Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 105


__ADS_3

Shui tertawa terbahak-bahak. Dalam kamarnya, youkai bermata putih itu tertawa dengan begitu bahagiannya. Di tangannya, dia mengenggam secarik kertas yang hanya berisikan sebuah kalimat.


...Kisaki tanah barat sedang mengandung....


Akhirnya. Akhirnya, apa yang ditunggu-tunggunya telah tiba. Rin telah mengandung darah daging dari Sesshoumaru, anak dari Inu No Taisho.


"Aku tidak akan kembali ke tanah utara, aku akan ikut denganmu. Kau tidak memiliki pewaris bukan? Jadikanlah aku pewarismu—anakmu."


Seorang youkai muda berambut biru dan bermata putih, berdiri tegak menatap seorang inuyoukai di depannya. Penampilannya yang bagaikan seorang anak manusia berusia empat belas tahun terlihat sangat kecil dibanding dengan youkai dewasa tersebut.


Berbadan tinggi tegap dengan rambut perak panjang diikat ekor kuda ke atas. Wajah yang tampan dengan sepasang garis di kedua pipi serta mata emas yang bersinar cemerlang—inuyoukai di depannya adalah youkai terkuat dan sempurna yang pernah dilihat youkai bermata putih itu dalam dua ratus lebih hidupnya.


"Aku kuat, dan aku pasti akan lebih kuat darimu kelak, Toga-san." Lanjut youkai bermata putih itu lagi dengan suaranya yang tenang. Tapi, mata putihnya bersinar penuh harapan.


Inuyoukai yang berada di depannya kemudian tertawa keras. Menatap youkai muda di depannya, seulas senyum memenuhi wajah tampan itu. "Tidak."


"Kenapa?" tanya youkai bermata biru itu penuh kemarahan.


"Kau kuat, dan kau mungkin akan lebih kuat dariku kelak, tapi—" ujar inuyoukai itu pelan, dan seketika senyumnya berubah menjadi senyum menyeringai penuh kepercayaan. "Putraku kelak akan lebih kuat darimu."


"Kau sama sekali tidak mempunyai putra, Toga-san." Sela youkai bermata putih itu tidak suka.


Inuyoukai itu kembali tertawa, senyumnya yang lebar semakin lebar. "Kau tahu, bocah. Kimi sudah berjanji akan melahirkan seorang putra untukku. Putra dengan darah inuyoukai dari barat yang paling murni—dialah yang akan menjadi yang paling kuat kelak dan menjayakan barat."


Youkai bermata biru itu terdiam. Tapi mata putihnya penuh kemarahan terarah pada inuyoukai di depannya.


"Lalu," lanjut inuyoukai itu lagi. "Aku tidak mungkin mewariskan barat padamu yang gila ini. Kau hanya akan menghancurkan barat saja."


"Aku bisa membuktikan padamu aku tidak gila," potong youkai berambut biru pelan. Seulas senyum menghiasi wajahnya, namun matanya masih penuh dengan kemarahan. "Aku bisa membuktikan padamu bahwa aku juga dapat dicintai para youkai, bahkan—manusia."


"Kau memang gila," inuyoukai itu menatap penuh ketertarikan pada youkai bermata putih di depannya. "Kurasa daripada menjadi anakku, kau lebih cocok menjadi adikku. Kelak, mungkin akan ada kisah seorang kakak membunuh adiknya yang gila—terdengar sangat menjanjikan, bukan?"


"Aku tidak mau menjadi adikmu!! Aku ingin menjadi anakmu!!" teriak youkai bermata putih keras.


Mengangkat kepala ke atas menatap langit, inuyoukai itu kembali tertawa keras. "Baiklah-baiklah, bocah gila. Aku akan mempertimbangkan permintaanmu ini jika aku benar-benar tidak memiliki putra."


Senyum gembira segera memenuhi wajah youkai bermata putih tersebut. Harapan kembali muncul dalam hatinya.


Namun, sejenak kemudian, inuyoukai itu menurunkan kepala dan menatap youkai di depannya. Seulas senyum menyeringai kembali memenuhi wajahnya. "Tapi, jangan berharap terlalu banyak. Karena menurutku kau tidak punya harapan—aku pasti akan memiliki seorang putra paling luar biasa yang pernah ada."


