![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Inuyasha tiba-tiba berdiri tegak, tidak mempedulikan kepala Kagome yang masih bersandar di pundaknya. Ekpresi wajahnya yang tadi santai segera berubah menjadi serius.
Kagome yang tadinya ingin protes dengan sikap Inuyasha segera mengurungkan niatnya. Menatap kebingungan suaminya, dia hanya dapat bertanya, "Ada apa Inuyasha?"
Inuyasha memicingkan matanya, ekspresi serius di wajahnya segera berubah menjadi tidak suka. "Si berengsek itu sudah dekat."
Indra sebagai seorang inuhanyou yang dimiliki Inuyasha dapat membuatnya merasakan aura youkai yang sangat menakutkan mendekati istana tanah selatan dengan kecepatan luar biasa.
"Oh," gumam Kagome dan tersenyum lebar. Dia tidak memerlukan Inuyasha menjelaskan padanya siapa 'Si berengsek' yang disebutkannya. "Kakak memang selalu bergerak cepat."
"Apanya yang cepat?" protes Inuyasha sambil membuang muka. Melipat tangan di dada sebuah kerutan muncul di wajah tampannya. "Tapi sepertinya si berengsek itu sedang marah. Aura yang dipancarkannya sangat mengerikan."
Kagome tertawa mendengar ucapan Inuyasha itu. "Baguslah! Aku akan marah kalau kakak masih saja bersikap tenang seperti biasanya dalam kondisi seperti ini?"
Terkejut, Inuyasha menoleh kepala menatap Kagome tidak percaya. "Kau senang dia marah??"
Inuyasha tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kagome. Sesungguhnya, Sesshoumaru marah adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh siapapun, termasuk dirinya. Siapa yang ingin meladeni inuyoukai berkekuatan mengerikan itu saat marah?–apakah istrinya ini sudah gila?
Kagome hanya menghela napas melihat reaksi Inuyasha. Tidak tahukah dia apa situasi dan kondisi sekarang ini walau telah melihat semuanya. Miko masa depan tersebut hanya dapat menggerutu kesal. "Dasar tidak peka."
....xOxOx....
Seorang youkai wanita berdiri di depan pintu gerbang istana tanah selatan. Rambut merah panjangnya terbang dimainkan angin, sedangkan mata merahnya menatap lurus ke depan. Tenang dan datar, wajahnya tanpa ekspresi seakan tidak ada masalah yang mendekat.
"Tsubasa-sama, semua prajurit sudah siap di posisinya." Seorang youkai prajurit dari istana tanah selatan memberikan laporan pada youkai wanita tersebut.
"Bagus," balas Tsubasa tanpa mengalihkan pandangannya. "Jangan bergerak tanpa perintahku."
"Mengerti." Youkai prajurit segera memberikan hormat dan mundur kembali ke posisinya dalam istana tanah selatan.
Saat Akihiko tidak ada, Tsubasa sebagai selir terkuat adalah penangung jawab istana. Melindungi istana tanah selatan hingga penguasa pulang adalah tugasnya.
Apa yang akan datang?–atau lebih tepatnya, siapa yang menuju istana tanah selatan sekarang ini? Tsubasa jelas tahu. Aura mengerikan yang terasa dan membuat bulu kuduk berdiri ini tidak lain adalah penguasa tanah barat; Sesshoumaru.
Kedatangan Sesshoumaru ke selatan sudah dipredeksinya, sebab, hime dari barat kini berada di selatan tanpa persetujuannya. Lalu, kedatangan inuyoukai itu juga pasti bukanlah kunjungan bersahabat, salah sedikit, mungkin api perang bisa kembali berkobar.
Tidak jauh dari Tsubasa, di atas atap istana tanah selatan, Inuyasha menurunkan Kagome yang ada dalam gendongannya di samping Inukimi.
"Inukimi-san, anda juga datang untuk menonton keramaian?" tawa Kagome melihat Inukimi yang duduk dengan anggun di atas atap istana tanah selatan.
Inukimi tidak menjawab, tetapi dia tersenyum dan mengangguk kepala.
