Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 75


__ADS_3

"–apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Pertanyaan Inuyasha membuat Sesshoumaru membuka matanya. Namun, inuyoukai itu tidak menunjukkan ekspresi sedikitpun di wajahnya.


"Rin–dia benar-benar sangat mencintaimu," lanjut Inuyasha lagi. Dia kemudian berdecak kesal. "Cih, bahkan aku saja bisa melihatnya. Tidakkah kau merasa kau harus memberikannya sebuah jawaban?"


Sesshoumaru diam membisu. Namun, dia jelas mendengar setiap ucapan Inuyasha, dan Inuyasha tahu itu.


"Serigala itu serius dan berani memberikan segalanya pada Rin. Apakah kau tidak? Bukankah keberadaan Rin dalam hatimu cukup penting?"


Inuyasha tahu. Sebenarnya, melebihi siapapun, dia sangat tahu apa arti Rin bagi Sesshoumaru, hanya saja dia tidak pernah mengatakannya. Sesshoumaru adalah kakak seayahnya, dan dia sudah lama mengenalnya.


Sesshoumaru yang kuat, Sesshoumaru yang ditakuti dan dihormati banyak orang, Sesshoumaru yang berkebanggaan tinggi, serta, Sesshoumaru yang merupakan pewaris sah tanah barat–Inuyasha kecil saat pertama kali mengetahui keberadaan inuyoukai itu, dalam lubuk hati sebenarnya selalu menanti dan ingin mengenalnya lebih dalam. Inuyoukai itu adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya selain Izayoi, ibu kandungnya.


Inuyasha kecil sering melihat seorang kakak menjaga dan melindungi adiknya di istana manusia di mana dia dibesarkan. Apakah kakaknya juga akan melakukan hal yang sama padanya? Mengajaknya bermain, mengajarinya menulis dan membaca, mengajarinya mengayunkan pedang–bersamanya.


Tapi, kenyataan berkata lain. Saat mereka pertama kali bertemu, Inuyasha bisa melihat jelas, kakak yang dipikirkannya ternyata berbeda. Inuyoukai ini tidak menyukai dirinya, begitu juga dengan ibu kandungnya.


Semua karena–manusia.


Karena ibunya seorang manusia, dan karena di nadinya mengalir darah manusia. Tidak peduli apa yang dilakukan Inuyasha, Sesshoumaru tidak pernah mengakuinya. Saat ibunya meninggal, saat dia diusir dari tempatnya tinggal dan saat dia terluka, inuyoukai itu tetap tidak mempedulikannya. Bagi Sesshoumaru, dia bukan adiknya, bukan–keluarga.


Sesshoumaru yang membenci manusia, Seshoumaru yang tidak berperasaan dan hanya mementingkan diri sendiri–tidak ada yang tahu, betapa terkejutnya Inuyasha saat pertama kali dia melihat Rin kecil besama kakak seayahnya itu.


Rin kecil yang selalu berada di samping Sesshoumaru, dilindungi dan dijaga, diberikan tempat tinggal dan dibesarkan dengan baik. Inuyasha pernah bertanya dalam hati, kenapa Sesshoumaru bisa bersikap seperti itu pada Rin kecil? Dan–kenapa Sesshoumaru tidak bersikap seperti itu padanya saat kecil? Kenapa Sesshoumaru lebih memilih seorang manusia yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya dari pada dirinya, adik seayahnya?


Banyak yang mengatakan bahwa Sesshoumaru membesarkan Rin Karena dia memiliki kecantikan yang langkah, karena gadis itu adalah bukti dari kemampuannya menghidupkan yang mati–bukti kebesarannya. Namun, Inuyasha tahu, itu tidak benar. Sepasang mata emas yang menatap gadis manusia itu selalu lembut–cukup mirip dengan tatapan mata yang dulu diharapkan akan tertuju padanya saat kecil.


Tatapan mata yang walau berbeda, namun mirip dengan tatapan saat ibu kandungnya menatap dirinya–tatapan kasih sayang terhadap sesuatu yang sangat penting baginya. Lalu, semakin Rin besar, Inuyasha pun semakin bisa melihat jelas tatapan mata itu–itu adalah tatapan mata yang sama saat Kagome melihatnya.


Tidak tahu bagaimana, Rin berhasil memasuki hati Sesshoumaru, menghancurkan dinding kokoh yang mengelilinginya–sesuatu yang tidak dapat dilakukan siapapun termasuk dirinya–keluarganya. Gadis manusia itu membuat inuyoukai pembenci manusia itu mengerti arti kata–cinta.


