Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 93


__ADS_3

Sinar matahari pagi yang bersinar melewati dahan dan bunga sakura membuat sepasang mata emas Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat terbuka.


Seperti beberapa hari-hari yang lalu, yang pertama kali dilihat sepasang mata emasnya pada pagi hari adalah sosok seorang wanita manusia yang tertidur dengan damai dan tenang dalam pelukannya.


Beralas moko-moko dan hanya ditutupi kimononya, Sesshoumaru tersenyum kecil menatap sosok wanita manusia itu. Lalu, saat pandangannya jatuh pada tanda bulan sabit di leher, senyum kecilnya semakin kentara.


Memeluk lebih erat tubuh mungil yang dipeluknya, Sesshoumaru menenggelamkan wajah pada celah leher putih itu. Sang penguasa tanah barat dapat mencium jelas bau kisakinya sekarang, dan dia sangat menyukainya. Bau dirinya yang sangat kuat tertinggal dan bercampur dengan bau musim semi sang wanita sungguh membuat kepuasan tersendiri dalam hatinya. Wanita ini adalah miliknya—Rinnya.


"Sesshoumaru-sama.." suara yang memanggil namanya pelan membuat Sesshoumaru menjauhkan wajahnya dari leher Rin.


Mata emasnya dapat melihat sepasang mata coklat yang tidak begitu fokus terarah pada dirinya. Perlahan, dia mengangkat tangan kanan menyentuh pipi Rin pelan. "Tidurlah lagi, Rin."


Sesshoumaru tahu, Rin masih kelelahan, dan penyebabnya tidak lain adalah dirinya sendiri. Setiap kali dirinya memeluk tubuh mungil tersebut, dia selalu lepas kendali. Dalam setiap penyatuan yang ada, dia seakan ingin tubuh mereka melebur menjadi satu untuk selamanya.


Rin mengangguk kepala perlahan, dan menutup kembali sepasang mata coklatnyam. Dalam pelukan Sesshoumaru, dia kembali tertidur dengan damai.


Sesshoumaru tidak bergerak lagi, dia tidak mau gerakannya membangunkan Rin yang baru kembali tertidur. Wanita manusia ini membutuhkan waktu istirahat yang panjang hari ini.


Menatap kisakinya yang tertidur tenang, perasaan damai memenuhi hati sang penguasa tanah barat. Wajah yang tidak pernah bosan dilihatnya, bau yang menyenangkan, kehangatan yang nyaman. Cinta yang tidak terbendung—apa yang akan terjadi padanya jika saat perpisahan mereka tiba?


Mencintai seorang manusia, Sesshoumaru tahu resikonya. Segala konsekuensi di masa depan, dia telah menyiapkan dirinya saat memutuskan menjadikan Rin sebagai kisakinya. Demi kebahagiaan Rin dari sekarang hingga mata coklat itu tetutup selamanya di masa depan, sang penguasa tanah barat mau menanggungnya.


Tapi..


Benarkah dia sanggup? Semakin dia mencintai kisakinya, semakin takut dirinya. Takut seperti apa masa depan itu jika dia tidak bisa melihat senyum tawa itu?—takut kehilangan setelah memiliki.


Masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Tiga rentang waktu dalam kehidupan yang berjalan berurutan tidak dapat dicegah. Masa sekarang tidak akan ada tanpa masa lalu, seperti halnya masa depan tidak mungkin ada sebelum masa sekarang, dan masa sekaranglah yang akan menciptakan masa depan—ini adalah siklus waktu dalam kehidupan.


Namun baginya, untuk masa lalu, Sesshoumaru menghargainya. Untuk masa sekarang, dia menginginkannya, tapi, untuk masa depan—dia membencinya.


Jika dapat memilih, maka Sesshoumaru tidak akan memilih masa lalu maupun masa depan. Dia tidak butuh dua rentang waktu itu, sebab yang dia inginkan adalah masa sekarang—saat Rin ada dalam pelukannya, bernapas dan tertidur dengan damai di sampingnya.


Cintai adalah perasaan manusiawi. Cinta adalah perasaan tidak berguna. Cinta akan membuatmu lemah dan musnah; cinta adalah kelemahan.


Kata-kata itu tidak salah. Cinta adalah kelemahan. Cintanya, Rin-nya adalah kelemahannya. Tapi, lucunya, dia tidak menyesalinya. Dia tidak pernah menyesal mencintai musim semi abadi itu.


Menutup mata, Sesshoumaru mengerakkan badannya dan mentiadakan jarak antara mereka. Memeluk erat istrinya, tangan kanannya bergerak dan mendekatkan kepala Rin yang tertidur pada dadanya.


