Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 131


__ADS_3

Terbang di atas langit malam musim dingin, Shui menatap balik tatapan Sesshoumaru. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun bola mata putihnya penuh kebencian.


Perlahan, mata Shui terarah pada Shura yang masih berada dalam pelukan Inukimi. Inuyoukai dengan darah paling murni dari tanah barat seperti halnya Sesshoumaru—keberadaan anak itu seakan sedang mengoloknya.


Kami klan inuyoukai dari barat memiliki satu pepatah, 'Sang putra akan melampaui sang ayah.'. Putraku akan malampauiku, dan putranya-putraku juga akan melampauinya—kami inuyoukai dari barat akan semakin kuat dan kuat; keturunanku akan abadi dan jaya selamanya.


Perkataan Inu No Taisho dulu-dulu sekali tergiang dalam pikiran Shui. Putra yang akan melampaui ayahnya, seperti Sesshoumaru yang melampaui Inu No Taisho, inuyoukai kecil itu juga akan melampaui Sesshoumaru suatu hari nanti—barat  yang akan abadi dan jaya untuk selamanya.


Tanah barat yang tidak akan pernah menjadi miliknya, seperti dirinya yang tidak akan pernah dapat memanggil Inu No Taisho—'Ayahanda'. Hanya karena darah, hanya karena dia bukan putra dari Inu No Taisho—dia tidak bisa memiliki apa yang paling dia inginkan. Dirinya hanya dapat melihat dengan mata kepala sendiri semua yang dia inginkan menjadi milik orang lain—tidak peduli apa yang dia lakukan.


Tertawa, Shui mengangkat kepalanya menatap salju yang turun. Segala sesuatu yang dilakukannya dulu untuk menjadi anak Inu No Taisho hancur karena kelahiran Sesshoumaru, dan hari ini, semua yang dilakukannya untuk mendapatkan tanah barat kembali hancur karena kelahiran putra Sesshoumaru. Apakah dia bisa menerima itu semua?—tidak! Bagaimana dia bisa menerimanya?


Di dunia ini, terlihat jelas sekali, mereka tidak akan pernah hidup berdampingan. Selama Sesshoumaru dan darahnya masih hidup—mereka akan selalu merebut apa yang dimilikinya; Shui tidak akan bisa hidup bahagia jika Sesshoumaru dan keturunannya hidup.


Sesshoumaru menatap Shui yang tertawa keras. Menurunkan pandangannya, mata emasnya kemudian menatap Inuyasha, Kenji, Kiri dan Kira. Inuyoukai itu tidak mengatakan apa-apa, tapi, melihat tatapannya, semua orang tahu, dia meminta mereka menjaga Shura, putranya.


Kenji, Kiri dan Kira mengangguk kepala. Mereka bertiga tahu jelas betapa bahayanya keberadaan Shura di medan perang ini sekarang. Pewaris tanah barat yang terlahir sebagai inuyoukai sejati berdarah paling murni memang dapat menghentikan perang, tapi, tidak berarti dihadapan semua youkai di jepang ini, tidak ada yang mengincar nyawanya. Terutama, di depan tanah utara dan tanah timur.


"Serahkan keponakanku ini padaku," ujar Inuyasha. Kedua matanya menatap balik Sesshoumaru penuh percaya diri. "Bunuh si berengsek dan pecunda itu sebagai balasnya, Sesshoumaru."


Ucapan Inuyasha membuat semua yang ada menatapnya. Sampai sekarang, mereka belum terbiasa melihat inuhanyou itu melaksanakan perintah Sesshoumaru tanpa protes sedikitpun.


Sesshoumaru mengangguk kepala. Menatap sejenak kemudian pada putranya yang kini kembali bergerak untuk membebaskan diri dari pelukan Inukimi sambil menatapnya, dia tersenyum kecil. "Tunggu sebentar Shura, kita berdua akan segera kembali pada ibundamu."


Shura yang tidak mengerti ucapan Sesshoumaru meraung kecil. Melihat ayah kandungnya yang menjauh dari dirinya, dia terlihat jelas tidak suka.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi. Meloncat terbang ke atas, dengan bakusaiga di tangan, dia melesat ke arah Shui.


Inuyasha yang melihat Sesshoumaru melesat terbang ke arah Shui kemudian menoleh pandangan mata pada Shura. Melihat keponakannya kini membuka mulut mengigit momomoko Inukimi penuh kemarahan, dia mengangkat tangan menepuk kepala kecil inuyoukai tersebut. "Apa yang kau lakukan, kecil?"


Tepukan tangan Inuyasha di kepala Shura dengan segera membuat inuyoukai kecil itu menatap inuhanyou tersebut penuh kemarahan. Kedua matanya menajam, menggeram penuh kemarahan, dia memperlihatkan taringnya yang tajam—dia sama sekali tidak terlihat sebagai anak yang baru lahir.


