Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 79


__ADS_3

Kagome menatap langit malam dan tersenyum. Angin malam yang berhembus membuat dirinya merasa nyaman walau sedikit dingin. Suara keramaian dalam taman sakura istana tanah selatan yang masih berlanjut sama sekali tidak menganggunya.


"Bagaimana kalau kau menemaniku minum, miko aneh?" suara Inukimi tiba-tiba terdengar. Mantan penguasa tanah barat itu kemudian duduk di depan Kagome. Mata emasnya kemudian menatap Miroku dan Sango yang ada di samping miko masa depan itu. "Kalian berdua juga."


Inukimi tidak ikut dalam permainan kartu lagi. Kini dia duduk anggun dengan sake di tangannya, berusaha mengajak para manusia untuk minum lagi.


Kagome langsung menggeleng kepala. Dirinya tidak mau lagi mengalami sakit kepala seperti tadi pagi. "Terima kasih, Inukimi-san. Tapi, aku akan melewati ajakanmu kali ini."


"Kami juga," tambah Miroku cepat. Dia tertawa gugup menatap Sango. "Benarkan, Sango?"


Sango menganguk kepala cepat. "Kami tidak sanggup minum lagi, Inukimi-san."


Tolakan Kagome, Miroku dan Sango membuat Inukimi menghela napas. Mata emasnya kemudian terarah pada Kira dan Kiri yang berada tidak jauh darinya. Senyum mengembang di wajahnya. "Kira, Kiri, kalian berdua ha—"


Ucapan Inukimi tidak terselesaikan. Karena, tiba-tiba dia merasakan sesuatu dari dalam tengah taman sakura, arah dimana Sesshoumaru, Rin, Akihiko dan Inuyasha berada.


Terkejut, mantan penguasa tanah barat itu segera berdiri. Dari dalam tengah taman, dia bisa melihat cahaya terang yang terpancar. Tidak membuang waktu, dia segera membuat sebuah kekai besar memenuhi taman di mana para youkai selatan berada.


Tidak ada perubahan, para youkai selatan yang masih larut dalam permainan mereka sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan Inukimi.


Kagome, Miroku, Sango, Kira dan Kiri yang berada dalam kekai tidak melihat perubahan apapun. Tapi, diluar kekai mereka tidak tahu. Wajah serius Inukimi jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikannya.


Melangkah ke depan, Inukimi kemudian berlari cepat keluar dari kekai, diikuti Kagome, Miroku, Sango, Kira dan Kiri.


Yang pertama kali mereka lihat di luar kekai adalah cahaya menyilaukan dan angin kuat yang berhembus. Kepanikan segera memenuhi hati mereka, apa yang terjadi?


Perlahan, sinar dan angin itu kemudian menghilang, digantikan aura youki mengerikan penuh niat membunuh. Perasaan takut memenuhi hati mereka, sebab mereka tahu jelas siapa pemilik aura youki ini; Sesshoumaru dan Akihiko.


Suara ledakan dan juga kehancuran tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan malam. Tidak membuang waktu, Kagome dan yang lainnya langsung berlari ke arah sumber keributan.


Mereka bisa melihat beberapa batang pohon yang tumbang serta, tanah yang retak dan hancur. Namun, semakin dekat dengan sumber keributan, suara pertarungan tiba-tiba terhenti. Lalu, saat mereka telah mecapai tujuan mereka, ketakutan luar biasa memenuhi hati mereka.


Di tengah taman yang hancur berantakan, mata mereka bisa melihat jelas sosok Sesshoumaru, Inuyasha dan Akihiko. Dalam pelukan Sesshoumaru yang berlutut di bawah tanah, sosok Rin yang penuh darah terbaring tidak sadarkan diri.


....xOxOx....


Kagome menatap penuh ketakutan Rin yang terbaring tidak sadarkan diri di depannya. Dalam kamarnya di istana tanah selatan, diatas futon, gadis manusia itu berbaring tenang tanpa gerak. Kimono sutra berwarna merah jambu yang dikenakannya penuh dengan darah merah.


Wajah cantik Rin pucat pasi, badannya sedingin es, dan detak jantungnya samakin lama semakin pelan bagaikan akan terhenti setiap saat. Tapi, dia juga seakan sedang tertidur. Wajahnya sangat tenang dan juga damai.


"Apa yang terjadi pada Rin-chan?" tanya Kagome. Kedua tangannya yang bergetar menyentuh tangan gadis itu, berusaha memeriksa keadaannya.


Miroku, Sango, Kira dan Kiri yang mendengar pertanyaan Kagome menoleh kepala kepada Sesshoumaru, Inuyasha dan Akihiko menunggu jawaban. Namun, mereka bertiga diam membisu tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Kagome, sebab mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rin.