Kemarahan kembali menghiasi wajah youkai bermata putih itu. "Kau tidak akan memiliki putra!!"


Inuyoukai itu tertawa tidak mempedulikan protes youkai bermata putih tersebut. Dia tersenyum melanjutkan ucapannya yang belum selesai. "Kami klan inuyoukai dari barat memiliki satu pepatah, 'Sang putra akan melampaui sang ayah.'. Putraku akan malampauiku, dan putranya-putraku juga akan memalanpauinya—kami inuyoukai dari barat akan semakin kuat dan kuat; keturunanku akan abadi dan jaya selamanya."


Kepingan masa lalu yang telah berlalu ratusan tahun. Tapi, sampai sekarang Shui masih mengingatnya jelas. Inu No Taisho adalah sosok yang dihormatinya, sosok yang dia tahu, dapat memberikannya segala yang dia inginkan; nama, kejayaan, kekuasaan dan juga kehormatan—tanah barat yang luas.


Tapi, semua berubah saat Sesshoumaru lahir. Inuyoukai pewaris tanah barat yang ditunggu-tunggu Inu No Taisho; anak yang dibanggakannya. Melihat kebahagiaan Inu No Taisho yang memeluk Sesshoumaru saat putranya itu lahir, Shui tahu, apa yang dia inginkan tidak akan pernah didapatkan.


Kemarahannya saat itu, Shui sungguh ingin membunuh Sesshoumaru. Tapi, dia teringat kata Inu No Taisho yang mengatakan anaknya itu akan lebih kuat darinya kelak. Karena itu dia menunggu dan menunggu—menunggu Sesshoumaru dewasa.


Shui ingin membuktikan pada Inu No Taisho bahwa pilihannya itu salah; Sesshoumaru tidak akan lebih kuat darinya—barat akan lebih kuat dan jaya di tangannya daripada di tangan Sesshoumaru.


Karena itu, saat Shui tahu Sesshoumaru telah resmi menjadi penguasa tanah barat, dia sangat gembira, sebab hari dia dapat membunuh inuyoukai itu telah tiba. Waktu baginya untuk membuktikan pada Inu No Taisho ucapannya dulu—tidak apa-apa meski inuyoukai yang dihormatinya tersebut telah tiada.


Namun, niat Shui itu menghilang saat dia tiba di istana tanah barat. Karena saat itulah, dia bertemu dengannya. Seorang gadis kecil dari ras manusia yang begitu berbeda—Rin yang menawan.


Senyum, tawa dan sifatnya yang hangat membingungkannya. Namun, yang paling membuat Shui tertegun mungkin adalah mata coklatnya—mata yang identik dengan mata Inu No Taisho.


Mata coklat jernih itu saat menatap Sesshoumaru penuh dengan kebanggaan, penuh dengan kepercayaan bahwa Sesshoumaru adalah yang paling kuat di dunia ini—itu adalah bagaimana Inu No Taisho menatap Sesshoumaru.


Rin bukanlah Inu No Taisho, gadis manusia itu tidak akan pernah menjadi sosok yang dihormatinya. Namun, pandangan mata itu—Shui berpikir, bagaimana jika pandangan seperti itu terarah padanya dan ukanlah pada Sesshoumaru?


Tapi sekali lagi, masa lalu terulangi. Pandangan mata itu tidak pernah terarah padanya, pandangan itu selamanya hanya akan terarah pada satu orang; Sesshoumaru.


Kemarahan dan kebencian yang ditumpuk dan ditumpuk. Untuk membunuh Sesshoumaru, Shui tahu, dia harus menggunakan cara terkejam yang ada. Dia ingin menghancurkan inuyoukai yang telah merebut segala miliknya itu sehancur-hancurnya.


Lalu, pandangan mata Sesshoumaru yang menatap Rin menyadarkannya. Seperti apa Sesshoumaru, Shui sebenarnya sangat mengenalnya, sebab dia sudah mengamatinya sejak inuyoukai itu lahir. Karena itu, pandangan mata emas yang terarah pada Rin—Sesshoumaru mencintai gadis manusia itu.