Rin adalah keberadaan yang sangat penting bagi Sesshoumaru, Inuyasha tidak pernah meragukan itu sedikitpun. Namun, inuyoukai itu memerlukan waktu yang lama untuk menyadari dan mengakuinya–untuk hal ini, Inuyasha meyadari pertama kali, ternyata mereka berdua cukup mirip. Seperti itu juga, kan, dirinya kepada Kagome dulu? Mungkinkah ini turunan dari ayah mereka?–dia sebagai anak sama sekali tidak pernah tahu cerita kebersamaan kedua orang tuanya.


Mengernyitkan dahinya, Inuyasha segera sadar, kenapa dia memikirkan hal-hal tidak berguna itu?–tujuannya sekarang sama sekali bukan mengenang masa lalu.


Sesshoumaru tetap diam membisu. Tapi dia bisa jelas mencerna setiap ucapan Inuyasha. Tapi, dia tetap tidak tahu harus melakukan apa.


Apakah kau tidak?


Pertanyaan Inuyasha tergiang dalam pikiran Sesshoumaru. Apakah dia tidak? Apakah dia tidak bisa memberikan segala yang Akihiko tawarkan pada Rin?–dia bisa.


Melebihi apapun, Sesshoumaru ingin memberikan sagalanya untuk gadis manusia itu. Kiseki barat, posisi sebagai pasangan sahnya, posisi sebagi ibu dari anaknya, cintanya–bahkan hidupnya. Namun..


Selamanya bersama.


Itu adalah apa yang paling diinginkan gadis manusia itu. Sesshoumaru bisa memberikan segalanya pada Rin, kecuali itu. Konsekuensi kedua kata itu, betapa menakutkannya masa depan yang ada untuk mereka–untuk Rin.


Waktu manusia berlalu dengan cepat, tapi tidak dengannya yang youkai. Gadis itu tidak akan pernah merasakan kehidupannya sebagai manusia yang benar, sebab, dia tidak akan pernah merasakan bagaimana menua bersama pasangan hidupnya. Apakah Rin akan bahagia? Seperti apa Rin akan merasa, saat kulitnya mulai keriput dan rambutnya memutih, tapi dia, Sesshoumaru tetap seperti saat mereka bertemu?–hancur, sedih dan penyesalan.


Selamanya, yang paling diinginkan Sesshoumaru untuk Rin adalah kebahagiaan. Dia ingin setiap detik dilalui gadis manusia itu hingga maut menjemputnya adalah senyum dan tawa.


Inuyasha terus menatap Sesshoumaru, dan pertama kali, dia bisa menangkap emosi dalam mata emas yang identik dengannya. Inuhanyou itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Diam membisu, dia menunggu apakah kakak seayahnya itu akan memberikan jawaban dari pertanyaannya.


Keheningan memenuhi mereka. Hingga akhirnya Inuyasha berdecak kesal. Sepertinya inuyoukai itu memang tidak akan menjawab pertanyaannya. Bangkit berdiri, dia segera mengendong Kagome di punggungnya dan melangkah menjauh.


Sesshoumaru tidak menghentikan Inuyasha, pandangannya kemudian jatuh pada sosok Kagome yang ada di punggung hanyou itu. Melihat mereka berdua, pertama kali juga dia sadar, konsekuensi kebersamaan–apakah Inuyasha tidak pernah memikirkan masa depannya dan miko itu?


Inuyasha yang bodoh tidak akan pernah mengetahuinya, dan kalaupun mengetahuinya, dia tidak akan memikirkannya. Namun, Sesshoumaru juga tidak bisa memghentikan dirinya untuk bertanya.

__ADS_1


"Inuyasha." panggil Sesshoumaru datar.


Inuyasha membalikkan kepala menatap Sesshoumaru di belakangnya terkejut. "Apa?"


Menatap Inuyasha, mata emas Sesshoumaru masih terarah pada sosok Kagome. "Kenapa kau mau menikahi miko itu?"


Pertanyaan Sesshoumaru jelas tidak dipredeksi Inuyasha. Membalikkan badan, dia menatap inuyoukai itu kesal. "Apa maksudmu, berengsek!! Kau menghina Kagome, ya??"


Sesshoumaru tidak mempedulikan kekesalan Inuyasha. Matanya yang menatap Kagome kemudian terangkat menarap wajah adik seayahnya. "Dia adalah manusia dan kau adalah hanyou. Dia akan menua dan mati lebih cepat darimu, apakah kau tidak tahu?"