"Meido seki." ujar Inukimi tiba-tiba dan membuat semua yang ada terkejut dan menolehkan kepala pada mantan penguasa tanah barat itu.


Inukimi tidak peduli dengan pandangan semua orang, dia mendekati Rin. Berlutut di samping gadis manusia itu, dia langsung membuka kerah kimono penuh darah yang dikenakannya.


"Inukimi-san, apa yan—" tanya Kagome terkejut, tapi pertanyaannya tidak terselesaikan saat dia melihat apa yang terjadi.


Di atas dada Rin, batu biru meido seki mengeluarkan puluhan benang nadi kecil berwarna merah. Nadi merah itu bergerak terus dan melekat pada kulit Rin, seakan merupakan bagian dari gadis manusia itu sendiri. Aliran darah terlihat jelas mengalir melalui nadi merah itu, dan batu meido seki tiba-tiba berdetak seakan—hidup.


Para youkai dan hanyou yang ada dalam kamar Rin bisa mendengar jelas dengan indra pendengaran mereka yang tajam. Semakin kuat meido seki berdetak, semakin lemah juga jantung Rin berdetak.


"Kecuali miko, kalian semua keluar!" perintah Inukimi tiba-tiba.


Perintah Inukimi membuat semua yang ada bingung, tapi mereka menurutinya. Mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membantu kondisi Rin sekarang. Meido seki adalah milik mantan penguasa tanah barat itu sebelumnya, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.


Hanya Sesshoumaru seorang saja yang tidak bergerak. Inuyoukai itu masih duduk di samping Rin dan menatap gadis yang tidak sadarkan diri tersebut. "Sesshoumaru ini tidak akan keluar sebelum memastikan Rin sadar."


Ucapan Sesshoumaru membuat Inukimi mengurungkan niatnya untuk mengusir putra kandungnya tersebut. Keras kepala penguasa tanah barat itu, dia jelas tahu, apalagi kalau sudah mengenai Rin. Lalu, mungkin memang sudah waktunya juga dia menjelaskan keanehan antara Rin dan meido seki sekarang.


"Baiklah," ujar Inukimi kemudian dan menghela napas. Dia kemudian menoleh wajah pada Inuyasha, Akihiko dan yang lainnya. "Kalian keluar sekarang."


Inuyasha, Miroku, Sango, Kira dan Kiri tidak mengatakan apa-apa lagi, meski khawatir mereka memutuskan untuk keluar dan mempercayai Inukimi.


Akihiko yang melihat mereka keluar dari kamar Rin sesungguhnya cukup keberatan dengan perintah Inukimi. Tapi, melihat wajah pucat Rin yang terbaring tidak sadarkan diri, penguasa tanah selatan akhirnya menutup mata dan berjalan keluar. Dia sadar akan kenyataan dialah penyebab gadis itu dalam keadaan seperti ini.


Sepeninggalan Akihiko, Inuyasha dan yang lainnya. Inukimi kemudian membalikkan wajahnya dan menatap Rin lagi. Tangannya bergerak perlahan untuk menyentuh meido seki. Namun, seperti ada kekai, tangannya terpental ke belakang.


"Inukimi-san.." panggil Kagome pelan. Kedua matanya menatap khawatir inuyoukai mantan penguasa tanah barat di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa," balas Inukimi pelan. Perlahan, dia kembali menggerakkan tangannya ke atas meido seki berusaha menyentuhnya. "Ini aku, meido seki." ujarnya pelan.


Tapi, sekali lagi, tangan Inukimi terpental seakan tidak mengijinkannya menyentuh meido seki.


"Ada apa ini, Ibunda?" tanya Sesshoumaru bingung. Mata emasnya menatap Inukimi meminta penjelasan. Dia sudah melihat ibu kandungnya ini memiliki meido seki sejak kecil, dan tidak pernah pusaka youkai itu bereaksi seperti ini.


Inukimi menghela napas. Perlahan, mata emasnya terarah pada wajah Rin. "Meido seki menyukai Rin."


"Menyukai?" tanya Kagome bingung. Dia benar tidak mengerti ucapan Inukimi sekarang.


"Ya. Meido seki menyukai—tidak! Mungkin lebih dari menyukai, ini tepatnya; meido seki mencintai Rin." Jawab Inukimi lagi dengan pelan.


Meido seki mencintai Rin? Kagome tidak dapat mengerti jawaban Inukimi sama sekali. "Aku tidak mengerti Inukimi-san."


Inukimi tidak membalas ucapan Kagome, tapi dia mengarahkan pandangannya pada Sesshoumaru yang juga menatapnya bingung. "Apakah kau tahu apa meido seki, Sesshoumaru?"


