Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 26


__ADS_3

"Aku tidak mengerti dirimu, Sesshoumaru," kata seorang youkai wanita berambut perak dengan wajah santai penuh kemalasan. Kedua mata emasnya terarah menatap sosok Sang Penguasa tanah Barat yang membelakanginya dalam kamar Rin di paviliun timur istana tanah barat. "Meski aku, Inukimi, adalah wanita yang melahirkanmu, aku tidak pernah dapat mengerti dirimu."


Sesshoumaru hanya diam membisu tanpa bergerak sedikit pun. Dia bahkan tidak mempedulikan para youkai, hanyou dan manusia yang berada dalam ruangan yang sama dengannya, kedua mata emasnya terus saja menatap lurus lukisan seorang gadis manusia yang sedang tersenyum di depannya-lukisan Rin.


Inukimi kemudian menolehkan mata emasnya menatap Akiko yang sedang ditahan dua prajurit istana barat tidak jauh di sampingnya. Ekspresi wajahnya tetap saja tidak berubah, yakni santai penuh kemalasan. "Kapan kau akan membunuh rubah ini?"


Pertanyaan Inukimi membuat wajah Akiko yang penuh dengan luka menjadi pucat pasi. Kedua tangannya yang terikat rantai besi langsung gemetar, "Kau tidak akan berani!" matanya menatap sosok Sesshoumaru yang ada di depannya. "Kau tidak akan berani membunuhku! Jika kau membunuhku, Shura akan selamanya mencapmu sebagai seorang Ayah yang membunuh Ibunya!"


"Ayah yang membunuh Ibu? Keh! Siapa yang mau kau bodohi?!" cibir seorang pria berumur awal dua puluh tiba-tiba. Dia berambut perak panjang dengan sepasang telinga anjing di atasnya. Kedua mata emasnya menatap tajam Akiko, sedangkan kedua tangannya terlipat di atas kimono merah yang dikenakannya.


"Shura mengenalku sebagai ibundanya, wanita yang melahirkannya! Itu adalah kenyataan!" teriak Akiko keras menatap pria itu.


"Kenyataan?" balas pria itu penuh kekesalan, "Siapa yang mau kau tipu, berengsek!?"


"Inuyasha, tenangkan dirimu," ujar seorang wanita berpakaian miko tiba-tiba sambil menyentuh pundak pria itu. Wanita itu berambut hitam dan bermata coklat, usianya juga terlihat sama dengan Inuyasha.


"Jangan menyuruhku tenang, Kagome! Aku ini suamimu, jadi biarkan aku menyelesaikan ucapanku dulu. Seenaknya saja dia mengatakan Shura adala—"


"Inuyasha, tenanglah. Apa yang akan kau dapatkan dari kemarahanmu itu?" potong seorang pria berambut serta mata hitam tiba-tiba, dia mengenakan pakaian seorang biksu dan usianya terlihat sekitar pertengahan tiga puluh.


"Benar kata Miroku, Inuyasha, tenanglah." tambah seorang wanita yang ada di samping Miroku pelan. Usianya terlihat sama dengan Miroku. Rambut hitam panjang yang diikat ekor kuda dengan sepasang mata berwarna coklat, dan dia mengenakan pakaian seorang taijiya.


"Terima kasih karena setuju denganku, Sango." Senyum Miroku sambil menatap wanita tersebut.


"Inuyasha-san. Kami semua mengerti perasaanmu, tapi, ketahuilah, ini memang bukan saatnya untuk marah." Kata seorang pria berusia akhir dua puluh. Rambut hitam yang panjang diikat satu, mata coklatnya menatap tenang sosok hanyou yang terlihat masih penuh kemarahan. Dan sama seperti Sango, pria itu juga mengenakan pakaian seorang taijiya.


"Ya, bagus sekali! Terima kasih karena setuju denganku, adik iparku, Kohaku." Kata Miroku lagi sambil menatap pria tersebut.


Inuyasha hanya membuang wajah mendengar ucapan istri dan semua temannya. Dia tidak mengatakan apa pun lagi, sebab dia tahu, semua itu pasti tidak akan ada gunanya lagi.