"Keramaian apa?? Bukannya kemungkinan ini pembantaian!?" sela Inuyasha sambil melipat tangan di dada. Rin dan Akihiko tidak berada di istana tanah selatan sekarang, karena itu, tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan Sesshoumaru jika dia mengamuk. Terlebih lagi, inuhanyou tersebut juga bisa merasakan aura si kembar dari barat Kiri dan Kira.
Kagome tidak mempedulikan Inuyasha, dengan pelan, dia duduk di samping Inukimi. Matanya ikut terarah ke depan, menuju arah aura youkai yang kuat terasa.
"Ini tidak akan menjadi pembantaian, Inuyasha," suara Miroku tiba-tiba terdengar menjawab pertanyaan Inuyasha. "Bukankah kau juga di sini?"
Menoleh arah pada sumber suara, mata emas Inuyasha melihat Miroku dan Sango berjalan mendekati mereka dari belakang.
"Kau menyuruhku menghentikan, Sesshoumaru jika terjadi pembantaian?? Kenapa tidak kau lakukan saja sendiri!?" hardik Inuyasha penuh kemarahan.
Mendekati Inuyasha, Miroku mengaitkan lengan kanannya pada pundak inuhanyou itu dan tersenyum lebar. "Yang bisa melawan Sesshoumaru itu cuma kamu, Inuyasha. Kita semua tahu itu, benarkan, istriku?"
Sango tidak mempedulikan pertanyaan Miroku. Taijiya itu duduk di samping Kagome dan menghela napas. "Aku berharap Rin-chan tidak akan terkejut saat melihat Sesshoumaru sudah di sini saat pulang nanti."
....xOxOx....
Terbang di atas langit, Akihiko menatap Rin yang duduk di tangannya. Mata biru langitnya tidak dapat teralihkan dari sosok gadis manusia itu. Kulit seputih salju, rambut sehitam langit malam tanpa bintang, sepasang bola mata besar jernih dan pipi merah merekah bagaikan kelopak bunga–dia sungguh memikat siapapun yang melihatnya. Namun yang paling memikat dari wajah itu mungkin adalah bibirnya–bibir merah mawar yang kini melengkung melukiskan seulas senyuman.
"Kau tersenyum, Rin." ujar Akihiko pelan. Wajah tampannya tidak dapat menyembunyikan senyum yang mengembang.
Rin menoleh wajah menatap Akihiko dan mengangguk kepala pelan. Ya, dia bisa tersenyum sekarang. Ketakutan dalam hatinya sudah menghilang, begitu juga dengan kebingungan yang mulai mendapatkan jawaban. Namun, yang paling penting, dia sudah mendapatkan keberanian–keberanian mencintai Sesshoumaru.
Ketakutan dalam hati karena keegoisan dan ketamakan ingin memiliki. Kesakitan dan kesedihan karena cinta tidak terbalas.
Rin sadar, itulah yang membuatnya kehilangan senyum. Dia menolak semua perasaan itu, berbohong dengan mengatakan dia tidak seperti itu di setiap hembusan napasnya. Karena itulah dia hancur–itulah penyebab di berada dalam jurang keputus asaan.
Perasaan-perasaan seperti itu sangat buruk, namun–itulah cintanya. Sesuatu yang tumbuh kuat dan melekat pada dirinya tanpa disadari.
Anak kecil yang ditemui Rin di kota manusia menyadarkannya. Kenapa saat perang barat selatan dia terus melangkah maju tanpa takut untuk menghentikan perang? Kenapa pilihannya tetap tidak berubah walau dia tahu, akan banyak manusia yang sedih dan marah karena apa yang dilakukannya? Meski dicap penghianat dan dibenci, kenapa dia tetap akan menghidupkan mereka?
–karena ada youkai yang disayanginya mati. Karena dia tidak ingin kehilangan dan selalu memiliki mereka yang bagaikan keluarga baginya. Mereka yang dicintainya–cintanya pada bangsa youkai.
Cintanya pada bangsa youkai juga membuat dia tamak, kan?–dia ingin selalu bersama mereka. Manusia yang mencintai bangsa youkai, jelas merupakan cinta yang salah. Rin tahu itu, tapi dia tidak menolaknya, dia memeluk cinta itu bersama dengan segala konsekuensinya.
