Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 159


__ADS_3

Di atas pohon, youkai monyet itu berdiri. Mata hijaunya menatap lurus ke depan pada asap dan api bekas pertarungan. Wajahnya serius dengan sebuah kerutan kecil di dahinya, sebab dia tahu dia sedang melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya terjadi di tanah barat.


Tanah barat.


Tanah dimana dia dilahirkan, dibesarkan dan juga kelak; mati. Tanah dengan para youkai kuat dengan kebanggaan diri tinggi, serta tanah dengan penguasa yang luar biasa dari generasi ke generasi—Kenji selalu tahu tanah barat adalah sebatang pohon besar yang tidak tergoyahkan selamanya.


Tapi kini, mata hijau Kenji bisa melihat jelas asap hitam yang mengumpal di langit siang, kobaran api di hutan wilayah tanah barat dan juga youkai tanah utara yang bebas berkeliaran menciptakan kehancuran di mana saja.


Ya—youkai tanah utara. Tanah utara yang berhasil menekan dan memasuki tanah barat, walau tidak dapat dipercaya, itu benar terjadi. Kenji tidak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi. Banyak kejangalan yang terjadi, tidak seperti biasanya, para klan youkai di bawah tanah barat tidak melakukan perlawanan yang berarti. Bahkan, youkai monyet itu merasa bahwa para klan youkai tanah barat membiarkan youkai tanah utara.


Apakah mereka berkhianat?—tidak. Kenji  yakin para klan youkai tidak berkhianat. Para pemimpin klan adalah mereka yang bersumpah darah kepada Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat. Kesetiaan mereka adalah sesuatu yang tidak diragukan. Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi?


Kenji yang larut dalam pikirannya berusaha berpikir keras akan apa yang terjadi, dan tanpa disadari, tepat di belakangnya sebuah lubang pintu dimensi terbuka.


....xOxOx.,...


"Sesshoumaru-sama!!!" suara Jaken yang memecahakan keheningan terdengar memenuhi kamar dalam paviliun timur.


Seketika, kecuali Sesshoumaru dan Shura, semua pandangan mata yang ada di paviliun timur segera menoleh pada Jaken yang penuh kepanikan.


"Kenapa kau selalu muncul di waktu yang tidak seharusnya, Jaken?" tanya Inuyasha kesal. Inuhanyou itu dan semuanya sedang menunggu jawaban akan pertanyaan Shura dari Sesshoumaru, namun dengan sempurnanya Jaken telah merusaknya.


"Ini bukan saatnya kau bertanya seperti itu!!" balas Jaken setengah berteriak menatap Inuyasha. Pandangan matanya kemudian kembali mengarah pada Sesshoumaru, namun, sosok Shura kemudian merebut perhatiannya. Seketika tawa merekah di wajahnya. "Shura-sama!! Anda sudah pulang? Kenapa tidak memberitahu Jaken ini?"


Shura tetap tidak mempedulikan Jaken. Kedua matanya masih menatap Sesshoumaru tanpa bergeming, seolah memang di tempat ini hanya ada dia dan ayah kandungnya. Inuyoukai kecil itu sudah memutuskan dia tidak ingin kehilangan kesempatan sedikitpun lagi untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


"Shura-sama, anda semakin mirip saja dengan Sesshoumaru-sama, hamba bangga sekali, ha-hamba—hik..hik.." Tawa dan senyum Jaken seketika berubah menjadi tangisan. Melihat sosok Shura yang telah tumbuh besar setelah sekian lama, dia tidak dapat menahan air matanya. Rin apakah kau melihatnya? Putra yang kau cintai telah tumbuh besar.


Perubahan sikap Jaken yang tiba-tiba hanya membuat Inuyasha dan yang lainnya menghela napas. Apa yang sesungguhnya ingin disampaikan youkai katak ini barusan?—sepertinya dia telah lupa.