"Pusaka youkai tanah barat, warisan keluarga kita, lambang kisaki barat." jawab Sesshoumaru cepat.


Inukimi mengganguk kepala. "Benar. Meido seki adalah pusaka turunan dari barat, dan biasanya meido seki dimiliki kisaki barat. Dulu Taisho memberikannya padaku saat kau lahir, dan dia mendapatkannya dari ibundanya"


Penjelasan Inukimi adalah sesuatu yang sudah diketahui sejak dulu oleh Sesshoumaru. Diam membisu, dia mendengar penjelasan lebih lanjut mantan penguasa tanah barat itu.


"Tapi, kenyataan sesungguhnya, meido seki menjadi lambang kisaki barat adalah karena tidak ada penguasa tanah barat yang dapat menggunakan kekuatan sebenarnya meido seki selama ini. "


"Sesshounaru tidak mengerti maksudmu, Ibunda?" tanya Sesshoumaru kemudian. Meido seki memang terkenal di barat, tetapi kalung itu bukanlah sesuatu yang diagungkan para youkai seperti pedang taring ayahnya tensaiga dan tessaiga.


"Kau sudah melihat bukan, apa yang bisa dilakukan meido seki. Dia bisa menghidupkan makhluk hidup, membuka pintu penghubung dunia akhirat dan dunia ini. Tidak kah kau berpikir kekuatannya mirip dengan pedangmu, tensaiga?"


Sesshoumaru jelas ingat dengan apa yang dilakukan Inukimi dulu untuk memanggilnya pulang di dunia akhirat, dan juga saat Rin dihidupkan kedua kali. Tidak lupa juga dirinya kenyataan bahwa Rin yang menghidupkan ratusan youkai. Kekuatan meido seki dan tensaiga memang mirip.


"Tensaigamu, pedang taring Taisho yang bisa menghidupkam ratusan kehidupan sekali ayunan sessungguhnya adalah kekuatan meido seki. Pedang itu adalah pedang yang ditiupi kekuatan meido seki."


"Apa maksudmu menceritakan ini, Ibunda?" tanya Sesshoumaru. Dia tidak mengerti apa kaitan meido seki dengan semua ini.


"Dan meido seki itu—hidup, Sesshoumaru."


"Apa?" Sesshoumaru tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya lagi mendengar penjelasan Inukimi. Begitu juga dengan Kagome, dia menatap tidak percaya ucapan mantan penguasa tanah barat tersebut.

__ADS_1


"Meido seki itu adalah makhluk hidup yang mempunyai pemikiran sendiri dan berbeda dengan semua makhluk hidup lainnya. Dia identik dengan youkai, namun juga bukan youkai. Hanya mereka yang disukainya yang dapat menggunakan kekuatannya," lanjut Inukimi lagi menjelaskan. Matanya terarah pada meido seki yang berdetak. "Meido seki sangat menyukai Taisho, karena itulah dia memberikan kepingan kekuatannya yaitu; kekuatan Tensaiga. Kepadaku—meido seki cukup menyukaiku. Karena itu dia ada padaku, dan aku juga bisa menggunakan kekuatannya dalam batasan tertentu."


Perlahan wajah Inukimi kembali terarah pada Rin. "Lalu untuk Rin. Aku melihat meido seki—mencintainya. Rin adalah satu-satunya yang dapat menggunakan kekuatan sesungguhnya meido seki selama ini."


"Aku semakin bingung Inukimi-san?" Kagome benar-benar kebingungan sekarang dengan segala penjelasan Inukimi.


"Pertempuran di gunung hoshi. Meido seki bercahaya dan menghidupkan semua youkai yang mati. Ada sesuatu yang dilupakan semua orang saat itu. Hari itu adalah hari dimana badai salju melanda. Tapi sesaat meido seki bersinar, badai salju itu lenyap," menoleh menatap Sessgoumaru lagi, Inukimi menarik napas. "Hidup dan mati, musim dan alam, semua elemen di dunia—pengontrol segalanya. Itulah kekuatan meido seki yang sesungguhnya."


Pengontrol segalanya? Kagome tidak tahu harus mengatakan apa mendengar penjelasan Inukimi. Jika yang dikatakannya benar, maka meido seki yang selalu dipakai Rin selama ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya.


"Kalau kau mengatahui ini, kenapa kau masih memberikan meido seki pada Rin, Ibunda?" tanya Sesshoumaru datar, namun mata emasnya bersinar penuh kemarahan.


Inukimi tersenyum kecil. "Karena aku ingin Rin menjadi kisaki barat. Dia adalah putri manusia yang kuawasi dan kulatih untuk menjadi pendampingmu sejak dulu. Memberikan meido seki adalah bukti statusnya di masa depan."