Sungguh lucu, itu adalah pertama kalinya Shui mengakui bahwa ternyata Sesshoumaru benar-benar merupakan putra kebanggaan dari Inu No Taisho. Inuyoukai itu sangat mirip dengan ayahnya, dari harga diri, cara berpikir hingga—mencintai seorang manusia.


Inu No Taisho mati karena mencintai seorang wanita manusia, dan kini, Sesshoumaru mengikuti jejak itu. Cara untuk menghancurkan Sesshoumaru, waktu untuk membunuh inuyoukai itu, Shui tahu, dia harus menunggu lagi.


Seperti Inu No Taisho yang menyayangi anak-anaknya, Sesshoumaru pasti juga akan menyayangi anaknya. Bagaimana reaksi inuyoukai itu saat dia melihat gadis manusia yang dicintainya dan juga anak mereka mati?—itu pasti akan menjadi pemandangan yang sangat indah.


Untuk Inu No Taisho yang tidak memilihnya, dia akan menghadiakannya sesuatu yang berharga untuknya di dunia sana; Sesshoumaru, putra kebanggaannya serta keturunannya yang berharga.


Dia akan menghancurkan barat, dan setelah barat hancur, dia akan menatanya ulang. Saat itulah, Inu No Taisho yang ada di alam sana serta semua orang akan tahu bahwa dialah yang sesungguhnya paling pantas untuk memimpin tanah barat.


Dan sekarang, waktunya telah tiba. Shui tahu, dia tidak perlu menunggu lagi. Ratusan tahun berlalu—waktu yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba; dia sudah boleh bergerak.


....xOxOx....


"Apa yang harus aku lakukan??" tangis Myoga keras. Dia mengangkat wajahnya yang penuh air mata menatap sebatang pohon magnolia di depannya—Bokuseno.


"Hmnn, sekian lama tidak bertemu," gumam Bokuseno pelan. Dia menurunkan pandangannya pada Myoga yang berada di bawah. "Kau datang mengunjungiku hanya untuk menangis, Myoga?"


"Tidak!!" balas Myoga cepat. Dia segera menghapus air matanya dan menatap youkai pohon yang telah berusia lebih dari dua ribu tahun tersebut. "Aku datang kemari karena ada yang ingin aku tanyakan!!"


"Oh," gumam Bokuseno lagi pelan. "Apa yang ingin kau tanyakan?"


Myoga menatap Bokuseno penuh harap. Dia telah mengembara sekitar dua bulan lebih untuk mencari fushi no kusuri, namun, tidak ada satupun petunjuk di dapatkannya.


"Apakah kau tahu fushi no kusuri?" Myoga menatap Bokuseno penuh harap. Mungkin saja, youkai pohon berusia dua ribu tahun lebih yang bijaksana ini memiliki petunjuk untuknya.


"Fushi no kusuri..." gumam Bokuseno pelan. Dia menutup mata seakan sedang mengingat sesuatu. "Fushi no kusuri..."


Mata Myoga berbinar melihat reaksi Bokuseno. Keempat tangannya tergegam erat penuh harapan. Apakah youkai pohon ini tahu sesuatu?

__ADS_1


"Hmnnn," gumam Bokuseno lagi dan membuka mata menatap Myoga. "Fushi no kusuri, obat keabadian, kenapa kau mencarinya, Myoga?"


Myoga menghela napas mendengar pertanyaan Bokuseno. Duduk di atas tanah, dia melipat keempat tangannya di dada. "Bukan aku yang mencarinya, tapi Sesshoumaru."


"Oh??" Bokuseno tertegun mendengar jawaban Myoga. "Sesshoumaru, putra Inu No Taisho?"


"Iya, Sesshoumaru ingin mencari fushi no kusuri untuk kisakinya." Myoga segera mengangguk kepala dan menutup mata. Dia bisa memaklumi reaksi Bokuseno, siapa yang pernah menyangka bahwa ada hari dimana Sesshoumaru ingin mencari obat keabadian untuk seorang manusia?


"Kisaki tanah barat? Manusia yang dihidupkan Sesshoumaru dengan pedang tensaiga beberapa tahun yang lalu?" tanya Bokuseno lagi menatap Myoga.


Myoga kembali mengangguk kepala. "Iya, gadis kecil itu—Rin."


