Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 164


__ADS_3

Berlari dalam kegelapan, Shura tidak dapat melihat apapun. Menatap sekeliling, dia tidak tahu apa yang dia cari. Mata emasnya kemudian menatap sosok punggung seseorang. Tinggi tegap dengan rambut perak panjang sepertinya, Shura tidak butuh melihat wajahnya, dia tahu yang di depannya itu adalah ayah kandungnya, penguasa tanah barat; Sesshoumaru.


"Ayahanda!!!!"


Berteriak memanggil dengan segenap tenaga, Shura melihat ayahnya kemudian membalikkan badan menatapnya. Wajah tenang tanpa ekspresi dan mata emas tanpa emosi—ayahnya yang selalu kuat dan tidak terkalahkan.


"Ayahanda!!"


Panggil Shura lagi. Mempercepat larinya, dia terus berlari mendekati Sesshoumaru. Namun, tiba-tiba saja, dia bisa melihat sebuah tangan mungil wanita melesat keluar dari dada ayah kandungnya—penuh darah dengan sebuah jantung yang berdetak di dalamnya.


"Ayahandaaa!!!!!"


Berteriak panik, Shura melihat Sesshoumaru menutup mata dan ambruk ke bawah. Tidak bergerak lagi dalam genangan darah merah yang meluas bagaikan lautan hingga menyentuh kakinya.


Lalu, mata emas Shura menemukan seorang wanita manusia yang berdiri di dalam lautan merah. Wanita manusia yang sangat berarti bagi inuyoukai kecil tersebut. Mata coklatnya penuh dengan kebencian dan seulas senyum mengembang di wajah cantiknya. "Kau adalah pembunuhku, dan kini kau juga membunuh ayah kandungmu."


"Tidak!!!!"


Membuka mata, Shura menemukan dirinya sendirian dalam sebuah ruangan yang asing. Ruangan tersebut sangat sederhana dan tidak begitu besar. Bangkit duduk, dia menemukan dirinya berada di atas futon lembut dengan perban di beberapa tubuhnya. Rasa sakit dirasakannya dan inuyoukai kecil tersebut itu tahu bahwa tulang rusuknya yang patah belum sembuh sepenuhnya.


Kebingungan memenuhi hati Shura, dia tidak tahu dimana dirinya berada. Ingatan terakhirnya adalah seorang youkai yang mengendongnya dipundak bersama dengan Inuyasha dan Shiro.


Bangkit berdiri, menahan rasa sakit yang menyerangnya, Shura kemudian melangkah keluar. Menyusuri lorong yang asing baginya, telinganya kemudian mendengar suara bicara orang dalam sebuah ruangan.


"Bagaimana kau bisa tahu Miroku akan mengerti rencanamu hanya dengan memanggil namanya, Shippo?" suara Kagome terdengar pelan penuh tanda tanya.


"Ah, tentu saja aku tahu, Kagome." Tawa Miroku menyela.


"Karena aku tahu Miroku pasti akan berpikir untuk melarikan diri dalam keadaan itu. Melarikan diri baginya pasti adalah sebuah seni pertarungan saat keadaan tidak menguntungkan. Dia tidak akan melepaskan kesempatan yang ada. Masalah harga diri urusan belakang." Balas seorang youkai rubah kecil penuh tawa.


"Apa maksudmu, Shippo? Seperti itukah aku dalam matamu?" Sanggah Miroku. Suaranya pelan namun terdengar jelas tidak setuju.


"Ternyata kau mengenal Miroku dengan baik, Shippo." sela Sango pelan. Kedua matanya menatap takjud Shippo.


"Sango, apa maksud ucapanmu itu??" ujar Miroku lagi. Kali ini penuh kepanikan. "Aku ini tidak seperti itu! Aku ini hanya penuh perhitungan. Tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur!!"


"Iya-iya, aku mengerti." Balas Sango dengan suaranya yang tidak peduli.