"Oi, Jaken!" Panggil Inuyasha kemudian. Menyerahkan Sakura yang ada dalam gendongannya pada Kagome, dia berjalan mendekat dan memukul kepala Jaken keras. "Apa yang ingin kau sampaikan??"


"Sakit!!" Teriak Jaken kesakitan. Menatap Inuyasha, wajahnya penuh kemarahan. Tapi, seketika juga pertanyaam inuhanyou itu barusan membuatnya tersadar. Kemarahan kembali berubah menjadi kepanikan, menatap Sesshoumaru, youkai katak itu kembali berteriak, "Sesshoumaru-sama!! Asa—"


"Aku tidak menyangka istana tanah barat adalah tempat yang penuh keramaian." Suara pelan penuh tawa seseorang tiba-tiba terdengar memotong ucapan Jaken.


Berbeda dengan Inuyasha dan yang lainnya yang terkejut, baik Sesshoumaru, Inukimi, Kiri dan Kira tidak memperlihatkam perubahan ekspresi sedikitpun dengan kemunculan tiba-tiba tamu tidak diundang tersebut, sebab mereka telag mengetahui keberadaan youkai tersebut sejak dia menginjakkan kaki ke dalam istana.


"Ayahanda!!" Akiko memanggil keras sosok tersebut. Kedua matanya berbinar gembira begitu juga dengan wajahnya, sebab dia tahu, ayahnya yang telah tiba di istana tanah barat tidak akan mungkin mengijinkan sesuatu terjadi padanya.


"Rubah tua, apakah kau datang untuk menonton keramaian?" tanya Inukimi. Wajah cantiknya datar tanpa emosi, tidak ada yang dapat menebak apa yang ada dalam pikirannya.


Asano tersenyum dan menggeleng kepala. "Tidak. Aku bukan datang untuk menonton keramaian."


Tetap tersenyum, Asano menatap Akiko yang penuh harap sejenak dan kemudian menatap sosok Shura yang berada di depannya. Matanya berbinar gembira. "Ah, ternyata cucuku sudah sebesar ini."


"Cucu siapa? Jangan sembarangan mengaku!!" potong Inuyasha kesal. Ayah-anak dari tanah timur di depannya memang tidak tahu malu. Seorang mengaku sebagai ibu, dan kini, seorang lagi mengaku sebagai kakek??


Asano seakan tidak mendengar ucapan Inuyasha, dia tertawa. Matanya dengan pelan kemudian terarah pada Sesshoumaru. "Apakah kau tidak mengijinkan kunjunganku sebagai seorang mertua di istanamu, Sesshoumaru?"


Ucapan Asano kali ini membuat Inuyasha semakin kesal. Tapi dia tidak bisa berkata apa-apa, karena memang youkai rubah itu adalah mertua Sesshoumaru. Dirinya tidak habis pikir apa yang ada dalam pikiran kakaknya itu, dari semua wanita di dunia ini, kenapa dia memilih Akiko menjadi selir? Bagaimana dia bisa tahan berbesan dengan keluarga penguasa tanah timur?


Terus tertawa, dari sosok Sesshoumaru, mata Asano kembali bergerak dan menatap lukisan wanita manusia paling dicintai di tanah barat. "Rin," ujarnya dan tersenyum. "Kalau tidak salah, itu nama wanita manusia ini, kan?"


Nama Rin yang disebut Asano membawa efek yang luar biasa bagi semua yang ada dalam paviliun timur istana tanah barat. Semua yang ada memicingkan mata menatapnya kecuali Sesshoumaru yang tetap tidak bergerak.


"Diam kau rubah," seringai Kiri penuh kemarahan. "Kau tidak pantas menyebut nama beliau."


"Aku akan mencabut lidahmu jika kau berani menyebut nama beliau dengan mulut kotormu." Tambah Kira, kedua mata emasnya menjadi merah karena kemarahan.