Sesshoumaru tidak mau berpikir lagi. Perasaan yang bercampur aduk, ketakutan yang ada, serta pertanyaan yang tidak terjawab—Sesshoumaru ingin melupakan semuanya.


Dalam hidupnya yang panjang, dia kini terus berharap setiap harinya, semoga mereka bisa seperti ini selamanya, seperti kata Rin—selamanya bersama.


....xOxOx....


"Sesshoumaru-sama!! Lihat!! Bintang laut!!" panggil Rin gembira. Menatap inuyoukai penguasa tanah barat, dia menunjukkan bintang laut di tangannya.


Sesshoumaru mengangguk kepala, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya yang lembut menatap lekat sosok kisakinya yang kini kembali berlari menyusuri pantai penuh kebahagiaan di bawah langit sore.


Pantai ini adalah pantai yang terletak tidak jauh dari gunung hare. Mereka mengunjungi pantai ini dikarenakan Rin ingin menikmati pantai pada sore hari.


Enam hari telah berlalu semenjak mereka menginjakkan kaki ke gunung hare, dan enam hari ini adalah hari yang paling damai dan tenang dalam hidup mereka berdua. Meski tidak ada kemewahan seperti dalam istana tanah barat, meski tidak ada dayang maupun pelayan yang menyiapkan segala kebutuhan mereka—mereka merasa sangat bebas.


Tanpa harus mengerjakan tugas sebagai penguasa dan kisaki, mereka bedua bisa melakukan apapun yang mereka suka—atau lebih tepatnya, apa yang Rin suka.


Sesshoumaru tidak keberatan dengan apapun yang dilakukan Rin dalam beberapa hari ini, dari melihat kisakinya menangkap ikan dalam danau, melihatnya merangkai bunga hingga menemaninya mencari buah-buahan dan jamur dalam gunung.

__ADS_1


Sesshoumaru menyukai saat Rin kedinginan dan duduk dalam pelukannya mencari kehangatan, dia juga menyukai sinar gembira mata coklat besar itu saat menunggu ikan atau jamur yang dipanggangnya sebagai makan malam matang, dan dia sangat menyukai wajah merah pada wajah itu pada pagi hari setelah penyatuan mereka pada malam hari.


Senyum dan tawa yang selalu menghiasi hari. Untuk setiap nyanyian dan tarian indah penuh cinta untuknya, untuk setiap pelukan dan ciuman antara mereka. Pagi atau malam, siang atau sore, semua begitu indah dan sempurna—kebersamaan mereka.


Sesshoumaru merasa, miko aneh istri dari Inuyasha menyarankan pada dirinya untuk melakukan sesuatu yang benar kali ini. Honey moon ini, dia ingin melakukannya bersama Rin setiap tahun.


Suara tawa Rin yang bagaikan dentingan lonceng berbaur dengan suara deru ombak. Menutup mata, kedua kakinya yang mungil terus melangkah, hingga suara teriakan ketakutan tiba-tiba ditangkap telinga.


"Youkai!!!"


"Lari!!"


Tidak jauh di depan Rin dan Sesshoumaru, kisaki tanah barat melihat beberapa nelayan berlari ketakutan. Dengan wajah mereka yang pucat pasi, mereka meninggalkan ikan tangkapan mereka maupun kapal dan jala ikan yang ada.


Mata Rin bisa melihat jelas juga beberapa nelayan berteriak pada beberapa wanita dan anak kecil yang sedang bermain di pantai untuk menyelamatkan diri secepatnya.


Berdiri di tempat, Rin kemudian menoleh wajah menatap Sesshounaru yang ada di belakangnya. Tawanya tidak dapat tertahankan saat dia melihat wajah tanpa emosi inuyoukai itu akan kekacauan di depan.


Sesshoumaru tidak mempedulikan tawa Rin. Berjalan mendekati wanita manusia itu, dia kemudian berdiri di sampingnya dalam diam.


Rin tahu, dia tidak seharusnya tertawa. Para nelayan yang panik di depan dan juga tangisan keras para wanita serta anak-anak—itu bukanlah sesuatu yang lucu. Namun, apakah manusia itu begitu takut pada youkai?


Melambaikan tangannya, Rin menggunakan segenap tenaganya berteriak keras. "Semuanya!!! Tidak perlu takut!! Kami hanya berjalan lewat saja!!"


Suara teriakan Rin membuat beberapa nelayan yang panik dan penuh ketakutan berhenti. Namun, sejenak kemudian mereka kembali lari lagi.


Rin mengernyitkan dahinya melihat sikap para nelayan itu. Menoleh kepala menatap Sesshoumaru, dia menghela napas. "Rin tidak mengerti, kenapa manusia itu takut pada anda, Sesshoumaru-sama?"


