Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 113


__ADS_3

Shui berdiri tersenyum menatap para youkai klan laba-laba emas tanah selatan di depannya. Di belakang, sepuluh pengawal bawahannya berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi.


"Terima kasih, Shui-sama," ujar pemimpin klan laba-laba emas pada Shui penuh hormat. "Kami benar tidak tahu harus melakukan apa jika anda tidak ada."


"Tidak perlu berterima kasih," balas Shui dengan senyum yang masih ada di wajah cantiknya. "Aku memang sedang mencari para manusia yang telah menghancurkan beberapa desa ini."


"Bagaimanapun juga, kami klan laba-laba emas dari tanah selatan tetap berterima kasih pada anda," ujar pemimpin klan laba-laba emas lagi dan membungkukkan badannya. "Desa kami akan bernasib sama dengan desa lainnya jika anda tidak ada."


Bersamaan dengan ucapan dan sikap pemimpin klan laba-laba emas, para pengikutnya yang ada di belakang juga ikut membungkuk badan mengucapkan terima kasih pada penyelamat desa mereka.


"Terima kasih, Shui-sama."


Shui berjalan ke depan pemimpin laba-laba emas. Menjulurkan tangan, dia membantu youkai itu berdiri. Senyum ramah masih memenuhi wajahnya. "Aku menerima ucapan terima kasih kalian semua, jadi jangan seperti ini lagi "


Pemimpin laba-laba emas tidak mengatakan apa-apa, tapi melihat senyum Shui, mau tidak mau, dia ikut tersenyum. Rasa hormat dalam hatinya semakin besar, seperti berita yang beredar, Shui, sang terhormat dari netral benar-benar merupakan seorang youkai yang terhormat. Dia bisa mengerti sekarang kenapa youkai bermata putih inilah yang terpilih menjadi pemimpin dari semua youkai di tanah netral.


"Tugasku di sini telah selesai," lanjut Shui lagi dan tertawa kecil. "Aku tidak akan tinggal di sini lebih lama lagi."


Pemimpin laba-laba emas langsung mengangguk dengan senyum di wajahnya. Dia tidak berani menahan penyelamat desa mereka lebih lama lagi, Shui yang bersedia berada di desa hingga keadaan telah terkendali benar-benar telah lebih dari cukup.


Tidak mengatakan apapun lagi, pemimpin laba-laba emas melihat Shui, youkai yang paling di hormati di tanah netral meloncat ke atas langit malam dan terbang menjauh diikuti bawahannya. Sosoknya yang menawan membuat para youkai laba-laba emas di bawah sekali lagi membungkukkan badan memberikan hormat.


Para youkai laba-laba emas baru kembali berdiri tegak saat Shui benar-benar telah menghilang dari pandangan mereka.


"Tetua," panggil salah satu youkai laba-laba emas sambil menatap pemimpin desa mereka. "Istana tanah selatan mengirimkan pesan; Koga-sama sedang dalam perjalanan kemari."


Pemimpin laba-laba emas tidak mengatakan apa-apa mendengar berita tersebut. Diam membisu, dia hanya dapat berpikir, kedatangan Koga ke desa mereka sekarang sudah tidak diperlukan, sebab desa mereka telah aman sekarang.


"Buat apa?!" teriak salah satu youkai laba-laba lainnya tiba-tiba. Wajahnya penuh kemarahan. "Desa kita sudah di serang, ibuku sudah mati, dan mereka baru akan kemari??!!!"


"Benar!!" setuju yang lainnya. "Dimana Akihiko-sama saat kita memerlukannya?!! Dia ada di tanah barat demi mengejar seorang wanita manusia!!"


"Akihiko-sama sama sekali tidak melindungi kita!!"


"Penguasa tanah selatan tidak dapat diandalkan!!"


Pemimpin klan laba-laba emas tetap diam membisu mendengar apa yang dikatakan para youkai laba-laba emas. Serangan manusia pada mereka kali ini benar-benar diluar dugaan, dan juga, korban serta kerusakan yang ada sangatlah menyakitkan.


Klan laba-laba emas bukanlah klan youkai kuat, mereka adalah klan terlemah di tanah selatan yang lebih menfokuskan diri dalam membuat kain dalam kedamaian. Karena itu, saat para manusia menyerang, mereka tidak dapat berbuat banyak, terlebih lagi, para manusia yang menyerang benar-benar sangat kuat. Desa dan klan mereka benar-benar akan hancur tanpa sisa jika Shui tidak muncul.