Inuyasha lainnya tidak berkata apa-apa, tapi mereka juga tidak menghentikan Kiri dan Kira. Mereka jelas ingat apa yang dilakukan tanah timur pada Rin dulu, jadi kemarahan si kembar dari tanah barat jelas beralasan.


Asano tertawa keras melihat reaksi Kiri dan Kira. Perlahan, dia kembali menatap Shura. "Kau lihat, Shura? Hanya dengan sebuah nama, si kembar dari barat yang terkenal tanpa emosi menjadi seperti ini. Ah—tidak. Bukan hanya si kembar, tapi percayalah, seluruh tanah barat juga akan seperti itu jika sudah menyangkut wanita manusia tersebut."


Ucapan Asano kali ini mau tidak mau membuat Shura menatap penguasa tanah timur lekat. Dia tidak tahu arah pembicaraan yang ada, tapi dia bersedia mendengarnya jika itu menyangkut wanita manusia yang begitu berarti baginya.


Asano tersenyum lembut melihat sepasang mata emas Shura. Meski wajahnya tenang tanpa emosi, kedua matanya terlihat jelas haus akan keinginan mendengar cerita wanita manusia tersebut. "Dia adalah wanita manusia yang dicintai seluruh tanah barat. Satu-satunya wanita yang dicintai oleh ayahmu; Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat."


Shura diam membisu, tapi kali ini, dia tidak dapat lagi menyembunyikan kegembiraan di mata emasnya yang berbinar gembira. Wanita manusia yang dicintai seluruh tanah barat, wanita yang dicintai ayahnya.


Aku mencintaimu, Shura.


Dalam mimpi akan masa lalunya, suara bagaikan dentingan lonceng yang membisikan cinta. Senyum dan tawa bagaikan musim semi di wajah lembutnya—Shura merasa puas. Tentu saja! Siapa yang tidak akan mencintai wanita itu?


"Karena itulah," lanjut Asano pelan, dan seketika senyum lembutnya berubah menjadi sebuah seringai di wajahnya. "Kau adalah orang paling berdosa di tanah barat."


Shura tertegun mendengar ucapan Asano. Kedua matanya terbelalak, dia tidak mengerti maksudnya, dan tidak memberikan kesempatan bagi siapapun yang ada untuk menghentikannya, penguasa tanah timur melanjutkan ucapannya. "Karena kaulah yang membunuhnya."


"Hei!!!"

__ADS_1


"Berengsek!!"


"Apa maksud ucapanmu!!!?"


Suara teriakan Inuyasha dan yang lainnya terdengar memprotes ucapan Asano, sedangkan untuk Kiri dan Kira, mereka berdua telah berlari menyerang penguasa tanah timur.


Asano meloncat menghindar dan tertawa keras. "Kau tahu kenapa kau menjadi anak, Akiko? Kenapa kau dibuang ke tanah selatan? Kenapa Sesshoumaru tidak mengijinkanmu pulang ke tanah barat?—itu karena kau adalah pembunuh wanita manusia itu!! Dia mati karena melahirkanmu!! Sesshoumaru membencimu karena itu!!"


"Ahhh!! Jangan mengada-ngada, berengsek!!" Inuyasha yang sudah tidak tahan lagi mencabut tessaiga dan ikut menyerang Asano. Omong kosong apa yang diucapkan rubah itu??! Dia tidak dapat berdiam diri lagi.


Asano dengan sigap kembali menghindar, namun, Kiri, Kira dan Inuyasha tidak membiarkannya. Mengangkat pedangnya, Inuyasha bersiap sedia untuk melancarkan bakuryuha. Namun, suara keras Shura tiba-tiba terdengar menghentikan mereka. "Berhenti!!"


Inuyasha, Kiri dan Kira segera berhenti mendengar suara Shura. Menoleh menatap inuyoukai kecil tersebut, mereka melihat wajahnya datar tanpa ekspresi. "Jika kalian ingin bertarung, bertarung di luar. Jangan merusak kamar ini."