Sesshoumaru tidak dapat menahan seulas senyum kecil yang muncul di wajahnya. Kenapa manusia takut padanya?—di dunia ini, mungkin hanya wanita manusia ini yang akan bertanya seperti itu.


Pertanyaan demi pertanyaan Rin membuat Sesshoumaru tidak dapat menahan perasaan geli dalam hatinya lagi. Mengangkat kepala ke atas, dia tertawa keras—benar, sungguh di dunia ini hanya Rin seorang saja yang dapat membuat dia seperti ini.


Rin tertegun mendengar suara tawa Sesshoumaru. Dia pernah melihat inuyoukai itu tersenyum dan tertawa kecil, tapi, dia tidak pernah melihatnya tertawa lepas seperti ini. Di bawah langit sore, wajah tampan itu sungguh sangat menyilaukan sekarang.


Mengontrol tawanya, Sesshoumaru kemudian menurunkan kepalanya menatap Rin. Seulas senyum jahil melukis di wajahnya. "Jadi, selama ini Rin selalu berpikir Sesshoumaru ini sangat tampan?"


Wajah Rin memerah melihat senyum serta mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Tergagap, dia menundukkan kepala ke bawah dan berusaha menjawab. "I-itu.. Rin.."


Ekspresi wajah Rin membuat Sesshoumaru semakin ingin menggoda wanita manusia di depannya. Senyum jahilnya perlahan berubah menjadi seulas senyum lembut. Ternyata, dia memiliki sisi seperti ini dalam dirinya.


Memggunakan tangan kirinya, sang penguasa tanah barat mengangkat wajah Rin hingga mata mereka bertemu. "Sesshoumaru ini senang Rin berpikir wajahnya sangat tampan."


Wajah Rin semakin memerah, sikap Sesshoumaru ini, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.


Menutup mata, Sesshoumaru kemudian memajukan wajahnya. Perlahan dan lembut, dia mengecup pelan dahi Rin yang masih saja belum dapat mengontrol ekspresi dan emosi di wajah.


Sentuhan bibir yang lembut dan hangat di dahi membuat Rin tertegun. Menatap lekat wajah Sesshoumaru dengan sepasang mata coklat besarnya saat kecupan itu usai, mulut kisaki tanah barat terbuka lebar—dia tidak dapat berpikir sama sekali.


Senyum kecil tidak kunjung menghilang dari wajah Sesshoumaru. Sungguh, pesona wanita manusia ini benar-benar luar biasa. Berdiri demgan ekspresi seperti itu di depannya sekarang, kepolosannya terpancar sempurna.


Menoleh pandangannya ke arah lain, Sesshoumaru kemudian menarik tangan Rin dan kembali berjalan menyusuri pantai. Inuyoukai itu tidak berani menatap wajah penuh kepolosan itu lebih lama lagi, apa yang akan terjadi jika dia terus menatapnya? Dia tahu—dia akan kehilangan kontrol dirinya lagi.


Mengikuti Sesshoumaru, Rin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dengan kepala tertunduk dan tangan mereka yang tertaut, dia melangkah kaki mengikuti sang penguasa tanah barat itu.


Menoleh pandangan ke depan untuk mengalihkan rasa malu dan terkejut dalam hati, seketika, perasaan bersalah memenuhi hati Rin. Dia benar masih dapat melihat jelas para nelayan, wanita dan anak-anak yang berlari ketakutan di depan—sepertinya, berjalan menyusuri pantai adalah keputusan yang salah.

__ADS_1


Tapi, saat pandangannya kemudian jatuh pada sosok seorang wanita yang berlari sambil menggendong seorang bayi kecil. Sebuah pertanyaan muncul dalam hati Rin.


Menghentikan langkah kakinya, kisaki tanah barat itu kemudian menoleh wajah kembali menatap Sesshoumaru yang juga ikut menatapnya.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. "Apakah anda membenci manusia?"


Pertanyaan tiba-tiba Rin membuat Sesshoumaru tertegun. Membenci manusia? Apakah dia membenci manusia? Ini adalah salah satu dari beberapa pertanyaan yang mungkin hanya bisa ditanyakan Rin padanya.


"Sesshoumaru ini tidak menyukai manusia." Jawab Sesshoumaru pelan dan kembali mengarahkan wajah ke depan pada para manusia yang ketakutan.


Rin mengangguk kepala mendengar jawaban Sesshoumaru. Dia mengerti maksud jawaban inuyoukai itu. Tidak manyukai—dirinya juga tidak menyukai manusia dalam batasan tertentu meskipun dia sendiri adalah manusia.