"Kenapa kau mirip sekali dengan ayahmu??" ujar Inuyasha terkejut melihat reaksi dari Shura yang diluar dugaan. "Apa kau tidak menwarisi sifat dan sikap lembut ibumu sedikit saja???"


Miroku, Kohaku, Kenji, Kiri Kira dan juga Shippo yang mendengar ucapan Inuyasha tidak mengatakan apa-apa, tapi mereka semua setuju, Shura benar-benar luar biasa mirip dengan Sesshoumaru, rupa dan juga—sifatnya.


Inukimi tertawa keras, dia tidak merasakan kesakitan sedikitpun meski mokomokonya terus digigit oleh Shura. Menurunkan mata emasnya, dia menatap penuh kebanggaan cucu emasnya. "Cucuku ini—dia akan menjadi lebih kuat dari ayahnya kelak."


Ucapan kebanggaan Inukimi yang terucapkan sekali lagi membuat semua yang ada mau tidak mau setuju. Shura akan menjadi sangat kuat kelak, tidak ada yang meragukan itu sedikitpun. Sekali lihat, semua yang ada bisa melihat potensi dari Inuyoukai kecil tersebut—dia akan tumbuh kuat seperti ayah kandungnya.


Menatap Shura, mata semua orang kemudian mengikuti arah pandang inuyoukai kecil tersebut. Diam membisu mereka tahu, pertarungan yang akan terjadi adalah pertarungan terakhir dan penutup dari perang ini.


Sesshoumaru bisa menarasakan pandangan semua yang terarah padanya. Namun, yang paling penting dia bisa merasakan pandangan mata dari Shura, dia juga bisa mendengar suara putranya tersebut yang menangis tidak menginginkan mereka terpisah.


Terbang ke atas, Sesshoumaru tidak mengatakan sepatah katapun. Melesat cepat, dia mengangkat bakusaiga di tangan untuk menyerang Shui.


Shui juga sudah bersiap sedia. Menghindar serangan Sesshoumaru, dia mencabut pedangnya dan menyerang balik.


Suara dentingan pedang dan pedang bertemu terdengar jelas, begitu juga dengan kilatan-kilatan serangan mereka yang memenuhi langit malam musim dingin. Serangan demi serangan terlancar, mereka kedua daiyoukai di atas langit tersebut tidak mempedulikan sedikitpun efek yang serangan mereka yang kini menghancurkan sekeliling.


Sesshoumaru tidak menghawatirka Shura di bawah, karena dia bisa merasakan jelas, Inukimi yang kini menciptakan sebuah kekai untuk melindunginya. Lalu, dengan Inuyasha, Kenji, Kiri dan Kira di samping—anaknya memiliki pelindung penuh di sekelilingnya.


Menatap Shui, Sesshoumaru yang masih terluka tidak mempedulikan lukanya sedikitpun. Dia bergerak dan terus menyerang tidak memberikan celah sedikitpun pada Shui. Shura memberikan kekuatan padanya—melihat wajah putranya, dia benar tidak ingin lagi membuang waktu lebih banyak di tempat ini, sebab untuk Rin yang sedang beristirahat—dirinya ingin melihat wajahnya sekarang.


"Kenapa Sesshoumaru??!" tawa Shui keras. Mata putihnya menatap Sesshoumaru penuh kegilaan sambil menangkis serangan penguasa tanah barat tersebut. "Kau ingin membunuhku??"


Sesshoumaru tidak menjawab, dia terus menyerang. Kecepatan serangannya semakin lama semakin cepat hingga tidak tertangkap mata lagi.


Namun, Shui tetap bisa menghindari atau menangkisnya. "Ini saja kah kekuatanmu, Sesshoumaru?"


Sesshoumaru tetap tidak menjawab pertanyaan Shui. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi tidak mempedulikan sedikitpun pertanyaan-pertanyaan yang tertuju padanya.


"Kenapa kau diam, Sesshoumaru??"  tanya Shui lagi. Melihat kebisuan Sesshoumaru, kemarahan dalam hati youkai bermata putih itu tidak tertahankan.


"Shui, lihatlah anak ini—pewarisku yang telah lahir," tawa Inu No Taisho yang memeluk seorang bayi kecil. Mata emasnya berbinar penuh kebahagiaan dan pujaan menatap lekat putranya yang baru lahir tidak lama."—Sesshoumaru, sang penghancur kehidupan."


Shui, seorang youkai bermata putih yang ada di depan Inu No Taisho tidak bergerak, kedua matanya tertuju pada sang penguasa tanah barat di depan. Bertahun-tahun dirinya mengenal inuyoukai tersebut, tidak pernah dia melihatnya sebahagia ini. Mata penuh kebanggaan dan pujaan untuk—putranya.


Perlahan pandangan mata Shui jatuh pada sosok bayi kecil yang tertidur dalam pelukan Inu No Taisho. Berambut perak, dengan dua garis ungu tua di pipi dan bulan sabit lambang keluarga inuyoukai barat di dahi. Kulit putih dengan sepasang telinga runcing—bayi inuyoukai yang sangat tampan. Namun, dia tidak menyukainya.