Kimono, perhiasan dan lukisan—semua yang ada dalam ruangan ini dengan jelas memperlihatkan siapa pemilik ruangan ini sesungguhnya, karena itu Shura tidak akan mengijinkan siapapun merusaknya. Meski dia tidak ingat, dia tahu ada kepingan kenangan dari wanita manusia itu di sini.


Reaksi datar Shura membuat semua yang ada tidak tahu harus berbuat apa. Ucapan Asano barusan sama sekali tidak berdasar, namun, bagaimana bagi Shura yang selama ini hidup tanpa mengetahui kebenaran akan siapa ibu kandungnya?


Menutup matanya sejenak, Shura kemudian menatap Sesshoumaru yang tidak bergerak maupun berkata sepatah katapun dari tadi. Tidak peduli apa yanh terjadi di sekitarnya,penguasa tanah barat hanya terus menatap luskisan di depannya seakan tidak ada seorangpun dalam kamar ini.


"Ayahanda," panggil Shura pelan. Dia diam sejenak, dan setelah menarik napas seakan sedang mengumpulkan segenap keberanian yang ada, dia melanjutkan apa yang ingin ditanyakannya. "Inikah alasannya? Kenapa anda tidak pernah memberitahuku? Ayahanda membenciku—karena akulah pembunuh ibunda?"


"Tidak, Shura! Kau sa—" sela Kagome mendengar pertanyaan Shura. Dengan Sakura dalam gendongannya, dia berjalan maju mendekati inuyoukai kecil tersebut penuh kepanikan. Namun di luar dugaan, suara keras Jaken yang tadi diam membisu terdengar memotong dan menghentikannya. "Itu tidak benar!! Jangan percaya dengan omong kosong itu, Shura-sama!!!"


Shura adalah pembunuh Rin—Rin mati karena melahirkan Shura? Jaken tahu benar ucapan ini. Dia pertama kali mendengarnya saat dia mengantarkan surat untuk Akihiko beberapa tahun lalu. Kemudian, saat dia menyelidiki lebih lanjut, youkai katak itu menemukan bahwa ada rumor dalam kematian Rin yang beredar di dunia ini.


Kematian Rin yang tiba-tiba dan tidak terjelaskan, tak ada seorangpun yang tahu penyebabnya. Namun, keadaan Rin yang semakin memburuk dan memburuk sejak saat dia mengandung Shura, semua orang tahu. Karena itu, dalam pandangan mata mereka yang tidak pernah melihat seluruh kejadiannya, mereka akan berkata—Rin meninggal karena melahirkan Shura; Shuralah pembunuh Rin.


Melangkah maju mendekati Shura, tidak peduli pandangn semua orang, Jaken segera menarik tangan inuyoukai kecil tersebut. Matanya berkaca-kaca menahan air mata. "Anda bukan pembunuh Rin. Jangan pernah berpikir seperti itu walau di luar sana semua orang bekata begitu. Anda tidak tahu betapa bahagianya Rin saat anda lahir. Betapa—betapa Rin sangat mencintai anda!!"


"Jaken-sama, kemarilah." Rin yang tertawa kecil  sambil mengendong bayinya mengipaskan tangan kanannya pelan. "Shura tampan dan mirip Sesshoumaru-sama, bukan, Jaken-sama? Sama seperti Rin saat kecil. Rin berharap Jaken-sama juga akan selalu menjaga Shura kelak."


"Iya, serahkan padaku, Rin. Kelak, tidak peduli apapun yang terjadi, meski nyawaku taruhannya, aku akan selalu menjaga Shura-sama."


Jari kelingking yang terangkat dengan tawa indah di wajah cantik tersebut. "Janji?"


Jari kelingking yang tertaut erat. Manusia dan youkai; Rin dan Jaken.


"Janji."