Terdiam sejenak, Inukimi kemudian tertawa kecil. "Kukira Rin yang merupakan manusia biasa tidak akan pernah disukai Meido seki. Dia tidak akan dapat menggunakan kekuatannya—ditangannya, meido seki hanyalah sebuah simbol belaka. Tapi, ternyata aku salah. Meido seki justru mencintainya. Meido seki mengijinkan Rin menjadi satu-satunya yang dapat menggunakan seluruh kekuatannya serta—melindunginya.."


"Melindungi?" Kagome bertanya lagi untuk kesekian kalinya. Dirinya merasa seperti orang bodoh sekarang mendengar penjelasan Inukimi yang mengejutkan.


"Katakan padaku, Sesshoumaru. Apa yang terjadi sebelum meido seki bersinar?" tanya Inukimi tidak mempedulikan Kagome.


Pertanyaan Inukimi membuat Sesshoumaru mengeram penuh kemarahan. Kedua jari jemarinya terkepal kuat. "Akihiko bermaksud memberikan tandanya pada Rin tanpa sepengetahuan Rin."


Mata Inukimi dan Kagome terbelalak mendengar jawaban Sesshoumaru. Tanda adalah suatu ikatan tidak terputus. Jika Akihiko benar-benar memberikannya pada Rin, maka di dunia youkai, selamanya gadis manusia itu akan menjadi milik penguasa tanah selatan. Rin tidak akan bisa bersama Sesshoumaru lagi.


"Bagaimana bisa.." gumam Kagome. Sikap dan pandangan penuh kelembutan Akihiko pada Rin selama ini terbayang dalam pikirannya. Tidak pernah terbayang bahwa penguasa tanah selatan bahkan berani melakukan perbuatan itu demi memiliki gadis manusia itu.


Inukimi merasakan kemarahan luar biasa. Dia mengira youkai serigala itu adalah youkai yang rasional dan juga memiliki harga diri. Tapi, ternyata pada akhirnya, penguasa tanah selatan tidak lebih dari seekor serigala sialan yang tidak ada harganya.


Menutup mata, Inukimi kemudian mengontrol kemarahannya, ini bukan saatnya dia marah. Menghela napas, dia kemudian membuka mata lagi. Perlahan seulas senyum menghiasi wajah cantiknya. "Meido seki melindungi Rin. Syukurlah meido seki bersinar dan melindunginya."


"Kalau melindungi, kenapa Rin memuntahkan darah dan berada dalam kondisi ini?" potong Sesshoumaru. Mata emasnya tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan khawatir yang ada.


Pertanyaan Sesshoumaru membuat senyum Inukimi menghilang. Teridam sejenak, dia kemudian menatap Rin lagi. "Kau tahu, Sesshoumaru, Rin adalah anomali di dunia ini."


"Anomali?"


Inukimi mengangguk kepala. "Manusia biasa tidak seharusnya dapat menggunakan meido seki yang bahkan tidak dapat digunakan semua daiyoukai barat selama ini. Tapi—Rin bisa. Tidak hanya itu, meido seki bahkan bereaksi sendiri untuk melindunginya-ini adalah sesuatu yang mustahil."


Menarik napas, Inukimi melanjutkan penjelasannya. "Karena itulah, tubuh manusia tidak bisa menahannya. Tubuhnya akan melemah. Ini adalah efek samping dari penggunaan meido seki bagi Rin."


Sesshoumaru dan Kagome teringat jelas, kenyataan bahwa Rin tidak menyadarkan diri dan menjadi sangat lemah sesaat menghidupkan para youkai di gunung hoshi tahun lalu.


"Kalau kau tahu itu, kenapa kau tidak menjauhkan meido seki dari Rin saat perang barat selatan usai?" tanya Sesshoumaru penuh kemarahan. Meido seki mungkin memang bisa melindungi gadis manusia ini, tetapi meido seki juga dapat mencelakainya. Meido seki adalah pedang bermata dua bagi Rin, pelindung juga sekaligus petaka.


"Karena aku tidak bisa." balas Inukimi pelan dan menghela napas. Dia menunjuk meido seki di dada Rin. "Kau lihat itu, Sesshoumaru. Meido seki yang melekat dan berdetak. Itu adalah bukti cinta meido seki yang bahkan tidak berani kupercaya. Meido seki cukup mencintai Rin hingga mau bersatu dengannya."


"Apa yang akan terjadi jika meido seki bersatu dengan Rin?" tanya Kagome panik. Meido seki yang berdetak di depanya sama sekali tidak memberikan perasaan tenang atau damai padanya, yang ada justru—ketakutan.


Inukimi terdiam. Menutup mata, dia menggeleng kepala. "Aku tidak tahu. Tapi jika mereka bersatu, kemungkinan terbesar—Rin akan mati."