Tapi, tidak menyukai tidak berarti membenci. Seperti seseorang yang tidak menyukai apel, dia mungkin akan mengabaikannya dan tidak menyentuhnya saat melihat buah itu, tapi dia tidak berpikir untuk menghancurkannya.


Sesshoumaru adalah youkai yang mempunyai sifat dan pemikiran yang sangat kompleks. Mungkin tidak ada yang mengertinya, tapi tidak untuk Rin—dia selalu mengertinya. Kisaki tanah barat tahu, jawaban penguasa tanah barat barat dapat diartikan dia memaklumi keberadaan manusia.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi. Dia sedikit ragu untuk mengucapkan pertanyaan dalam hatinya, tapi, menarik napas, dia kemudian bertanya juga. "Apakah anda membenci hanyou?"


Pertanyaan Rin kembali membuat Sesshoumaru menoleh wajah pada wanita itu. Tapi, dia tidak menjawab pertanyaan yang ada kali ini, diam membisu kedua mata emasnya menatap wanita manusia di sampingnya.


"A-anda.. S-semua yang ada mengatakan anda membenci hanyou, contohnya Inuyasha-sama.." lanjut lagi dengan suaranya yang terbata-bata karena kegugupan dan juga—takut. "A-apakah anda juga tidak menyukai hanyou?"


"Kenapa kau menanyakan pertanyaan ini, Rin?" tanya Sesshoumaru kembali.


Kegugupan di wajah Rin semakin membesar. Kedua mata coklatnya berbinar penuh keraguan dan ketakutan. Menundukkan kepala ke bawah, dia tidak memiliki keberanian menanyakan pertanyaan sesungguhnya yang ingin dia tanyakan.


Hanyou.


Kenapa dia menanyakan pertanyaan itu?—karena dia adalah manusia, dan karena Sesshoumaru adalah youkai. Dalam persatuan mereka, dalam hubungan mereka—karena anak mereka kelak adalah seorang hanyou.


Sesshoumaru menatap Rin menunggu jawaban. Namun melihat ekspresi dan sikap wanita di depannya, dia hanya dapat kembali tersenyum kecil. Jika Rin adalah orang yang paling mengerti Sesshoumaru, maka Sesshoumaru jugalah orang yang paling mengerti Rin. Dia tahu apa yang sesungguhnya ingin ditanyakan wanita manusia ini namun tidak berani.


Mengangkat kepala ke atas, Sesshoumaru kemudian berujar pelan. "Sesshoumaru ini tidak menyukai hanyou termasuk Inuyasha karena mereka—lemah."


"Eh?" seru Rin terkejut. Mengangkat kepala dia menatap Sesshoumaru bingung.


Perlahan, Sesshoumaru kembali menurunkan kepala menatap Rin. Kedua mata emasnya bersinar indah dalam langit senja yang kemerahan. "Dan, anak kita tidak akan pernah lemah, Rin."


Ucapan Sesshoumaru membuat jantung Rin bagaikan terhenti. Ucapan itu dengan seketika mengusir segala keraguan serta ketakutan dalam hati, menggantikannya dengan kehangatan dan kebahagiaan.


Tidak bergerak, tanpa disadari, air mata mengalir turun menuruni pipi Rin. Tapi, meski begitu, dia tersenyum—tersenyum dengan sangat lebar dan indahnya.


Mengangkat tangan kirinya yang bebas, Sesshoumaru menghapus air mata di wajah Rin dengan pelan dan hati-hati.


Anak.


Sesshoumaru tahu, anaknya dan Rin kelak adalah seorang hanyou. Apakah dia akan menyesal? Apakah dia tidak akan mengakui anak yang merupakan setengah youkai dan setengah manusia itu?—makhluk yang tidak disukainya sejak dulu.


Pertanyaan yang bodoh. Bagaimana bisa dia membenci anaknya kelak? Anak yang mewarisi darahnya dan darah Rin, anak yang merupakan bukti dari kebersamaan mereka, bukti cinta mereka—anak itu selamanya akan menjadi sesuatu yang paling berharga di dunia ini.


Senyum di wajah Rin semakin lebar dan lebar. Perlahan, senyum berubah menjadi tawa—tawa indah bagaikan dentingan lonceng.


Menurunkan tangan kirinya saat melihat tawa dan air mata di wajah Rin yang telah kering, Sesshoumaru kembali membimbing kisakinya berjalan menyusuri pantai. Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi, mereka kembali berjalan bersama dengan pelan.


Dalam langit sore yang kini telah menjadi langit senja indah berwarna merah kekuningan. Bersamaan dengan suara ombak yang menyapu langkah kaki sang penguasa tanah barat dan kisakinya yang tertinggal, sosok belakang mereka yang berjalan dengan tangan tertaut—sungguh indah bagaikan lukisan.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2