"Hmmm," gumam Bokuseno lagi. "Sesshoumaru pada akhirnya memilih jalan yang sama dengan ayahnya."


"Aku juga tidak pernah menyangka pada akhirnya dia akan memilih manusia sebagai kisakinya," ujar Myoga pelan. "Bukankah dia selalu membenci manusia?"


"Kisaki tanah barat itu, seperti apa dia?" tanya Bokuseno penasaran. Dia memang menerima undangan pernikahan Sesshoumaru, tapi dia tidak menghadirinya.


"Rin?" tanya Myoga terkejut. Tapi sejenak kemudian dia memikirkan kisaki tanah barat yang begitu dicintai banyak orang. "Dia sangat cantik, manis, baik dan punya senyum yang menawan—aku bisa mengerti kenapa Sesshoumaru memilihnya, tapi aku tidak mengerti kenapa dia mau memilih Sesshoumaru."


"Tunggu dulu!!" Myoga tiba-tiba membuka matanya dan meloncat berdiri. "Ini bukan saatnya membahas ini!!" mengarahkan pandangannya pada Bokuseno dia kembali bertanya. "Kau tahu dimana Toga-sama menyimpan fushi no kusuri?"


Bokuseno terdiam sejenak mendengar pertanyaan Myoga. Dia kembali menutup mata seakan sedang memikirkan sesuatu, dan itu membuat wajah youkai kutu di bawah berseri penuh harapan.


Namun, sejenak kemudian, youkai pohon itu membuka mata dan menjawab pelan. "Aku tidak tahu."


Ekspresi wajah Myoga yang penuh harapan segera menghilang digantikan keputusasaan dan air mata. "Kaupun tidak tahu.." gumamnya pelan dan kemudian berubah menjadi tangis penuh kesedihan. "Di mana anda menyembunyikan fushi no kusuri, Toga-sama!!??""


Bokuseno menatap Myoga yang menangis dan berteriak sendirian. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, perlahan, dia mengangkat wajahnya ada langit biru di atas.


"Fushi no kusuri untuk kisaki yang kau hidupkan dengan tensaiga," Ujar Bokuseno pelan. "Kau sungguh tidak tahu apa-apa, Sesshoumaru...


....xOxOx....


"Hmnn," bangsawan Mio membaca surat yang ditujukan padanya. Surat ini baru tiba tadi pagi, diantarkan oleh prajurit kepercayaan bangsawan Yumi. Menurunkan surat itu, matanya kemudian terarah pada bangsawan Hino dan Sato yang ada di depannya. "Bagaimana menurut kalian berita ini?"


"Menurutku ada yang aneh." Balas bangsawan Hino sambil mengibas-ngibas kipas di tangannya.


Surat yang ada di atas meja adalah surat yang berisi informasi adanya dua desa youkai yang hancur. Tidak ada yang tahu siapa yang menghancurkan kedua desa tersebut. Namun, bendera bendera keluarga bangsawan Mio, Sato, Hino dan Yumi tertinggal di desa yang telah hancur tersebut.


"Menurut kalian, siapa yang melakukan itu?" tanya bangsawan Sato kemudian. Ada sedikit kerutan kecil di wajahnya.


Bangsawan Mio dan bangsawan Hino diam membisu mendengar pertanyaan itu. Mereka memang memutuskan untuk membentuk aliansi untuk menaklukkan youkai tanah barat. Tapi, sampai sekarang, mereka masih belum menggerakkan pasukan gabungan mereka. Jadi, siapa yang menyamar menjadi mereka?


"Aku tidak peduli siapapun yang melakukannya," ujar bangsawan Mio kemudian. Seulas senyum kemudian menghiasi wajahnya. "Bukankah ini menguntungkan kita?"


Desa youkai yang hancur dan meninggalkan bendera-bendera keluarga mereka, bukankah itu akan membuat orang-orang berpikir merekalah yang menghancurkan desa youkai?—kepercayaan masyarakat pada mereka, serta semangat prajurit akan semakin tinggi. Mereka pasti bisa menaklukkan youkai tanah barat.


Pertanyaan bangsawan Mio membuat bangsawan Sato dan bangsawan Hino ikut tersenyum, yang kemudian berubah menjadi tawa keras.