"Jika anda tidak bisa membunuhnya, maka biarkan hamba saja yang membunuh rubah itu, Sesshoumaru-sama." ujar seseorang youkai wanita tiba-tiba. Dia berambut perak pendek dan bermata emas seperti semua inuyoukai yang ada. Youkai itu terlihat seperti awal dua puluh, dia mengenakan kimono biru lengkap dengan pakaian perang berwarna perak. Wajahnya yang cantik memang terlihat tenang, namun aura disekitarnya jelas mengatakan sebaliknya.


"Hamba juga dengan senang hati akan melakukan itu, Sesshoumaru-sama." Tambah seorang youkai pria. Sama seperti youkai wanita tersebut, dia juga mengenakan kimono biru lengkap dengan pakaian perang berwarna perak, bahkan wajah mereka juga sangat mirip. Sekali lihat saja, semua orang akan tahu, mereka berdua adalah saudara kembar.


Kedua youkai itu langsung berjalan mendekati Akiko. Wajah Selir penguasa tanah barat itu langsung memucat. Dia tahu, kedua youkai itu serius. Mereka berdua tidak akan segan-segan membunuhnya, dan kematiannya pasti akan menjadi kematian yang sangat lambat dan menyakitkan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kedua youkai itu sangat membencinya sejak dulu.


"Hentikan, Kiri, Kira." Perintah Sesshoumaru kalem tiba-tiba tanpa membalikkan badannya.


Kedua youkai itu langsung berhenti dan menolehkan wajah menatap Sesshoumaru. "Kenapa anda menghentikan kami, Sesshoumaru-sama?" tanya Kiri, youkai wanita tersebut, ada kemarahan dalam nada suaranya. Namun, saudara kembarnya, Kira tiba-tiba berteriak penuh kemarahan menatap Penguasa Tanah Barat dengan mata yang telah berubah warna semerah darah. "Iya! Kenapa!? Setelah apa yang rubah ini lakukan, menghianati barat, dan berkeinginan memanfaatkan Shura-sama, kenapa anda masih menghentikan kami, Sesshoumaru-sama?"


"Karena Rin tidak akan menginginkan itu terjadi." Jawab Sesshoumaru.


Kiri dan Kira langsung terdiam karena terkejut mendengar jawaban tersebut, begitu juga dengan semua yang disana. Mata mereka semua terbelalak mendengar jawaban yang diluar dugaan.


"Keh!" cibir Inuyasha tiba-tiba. Mata emasnya menatap penuh kemarahan sosok Sesshoumaru yang masih saja menatap lukisan Rin. "Rin, Rin, Rin. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu Sesshoumaru. Tapi, aku percaya, jika Rin masih ada di sini, dia pasti tidak akan setuju dengan apa yang kau lakukan. Merahasiakan semuanya dari Shura, kau pikir dia akan senang?!"


Sesshoumaru diam membisu.


"Inuyasha, hentikan!" ujar Kagome pelan berusaha menenangkan suaminya.


"Jangan menyuruhku berhenti Kagome!" teriak Inuyasaha penuh kemarahan menatap Kagome. Sejenak kemudian, dia kembali menolehkan wajah menatap Sesshoumaru. "Apakah kau sudah melupakannya?! Melupakan Rin?! Kau tahu! Kau yang kejam, dingin, egois dan tidak berperasan sama sekali tidak pernah pantas untuknya!"


"Inuyasha, hentikan!" teriak Kagome lagi. Namun, yang besangkutan tidak peduli, dia terus saja berteriak mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya. "Aku seharusnya menentang keinginannya untuk bersamamu dulu! Youkai seperti dirimu tidak pernah pantas untuk mendapatkan cintanya!?"


Kagome yang sudah tidak tahan lagi dengan semua kata Inuyasha langsung berteriak menggunakan kata yang dia tahu pasti akan menghentikan mulut hanyou tersebut. "Inuyasha! Osuwari!"


Dorongan gravitasi yang berat tiba-tiba menyerang Inuyasha dan membuatnya jatuh terkapar di atas lantai tatami tempatnya berada. "Ahhh!" teriak Inuyasha. Kepalanya langsung terangkat menatap miko sekaligus istrinya itu. "Apa-apaan kau, Kagome?!"