"Sango!!" panggil Miroku, suaranya terdengar putus asa. "Hei, Inuyasha, Kohaku!! Katakan sesuatu!! Aku tidak seperti yang dikatakan Shippo, kan??"


Kohaku yang tiba-tiba ditanyai oleh Miroku tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis dan menggaruk kepala. Menunduk kepala, dia tidak menjawab, sebab, bagaimana mungkin dia memberikan jawaban yang akan memojokkan kakak iparnya?


Sedangkan untuk Inuyasha, inuhanyou itu duduk dengan kedua tangan terlipat di dada. Dia tidak peduli dengan pembicaraan yang ada, dan wajahnya terlihat jelas sangat kesal.


"Inuyasha?" panggil Miroku menyadari suasana hati Inuyasha yang tidak seperti biasanya.


"Ada apa, Inuyasha?" tanya Kagome. Dia yang juga menyadari keanehan pada suaminya bertanya pelan.


Inuyasha tetap tidak menjawab dan membuat semua yang ada dalam ruangan menatapnya bingung.


"Inuyasha-sama, ada apa?" tanya seorang youkai tupai pelan dan hati-hati. Dia adalah Koharu, sang pemimpin tanah netral. Tapi, gelarnya sebagai sang pemimpin bukan didapatkannya karena dia kuat, melainkan karena tidak ada yang mau mengambil tangung jawab sebagai pemimpin sepuluh tahun yang lalu.


Inuyasha tidak menjawab, dia menoleh wajahnya menatap Koharu sebentar dan berdecak tidak suka.


Wajah Koharu menjadi pucat pasi melihat sikap Inuyasha. Tanah netral adalah kumpulan dari klan-klan lemah. Mereka tidak bisa berbuat banyak jika ada yang menyerang, dan sejak sepuluh tahun yang lalu juga, tanah netral bergantung kepada tanah barat. Karena itu, sikap Inuyasha yang merupakan adik seayah dari Sesshoumaru sang penguasa tanah barat sangat penting bagi mereka.


Bingung tidak tahu harus berbuat apa, Koharu menoleh kepala menatap dua youkai tikus putih di sampingnya meminta pertolongan.


Kedua youkai tikus putih yang merupakan kakak-adik juga sama bingungnya dengan Koharu. Diam membisu menatap sang pemimpin tanah netral mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.


"Inuyasha, hentikan. Kau hanya membuat Yuki-chan, Sora-chan dan Koharu-san bingung dengan sikapmu itu," Kagome yang ada di samping Inuyasha dapat melihat jelas kebingungan ketiga youkai tanah netral tersebut, dan dia benar tidak dapat membiarkannya. "Mereka sudah menyelamatkan kita. Kau harusnya berterima kasih pada mereka."


Yuki, Sora, Koharu dan Shippo—empat youkai tersebut adalah youkai yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan mereka dari Shui di istana tanah barat. Tanpa bantuan mereka, Kagome benar tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Tidak, Kagome-sama," sela Koharu cepat penuh kepanikan. "Apa yang kami lakukan sudah sepatutnya. Anda tidak perlu berterima kasih."


"Aku bukannya tidak berterima kasih," balas Inuyasha. Berdiri, dia menatap tajam Koharu yang berkeringat dingin penuh ketakutan. "Tapi, bagaimana bisa mereka meninggalkan Sesshoumaru di sana!!"


Inuyasha sangat kesal serta marah hingga tidak dapat disembunyikan lagi. Shippo, Yuki, Sora dan Koharu memang menyelamatkan mereka, dan dia berterima kasih untuk itu. Tapi, bagaimana bisa mereka tidak mempedulikan Sesshoumaru? Terutama untuk Koharu yang mengangkat dirinya, S²hiro dan Shura untuk melarikan diri—bukankah posisinya sangat dekat dengan Sesshoumaru??!