Janji Jaken pada Rin untuk melindungi Shura, dia tahu itu sesuatu yang sesungguhnya sangat lucu, karena dirinya yang lemah tidak mungkin dibutuhkan inuyoukai kecil tersebut. Tapi, dengan cara lain, dia akan menepati janji itu.


Air mata Jaken jatuh tidak tertahankan. Rin yang selalu tersenyum dan tertawa. Rin yang selalu percaya dan mendengar ucapannya—bagaimana dia bisa melupakan janjinya? "Percayalah pada ucapan Jaken ini!!"


Shura menatap lurus Jaken tanpa gerak. Dia bisa mendengar ucapan dan melihat air mata Jaken jelas. Tapi, dia tidak bisa mencerna atau menerimanya. Semuanya terasa kacau dan berantakan—tidak terjelaskan.


Menatap punggung Sesshoumaru yang membelakanginya, Shura tidak dapat menemukan kekuatan untuk bertanya lagi pada ayah kandungnya yang diam membisu.


"Shura..."


Suara yang begitu lembut dan menenangkan bagaikan dentingan lonceng terdengar. Dengan segera, dia membuka matanya. Dalam hatinya, dia tahu, apa yang akan dilihatnya nanti. Senyum. Senyum musim semi yang hangat—senyum yang sangat dicintainya.


Dia tidak dapat menghentikan senyumnya lagi. Wanita itu benar-benar ada di depannya, meski masih terlihat pucat, dia sedang tersenyum dan menggendong dirinya yang masih bayi. Dia mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajah wanita itu. Betapa gembiranya dia saat berhasil menyentuhnya.


Wanita itu tertawa, dan kembali mencium keningnya dengan begitu lembut. Lalu, tangan seseorang tiba-tiba mengelus kepalanya. Dia tidak tahu tangan siapa itu, tangan itu sangat besar, kuat namun juga hangat—tangan seorang laki-laki. Tangan yang menjaminkan keamanan dan perlindungan. Tiba-tiba saja, dia pun menyadari bahwa wanita yang sedang menggendong dirinya sedang duduk di pangkuan pemilik tangan itu.


Mata emasnya berusaha untuk melihat siapa pemilik tangan itu. Namun, dia tidak dapat melihatnya, sebab wanita itu tiba-tiba mendekapkan wajahnya pada dada, memeluknya. Hanya saja, bau laki-laki itu tidak asing baginya. Dia mengenal siapa laki-laki itu dengan sangat baik walau dia tidak bisa mengingatnya. Lalu, sepasang tangan hangat laki-laki itu bergerak memeluk mereka, memeluk wanita itu dengan dirinya dengan begitu erat, namun juga lembut, seakan mereka berdua adalah hidupnya, nyawanya, miliknya yang paling berharga—sesuatu yang tidak tergantikan dalam keberadaannya.


Dia kembali tersenyum dan membenamkan wajah pada dada wanita itu, menutup matanya dan membiarkan kehangatan kedua orang itu menyelimutinya. Dia merasa sangat damai dan terlindungi. Hangat. Sangat-sangat hangat.


Cinta, Shura. Walau apa pun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu..."


Dalam mimpi masa lalu yang indah, meski tidak pernah dia melihatnya, Shura tahu, siapa laki-laki pemilik tangan besar, kuat dan hangat tersebut. Siapa kami yang dimaksud, yakni kedua orang tua kandungnya; Rin dan—Sesshoumaru.


Karena itulah, Shura tidak pernah menyerah untuk pulang ke istana tanah barat, dia percaya ada alasan kenapa ayahnya memerintahkannya meninggalkan tanah barat. Dia percaya, Rin mencintainya, begitu juga dengan—Sesshoumaru.


Ikatan abadi. Selamanya, ikatan kita bertiga tidak akan pernah terputuskan...


