![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sesshoumaru berdiri diam menatap keluar malam musim dingin dari ruang kerjanya. Mengenakan sebuah kimono putih berlambang barat, dia telah menanggalkan jirah besi dan juga pedang Bakusaiga dan Tessaiga di atas meja kerjanya. Telinganya masih bisa mendengar jelas suara tawa, makian serta teriakan dari taman paviliun timur Istana barat. Pesta ulang tahunnya masih belum selesai meski sekarang sudah hampir tengah malam. Para hadirin rata-rata telah mabuk berat, dan dia yakin, pesta itu masih akan berlangsung hingga besok pagi.
Sesshoumaru telah meninggalkan pestanya saat Inukimi mabuk. Dirinya tidak mau meladeni Inukimi yang bisa marah, tertawa dan bahkan menyerangnya setiap detik. Belum lagi ditambah Inuyasha yang juga sudah mabuk. Hanyou itu mencabut Tensaiga menatang semua yang ada, dan tidak ada yang menghentikannya, sebab istri serta teman-teman manusianya yang juga sudah mabuk malah bersorak-sorak menyemangatinya. Namun, alasan sesungguhnya dia meninggalkan pesta adalah karena Rin sudah tidak ada di sana.
Rin juga sudah meninggalkan pesta. Sessaat malam sudah mulai larut, saat Inuyasha, Kagome dan yang lainnya mulai mabuk, gadis manusia itu mengundurkan diri dari pesta untuk menjaga Shiro, Aya, Maya dan Mamoru. Kepergian gadis manusia itu tentu awalnya ditentang banyak orang, namun, mereka tidak dapat menahannya saat Rin tersenyum manis dan mempermisikan diri dengan sopan.
Tetap menatap salju musim dingin di depan, pikiran Sesshoumaru kembali lagi dengan apa yang dilihatnya dalam pesta, tarian dan nyanyian Rin yang dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahunnya. Tidak peduli berapa keras dia mencoba melupakannya, dia tidak bisa. Setiapkali dia menutup mata, dia akan mengingat setiap gerakan serta setiap lirik lagu yang dinyanyikan gadis manusia itu padanya—perhatian dan juga cinta untuknya.
Hidung serta telinga Sesshoumaru tiba-tiba menangkap bau serta suara langkah kaki pelan yang sangat dikenalnya. Tidak bergerak sedikit pun, dia mendengar suara lembut seseorang memanggil namanya. "Sesshoumaru-sama, bolehkan Rin masuk?"
Sesshoumaru tidak menjawab, namun dia bisa mendengar jelas pintu shoji ruang kerjanya terbuka, sebab gadis itu sudah tahu, jika dirinya diam, artinya adalah ya. Tidak sedikit pun dia menoleh wajah ke belakang menatap Rin yang dia tahu telah memasuki ruang kerjanya. Dia bisa mendengar jelas detakan jantung Rin yang cepat, namun yang terpenting dia bisa merasakan jelas kegugupan gadis itu.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. "Maafkan Rin.."
Tidak mengerti maksud ucapan Rin, Sesshoumaru membalikkan badan menghadap Rin yang sedang duduk berlutut di atas tatami. Gadis itu juga telah mengganti kimono merah panjang dengan benarg emas bersulam lambang barat dengan sebuah kimono putih sederhana. Saat mata emas dan coklat mereka bertemu, inuyoukai itu bisa melihat dan merasakan kesedihan gadis itu yang tiba-tiba muncul.
"M-maafkan Rin, Sesshoumaru-sama," ulang Rin lagi. Mata coklatnya berkaca-kaca menahan air mata yang sudah hampir menetes ke bawah. "R-rin telah memalukan Sesshoumaru-sama. T-tidak seharusnya Rin menari dan bernyanyi di pesta. Manusia hina seperti Rin tidak pantas menari di depan semua orang. Rin tida-"
"Rin, cukup." potong Sesshoumaru singkat dengan suara datarnya.