"H-hamba bukan bermaksud meninggalkan Sesshoumaru-sama," balas Koharu terbata-bata. Wajah pucatnya semakin pucat. "Hamba tidak bisa membawa Sesshoumaru-sama lagi. Tanganku sudah penuh dan waktu tidak cukup, terlebih lagi.. Sesshoumaru-sama sudah tidak bernyawa..."


Koharu bukannya tidak mau membawa Sesshoumaru, keadaan saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Waktu yang sedikit dan juga bahaya di depan mata, dia harus memprioritaskan mereka yang masih hidup.


"Kau!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan mendengar ucapan Koharu.


"Inuyasha," panggil Kagome kesal sambil menutup mata. "Osuwa—"


Namun, belum selesai ucapan Kagome, pintu shoji yang tertutup tiba-tiba terbuka, dan Shura berdiri dengan wajahnya yang datar namun, tidak dengan mata emasnya yang kini telah berubah menjadi merah darah. "Apa maksudnya meninggalkan ayahandaku dan beliau sudah tidak bernyawa?"

__ADS_1


Semua yang ada dalam ruangan segera menoleh mata menatap Shura. Namun, tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya. Lalu, dalam keheningan yang ada, suara teriakan Jaken terdengar memecah keheningan dari luar.


"Celaka!! Shura-sama menghilang!!!" teriakan Jaken terdengar keras penuh kepanikan. Youkai katak itu berlari dari lorong yang dilalui Shura barusan menuju ruang di mana Inuyasha dan yang lainnya berada. Namun, teriakannya segera berhenti begitu melihat sosok Shura di depan ruangan. Senyum lebar memenuhi wajahnya, dan dia segera berlari mendekati tuan mudanya tersebut. "Shura-sama, anda sudah sadar? Syukurlah."


Semua yang ada dalam ruangan menoleh pandangan mereka dari Shura kepada Jaken yang tidak memahami keadaan. Namun, tidak untuk inuyoukai kecil tersebut, matanya masih semerah darah dan menatap mereka yang ada dalam ruangan tajam.


"Kecil," panggil Inuyasha. Masih berdiri, dia membuka mulutnya untuk menjelaskan keadaan mereka sekarang. "Dengar, ayah—"


"Koharu-sama!!!!!"


Baru mulai membuka mulutnya, penjelasan Inuyasha telah dipotong suara seseorang dari luar. Penuh kekesalan, inuhanyou itu menatap tajam arah datangnya suara keras yang ada.


Dari lorong yang dilalui Shura dan Jaken, seorang youkai tupai, berlari mendekati ruangan yang ada. Wajahnya pucat pasi dan ketakutan memenuhi wajahnya. "Koharu-sama!! A-ada yang mengantarkan Sesshoumaru-sama kemari!!ll


"Ehhhh?????"


....xOxOx....


Berdiri di depan pintu kediaman Koharu sang pemimpin tanah netral, Shura menatap sosok youkai wanita yang mengantarkan ayah kandungnya, Sesshoumaru kemari. Kebingungan memenuhi hatinya, sebab dia tidak mengerti kenapa wanita itu bisa berada di sini.


Kagome dan yang lainnya yang berada di belakang Shura juga menatap bingung youkai wanita tersebut. Pikiran mereka semua juga sama, yakni tidak mengerti bagaimana wanita itu bisa mengantarkan Seashoumaru kemari? Hanya Inuyasha seorang yang tidak berpikir seperti itu, inuhanyou itu dengan cepat bergerak melewati wanita itu membantu beberapa youkai tanah netral yang sedang mengangkat badan Sesshoumaru.


"Shura-sama," panggil wanita tersebut lembut dan tersenyum. "Syukurlah, anda baik-baik saja."


Berambut dan bermata merah, dengan badan tinggi langsing yang dibalut kimono mewah berwarna biru. Wajahnya yang cantik tidak asing bagi Shura, sebab wanita tersebut adalah youkai yang selalu dilihatnya berada di samping Akihiko, sang penguasa tanah selatan. "Tsubasa-sama..."


....xOxOx....


