Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 149


__ADS_3

Prang!


Melempar cangkir teh hingga pecah,  Akiko tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Kedua mata birunya kini semerah darah, dan kedua mulutnya terangkat memperlihatkan seringai mengerikan. Tidak ada lagi kebahagiaan dan kegembiraan di wajahnya seperti kemarin, sekali lagi, dia merasa dirinya kembali dilempar turun dari puncak dunia.


Enam youkai bawahan Akiko yang dibawanya dari tanah timur berlutut gemetaran melihat kemarahan tuan mereka dari samping. Mereka tahu kejamnya hime dari tanah timur, salah sedikit saja, mereka akan menjadi sasaran dari kemarahannya walaupun kesalahan tidak ada pada mereka.


Akiko mendapatkan sebuah kabar hari ini,


kabar yang sangat mengejutkan dan juga tidak dipercayanya, yakni; kabar bahwa Sesshoumaru akan turun dari posisinya sebagai penguasa tanah barat dan akan menwariskan tahtanya pada inuyoukai lain yang merupakan saudara sepupu jauhnya.


Awalnya, Akiko tidak percaya. Apakah ada youkai yang benar mau membuang posisi puncak di dunia youkai begitu saja? Apalagi alasannya adalah karena; seorang wanita manusia. Tapi, bawahannya menyakinkannya bahwa berita itu benar, Inukimi telah mengumumkan bahwa siapa saja bisa menjadi penguasa tanah barat asal memenuhi dua syarat, yakni; memiliki hubungan darah dengan keluarga penguasa tanah barat, serta bersedia; mengangkat Akiko, hime dari tanah timur sebagai kisakinya.


Penguasa tanah barat. Posisi yang menjadi dambaan orang banyak, tapi bagi Sesshoumaru, itu tidak ada artinya. Posisi itu kalah pentingnya dari sosok seorang wanita manusia biasa yang sedang sekarat. Betapa berharga wanita manusia itu? Betapa terhormat dia sehingga posisi sebagai penguasa tanah barat saja kalah??—bagaimana Akiko bisa menerimanya???


Sejak kemunculannya di dunia youkai, perlahan wanita manusia itu menjadi pusat dunia. Sesshoumaru, Akihiko serta semua youkai tanah barat, tanah netral serta tanah selatan berpihak padanya—dan demi wanita manusia itu juga, perang pecah berkali-kali di dunia. Akiko tidak mengerti, apa istimewanya wanita manusia itu hingga bisa membuat semua yang ada menjadi seperti itu? Seharusnya, dirinya yang merupakan youkai tercantiklah yang akan mendapatkan itu semua. Pujaan, keistimewaan dan juga rasa hormat—itu seharusnya adalah miliknya!


Namun, yang paling penting bagi Akiko sekarang adalah; bagaimana jika Sesshoumaru benar-benar meninggalkan tanah barat? Jika inuyoukai itu benar-benar turun dari tahtanya, apalagi guna dirinya menjadi kisaki tanah barat?—menjadi kisaki tanah barat dari seorang penguasa baru yang lemah dan tidak berguna, dia akan menjadi lelucon bagi seluruh penghuni dunia youkai sepanjang hidupnya.


Akiko tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tidak peduli apapun yang akan terjadi, dia tahu dia tidak boleh membiarkan Sesshoumaru turun dari jabatannya sebagai penguasa tanah barat dan meninggalkan tanah barat.


Menutup mata dan berusaha mengontrol emosi dan kemarahannya, Akiko kemudian membuka mata. Melangkah keluar tidak mempedulikan sekelilingnya, dia tahu, dirinya tidak akan dapat menghentikan Sesshoumaru. Tapi, bagaimana dengan wanita manusia itu?—dia tidak bisa membiarkan kesempatan emas ini sia-sia begitu saja; dia harus membuat wanita manusia itu mengurungkan niat gila penguasa tanah barat tesebut.


Para bawahan Akiko dengan segera berdiri dan berlari mengejar tuan mereka. Wajah mereka semakin memucat saat mereka menyadari kemana hime mereka melangkah, yakni—paviliun timur istana tanah barat. Mereka ingin menghentikan, tapi juga tidak berani.


Tiba di depan kamar tidur penguasa tanah barat, langkah kaki Akiko dan rombongannya kemudian terhenti. Ketakutan memenuhi wajahnya saat dia melihat siapa yang berdiri mengawal pintu kamar yang tertutup rapat tersebut. Pengawal itu tidak lain adalah Kiri, salah satu si kembar dari tanah barat.


Kiri.


Akiko memiliki ketakutan tersendiri pada inuyoukai tersebut. Sampai sekarang, dia masih tidak dapat melupakan kekalahannya pada perang lima wilayah. Dia masih ingat akan kesakitan ekornya yang putus serta rasa malu dan harga dirinya yang hancur.


Kiri tidak mengatakan apa-apa melihat kemunculan Akiko. Tapi, kedua mata emasnya menatapnya tajam tidak suka. "Ini bukan tempatmu. Kembalilah ke kamar yang telah disediakan untukmu."


Tidak ada penggunaan kata hormat sedikitpun digunakan Kiri saat berbicara dengan Akiko, dan itu membuat ketakutan dalam hati Akiko berubah menjadi kemarahan. Siapa Kiri mengangap dirinya? Baraninya sebagai bawahan, dia bersikap seperti itu pada dirinya yang akan menjadi kisaki tanah barat!


"Minggir," perintah Akiko. Kemarahan tidak tersembunyikan lagi di wajahnya. "Aku ingin berbicara dengan wanita manusia itu."


"Jaga ucapanmu, rubah," potong Kiri. Suara tenangnya memberat, sedangkan kedua mata emasnya berubah menjadi merah darah. "Wanita manusia yang kau maksud adalah Kisaki tanah barat yang sah—kau kira siapa dirimu?"


Akiko terdiam mendengar ucapan Kiri. Namun, kemarahan dalam hatinya hanya semakin membesar. Kisaki tanah barat yang sah?—wanita terhormat itu adalah dirinya bukan orang lain.


Teratawa keras, tidak mempedulikan apa-apa, Akiko berteriak keras menatap pintu di belakang Kiri. "Aku, Akiko dari tanah timur datang menghadapmu, Kisaki tanah barat!!"


....xOxOx....