"Lebih baik kita keluar dari tanah selatan dan bergabung dengan netral saja, tetua," ujar youkai laba-laba emas yang ada di samping pemimpin mereka tiba-tiba. "Shui-sama lebih dapat melindungi kita daripada Akihiko-sama!!"


"Benar!!"


"Aku setuju!! Buat apa kita bersumpah setia di tanah selatan, jika tanah selatan tidak dapat melindungi kita!!"


Ucapan youkai laba-laba emas itu segera disambut baik oleh yang lainnya. Luka akan kehilangan keluarga dan hancurnya desa membuat mereka merasa sangat kecewa dengan kepemimpinan penguasa tanah selatan.


Pemimpin youkai klan laba-laba emas tetap tidak mengatakan apapun. Apa yang dikatakan yang lainnya sangat berdasar, akan tetapi keputusan besar itu lebih baik mereka ambil setelah mereka melihat apa yang akan dilakukan Akihiko untuk mereka setelah ini. Menghela napas, dia kemudian membuka mulut mengeluarkan suaranya. "Hentikan! Kita masih merupakan klan youkai di bawah tanah selatan."


"Tetua!!"


"Kenapa anda masih berpikir seperti itu, tetua?!"


Protes para youkai laba-laba emas memenuhi langit malam, mereka menatap tidak setuju dengan apa yang diucapkan pemimpin youkai laba-laba emas.


"Kita lebih baik melihat apa keputusan dan pertangung jawaban dari Akihiko-sama untuk kondisi desa kita, sebelum membuat keputusan," lanjut pemimpin youkai laba-laba emas. "Bagaimana meurut kalian?"


Pertanyaan sang pemimpin membuat para youkai laba-laba emas terdiam. Apa yang dikatan tetua mereka memang benar, klan mereka lebih baik melihat apa yang akan dilakukan Akihiko terlebih dahulu sebelum membuat keputusan.


Pemimpin youkai laba-laba emas menghela napas melihat para laba-laba emas yang telah kembali tenang. Tidak mengucapkan apa-apa lagi, dia kemudian mengangkat kepala menatap langit malam. Ada kesedihan dalam hatinya, di dunia di mana yang kuat hidup dan yang lemah mati, akankah klan mereka bisa bertahan?—terlebih lagi sekarang, saat manusia ternyata begitu kuat. Tidak hanya youkai, manusia telah menjadi bahaya yang mengerikan bagi mereka.


....xOxOx....


"Shui-sama!!"


"Shui-sama!!"


Para youkai yang menyamar menjadi manusia berlutut memberikan hormat pada Shui yang mendarat di depan mereka bersama dengan sepuluh pengawalnya. Senyum dan tawa memenuhi wajah mereka saat melihat pemimpin mereka, terlebih lagi mereka tahu bahwa tugas mereka telah selesai.


Namun, belum sempat mereka mengucapkan apapun, tiba-tiba saja, sepuluh bawahan Shui melesat maju sambil mengancungkan senjata. Tidak memberikan kesempatan, mereka memenggal kepala, menusuk jantung ataupun menebas badan para prajurit tersebut.


"Ahhh!!!


"Shui-sama!!! Kenapa!!??"


Suara teriakan kesakitan dan tatapan tidak percaya memenuhi wajah para youkai yang menyamar menjadi manusia menatap Shui. Mereka sama sekali tidak mengerti kenapa pemimpin klan youkai netral yang terkenal sebagai sang putih itu membunuh mereka.


"K-kenapa Shui-sama? K-kami telah mematuhi p-perintah anda menghancurkan desa.." tanya salah satu prajurit yang masih hidup. Matanya menatap lurus Shui yang berada tepat di depannya penuh ketakutan, sedangkan tangannya menahan darah yang terus mengalir keluar dari dadanya yang tertusuk pedang.


Shui tidak bergerak, dia berdiri menatap tatapan kebingungan, ketakutan dan ketidak percayaan prajurit tersebut. Seulas senyum tiba-tiba memenuhi wajah cantiknya. Ada perasaan gembira dalam hatinya melihat ekspresi wajah tersebut. "Kalian bertanya kenapa?"


Perlahan, Shui kemudian mengeluarkan secarik kain dari balik kimononya. Membukanya, dia membiarkan prajurit yang telah sekarat di depannya melihat apa yang tertulis di kain tersebut.


