![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Gadis berusia sekitar tiga belas tahun itu berdiri dengan seulas senyum indah di wajah dalam guguran daun merah marple. Mengenakan sehelai kimono merah tua, kaki putih tidak beralasnya menginjak daun-daun kering di bawah. Bagaikan menghipnotisnya, sejauh mata memandang, hanya warna merah yang ada. Merahnya daun marple-merahnya musim gugur.
"Rin!" teriak Jaken, sang youkai katak tiba-tiba menyadarkan gadis itu. "Sampai kapan kau mau berdiri mematung di sana gadis kecil! Ayo cepat! Aku dan Sesshoumaru-sama tidak akan menunggumu terus!"
"Iya! Tunggu Rin, Jaken-sama!" membalikkan badan, Rin segera melihat sosok Jaken dan Ah-Un, sang youkai naga berkepala dua, teman seperjalanannya.
Wajah Jaken jelas terlihat tidak senang, Ah-Un hanya meringkih pelan seakan seperti tertawa. Namun, Rin tidak mempedulikan itu semua, kedua mata coklat besarnya hanya menatap lurus inuyoukai berwajah tanpa emosi di samping Jaken dan Ah-Un—Sesshoumaru.
Sebuah senyum lebar merekah di wajah cantik Rin saat matanya bertemu dengan mata emas inuyoukai itu. "Tunggu Rin! Tunggu Rin, Sesshoumaru-sama!" pintahnya sambil berlari ke arah Sesshoumaru dengan tangan terbuka.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, namun, dia tidak bisa menolehkan sedikit pun pandangannya dari gadis manusia yang berlari mendekat dan memeluk erat pinggangnya.
Mengangkat wajah, Rin kemudian tertawa kecil sambil menatap wajah inuyoukai di depannya "Indah sekali, ya, Sesshoumaru-sama? Rin sudah lama sekali tidak melihat pemandangan di luar Istana Tanah Barat? Untuk perjalanan kita kali ini, mari Sesshoumaru-sama dan Rin, bersama-sama menikmati musim gugur di luar istana. Sesshoumaru-sama tidak akan keberatan, kan?"
Meski ditujukan dengan pertanyaan-pertanyaan tiada henti, Sesshoumaru tetap saja diam membisu mengamati gadis kecil di depannya. Gadis itu sudah tumbuh lagi. Kini, kepala gadis kecil itu telah melewati pinggangnya. Hanya sikapnya yang tidak pernah berubah, tetap kekanakan, penuh rasa ingin tahu, menyukai alam, baik hati, pemurah, dan yang terpenting, selalu tertawa dan tersenyum—selalu bahagia.
"Apa yang kau lakukan, Rin!" teriak Jaken panik saat melihat Rin memeluk Sesshomaru. "Lepaskan! Cepat lepaskan tanganmu dari Sesshoumaru-sama!"
Menoleh kepala menatap Jaken, Rin segera menjulurkan lidah mengejek youkai katak itu dan mempererat pelukannya di pinggang Sesshoumaru. "Tidak mau! Rin suka memeluk Sesshoumaru-sama. Karena itu, Rin tidak akan melepaskan pelukan ini!"
"Kau!" teriak Jaken lagi penuh kemarahan. "Gadis kec-"
"Kau hanya iri saja, kan, Jaken-sama? Karena Jaken-sama tidak penah dapat memeluk Sesshoumaru-sama seperti Rin memeluk Sesshoumaru-sama!" potong Rin cepat sambil tersenyum menyeringai menggoda Jaken.
"Gadis kecil! Kau!" wajah hijau Jaken langsung memerah menahan marah dan juga malu, sebab apa yang dikatakan Rin memang benar. Ah-Un yang ada di samping kembali meringkih pelan, mentertawakan Jaken.
"Sudahlah, Jaken-sama," potong Rin lagi. Kepalanya kembali terangkat menatap inuyoukai yang masih di peluknya dan tersenyum lebar. "Kita harus melanjutkan perjalanan, mencapai desa tujuan kita secepatnya. Benar, kan, Sesshoumaru-sama?"