"Dia tidak mirip denganmu," ujar Shui datar. Kedua matanya kembali terarah ada Inu No Taisho. "—dia tidak mirip denganmu sedikitpun."


Ucapan Shui membuat Inu No Taisho tertegun, dan dari samping mereka, suara tawa yang sangat keras terdengar. "Tentu saja!! Bagaimana mungkin putraku mirip dengan si berengsek ini?? Meski dia yang menyumbangkan benihnya, putraku tidak akan pernah mirip dengannya!"


Menoleh kepada sumber suara, mata Inu No Taisho dan Shui melihat seorang inuyoukai wanita yang sangat cantik berjalan ke arah mereka—Inukimi.


"Kimi!! Sesshoumaru cukup mirip denganku!!" protes Inu No Taisho kesal. Kedua mata emasnya menatap saudara sepupu sekaligus sahabatnya tidak suka. "Kau tidak melihat, warna mata dan warna rambutnya yang mirip denganku??!"


Inukimi tersenyum. "Aku juga bermata emas dan berambut perak—dan lihat tanda bulan sabit di dahinya. Mirip siapa dia?—mirip denganku, berengsek."


Kekesalan memenuhi hati Inu No Taisho. Suaranya meninggi dratis. "Sesshoumaru cukup mirip denganku!! Dia putraku!!"


Suara keras Inu No Taisho dengan segera membangunkan Sesshoumaru yang sedang tidur. Kedua mata emasnya dengan cepat terbuka. Menatap tajam wajah ayah kandungnya, dia menggeram penuh kemarahan—seakan memerintahnya untuk diam.


Inu No Taisho segera terdiam melihat ekspresi dan tatapan tajam Sesshoumaru. Pandangan putranya yang baru lahir tidak lama cukup membuatnya tertegun.


Inukimi tertawa melihat itu. Mengangkat tangan kanan, dia membelai lembut dan mencium lembut dahi Sesshoumaru. "Jangan mirip dengan si berengsek itu, Sesshoumaru. Masa depanmu akan sia-sia jika kau sepertinya."


Belaian dan ciuman Inukimi membuat Sesshoumaru menatap ibu kandungnya tidak suka, hanya saja, dia tidak menggeram kepadanya seperti kepada Inu No Taisho.


"Kau lihat!! Sesshoumaru tidak menggeram padaku," tawa Inukimi penuh kebanggaan. "Kurasa dia berpikir kenapa si berengsek sepertimu adalah ayah kandungnya!!"


Inu No Taisho yang merasa kalah dari Inukimi segera menatap putranya lurus. "Aku ayahmu, Sesshoumaru. Suka tidak suka, menjadi putraku adalah takdirmu. Kepadamulah aku akan mewarisakan tanah barat ini kelak."


Sesshoumaru tidak memprlihatkan reaksi sedikitpun pada ucapan Inu No Taisho. Dengan wajah datar, dia kemudian menutup mata kembali dan tertidur.


"Hei!! Jangan tidur, Sesshoumaru!! Kau dengan kata ayahandamu ini tidak???" protes Inu No Taisho melihat Sesshoumaru yang tidak peduli sedikitpun.


Inukimi yang ada di samping kembali terrawa keras. Melihat sikap Inu No Taisho dan juga Sesshoumaru, dia benar tidak bisa menyembunyikan tawa dan kebahagiaan dalam hatinya.


Shui tidak bergerak melihat interaksi antara ayah-ibu dan anak di depannya. Tapi, dia tahu, dirinya tidak akan pernah dapat masuk kedalamnya—tempat itu tidak akan menjadi tempatnya.


Potongan kepingan yang terlupakan dari dalam pikiran Shui. Hari pertama di mana dia bertemu Sesshoumaru dan tahu dirinya tidak akan pernah dapat menjadi putra dari Inu No Taisho. Tapi, hari itu—kenapa Sesshoumaru seakan tidak suka? Kenapa Sesshoumaru tidak terlihat bahagia sedikitpun menjadi anak kandung dan juga pewaris Inu No Taisho??


Tidak tahu kah Sesshoumaru?—betapa dia, Shui selalu berharap dirinyalah yang berada diposisi tersebut. Berharap dialah putra Inu No Taisho, orang yang berhak memanggil inuyoukai itu, 'Ayahanda'.


Lalu, Sesshoumaru membiarkan Inu No Taisho mati. Padahal dia bisa menyelamatkannya, tapi, sebagai seorang putra, dia membiarkan ayah kandungnya mati.


Shui berpikir, saat menjelang kematiannya, apakah Inu No Taisho pernah berpikir bahwa putra kandung yang begitu dibanggakan dan dipujanya, ternyata dengan wajah dingin tanpa ekspresi membiarkannya mati?

__ADS_1


Jika saja dia yang ada diposisi Sessshoumaru pada malam itu, tanpa ragu dia akan menyelamatkan Inu No Taisho. Tidak peduli apapun yang terjadi, Shui tidak akan membiarkan inuyoukai itu mati begitu saja di tangan manusia.