Duduk di atas tatami dalam ruangan yang telah hancur, Shui tersenyum. Mengangkat kepala, dia menatap langit malam yang terlihat karena atap ruangan yang telah menghilang. Ruangan yang hancur berantakan dengan bekas kebakaran dimana-mana sama sekali tidak menganggu dirinya.


Perlahan, Shui kemudian menurunkan kepala menatap gulungan di tangannya. Dengan pelan dia membukanya, dan semyum di wajahnya hanya semakin lebar.


Cantik.


Tidak pernah berubah, wanita manusia dalam lukisan di tangannya memang wanita dengan kecantikan yang bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya. Dia yang bagaikan musim semi begitu mudah dicintai, dan Shui selalu berpikir, bagaimana rasanya jika dicintai musim semi tersebut? Bahagia? Puas?—dan bagaimana rasanya jika kemudiam kehilangan?


Shui juga selalu merasa, siapapun yang berhasil mendapatkan cinta sang musim semi itu seumur hidupnya pasti tidak akan mungkin dapat melupakannya, tidak terkecuali; Sesshoumaru. Siapa yang dapat melupakan indah dan hangatnya musim semi?—karena itulah, Sesshoumaru jatuh dari puncak.


Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan bagi youkai.


Sesshoumaru mencintai Rin. Dengan gilanya, dia mencintai wanita manusia tersebut. Segala yang dilakukannya—tidak ada seorangpun yang akan meragukan betapa besar cintanya. Dia tidak peduli ditertawakan, diremehkan, dan juga yang paling penting, dia tidak peduli dirinya yang tidak bercela akhirnya memiliki sebuah cela yang sangat fatal—kelemahan satu-satunya.


Dengan tangan kiri memegang lukisan, Shui mengerakkan tangan kanannya menyusuri wajah sang wanita dalam lukisan. Lalu sejenak kemudian, dia meremas lukisan itu dengan kuat dan menariknya hingga koyak. Suara tawa penuh kegilaan terdengar, begitu juga dengan binar matanya. "Karena itu, tunggu!! Aku akan segera mengirimkan putramu ke sisimu!! Keluarga kecil kalian akan segera bersatu!!"


Menghempaskan lukisan yang telah hancur ke atas tatami, Shui bangkit berdiri. Berjalan pelan, langkah kakinya menuju taman di samping ruangan yang hancur tersebut. Mata birunya bisa melihat, ribuan youkai yang berlutut dan berkumpul menunggu dirinya.


Akhirnya.


Akhirnya, setelah sekian lama, apa yang paling dia dambakan telah digapai. Hari ini adalah hari yang baru—era yang baru. Tanah barat yang lama telah hancur dan dengan tangannya sendiri, dia akan membangun tanah barat baru yang lebih besar dan jaya tidak terkalahkan. Dia akan membuktikan pada Inu No Taisho bahwa, dirinya, Shuilah yang paling pantas menjadi sang penguasa tanah barat.


"Untuk tanah barat yang baru!! Hancur dan bunuh mereka yang lemah!!"


....xOxOx....


Duduk diam tidak peduli dengan mereka yang ada dibelakangnya, Shura menatap wajah ayah kandungnya yang terbaring tanpa napas di atas futon. Seakan sedang tertidur panjang, wajah yang selalu datar tanpa ekspresi tersebut terlihat sangat tenang. Dia tidak dapat menjelaskan perasaannya sekarang. Semua yang ada bercampur aduk. Apakah dia sedih? Takut? atau—bersalah?


Ayahandanya, Sesshoumaru sang penguasa tanah barat. Beliau adalah youkai terkuat yang pernah hidup di muka bumi ini. Beliau adalah inuyoukai yang akan membuat siapapun gentar hanya dengan namanya, tidak peduli itu kawan maupun lawan. Tapi, beliau telah kalah, dan itu karena—dirinya. Jika saja dia tidak ragu dengan sosok Shui yang menyerupai Rin, jika saja dirinya tidak gegabah dan bertindak tanpa pikir saat melihat lukisan Rin yang terbakar, maka—semua ini tidak akan terjadi.