Sesshoumaru membalas tatapan Rin. Tetap tidak ada sepatah-kata pun yang meluncur keluar dari mulutnya, begitu juga dengan ekspresi wajahnya; tenang dan datar. Namun, tidak di jawabpun, hanya melalui tatapan mata emas di depannya, gadis manusia itu, sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Kemampuan untuk mengerti inuyoukai penguasa tanah barat, itu adalah kebangaannya. Di dunia ini, dialah satu-satunya makhluk yang dapat mengerti inuyoukai itu hanya dengan menatap mata emas tersebut.
Melepaskan pelukan tangannya, Rin kemudian berlari kecil ke depan, melewati Sesshoumaru. Membalikkan badan, dia kembali tertawa menatap inuyoukai itu lagi. "Arah yang akan kita ambil itu barat, kan, Sesshoumaru-sama? Biar Rin yang memimpin rombongan kita, ya? Rin tidak akan membuat kita semua tersesat!"
Sesshoumaru menutup matanya sejenak, dan dengan tetap diam membisu dia kemudian melangkahkan kaki mengikuti gadis manusia di depannya dengan pelan. Ah-Un dengan cepat segera mengikuti tuannya, begitu juga dengan Jaken, walau mulutnya terus saja menggerutu sikap Rin dengan pelan.
Tenang, dingin, miskin kata dan tidak pernah memepedulikan apa-apa, itu adalah sikap yang menjadi ciri khasnya, Sesshoumaru sendiri tahu akan itu. Namun, untuk perjalanan kali ini, perjalanan pertama sejak Rin kembali padannya dan menetap di Istana Tanah Barat, dia sadar, sudah ada yang berbeda. Meski terlihat tidak mempedulikan apa-apa, dirinya yang sekarang, tidak bisa meninggalkan sosok Rin yang ada di depanya. Tanpa diketahui sebabnya, setiap saat, setiap menit, setiap detik, mata emasnya akan terus mengikuti langkah kecil yang diambil gadis manusia itu. Dia tidak mau gadis itu diculik youkai yang mungkin mereka temui, tidak mau gadis itu jatuh karena kecerobohan sendiri—tidak mau gadis itu menghilang dari dirinya.
Mengamati Rin lagi, Sesshoumaru menatap sosok gadis itu. Rin sudah bukan gadis kecil lagi, Gadis itu, kini sudah memasuki masa remaja, memasuki masa puber. Inuyoukai itu masih ingat dengan jelas-tidak. Mungkin seluruh penghuni Istana Tanah Barat masih ingat dengan jelas kejadian musim panas tahun ini.
"Kyaaaa! Sesshoumaru-sama!"
Teriakan ketakutan Rin berhasil memecahkan ketenangan pagi hari musim panas Istana Tanah Barat yang tenang dan damai. Sesshoumaru yang mendengar suara teriakan Rin, tanpa memikirkan apa-apa langsung berlari ke kamar gadis manusia itu dengan Tensaiga dan Bakusaiga di tangan, begitu juga dengan Kiri, Kira dan semua penghuni istana.
Yang dicium hidung Sesshoumaru yang tajam saat membuka pintu kamar Rin adalah bau darah Rin yang memenuhi seluruh ruangan. Namun, sekali menciumnya, inuyoukai itu juga langsung tahu, ada yang berbeda dengan bau darah itu. Darah itu tercium sangat manis dan menggoda. Seketika juga, Inuyoukai itupun langsung tahu, Rin telah mendapatkan menstruasi pertamanya.
"S-Sesshoumaru-sama," Rin segera berlari mendekati Sesshoumaru dan memeluknya dengan wajah pucat berurai air mata. Badannya gemetaran hebat, tidak dipedulikannya sedikit pun beberapa bagian futon dan yukata putih yang dipakainya telah berubah menjadi merah. "S-Sesshomaru-sama, Rin berdarah. R-Rin tidak tahu kenapa.. T-tapi, Rin bedarah.."
Menstruasi adalah sesuatu proses yang akan dialami setiap wanita di dunia. Suatu proses yang menandakan kematangan tubuh seorang wanita untuk mengandung seorang anak. Dan melihat Rin kecil yang mengalami menstruasi pertama kali saat itu, untuk pertama kalinya juga, inuyoukai itu sadar, Rin memang bukan gadis kecil lagi.
