![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Rin membuka matanya. Rasa nyeri serta sakit yang menusuk tulang dirasakannya. Namun, dia segera mengabaikannya. Walau sulit pada awalnya, tapi, setelah sekian lama, dirinya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.
"Aaaa..." suara pelan yang terdengar dari sampingnya membuat seulas senyum memenuhi wajah cantik Rin yang pucat. Suara kecil yang merupakan keajaiban dalam keberadaannya—Shura, putranya tercinta.
Menoleh ke samping, mata coklatnya menemukan sosok dari Shura yang berada dalam gendongan ayahnya, Sessoumaru, sang penguasa tanah barat. "Sesshoumaru-sama..." panggil Rin pelan dengan senyum lemah di wajah.
Sesshoumaru tidak membalas sapa Rin. Mengangkat badan kecil Shura dan meletakkannya di samping wanita manusia itu, dengan reflek tanpa diajarkan lagi, inuyoukai kecil itu membuka kedua tangannya memeluk leher ibunya. Tertawa dengan sangat bahagianya, dia memendamkan wajahnya pada celeh leher yang ada untuk menghirup bau yang begitu disukainya.
Rin ikut tertawa dengan sikap Shura. Memiringkan wajahya, dia menempelkan pipi kanannya pada kepala putranya. "Ada apa, putraku dari barat?—kenapa kau terlihat bahagia sekali hari ini?"
Sesshoumaru yang melihat interaksi Rin dan Shura mengangkat tangan kanan dan membelai lembut punggung putranya. Pandangan mata emasnya yang lembut terarah pada senyum tawa istri dan anaknya. Inuyoukai selalu menyukai pemandangan ini—tawa mereka yang dicintainya.
"Rin."
Suara seseorang yang datar namun kuat memanggil namanya terdengar dan mengejutkan Rin. Seketika kisaki tanah barat sadar, ada orang lain di kamar ini selain mereka, yakni; Akihiko, sang penguasa tanah selatan.
"A-akihiko-sama?" panggil Rin terbata-bata. Kedua matanya terbelalak tidak percaya saat melihat youkai serigala yang berada tidak jauh di belakang Sesshoumaru.
Sesshoumaru dengan pelan segera bergerak. Mengangkat badan istri dan anaknya, dia kemudian duduk di belakang Rin. Menyandarkan badan mungil yang tidak bertenaga pada dadanya, dia menempatkan Shura di atas perut wanita manusia itu. Lalu, dengan pelan juga, dia mengangkat kedua tangan kecil yang tidak bisa bergerak lagi melingkar badan putra mereka dalam sebuah pelukan hangat.
Shura yang awalnya dipisahkan dari Rin mengeram dan meronta tidak suka. Namun, saat dia merasakan tangan kedua orang tuanya yang memeluk dirinya, senyum dan tawa kembali memenuhi wajah. Berada dalam pelukan ibu dan ayahnya selalu dan selamanya adalah tempat paling aman dan nyaman dalam hidupnya.
Akihiko tidak mengatakan apa-apa, mata biru langitnya menatap setiap gerakan Sesshoumaru, dan tanpa dijelaskan dia bisa mengetahui kondisi Rin yang kini ada di depannya. Dari berita di luar, semua yang ada mengatakan wanita manusia itu sedang sakit, sedang sekarat, dan itu ternyata memang—benar.
Baru tidak lama melihatnya, Rin mengurus banyak. Wajahnya pucat tanpa darah, suaranya juga terdengar sangat pelan dan tidak bertenaga. Dari gerakan Sesshoumaru yang menggerakkan tangannya tadi, Akihiko tahu, kedua tangan kecil itu tidak bisa bergerak. Lalu, yang paling penting, dua suara detakan dari badan mungil yang berdetak tidak seirama—sang penguasa tanah selatan sungguh tidak tahu apa yang terjadi dengan kisaki tanah barat itu lagi.
"Akihiko-sama, kenapa anda ada disini?" tanya Rin lagi dengan pelan. Seulas senyum kemudian memenuhi wajahnya.
"Aku datang menjengukmu." Jawab Akihiko dan tersenyum. Masih menatap Rin, dia kembali bertanya. "Kau tidak apa-apa?"
Rin tertawa mendengar pertanyaan Akihiko. "Rin tidak apa-apa. Terima kasih telah bertanya, Akihiko-sama."
Akihiko hanya mengangguk kepala mendengar balasan Rin. Senyum masih ada di wajahnya, namun dalam hati, dia hanya berpikir bagaimana wanita manusia ini masih saja bisa berbohong seperti ini?—dia terlalu jauh dari kata; tidak apa-apa.