Tapi, kini semuanya berubah. Kepercayaannya hancur hanya dengan ucapan Asano. Shura tahu dia tidak seharusnya percaya dengan omongan youkai rubah itu berdasarkan reaksi Jaken dan juga mereka yang ada, tapi kenapa? Kenapa Sesshoumaru, ayah kandungnya tidak berkata apa-apa? Beliau tidak memberikan reaksi sedikitpun dan yang terpenting; beliau tidak melihanya sedikitpun?—seakan membenarkan semua ucapan Asano.


Mencintai adalah perasaan manusia, dan perasaan manusia mudah berubah. Dari waktu ke waktu dari satu kejadian ke kejadian lain—apakah seperti itu juga perasaan ayah kandungnya kepadanya? Dulu dia mencintainya, tapi setelah kehilangan wanita paling berharga bagi mereka, dia mulai membencinya. Shura menginginkan kebenaran. Tapi, inikah kebenaran itu? Alasan kenapa ayahandanya tidak memberitahu siapa ibu kandungnya dan membiarkan Akikolah yang menjadi sang penganti?—Ayahandanya membencinya karena dialah pembunuh ibunya sendiri.


Ruangan menjadi hening, tidak ada seorangpun yang mengatakan sepatah katapun lagi. Mata mereka semua terarah pada Shura dan Sesshoumaru, hingga suara Inukimi tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan.


"Sesshoumaru, sampai kapan kau akan diam membisu?" Suara Inukimi tenang seperti biasanya.


Shura menoleh menatap Inukimi. Dia tidak tahu siapa inuyoukai tersebut, tapi, dia juga tahu mereka masih memiliki hubungan darah dari bau yang ada.


Inukimi tersenyum melihat pandangan Shura. Cucunya ini—sudah berapa tahun dia tidak melihatnya? baru tidak lama melihatnya, dia telah tumbuh besar dengan begitu baik. "Namaku Inukimi," tawanya pelan. "Aku adalah nenek kandungmu dari pihak ayahmu."

__ADS_1


Shura hanya terus menatap Inukimi, dia tidak terkejut mengetahui apa hubungan antar mereka, bahkan sesungguhnya sudah menduga. Inukimi dari tanah barat, mantan penguasa tanah barat—ibu kandung dari Sesshoumaru dari tanah barat.


Reaksi tenang Shura membuat Inukimi tertawa semakin keras. "Kau benar-benar putra dari putraku," dia kemudian kembali mengarahkan pandangan pada Sesshoumaru. "Tidakkah kau berpikir kau harus menjawab pertanyaan anakmu, Sesshoumaru?"


Sekali lagi, Sesshoumaru tetap diam membisu. Tidak ada seorangpun yamg dapat menebak apa yang ada dalam pikiran penguasa tanah barat tersebut.


"Jika seperti ini kau membesarkan Shura," lanjut Inukimi. Tidak ada perubahan di wajahnya. "Seharusnya aku membawanya saat meninggalkan istana tanah barat."


Anak dibesarkan orang tua. Inukimi dulu menyerahkan pengasuhan Shura sepenuhnya pada Sesshoumaru dan meninggalkan istana. Dia tidak ikut campur karena Sesshoumaru mengatakan akan membesarkan anaknya sendiri.


'Darah manusia Rin tidak akan membuatnya menjadi hanyou. Shura akan lahir sebagai Inuyoukai sejati berharga diri tinggi. Tampan, bijaksana dan kuat, seperti anda Sesshoumaru-sama.'


Ucapan Rin saat itu tergiang dalam pikiran Inukimi. Rin yang menginginkan anaknya tumbuh besar seperti ayahnya, karena itulah dulu dia menyerahkan pengasuhan Shura sepenuhnya pada Sesshoumaru. Dia tidak ikut campur karena Sesshoumaru mengatakan akan membesarkan anaknya sendiri seperti dirinya. Tapi, Inukimi tidak pernah menyangka ini yang akan terjadi.