Rin yang hidup dan tumbuh besar diantara youkai tidak pernah mengerti sedikitpun akan cara kerja tubuhnya sendiri. Gadis itu mungkin sangat mengetahui seluruh seluk-beluk seorang youkai, karena para gurunya selalu menjelaskannya. Namun, untuk dirinya sendiri, seorang manusia, dia buta akan semua itu.
Menstruasi, masa tubuhnya sudah matang, Rin membenci masa-masa itu, sebab sejak hari itu juga, beberapa hari, setiap bulan pada saat Rin mengalami masa menstruasinya, Paviliun Timur Istana Tanah Barat menjadi daerah terlarang bagi siapapun yang berjenis kelamin pria. Pada masa itu, Rin akan menetap di paviliun tersebut dan dilarang mendekati atau didekati pria, termasuk Sesshoumaru sendiri. Rin tidak pernah tahu mengapa dia diperlakukan seperti itu, dan tidak seorangpun yang pernah menjawab pertanyaannya saat dia bertanya, karena mereka memang tidak tahu harus menjawab seperti apa pada gadis manusia yang begitu polos dan tidak tahu apa-apa.
Untuk para youkai penghuni istana tanah barat, kebanyakan prianya adalah inuyoukai. Mereka dikatagorikan sebagai inuyoukai sebenarnya bukanlah tanpa, sebab, mereka memiliki beberapa sifat yang mirip dengan anjing. Sama seperti anjing pada umumnya, bau darah menstruasi yang dicium mereka mereka akan membuat mereka terarik dan kadang kehilangan kendali untuk mengklaim, membuahinya, menghasilkan keturunan mereka—dan Sesshoumaru serta semua yang ada di Istana tanah barat tidak akan mungkin membiarkan itu terjadi.
"Sesshoumaru-sama." panggil Rin tiba-tiba, menyadarkan Sesshoumaru tersebut dari lamunannya. Menatap Rin kembali, pada detik itu juga, langkah kakinya terhenti, untuk pertama kalinya, inuyoukai itu bagaikan merasa jantungnya berhenti berdetak beberapa saat.
Di depannya, dalam guguran daun marpel merah, Rin membalikkan badan menatapnya. Rambut hitam panjangnya terbang di mainkan angin-rambut yang Sesshoumaru tahu pasti lebih lembut dari sutra. Kulit putih bagai salju, sepasang mata jernih coklat besar yang berbinar penuh kepolosan dan kehangatan, pipi bagai mawar musim semi serta bibir munggil semerah darah, lalu yang terpenting, senyum penuh kebahagiaan di wajahnya—untuk pertama kali Sesshoumaru sadar, betapa cantiknya gadis manusia yang ada di depannya.
Melihat tidak ada reaksi dari inuyoukai di depannya, Rin kembali memanggil Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama..."
Tidak membalas, Sesshoumaru tetap menatap Rin hingga akhirnya gadis kecil itu berjalan mendekatinya. Mengangkat kedua tangan kecilnya, Rin menyentuh pipi inuyoukai itu dengan lembut. "Sesshoumaru-sama, ada apa?"
Kehangatan tangan Rin yang menyentuh pipinya, dengan cepat seperti biasanya segera menjalar memenuhi seluruh hati dan tubuh Sesshoumaru. Kehangatan asing tersebut, oleh inuyoukai itu tahu, hanya gadis manusia itu seorang saja yang bisa melakukannya. Menutup mata emasnya, Sesshoumaru mengangkat tangan kanannya, ingin menekankan sepasang tangan kecil itu lebih kuat pada pipinya, untuk merasakan kehangatan asing yang disukainya lebih kuat.
"Hei! Apa yang kau lakukan, Rin?!" teriak Jaken tiba-tiba.
Suara Jaken seketika juga membuat Sesshoumaru membuka mata, tangannya yang ingin menyentuh tangan gadis itu pun segera terhenti, sedangkan Rin yang juga terkejut dengan suara Jaken segera menurunkan tangan dan menatap youkai katak tersebut. "Tidak apa-apa, Jaken-sama."