Apa yang terjadi adalah salahnya. Shura sungguh ingin tertawa, tapi dia tidak dapat menemukan tenaga untuk melakukan itu. Tidak hanya menyebabkan kematian ayahandanya, dia bahkan juga tidak dapat menyelamatkan lukisan sang ibu yang begitu berharga—betapa tidak berguna dirinya.


Shura, lupakanlah...


Ucapan terakhir ayahandanya tergiang dalam kepala Shura, dan dia menutup mata emasnya menahan semua perasaan bercampur aduk yang ada. Lupakan? Lupakan apa?—ibu kandungnya? Kenyataan darah yang mengalir dalam nadinya?


Shura ingin bertanya, apa yang harus dia lupakan? Tapi, itu telah menjadi sesuatu yang mustahil. Lupakan. Jika saja dia tahu ini yang akan terjadi, maka dia rela melupakan. Dia tidak akan bertanya lagi pada ayahandanya, dia akan melupakan—jika mata emas ayah kandungnya bisa terbuka lagi.


Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.


Sendirian. Dia kini sendirian dan seharusnya itu bukanlah sesuatu yang aneh. Dia telah diajarkan untuk sendirian sejak kecil, tanpa cinta sang ibu maupun sang ayah. Tapi, kenapa perasaan yang ada begitu menyiksanya?


"Shura-sama..." suara Jaken terdengar pelan dari samping Shura. Youkai katak itu menatap khawatir tuan mudanya yang meski terlihat tenang tapi sangat kacau di dalamnya.


Di belakang Shura, Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Kohaku, Tsubasa berdiri dalam diam, begitu juga dengan Shippo, Yuki, Sora dan Koharu. Mereka ingin mengucapkan sesuatu, tapi seperti ada yang menahan suara mereka, mereka tidak dapat melakukannya.


Tap-tap-tap.


Suara berlari terdengar dari luar, dan sejenak kemudian, pintu shoji ruangan dimana mereka semua berada terbuka. Suara panggilan seorang gadis kecil terdengar. "Kak Shura!!!"


Semua pasang mata dalam ruangan kecuali Shura segera menoleh pada pemilik suara yang tidak lain adalah Sakura. Di belakang Sakura, mereka juga dapat melihat Shiro, Mamoru, Aya dan Maya. Wajah mereka semua terlihat penuh kekhawatiran menatap ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Sakura? Ada apa?" Inuyasha segera berjalan mendekati putri kesayangannya.


Namun, Sakura tidak menjawab pertanyaan Inuyasha. Kedua mata emasnya hanya terus menatap lurus punggung Shura yang duduk tanpa bergeming di depannya.


Sejak pertemuan mereka sampai sekarang, Sakura selalu melihat Shura sebagai sosok yang sangat luar biasa. Inuyoukai itu selalu tenang dan dapat diandalkan, sangat berbeda dengan dirinya. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, dia bisa melihat betapa rapuh sosok tersebut.


Sakura memang tidak tahu apa yang terjadi sepenuhnya. Kejadian demi kejadian yang terjadi semenjak mereka bertemu sepertinya terus berputar dengan cepat, namun ada satu yang dia tahu. Sosok inuyoukai yang berbaring tanpa nyawa di depan Shura sekarang adalah ayah kandung Shura. Lalu untuk ibu kandungnya—Sakura juga tahu, Shura tidak memiliki ibu lagi.


Di dunia yang luas ini, Shura kini sendirian. Berbeda dengan dirinya yang memiliki ayah, ibu, kakak dan yang lainnya disamping, Sakura tahu, Shura kini benar-benar sendirian. Tanpa ayah dan ibu—sebatang kara. Punggung yang tegap namun rapuh. Tidak mengucapkan apa-apa, tapi kesedihan yang ada begitu luar biasa—Sakura benci dan tidak mau melihat Shura seperti itu.