"Tidurlah lagi kalau kau mau, Rin-chan." ujar Kagome sambil tersenyum pada Rin yang berbaring di atas futon. Dirinya yang baru saja selesai memeriksa kesehatan wanita manusia itu tidak bisa mengatakan apa-apa untuk kondisi kesehatan sang pasien di depannya.


"Rin tidak ingin terus tidur, Kagome-sama," balas Rin pelan dengan seulas senyum di wajahnya. "Rin merasa Rin terus saja tidur akhir-akhir ini."


"Baiklah," senyum Kagome lagi. Dia tidak memaksa wanita manusia itu untuk tidur lagi. "Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai Kakak kembali."


"Terima kasih, Kagome-sama." Mengangguk kepala pelan, Rin tertawa kecil.


"Aaaa, aaa..." Suara rengekan pelan Shura yang juga ada disamping Rin tiba-tiba terdengar dan membuat wanita manusia itu serta Kagome menatapnya.


"Aaa...Aaa.." Terus merengek tidak jelas. Wajah Shura terlihat jelas meminta perhatian Rin yang tadi terarah pada Kagome. Kedua tangan kecilnya terus terangkat terarah pada ibu kandungnya seakan meminta gendongan.


"Sungguh, aku benar-benar tidak pernah melihat anak yang begitu lengket pada ibunya seperti Shura," tawa Kagome melihat sikap Shura. "Dia benar-benar tidak ingin terpisah dengan ibunya sedetik saja."


Semua yang ada bisa melihat bahwa Shura adalah anak yang sangat posesif akan Rin. Dia tidak menyukai orang lain menyentuh ibunya, bahkan dia juga tidak ingin perhatian ibunya terarah pada orang lain—Kagome mulai menghawatirkan masa depan Shura jika sikapnya ini tidak berubah, sebab dia pasti akan menjadi seorang penderita mother complex akut.


Masih tertawa, Kagome kemudian mengangkat badan Shura yang segera menatapnya tajam tidak suka. "Bibi hanya ingin memindahkan dirimu dekat ibundamu, Shura."


Shura yang tidak mengerti ucapan Kagome terus menatap tajam tidak suka miko masa depan tersebut. Namun, saat badan kecilnya dibaringkan tepat disamping  wajah Rin, dia segera tertawa. Kedua tangannya segera terangkat menyentuh wajah ibunya penuh kegembiraan.


Kagome hanya dapat tersenyum melihat tingkah Shura. Saat menyentuh Rin, dia seakan menyentuh seluruh dunia ini. Segala pengorbanan dan perjuangan Rin untuk Shura sungguh terbalas—inuyoukai kecil ini sungguh-sungguh mencintai ibu kandungnya.


Mengangkat tangan kanannya, Kagome membelai kepala Shura pelan. "Cepatlah tumbuh besar, Shura. Supaya kau bisa menjaga ibundamu kelak."


Melepaskan tangan kanannya yang menyentuh Rin, Shura memukul tangan Kagome yang menyetuhnya. Wajahnya kembali terarah tajam dan tidak suka pada miko masa depan itu. "Grr.."


Kagome tertegun dengan sikap Shura. Namun sejenak kemudian dia mengeleng kepala pasrah. Dalam hatinya, dia berpikir, mungkin sifat inuyoukai ini diwarisinya dari ayah kandungnya, hanya saja lebih parah—Sesshoumaru juga cukup posesif dengan Rin, kan?


"Shura, tidak boleh seperti itu." Ujar Rin pelan melihat sikap Shura yang tidak pernah berubah sedikitpun.


Suara pelan Rin membuat Shura kembali menatap ibunya. Senyum lebar penuh kebahagiaan kembali memenuhi wajahnya, tangan kanannya juga kembali menyetuh wajah ibunya hati-hati.


Perubahan ekspresi wajah Shura yang begitu cepat membuat Kagome mau tidak mau tertawa. Dia meralat apa yang dipikirkannya barusan, Shura tidak akan menjadi seorang penderita mother complex akut saat besar, sebar sekarang saja, dia sudah merupakan penderita mother complex akut.


Menatap Shura lagi, Kagome kemudian mengamati keponakannya tersebut demgan saksama. Perubahan fisik Shura sungguh cepat, apakah semua youkai seperti ini?—usia Shura baru saja hampir satu bulan, tapi fisiknya terlihat seperti bayi berusia tiga bulan. Mungkin dia sudah bisa tengkurap tidak lama lagi.


Rin yang menatap wajah tertawa Shura hanya bisa menghela napas. Membesarkan dan mengubah sikap putranya ini mungkin akan menjadi tantangan terberat dalam hidupnya untuk ke depannya—dia harus berbicara dengan Sesshoumaru akan sikap buruk putra mereka ini.


"Ini bukan tempatmu. Kembalilah ke kamar yang telah disediakan untukmu." Suara Kiri yang berada diluar tiba-tiba terdengar.


Minggir," balas suara Akiko yang tidak menyembunyikan kemarahannya sedikitpun. "Aku ingin berbicara dengan wanita manusia itu."


Baik Rin dan Kagome saling menatap begitu mendengar suara pembicaraan di luar kamar.


"Jaga ucapanmu, rubah," suara Kiri kembali terdengar. Namun kali ini sangat berat dan menandakan inuyoukai itu sedang marah. "Wanita manusia yang kau maksud adalah Kisaki tanah barat yang sah—kau kira siapa dirimu?"


"Aku, Akiko dari tanah timur datang menghadapmu, Kisaki tanah barat!!" suara teriakan keras Akiko kemudian terdengar.


"Rin-chan, abaikan dia." ujar Kagome pelan menatap Rin. Dia tidak tahu apa tujuan Akiko datang mencari Rin, tapi jika diminta menebak, maka miko masa depan akan menebak bahwa itu ada hubungan dengan keinginan Sesshoumaru turun dari tahtanya sebagai penguasa tanah barat—sesuatu yang mereka rahasiakan dari Rin sekarang.


"Kagome-sama.." Panggil Rin pelan penuh kebingungan. Dia tidak tahu harus menyanggupi permintaan Akiko untuk bertemu atau tidak.


Mengangkat tangan kanan membelai lembut kepala Rin, Kagome tersenyum. "Aku akan mengurusnya. Kau tenang dan istirahatlah yang cukup."


Meski agak ragu, Rin mengangguk kepalanya tanpa mengucapkan apa-apa. Menatap Kagome terus, dia melihat sosok miko masa depan itu hingga menghilang dari pandangannya.


Akiko.