"Apa???!!" teriak Kagome pucat pasi.


"Bagaimana cara menyelamatkan Rin?" potong Sesshoumaru. Kemarahan dan ketakutan dalam hatinya tidak terbedung lagi. Tidak dengan cara seperti ini, dia tidak akan kehilangan Rin karena warisan keluarganya yang tidak berguna.


"Memisahkan meido seki dengan Rin. Itu satu-satunya cara yang dapat kupikirkan. Tapi, meido seki tidak mengijinkanku menyentuhnya lagi sekarang." Inukimi kemudian membuka mata dan menoleh kepada Kagome. "Aku akan membantumu miko; sucikan meido seki dengan kekuatanmu."


"Meido seki identik dengan youkai, kekuatanmu pasti akan berkerja padanya," jelas Inukimi serius. Matanya menatap lurus Kagome. "Aku sudah menghabiskan banyak waktu menjelaskan ini semua. Lakukan itu sekarang juga! Kalau tidak, Rin benar-benar akan berada dalam bahaya."


Kagome yang mekipun masih bingung tidak membuang waktu yang ada. Mengangkat kedua tangan, dia mengarahkannya pada meido seki di dada Rin dan berusaha menyucikannya.


Lalu, bersamaan dengan kekuatan penyucian Kagome. Meido seki tiba-tiba kembali bersinar terang. Angin kuat tiba-tiba bertiup dan menghempas Sesshoumaru, Kagome serta Inukimi menjauh.


"Kya!!!" teriak Kagome yang terhempas ke belakang. Namun Inukimi dengan gesit menangkap miko masa depan tersebut.


Sesshoumaru yang dihempas angin kuat itu segera menghindar dengan melompat ke belakang dan mendarat di samping Kagome dan Inukimi.


Pintu kamar Rin tiba-tiba terbuka, di depan pintu tersebut, Inuyasha berlari masuk bersama dengan Akihiko, Miroku, Sango, Kira dan Kiri.


"Ada apa, Kagome??!" tanya Inuyasha berteriak menatap istrinya yang ada dalam pelukan Inukimi. Dia bisa mendengar suara jelas teriakan Kagome barusan.


Namun, Kagome tidak menjawab pertanyaan Inuyasha. Kedua matanya membelalak menatap tempat Rin berbaring.


Mengikuti pandangan Kagome, mata emas Inuyasha ikut terbelalak, begitu juga dengan semua yang ada dalam kamar sekarang.


Di sekeliling futon di mana Rin berbaring, dinding angin, air, api, tanah, kayu, logam dan petir yang tidak tahu dari mana tiba-tiba muncul dan berputar seakan menciptakan sebuah kekai untuk melindungi gadis manusia itu. Dinding itu kemudian bersatu, baur membaur menciptakan sesuatu yang indah namun sekaligus mengerikan.


"Apa-apaan ini?" gumam Inuyasha tidak percaya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat sesuatu yang seperti ini.


Bersamaan dengan dinding tujuh element yang terus berputar, sebuah ranting kayu besar dan tajam tiba-tiba melesat keluar menyerang dan mengincar Kagome.


"Kagome!!" teriak Inuyasha terkejut. Dia segera berlari mendekati Kagome sambil mencabut tessaiga di pinggangnya.


Inukimi yang masih memeluk Kagome segera menggendong miko masa depan itu dan meloncat menghindar. Beputar dan mengarah pada Inuyasha, inuyoukai itu kemudian melempar Kagome. "Tangkap!!"


Inuyasha berlari cepat dan menangkap Kagome. Menatap Inukimi lagi, inuhanyou itu melihat, mantan penguasa tanah barat menggeluarkan cambuknya dan menghancurkan ranting kayu yang mengincar Kagome barusan.


Mendarat ke bawah, mata Inukimi menatap kekai elemen itu dan berteriak keras. "Ini aku meido seki!! Hentikan!!


Namun, meido seki tidak berhenti. Malahan, dia semakin menjadi. Dinding elemen yang berputar semakin berputar, dan sedetik kemudian, semua element yang membentuk kekai melesat keluar menyerang semua yang ada dalam ruangan.


Kamar di mana Rin berada hancur berantakan, dan siapa pun yang ada di dalamnya bergerak menghindar. Serangan yang ada tidak beraturan. Seperti amukan, element-element itu menghancurkan sekeliling dalam radius kurang lebih sepuluh meter dengan Rin sebagai pusatnya.


Angin memotong, air meremukan, api membakar, tanah meleburkan, kayu menghancurkan, logam meratakan dan petir menghanguskan.