"Sakura." Panggil Inuyasha lagi melihat Sakura yang tidak bereaksi. Biasanya, putrinya sudah akan berlari dan meminta gendongan.


Terus menatap Shura, Sakura kemudian melangkah. Tidak peduli pandangan semua yang ada, dia mendekati inuyoukai kecil itu dan duduk di sampinganya.


"Hei, apa yang kau lakukan, hanyou kecil!!" protes Jaken melihat Sakura yang dengan seenaknya duduk di samping Shura.


Sekali lagi, Sakura tidak peduli. Menggerakkan tangannya, dia kemudian mengenggam erat kedua tangan Shura, yang mau tidak mau membuat pandangan mata inuyoukai kecil itu terarah padanya.


"Kak Shura, bersediakah kakak," ujar Sakura keras. Wajahnya penuh keseriusan dan kedua mata emasnya bersinar cemerlang tanpa keraguan. "Bersediakah kakak menjadi ayah dari anak Sakura?"


"..... "


"..... "


"....."


Keheningan luar biasa dari ruangan yang telah sunyi menjadi semakin sunyi karena napas semua orang yang tertahan. Namun, sedetik kemudian suara teriakan memekakkan telinga memenuhi ruanagan.


"Miroku!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan.


"Mamoru!!!!" teriak Shiro sama marahnya seperti ayahnya, Inuyasha.


Tidak peduli apapun lagi, Inuyasha mencengkram kerah kimono Miroku dan menatapnya penuh kemarahan. "Apa yang kau ajarkan pada Sakura??!"


Sedangkan untuk Shiro yang berada di luar ruangan, dia juga menarik Mamoru penuh kemarahan. "Kau!!! Beraninya kau menodai pikiran suci adikku!!! Apa yang kau ajarkan padanya??!"


Miroku dan Mamoru tidak menjawab pertanyaan yang tertuju pada mereka. Wajah mereka penuh kebingungan dan putus asa. Kedua ayah-anak tersebut merasa sangat tidak adil dalam hati. Mereka tidak mengajarkan apapun pada Sakura, inuhanyou kecil itu hanya melihat apa yang mereka lakukan dan mencontohinya—bagaimana bisa Inuyasha dan Shiro berpikir mereka menodai kepolosan pikiran Sakura?


Jaken yang sempat tertegun dengan ucapan Sakura tersadar dengan teriakan Inuyasha dan Shiro. Penuh kemarahan dia berteriak keras. "Hei, hanyou!!! Beraninya kau berpikir menjadikan Shura-sama ayah dari anakmu!! Apa kau tahu siapa beliau??! Bercerminlah terlebih dahulu!!!"


Kagome, Sango serta yang lainnya segera tersadar karena keributan yang ada. Menatap Sakura, mereka semua benar-benar kehilangan kata, terutama Kagome yang merupaka ibu kandung dari hanyou kecil itu, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis karena ucapan putrinya barusan.


"Hmn," tawa yang tertahan kemudian meluncur keluar dari mulut Tsubasa yang dari tadi diam membisu. Dia tidak dapat menahan tawanya lagi melihat apa yang terjadi. "Hahahaha!"


Tawa Tsubasa membuat semua yang ada menatap youkai burung yang selalu tersenyum anggun tersebut. Namun, yang bersangkutan tidak peduli, dia menatap lurus Shura yang matanya terbelalak besar karena ucapan Sakura—kapan dia bisa melihat ekspresi wajah seperti ini lagi di wajah inuyoukai kecil tersebut?


Sakura yang sama sekali tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya tersenyum lebar menatap Shura. "Sakura janji akan melahirkan anak yang banyak untuk Kak Shura. Kita akan menjadi ayah-ibu yang bahagia dikelilingi anak cucu sampai tua—Kak Shura tidak akan pernah sendirian lagi!!"