Pertanyaan Sesshoumaru sekali lagi membuat Inuyasha terkejut. Tapi, perasaan terkejut itu dengan segera kembali menjadi kekesalan. "Tentu saja aku tahu, berengsek."


"Apa kau tidak pernah memikirkan perasaannya jauh di masa depan nanti? Perasaan sedih dan hancurnya saat melihat perbedaan kalian–penyesalan yang mungkin akan lahir.."


Inuyasha terdiam mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Kekesalan di wajahnya menghilang, inuyoukai itu serius dengan pertanyaannya srkarang.


"Cih," berdecak kesal lagi. Inuyasha kemudian menutup mata. "Tentu saja aku memikirkan perasaan Kagome," membuka matanya lagi, dia menatap Sesshoumaru. "Karena itulah aku menikahinya."


Jawaban Inuyasha membuat Sesshoumaru kebingungan. Diam membisu, dia berusaha mencari penjelasan.


Inuyasha jelas bisa melihat kebingungan Sesshoumaru. Menghela napas, dia kemudian menoleh mata menatap wajah tertidur Kagome yang ada di pundaknya. "Kau tahu apa perasaan Kagome? Demi bersama diriku yang seorang hanyou, dia bersedia meninggalkan segala yang berharga baginya, dan dia mengatakan itu karena dia mencintaiku–dia bahagia bersamaku."


"Manusia, hanyou maupun youkai, hidup atau mati, menua atau tidak–aku tidak mempedulikan itu!" tambah Inuyasha lagi, suaranya meninggi dan kedua mata emasnya menatap  Kagome penuh keyakinan. "Kesedihan, hancur ataupun penyesalan di masa depan itu tidak akan terjadi dalam hubungan kami, sebab dia sekarang bahagia, begitu juga ke depannya. Dengan kekuatanku sendiri, aku akan nempertahankan kebahagiaan itu sampai akhir hayatnya. Tidak ada yang lebih penting dari pada kebahagiaannya."


Kembali menatap Sesshoumaru yang diam membisu, Inuyasha tersenyum menyeringai seakan mengejek inuyoukai itu. "Kebersamaan ini tidak akan menjadi penyesalan kami. Penyesalan itu baru akan ada kalau aku tidak berani menerima uluran tangannya–tidak bersamalah penyesalan sesungguhnya."


Sesshoumaru tertegun dengan segala jawaban Inuyasha. Jawaban inuhanyou itu benar-benar merupakan jawaban yang bodoh tanpa memikirkan logika, kemungkinan dan juga kenyataan yang ada. Namun, pertama kali dalam hidupnya, dia tidak membenci kebodohan itu.


"Cih, kau mungkin akan berpikir aku hanya dapat mengatakan ini sekarang, dan saat Kagome telah tiada, aku baru akan tahu apa arti kata penyesalan, kan?" tanya Inuyasha sambil berdecak lagi. "Kuberitahu, Sesshoumaru, aku cukup kuat untuk menghadapi itu semua–aku tidak akan pernah menyesal mencintai dan menikahinya!"


Penyesalan Inuyasha dan Kagome, penyesalan Sesshoumaru dan Rin, menua dan mati, kebersamaan, lalu–kebahagiaan.


Sesshoumaru sadar sekarang, dia terlalu pintar, karena itulah dia tidak pernah tahu apa yang harus dilakukannya. Dia terlalu memikirkan banyak hal, karena itu dia tidak bisa melangkah. Untuk cinta dalam hatinya, selamanya bersama yang terucap–dia seharusnya menjadi bodoh seperti Inuyasha.


Masa depan tanpa Rin seperti apa? Sesshoumaru yakin, dia akan cukup kuat menghadapinya. Dia kuat bukan tanpa alasan, kan? Lalu, melebihi siapapun, dia yakin, dirinya bisa memberikan gadis manusia itu kebahagiaan sampai akhir hayat–tidak ada yang lebih penting baginya daripada kebahagiaan Rin,


"Hei! Sesshoumaru!!" panggil Inuyasha kesal karena merasa tidak dipedulikan Sesshoumaru.


"Inuyasha," panggil Sesshoumaru membalas tiba-tiba membalas panggilan Inuyasha. "Sesshoumaru ini mengerti sekarang."


"Eh??" seru Inuyasha kebingungan dengan ucapan Sesshoumaru. Namun, belum sempat dia mengucapkan apa-apa lagi, inuyoukai itu telah berlari dengan cepat meninggalkan dirinya.