Jadi, kenapa dia takut dengan cintanya pada Sesshoumaru? Bukan kah Sesshoumaru adalah youkai yang paling dicintainya?–paling penting di dunianya?
Sesshoumaru tidak akan pernah dimilikinya? Tidak bisa selamanya bersama?–sejak dulu, bukankah dia sudah tahu semua itu? Selalu diucapkannya dan tidak akan mungkin terwujud, sebab dia adalah Rin, dan yang dicintainya adalah Sesshoumaru.
Rin dan Sesshoumaru.
Manusia dan youkai.
__ADS_1
Sesshoumaru yang tidak pernah mencintai serta dirinya yang akan menua dan mati–Rin tidak mempermasalahkannya saat kecil. Dia sudah bisa tersenyum dan bahagia hanya dengan melihat sosok inuyoukai itu. Hidup dengan sangat bahagia dan puas walau tidak memilikinya.
Cinta adalah kebahagiaan. Rin tahu itu, namun, dia bisa menambahkan satu kalimat sekarang, yaitu; cinta tidak seharusnya memiliki.
Bisa berada di dekatnya, bisa selalu melihatnya, itu sudah cukup. Cinta manusianya pada seorang youkai adalah konsekuensi hidupnya. Sekarang, Rin tahu, dia bisa memeluk cintanya pada Sesshoumaru seutuhnya.
"Rin," suara panggilan Akihiko menyadarkan Rin dari lamunannya. "Kau melamun? Kau tidak mempedulikan diriku ini, ya?"
Mendengar pertanyaan Akihiko, Rin segera menjawab pertanyaan penguasa tanah selatan itu dengan kepala tertunduk ke bawah karena perasaan bersalah. "Maafkan Rin karena melamun Akihiko-sama."
"Kalau begitu tersenyumlah. Aku akan memaafkanmu jika kau tersenyum." tawa Akihiko melihat sikap Rin yang baginya sangat menggemaskan.
Rin tidak bisa menghentikan senyumnya saat mendengar ucapan Akihiko. Mengangkat kepalanya, dia tertawa. "Baiklah Akihiko-sama."
"Benar, tersenyum dan tertawalah seperti itu selalu, Rin." tawa Akihiko semakin keras melihat gadis manusia yang kini telah kembali seperti biasanya.
Rin menatap tawa Akihiko. Perlahan, tangan kanannya menepuk pelan pipi penguasa tanah selatan tersebut. Lalu, saat mata coklat dan biru langit mereka bertemu, gadis manusia itu tersenyum sangat manis. "Terima kasih karena telah membawa Rin ke kota manusia."
Apa yang dilakukan Akihiko, Rin sangat berterima kasih. Sebab, penguasa tanah selatan ini telah membantu dirinya terbebas dari belenggu yang ada. Jika saja dia tidak ke kota manusia dan bertemu gadis kecil itu, mungkin sampai sekarang dia masih hanyut dalam perasaan takutnya.
"Terima kasih, Akihiko-sama."
Sentuhan hangat di pipi, suara lembut yang menyebut namanya dan senyuman manis yang ada–itu semua membuat Akihiko tertegun. Dia bahkan berhenti bergerak, seluruh dunianya hanya terpusat pada gadis manusia itu seorang saja.
Merasakan Akihiko yang tidak bergerak, senyum Rin menghilang diganti ekspresi kebingungan. "Akihiko-sama, ada apa?"
Pertanyaan Rin membuat Akihiko tersadar. Menoleh wajahnya ke arah lain, penguasa tanah selatan itu berusaha menyembunyikan wajah memerah karena senyuman manis gadis itu. "Tidak apa-apa." jawabnya cepat dan kembali terbang.
Rin merasa ada yang aneh pada Akihiko, tetapi dia tidak bertanya lebih banyak lagi. Menoleh wajah ke depan, dia menutup mata dan membiarkan angin membelai wajahnya, membiarkan cahaya matahari menyinarinya dengan seulas senyum di wajah. Hatinya telah tenang, gadis manusia itu merasa sangat gembira dan bebas sekarang.