Ucapan Sakura membuat Kagome dan yang lainnya menggeleng kepala. Mereka sadar, sepertinya tujuan sebenarnya hanyou kecil tersebut adalah tidak ingin Shura sendirian. Kematian Sesshoumaru yang dilihatnya pasti telah membuatnya berpikir inuyoukai kecil itu sebatang kara sekarang. Tapi, caranya itu sungguh membuat semua orang terdiam seribu bahasa.


"Sakura!!!" panggil Shiro panik. Berlari masuk menghempaskan Mamoru ke atas lantai, dia menarik lepas tangan Sakura yang mengenggam tangan Shura. "Jangan sembarangan!! Jangan mengucapkan sesuatu yang tidak-tidak!"


"Eh?" kebingungan, Sakura menatap Shiro. "Sakura serius Kak Shiro. Sakura mau Kak Shura menjadi ayah anak Sakura kelak."


"Tidak!!" potong Inuyasha. Melepaskan Miroku, dia segera berlari mendekati Shiro dan Sakura. Mengendong putrinya, dia berujar cepat. "Sakura, dengarkan ayah. Ayah tidak bersedia jika si kecil ini menjadi menantu ayah kelak!! Apa bagusnya anak Sesshoumaru ini!! Kau terlalu bagus untuknya!!"


Menatap Shura sejenak penuh ketidak sukaan, untuk pertama kalinya, Inuyasha merasa Shura itu sungguh tidak enak dilihat. Mata apa itu? Begitu juga dengan wajahnya. Mulut tidak seperti mulut, hidung tidak seperti hidung—tidak ada satupun yang benar.


Shura yang diam membisu membalas tatapan tidak suka Inuyasha. Dia tidak mengatakan apapun dan masih diam membisu, tapi pandangannya juga jelas tidak bersahabat.


"Apa yang kau lihat, Shura!" sela Shiro tidak peduli. "Cepat tolak!! Katakan kau tidak bisa menjadi pasangan Sakura kelak karena Sakura terlalu bagus untukmu!!"


"Hei!!! Siapa yang terlalu bagus untuk siapa!!??" protes Jaken. Kejengkelan dalam hatinya tidak tertahankan lagi, apa maksud dari ayah-anak inuhanyou di depannya ini!? Apa mereka tidak pernah bercermin dan melihat siapa diri mereka sebenarnya??


Tsubasa terus tertawa tidak tertahankan melihat kejadian terlucu yang pernah dilihatnya. Namun, tidak untuk yang lainnya. Kagome, Miroku, Sango, Shippo, Kohaku, Mamoru, Aya dan Maya hanya dapat menghela napas putus asa, sedangkan untuk Yuki, Sora dan Koharu, mereka hanya dapat diam membisu tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa.


"Ayah, Kakak, hentikan!!" Sakura menatap tidak suka Inuyasha dan Shiro yang berusaha menghentikan keinginannya. "Sakura akan selalu menamani Kak Shura!! Sakura tidak akan membiarkan Kak Shura menjadi sebatang kara!! Sakura benci melihat itu!!!"


Shura mengarahkan pandangannya kembali pada Sakura. Dia tetap tidak mengatakan apapun, dan tidak ada seorangpun yang dapat menebak arti pandangan mata emas cemerlangnya yang terarah lurus pada inuhanyou kecil tersebut.


"Sebatang kara?? Apanya yang sebatang kara???" potong Inuyasha. "Si kecil itu masih memiliki Sesshoumaru, ayahnya!! Apanya yang sebatang kara??!"


"Eh??" ucapan Inuyasha dengan seketika membuat Sakura kebingungan. Apa maksud ayahnya? Bukankah Sesshoumaru, Ayah kandung Kak Shura jelas telah mati? Bahkan jenazahnya ada disamping mereka sekarang—apakah ayahnya tidak salah bicara?


Shura juga segera menoleh menatap Inuyasha yang balas menatapnya. Tidak seperti Sakura, sebab dia tahu, pandangan mata inuhanyou di depannya telah menjelaskan bahwa dia tidak salah bicara—ayahandanya masih hidup?


"Apa maksud ucapanmu?"


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2