"Apa-apaan ini!!??" teriakan Inuyasha memenuhi taman sakura istana tanah selatan.


....xOxOx....


Akihiko meninju kuat meja kerja yang berada dalam kamar tidurnya. Meja itu langsung hancur, berkas-berkas dokumen yang ada jatuh berserakan ke atas lantai. Kedua mata biru langitnya kini bersinar merah penuh kemarahan, bibirnya terangkat memperlihatkan gigi taring tajamnya.


Kemarahan luar biasa memenuhi hatinya. Rin tidak memberikannya jawaban. Gadis itu tidak mengatakan sepatah katapun saat dia mengantarnya kembali ke kamar.


Alasan gads manusia itu hanya satu; Sesshoumaru. Betapa dia membenci dan ingin membunuh anjing itu sekarang, Akihiko hanya dapat berusaha keras mengontrol amarah dalam hatinya yang semakin memuncak.


"Sesshoumaru..." gumam Akihiko pelan sambil mengertakkan giginya. Dia membenci anjing itu, jika saja anjing itu tidak ada, maka Rin tidak akan pernah ragu untuk menerimanya.


Di luar kamar tidur penguasa tanah selatan, Tsubasa berdiri diam menatap pintu yang tertutup. Dia bisa merasakan kemarahan luar biasa dari pemilik kamar di dalamnya, dan telinganya juga bisa menangkap nama yang digumamkan.


Ada kepuasan dalam hati Tsubasa sekarang. Betapa ingin dia tertawa saat melihat gadis manusia itu menolak Akihiko dengan begitu cepat, betapa bahagia dia saat melihat cinta penguasa tanah selatan itu ditolak.


Namun, tidak dapat dipungkiri juga, ada rasa sakit dalam hati Tsubasa. Akihiko masih belum menyerah, penguasa tanah selatan ini masih berpikir bisa memenangkan hati gadis manusia itu.

__ADS_1


Tsubasa tidak akan membiarkannya, dia tidak akan membiarkan gadis manusia itu dimiliki Akihiko. Karena itulah dia mencari Sesshoumaru, dia tahu, inuyoukai itu pasti akan melakukan sesuatu untuk mengagalkan segala rencana penguasa tanah selatan.


Akihiko tidak akan pernah memiliki gadis manusia itu, seperti halnya dia yang tidak bisa memiliki Akihiko. Selamanya, dia akan memastikan tidak akan ada seorangpun, baik manusia maupun youkai yang memiliki hati penguasa tanah selatan itu.


....xOxOx....


Berbaring di atas futon, Rin yang mengenakan kimono tidur berwarna putih sama sekali tidak dapat tidur meski dia memejamkan mata.


Setiap kata Akihiko masih tergiang dalam kepalanya, dan Rin hanya dapat menghela napas putus asa. Kisaki selatan dan cinta–kenapa penguasa tanah selatan itu ingin memberikan itu padanya?–dia tidak mengerti.


Tapi, Rin tidak akan dapat menerimanya. Yang dicintainya hanyalah Sesshoumaru, dan meski inuyoukai itu tidak akan pernah mencintainya, dia juga tidak mempermasalahkannya. Dia sudah bahagia bisa berada di sampingnya.


"Rin."


Suara panggilan datar dan berat memanggil namanya terdengar. Membuka mata, Rin segera bangkit dari posisi tidurnya. Menatap ke arah pintu shoji kamar, dia bisa melihat siluet dari sosok youkai yang dicintainya.


Terkejut, Rin segera bangkit dan berlari ke arah pintu. Perasaan bingung seketika memenuhi hatinya, dia tahu apa yang dilihatnya sekarang bukanlah khayalannya, ada apa Sesshoumaru mencarinya pada malam-malam begini?


Membuka pintu shoji, kedua mata coklat Rin menemukam sosok Sesshoumaru yang berdiri dalam taman di depan kamar tidurnya seorang diri.


"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin pelan. Melangkah mendekatinya, dia tidak mempedulikan sedikitpun kaki telanjangnya menyentuh tanah, tidak juga kimono tidur yang dikenakannya. Kedua mata coklatnya hanya menatap Sesshoumaru lekat.


Dalam cahaya bulan, Rin bisa melihat jelas, rambut perak panjang yang diterbangkan angin malam, wajah tampannya, lalu–mata emasnya.