Akihiko yang melihat Rin hanya dapat kembali terpana. Melihat senyum itu, dia bisa merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Hanya ada satu kata untuk melukiskan apa yang dilihatnya.
Cantik.
Rin adalah wanita tercantik sekaligus gadis paling unik yang pernah dilihatnya. Sejak mengenalnya, tidak ada sehari pun Akihiko tidak memikirkannya.
Sebagai penguasa tanah selatan, Akihiko telah memiliki segalanya di dunia. Kekuatan, kekuasaan, kekayaan hingga wanita semua dimilikinya, tidak pernah ada sesuatu yang menarik minatnya hingga akhirnya Rin hadir dalam hidupnya. Bagaikan matahari, gadis itu, begitu menyilaukan dan hangat. Setiap tawa dan senyuman gadis itu membuatnya merasakan kedamaian.
Tanpa sadar, segala yang dimilikinya seakan tidak ada artinya. Karena itulah, Akihiko bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan Rin. Penguasa tanah selatan tahu, jika gadis itu bersedia untuk bersamanya, tersenyum dan tertawa kepadanya setiap hari–hidupnya akan terlengkapi.
....xOxOx....
Tsubasa berdiri tegak, senyum kecil mengembang di wajahnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat sosok tiga orang inuyoukai berjalan mendekati pintu istana tanah selatan yang dijaganya.
Ketiga inuyoukao itu berjalan dengan pelan. Wajah mereka tenang tanpa ekspresi, namun, kewaspadaan dalam hati Tsubasa hanya bisa semakin meninggi. Insting youkai dalam dirinya terus memperingatinya akan bahaya di depan mata saat melihat Sesshoumaru.
Berjalan dengan Kira dan Kiri di belakangnya, Sesshoumaru bisa merasa jelas dengan para youkai dalam istana tanah selatan yang berkumpul. Dia juga bisa merasakan aura Inukimi, Inuyasha dan rombongannya. Namun, dia tidak merasakan sedikitpun aura keberadaan Akihiko dan–Rin.
Melihat jaraknya dengan para inuyoukai di depan hanya tinggal beberapa meter, Tsubasa tertawa pelan. "Selamat datang di istana tanah selatan, sshoumaru-sama," sambutnya sopan. "Keberatankah anda memberitahu hamba ini maksud kedatangan anda?"
Sesshoumaru, Kira dan Kiri menghentikan langkah kaki mereka mendengar pertanyaan Tsubasa. Mereka tidak menjawab, sebab selir kesayangan Akihiko sendiri sebenarnya sudah memiliki jawaban. Pertanyaannya adalah sebuah basa-basi yang tidak diperlukan.
"Akihiko-sama, penguasa tanah selatan tidak berada dalam istana tanah selatan ini sekarang, Sesshoumaru-sama." Lanjut Tsubasa lagi dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Namun, tiba-tiba saja, Sesshoumaru telah melesat ke arah Tsubasa dengan kecepatan yang luar biasa. Tangan kanannya langsung mencengkeram leher youkai burung itu dan mengangkatnya ke atas. Kedua mata emas penguasa tanah barat itu bersinar penuh kemarahan. "Di mana Rin?"
Tsubasa tidak menjawab pertanyaan Sesshoumaru. Mengeluarkan cambuk di belakang pinggangnya, dia menghempaskan senjata itu sekuat mungkin ke arah Sesshoumaru.
Seketika, Kira dan Kiri yang berada di belakang penguasa tanah barat segera bergerak maju menangkap cambuk tersebut dengan tangan mereka.
Sesshoumaru tetap tidak bergerak sedikit pun dengan serangan Tsubasa, begitu juga dengan ekspresi wajahnya. Menguatkan cengkeram tangannya, dia bertanya sekali lagi. "Di mana Rin?"
Tsubasa tidak menjawab, malahan dia tertawa, meski tawanya tertahan karena lehernya yang dicekeram Sesshoumaru.
Melihat tawa Tsubasa, Sesshoumaru tahu, youkai burung ini tidak akan menjawab pertanyaannya. Tanpa mengedip matanya sekalipun, penguasa tanah barat itu melempar tubuh Tsubasa ke tembok gerbang istana tanah selatan.