"Anda benar," senyum bangsawan Hino dan menutup kipas di tangannya. "Kita harus memanfaatkan situasi ini dan mengumumkan pasukan kita adalah pasukan yang lebih kuat dari youkai."


....xOxOx....


"Kami pasti bisa menaklukkan youkai barat, Kaeda-san," ujar Yukina, seorang miko muda yang merupakan pemimpin dari para miko sambil menatap Kaeda yang diam membisu. "Jangan menghentikan kami lagi."


"Kami tidak bisa membiarkan youkai berbuat semaunya," tambah Hisei, seorang biksu tua sambil memutar kalung tasbih di tangannya. Seperti halnya Yukina, dia adalah biksu yang memimpin ribuan biksu di jepang. "Hidup kami hanya sesaat, bisa mati demi kepentingan manusia adalah kebaikan."


"Benar," sambung Hikamaru, peminpin para pendeta shinto di jepang yang juga ada di sana sambil mengangguk kepala. "Youkai tanah barat memang menguasai wilayah yang luas, Tapi, bukankah penguasanya sekarang sekarang bukan lagi Inu No Taisho yang terkenal sejak dulu itu lagi? Sesshoumaru, anaknya, penguasa tanah barat sekarang kurasa juga tidak sekuat ayahnya itu. Aku bahkan tidak pernah mendengar namanya sebelum dia menjadi penguasa."


Yukina mengangguk kepala menyetujui ucapan Hikamaru. "Anda benar, Hikamaru-san. Kurasa dia adalah youkai lemah yang menjadi penguasa karena kebesaran nama ayahnya saja."


Miroku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa mendengar ucapan Yukina dan Hikamaru. Mengangkat tangan kanannya, dia menepuk wajahnya semakin putus asa. Dia ingin menangis sekarang, Sesshoumaru adalah youkai lemah?—kata siapa?


Nama Sesshoumaru memang tidak begitu dikenal para manusia, itu bukan karena dia lemah, tapi itu karena tidak pernah mau berurusan dengan manusia yang dianggapnya lemah seperti semut. Dia bukan tipe youkai yang suka membantai manusia dan menghancurkan desa untuk membuktikan kekuatannya seperti kebanyakan youkai. Tidak pernah Miroku menyangka ada hari di mana, dia berharap inuyoukai yang selalu tenang itu pernah melakukan sesuatu yang mengerikan sehingga para manusia akan takut.


Sango dan Kaeda mendesah putus asa menatap para pemimpin aliasi biksu, pendeta dan miko di depannya. Tidak peduli bagaimana mereka menjelaskan keadaan, para pemimpin bodoh itu masih bersikap tegas untuk bergabung dengan aliasi para bangsawan untuk menyerang tanah barat. 


Menyerang barat, apakah mereka berpikir bahwa para klan youkai di bawah pimpinan Sesshoumaru akan diam? Sumpah darah yang mengikat semua klan youkai barat pada sang penguasa tanah barat dan kisaki tanah barat akan membuat mereka dengan senang hati mengorbankan hidup mereka. Pasukan youkai yang tidak takut mati—betapa mengerikannya itu.


Tanah barat adalah wilayah terkuat dan terbesar yang bahkan ditakuti dan diwaspadai wilayah lain. Manusia tidak akan berkutik di depan mereka—kehancuran dan kematian saja yang akan tersisa.


"Kami tidak akan mengubah keputusan kami," ujar Hisei kemudian. Matanya menatap lurus Miroku, Sango dan Kaeda di depan. "Kalian juga tidak perlu mengatakan apa-apa lagi."


Miroku, Sango dan Kaeda tidak membalas ucapan Hisei. Tapi mereka tahu, misi mereka telah gagal. Aliansi ini tetap akan bergabung dengan para  bangsawan untuk menyerang barat. Mereka harus memikirkan sesuatu sebelum semuanya terlambat.


"Aku berharap Kohaku bisa menyakinkan aliansi taijiya untuk  mengurungkan niat mereka.." gumam Miroku dan menghela napas.