"Tutup mulutmu!" bentak Kagome kesal. Dia kemudian menoleh kepala menatap Sesshoumaru yang tetap saja berdiri tanpa gerak sedikit pun. Dia tidak bisa menghentikan perasaan sedih yang menyelimutinya. Apa artinya sosok gadis manusia bernama Rin itu bagi youkai penguasa tanah barat, betapa penting dan berharganya gadis itu, dia tahu-tidak! Bukan hanya dirinya, mungkin Inuyasha sendiri serta semua yang ada dalam ruangan ini tahu, karena itu, kata-kata Inuyasha tadi sesungguhnya sudah sangat kelewatan.

__ADS_1


"Ya, kau benar Inuyasha. Sesshoumaru ini adalah youkai dan Rin adalah manusia. Youkai dan manusia. " kata Sesshoumaru tiba-tiba, membuat semua yang ada menatapnya. "Manusia adalah makhluk hidup yang tidak berguna, lemah, rapuh dan bodoh."


"Apa maksud ucapan anda barusan, Sesshoumaru-sama?" tanya Kohaku bingung, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, penguasa tanah barat itu tidak peduli, dia tetap menuruskan kata-katanya yang belum terselesaikan. "Terlebih lagi untuk Rin. Dia yang lemah dan rapuh benar-benar merupakan manusia terbodoh di dunia."


Ucapan Sesshoumaru membuat mata semua yang ada di sana terbelalak karena terkejut. Sejenak kemudian ekspresi terkejut mereka segera berubah menjadi ekspresi kemarahan, kecuali Inukimi yang masih saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Tarik kembali ucapanmu barusan, berengsek!?" teriak Inuyasha penuh kemarahan.


Sesshoumaru tetap saja tidak mempedulikan Inuyasha maupun semua orang yang kini menatapnya penuh kemarahan. "Kenyatan adalah kenyataan. Seshoumaru ini tidak bisa mengubahnya. Tidak akan ada yang bisa."


"Kau!" teriak Inuyasha, dia segera bergerak maju, bersedia menyerang saudara seayahnya. Namun, pintu shoji ruangan tempat mereka berada tiba-tiba terbuka, memperlihatkan sosok Shura yang berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.


Belum sadar dari perasaan terkejut yang memenuhi hati mereka semua dengan kemunculan Shura yang tiba-tiba, sosok Sakura, Shiro, Mamoru, Aya dan Maya muncul dari belakang Shura. Mata Sakura langsung berbinar karena kegembiraan saat melihat Inuyasha dan Kagome. Tanpa membuang waktu, hanyou kecil itu langsung berlari mendekati mereka berdua. "Ibu! Ayah!" panggilnya gembira. Shiro juga segera berlari mendekati kedua orang tua mereka sambil tersenyum, diikuti Mamoru, Maya dan Aya yang berlari mendekati kedua orang tua mereka, yakni; Miroku dan Sango.


"Kenapa kalian bisa berada di sini?" tanya Inuyasha bingung. Dia segera mengangkat tangan menggendong putri kesayangannya.


"Sakura ada di sini karena mengikuti Kak Shura, Ayah." Jawab Sakura sambil tertawa.


Nama Shura yang disebutkan Sakura membuat Inuyasha dan semua yang ada dalam ruangan menolehkan wajah menatap Shura yang masih berdiri di depan pintu. Wajah inuyoukai kecil itu tetap saja tanpa ekspresi. Meski dia tidak mengenal siapa youkai dan manusia yang ada di depannya, dari bau yang tercium serta aura yang terasa, dia tahu, siapapun yang ada di depannya, sebagian besar masih merupakan kerabatnya. Matanya kemudian jatuh pada Akiko yang sedang ditahan dua prajurit. Sebuah senyum menghiasi wajah Selir penguasa tanah barat saat melihat Shura. "Shura, anakku.. Akhirnya kau pulang. Tolong! Cepat tolong ibundamu ini.." pintahnya lirih.