Tembok besar itu retak saat badan Tsubasa menabraknya kuat. Teriakan kesakitan lolos dari mulut selir kesayangan penguasa tanah selatan tanpa dapat ditahannya.
Semua youkai selatan yang ada di dalam istana tanah selatan langsung bersiaga melihat apa yang terjadi. Mengenggam senjata mereka, beberapa youkai langsung berlari maju.
Sesshoumaru tidak mempedulikan youkai-youkai itu. Mengangkat kepalanya, dia meloncat dan terbang ke atas atap istana tanah selatan–ke arah Inuyasha dan yang lainnya.
Inuyasha mencabut pedang tessaiganya saat melihat Sesshoumaru yang mendarat di depan mereka diikuti Kira dan Kiri. Namun, Inukimi, Kagome, Miroku dan Sango tidak, mereka tetap duduk tenang menatap penguasa tanah barat.
"Di mana Rin?" tanya Sessgoumaru datar. Dia tidak mempedulikan sedikitpun Inuyasha yang mengancungkan pedang padanya.
"Kenapa kau menanyai keberadaan putriku?" tanya Inukimi kembali sambil tersenyum.
Sesshoumaru tidak menjawab, wajahnya tetap tenang, tetapi dalam hati, dia berusaha mati-matian menahan kemarahan yang makin lama makin memuncak.
Senyum Inukimi semakin melebar melihat ekspresi datar Sesshoumaru. Putranya itu meski terlihat tenang, dia tahu, dalam hatinya tidak. Aura yang mengerikan yang semakin mengerikan jelas telah membuktikan betapa marahnya dia sekarang.
Bangkit berdiri, Inukimi berjalan ke arah Sesshoumaru. Berdiri di depannya, dia mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi penguasa tanah barat itu. "Bukankah seharusnya kau sibuk mempersiapkan pernikahanmu dengan rubah itu?"
__ADS_1
Kemarahan Sesshoumaru tidak tertahankan lagi mendengar pertanyaan kedua Inukimi, menggerakkan tanganya, dia menyerang ibu kandungnya itu.
Inukimi segera meloncat menghindar. Ekspresi wajahnya tidak berubah, malahan tawanya semakin kuat. Mendarat, moko-mokonya segera terbang menyerang Sesshoumaru tanpa mempedulikan apapun.
Sesshoumaru segera menghindar serangan Inukimi. Berlari ke arah ibu kandungnya, dia kembali menggerakan tangan menyerang.
Inuyasha yang melihat pertarungan ibu-anak inuyoukai itu menurunkan pedangnya. Tidak tahu kenapa, dia merasa dirinya telah diabaikan mereka.
"Sesshoumaru dan Inukimi-san sepertinya tidak peduli merusak rumah orang lain, ya?" tawa suara Miroku yang melihat pertarungan Sesshoumaru dan Inukimi.
"Mereka lebih memilih bertarung dalam menyelesaikan sesuatu dari pada berbicara." lanjut Sango sambil menggeleng kepala. Taijiya itu teringat lagi dengan pertarungan ibu-anak itu beberapa tahun yang lalu saat Inukimi menculik Rin dari desa manusia. Sepertinya, mantan penguasa tanah barat itu memang tidak pernah berubah.
"Iya, Inukimi-san memang selalu penuh semangat." Tawa Kagome seakan pertarungan yang sudah mulai menghancurkan beberapa bagian atap istana tanah selatan ini tidak berbahaya.
Inuyasha hanya menatap istri dan teman-temannya. Dalam hatinya, dia berpikir, mereka tidak akan menipunya untuk menghentikan pertarungan ibu-anak di depan itu seperti dulu lagi, kan?
Mata emas Inuyasha kemudian jatuh pada sosok Kira dan Kiri yang berdiri diam dengan tenang. Namun, sedetik kemudian kedua inuyoukai itu meloncat turun ke bawah. Mengikuti mereka, inuhanyou itu bisa melihat Tsubasa serta beberapa youkai selatan bergerak ke arah mereka dengan senjata di tangan, dan si kembar dari barat menghentikannya.
