut Rin sambil menatap Inuyasha. "Lepaskanlah Bokuseno-sama."
"Rin..." panggil Inuyasha pelan. Melihat senyum lembut di wajah Rin, dia tidak tahu harus berbuat apa, begitu juga dengan semua yang ada. Mereka tidak mengerti, kenapa wanita manusia itu masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini?
Tertawa sejanak, Rin kemudian menatap Bokuseno. Wajahnya tetap tenang dan damai seakan tidak terjadi apa-apa. "Bokuseno-sama, terima kasih telah memberikan fushi no kusuri pada Rin. Walaupun tidak berguna untuk Rin, Rin tetap sangat berterima kasih pada anda."
Bokuseno tidak mengatakan apa-apa. Menatap wajah lembut dan tenang Rin, dia merasa wanita di depannya benar-benar sangat luar biasa. Bagaimana bisa dia bisa setenang ini menghadapi semua ini?
Perlahan, mata Rin kemudian jatuh pada fushi no kusuri yang ada di depannya. Dengan senyum yang masih ada di wajahnya, dia kemudian menutup mata.
Apakah dia tidak sedih?—Rin tahu, kenyataannya sesungguhnya, dia; hancur. Harapan tinggi dia bangun pada fushi no kusuri, tapi pada akhirnya harapan itu runtuh. Dia diangkat ke atas, lalu saat telah berada di puncak dan mengira dia akan mengapai apa yang diharapkannnya, dia dihempas dengan begitu kejam ke dasar terdalam.
Hidup.
Hidup yang tidak pernah mudah, kenyataan yang sangatlah kejam dan kematian yang tidak akan pernah mengalah. Kenapa hidupnya seperti itu?—Rin tidak tahu. Apakah dirinya salah hingga ini semua terjadi padanya? Tapi, apakah dia harus menangis dan berteriak putus asa?
Untuk kita.
Rin hanya dapat terus tersenyum dan membuka matanya. Menatap mereka yang menatapnya khawatir, dia kemudian menurunkan pandangannya pada Shura yang tertidur damai. Lalu, dia bisa merasakan pelukan Sesshoumaru mengerat.
Rin kemudian menoleh menatap Sesshoumaru. Dia bisa melihat, sinar keputusasaan di mata itu, dan dia tertawa. "Tidak apa-apa jika fushi no kusuri tidak berguna untuk Rin, Sesshoumaru-sama," ujarnya lembut menenangkan. "Ayo, kita cari cara lain. Di dunia yang luas ini, kita pasti bisa menemukan jalan lain."
Ah—jangan seperti itu. Jangan putus asa, jangan sedih dan jangan menyerah. Rin tetap tersenyum walau begitu sulit. Semua adalah untuk mereka yang disayanginya, untuk Shura, untuk Sesshoumaru, untuk dirinya—untuk kita.
Hidup.
__ADS_1
Rin tidak akan menyerah. Dia akan tetap berjuang tidak peduli betapa menyakitkan dan menderita dia akan menjadi. Karena itu, jangan menyerah, jangan putus asa, masa depan bahagia menanti mereka.
....xOxOx....