Ucapan Akiko membuat semua yang ada di sana menoleh kepala menatap youkai rubah itu penuh kemarahan. Namun, Akiko tidak peduli, dia tetap menatap Shura dengan mata penuh air mata, "Shura, anakku! Lihatlah, apa yang telah mereka lakukan pada ibundamu ini.."


Shura menatap Akiko dengan wajahnya yang tetap tanpa ekspresi seperti biasa, sejenak kemudian, dia mengangkat kepala menatap semua yang ada di depannya. Saat pandangannya kemudian jatuh pada sosok punggung Ayahandanya, dengan pelan dan tegap, dia melangkah kaki mendekat. Tidak dipedulikannya sedikit pun tatapan penuh kebingungan semua orang pada dirinya, maupun Akiko yang masih terus memohon pertolongan padanya.


Saat tiba di belakang Sesshoumaru, Shura langsung membungkukkan badan memberi hormat. "Aku sudah pulang, Ayahanda.."


Sesshoumaru hanya diam membisu tidak membalas salam Shura. Kedua mata emasnya masih terpusat pada lukisan di depannya yang telah ditatapnya sejak tadi.


Melangkahkan kakinya lagi, Shura kemudian berdiri di samping Sesshoumaru. Seperti ayahandanya, dia mengangkat kepala menatap lukisan gadis manusia yang sedang tersenyum di depan. Mata emasnya yang tajam dan dingin langsung melembut. Sebuah senyum kecil mengembang di wajahnya yang tampan.


Akhirnya.


Akhirnya dia bisa melihat lagi lukisan ini. Melihat senyum musim semi yang begitu dicintainya, melihat sosok dari gadis manusia yang selalu mencintai dan dicintainya-melihat lukisan dari wanita yang sesungguhnya melahirkan dirinya.


Mata semua yang ada segera terbelalak karena terkejut, tidak pernah mereka menyangka bahwa Shura tahu akan kebenaran siapa sebenarnya Rin itu.


Sesshoumaru hanya dia membisu. Dia tidak terkejut sedikit pun dengan apa yang dikatakan Shura. Sejak pertama kali dia melihat putranya menemukan lukisan Rin, dia sudah tahu, cepat atau lambat apa yang dirahasiakannya pasti akan ketahuan. Shura adalah anaknya, putranya yang mirip sekali dengannya. Meski dirahasiakan, disembunyikan, dibohongi, dia pasti akan menemukan kenyataan darah siapa yang sesungguhnya mengalir dalam dirinya—darah manusia; darah Rin.


Menutup matanya dengan pelan, kenangan akan Rin seketika juga merasuki dirinya. Sesshoumaru bisa mendengar jelas tawa nyaring bagai dentingan lonceng yang disukainya, melihat dengan jelas senyum musim semi yang dicintainya. Masa lalu mereka, kebahagiaan dan penderitaan, tawa dan air mata, kebersamaan dan juga perpisahaan mereka...


.......


.......


.......


.......


...Berapa lama kau sanggup mencintaiku?...


..."Selamanya. Tidak peduli napasku telah berhenti, tidak peduli ragaku telah tiada, selama jiwaku masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwaku telah tiada, cintaiku pada anda tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu."...


.......


.......


.......


.......


..."Rin ingin selalu bersama Sesshoumaru-sama."...

__ADS_1


..."Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari pada dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshoumaru-sama."...


..."Hidup Rin adalah pemberian Sesshoumaru-sama, karena itu, untuk anda, Rin bersedia untuk mati."...


..."Di dunia ini, Rin hanya ingin berada di samping Sesshoumaru-sama seorang saja, tidak ada yang lain lagi."...


..."Sesshoumaru-sama, apakah Rin terlihat aneh dan jelek? Rin tahu Rin bodoh, Rin hanya berusaha mempercantik diri supaya tidak memalukan anda, sebab Rin selamanya adalah bawahan anda.."...


..."Jika ini adalah mimpi, jangan bangunkan Rin lagi. Biarkan Rin berada di mimpi ini selamanya; mimpi bisa menjadi pengantin Sesshoumaru-sama."...