"Kau tahu Rin," ujar Akihiko lagi. Kedua mata biru langitnya tetap menatap Rin yang masih tersenyum. "Ada yang datang dan membawakan informasi akan keberadaan fushi no kusuri saat kau tertidur tadi."
"Eh??" terkejut, Rin segera menoleh wajahnya ke belakang menatap Sesshoumaru. "S-sesshoumaru-sama, benarkah itu?"
Sesshoumaru mengangguk kepala pelan membenarkan ucapan Akihiko. Kedua matanya bisa melihat jelas sinar kegembiraan serta senyum yang perlahan memenuhi wajah Rin.
"S-siapa? Siapa informan itu?" tanya Rin lagi. Senyum di wajahnya semakin melebar bagaikan bunga musim semi yang mekar.
"Informan itu adalah Akiko dari tanah timur." Suara pelan dan datar Akihiko terdengar kembali menjawab pertanyaan Rin.
Jawaban Akihiko membuat Rin tertegun. Menatap penguasa tanah selatan tersebut kembali, dia tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa.
Akiko dari tanah timur.
Rin kenal youkai rubah tersebut, putri tunggal dari Asano sang penguasa tanah timur, hime dari tanah timur. Diakah orang yang mengetahui dimana fushi no kusuri berada?
"Dan kau tahu apa yang dia inginkan sebagai ganti dari informasi akan keberadaan fushi no kusuri, Rin?" tanya Akihiko, mata biru langitnya menatap lurus Rin melihat reaksi yang akan diberikan wanita manusia itu saat mengetahui keinginan Akiko. "—dia menginginkan posisimu sebagai kisaki tanah barat."
Apa yang dikatakan Akihiko kembali membuat Rin tertegun. Menoleh kepalanya menatap Sesshoumaru lagi, dia mencari pembenaran, namun, saat dia melihat inuyoukai itu kembali mengangguk kepala, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Apa jawabanmu, Rin?" tanya Akihiko lagi. "Akankah kau turun dari posisi sebagai kisaki tanah barat?"
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan yang ada membuat Rin semakin bingung. Dia tidak bisa menjawab. "R-rin... Ri—"
"Berengsek!!!!!" suara teriakan penuh kemarahan Inuyasha yang keras terdengar bersamaan dengan pintu shoji yang terbuka.
Berlari masuk ke arah Akihiko, Inuyasha mengangkat dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terangkat besedia memukul sang penguasa tanah selatan ini. "Beginikah caranya kau bertanya, sialan?! Kau kira kau itu siapa???"
"Inuyasha, osuwari!!!" teriakan Kagome terdengar kuat, sebelum Inuyasha benar berhasil memukul Akihiko.
Jatuh terpuruk ke bawah karena gravitasi kasat mata, Inuyasha berteriak marah dan menatap Kagome. "Kagome!!!!!!!!"
Menatap pintu shoji yang terbuka, Rin melihat Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku berjalan masuk. Wajah mereka tenang, namun mata mereka tidak dapat menyembunyikan kegusaran di dalam hati.
Kagome yang tidak mempedulikan teriakan Inuyasha hanya dapat menghela napas, dia tidak tahu harus menyalahkan Akihiko yang menjelaskan situasi dan kondisi segamblang ini pada Rin serta Sesshoumaru yang tetap berdiam diri. Terus terang memang lebih baik, tapi, apakah mereka tidak bisa melakukannya dengan cara lebih lembut?
"Grrr..Gr..." Suara geraman penuh kemarahan terdengar pelan, dan membuat Rin segera menoleh pandangannya pada Shura yang berada dalam pelukannya.
Wajah kecil sang pewaris tanah barat kini menyeringai marah. Kedua mata emasnya berubah menjadi merah darah, terlihat jelas dia tidak suka dengan kehadiran mereka yang menganggu waktunya bersama orang tuanya.
"Shura.." panggil Rin pelan. Sesshoumaru yang ada di belakangnya segera menggerakkan tangan kanan Rin membelai kepala putra mereka lembut untuk menenangkan.
Mendengar suara dan merasakan sentuhan Rin, Shura berhenti menggeram. Mata merah darahnya kembali menjadi. emas, namun masih terarah pada mereka yang berada dalam ruangan tidak suka.
Sikap Shura membuat Rin yang kebingungan tersadar. Perkembangan keadaan yang mengejutkan serta pertanyaan yang tiba-tiba memang tidak pernah disangkanya, tapi jika itulah yang terjadi, dia hanya harus menjawabkan?
Tersenyum kecil, Rin kemudian mendongak kepala menatap Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama, apa jawaban anda? Apa yang harus Rin lakukan?"