Suara ribut dan kerusakan yang ada dengan seketika diketahui beberapa youkai dalam istana selatan. Dari belakang Sesshoumaru dan yang lainnya, mereka mulai berkumpul.


"Ada yang terjadi, Akihiko-sama?" suara Tsubasa tiba-tiba terdengar. Selir kesayangan penguasa tanah selatan terbang turun dan mendarat di samping Akihiko.


Akihiko tidak menjawab, mata biru langitnya menatap lurus elemen-elemen yang terus mengamuk di depannya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sekarang. Tidak pernah dalam hidup panjangnya dia melihat atau mendengarkan sesuatu yang seperti ini.


"Inukimi-san!! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kagome sambil berteriak. Dia menatap putus asa Inukimi mengharapkan jawaban.


Namun, Inukimi diam membisu. Kedua mata emasnya menatap tidak percaya dinding kekai di depannya. Kekai di depannya adalah kekai terkuat yang pernah dilihatnya, tanpa celah dan kelemahan. Inikah kekuatan sebenarnya dari meido seki?


Sesshoumaru yang melihat kekacauan keadaan semakin lama semakin marah. Kemarahannya membuat mata emasnya berubah menjadi merah darah pekat seperti hitam. Rin ada di depan, hidup-mati gadis manusia itu menjadi taruhan setiap detik, dan dia hanya bisa berdiam diri seperti ini??


"Sesshoumaru ini sudah muak dengan kekacauan ini!!" teriak Sesshoumaru penuh kemarahan. Tidak mempedulikan serangan elemen di depannya lagi, dia berlari maju sambil menghunuskan bakusaiga di tangannya.


Menyadari Sesshoumaru yang mendekat, elemen-elemen yang mengamuk bergerak menyerang inuyoukai itu. Menghindar, menangkis dan menyerang, Sesshoumaru terus melangkah maju. Dia tidak mempedulikan luka dan darahnya yang kini memenuhi tubuh.

__ADS_1


"Kakak!!"


"Sesshoumaru!!"


Suara teriakan yang memanggil namanya penuh kekhawatiran ditangkap telinga. Namun, Sesshoumaru tidak peduli. Di dalam pikirannya sekarang hanya adalah Rin—gadis paling berharga baginya.


"Rin!!!!!"


Teriakan Sesshoumaru memenuhi malam, dan bersamaan dengan suara teriakannya itu, dia tiba-tiba merasakan denyutan sebilah pedang di pinggangnya-tensaiga.


Tidak membuang waktu, Sesshoumaru menyarungkan Bakusaiga dan mencabut pedang tensaiga di pingangnya. Saat pedang itu terhunus, serangan elemen-elemen tiba-tiba terhenti.


"Apaan lagi ini?" gumam Inuyasha kebingungan


Melihat pedang tensaiga di tangan Sesshoumaru, Inukimi langsung menyadari sesuatu. Dinding dan serangan elemen dari meido seki ini tidak lain adalah untuk melindungi Rin. Karena itu, meido seki tidak akan membiarkan siapapun mendekati gadis manusia itu. Namun, Sesshoumaru berbeda, dia memiliki tensaiga yang memiliki kekuatan meido seki—Sesshoumaru bisa mendekati Rin.


"Sesshoumaru, maju dan hentikan meido seki. Pisahkan meido seki dengan Rin." teriak Inukimi keras.


Sesuai predeksi Inukimi, meido seki tidak menyerang Sesshoumaru lagi saat dia berlari maju. Bahkan, meido seki seakan menerima keberadaan inuyoukai itu. Dinding kekai yang mengelilingi Rin perlahan terbuka dan membiarkannya masuk ke dalam.


Berlutut ke bawah di depan Rin, Sesshoumaru mengeram penuh kemarahan melihat kondisi gadis manusia itu. Meido seki yang berdetak dan melekat pada dada atas Rin kini hampir menjadi satu dengannya. Benang nadi itu kini sudah hampir berubah menjadi daging.


Menatap wajah Rin yang masih pucat pasi tanpa kesadaran, melihat rona merah di pipi dan bibir yang menghilang, melihat senyum yang sirna—Sesshoumaru merasakan hatinya tercabik.


Sesshoumaru-sama


Suara lembut bagaikan dentingan lonceng yang memanggil namanya tergiang dalam kepala Sesshoumaru, begitu juga dengan wajah cantiknya. Gadis paling berharga baginya, miliknya yang tidak tergantikan—Sesshoumaru tidak bisa kehilangannya.


"Rin milikku. Kembalikan dia padaku!!" teriak Sesshoumaru penuh kemarahan. Melepaskan pedang tensaiga yang digenggamnya, tangan kanan inuyoukai itu bergerak ke arah meido seki.