Sango juga ikut menghela napas. Menyentuh pundak Miroku, dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, aura youkai kuat yang dirasakannya dengan cepat membuat dia mengurungkan niatnya. Penuh kewaspadaan, dia langsung berdiri, begitu juga dengan Miroku, Kaeda dan para pemimpin aliansi.


Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Pandangan mereka semua terarah pada pintu shoji yang tertutup. Mereka tahu, youkai itu ada dibalik pintu, dan youkai itu pasti bukan youkai biasa, sebab mereka sama sekali tidak menyadari kehadirannya yang menyembunyikan aura sampai sedekat ini. Mereka bisa menyadari keberadaannya sekarang, tidak lain karena youkai itu sengaja memancarkan auranya.


Perlahan, pintu shoji yang tertutup terbuka. Melangkah pelan, seorang youkai berjalan masuk. Berambut pendek dengan sepasang mata emas khas seorang inuyoukai, wajahnya tenang tanpa emosi.


"K-kira-san??" panggil Miroku dan Sango bersamaan penuh kebingungan dengan Kira yang muncul tiba-tiba.


....xOxOx....


"Kalian tidak akan menang!!" teriak Kohaku keras dan membanting pintu ruangan di mana Arata, ketua aliansi taijiya berada. Dia tidak mempedulikan sedikitpun pandangan semua taijiya yang menatapnya tajam.


Melangkah kakinya, Kohaku kemudian berjalan keluar dari sebuah rumah besar dalam hutan yang merupakan markas dari taijiya di seluruh jepang.


Amarah memenuhi hatinya. Tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, ketua aliansi taijiya tetap bersikap teguh ingin melawan youkai barat. Ketua yang sudah tua itu sepertinya benar-benar mau memusnahkan semua taijiya dari dunia ini!


Sungguh sangat menyesatkan, siapa yang sebenarnya menyebarkan rumor bahwa Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat adalah youkai lemah? Jika daiyoukai itu lemah, maka tidak ada lagi di dunia ini yang dapat dikatakan kuat.


Namun, baru melangkah beberapa langkah dari markas taijiya, kaki Kohaku tiba-tiba berhenti. Kedua matanya terbelalak saat dia merasakan aura seorang youkai yang kuat menuju ke markas taijiya.

__ADS_1


Para taijiya dalam markas juga bisa merasakannya dengan jelas, sebab youkai yang menuju ke tempat mereka berada sama sekali tidak menyembunyikan auranya yang kuat.


Berlari keluar, semua taijiya di dalam markas berdiri di depan rumah yang menjadi tempat terpenting mereka dengan senjata di tangan. Berdiri di belakang Kohaku, mereka semua menghunuskan senjata mereka dengan kewaspadaan tinggi, tidak ketinggalan juga Arata, sang ketua aliansi.


Mata Kohaku kemudian terbelalak tidak percaya, saat dia melihat sosok  youkai yang muncul di depan markas taijiya.


Badannya ramping dan tinggi, dengan rambut pendek berwarna perak serta sepasang mata emas khas seorang inuyoukai—Kiri dari barat.


Berjalan mendekat, wajah cantik Kiri tenang tanpa ekspresi, tidak ada ketakutan sedikitpun saat dia melihat para taijiya yang berjumlah begitu banyak menghunuskan senjata padanya.


"K-kiri-san.." panggil Kohaku terbata-bata. Dia tidak mengerti kenapa inuyoukai yang merupakan bawahan kepercayaan Sesshoumaru sekaligus pengawal pribadi Rin ada di sini.


Kiri tidak membalas panggilan Kohaku. Berjalan tenang, dia kemudian berhenti dan berdiri tidak jauh dari para taijiya.


"Apa maumu datang ke sini, youkai?" tanya Arata pelan. Tapi dia tetap waspada. Youkai yang berani datang ke markas taijiya tanpa takut, jelas bukanlah youkai biasa.


Kiri diam membisu mendengar pertanyaan Arata, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


"Apa yang kau inginkan youkai??" tanya Arata lagi. Suaranya meninggi melihat Kiri yang tidak memberikan reaksi pada pertanyaannnya sedikitpun.


"Aku, Kiri dari barat," ujar Kiri memperkenalkan diri tiba-tiba. Suaranya pelan tanpa emosi. "Aku datang menyampaikan pesan dari Sesshoumaru, inuyoukai penguasa tanah barat."