Inukimi merasa bersalah pada Shura sekarang, seharusnya dia tidak mempercayai ucapan Sesshoumaru yang mengatakan akan membesarkan Shura dengan baik, dan yang paling penting dia tidak seharusnya membiarkan kesedihan memakan dirinya hingga meninggalkan istana.


Kesedihan.


Tinggal di istana yang penuh kenangan, Inukimi selalu melihat bayangan musim semi abadi yang dicintai tanah barat. Senyum dan air mata, tawa dan tangisan, kebahagiaan dan penderitaan, kehidupan dan kematian dari seorang wanita manusia bernama; Rin—Istana tanah barat bukanlah istana tanah barat yang dulu lagi. Bagi dirinya, Kiri, Kira dan mereka yang meninggalkan istana tanah barat dengan alasan yang sama, kenangan yang tertinggal terlalu menyakitkan. Karena itu mereka memilih untuk meninggalkan tempat semuanya terjadi dan membiarkan waktu untuk menyembuhkan.


Diamnya Sesshoumaru tidak dipedulikan Inukimi lagi. Putranya mungkin tidak akan mengatakan sepatah katapun—tidak ada orang yang bisa memaksa sang penguasa tanah barat itu membuka mulutnya jika dia tidak mau.


Menoleh wajah pada Shura kembali, Inukimi tersenyum. "Shura, jika ka—"


Namun, ucapan Inukimi tidak terselesaikan, karena tiba-tiba saja, Asano yang diam membisu berteriak keras memerintah Akiko yang ditahan dua prajurit istana tanah barat. "Akiko, bunuh miko dan putrinya!!"


Kagome yang melangkah maju beberapa langkah dengan Sakura dalam gendongan beberapa saat yang lalu telah membuat posisi Akiko yang ditahan oleh dua prajurit istana tanah barat adalah yang paling dekat dengan mereka berdua.


Perintah Asano tidak dimengerti Akiko, tetapi dia dengan segera menurutinya, sebab dia tahu, ayah kandungnya adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawanya sekarang. Mengumpulkan dan melepaskan aura youkinya, Akiko dengan mudah berhasil menghempaskan kedua prajurit yang menahannya. Dia memang tidak akan menang jika melawan Inukimi, Kiri ataupun Kira, tapi dia jelas bukanlah youkai yang lemah.


Berlari maju ke arah Kagome dan Sakura secepat yang dia bisa, dia mengangkat kedua tangannya yang memiliki cakar panjang dan memancarkan youki kuat menyerang, begitu juga dengan delapan ekor besar dan panjang yang muncul di belakangnya bagaikan senjata.


"Kagome!!!!"


"Kagome!!"


"Ibu!!!"


Suara teriakan dari Inuyasha dan yang lainnya terdengar memberikan peringatan pada Kagome. Namun miko masa depan itu masih tertegun dan berdiri di tempatnya, karena semua yang terjadi sangat tiba-tiba, dia sama sekali tidak menyangka dirinya serta Sakura akan menjadi sasaran serangan.


Inuyasha, Shiro, Sango, Miroku dan yang lainnya segera berlari maju begitu juga dengan Inukimi. Berpacu dengan waktu mereka berusaha menyelamatkan Kagome dan Sakura, sedangkan untuk Sesshoumaru, Kiri, Kira, mereka tidak bergerak sedikitpun melihat apa yang terjadi. Namun, dalam kekacauan tersebut, Shura yang berada paling dekat dengan Kagome, Sakura dan Akiko tiba-tiba berlari maju.


"Akhhh!!! Shura-sama!!!" teriakan Jaken terdengar keras membuat Kiri dan Kira yang berdiam diri terkejut dan seketika ikut berlari maju. Mereka berdua tidak peduli dengan hidup mati Kagome dan Sakura, namun tidak untuk Shura. Bagi mereka, Shura bukanlah sekadar pewaris tanah barat atau tuan mereka di masa depan, inuyoukai kecil itu sangat berharga bagi mereka karena dia adalah anak dari wanita manusia yang sangat mereka cintai.