Rin tidak tahu alasan Akiko datang mencarinya, dia cukup penasaran untuk itu. Tapi yang paling penting, dia sesungguhnya tidak tahu harus bersikap apa jika bertemu dengan youkai rubah tersebut. Dia tidak tahu harus terseyum atau apa—bagaimana kau harus bersikap saat bertemu dengan wanita yang ingin merebut suamimu? Wanita yang meminta suamimu dengan nyawamu sebagai gantinya?


"Aaaa...Aaa..." suara pelan Shura kembali merebut perhatian Rin. Kedua mata emasnya kembali menatap ibu kandungnya dengan memelas meminta perhatian.


Menatap putranya, Rin kemudian tersenyum. Sikap putranya yang benar-benar tidak pernah peduli dengan apapun kecuali kedua orang tuanya, walau kadang cukup meresahkan, tapi juga cukup dapat membuatnya tersenyum. Melihat Shura setidaknya mengajarkan dirinya sesuatu—dirinya masih hidup dan bisa melihat mereka yang dia cintai.


Apapun masa depannya, Rin tidak tahu. Apakah Akiko akan masuk ke dalam hidup mereka? Atau apakah Sesshoumaru akan dapat menwujudkan ucapan bahwa dialah satu-satunya wanita di sampingnya?—itu penting, tapi juga sekaligus tidak begitu penting.


Memajukan wajahnya, dia kemudian mencium kening Shura penuh kasih sayang. "Kita akan selalu bersama, Shura. Sesshoumaru-sama, Shura dan Rin—selamanya bersama.."


....xOxOx....


"Bisakah kau mengecilkan suaramu, Akiko-san," senyum Kagome kepada Akiko walau matanya sama sekali tidak tersenyum. Dia tidak menyukai youkai rubah di depannya, tapi, dia juga tidak ingin mencari masalah. "Rin-chan sedang tidur, jangan menganggu waktu istirahatnya."


Akiko menatap tajam Kagome. Namun sejenak, dia tersenyum. "Aku hanya ingin bertatap muka dengan wanita yang akan menjadi adikku. Salahkah aku?"


"Aduh," balas Kagome dengan senyum yang tidak berubah di wajahnya. "Jangan sembarangan mengaku dirimu sebagai kakak, Akiko-san. Itu tidak baik, karena tidak akan pernah terjadi."


Tertawa keras, Akiko tidak mempedulikan sedikitpun ucapan Kagome. "Terjadi atau tidak, itu bukan kau yang mutuskan. Kau kira siapa dirimu?"


"Oh, aku adalah adik ipar, Sesshoumaru, Akiko-san," balas Kagome lagi dengan cepat sambil mempertahankan senyum tidak berubah di wajah. Kedua matanya penuh dengan tatapan menghina sekarang. "Seharusnya aku yang bertanya padamu seperti itu; kau kira kau siapa?"


Akiko terdiam tidak menyangka seorang miko manusia berani membalas setiap ucapan dan memandangnya begitu rendah.

__ADS_1


"Kau bukan siapa-siapa, Akiko-san," tambah Kagome lagi. Dia tidak berniat menyembunyikan perasaan tidak sukanya akan Akiko sedikitpun. Wanita licik yang ingin merusak kebahagiaan keluarga Sesshoumaru dan Rin yang begitu sempurna—dia tidak bisa memaafkannya. "Jadi, jangan datang menganggu waktu istirahat Rin-chan."


Kemarahan memenuhi hati Akiko. Tidak hanya para youkai di istana tanah barat, bahkan seorang manusia yang rendahpun berani menatapnya seperti ini. Bagaimana Akiko bisa berdiam diri menerima semua penghinaan ini?


Mengangkat kepala ke atas, Akiko kemudian kembali tertawa keras. Bagus sekali! Untuk penghinaan yang dia terima, dia merasa tidak perlu menahan diri lagi.


Berhenti tertawa dan menurunkan kepalanya kebawah, Akiko melesat cepat ke arah Kagome. Kedua tangannya yang memiliki cakar panjang dan tajam terarah pada leher miko masa depan itu.


Kagome cukup terkejut dengan serangan Akiko yang tiba-tiba. Namun, Kiri yang ada di sampingnya dengan segera bergerak cepat menahan tangan hime dari timur sebelum menyentuh miko masa depan tersebut.


Melempar Akiko kembali ke depan, Kiri langsung mengeluarkan tombaknya dan memasang kuda-kuda siap bertarung di depan Kagome yang masih belum sadar dari perasaan terkejut akan apa yang terjadi.


"Kau sudah keterlaluan, rubah." Kedua mata emas Kiri yang telah berubah menjadi merah darah terarah pada Akiko, sedangkan kedua ujung bibirnya terangkat menunjukkan menyeringai penuh kemarahan.


Tapi, Akiko tidak peduli, kemarahan dalam hatinya membuat dia lupa akan kekalahannya pada Kiri dulu. Lalu juga dengan keuntungan yang dia miliki sekarang, dia yakin tidak ada seorangpun di tanah barat yang berani mencelakainya.


"Maju! Bunuh miko itu!!" teriak Akiko keras memerintah para bawahan yang ada di belakangnya.


Para bawahan Akiko mendengar perintah tersebut cukup kebingungan awalnya. Namun, mereka juga tidak berani melawan perintah tuan mereka. Melesat maju, mereka bersiap menyerang Kagome yang ada di belakang Kiri.


Dengan kecepatan luar biasa, Kiri mengayunkan tombaknya untuk memukul balik semua bawahan Akiko. Dia cukup yakin bisa mengalahkan semua yang ada, tapi melindungi Kagome serta menjaga pintu kamar dibelakang mereka secara bersamaan akan cukup sulit.


Kagome berada di belakang Kiri merasa kewalahan dan kekesalan bersamaan. Kenapa busur panahnya tidak ada disampingnya sekarang?—lalu, yang paling penting; dimana Inuyasha sekarang?? Sepertinya mulai detik ini, dia memang tidak boleh berjalan tanpa senjata di istana ini lagi.


Bawahan Akiko bergerak maju lagi menyerang Kiri dan Kagome. Kagome hanya dapat berusaha menghindar sebisa mungkin, sedangkan untuk Kiri, dirinya tidak dapat lagi bertahan di depan pintu kamar. Jumlah yang tidak seimbang membuat dia kesulitan, dan juga musuh yang menyerang juga tidak dapat dikatakan lemah.