Rin segera terdiam dan menundukkan kepala ke bawah dan menahan isak tangsinya yang telah pecah. Dia sedih, sangat sedih. Saat dia mengetahui hari ulang tahun Sesshoumaru, dia mati-matian mencari hadiah untuk inuyoukai itu. Namun, dia tidak menemukannya. Dia tidak bisa menghadiahkannya permata, kain sutra atau barang berharga lainnya, sebab dia tidak memilikinya. Semua yang dimilikinya berasal dari Sesshoumaru, bahkan bunga-bunga yang ditumbuhkannya juga berasal dari inuyoukai itu. Karena itulah dia berusaha keras memikirkan hadiah yang benar-benar merupakan sesuatu darinya yang dapat dipersembahakan pada Sesshoumaru, yakni tarian dan nyanyian.
Mengarang lagu dan menciptakan tarian itu, betapa Rin berharap Sesshoumaru akan menyukainya, berharap semoga inuyoukai itu akan dapat mengerti betapa dia memuja dan menghormatinya. Namun, sepertinya dia salah, inuyoukai itu tidak menyukainya, dia malah telah memalukan Tanah Barat, mencoreng nama barat dengan mempersembahkan nyanyian dan tarian seorang manusia hina dalam pesta ulang tahun sang penguasa.
Sesshoumaru menatap Rin dalam diam. Bisa dia dengar dan cium asinnya isak tangis gadis manusia itu. Mata emasnya berubah menjadi merah darah. Ada kemarahan dalam hatinya. Mencoreng nama barat? Tidak pantas menari dan bernyanyi? Manusia hina? Siapa yang mengatakan itu pada Rin? Dia akan membunuhnya!
Menutup matanya, Sesshoumaru berusaha keras menahan emosi serta menjaga suaranya tetap datar seperti biasa. "Siapa yang mengatakan itu padamu?"
Tetap tidak mengangkat kepalanya. Rin menjawab dengan pelan. "Tidak ada yang mengatakannya. Tapi Rin tahu, Rin sendiri bisa merasakannya."
Sesshoumaru memubuka mata begitu mendengar jawaban Rin. Mata merah darahnya segera kembali menjadi emas. Kebingungan memenuhi hatinya. Dia tidak mengerti kenapa Rin sampai bisa berpikir seperti itu. Namun, sejenak kemudian, dia malah merasa lucu. Sikap dan pemikiran ini memang merupakan sikap Rin. Sejak dulu, sejak masih kecil, gadis itu selalu saja memikirkan dan menghawatirkan sesuatu yang sebenarnya tidak benar. Gadis itu selalu berusaha memberikan yang terbaik dan takut mengecewakan seseorang.
"Tarian dan nyanyian Rin tidak pantas... R-Rin, Rin..." tangis Rin lagi sambil mengngkat kedua tangan menutup wajahnya.
__ADS_1
Mendekati Rin, Sesshoumaru berlutut di depan dan menatap lekat gadis manusia itu. Tidak pantas? Ya, benar; tidak pantas. Tarian dan nyanyian Rin tidak pantas dipertunjukkan dalam pesta itu, sebab di tempat itu, tidak ada seorangpun disana yang pantas mellihatnya. Tarian dan nyanyian Rin terlalu indah dan mewah untuk mereka.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan. Tangan kanannya dengan pelan serta hati-hati menyentuh dagu gadis manusia itu dan mendonggakkannya hingga mata mereka bertemu. Air mata yang terus mengalir dan kesedihan di wajah Rin, membuat Sesshoumaru merasa tidak suka. Menggerakkan tangan kanannya lagi, dia menghapus air mata yang ada. Mata emasnya terfokus pada Rin. "Kau tidak akan menari dan bernyanyi lagi di depan orang."
Air mata Rin semakin deras mengalir menuruni pipinya. Hatinya terasa sakit. Dia gagal, benar-benar telah gagal, Sesshoumaru-sama tidak menyukai hadiahnya.
"Hanya di depanku. Kau hanya boleh bernyanyi dan menari di depanku seorang."
Air mata Rin segera terhenti. Kedua mata coklatnya terbelalak karena terkejut. "S-sesshoumaru-sama.."
"Tarian dan nyanyianmu yang indah tidak pantas mereka lihat."