"Apanya yang tidak apa-apa?!" teriak Jaken lagi. "Tidak sopan sekali! Beraninya kau yang merupakan seorang manusia menyentuh Sesshoumaru-sama seperti itu!"
__ADS_1
Senyum menyeringai melintas di wajah Rin, tertawa kecil dia membungkukan badan hingga wajahnya setinggi Jaken. "Jaken-sama," panggilnya. "Jaken-sama cemburu, ya? Sebab Jaken sama tidak bisa menyentuh Sesshoumaru-sama seperti Rin."
"Rin! Beraninya kau!?" teriak Jaken keras penuh kemarahan. Godaannya gadis manusia itu lagi-lagi tepat, namun, youkai katak itu tidak mungkin mengakuinya. Mengangkat tongkat berkepala kakek dan wanita manusia di tangannya, dia mengayunkannya pada gadis itu, walau tentu saja tidak kuat, sebab dia tahu konsenkuensi yang akan dihadapinya jika berani melukai gadis manusia di depannya.
Rin tertawa lepas melihat sikap Jaken, tidak membuang kesempatan, dia langsung melangkah kaki menghindari tongkat dan berlari menjauh. Jaken tidak membiarkannya, berlari dengan kaki pendeknya, dia langsung mengejar gadis manusia itu. "Berhenti, kau, gadis kecil!"
Ah-un yang melihat semua itu, kembali meringkih pelan penuh kegembiraan, tidak mau ketinggalan, naga berkepala dua itu segera berlari mengejar gadis manusia dan youkai katak di depannya.
Sesshoumaru tetap berdiri di tempatnya. Menyaksikan kejadian di depannya sekarang, mau tidak mau, dia kembali teringat dengan saat Rin masih kecil, masa mereka semua masih melakukan perjalanan mengembala di tanah barat yang luas. Melihat kegembiraan Rin sekarang, sepertinya perjalanan ini bukanlah sebuah perjalanan tiada arti. Dalam hatinya, inuyoukai penguasa tanah barat mulai mempertimbangkan, mungkin pada musim-musim ke depannya, mereka akan melakukan perjalanan seperti ini supaya Rin bahagia. Namun, pemikirannya itu semua kembali terhenti saat Rin yang berlari di depan tiba-tiba membalikkan wajah menatapnya.
"Sesshoumaru-sama.."
Suara jernih dan merdu bagaikan denting lonceng, mata coklat penuh kepolosan, pipi yang merona merah bagai mawar, dan senyum indah di bibir munggil tersebut, lagi-lagi dia merasa jantungnya bagaikan berhenti berdetak.
"Sesshoumaru-sama..."
Suara yang terus memanggilnya, kini kembali membuat kehangatan asing memenuhi hati dan tubuh Seshoumaru.
Menutup mata sejenak, inuyoukai itupun melangkah kaki dan berjalan ke depan. Dia paham apa yang ingin dikatakan gadis manusia itu. Jika Rin adalah makhluk yang paling mengerti dirinya, dirinya juga merupakan makhluk yang paling mengerti gadis itu. Gadis itu memanggil namanya terus karena berharap dirinya mengikutinya yang ada di depan. Dia adalah seorang daiyoukai Penguasa Tanah Barat, dia tidak akan mungkin diperintah atau mengikuti ajakan seseorang, dan Rin tahu, karena itu gadis manusia itu tidak akan pernah berkata padanya, 'Ayo, cepat Sesshoumaru-sama'. Gadis manusia itu selalu menghormatinya, memahami dirinya, selalu mengutamakan dia melebihi dirinya sendiri-sesuatu yang membuat kehangatan dalam hati semakin kuat.
....xOxOx....
"Kuharap kau akan dapat menahan emosimu, Inuyasha. Ingat apa tujuanmu kali ini." ujar seorang pria berusia awal awal dua puluh berpakaian biksu sambil menatap seorang pria berambut perak, berkimono merah dan bertelinga anjing.
"Keh," mencibir, Inuyasha pria berambut perak itu melipat kedua tangannya di dada dan menutup mata. "Aku tahu, Miroku. Tidak perlu mengingatkan aku terus."