Akiko tertawa melihat keadaan yang tidak berpihak pada Kagome dan Kiri. Dirinya tahu, para bawahannya tidak mungkin dapat mengalahkan Kiri, tapi, itu sudah lebih cukup. Waktu yang diperlukan bagi miko dan inuyoukai habiskan untuk menghadapi bawahannya sudah cukup baginya untuk berbicara dengan wanita manusia yang selalu dilindungi seluruh tanah barat tanpa halangan.


Menatap pintu kamar yang tertutup, mata Akiko bersinar penuh kebahagiaan. Melangkah maju tanpa takut, dengan senyum di wajah dia akan berbicara dari hati ke hati dengan wanita manusia yang merebut segala miliknya. Namun, baru dua langkah diambilnya, sebuah pedang cakram tiba-tiba melesat cepat menyerang dari depan.


Terkejut, Akiko meloncat ke belakang menghindar. Kemarahan memenuhi hatinya menyadari adanya orang yang kembali menghalangi langkah kakinya yang ingin bertemu wanita manusia di balik pintu shoji yang tertutup.


Menatap pedang cakram yang berputar kembali pada tuannya, Akiko tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya melihat siapa yang muncul.


Dari atas langit, seorang youkai wanita berambut merah dan berkimono biru terbang turun dengan anggun. Wajah cantiknya yang biasanya datar tersenyum kecil, sedang mata merahnya yang bagikan api menatap Akiko penuh tawa—Tsubasa, selir penguasa tanah selatan.


"Apa maumu, Tsubasa??" tanya Akiko marah. Kedua mata birunya menjadi merah darah menatap youkai burung di depannya.


"Justru hamba yang ingin bertanya, Akiko-sama," balas Tsubasa pelan. Senyum di wajahnya semakin melebar dan binar tawa dimatanya berubah menjadi binar menghina. "Apa yang anda mau?"


....xOxOx....


"Ah, kenapa sulit sekali?" gumam Inukimi pelan dan melempar surat di tangannya. Tapi seulas senyum memenuhi wajahnya. Perlahan, mata emasnya terarah pada Sesshoumaru yang duduk dikursi kerjanya di samping. "Kenapa sulit sekali mencari penggantimu, Sesshoumaru?"


Sejak Sesshoumaru mengumumkan dirinya akan turun dari tahtanya, Inukimi sudah mengirimkan pesan pada para inuyoukai yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga penguasa tanah barat. Suratnya singkat, yakni ingin mereka menjadi penguasa tanah barat menggantikan Sesshoumaru. Namun, balasan yang diterima, semuanya sama sekali tidak sesuai keinginannya.


Keinginan Sesshoumaru turun dari tahtanya tidak mendapatkan protes sedikitpun dari seluruh bawahannya. Tanah barat dibawah pemerintahan inuyoukai itu memang luar biasa, keinginannya adalah mutlak tanpa sanggahan. Hanya saja, sampai sekarang, tidak ada seorangpun yang bersedia menggantikannya. Inukimi tidak mengerti, apakah itu karena tanah barat kurang mengiurkan atau karena syarat satunya lagi yaitu, mengangkat Akiko menjadi kisaki tanah barat terlalu berat?—atau mungkin karena semua youkai di tanah barat terlalu setia pada tuan mereka?


Ada kebanggaan di dalam hati Inukimi. Ya! Alasan tidak ada seorangpun yang mau menggantikan Sesshoumaru mungkin karena dalam mata semua youkai tanah barat, Sesshoumaru selamanya adalah tuan mereka. Sumpah darah yang mengikat, kesetiaan dan rasa hormat—tanpa jabatan sebagai penguasa pun selamanya putranya tetaplah penguasa.


Meski Sesshoumaru membuang tahta, warisan dan haknya, tidak akan ada yang berubah. Dunia akan selalu dibawahnya, kehormatan dan kebanggaan klan inuyoukai dari barat tidak akan pernah tercoreng sedikitpun, sebab putranya tetaplah—raja.


"Kalau tidak ada seorangpun dari tanah barat yang bersedia," ujar Inuyasha pelan sambil menatap Sesshoumaru. "Cari saja siapapun di luar tanah barat yang bersedia. Bukankah itu gampang?"


"Hm, ide bagus putra Taisho," balas Inukimi sambil tersenyum. Kedua mata emasnya berbinar gembira."Jika tidak ada yang mau, kita boleh mencari mereka yang bersedia di luar tanah barat. Tidak memiliki hubungan darah juga boleh."


"Iya," mengangguk kepala dan melipat kedua tangan di dada, Inuyasha menutup mata. "Di luar sana banyak youkai tamak dan serakah—bukankah dia akan menjadi pasangan yang sah untuk rubah itu?"


"Hmn, ucapanmu benar sekali." Inukimi ikut mengangguk kepala. Youkai yang tamak dan serahkan di luar memang akan menjadi pasangan yang cocok untuk Akiko—dia tidak sabar ingin melihat bagaimana youkai rubah itu menjadi lelucon dunia.


Membuka mata, Inuyasha tersenyum pada Sesshoumaru yang tidak mengatakan apa-apa dari tadi. "Bagaimana menurutmu ideku ini, Sesshoumaru?"


"Lakukan saja," jawab Sesshoumaru datar dan tenang seakan tidak ada artinya. "Sesshoumaru ini tidak peduli."


Miroku yang juga berada disamping melihat dan mendengar pembicaraan Sesshoumaru, Inuyasha serta Inukimi tidak tahu harus memberikan reaksi apa. Sesungguhnya, apa yang terjadi dalam ruang kerja penguasa tanah barat sekarang adalah sesuatu yang sangat—tidak dapat diterima akal sehat.


Berapa banyak youkai yang menginginkan tahta dan kekuasaan tanah barat. Bukankah perang yang dikobarkan Shui, Tekeru dan Asano beberapa saat yang lalu adalah untuk merebut tanah barat?—keluarga utama penguasa tanah barat memang keluarga yang unik.


"Eh, Sesshoumaru," panggil Inuyasha kemudian. Ada sebuah kerutan kecil di dahinya. "Aku hanya berpikir, jika kita benar tidak dapat menemukan penggantimu, apakah artinya saat kau turun, Shura akan naik?—dia kan pewarismu yang sah?"


"Tidak," balas Sesshoumaru tetap tenang. "Saat Sesshoumaru ini turun, Shura tidak akan naik. Hak dan posisinya sebagai pewaris juga akan hilang."