Persetan dengan semuanya! Dia akan menghancurkan meido seki!! Apapun yang berani merebut gadis manusia ini darinya, dia, Sesshoumaru dari barat akan menghancurkannya!!


Cahaya terang kembali bersinar saat tangan Sesshoumaru menyentuh meido seki. Menatap tanpa menutup mata, inuyoukai itu bisa daging dari benang nadi yang melekatkan meido seki dan Rin berhenti bergerak. Perlahan, daging itu melebur kembali menjadi benang nadi. Bergerak, bagaikan terserap, benang nadi yang ada kembali ke dalam meido seki.


Amukan serangan elemen dan dinding kekai yang mengelilingi Rin juga kemudian berhenti dan perlahan menghilang tanpa bekas.


Sesshoumaru menatap Rin tidak mempedulikan apa yang terjadi. Seiring meido seki yang berdetak pelan, jantung Rin berdetak kuat. Wajah pucatnya kembali seperti biasa, rona merah di pipi dan bibir gadis itu kembali bersemu, begitu juga dengan suhu badannya yang menghangat.


Lalu, saat meido seki berhenti berdetak sepenuhnya. Meido seki kembali pada bentuk sebuah kalung yang tidak memiliki tanda kehidupan sedikitpun—kembali seperti kalung bermata biru yang diberikan Inukimi pada Rin.


....xOxOx....


"Rin-chan, sudah tidak apa-apa." ujar Kagome sambil menghela napas. "Dia hanya kelelahan. Tapi, kurasa dia baru akan sadar besok."


Menoleh pandangannya, Kagome menatap yang lainnya. Mereka kini berada dalam kamar baru di istana tanah selatan. Kamar yang Rin gunakan sebelumnya kini sudah hancur tidak terselamatkan karena meido seki.


Menoleh pandangannya lagi pada Rin yang kini mengenakan kimono tidur berwarna putih, mata Kagome jatuh pada meido seki yang kini terlihat bagaikan sebuah kalung biasa di atas dada Rin. Tidak terlihat sedikitpun bahwa kalung ini adalah sesuatu yang hidup dan sekaligus penyebab kekacauan barusan.


Sesshoumaru yang duduk di samping Rin kemudian menatap Inukimi. "Mengapa meido seki tidak bisa dilepaskan dari Rin, ibunda?"


Meido seki yang masih dipakai Rin adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan semua yang ada dalam ruangan sekarang. Jika bisa, mereka ingin memisahkannya dari gadis manusia itu sejauh mungkin. Tapi, masalahnya, mereka tidak bisa. Kalung itu terlihat dengan jelas, namun, setiap kali mereka mencoba menyentuhnya, mereka hanya merasakan kehampaan, seakan kalung itu adalah sebuah ilusi.


Inukimi menghela napas. "Meido seki ingin bersama Rin. Aku sudah mengatakan bukan, meido seki itu hidup dan punya pikiran sendiri. Kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk sementara ini."


"Apakah ini tidak berbahaya?" tanya Inuyasha pelan. Dia yang duduk di samping Kagome menatap Inukimi khawatir.


Inukimi tersenyum. "Kurasa tidak. Meido seki ingin melindungi Rin. Dia tidak akan mencelakainya. Selama Rin tidak menggunakan kekuatan meido seki, semua akan baik-baik saja."


Semua terdiam mendengar penjelasan Inukimi. Tapi, mereka tetap tidak bisa lega. Kekuatan meido seki yang begitu berbahaya masih mereka ingat dengan jelas. Jika Sesshoumaru tidak memiliki tensaiga—mereka tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi.


"Aku akan mencari jalan untuk memisahkan meido seki dari Rin saat pulang ke barat nanti." Lanjut Inukimi lagi dengan senyum yang masih ada di wajah. "Dan karena semua sudah tidak apa-apa, kurasa kalian semua sudah bisa keluar dan membiarkan Rin beristirahat dengan tenang."


Ucapan Inukimi seketika menyadarkan semua yang ada di dalam kamar Rin. Keberadaan orang sebanyak ini di kamar Rin jelas akan menganggu istirahat gadis manusia itu.


Perlahan, Miroku yang berada di belakang Inuyasha berdiri. Dia tersenyum kecil. "Kau benar, Inukimi-san. Aku dan Sango akan kembali ke kamar kami dulu."


Sango yang ada disamping Miroku segera berdiri dan mengangguk kepala menyetujui ucapan suaminya.


Inuyasha yang melihatnya berdecak tidak suka, tapi meskipun begitu, dia juga ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada Kagome. "Ayo Kagome, kau juga perlu istirahat. Wajahmu sudah terlihat sangat capek."