Mata coklat yang terbelalak hanya semakin terbelalak. Rin tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Indah? Sesshoumaru-sama memuji tarian dan nyanyiannya? Mimpikah ini? Benarkah? Sesshoumaru-sama tidak pernah berbohong, jadi apa yang dikatakannya pasti benar. Tarian dan nyanyiannya indah; Sesshoumaru-sama menyukainya. Kebahagiaan dan kehangatan yang tidak dapat dibendung lagi langsung memenuhi hati Rin. Air mata yang sempat terhenti kembali mengalir, bedanya, ini adalah air mata kebahagiaa. Senyum lebar merekah di wajahnya.
Sesshoumaru tertegun, tidak bergerak. Melihat senyum Rin sekarang, hatinya berdetak cepat tidak seperti biasanya. Tangan Rin dengan pelan bergerak menyentuh tangan yang menghapus air matanya. Dengan senyum yang ada, dia mengangguk-angguk kepala. "I-iya. Rin mengerti. Rin tidak akan menari dan bernyanyi lagi. Hanya dihadapan Sesshomaru-sama seorang saja, Rin akan menari dan benyanyi, hanya untuk Sesshoumaru-sama seorang saja..."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi. Melepaskan tangannya, dia kemudian bangkit dan kembali berjalan mendekati jendela kamarnya yang terbuka. Rin tidak bergerk sedikit pun, dia tetap berlutut di tempatnya berada dengan senyum di wajah. Mata coklatnya mengikuti sosok inuyoukai tersebut.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi. Baik Sesshoumaru maupun Rin terdiam sejenak hingga akhirnya, Sesshoumaru kembali memulai pembicaraan. "Rin. Mengenai hari ulang tahunmu. Sesshoumaru ini telah memutuskanya."
Senyum di wajah Rin segera menghilang begitu mendengar ucapan Sesshoumaru. Tidak bergerak, mata coklatnya kembali terbelalak.
Membalikkan badannya, mata emas Sesshoumaru kembali bertemu dengan mata coklat Rin. "Hari ulang tahunmu adalah," lanjutnya tanpa mengubah intonasi suaranya. "Hari ini."
Rin terdiam tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Dia tidak bergerak sedikit pun. Perasaan terkejut yang terus menyerangnya sejak tadi benar-benar membuatnya merasa dia sedang bermimpi sekarang. Pujian untuk tarian dan nyanyiannya, dan kini, hari ulang tahunnya. Benarkah? Benarkah yang dia dengar sekarang? Dia bermimpi, dia pasti sedang bermimpi sekarang!
Perlahan, Rin kemudian bangkit dan bergerak mendekati Sesshoumaru. Berdiri di depan inuyoukai itu, dengan tangan kecilnya yang gemetaran, dia menyentuh wajah tampan tersebut. "Ini mimpi, kan, Sesshoumaru-sama? Rin sedang bermimpi, kan?" tanyanya.
Kehangatan dan juga pertanyaan Rin membuat Sesshoumaru seakan ingin tersenyum. Mimpi? Tidak. Ini bukan mimpi, tapi, kenyataan. Sejak Inukimi mengatakan dirinyalah yang akan menentukan hari ulang tahun gadis manusia itu, dia memikirkan musim semi, saat bunga telah bermekaran, sebab gadis itu memang merupakan Putri musim semi. Namun, dia akhirnya membatalkan hal itu, membatalkannya saat dirinya merasakan keinginan untuk memiliki gadis itu seutuhnya.
"Kau tidak bermimpi Rin. Ulang tahunmu adalah hari ini."
Di dunia ini, Sesshoumaru ingin Rin hanya melihat dirinya seorang saja. Demi perhatian, pikiran serta hatinya, dia akan melakukan segalanya. Ya, dia mengakuinya untuk pertama kali dalam hidupnya. Gadis manusia yang dulu dihidupkannya dulu, tidak tahu bagaimana, kini telah menjadi sesuatu yang paling berharga baginya. Ulang tahun gadis itu, tidak salah lagi adalah hari ini, hari yang sama dengan hari kelahirannya, sebab gadis itu sudah bagaikan bagian dari dirinya.