Suara ledakan dan teriakan terdengar di mana-mana. Istana tanah selatan yang tadinya tenang kini telah dipenuhi keributan.
"Ugh," gerutu Inuyasha sambil menggunakan tangan kanan memijit keningnya. "Sepertinya barat dan selatan akan berperang lagi."
Kagome, Miroku dan Sango hanya dapat tertawa bingung dengan kondisi yang tidak terhindarkan ini. Youkai benar-benar makhluk hidup yang menyukai pertempuran.
Mata emas Sesshoumaru yang melawan Inukimi hampir berubah menjadi merah darah. Kesabaran sudah semakin menipis karena mantan penguasa tanah barat yang terus menghindar terlihat jelas tidak berniat melawannya dengan serius. Dirinya tidak ingin membuang waktu di sini seperti ini.
Mencabut pedang bakusaiga di pinggangnya, gerakan Sesshoumaru tiba-tiba berhenti. Dari angin yang bertiup, dia bisa mencium jelas bau musim semi dalam musim semi yang unik–bau Rin. Namun, tercium jelas juga bau yang tidak asing baginya, bau penguasa tanah selatan; Akihiko.
Menghentikan serangannya, Sesshoumaru membalikkan badan menatap sumber bau yang di ciumnya. Mata emas terbelalak dan tangannya terkepal erat saat melihat dari kejauhan dua sosok yang terbang ke arahnya.
Sesshoumaru bisa melihat jelas sosok Akihiko yang juga balas menatapnya dengan seulas senyum di wajah. Lalu, dia juga bisa melihat juga, sosok gadis manusia yang duduk di tangan penguasa tanah selatan–Rin.
Kemarahan kembali memenuhi hati Sesshoumaru. Beraninya!! Beraninya Akihiko melakukan itu! Tempat Rin duduk sekarang adalah miliknya! Sejak kecil hingga besar, gadis itu hanya duduk boleh duduk ditangannya, bukan orang lain!!
"Sesshoumaru-sama!!" suara teriakan yang memanggil Sesshoumaru terdengar menghentikan pertempuran di bawah.
Kira dan Kiri segera berhenti begitu mendengar suara Rin, begitu juga denga Tsubasa dab para youkai selatan yang melihat kehadiran penguasa mereka Akihiko.
Di atas langit istana tanah selatan, Akihiko dan Rin kemudian terbang turun. Namun, meski telah menginjakkan kakinya di atap tidak jauh di depan Sesshoumaru, penguasa tanah selatan itu tetap tidak ada niat dalam hatinya menurunkan gadis yang ada di tangannya.
Rin tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut sekaligus takutnya akan pernah pemandangan yang dilihatnya sekarang. Bekas pertempuran dan beberapa youkai yang terluka terlihat jelas, apa yang sebenarnya terjadi?
"Tidak apa-apa, Rin," suara tenang Akihiko segera membuat Rin menoleh kan wajah padanya. Tersenyum, penguasa tanah selatan mengangkat tangannya yang bebas untuk membelai kepala Rin. "Tenang–"
Tangan Sesshoumaru tiba-tiba menghentikan gerakan tangan Akihiko. Tidak tahu sejak kapan, penguasa tanah barat itu telah berada di depan Rin dan Akihiko. Mata emasnya yang berubah menjadi merah darah menatap tajam youkai serigala di depannya.
"Jangan menyentuh Rin, Akihiko." suara Sesshoumaru tenang dan datar, tapi siapapun yang mendengar bisa merasakan kengerian yang terkandung.
Akan tetapi, Akihiko tidak mempedulikan Sesshoumaru. Dia menatap balik penguasa tanah barat itu dengan senyum di wajahnya yang makin melebar. "Kenapa aku harus mendengarmu, Sesshoumaru?"
Sesshoumaru mengenggam semakin erat tangan Akihiko begitu mendengar pertanyaan yang terdengar jelas menatangnya. Mata merah darahnya semakin memerah menandakan kemarahan yang semakin menguat.