"Oh, baguslah kalau begitu." tawa Inuyasha gembira mendengar jawaban Sesshoumaru. Dia awalnya cukup khawatir jika tidak bisa menemukan pengganti Sesshoumaru, karena bisa-bisa saja si kecil itu dipaksa naik tahta dan mengangkat Akiko menjadi kisakinya—itu akan menjadi mimpi buruk bagi siapapun.


"Hmn, Sesshoumaru-san," panggil Miroku pelan. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. "Apakah kau tidak ingin mewarisi tanah barat pada Shura?"


Miroku ingat perang besar yang terjadi tidak lama. Bukankah salah satu alasannya adalah karena Sesshoumaru ingin mewariskan tanah barat pada Shura?—bagaimana bisa dia merubah pemikirannya segampang ini?


Pertanyaan Miroku membuat Sesshoumaru terdiam. Apakah dia tidak ingin mewariskan tanah barat pasa Shura?—dia hanya merasa, jika putranya tahu pilihan yang ada ini kelak, dia tidak akan menyalahkan pilihan ayahnya sekarang. Rin dan tanah barat, penguasa tanah barat tahu; putranya akan memilih Rin.


Terlebih lagi, Shura putranya. Sesshoumaru ingat sosok putranya pada malam pengesahannya sebagai pewaris tanah barat—sosok inuyoukai kecil yang melolong penuh kebanggaan tanpa rasa takut di hadapan semua orang. Putranya terlahir sama sepertinya; putranya adalah penguasa, seorang raja sejati.


Shura akan tumbuh kuat. Putranya kelak akan tumbuh kuat melebihi dirinya, Sesshoumaru tidak pernah meragukan itu sedikitpun. Karena itulah, sesungguhnya putranya tidak perlu warisan akan tahta tanah barat. Warisan sesungguhnya dari dirinya dan keluarganya adalah darah—darah inuyoukai dari barat yang tidak terkalahkan.


"Jika kelak putra Sesshoumaru ini menginginkan tanah barat, dia bisa merebutnya atau membangun tanah barat yang baru." Jawab Sesshoumaru kemudian dengan pelan. Kedua mata emasnya berbinar penuh kebanggaan, sebab dia yakin, tidak akan ada yang mampu menghentikan putranya kelak jika dia menginginkan sesuatu.


"Ah," Inukimi menghela napas mendengar jawaban Sesshoumaru. Menggerakkan tangan kanannya menghapus air mata yang sama sekali tidak ada, mantan penguasa tanah barat berujar lirih. "Cucuku mirip dengan ayah kandungnya, kurasa kelak dia akan lebih memilih berkelana mengasah kekuatannya daripada merebut atau membangun kerajaannya sendiri."


"Hidup berkelana mengasah batas kekuatan tidaklah buruk," sela Inuyasha. Dia teringat masa lalunya saat meninggalkan istana manusia tempatnya tumbuh besar. Berkelana di alam bebas membasmi musuh dan mengasah kekuatan—walau tidak dapat dikatakan baik, namun juga tidaklah buruk. Dia benar-benar menjadi kuat saat itu. "Lagian, masih ada Shiro, Mamoru dan yang lainnya—si kecil itu tidak akan sendirian."


Miroku menoleh wajah menatap Inuyasha tidak percaya. Dia merasa inuhanyou di depannya sekarang benar-benar berbeda, kemana perginya perseteruan abadi antaranya dan Sesshoumaru?—mereka benar terlihat bagaikan kakak-adik yang sepemikiran sekarang. Bahkan, dia dengan senang hati akan membiarkan Shiro dan Mamoru berkelana dengan Shura?


Sesshoumaru tidak mengatakan apapun lagi, dia juga tidak mempedulikan raut muka Miroku yang aneh. Perlahan, dia kembali menurunkan pandangannya pada tumpukan dokumen kandidat penguasa tanah barat di depannya. Namun, sedetik kemudian, dia bisa merasakan aura pertarungan youkai di dalam istana tanah barat. Lalu, perasaan takut serta marah segera menguasai seluruh relung hati penguasa tanah barat saat dia menyadari bahwa tempat pertarungan adalah di paviliun timur istana tanah barat—tempat Rin dan Shura berada sekarang.


....xOxOx....


"Minggir!!" teriak Akiko keras. Menarik selendang emas di pingangnya, kain itu berubah menjadi senjata menyerang Tsubasa.


Tsubasa tidak meloncat menghindar. Dengan tenang, dia mengangkat kedua pedang cakram di tangannya untuk menahan serangan yang melesat cepat ke arahnya.


"Aku akan membunuhmu!! Kau kira kau siapa?" teriak Akiko terus penuh kemarahan. Menggerakkan selendang di tangannya, dia terus menyerang Tsubasa.


Tsubasa juga ikut bergerak, menunduk ke bawah menghindari kain selendang yang menyerangnya, dia berlari maju ke arah Akiko dengan kedua pedang cakram yang terarah di depan. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi senyum dan tatapan menghina diarahkannya pada lawan.


Menggertakan giginya dan menyeringai marah, Akiko meloncat ke belakang menghindar serangan Tsubasa. Mengerakkan kembali kain selendangnya yang bagaikan air, dia kembali menyerang.


Kiri bisa melihat Tsubasa yang menghentikan Akiko. Dia memang tidak tahu apa maksud youkai burung dari tanah selatan itu menghentikan Akiko, tapi dia mensyukuri itu, sebab, dia benar tidak ingin mata kisakinya yang begitu indah dikotori dengan penampakan dari rubah dari timur tersebut.


"Miko," panggil Kiri pelan. Dia tidak menolehkan sedikitpun pandangannya pada sosok Kagome yang ada di belakangnya. "Aku akan membuka jalan untukmu. Masuk dan temanilah Rin-sama dan Shura-sama dalam kamar."


"Eh?" Kagome tertegun dengan ucapan Kiri. Namun, dia segera tersadar dan mengangguk kepala. Rin yang ada dalam kamar pasti cukup terkejut dan ketakutan akan pertarungan tiba-tiba ini. "Aku mengerti."


Memusatkan segenap kekuatan fokusnya, Kagome mengarahkan pandangannya pada pintu kamar shoji yang tertutup. Dia tahu dia bisa mencapainya, dan dia hanya harus menunggu aba-aba dari Kiri.