Semua yang terjadi sangat cepat dan tidak tertebak. Suara ledakan kuat terdengar memenuhi ruangan. Asap mengepul, lantai tatami dalam ruangan rusak begitu juga dengan atap karena ledakan yang terjadi. Mata semua yang ada tertuju pada satu tempat, dan saat asap menghilang mereka melihat Kagome yang memeluk erat Sakura serta Shura yang berdiri di depan mereka berdua dengan pedang ditangan menahan serangan Akiko.


Inuyasha dan yang lainnya segera bernapas lega melihat Shura yang berhasil menyelamatkan Kagome dan Sakura, begitu juga untuk Inukimi, Kiri dan Kira, mereka segera menghentikan langkah kaki mereka melihat inuyoukai kecil tersebut tidak terluka sedikitpun.


Lalu—saat kelegaan memenuhi hati semua yang ada. Saat mereka merasa lengah sesaat, dari belakang Inukimi, Kiri dan Kira sebuah lubang pintu dimensi terbuka dengan tiba-tiba.


Angin bertiup kencang keluar dari dalam lubang pintu dimensi tersebut dan sedetik kemudian, lubang itu menjadi mengisap.


"Inukimi-sama!!"


"Inukimi-san!! Kiri-san!! Kira-san!!"


Jaken, Inuyasha dan yang lainnya berteriak memanggil ketiga inuyoukai melihat apa yang terjadi, tapi baik Inukimi, Kiri dan Kira tidak dapat berbuat apa-apa, badan mereka dengan cepat terhisap masuk ke dalam lubang pintu dimensi yang terbuka.


Perubahan keadaan yang tidak menentu dan mengejutkan dengan segera membuat semua yang ada dalam ruangan tertegun. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Akiko dengan segera meloncat dan mendarat di dekat Asano.


"Ayahanda." Panggil Akiko. Wajahnya penuh kebingungan, tapi melihat senyum di wajah Asano, kebingungan dalam hatinya kemudian berubah menjadi kegembiraan. Dia tidak tahu apa rencana ayahnya, tapi senyum itu jelas menjanjikan merekalah yang berada di atas angin sekarang.


Keheningan sekali lagi memenuhi ruangan, baik Inuyasha dan yang lainnya tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi. Namun, suara Sesshoumaru yang sejak awal diam membisu tidak peduli apa yang terjadi tiba-tiba terdengar.


"Apakah kau masih ingin bersembunyi?" suara Sesshoumaru tenang dan datar tanpa emosi. Dia terlihat tidak terkejut sedikitpun dengan apa yang terjadi.


Shura, Inuyasha dan yang lainnya segera menoleh wajah menatap Sesshoumaru. Mereka tidak mengerti kepada siapa pertanyaan itu diarahkan. Namun, suara tawa tiba-tiba terdengar memenuhi udara.


Bersamaan suara tawa yang ada, di samping Asano dan Akiko, sebuah pintu dimensi kembali terbuka, dan dari dalam pintu dimensi tersebut, seorang youkai berjalan keluar dengan senyum lebar di wajah. "Lama tidak bertemu, Sesshoumaru."


Kecuali para anak-anak, Inuyasha dan yang lainnya segera mengenali sosok youkai yang muncul dihadapan mereka.


"Takeru dari Utara." ujar Inuyasha sinis.


Berambut hitam pendek dengan sepasang mata hijau, yang muncul dari dalam pintu dimensi yang terbuka tidak lain adalah Takeru sang penguasa tanah utara.


Membalikkan badannya, Sesshoumaru menatap lurus sosok Takeru yang tersenyum lebar kepadanya. Tetap tidak ada ekspresi di wajah datar penguasa tanah barat tersebut. "Lama tidak bertemu—Shui."


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2