Apa yang dikatakan Kiri dengan segera mengejutkan semua taijiya yang ada termasuk Kohaku.


Seulas senyum tiba-tiba memenuhi wajah Kiri. Namun, senyum itu tidak wajar, dengan kedua mata emasnya yang bersinar cemerlang—ada kengerian dan kegilaan yang dijanjikan. "Datanglah, dan barat akan menyambut kalian semua."


Seluruh badan Kohaku mematung, ketakutan luar biasa dirasakannya. Apa yang harus dilakukannya sekarang, Sesshoumaru tahu, inuyoukai itu sudah tahu apa rencana manusia dan sampai memutuskan Kiri untuk menyampaikan pesan ini–dia telah murkah.


....xOxOx....


Inukimi menyeringai penuh kepuasan. Kiri dan Kira pasti sudah menyampaikan pesan Sesshoumaru pada para manusia itu. Beraninya mereka berpikir menyerang barat, membunuh putranya, menantunya dan juga—cucunya.


Datanglah, barat akan menyambut mereka—dia, Inukimi akan berdiri di depan pintu istana menyambut mereka semua. Dia akan membunuh mereka semua, dan akan dipastikan juga, cara mereka mati adalah  perlahan serta menyakitkan dimana mereka akan lebih memilih mati daripada hidup.


Melangkah pelan, dia menuju paviliun timur istana tanah barat. Suara tawa bagaikan dentingan lonceng adalah apa yang pertama kali ditangkap telinganya.


Memasuki taman paviliun, mata emas Inukimi kemudian menangkap sosok seorang wanita manusia yang tertawa  sambil mengamati bunga matahari besar yang telah mekar sempurna pada akhir musim panas.


Wanita manusia itu sangat cantik, walau wajahnya terlihat pucat. Dengan yukata putih sederhana yang membalut badan serta perutnya yang besar, dia berdiri dengan seorang inuyoukai di samping.


Inukimi bisa melihat jelas tangan mereka yang tertaut, dan dia juga bisa melihat betapa hati-hatinya sepasang mata emas inuyoukai itu mengamati setiap gerak-gerik sang wanita.


"Sesshoumaru-sama," ujar wanita itu pelan sambil menatap inuyoukai itu. Seulas senyum indah memenuhi wajah cantiknya. "Rin tiba-tiba jadi ingin makan biji bunga matahari."


Sesshoumaru, inuyoukai tersebut mengangguk kepala pelan.


Senyum Rin semakin lebar, membimbing pelan tangan kanan Sesshoumaru yang digengamnya, dia meletakkannya di atas perut besarnya. "Tapi, Rin tidak tahu, Rin yang ingin makan atau anak ini yang ingin makan."


Sesshoumaru tetap tidak membalas ucapan Rin. Menurunkan mata emasnya ada perut besar itu, perlahan dia bergerak mengelusnya lembut.


"Anak kita pasti mirip dengan anda Sesshoumaru-sama, dia sangat tenang," tawa Rin kemudian. "Rin sudah mendengar cerita dari Ibunda. Anda sangat tenang saat berada dalam kandungan, hingga semua orang berpikir anda telah mati dalam rahim."


Sesshoumaru mengangkat pandangannya mendengar ucapan Rin. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya. Perlahan, dia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Namun, sebelum dia melakukannya, sebuah gerakan kecil dirasakan tangannya yang berada di perut Rin.


Mata emasnya segera terbelalak, begitu juga dengan mata coklat Rin yang menatapnya.


"S-sesshounaru-sama, anda merasakannya?" tanya Rin terbata-bata.


Bersamaan Sesshoumaru dan Rin segera menurunkan pandangan mata mereka pada perut Rin. Lalu, sekali lagi, mereka bisa merasakan sebuah gerakan kecil—tendangan sang bayi.


Perlahan, tanpa disadari, air mata mengalir turun menuruni pipi Rin. Gerakan kecil, tapi gerakan itu sungguh berarti bagi wanita yang merupakan sang ibu. Tidak dapat dijelaskan, ada kebahagiaan dan juga rasa haru—anak mereka bergerak untuk pertama kali.