"Sekarang." Suara Kiri ditangkap telinga Kagome. Bersamaan dengan inuyoukai yang berlari maju dengan menghunuskan tombaknya, miko masa depan itu berlari secepat yang dia bisa menuju kamar di mana Rin berada.


Kagome tidak berpikir banyak, melewati Tsubasa dan Akiko, dia terus berlari menuju tempat tujuannnya. Namun, tiba-tiba saja, badannya berhenti bergerak. Tanpa di sadarinya, badannya bergetar hebat saat dia merasakan aura youki yang mengerikan di udara.


Tsubasa, Kiri, Akiko serta bawahan Akiko yang merasakan aura youki tersebut juga berhenti bertarung. Badan mereka mematung dan wajah mereka memucat. Aura mengerikan yang menutupi udara sangat menakutkan dan juga mengerikan—niat membunuh yang ada terasa begitu jelas.


Sedetik kemudian, tanpa disadari siapapun yang tidak bisa bergerak, dari atas langit, seorang inuyoukai melesat turun ke arah Tsubasa dan Akiko. Tanpa suara, gerakkannya yang luar biasa cepat tidak tertangkap oleh mata kedua youkai  tersebut. Rasa sakit dileher adalah apa kemudian mereka rasakan.


Baik Tsubasa maupun Akiko tidak tahu apa yang terjadi, mereka hanya menyadari bersamaan dengan rasa sakit dileher, badan mereka terangkat dari tanah besalju di mana mereka berpijak. Saat mereka mulai menyadari apa yang terjadi, mereka melihat sepasang bola mata berwarna merah darah seakan hitam pekat—Sesshoumaru.


Berdiri mencengkeram kuat leher Tsubasa dan Akiko dengan kedua tangannya, Sesshoumaru menyeringai marah memperlihatkan taringnya yang panjang. Wajahnya tidak lagi dalam wujud manusianya yang rupawan, lalu aura youki, kemarahan dan niat membunuh yang dipancarkannya—dia terlihat sungguh mengerikan.

__ADS_1


Kagome dan Kiri tidak bergerak sedikitpun dengan kemunculan Sesshoumaru yang tiba-tiba, ketakutan memenuhi hati mereka melihat ketidak normalnya inuyoukai yang biasanya selalu tenang tetsebut, begitu juga dengan bawahan Akiko—mereka semua bergetar hebat melihat sang penguasa tanah barat.


"Kagome!!" suara teriakan Inuyasha yang tiba-tiba kemudian merebut perhatian Kagome. Menoleh wajahnya menatap sumber suara, dia melihat inuhanyou itu bersama Inukimi dan Miroku berlari mendekat ke arahnya.


"Kau tidak apa-apa, Kagome?" tanya Inuyasha cepat saat tiba di depan Kagome. Menyentuh kedua pundak istrinya, mata emasnya yang tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran dalam hati memeriksa keadaan miko masa depan itu dari atas ke bawah.


"I-inuyasha, aku tidak apa-apa." Sentuhan hangat Inuyasha benar-benar berhasil menyadarakan rasa terkejut dan takut Kagome akan apa yang terjadi—akan aura youki dan kemunculan Sesshoumaru yang tiba-tiba.


Menoleh pandangannya pada Sesshoumaru lagi, Kagome melihat inuyoukai itu masih mencengkeram leher Tsubasa dan Akiko kuat tanpa niat melepaskan sedikitpun. Sosok sang penguasa tanah barat sekarang benar sangat mengerikan, tapi memberanikan diri, miko masa depan tahu, dia harus menghentikannya.


"K-kakak!" panggil Kagome sambil berteriak dengan suaranya yang bergetar. "Tsubasa-san sama sekali tidak bersalah, dia membantuku dan Kiri-san melindungi Rin-chan."


Apa yang diucapkan Kagome membuat cengkeraman tangan Sesshoumaru pada leher Tsubasa terlepas. Jatuh ke bawah, youkai burung itu terbatuk-batuk mengatur napasnya. Namun, saat dia memgangkat kepalanya menatap inuyoukai di depannya, dia tidak berani bergerak sedikitpun.


Sesshoumaru adalah Sesshoumaru. Perang lima wilayah yang berakhir telah membuatnya diakui sebagai youkai terkuat di dunia, dan Tsubasa benar menyadarinya sekarang. Siapa yang dapat hidup jika harus berhadapan dengan inuyoukai ini?—aura youki dan niat membunuhnya yang mengerikan sudah sanggup membuat siapapun tidak bisa bergerak.


Akiko yang ketakutan karena tatapan mata Sesshoumaru meronta berusaha membebaskan diri. Namun, cengkeraman tangan inuyoukai itu hanya semakin kuat.


"Kakak!" panggil Kagome lagi sambil menelan ludahnya. Mengumpulkan segenap keberaniannya, dia menatap lurus Sesshoumaru. "Jangan membunuh Akiko. Ingat Rin-chan."


Nama Rin yang meluncur keluar dari mulut Kagome membuat Sesshoumaru tersadar dari niat membunuhnya. Dia tahu, apa yang dikatakan miko itu benar, Akiko belum boleh mati, tapi membayangkan youkai rubah ini berani membuat masalah dan menganggu waktu istirahat Rin dan Shura, dia sungguh ingin mencabiknya hingga tidak berbentuk sekarang juga.


Menutup mata dan mengontrol emosinya, Sesshoumaru kemudian menghempaskan Akiko yang dicengkeramnya sekuat mungkin ke atas tanah salju di depannya. Dia tidak peduli youkai rubah itu akan terluka atau apa—dia tidak memiliki belas kasihan sedikitpun untuknya.


"Aahhh!!" Akiko berteriak kesakitan saat badannya terhempas meretakkan tanah salju di bawahnyam. Darah mengalir keluar dari mulutnya dan dia bisa merasakan beberapa tulang rusuknya yang patah.


Tidak ada seorangpun yang berani bergerak melihat sikap Sesshoumaru, begitu juga dengan bawahan Akiko yang melihat di kejauhan.


Berusaha bangkit dan duduk, Akiko terbatuk-batuk berusaha menghirup oksigen. Namun, karena luka serta darah yang ada dalam mulutnya, semua itu menjadi sangat sulit dan menyakitkan. Menatap Sesshoumaru yang ada di depan, dia melihat sosok inuyoukai itu telah kembali menjadi sosoknya yang rupawan dan tenang—seakan kegilaannya barusan sama sekali tidak ada.