Pertanyaan Rin dengan segera membuat semua yang ada dalam kamar menatap Sesshoumaru. Namun, seperti biasa, inuyoukai itu tidak memperlihatkan sedikitpun reaksi.
"Kisaki tanah barat adalah kau, putriku," suara Inukimi tiba-tiba terdengar menyela pertanyaan Rin. Berjalan masuk melalu pintu yang masih terbuka, mantan penguasa tanah barat tersebut menatap Rin yang kini menatapnya. "Keputusan ada ditanganmu, bukan pada Sesshoumaru."
Tersenyum dan mendekati Rin, Inukimi kemudian duduk tepat di depannya. "Kau memiliki waktu seminggu untuk menjawabnya, Rin kecil."
"Ibunda.." panggil Rin lagi merasakan sentuhan lembut Inukimi. Tapi kebingungan dalam hatinya membesar, dia benar tidak mengerti maksud ucapan mantan penguasa tanah barat tersebut.
"Kau adalah seorang kisaki, putriku," lanjut Inukimi pelan. Mata emasnya menatap penuh kasih sayang pada Rin. "Walau posisi itu awalnya diberikan Sesshoumaru, tapi pada akhirnya, kau menjadi sosok paling terhormat itu dalam hati semua yang ada di tanah barat—kisaki tanah barat yang sesungguhnya. Karena itu, jawaban dan keputusan ini ada padamu. Kita wanita bukan mainan atau buah catur laki-laki. Mereka tidak memiliki hak untuk menaik dan menurunkan posisi kita sesuka mereka."
Terdiam dan juga tertegun, Rin menatap Inukimi tanpa kedip.
"Ibunda tidak ingin ada penyesalan dalam hatimu untuk apapun yang terjadi di masa depan. Turun atau tidak, bahagia atau tidak, hidup atau mati—jalan hidupmu adalah pilihanmu, bukan orang lain, termasuk—Sesshoumaru."
Kisaki tanah barat.
Jika dibiarkan, Rin pasti akan bertanya pada Sesshoumaru, dan Sesshoumaru juga pasti akan memilih Rin turun dari posisinya sebagai kisaki tanah barat dan hidup. Tapi, meminta seorang wanita turun dari posisi sahnya dan memberikannya pada wanita lain? Melihat wanita lain berdiri di samping suaminya di hadapan semua orang kelak? Bagaimana perasaan Rin untuk seterusnya?
Sebenarnya, tanpa bertanyapun, Inukimi juga sudah tahu jawaban yang ada, yakni; Rin pasti akan turun. Namun, jika benar Rin akan turun, dia ingin itu murni ada keinginan Rin. Supaya di masa depan, tidak akan ada seorangpun yang akan merendahkan Rin dan mengatakan Sesshoumaru lebih memilih youkai ketimbang dirinya yang manusia—lebih memilih wanita lain daripada dirinya.
Rin yang polos, Rin yang tidak pernah tamak—putrinya yang begitu murni tanpa noda di dunia sialan ini. Jika putrinya benar tidak dapat menjadi kisaki tanah barat di kedepannya, maka dia akan memastikan semua yang ada di dunia tahu bahwa dia tetap merupakan wanita paling terhormat di tanah barat. Semua orang hanya akan tahu, dialah yang membuang posisi itu, bukan Sesshoumaru yang menurunkannya.
"Benar." Sango yang diam membisu tiba-tiba membuka mulutnya. Mendekati Rin, dia juga duduk ke bawah menatap wanita manusia yang tertegun tersebut. "Pilihan ditanganmu, Rin-chan. Kaulah yang memilih."
Sango tahu, apa yang diminta dari Rin sebagai ganti informasi keberadaan fushi no kusuri adalah sesuatu yang sangat keterlaluan. Sebagai seorang wanita dan juga seorang istri, bagaimana dirinya bisa melihat Rin diperlakukan seperti itu?
Memilih sendiri jawaban yang ada memang menyakitkan bagi Rin, tapi jika membiarkan Sesshoumaru memilih—bukankah itu lebih menyakitkan bagi Rin? Inukimi benar, walau Sesshoumaru adalah suami, orang yang menghidupkan dan melihatnya tumbuh besar, Rin tetap adalah seorang wanita yang memiliki perasaan, dan bukanlah mainan, alat atau barang. Kehidupan Rin, nyawanya—dialah yang memutuskan.
Sango tahu, jika jawaban telah didapatkan, keadaan akan berubah sepenuhnya. Seperti apa hubungan Rin dan Sesshoumaru kedepannya, tidak ada yang dapat mempredeksinya lagi—tapi setidaknya, Rin tidak akan pernah menyesalinya karena itu masa depan itu adalah pilihannya sendiri.