Sesshoumaru tidak tahu harus mengatakan apa. Berdiri di tempatnya, dia masih menatap perut Rin. Anak mereka tidak bergerak lagi, tapi gerakan kecil tadi telah membekas dalam dirinya—tidak akan terlupakan seumur hidupnya. Walau semua orang tidak dapat merasakan kehadiran anaknya, walau anaknya tidak dapat dipredeksi—anaknya benar-benar hidup dan berada dalam rahim wanita yang dicintainya.


Mengangkat wajah menatap Rin lagi, Sesshoumaru mengerakkan tangan kirinya yang bebas menghapus air mata wanita manusia itu. Seulas senyum kecil kembali memenuhi wajah tampannya. "Dia akan lebih mirip denganmu, Rin."


Rin tertawa mendengar ucapan Sesshoumaru. Menggeleng kepala dia tersenyum lebar. "Tidak. Rin berharap dia mirip dengan anda, Sesshoumaru-sama."


Namun, sekali lagi, gerakan kecil diperut dirasakan Rin dan Sesshoumaru, seakan bayi di dalam perut memprotes ucapan sang ibu.


Menurunkan pandangannya pada perut Rin lagi, Seaahoumaru tertawa kecil. "Dia ingin mirip denganmu, Rin. Dia sudah protes."


Rin tidak dapat menahan tawanya lagi begitu mendengar ucapan Sesshoumaru. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.


Menggerakkan lagi tangannya yang ada di perut Rin, Sesshoumaru kembali mengelusnya lembut. "Dia juga akan lebih mencintaimu, Rin."


Tawa Rin semakin keras. Perasaan bahagia memenuhi seluruh relung hatinya. Kehidupan kecil yang sudah terasa begitu jelas—sungguh, segala sakit dan derita akan sanggup dilewatinya.


Inukimi berdiri diam menatap semua yang terjadi di depan matanya. Seulas senyum memenuhi wajah cantiknya. Betapa harmonis dan indahnya keluarga kecil itu. Cinta seorang ibu dan juga—seorang ayah.


"Ibunda?" menyadari kehadiran Inukimi, Rin melambai-lambaikan tangannya. Seulas senyum di wajah pucatnya sangatlah indah dan menyilaukan. "Ibunda, anak kami bergerak."


Inukimi tertawa mendengar ucapan Rin. Melangkah kakinya, dia segera mendekati putra dan menantunya itu. "Benarkah?"


Rin mengangguk kepala dengan senyum yang semakin melebar. Dia segerak menarik tangan Inukimi dan menempelkannya di perut, atau lebih tepatnya di samping tangan Sesshoumaru. "Kurasa dia akan bergerak lagi."


Tapi, kali ini, bayi dalam perutnya tidak bergerak lagi. Beberapa detik berlalu, Rin kemudian bergumam pelan. "Kenapa tidak bergerak lagi, nak?—ini nenekmu."


Tawa Inukimi pecah mendengar ucapan Rin. Nenek?—gelar yang aneh, tapi, tidak tahu kenapa terasa sangat menghangatkan hati. Ternyata dia benar-benar sudah tua.


Rin tidak mempedulikan tawa Inukimi. Dia masih fokus dengan wajah serius menunggu gerakkan sang bayi dalam perutnya.


Sesshoumaru juga tidak mengatakan apa-apa, dia hanya dapat tersenyum kecil melihat tingkah dan wajah serius Rin yang begitu menggemaskan. Hari ini semua terasa sangat lengkap, kebahagiaan itu ternyata sangatlah sederhana—bersama mereka yang kau cintai.


"S-sesshoumaru-sama.." suara panggilan Jaken yang pelan dan terbata-bata tiba-tiba terdengar.


Bersamaan, mata Sesshoumaru, Rin dan juga Inukimi segera terarah pada Jaken yang berdiri di depan mereka dengan wajah ketakutan. Youkai katak itu bisa melihat jelas suasana harmonis dan bahagia barusan, karena itu, dia merasa sangat takut menyampaikan sesuatu yang dapat merusak suasana.

__ADS_1


"A-akiko, hime dari tanah timur datang dan ingin menghadap anda, Sesshoumaru-sama."


....xOxOx....


__ADS_2