"Enyah." Ujar Sesshoumaru tenang dan datar. Wajahnya tanpa ekspresi, namun mata emasnya yang menatap Akiko masih mengandung nafsu membunuh yang kuat.


"K-kenapa?" tanya Akiko terbata-bata. Dia tidak mengerti kenapa dia yang merupakan hime dari tanah timur bisa diperlakukan seperti ini oleh Sesshoumaru. Kemarahan seketika memenuhi hatinya. "Kenapa kau memperlakukanku seperti ini, Sesshoumaru!!!?"


"Karena kau menganggu waktu istirahat Rin dan putra kami." Jawab Sesshoumaru tenang dan datar tanpa emosi seperti biasanya.


Jawaban Sesshoumaru membuat Akiko tertegun. Namun sejenak kemudian dia tertawa. Kebencian memenuhi hatinya. Di mata inuyoukai ini, ternyata dirinya bahkan tidak sebanding dengan waktu istirahat wanita manusia dan juga putranya. "Bagus! Bagus sekali!! Bagus sekali, Sesshoumaru!!"


Sesshoumaru tidak mengatakan sepatah katapun lagi untuk tawa Akiko. Kedua matanya yang terarah pada youkai rubah itu kini tidak mengandung niat membunuh lagi, melainkan pandangan merendah—pandangan seakan hime dari timur itu bukanlah siapa-siapa di dunia ini.


Terus tertawa tidak peduli darah yang terus mengalir, Akiko menatap balik Sesshoumaru penuh kebencian. "Kau akan menyesal karena lebih memilih wanita manusia itu daripada diriku, Sesshoumaru! Kau akan menyesal karena lebih memilih turun dari tahta dan membuang tanah barat untuk wa—"


Ucapan Akiko tidak terselesaikan, karena Sesshoumaru telah berada di depannya dan mencengkeram kuat mulut youkai rubah tersebut—menutupnya. Mengangkat kembali badan Akiko dari atas tanah salju, mata emas penguasa tanah barat telah kembali menjadi merah darah kehitaman. "Jangan mengira karena kau memiliki informasi keberadaan fushi no kusuri, Sesshoumaru ini tidak berani membunuhmu—Sesshoumaru ini bisa menunjukkan padamu bahwa mati itu lebih baik daripada hidup."


Rasa sakit di wajahnya akibat cengkeraman kuat Sesshoumaru membuat


Akiko kembali meronta untuk melepaskan diri, dan juga ucapan serta tatapan mata yang terarah padanya membuatnya sangat ketakutan. Dia tahu penguasa tanah barat di depannya serius, Sesshoumaru benar berani membuat kematian lebih baik daripada hidup di dunia ini.


Namun, sekali lagi, tidak peduli bagaimana dia meronta, Akiko tetap saja tidak bisa melepaskan dirinya. Cengkeraman Sesshoumaru hanya semakin kuat dan kuat. Rasa sakit tifak terbendung, ketakutan dan juga putus asa memenuhi hati youkai rubah itu hingga akhirnya di pingsan karena tekanan yang dihadapi.


Melihat Akiko yang tidak sadarkan diri, Sesshoumaru kemudian melempar badan youkai rubah itu ke arah para bawahan tanah timur yang dilawan Kiri. Mereka yang terkejut tidak sempat menangkap badan tuan mereka. Jatuh tertimpa oleh badan yang menghantam mereka, mereka tetap tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.


"Enyah dari sini." Perintah Sesshoumaru singkat. Matanya terarah pada para bawahan Akiko mengerikan.


Tidak berani membantah karena masih ketakutan, para bawahan Akiko dengan segera berdiri dan mengangkat badan tuan mereka meninggalkan tempat. Mereka tidak berani tinggal lebih lama lagi dan memancing kemarahan Sesshoumaru sang penguasa tanah barat.


Taman paviliun timur istana tanah barat kembali hening tanpa suara begitu Akiko dan bawahannya menghilang. Baik Inuyasha, Tsubasa dan yang lainnya tidak mengeluarkan suara sedikitpun melihat apa yang terjadi.


Mengangkat tangan kanannya penuh dengan darah Akiko, Sesshoumaru mengibasnya hingga bersih. Menutup mata, dia kembali mengontrol emosinya. Lalu, saat dia membuka mata lagi, dia telah kembali menjadi Sesshoumaru yang seperti biasanya.


Tidak peduli dengan pandangan semua orang yang terarah padanya, Sesshoumaru melangkah pelan. Tenang dan tegap seakan tidak terjadi apa-apa, dia melewati Tsubasa, Inuyasha dan yang lainnya menuju pintu shoji yang masih tertutup.


"Inuyasha, Kagome," panggil Miroku pelan sambil tersenyum canggung. Matanya masih terarah mengikuti punggung Sesshoumaru. "Mulai sekarang, ingatkan selalu padaku dan anak-anak untuk tidak menganggu waktu istirahat Rin-chan dan Shura."


Inuyasha dan Kagome tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Miroku, tapi mereka mengerti. Kemunculan serta sikap Sesshoumaru tadi memang sangat mengejutkan, dan tidak ada seorangpun yang mau menghadapi inuyoukai dengan kondisi tidak normal seperti itu, kan?


Sesshoumaru yang tiba di depan pintu kamar shoji yang tertutup rapat kemudian membukanya pelan. Melangkah masuk, dia bisa melihat Rin yang berbaring di atas futon dengan mata tertutup serta Shura yang menyeringai marah dengan mata merah darah padanya.


Lalu, meski tipis, Sesshoumaru bisa merasakan aura youki yang membungkuk sekeliling Rin dan Shura. Ada rasa bangga dan tawa yang muncul dalam hati penguasa tanah barat melihat sosok putra kecilnya sekarang, sebab dia tahu, meski masih bayi kecil yang tidak berdaya, insting Shura yang merasakan aura pertarungan di luar berkerja dan berusaha melindungi ibunya. Putranya kelak benar akan menjadi seorang inuyoukai kuat dan dapat diandalkan.


Seringai kemarahan Shura langsung menghilang begitu melihat Sesshoumaru, begitu juga dengan aura youki yang ada. Mata merah darahnya kembali menjadi emas, dan dia tertawa dengan gembira kepada ayah kandungnya.


Duduk di samping Rin dan Shura, Sesshouaru menggerakkan tangan kanannya membelai kepala putranya lembut. Seulas senyum tipis memenuhi wajah tampannya. "Bagus, Shura."