"Bagus kalau begitu." senyum Miroku, pria bepakaian biksu tersebut. Melihat ke sampingnya lagi, dia menatap adik iparnya, seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun dengan pakaian seorang taijiya. "Dan kau Kohaku, kau sudah menyampaikan pada semua penduduk desa, kan?"
"Sudah." Jawab Kohaku cepat sambil mengangguk kepala.
"Ya, kalau begitu kita tinggal berdoa semuanya akan berjalan lancar tanpa masalah." senyum Miroku lagi sambil menatap ke depan, ke arah hutan di samping desa mereka tinggal.
Mata emas Inuyasha yang tertutup tiba-tiba terbuka, memasang ekspresi wajah serius, dia menatap hutan di depan. "Dia sudah datang."
"Hahahaha," tawa Miroku pelan penuh kegugupan. Keringat dingin mengalir turun menuruni dahinya. "Tidak kau beritahu, kami juga tahu Inuyasha. Hanya orang bodoh yang tidak bisa merasakan betapa mengerikannya aura youki yang mengarah ketempat kita."
"Tidak salah lagi, ini adalah aura youki Sesshoumaru-sama." ujar Kohaku pelan sambil menelan ludahnya, bisa dia rasakan semua bulu romanya berdiri sekarang.
Semak-semak di depan mereka tiba-tiba bergerak, dan diriingi suara tawa bagaikan dentigan lonceng, Rin tiba-tiba berlari keluar sambil menatap ke belakang. "Rin menang Jaken-sama! Rin yang pertama! Jaken-sama kalah!"
Inuyasha, Miroku dan Kohaku sangat terkejut saat melihat sosok Rin yang masih belum menyadari keberadaan mereka. Mata mereka mengamati lekat-lekat gadis kecil yang selalu megikuti Sesshoumaru itu—tidak! Bukan anak kecil lagi, gadis manusia di depan mereka sekarang jelas bukan lagi seorang gadis kecil, dia sudah mulai menanjakkan kakinya untuk menjadi seorang gadis remaja. Namun, yang paling membuat mereka semua kehilangan suara adalah mereka tidak dapat mempungkiri betapa cantiknya gadis itu. Mereka sudah berkelana ke seluruh pelosok tanah Jepang ini, tapi, tidak ada manusia maupun youkai yang pernah mereka jumpai memiliki kecantikan seperti gadis di depan mereka.
Tawa Rin langsung terhenti saat dia membalikkan wajahnya ke depan, begitu juga dengan langkah kakinya. Mata coklatnya langsung terbelalak saat menemukan Inuyasha, Miroku dan Kohaku yang menatapnya.
"Tunggu kau, Rin!" teriak Jaken tiba-tiba sambil berlari keluar dari semak-semak di mana Rin muncul, dan sama halnya dengan Rin dia langsung terdiam ditempat saat melihat Inuyasha, Miroku dan Kohaku.
"I-Inuyasha-sama, Miroku-sama, Kohaku, selamat siang." salam Rin cepat dan membungkukan badan memberi hormat, membuat Inuyasha, Miroku dan Kohaku tertegun dengan sikap gadis itu yang begitu formal dan penuh hormat.
"Kau tidak perlu memberikan hormat pada mereka, Rin." Suara berat tanpa emosi Sesshomaru tiba-tiba terdengar.
Mengarahkan pandangan mereka, mata semua yang ada disana melihat sosok Sesshoumaru yang berjalan keluar dari hutan dengan pelan. Wajahnya yang tampan tetap seperti biasa; datar, dingin tanpa ekspresi.
"Seshoumaru..." Panggil Inuyasha pelan, tanpa mengalihkan wajah sedikitpun dari kakak tirinya, begitu juga dengan Miroku, sedangkan Kohaku langsung membungkukkan badan memeberi salam penuh hormat pada inuyoukai tersebut
"Sesshoumaru-sama." panggil Rin pelan, tidak mempedulikan Inuyasha, Miroku dan Kohaku, dia langsung berlari kecil mendekati inuyoukai itu.
"Kau tidak perlu memberikan salam penuh hormat pada makhluk-makhluk rendahan seperti mereka, Rin." ujar Sesshoumaru tidak mempedulikan mereka yang ada di depannya.