"Kau selalu berwajah seperti itu," gumam Shui kemudian. Kedua matanya masih terpusat pada Sesshoumaru. "Kenapa kau yang seperti ini bisa menjadi anaknya???!"


Kesalahan dalam hidup Inu No Taisho, sang penguasa tanah barat sebelumnya, semua yang ada mengatakan kesalahannya adalah karena mencintai manusia—karena dia mati untuk seorang wanita manusia dan anak hanyounya. Tapi, hanya Shui yang tahu, kematian inuyoukai yang begitu dihormati semua orang adalah karena Sesshoumaru yang terlahir menjadi putra pertama dan pewarisnya.


Ya! Inu No Taisho masih akan bernapas dan memerintah tanah barat hari ini jika Sesshoumaru bukanlah putranya—Sesshoumaru lah pembunuh sesungguhnya!


"Kau yang membunuhnya tidak pantas menwarisi segala miliknya," ujar Shui lagi. Mata putihnya yang menatap Sesshoumaru kemudian menjadi merah darah. Suaranya meninggi menjadi teriakan kemarahan. "Tidak untuk tanah barat! Tidak untuk gelar dan juga pedangnya!!"


Bersamaan dengan suaranya yang meninggi, gerakan Shui juga semakin cepat dan cepat. Kemarahan dalam hatinya menambah kekuatannya, seketika, dia berhasil menekan Sesshoumaru.


Sesshoumaru tidak terkejut dengan kecepatan dan kekuatan Shui yang bertambah dratis. Dia tahu kemampuan sesungguhnya youkai bermata putih tersebut.


Shui adalah seorang youkai yang sangat kuat. Sesshoumaru tidak pernah meragukan itu, sebab jika dia tidak kuat, dia tidak mungkin mampu menjadi pemimpin tanah netral selama ratusan tahun ini. Tapi, sekuat apapun Shui, Sesshoumaru tidak peduli—dia akan lebih kuat.


Tidak mau kalah, Sesshoumaru juga menaikkan kecepatan dan kekuatannya. Jika yang menambah kekuatan Shui adalah kemarahan, maka yang akan selalu menambah kekuatan inuyoukai penguasa tanah barat tersebut adalah; kisaki dan putranya—Rin dan Shura.


Semua yang melihat di bawah tertegun dengan pertarungan di atas langit malam. Melihat pertarungan tersebut, mereka tahu, kekuatan dua daiyoukai yang bertarung di atas itu—seimbang. Tapi, bagaimana jika Sesshoumaru tidak terluka?—apakah itu artinya Shui akan kalah? Semua bisa melihat jelas darah yang masih belum berhenti mengalir dari dada inuyoukai tersebut.


Luka yang terus mengalirkan darah tanpa henti di dada—Inuyasha dan yang lainnya tidak tahu, sampai kapan Sesshoumaru bisa bertahan, sebab luka yang menembus jantung bukanlah luka ringan.


Sesshoumaru juga menyadari efek dari lukanya pada pertarungan yang berlangsung. Meski dia bisa mengabaikan rasa sakit yang ada, tapi tubuhnya cepat atau lambat akan mencapai batasnya.


Meloncat ke belakang di udara sambil mengumpulkan youkinya, Sesshoumaru menggerakkan bakusaiga dan melancarkan serangannya. "Bakusaiga!"


Youki Sesshoumaru yang kuat melesat cepat. Bagaikan membelah langit, suara listrik sambung menyambung menyilaukan mata meluncur ke arah Shui.


Serangan Sesshoumaru tidak mengejutkan Shui. Ikut meloncat ke belakang, dia juga mengumpulkan youki dan menggerakkan pedang di tangannya. Jika youki Sesshoumaru berwujud listrik, maka youki Shui berbentuk es. Berpuluh-puluh tombak es besar melesat ke arah serangan bakusaig.


Suara ledakan dan cahaya sangat menyilaukan sekali lagi memenuhi langit malam musim dingin, membuat semua yang ada menutup mata. Menahan pijakan mereka pada tanah yang bergetar hebat, mereka menjaga keseimbangan supaya tidak diterbangkan angin kuat yang dihasilkan ledakan di atas langit.


Dua serangan kuat tersebut, tidak ada seorangpun yang mengetahui pemenangnya. Mungkin seimbang atau mungkin Sesshoumaru yang tidak berada dalam kondisi primanyalah yang kalah?—atau mungkin kah inuyoukai penguasa tanah barat itu yang menang?


Mengangkat kepala ke atas, semua yang ada hanya dapat melihat asap hitam memenuhi langit. Tidak ada tanda-tanda siapa pemenang dari kedua serangan mematikan tersebut.


Saat gumpalan asap hitam mulai menepis, mata semua yang di bawah kemudian melihat sosok Sesshoumaru yang tidak bergerak di atas langit. Namun, tidak untuk keberadaan Shui. Pemimpin tanah netral menghilang tanpa bekas.