Shura tertawa semakin gembira akan sentuhan, senyum dan ucapan Sesshoumaru. Mengangkat kedua tangan kecilnya, dia menyentuh tangan ayah kandungnya penuh semangat.


Tersenyum semakin kentara akan sikap Shura, mata emas Sesshoumaru kemudian terarah pada Rin. Menggerakkan tangan kirinya, dia kemudian menyentuh pipi kisakinya hati-hati. "Rin."


Mata Rin yang tertutup segera terbuka dan menatap balik mata emas Sesshoumaru. Hanya saja, tidak ada senyum musim semi abadi seperti biasanya di wajah tersebut, "Sesshoumaru-sama," panggilnya pelan. "Apakah yang dikatakan Akiko-sama benar? Anda akan turun dari tahta anda dan meninggalkan tanah barat?"


Sesshoumaru terdiam. Dia tahu Rin pasti telah mendengar pembicaraannya dengan Akiko barusan. Dirinya memang bermaksud memberitahu Rin keinginannya ini dengan perlahan setelah dia menemukan pengganti dan mengurus segala prosesnya. Tapi, dia tidak menyangka wanita manusia ini akan mengetahuinya dengan cara seperti ini.


Masih menatap Rin, Sesshoumaru kemudian mengangguk kepala pelan. Dia tahu, sudah tidak ada artinya dia menyembunyikan itu dari kisakinya.


"T-tidak," menggeleng kepala menatap Sesshoumaru, air mata mengalir turun tidak tertahankan di wajah Rin. Ketakutan memenuhi hatinya. "Anda tidak boleh melakukan itu! Jangan melakukan itu hanya untuk seorang Rin!"


Melepaskan tangan kanannya yang ada di kepala Shura, Sesshoumaru menangkap dan menahan kepala Rin untuk tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa. "Rin, tenanglah."


Rin hanya dapat terus menangis menatap wajah Sesshoumaru. Bagaimana dia bisa tenang?—tanah barat. Dia melihat sendiri dengan matanya bagaimana inuyoukai itu menjadi seorang penguasa—melihat semua jerih payah dari inuyoukai itu membesarkan tanah barat hingga seluas, makmur dan sejaya ini. Lalu, kini, inuyoukai itu akan kehilangan tanah barat karena dirinya?


"Tidak!! Dengarkan Rin kali ini Sesshoumaru-sama!!" teriak Rin menyela Tangannya yang tidak bisa bergerak serta badannya yang lemah tidak memungkinkan dirinya melepaskan diri dari Sesshoumaru, tapi menggeleng kepalanya terus, dia berusaha membebaskan diri. "Jangan melakukan itu! Rin tidak sepen—"


Ucapan Rin terhenti. Ketakutan dan keputusasaan semakin besar memenuhi hatinya. Dia bisa merasakan lagi. Kembali datang, rasa dingin itu, rasa takut itu—kematian yang datang menjemput.


Tidak! Jangan sekarang! Berteriak dalam hati, Rin memohon pada kematian jangan datang menghampirinya sekarang. Berikanlah dia waktu, ada yang harus dia lakukan, dia harus menghentikan Sesshoumaru—jangan pernah mengorbankan segalanya hanya demi dirinya.


Tapi, kematian tidak kenal belas kasihan. Dia tetap datang menghampiri tidak peduli bagaimana Rin menangis dan memohon—kematian yang kejam.


Air mata yang mengalir, hati yang hancur, keputusasaan dan penyesalan—Rin merasa dirinya sungguh tidak berguna. Kenapa jadi seperti ini? Semakin lama semuanya semakin tidak benar.


Mengumpulkan segenap tenaga dan berusaha menata hatinya yang pecah, Rin menatap Sesshoumaru. Dalam tangis namun tersenyum penuh paksaan. "S-sesshoumaru-sama, bawa Shura keluar."


Permintaan Rin terucap pelan dan perubahan ekspresi wajah Rin, Sesshoumaru tahu apa maksud serta apa yang akan terjadi. Tapi, bagaimana dia harus bersikap? Di depannya, wanita yang dia cinta menderita; menangis namun tersenyum. "R-rin.."


"Keluarlah, Sesshoumaru-sama." Meido seki di dada Rin bersinar. Angin berhembus mendorong Sesshoumaru dan Shura menjauh hingga keluar dari ruangan. Secara reflek, inuyoukai itu segera meraih putranya yang menangis keras. Namun, mata emasnya terus terarah pada sosok wanita manusia yang masih tersenyum dengan wajah berlinang air mata padanya.


Tidak dapat melakukan apa-apa hanya dapat melihat. Sesshoumaru hanya dapat melihat dan melihat dari pintu kamar yang mulai tertutup perlahan, sekalo lagi, mereka dipisahkan dengan kenyataan yang kejam.


"Rin!!!"


....xOxOx....


"Rin!!!"


Suara keras Sesshoumaru memanggil namanya yang disertai dengan suara tangisan Shura ditangkap telinga Rin. Di atas futon, berbaring tanpa gerak, dia hanya dapat kembali menangis dan menangis dalam kesendirian. Kematian yang datang tanpa pemberitahuan, dia sudah tidak dapat melakukan apa-apa selain menghadapinya.


Rasa sakit datang menyerang, kegelapan datang. Rin bertanya sekali lagi untuk kesekian kalinya; mana yang benar? dan mana yang salah? Dia hanya ingin bersama dengan mereka yang dicintainya—sesederhana itu saja. Bertahan hidup walau sangat menderita, saat melihat senyum dan wajah mereka, dia merasa pilihannya benar. Tapi, semakin lama, tanpa dia sadari, semua ternyata berjalan ke arah yang salah.


Kematian yang datang. Rin ingin bertanya, salahkah dia? Keinginannya untuk selalu bersama dengan mereka yang dia cintai; apakah itu salah?—apakah seharusnya dia memang menutup mata dan menghilang?


Rin.


Aaa..Aa..


Senyum tawa Sesshoumaru dan Shura terbayang dalam pikiran Rin. Sakitnya hati yang hancur berkeping-keping, harapan yang terus dihempas dengan kenyataan yang tidak dia inginkan?—pilihan apa yang seharusnya dia pilih? Hidup atau mati?

__ADS_1


Siapa yang bisa memberitahunya?


....xOxOx....


__ADS_2