"S-Sesshoumaru-sama, Rin mohon!! Hentikan!! Jangan melukai Akihiko-sama!!" suara Rin yang berada antara Sesshoumaru dan Akihiko tiba-tiba kembali terdengar memecahkan ketegangan antara kedua penguasa.
Menoleh kepala menatapa Rin, baik Sesshoumaru dan Akihiko bisa melihat wajah pucat penuh kepanikan gadis manusia itu. Kedua mata coklat besarnya berkaca-kaca menahan air mata. Tertegun, mata merah darah Sesshoumaru kembali menjadi emas
"Akihiko-sama, turunkan Rin," pinta Rin cepat. Mata berkaca-kacanya menatap penguasa tanah selatan penuh permohonan. "Rin mohon."
"Ckk." Berdecit tidak suka dengan permohonan Rin, Akihiko menghempas tangan Sesshoumaru yang mengengam tangannya. Perlahan, dia kemudian menurunkan gadis manusia yang duduk di tangan satunya lagi.
Melangkah satu langkah, kedua tangan Rin langsung menyentuh dada Sesshoumaru. Mata coklat besarnya yang masih menahan air mata menatap lekat mata emas inuyoukai itu. "S-sesshoumaru-sama, Rin mohon jangan melukai Akihiko-sama, jangan berperang dengan selatan lagi.."
Permohonan Rin membuat Sesshoumaru mengepal erat jari jemarinya, perasaan sakit bercampur tidak mau muncul dalam hatinya. Gadis manusia ini sekarang memohon padanya untuk tidak melukai Akihiko, tidak berperang lagi dengannya–apakah keberadaan youkai serigala itu di hatinya begitu penting sekarang? Apakah Rin telah mengganti keberadaannya dengan youkai itu?–tidak! Dia tidak mengijinkannya.
Tidak mempedulikan permohonan Rin, Sesshoumaru mengenggam lengan tangan kanan gadis manusia itu. Membalikkan badan, dia menariknya. "Kita pulang, Rin."
"Sesshoumaru-sama!" Rin hanya bisa kembali memanggil nama inuyoukai di depannya. Kebingungan dan ketakutan memenuhi hatinya, Sesshoumaru tidak menjawab permohonannya, bagaimana jika perang benar-benar kembali pecah antara barat dan selatan?
Namun, baru melangkah satu langkah, Akihiko telah menarik tangan kiri Rin dan menghentikan mereka. Mata birunya menatap tajam Sesshoumaru penuh kemarahan. "Rin tidak akan pergi bersamamu, Sesshoumaru."
Sesshoumaru membalikkan badannya membalas tatapan Akihiko. "Lepaskan tanganmu, serigala."
Akihiko tertawa, "Kau yang lepaskan, anjing."
Rin yang berada antara Sesshoumaru dan Akihiko kembali kebingungan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, terlebih lagi dengan kedua tangannya yang di genggam kedua penguasa itu, dia jadi tidak dapat bergerak.
Kesakitan kemudian dirasakan tangan Rin saat genggaman kedua penguasa yang saling bertatapan itu semakin mengerat.
"Ya! Cukup! Hentikan semua ini!" suara teriakan kencang Kagome tiba-tiba memenuhi keheningan atas atap istana tanah selatan. Berjalan mendekati Sesshoumaru, Rin dan Akihiko, miko masa depan itu berdiri di belakang Rin. Kedua tangannya memegang kedua pundak gadis manusia itu, sedang matanya menatap Sesshoumaru dan Akihiko sambil tersenyum. "Bisakah kalian melepaskan tangan Rin-chan, Kakak, Akihiko-san? Rin kesakitan."
Ucapan Kagome seketika membuat Sesshoumaru dan Akihiko sadar. Melepaskan tangan Rin, perasaan bersalah memenuhi hati ke duanya saat melihat lengan putih gadis itu kini memerah akibat genggaman mereka.
"Kakak, Akihiko-san, silakan kalian teruskan pertarungan kalian," senyum di wajah Kagome semakin melebar, kedua matanya menatap tanpa takut kedua penguasa di depan. "Aku, Sango dan Inukimi-san akan kembali ke kamar untuk mengobati luka ditangan Rin-chan."
__ADS_1
....xOxOx....