__ADS_1
Air mata kembali mengalir menuruni pipi Rin, namun dia tersenyum. Kenapa dia menjadi cengeng sekali hari ini? Tidak tahu kenapa, sejak tadi air matanya tidak henti-hentinya menetes.
Megangkat tangannya menghapus air mata yang ada, Sesshoumaru menatap mata Rin, tenggelam dalam jernihnya sepasang mata itu. "Apa yang kau inginkan, Rin? Hadiah ulang tahunmu, sebutkan."
Permata, emas, sutra, kimono, bunga, lukisan, shamisen, istana, bahkan jika Rin menginginkan bulan, dia akan mencari caranya untuk memberikan bulan padanya. Kenapa dia bisa berpikir seperti itu, dia sudah tidak tahu lagi, yang dia tahu kini hanya satu; untuk Rin, segalanya akan dia berikan.
Mengenggam tengan Sesshoumaru, menekannnya hingga dia bisa merasakan kehangatan telapak tangan itu lebih kuat di pipinya, Rin tertawa kecil.
Hadiah?
Hadiah ulang tahunnya, apa yang dia inginkan? Rin tidak memerlukan emas atau permata, tidak menginginkan sutra, kimono indah atau shamisen mewah, tidak juga dengan bunga. Sebenarnya, Sesshoumaru yang menanyakan, apa yang dia inginkan adalah sesuatu hal yang lucu. Dia sudah mengatakannya sejak dulu-dulu sekali. Tidak pernah berubah sedikit pun, dari dulu hingga kini, dan dia juga yakin, tidak akan berubah juga di masa depan. Keinginannya dalam keberadaannya hanya satu, yakni..
"Selamanya bersama. Hadiah yang Rin inginkan adalah Rin ingin selalu bersama dengan Sesshoumaru-sama selamanya.
Sesshoumaru tidak dapat menahannya lagi. Mendengar jawaban Rin, hadiah yang diinginkannya, dia tahu; persetan dengan semuanya! Dia adalah penguasa tanah barat, youkai terkuat dan berkuasa, tidak ada yang berani menilai sikapnya. Melepaskan tangannya yang dipegang Rin, dengan cepat dia memeluk erat gadis itu. Tangan kirinya memeluk pinggang gadis itu, sedangkan tangan kanannya memendamkan wajah sang gadis di dada.
"Hadiah ulang tahunmu, Sesshoumaru ini akan mengabulkannya."
Rin tidak dapat menahan isak tangisnya lagi. Mengangkat tangan dia membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Hatinya terasa sangat sakit dan sesak; karena kebahagiaan tak tergambarkan.
Selamanya bersama.
Kata itu sangat sederhana. Namun, Rin bukanlah orang yang tidak tahu diri. Selamanya bersama, itu adalah sesuatu yang mustahil, sebab dia adalah manusia dan Sesshoumaru adalah youkai. Mereka tidak akan dapat bersama untuk selamanya. Namun, untuk sekarang, tidak apa-apa, kan? Tidak apa-apa, kan jika dia berpikir mereka akan memiliki selamanya? Hari ini adalah ulang tahunnya-ya! Dia boleh. Untuk hari ini saja, dia boleh berpikir untuk memiliki selamanya bersama Sesshoumaru.
"Selamanya bersama. Rin ingin selamanya bersama Sesshoumaru-sama.."
Semakin mempererat pelukannya, Sesshoumaru menenggelamkan wajahnya pada rambut hitam Rin, menghirup bau musim semi yang disukainya.
Selamanya bersama.
Sesuatu yang sederhana, namun mustahil, itulah hadiah ulang tahun yang diinginkan Rin, dan Sesshoumaru tahu itu. Namun, dia tidak peduli. Ya! Tidak apa jika Rin manusia, sebab dengan pengetahuan, kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya, dia akan menghentikan waktu Rin. Dia akan membuat Rin hidup selama dirinya. Selamanya bersama, dia akan mengabulkannya, sebab dia sadar sekarang, benar-benar sadar. Dia tidak mau kehilangan gadis itu, dia ingin gadis itu selalu dan selamanya bersama dengan dirinya. Selamanya bersama; itu juga merupakan hadiah ulang tahun yang paling diinginkannya.
....xOxOx....
__ADS_1