..."Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama. Cinta, cinta, cinta, sangat mencintai anda, hanya anda."...


..."Terima kasih. Terima kasih, terima kasih, terima kasih telah bersedia menajdi keajaiban untuk Rin. Dan terima kasih, Sesshoumaru-sama. Terima kasih sudah bersedia menciptakan keajaiban ini bersama Rin."...


..."Cinta. Rin mencintaimu. Sesshoumaru-sama juga mencintaimu. Tumbuhlah dengan baik. Tumbuhlah dengan sehat. Rin dan Sesshoumaru-sama akan selalu melindungimu..."...


..."Rin pasti akan memberikan Sesshoumaru-sama keluarga yang bahagia."...


..."Dalam hidup Rin, yang membuat keputusan adalah Sesshoumaru-sama. Tapi, tidak untuk kali ini. Kali ini, yang membuat keputusan adalah Rin."...


..."Namanya adalah Shura. Shura yang berarti pertarungan. karena hidupnya kelak pasti akan penuh pertarungan. Pertarungan yang pasti akan dimenangkannya."...


..."Jangan khawatir, Sesshoumaru-sama. Untuk anda dan Shura, Rin akan hidup."...


..."Darah manusia Rin tidak akan membuatnya menjadi hanyou. Shura akan lahir sebagai Inuyoukai sejati berharga diri tinggi. Tampan, bijaksana dan kuat, seperti anda Sesshoumaru-sama."...


..."Langit berwarna biru, rumput dan pohon berwarna hijau, bunga berwarna-warni. Matahari yang hangat, hembusan angin yang lembut. Rin akan menunjukkan itu semua padamu, Shura. Karena itu, lahirlah dengan selamat."...


..."Selamat datang ke dunia, Shura. Selamat datang ke dunia ini, anakku, putraku..."...


..."Ikatan abadi. Selamanya, ikatan kita bertiga tidak akan pernah terputuskan..."...


..."Maaf karena Rin tidak berguna, maafkan Rin karena tidak bisa membesarkanmu, Shura.."...


..."Rin tidak ingin Shura besar tanpa seorang ibu. Rin ingin Shura memiliki ayah, memiliki ibu. Tidak pernah dicap sebagai anak tanpa ibu dan memiliki keluarga yang sempurna. Rin tidak mau Shura hidup seperti Rin dulu."...


..."Jika suatu hari nanti Rin benar-benar telah tiada. Bakarlah raga Rin. Biarkan abu Rin hilang dibawa angin. Sebab Rin tidak ingin raga tanpa jiwa Rin digunakan sebagai senjata untuk melawan Sesshoumaru-sama bagi siapa pun juga..."...


..."Sesshoumaru-sama, Rin dan Shura. kita bertiga, keluarga. Selalu bersama untuk selamanya.."...


..."Kematian pertama, Rin dihidupkan Sesshoumaru-sama. kematian kedua, Rin dihidupkan Ibunda, karena itu, kematian ketiga adalah kematian Rin yang sesungguhnya. Rin tidak bisa mencurangi kematian lagi. Tapi, Rin ingin tinggal, Rin tahu itu egois, Rin tidak mau menginggalkan Sesshoumaru-sama dan Shura.."...


..."Iya, Sesshoumaru-sama. Rin tidak akan kemana-mana. Rin akan tinggal, selama anda memerintahkan.."...


..."R-Rin mohon, keluar, Sesshoumaru-sama. Rin tidak apa-apa. Sungguh, Rin tidak apa-apa. Keluarlah..."...


..."Terima kasih, Sesshoumaru-sama. Untuk semua yang telah anda berikan pada Rin, terima kasih.."...


.......


.......


.......


.......


.......


..."Berapa lama anda sanggup mencintai Rin, Sesshoumaru-sama?"...

__ADS_1


..."Selamanya. Tidak peduli napasmu telah berhenti, tidak peduli ragamu telah tiada, selama jiwamu masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwamu telah tiada, cintaiku padamu tidak akan pernah berubah. Sesshoumaru ini akan selalu mencintaimu, Rin. Hingga akhir waktu..."...


__ADS_2