Kagome tersenyum dan menerima uluran tangan Inuyasha. Menatap Sesshoumaru yang masih duduk, dia berujar pelan. "Aku akan kembali ke kamar kami, kakak. Panggil aku jika terjadi apa-apa pada Rin."


Kagome tahu, Sesshoumaru tidak akan pernah keluar. Inuyoukai ini akan duduk seperti ini sampai Rin membuka matanya. Cinta Sesshoumaru pada Rin, hari ini dia bisa melihatnya dengan jelas. Inuyoukai itu tetap maju menghadapi meido seki tanpa mempedulikan nyawanya demi seorang gadis manusia—pilihan Rin yang jatuh pada Sesshoumaru memang tidak salah.


Sesshoumaru tidak membalas ucapan Kagome, dan Kagome pun tidak menunggunya. Melangkah bersama Inuyasha, Miroku dan Sango, mereka meninggalkan kamar Rin.


Kira dan Kiri juga ikut berjalan keluar. Namun saat telah berada di luar, kedua inuyoukai bersaudara itu kemudian duduk di depan pintu dan menjadikan diri mereka sebagai penjaga.


Akihiko dan Tsubasa masih berada dalam kamar Rin. Penguasa tanah selatan itu tidak bergeming sedikitpun. Kedua mata biru langitnya menatap lurus gadis manusia yang tertidur damai.


"Aku tidak akan membahas apa yang ingin kau lakukan pada putriku, Akihiko-san," ujar Inukimi tiba-tiba. Suaranya datar dan dingin, tidak ada lagi kehangatan seperti sebelumnya. "Jadi, kuharap kalian berdua bisa meninggalkan kamar ini dan membiarkannya beristirahat."


Akihiko menolehkan pandangannya pada Inukimi. Tidak ada senyum di wajah cantik inuyoukai itu lagi. Penguasa tanah selatan tahu, Inukimi sudah mengetahui apa yang hampir dilakukannya tadi jika meido seki tidak bersinar.


Ada perasaan bersalah yang sangat membebani hati Akihiko sekarang. Dia tidak pernah berharap Rin akan menderita seperti ini, namun, semua telah terjadi.


Berdiri, Akihiko menghela napas. "Baiklah, Inukimi-san. Aku mengerti."


Membalikkan badannya, Akihiko kemudian melangkah menuju pintu diikuti Tsubasa yang diam membisu di belakang. Namun, sesaat dia akan melangkah keluar, dia menolehkan wajahnya ke belakang menatap Rin sejenak.


Rin sudah tidak apa-apa dan jauh dari bahaya. Gadis itu masih hidup dan dapat dilihatnya. Dirinya harus meminta maaf besok saat gadis manusia itu sadar.


Dengan pemikiran seperti itu, Akihiko kemudian membalikkan lagi wajahnya ke depan dan melangkah keluar dari kamar diikuti Tsubasa.


Pintu yang kembali tertutup kini hanya menyisakan Inukimi dan Sesshoumaru berdua. Tersnyum, mantan penguasa tanah barat juga ikut melangkah keluar. "Jaga Rin kecil baik-baik, Sesshoumaru."


Sesshoumaru tidak membalas ucapan Inukimi. Diam membisu, dia hanya terus menatap Rin.


Saat dirinya merupakan satu-satunya orang yang berada di samping Rin, perlahan, tangan kanan Sesshoumaru bergerak membelai kepala gadis manusia itu lembut.


Menatap Rin, Sesshoumaru hanya dapat berpikir bahwa dalam hari ini dua kali dirinya hampir kehilangan gadis ini. Pertama oleh Akihiko dan kedua oleh—meido seki. Pesona gadis manusia ini sungguh luar biasa, tidak hanya dirinya, dia juga dapat membuat Akihiko, bahkan meido seki yang tidak jelas itu mencintainya seperti ini. Ke depannya, siapa lagi yang akan muncul dan berusaha merebut gadis manusia ini darinya?


Pertama kali dalam hidup Sesshoumaru, dia berharap gadis manusia ini bisa tersembunyi dari dunia luar. Rin adalah musim semi bagi Sesshoumaru. Penuh dengan kehangatan, kelembutan dan juga kebahagiaan—dia bagaikan matahari. Tapi, begitu juga dengan orang yang mengenal gadis manusia ini. Siapa yang tidak menginginkan musim semi? Tidak menginginkan matahari?


Mencintai Rin sangat mudah, tapi mendapatkan cintanya sangat sulit. Sesshoumaru sadar, dia adalah orang yang sangat beruntung. Dari semua yang ada, Rin memilihnya. Meski dia mungkin tidak pantas—gadis manusia ini mengatakan akan selalu menatapnya.


"Jangan pernah mencintai yang lain, Rin. Cukup cintai Sesshoumaru ini seorang saja..."


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2