"Ke mana si berengsek itu pergi??" ujar Inuyasha yang ada di bawah. "Dia tidak mungkin melarikan diri seperti ini, kan?"


Ucapan Inuyasha dan ketidak beradaan sosok Shui membuat keributan pada para youkai. Mereka semua yakin, Shui tidak mati dalam serangan barusan. Apakah dia benar-benar melarikan diri?


Sesshoumaru berdiri tegap dengan tenang tanpa luka baru di tubuhnya. Menutup mata emasnya, dia mencari aura keberadaan Shui.


Lalu, dari belakang Sesshoumaru, sebuah lubang dimensi kecil tiba-tiba terbuka. Dari dalam lubang tersebut, sebilah pedang melesat keluar.


"Kakak!! Belakangmu!!"


"Sesshoumaru!!"


"Sesshoumaru-sama, belakang!!"


Bersamaan dengan suara teriakan yang ada, Sesshoumaru membuka kedua mata emasnya yang jernih dan membalikkan badan.


Pintu dimensi kecil yang terbuka semakin membesar, mata penguasa tanah barat bisa melihat jelas sosok Shui yang tersenyum lebar dengan mata pedang yang terarah pada jantungnya. "Mati dan minta maaflah pada Inu No Taisho di alam sana, Sesshoumaru."


"Kakak!!


"Sesshoumaru!!"


"Sesshoumaru-sama!!!"


Teriakan semua yang ada terdengar jelas di telinga Sesshoumaru, terlebih lagi dalam ribuan suara yang ada, dia bisa mendengar jelas tangisan pelan yang begitu berbeda.


"Auummmmmm!!!"


Suara siapa itu? Sesshoumaru tanpa melihat tahu—itu adalah suara Shura. Seperti halnya suara Rin yang akan disadarinya tidak peduli apapun keadaannya, dia juga akan selalu menyadari suara putra mereka.


Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampan Sesshounaru. Tangisan Shura sekarang penuh ketakutan, jelas sekali putra kecilnya menghawatirkan dirinya—ah, Shura ternyata cukup mirip dengan Rin, selalu menghawatirkan sesuatu yang tidak perlu.


Sesshoumaru-sama.


Wajah tersenyum Rin melintas dalam pikiran Sesshoumaru, membuat senyum kecil menjadi senyum lebar. Musim semi abadi di dunia, kehangatan dan kebahagiaan yang diberikan—kekuatan tanpa batas yang diberikan.


Luka tusukan di jantung. Apa itu rasa sakit?—sakit itu tidak akan pernah ada jika Rin dan Shura tersenyum. Apa itu luka?—luka apapun tidak akan menghentikannya jika Rin dan Shura menunggu kepulangannya. Apa itu kematian?—kematian tidak akan pernah menghampirinya sebelum dia, Rin dan Shura menikmati masa depan mereka yang penuh kebahagiaan—Sesshoumaru tidak akan terkalahkan selama Rin dan Shura ada.


Shui yang menusuk jantung Sesshoumaru tidak dapat menyembunyikan perasaan tertegun saat melihat senyum di wajah inuyoukai tersebut. Apa maksud senyum di wajah itu? Menatap mata emas di depannya mencari jawaban, dia tidak menemukan sedikitpun keputus asaan, ketidak sudiaan atau ketakutan menjelang kematian, yang ada melainkan—tawa, tekad dan kekuatan.


Menggerakkan tangan kirinya, Sesshoumaru menarik kedua tangan Shui yang mengengam kuat pedangnya. Senyum berubah menjadi tawa. Menggerakkan tangan kanannya, dia menggunakan bakusaiga untuk—memotong putus kedua tangan pemimpin tanah netral.


"Ahhhhhhhhhhh!!" teriakan kesakitan Shui memenuhi langit malam. Meloncat ke belakang, dia menatap kedua tangannya yang putus penuh ketidak percayaan.


Serangan Shui tadi adalah serangan yang sudah dipredeksi Sesshoumaru. Shui adalah keturunan keluarga penguasa tanah utara, di mana membuka pintu dimensi adalah keahlian khusus. Dari pada menyerang tanpa henti dalam jangka waktu panjang, sang penguasa tanah barat lebih memilih menyelesaikan secara cepat.


Perkembangan keadaan yang tidak disangka membuat semua yang ada di bawah tertegun. Mereka menatap tidak percaya apa yang terjadi dengan begitu cepat.


Menatap Sesshoumaru yang masih tertawa, mereka melihat inuyoukai itu mencabut pedang Shui yang menusuk jantungnya—pedang dengan sepasang tangan putih terputus yang telah jatuh ke bawah.


Membiarkan pedang Shui jatuh ke bawah, Sesshoumaru menoleh wajah menatap Shura yang juga membalas tatapannya penuh kekhawatiran.