"Apa! Hei tarik—" protes Inuyasha. Namun, Miroku dengan cepat menutup mulutnya. "Jangan mencari-cari masalah, Inuyasha!" bisiknya cepat. Menatap sejenak inuyoukai di depannya, dia kembali tertawa gugup. "M-maaf, tidak ada apa-apa, Sesshoumaru-san."
Seshoumaru tidak membalas apa-apa, dia tetap saja diam membisu seribu bahasa, dan itu semua membuat Miroku berpikir bahwa inuyoukai di depannya memang tidak pernah berubah sedikit pun. Menghela napas panjang, dia hanya bisa mengutuk diri kenapa dialah yang terpilih untuk menjalankan tugas ini. Menjadi penengah dalam hubungan Sesshoumaru dan Inuysha adalah sama halnya berjalan di atas danau musim dingin dengan lapisan es tipis yang akan pecah setiap saat.
....xOxOx....
"Sesshoumaru-san sudah tiba," ujar seorang wanita berusia awal dua puluhan pelan penuh kewaspadaan. Di sampingnya sepasang gadis kecil kembar serta seorang seorang anak kecil laki-laki segera memeluk wanita itu sambil memendamkan wajah mereka karena ketakutan.
"Iya. Kau benar, Sango," balas seorang wanita yang duduk di atas futon dengan perut besar sambil tersenyum. Wajahnya sangat pucat, kelelahan terlihat dengan jelas di mata coklatnya. "Memang Hanya kakak seorang saja yang memiliki aura youki seperti ini."
"Sepertinya dia hanya bertambah kuat dan kuat saja selama tiga tahun ini." timpa seorang wanita tua berpakaian Miko yang juga ada di samping Sango. "Aura yang mengerikan sekali."
__ADS_1
"Anda benar, Kaede-san. Untung saja dia bukan musuh kita," setuju Sango, tapi sejenak kemudian dahinya mengerut. "Walau, ya, juga tidak bisa dikatakan teman kita. Benarkan, Kagome?" tanyanya lagi sambil menatap wanita yang duduk di atas futon tersebut.
Kagome hanya membalas pertanyaan Sango dengan sebuah anggukan kecil.
"Sesshuomaru-san memang tidak dapat ditebak. Dia sangat berbeda dengan Inu no Taisho, ayah kandungnya maupun Inukimi-sama ibu kandungnya." ujar seorang youkai kutu kecil sambil meloncat-loncat di bahu Kagome."
"Kakek Myoga." panggil Kagome pelan.
"Apakah kalian tidak tahu," lanjut Myoga lagi. "Semenjak Sesshoumaru menjabat sebagai penguasa, tanah barat menjadi semakin luas dan luas. Keinginan beliau untuk melampaui ayahandanya kini sudah tercapai."
"Ya, dan itu hanya akan membuat manusia semakin cepat menemui kepunahan jika dia memutuskan untuk melenyapkannya," potong Kaede tiba-tiba dan membuat semua yang ada menatapnya. "Sudah bukan sesuatu yang aneh, kan? Kita semua tahu betapa dia membenci manusia."
Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, mereka semua terdiam, sebab mereka tahu, apa yang dikatakan Miko tua itu benar. Untuk kedatangan inuyoukai tersebut ke desa ini, para penduduk desa dengan senang hati setuju untuk tidak akan menampakkan diri di depannya. Menghindar dan tidak mendekatinya, berusaha untuk tidak memancing kemarahannya akan makhluk yang paling tidak disukainya—manusia.
"Kurasa Kakak tidak membenci manusia seperti yang kita semua kira," ujar kagome tiba-tiba sambil menggeleng kepala. "Rin. Gadis kecil itu manusia, bukan? Tapi, dia mengijinkannya berada disamping sampai sekarang."
"Gadis kecil itu spesial, Kagome," potong Kaede lagi. "Bahkan sebagai manusia pun, Rin berb-"
Ucapan Kaede segera terhenti karena dia dapat merasakan jelas aura yang mengerikan itu kini telah bergerak mendekati kamar mereka berada. Suasana menjadi hening, keringat dingin mengalir menuruni dahi. Mata mereka semua tertuju pada pintu kamar, menantisipasi kemunculan inuyoukai yang akan melewati pintu tersebut.