Seperti halnya Rin yang menatap Sesshoumaru, Sesshoumaru juga menatap balik Rin. Gadis manusia itu berdiri dengan segala kesederhanaannya, namun, dia lebih indah dan bersinar dari pada bulan di atas langit malam.


Ada banyak yang ingin disampaikan Sesshoumaru pada Rin. Akan tetapi, melihat gadis itu sekarang, dia tidak tahu harus dari mana memulainya.


"Sesshoumaru-sama, ada apa?" tanya Rin. Berdiri tepat di depan Sesshoumaru, dia menatap mata emasnya mencari jawaban.


"Rin," panggil Sesshoumaru lagi dengan pelan. Tidak menolehkan pandangan sedikitpun, mata emasnya menatap lurus gadis manusia di depannya. "Berapa lama kau sanggup mencintaiku?"


Pertanyaan Sesshoumaru membuat Rin terkejut. Dia tidak mengerti kenapa inuyoukai itu bertanya seperti ini padanya. Namun, sejenak kemudian, perasaan terkejut itu menghilang.


Berapa lama? Seumur hidupnya?–tidak! Dalam kehidupan ini, Rin bertemu dengan Sesshoumaru dan mencintainya. Di kehidupan ini juga, dia tahu, cintanya itu selamannya adalah hal terindah dan terbahagia yang pernah dirasakan. Karena itu, untuk kehidupan selanjutnya dan selanjutnya–dia ingin selalu mencintainya.


Sampai kapan dia sanggup mencintai Sesshoumaru? Rin tidak bisa menyembunyikan perasaan hangat dan bahagia yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Perlahan, kedua mata coklatnya berbinar indah, ujung bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum–senyum terindahnya.


"Selamanya. Tidak peduli napasku telah berhenti, tidak peduli ragaku telah tiada, selama jiwaku masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwaku telah tiada, cintaiku pada anda tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu."


Rin tidak menyebut namanya, dia menggunakan 'aku' untuk pertama kali dalam jawabannya ini, sebagai bukti pada inuyoukai itu keseriusannya.


Cinta hingga akhir waktu–inilah cintanya.


Kedua tangan Sesshoumaru terangkat, dengan segenap kekuatan dan juga kelembutan yang dimilikinya, dia memeluk Rin. Jantungnya berdetak cepat, saking cepat dia merasa seakan ingin meledak. Kebahagiaan memenuhi hatinya. Cinta Rin–betapa bahagia dirinya dengan jawaban Rin itu.


"Rin," panggil Sesshoumaru lagi pelan. Kedua tangan yang memeluk Rin semakin erat.  "Tinggal. Tinggallah di samping Sesshoumaru ini selama kau bisa, dan cintailah Sesshoumaru ini hingga akhir waktu."


Mata Rin terbelalak, pelukan ini dan juga ucapan Sesshoumaru. Badannya bergetar karena tidak percaya, mimpikah dia?–tapi, pelukan ini begitu hangat dan nyata.


Menjauhkan badan mereka sejenak, tanpa melepaskan kedua tangan di pinggang Rin, Sesshoumaru kembali menatap wajah Rin. Kedua mata emasnya melembut melihat ekspresi wajah gadis itu.


Kedua mata coklatnya terbelalak menahan air mata yang telah menetes ke bawah. Kedua pipinya bersemu merah bagaikan mawar merah, mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar–ekspresi yang sungguh bodoh. Namun, Sesshoumaru menyukainya.


Tangan kanan Sesshoumaru perlahan naik ke atas menyentuh pipi Rin lembut. Menunduk ke bawah, bibirnya kemudian dengan lembut mencium dan menhapus air mata yang ada. "Jangan menangis lagi, Rin."


Air mata Rin segera berhenti, tetapi pikirannya masih tidak dapat mencerna apa yang terjadi. Kedua mata coklatnya masih terbelalak menatap Sesshoumaru saat bibir itu menjauh dari pipinya.


Mata emas yang menatap Rin semakin melembut, dan sekali lagi, di malam sunyi dalam taman yang sepi, Sesshoumaru kembali mendekap badan munggil gadis manusia itu. Perlahan, ujung bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum di wajah tampan itu.

__ADS_1


Sesshoumaru tahu sekarang, apa yang harus dilakukannya, dia tidak akan ragu lagi. Masa depan maupun selamanya bersama. Seperti halnya Rin yang mencintainya hingga akhir waktu, dia juga akan melakukan hal yang sama. Untuk Rin, dia akan memberikan segalanya, dan dia, Sesshoumaru akan menunjukkannya kepada dunia.


....xOxOx....


__ADS_2