Berdiri tegak, Sesshoumaru tidak memperlihatkan sedikitpun kelemahan meski luka di badan seharusnya telah membunuh dirinya dari tadi. Dia ingin menunjukkan pada putranya, inuyoukai adalah youkai terkuat, terutama sang alpha pemimpin—mereka adalah makhluk yang berdiri di puncak dari segala puncak.


Melihat Sesshoumaru yang meski terluka parah, tapi masih baik-baik saja, Inuyasha bernapas lega, begitu juga dengan yang lain.


"Kan sudah kukatakan, kakakmu itu, memang tidak akan mati hanya karena satu atau dua lubang di jantungnya, Inuyasha," tawa Kenji kemudian. Mengangkat tangan, dia menepuk-nepuk punggung inuhanyou tersebut. "Jangan khawatir."


Ucapan Kenji membuat semua youkai yang ada sadar dari perasaan tertegun. Menatap sosok inuyoukai di atas langit yang berdiri tegap, mereka menelan ludah. Satu-dua lubang di jantung tidak cukup untuk membunuhnya?—apakah untuk membunuh penguasa tanah barat, menghancurkan jantungnya adalah satu-satunya cara yang ada?


"Cih, memangnya, siapa yang menghawatirkannya??" cibir Inuyasha dan melipat tangan di dada.  Dia kemudian menatap Shura yang kembali berusaha melepaskan dirinya dari Inukimi. Mata merah darah inuyoukai yang baru lahir itu kini begitu menyeramkan, cakar dan taring tajamnya kini mencakar dan mencabik mokomoko neneknya dengan brutal, walau—gagal.


Inuyasha hanya berpikir, apakah Shura berusaha membebaskan diri karena menghawatirkan Sesshoumaru atau ingin membantu Sesshoumaru?—jika ingin membantu, maka itu sama saja dengan mencari mati.


"Kau ini mirip siapa, kecil? Ayahmu menyuruhmu menunggu di sini," tanya Inuyasha lagi dan mengangkat tangan kanan memukul kepala Shura. "Sikap brutalmu ini mirip ayahmu, tapi sikap tidak sabarmu ini mirip siapa? Ibumu juga tidak seperti ini, kan?"


"Bukan dia cukup mirip denganmu, Inuyasha." Jawab Miroku yang melihat dari samping tersenyum. Sifat tidak sabar Shura cukup mirip Inuyasha, tapi ini mungkin karena dia masih kecil, terlebih lagi, yang terluka adalah ayah kandungnya. Siapa yang masih bisa tenang-tenang saja jika ayahnya terluka parah?


"Aku tidak seperti ini, Miroku!!" protes Inuyasha kesal. Matanya menatap tajam sahabatnya tersebut.


"Mereka mirip dengan si anjing berengsek itu." Tawa Inukimi menyela. Tidak peduli bagaimana Shura mencakar atau mencabik mokomokonya, mantan penguasa tanah barat tidak mengalami luka sedikitpun. Cakar kecil dan taring kecil cucunya yang baru lahir tidak akan dapat melukainya yang telah berusia ribuan tahun.

__ADS_1


"Benar," setuju Kenji mengelus-ngelus jengotnya dan mengangguk kepala. "Mereka memang mirip."


Jawaban Inukimi dan Kenji membuat Inuyasha tertegun. Tapi sejenak kemudian, dia mengeleng kepala dan menghela napas, inuhanyou itu tahu, si anjing berengsek yang dimaksud Inukimi tidak lain adalah ayah kandungnya, Inu No Taisho. Dirinya tidak mengenal ayah yang mati pada malam kelahirannya, dan dia tidak tahu harus membalas apa untuk ucapan dua sahabat ayahnya sekarang.


Kembali menatap Shura yang balas menatapnya sambil menggeram penuh kemarahan memperlihatkan taring panjangnya, inuhanyou itu sekali lagi memukul kepala keponakannya. "Ayahmu itu tidak butuh bantuan, kecil. Kau tunggu saja di sini."


Geraman Shura hanya bertambah keras. Membuka mulutnya, kini dia berusaha mengigit tangan Inuyasha.


"Kau!!" menarik tangannya, Inuyasha membalas tajam pandangan mata Shura. "Dasar anak Sesshoumaru!!! Kau sama saja dengan ayahmu itu!! Sikap, sifat, rupa—apakah sifat dan sikap baik dari ibumu kau tinggalkan dalam rahim???!"


Sesshoumaru bisa melihat interaksi Shura dan Inuyasha. Ada kebanggaan dalam hatinya mendengar adik seayahnya itu mengatakan putranya mirip dengannya. Perasaan yang asing, tapi—menyenangkan.


Menoleh ke depan, mata emas Sesshoumaru kembali menatap Shui. Kehilangan kedua tangannya, membuat youkai itu seakan menggila. Kesakitan dan kemarahan yang dirasakan membuat wajahnya terlihat sangat menakutkan. "Kau!!!!! Kurang ajar!! Berani-beraninya kau!!!"