Ketakutan di wajah prajurit yang menyamar menjadi manusia semakin besar saat melihat apa yang tertulis di kain itu. Yang tertulis tidak lain adalah kenyataan bahwa yang menyerang dan menghancurkan desa youkai di netral, timur dan utara tidak lain adalah youkai yang menyamar menjadi manusia dan kemungkinan besar merupakan bawahan Shui.


"Kalian telah gagal dan ketahuan." Tawa Shui gembira. Kedua mata putihnya berbinar gembira.


"Shui-sama!! Kami ti-" teriak prajurit itu, tapi teriakannya segera terhenti karena salah satu bawahan Shui telah mengangkat pedang dan memenggal kepalanya.


Shui terus tertawa melihat para prajurit youkai yang menyamar menjadi manusia satu persatu mati di depannya. Kedua mata putihnya bersinar penuh kegembiraan, dan saat mereka semua telah mati. Seulas senyum penuh kepuasan memenuhi wajah saat dia melihat salah satu pengawalnya menyalahkan api dan membakar mayat-mayat youkai tersebut.


Api merah dengam cepat melahap mayat-mayat youkai tersebut. Setelah beberapa saat, dengan pandangan yang bersinar penuh kegembiraan, Shui kemudian menoleh kepala menatap semak-semak yang berada cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Mengangkat tangan kanannya, sebuah tombak es tiba-tiba muncul. Dengan senyum yang masih tetap ada di wajah, Shui dengan cepat melemparkan tombak es itu ke arah semak-semak tersebut.


Seketika juga, sebelum tombak es itu menusuk semak-semak tersebut, sosok tiga youkai kecil meloncat keluar. Ketiga sosok youkai kecil tersebut tidak lain adalah Shippo, Yuki dan Sora.


"Tikus putih?" gumam Shui saat melihat Yuki dan Sora. Senyum yang memenuhi wajahnya semakin melebar. "Oh, jadi kalian, ya? Semuanya pasti sudah terekam dengan mata merah klan tikus putih kalian, kan?"


Shippo menelan ludah melihat Shui yang tersenyum ke arah mereka. Dia bisa melihat jelas ketidak normalnya senyum di wajah sang pemimpin youkai tanah netral tersebut, dan yang paling penting, dia bisa merasakan jelas bahaya di depan mata mereka. Tidak membuang waktu, dengan segera, youkai rubah kecil itu membalikkan badan menarik Yuki dan Sora, berlari menjauh. "Lari!!"


Yuki dan Sora tidak mengatakan apapun, mereka berdua juga tahu jelas dengan bahaya yang ada. Shui telah melihat mereka dan yang paling penting, dia juga telah mengatakan dengan jelas akan mata merah youkai klan tikus putih—Shui tidak akan mungkin membiarkan mereka hidup lagi.


Shui tidak bergerak, kedua mata putihnya menatap sosok Shippo, Yuki dan Sora yang berlari menjauh. Tertawa sejenak, dia kembali tersenyum. "Bunuh."


Bersamaan dengan ucapannya, kesepuluh pengawal yang ada di samping Shui melesat dengan cepat mengejar ketiga youkai kecil di tersebut.


Shippo berusaha berlari secepat yang dia bisa, begitu juga dengan Yuki dan Sora. Kebingungan dan ketakutan memenuhi hatinya, Shui telah mengetahui segalanya, tapi yang paling penting, kenapa pesan mereka pada kain kimono itu ada padanya?—mereka jelas meninggalkan kain itu untuk penguasa tanah utara di desa klan kadal api yang hancur. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tapi, tidak peduli secepat apa Shippo, Yuki dan Sora berlari, kaki mereka tetap tidak dapat menang dari pengejar. Tidak butuh waktu lama, mereka bertiga telah terkepung oleh para pengawal Shui.


Berhenti berlari, mata Shippo menatap sekeliling berusaha mencari celah untuk meloloskan diri. Namun, tidak peduli dia mencari, dia tidak menemukannya. Akankah dia mati di sini hari ini?—untuk pertama kali Shippo merasa ingin menangis setelah sekian lama. Wajah Kagome, Inuyasha, Miroku, Sango terbayang dalam pikirannya, jika saja mereka ada di sini, dia pasti tidak akan berada di posisi ini!


Para youkai yang mengelilingi Shippo, Yuki dan Sora tidak memperlihatkan ekspresi sedikitpun di wajah mereka. Berjalan mendekati ketiga youkai kecil yang ketakutan dan putus asa tersebut, salah satu youkai pengawal Shui mengangkat pedang di tangannya ke atas, mengarahnya tepat di atas kepala Sora yang bergetar ketakutan.