Suara langkah lari seseorang tiba-tiba terdengar dan tanpa aba-aba, pintu kamar segera terbuka dengan kuat memperlihatkan sosok Rin yang tersenyum lebar. "Nenek Kaede! Kagome-sama! Sango-sama!"
Mata semua yang ada terbelalak saat melihat sosok Rin yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Rin yang tidak mempedulikan reaksi mereka segera berjalan masuk, dan saat melihat perut besar Kagome, senyum di wajahnya segera digantikan dengan ekspresi penuh kekaguman.
"R-Rin.." panggil Kagome pelan hampir tidak mempercayai sosok gadis kecil yang kini telah remaja di depannya. Tiga tahun tidak melihatnya, gadis itu kini benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis yang sungguh sangat cantik.
"Iya, Kagome-sama. Ada apa?" tanya Rin lagi dan berjalan mendekati Kagome.
"Hanyou," ujar seseorang tiba-tiba dan berhasil merebut perhatian semua yang ada. Menatap sumber suara, mereka melihat Sesshoumaru berdiri di depan pintu dengan Inuyasha, Miroku, Jaken dan Kohaku di sampingnya. Mata emasnya menatap perut besar Kagome. "Seorang hanyou." ulang Sesshoumaru lagi pelan tanpa emosi.
"Memang ada apa dengan hanyou!? Kau keberatan!?" teriak Inuyasha penuh kemarahan.
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Inuyasha, matanya masih menatap lurus perut Kagome. Inuyoukai sepertinya memiliki kemapuan mencium bau yang sangat peka. Dari baunya saja, dia sudah tahu, anak yang berada dalam rahim Kagome adalah seorang hanyou. Bau tubuh Kagome sekarang, berbeda dengan bau manusia perempuan yang sedang mengandung. Bau tersebut, dia hanya pernah menciumnya sekali saja dalam hidupnya, yakni saat Izaoi mengandung Inuyasha dulu. Bau yang sangat manis dan bercampur dengan bau bulan, tanda bahwa anak dalam kandungan adalah inuhanyou dari garis darah sama dengannya.
"Hanyou?" ujar Rin tiba-tiba sambil tersenyum menatap Sesshoumaru. "Hanyou? Berarti, bayi yang akan lahir nanti pasti akan memiliki telinga yang sama dengan Inuyasha-sama, kan?"
Pertanyaan tiba-tiba Rin kembali membuat semua orang menatapnya. Namun, yang bersangkutan, seperti biasanya, tidak sadar, dia masih menatap Sesshoumaru dengan senyum lugu di wajah. "Sesshoumaru-sama, bolehkah kita menginap beberapa hari di desa sampai Kagome-sama melahirkan? Rin ingin sekali melihat anak Inuyasha-sama dan Kagome-sama. Rin ingin melihat wajah keponakan Sesshoumaru-sama."
Apa yang dikatakan Rin membuat semua yang ada di sana terkejut, mata mereka terbelalak menatap gadis tersebut. Keponakan? Apa gadis itu tidak takut mati? Mengaitkan hanyou dalam rahim Kagome sebagai keponakan Sesshoumaru. Namun, yang paling mengejutkan adalah, Sesshoumaru tidak marah atau pun menepis perkataan Rin, inuyoukai tersebut hanya membalas tatapan sang gadis. Tetap diam membisu, inuyoukai itu kemudian membalikkan badan dan berjalan menjauh.
Senyum di wajah Rin hanya bertambah lebar saat melihat reaksi Sesshoumaru. Memang tidak ada jawaban, tapi dari tatapan mata inuyoukai itu barusan, dia tahu apa jawaban yang diberikannya. Dengan cepat, dia segera membungkukkan badan. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama! Terima kasih!"
Jaken yang melihat Sesshoumaru berjalan menjauh segera berlari mengejar. "Sesshoumaru-sama, tunggu ham-"
"Jaken. Tinggal dan jaga Rin." perintah Sesshoumaru mutlak dan membuat Jaken mematung.