Bersamaan dengan teriakannya, asap putih muncul mengelilingi tubuh Shui. Semakin menebal dan membesar, dalam hitungan detik seekor naga putih besar melesat maju dari dalam asap ke arah Sesshoumaru.


Sesshoumaru tersenyum melihat sosok asli Shui yang luar biasa besar. Seekor naga panjang bersisik dan bermata putih. Dengan tanduk dan surai biru, dia adalah sosok yang menawan, sayangnya—dua kaki depannya kini telah menghilang.


Shui bukanlah youkai ular, melainkan youkai naga. Dia adalah satu-satunya naga dalam keluarga utama penguasa tanah utara. Ibunya adalah youkai ular adik kandung sang penguasa tanah utara sebelumnya, sedangkan ayahnya adalah youkai naga dari tanah utara, dan dia terlahir mengikuti ayahnya.


Tidak membuang waktu, Sesshoumaru juga kembali ke sosok aslinya. Asap merah memenuhi dirinya, dalam satu kedipan mata, seekor anjing raksasa berwarna perak melesat maju ke arah naga putih tersebut.


Mulut dengan taring raksasa terbuka lebar, siap sedia menerkam lawan. Di atas langit, kedua daiyoukai dalam sosok asli mereka yang luar biasa besar kembali bertarung.


Badan panjang Shui melilit badan raksasa Sesshoumaru, sedangkan mulutnya terbuka untuk mengigit leher inuyoukai tersebut. Tapi, Sesshoumaru dengan kecepatan luar biasa balik mengigit badan youkai naga tersebut.


Beda dengan pertarungan di mana mereka berada dalam sosok manusia mereka, pertarungan kedua daiyoukai dalam bentuk aslinya sangat berbeda—brutal. Melupakan apa itu manangkis atau menghindar, tidak peduli luka dan darah yang mengalir, mereka hanya terus menyerang.


Semua yang melihat menelan ludah. Sosok asli Sesshoumaru dan Shui yang luar biasa besar bagaikan menutup langit malam. Bersamaan dengan salju yang turun, darah juga turun, tidak tahu lagi itu darah milik sang penguasa tanah barat atau pemimpin tanah netral.


Shura yang ada dalam pelukan Inukimi tidak bergerak. Menatap sosok asli Sesshoumaru yang begitu mirip dengannya, dia tertegun.


"Itu ayahmu," ujar Inukimi pelan. Shura yang tidak bergerak lagi membuat dia menatap cucunya lembut. "Seperti itulah dirimu kelak, Shura—ah, tidak. Kau kelak akan lebih kuat darinya. Kau kelak akan menjadi yang terkuat dari yang terkuat."


Tidak tahu mengerti atau tidak dengan ucapan mantan penguasa tanah barat tersebut, Shura menatap Inukimi yang tersenyum penuh kebingungan. Perlahan, dia kemudian kembali lagi menatap langit di mana dua daiyoukai masih bertarung.


Shui terus bergerak, bagaikan ular, dia berusaha melilit dan mengunci gerakan Sesshoumaru. Tapi, inuyoukai itu tidak berdiam diri, dia bergerak dan terus menggunakan cakar serta taringnya mengoyak badan lawan.


Shui menyadari, dirinya tidak berada di posisi yang menguntungkan. Kekuatannya kalah dari Sesshoumaru, dan juga dia menyadari bawah beberapa luka di tubuhnya semakin parah karena racun inuyoukai yang ada.


Melepaskan lilitan di badan Sesshoumaru, Shui kemudian melesat terbang ke atas. Membalikkan kepalanya ke belakang, dia mengumpulkan youki dan menembaknya dari mulutnya.


Sesshoumaru yang ada di bawah juga mengumpulkan youkinya. Membuka mulut, dia juga menembakkan serangan.


Dua kekuatan youki yang bertabrakan di atas langit sekali lagi menyebabkan ledakan luar biasa keras. Menutup mata, semua bisa merasakan tanah yang kembali bergetar hebat dan angin kuat berhembus.


Sesshoumaru bergerak maju lagi, tidak peduli sisa ledakan masih ada, dia menerobos ke atas. Meraung keras, kecepatannya sungguh luar biasa meskipun badannya sangat besar.


Shui terus menembak serangan youkinya tanpa henti yang dapat dihindari lawannya. Kedua mata putihnya yang kini menjadi merah darah menatap lekat penuh kebencian Sesshoumaru.


Shui tidak sudi kalah dari Sesshoumaru. Dibandingkan siapapun, dirinya tidak ingin kalah dari inuyoukai tersebut—tidak ingin mati di tangannya.


Mati.


Kurasa daripada menjadi anakku, kau lebih cocok menjadi adikku. Kelak, mungkin akan ada kisah seorang kakak membunuh adiknya yang gila—terdengar sangat menjanjikan, bukan?"