__ADS_1
Kagome yang melihat dan mendengar ucapan Inukimi serta Sango tertegun. Tapi, sedetik kemudian, dia juga bergerak dan ikut duduk di samping Rin. Mengenggam tangan kanan wanita manusia itu tidak mempedulikan protes Shura yang keberatan karena ibu kandungnya disentuh orang lain, miko masa depan itu tersenyum pada Rin yang menatapnya bingung.
Kagome tahu, wanita manusia di depannya kebingungan sekarang. Kondisi fisiknya yang lemah, perkembangan keadaan yang mengejutkan dan pertanyaan yang tidak masuk akal—Rin tidak bisa melihat jelas apa konsekuensi dengan pilihan yang harus dia pilih. Tapi sebagai seorang wanita, dan juga bagi mereka yang merupakan ibu dan kakak bagi Rin, mereka memiliki hak untuk menjelaskan kondisi dan konsekuensi yang ada, kan?
"Rin-chan," panggil Kagome pelan. Senyum di wajahnya menghilang digantikan keseriusan, dan genggaman tangannya pada tangan Rin menguat. "Kau harus tahu, jika kau turun dan Akiko naik, kau tidak akan menjadi satu-satunya wanita di samping Kakak lagi. Kedepannya, kau harus berbagi suamimu dengan wanita lain."
Ucapan Kagome membuat Rin tertegun. Kedua mata coklatnya terbelalak menatap miko masa depan itu tidak percaya.
"Namun, nyawamu adalah gantinya, Rin-chan," lanjut Kagome lagi. Dia berusaha keras menahan perasaan berkecamuk dalam hatinya. Sungguh, dunia ini benar-benar tidak pernah adil untuk wanita manusia yang ada di depannya sekarang. "Kebersamaanmu dengan Kakak dan Shura untuk selamanya."
Rin kembali tertegun dengan penjelasan Kagome. Tapi, dia tetap saja tidak menemukan suara untuk membalas ucapannya.
"Rin-chan," lanjut Kagome lagi dengan tenang. "Kau tidak perlu terburu-buru menjawab. Kau masih memiliki waktu untuk berpikir dan menemukan jawaban."
"Kagome-sama..." panggil Rin kemudian. Kedua matanya menatap lekat miko masa depan yang tersenyum lembut padanya.
"Kau boleh berunding dengan Kakak, karena ini adalah hubungan kalian. Tapi, keputusan dan jawaban akhirnya tetap ada padamu," mengangkat tangan kirinya, Kagome membalai lembut kepala Rin penuh kasih sayang. "Kita para wanita itu kuat. Meski badan kita lebih kecil dan lemah daripada laki-laki, kita tidaklah dibawah laki-laki. Kita memiliki hak untuk berdiri setara dengan mereka dan membuat keputusan dalam hidup kita sendiri."
"Kagome benar, Rin-chan," tambah Sango. Dia juga ikut tersenyum dan mengangkat tangannya ikut membelai kepala Rin. "Kau setara dengan Sesshoumaru. Kita wanita tidak berada dibawah siapapun."
Perlahan, tangan kanan Inukimi juga ikut bergerak. Menyentuh pipi Rin lembut, dia mengelusnya penuh kasih sayang. Mata emasnya melembut, seulas senyum memenuhi wajahnya. "Apapun jawabanmu kelak, selamanya kau harus ingat, kami selalu ada di pihakmu."
Rin mengangguk kepala. Pikirannya berkecamuk. Tapi, ucapan Kagome, Sango dan Inukimi juga menyadarkan dan menenangkannya. Konsekuensi jawaban yang akan dia berikan sangat luar biasa. Namun, meski pilihan yang ada menyakitkan, dia tidak sendirian. Lalu, yang terpenting untuk masa depan yang ada, kebersamaannya bersama Sesshoumaru dan Shura ada padanya—jawaban yang ada; dialah yang memutuskan.
Inuyasha dan Kohaku yang melihat para wanita di depan mereka tidak bergerak. Berdiri membisu dia tidak mengerti keadaan yang terjadi di depannya, begitu juga dengan Akihiko.
Akihiko sebenarnya tahu dan sadar, pertanyaannya yang terus dilontarkannya pada Rin barusan tidaklah benar. Tapi, dia tidak bisa menghentikan dirinya. Dia ingin mendapatkan jawaban dari Rin tanpa campur tangan Sesshoumaru, dan jika Sesshoumaru tidak bisa menjaga serta membahagiakan Rin, maka, dia tidak akan pernah membiarkan Rin berada di tanah barat lagi.