Inuyahsa, Kagome dan yang lainnya hanya melihat semua yang terjadi dengan pandangan tidak percaya. Namun, menggeleng kepalanya, Inuyasha langsung berlari mengejar Sesshoumaru. Dia meminta Sesshoumaru kemari bukan untuk menunjukkan keadaan Kagome, ada yang lebih penting baginya, hingga dia membuang harga diri dan menuliskan surat meminta bantuan.
"Inuyasha!" panggil Miroku dan Kohaku bersamaan. Mereka berdua bermaksud untuk mengejar, namun, dengan cepat juga Inuyasha menghentikan mereka berdua. "Miroku, Kohaku, kalian tinggal di sini! Ini masalahku, aku yang akan menyelesaikannya!"
....xOxOx....
"Sesshoumaru!" panggil Inuyasha sekuat-kuatnya sambil berlari mengejar Sesshoumaru yang telah melangkah kaki keluar dari rumahnya. "Tunggu!"
Meski tidak mau, Sesshoumaru akhirnya berhenti dan menoleh wajah menatap Inuyasha dengan ekspresi wajah datar. "Itukah tujuanmu memintaku kemari? Alasan kenapa kau sampai menuliskan surat dan memohon padaku untuk menginjakkan kaki ke desa manusia ini?"
Langkah kaki Inuyasha terhenti begitu mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Mengigit bibir bawahnya, dia menundukkan kepala ke bawah dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan lagi; takut, sedih, panik dan putus asa yang bercampur satu. "Ya," jawabnya pelan. "Kau sudah melihat bukan? Dan kau pasti juga bisa merasakannya, Kagome..." menelan ludahnya, mati-matian dia mencari kekuatan untuk menyelesaikan kalimatnya. "Dia semakin melemah dari hari ke hari..."
Seshoumaru tidak mengatakan apa-apa, diam membiarkan Inuyasha menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.
"Anak kami adalah hanyou, aku tahu itu." lanjut Inuyasha lagi. "Tujuh bulan, itulah usia kandungan seorang hanyou. Anak kami akan segera lahir. Namun, badan Kagome tidak dapat menanggani kehamilannya. Ada sesuatu yang salah, aku dan semuanya tidak tahu apa itu, tapi, benar-benar ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang aku takut akan merebut mereka berdua sekaligus dariku.."
"Kau berpikir aku memiliki jawabannya?"
"Iya," jawab Inuyasha cepat. "A-aku, aku adalah hanyou. Inuhanyou satu-satunya di dunia setelah anakku. Kau yang mengenal ibuku, pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana cara-"
"Kau bertanya pada orang yang salah," potong Sesshoumaru sambil membalikkan badan menghadap Inuyasha. "Aku tidak pernah memperhatikan atau mempedulikan Izayoi, ibumu, saat mengandungmu. Dan juga, apa kau kau pikir aku akan memberitahumu jika aku tahu?"
Mata Inuyasha terbelalak karena terkejut. Tidak mempedulikannya, Seshoumaru kembali melangkah kaki menjauh meninggalkan Inuyasha yang tidak bergerak sedikit pun.
__ADS_1
Tidak memiliki jawabannnya. Harapannya satu-satunya. Ketakutan yang luar biasa segera memenuhi hati Inuyasha. Wajah Kagome yang sedang tersenyum terbayang dalam kepalanya. Dia tidak pernah memiliki keluarga yang sempurna, dalam hidupnya, selain ibu yang meninggal saat dia masih kecil, dia tidak pernah merasakan apa itu sesungguhnya keluarga. Hanya saat bersama Kagome dan yang lainnya, serta saat tahu Kagome mengandung anaknya, dia baru benar-benar merasakan bahwa dia memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah dimilikinya, yakni; keluarga. Namun, sekarang, hidup Kagome dan anak mereka berada dalam ketidakpastiaan. Setiap hari, jam, menit bahkan detik, kemungkinan besar mereka akan direbut darinya, dan dia tidak dapat melakukan apa-apa. Karena itu, Inuyasha benar-benar, sungguh-sungguh luar biasa ketakutan sekarang. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang akan terjadi jika dia benar-benar sampai kehilangan keluarga yang begitu susah payah akhirnya dia dapatkan? Dia tahu, dia pasti akan gila.
....xOxOx....