Shui tidak mau menjadi adik, dia ingin menjadi anak dari Inu No Taisho. Kenapa?—karena bersama inuyoukai itulah dia merasa paling bahagia. Dia bisa tertawa lepas, berdiri tegak penuh kebanggaan dan kehormatan—menjadi sosok dirinya yang paling dia inginkan.


Lalu—Inu No Taisho mati.


Bukankah inuyoukai itu mengatakan dialah yang akan membunuhnya kelak saat dirinya menggila?—ucapan itu tidak akan tertepati. Meski Shui menggila dan melakukan hal-hal keji, Inu No Taisho tidak akan pernah muncul di depannya dan menghentikan dirinya; inuyoukai itu—bohong.


Sebagai gantinya, Sesshoumaru lah yang muncul di depannya. Dia yang merebut segalanya; dari kesempatan menjadi anak, kesempatan menjadi penguasa tanah barat—kesempatan bagi Inu No Taisho untuk hidup. Lalu, sekarang, dia ingin merebut kesempatan Inu No Taisho untuk membunuhnya?—Shui tidak bisa menerimanya.


Meraung keras, Shui kembali mengumpulkan segenap kekuatan youkinya. Menatap Sesshoumaru, dia bergerak maju dan menembak youkinya yang sangat mengerikan.


Bunuh! Bunuh! Bunuh! Hanya kata itu saja yang ada dalam pikiran Shui saat menatap Sesshoumaru sekarang. Diantara mereka berdua, hanya ada satu yang boleh hidup, jika dia hidup, maka Sesshoumaru harus mati—satu gunung tidak boleh memiliki dua harimau; itu takdir mereka.


Sesshoumaru bisa melihat serangan Shui, tapi, dia tidak berniat menghindar lagi. Mengumpulkan youkinya, dia menggunakannya untuk menyelimuti tubuhnya—menciptakan sebuah kekai.


Baik Sesshoumaru maupun Shui tahu, serangan ini akan menjadi serangan terakhir—serangan yang akan menentukan siapa pemenangnya di antara mereka.


Sesshoumaru-sama.


Wajah tersenyum Rin yang mendekap Shura terbayang dalam pikiran Sesshoumaru, dan dia tersenyum—tunggulah, dia akan segera pulang.


Cepat! Lebih cepat dan lebih cepat. Lebih cepat dari suara, lebih cepat dari kilat, lebih cepat dari cahaya—Sesshoumaru membuka mulut besarnya lebar.


Duarrrr!


Ledakan kembali terjadi. Langit malam bagaikan menjadi langit siang dalam beberapa detik. Asap hitam mengepul, dan saat semua yang ada menatap ke atas langit, mereka melihat—sang pemenang.


Di atas langit malam yang penuh asap hitam, sosok seekor inuyoukai raksasa membuka mulutnya lebar untuk menerkam leher seekor naga raksasa. Meski seluruh badannya penuh darah serta luka, mata merah darah kehitamannya berbinar cemerlang penuh kekuatan.


Semua kembali terjadi dengan sangat cepat, seketika, dalam mata semua yang ada, mereka bisa melihat kepala youkai naga raksasa yang terputus dari badannya dan jatuh ke bawah.


Darah jatuh bagaikan hujan, membasahi tanah bersalju putih di bawah. Badan raksasa Shui perlahan jatuh ke bawah, menciptakan suara keras dan getaran di atas tanah.


Terbang turun dan menginjak badan Shui yang tidak bernyawa lagi, Sesshoumaru berdiri tegak dalam wujud aslinya dan mengangkat kepala ke atas.


Dari timur, matahari pagi musim dingin mulai terbit. Cahaya matahari pagi menimpah bulu putih keperakan penuh darah Sesshoumaru, memperlihatkan pemandangan yang membuat semua tertegun—sangat mengerikan namun sekaligus membuat semua yang ada berdecak kagum.


Menutup mata, inu daiyoukai itu kemudian melolong panjang memecahkan keheningan malam yang telah dijemput pagi, lolongan tanda perang telah berakhir—lolongan kemenangan.


"Auuuuuuuuuuuuu..."


Suara lolongan panjang didengar semua yang ada—pemenang perang ini telah muncul, dan pemenangnya tidak lain adalah; Sesshoumaru, inu daiyoukai, sang penguasa tanah barat.


Lalu, dalam keheningan semua yang ada, suara lolongan kecil terdengar menyambung lolongan Sesshoumaru. Menatap sumber suara, mata semua yang ada melihat, Shura, sang pewaris tanah barat melolong mengikuti sang ayahnya.


"Auuuuuuuu.... Auuuuuu...."


Sang penguasa tanah barat dan sang pewaris tanah barat—suara lolongan mereka menjadi penutup dari perang besar semua tanah di jepang.


Perlahan, bersamaan dengan suara lolongan yang ada, semua youkai tanah barat satu persatu berlutut memberikan hormat, begitu juga dengan Kiri, Kira dan bahkan Kenji.


Kebesaran tanah barat yang tidak akan pernah runtuh—tanah barat yang jaya untuk selamanya.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2