"Wanita memang makhluk yang kuat," ujar Miroku yang dari tadi diam membisu tiba-tiba. Dia tersenyum menatap para wanita di depannya. "Mereka memang emosional, tapi tidak berarti mereka irasional. Karena itu, merekalah yang bisa melihat keadaan dengan sejelasnya sekarang."
Keinginan Akiko menjadi kisaki tanah barat bagaikan sebuah bom bagi mereka semua. Mereka semua bingung dan tidak bisa menentukan jawaban, karena semuanya terasa; salah. Tapi, pada akhirnya, mereka sadar sekarang—jawaban memang tidak ada pada mereka. Tidak juga pada Sesshoumaru. Inukimi, Kagome dan Sango benar, pada awal hingga akhir jawaban ada pada Rin—karena ini adalah hidupnya.
Sesshoumaru tetap diam membisu tidak mengatakan apa-apa. Melihat Kagome, Inukimi dan Sango yang ada untuk Rin, dia tetap tidak memperlihatkan sedikitpun ekspresi di wajahnya. Tapi, dalam hati, dia merasa cukup—gembira. Kenapa? karena mereka bertiga benar-benar menyangi Rin dengan sepenuh hatinya. Dalam keadaan yang berubah setiap harinya, Rin tidak pernah sendirian, ada banyak orang yang akan selalu ada untuk wanita manusia itu setiap saat, seperti dirinya.
Mereka bertiga tidak salah. Jawaban ada pada Rin dan yang akan memutuskan juga adalah Rin, bukanlah dirinya. Hanya saja, Sesshoumaru telah memiliki jawaban, pilihan dan solusi terbaik yang ada.
....xOxOx....
Di atas atap kamar tidur penguasa tanah barat, seorang youkai wanita duduk dalam diam sendirian. Mata merahnya menatap musim dingin di depannya, dan wajah cantiknya datar tanpa ekspresi—Tsubasa, selir Akihiko sang penguasa tanah selatan.
Pembicaraan di dalam kamar, Tsubasa bisa mendengar semuanya dengan jelas. Turun atau tidak, jawaban yang ada—dia sungguh penasaran dengan jawaban kisaki tanah barat. Namun, dari itu semua, dia juga berpikir dalam hatinya sendiri—apakah dia juga memiliki jawaban untuk dirinya sendiri seperti halnya kisaki tanah barat?
Turun atau tidak—itu adalah pertanyaan untuk sang kisaki tanah barat. Namun dalam hidup Tsubasa, pertanyaannya adalah; pergi atau tinggal?
Inukimi serta miko masa depan mengatakan, wanita bukanlah mainan, alat ataupun barang bagi laki-laki, dan taijiya itu mengatakan bahwa wanita tidak di bawah siapapun. Benarkah? Apakah begitu juga dengan dirinya?—Tsubasa sungguh ingin bertanya pada siapapun tapi tidak bisa.
Dari seekor burung kecil hingga menjadi seorang youkai. Dari seorang youkai kecil tanpa nama hingga menjadi selir dari penguasa tanah selatan—Tsubasa selalu hidup di bawah mereka yang lebih kuat, terutama di bawah pria yang dicintainya; Akihiko. Kenapa? sebab, hidupnya adalah pemberian Akihiko yang merupakan tuannya serta; dunianya.
Tsubasa selalu menempatkan Akihiko diatas segalanya. Walau kadang dia memberontak, tapi pada akhirnya, dia tidak bisa—youkai serigala itu tetap menjadi yang nomor satu dalam keberadaannya. Meski pengorbanannya tidak dihargai, meski cintanya diinjak, meski dia tidak berarti apa-apa dalam sepasang mata biru langit itu—dia tetap tidak bisa meninggalkan Akihiko.
Cintanya untuk Akihiko yang telah berlangsung ratusan tahun terlah menjadi sebuah keharusan—menjadi kewajiban. Meski menyakitkan dan menyiksa, Tsubasa tidak bisa melakukan apa-apa. Cinta yang seperti ini, benar atau salah?
Cinta anda, Rin mengerti.
Apa yang diucapkan kisaki tanah barat padanya dulu tergiang dalam kepala. Apakah wanita manusia itu benar mengerti? Jika wanita manusia itu benar dapat menemukan jawabannya, apakah artinya dirinya juga bisa menemukan jawaban?—ah, wanita manusia itu pasti bisa, sebab ada begitu banyak orang yang selalu berada dipihaknya. Tapi untuk dirinya, siapa yang akan ada untuknya?—dia selalu sendirian.
__ADS_1
....xOxOx....