Yuki segera memeluk erat Sora yang ketakutan. Menjadikan badan sebagai tameng untuk adiknya, dia menyiapkan hati untuk menerima pedang yang terarah padanya.


Shippo yang melihat apa yang terjadi juga bergerak cepat. Mendorong badan Yuki dan Sora, dia berteriak keras. "Awas!!!"


"Shippo-kun!!" teriak Yuki ketakutan saat menyadari Shippo yang kini telah menggantikan dirinya menerima pedang yang telah bergerak turun.


Shippo bisa mendengar suara ketakutan Yuki dan Sora, matanya jelas bisa melihat pedang yang terarah padanya, hanya saja, dia juga tahu, bahwa; semua sudah terlambat. Dirinya tidak akan dapat menghindari pedang itu lagi.


Pedang bergerak turun terasa sangat pelan bagi Shippo yang ketakitan. Namun, sebelum pedang itu melukainya, dari samping, sebuah tongkat berwarna emas melesat sambil berputar dengan cepat menghempas pedang tersebut.


Pedang tersebut terlepas dari tangan youkai yang megengamnya dan terpental jatuh ke atas belakang. Bersamaan, semua yang ada di sana menoleh segera pandangan mereka pada tongkat yang berputar terbang kembali bagaikan boomerang ke tangan sang pelempar.


"Malam-malam seperti ini, kalian mengejar dan mengerjain anak kecil," tawa seorang youkai monyet sambil mengusap-ngusap jengotnya. Seulas senyum memenuhi wajah, sedangkan sepasang mata hijaunya menatap tajam semua youkai pengawal Shui. "Boleh aku tahu apa yang terjadi?"


"Kenji-san!!!" panggil Shippo gembira. Ketakutan di wajahnya segera sirna melihat kemunculan Kenji. Dia kenal youkai monyet itu, mereka telah bertemu beberapa kali di istana tanah barat pada pesta pernikahan Sesshoumaru dan Rin—youkai tersebut pasti akan berdiri di pihaknya.


Mengumpulkan segenap tenaga dan keberanian yang ada, Shippo kembali berteriak keras. "Tolong kami!! Mereka mau membunuh kami!!"


Ucapan Shippo dengan segera membuat para pengawal Shui yang tertegun dengan kemunculan Kenji tersadar. Tidak membiarkan kesempatan yang ada bagi ketiga youkai kecil di depan mereka untuk berbicara lebih banyak, mereka semua kembali mengangkat senjata di tangan untuk melenyapkan nyawa yang diinginkan pemimpin mereka.


Kenji juga tidak membuang waktu, melesat cepat, dia meloncat maju. Dia sudah mempredeksi pengawal Shui akan bertindak cepat demi menutup mulut Shippo dan kedua youkai tikus putih tersebut. Instingnya ke selatan memang tidaklah salah, ketiga youkai kecil itu mungkin adalah apa yang dicarinya, petunjuk akan apa yang sebenarnya terjadi.


Mendarat tepat di depan Shippo, Kenji mengayunkan tongkatnya. Mengerakkannya dengan cepat dan kuat, dia berhasil menahan dan memukul mundur para pengawal Shui ke belakang.


Plok-plok-plok


Suara tepuk tangan dan tawa seseorang tiba-tiba terdengar memenuhi ketegangan yang ada. Kenji tidak menoleh sedikitpun pada sumber suara, sebab dia tahu suara tawa itu tidak lain adalah; Shui.


"Kenji-san," panggil Shui tersenyum lebar. Kedua matanya berbinar penuh kekaguman menatap Kenji. "Meski anda sudah tua, anda tetap saja masih sangat kuat."

__ADS_1


"Terima kasih untuk pujiannya." Balas Kenji datar, tetap tidak menoleh menatap Shui, dia menurunkan pandangannya pada Shippo, Yuki dan Sora yang kini gemetar ketakutan di sampingnya.


"Kenji-san," panggil Shui lagi dengan senyum yang tetap ada di wajahnya. "Bagaimana kalau anda menyerahkan ketiga anak kecil di sampingmu padaku?"


Shippo, Yuki dan Sora tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Shui. Menatap Kenji, mata mereka tidak dapat menyembunyikan ketakutan dalam hati mereka yang semakin besar.


Kenji memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat ekspresi ketakutan Shippo, Yuki dan Sora, serta niat membunuh Shui yang tidak tersembunyikan, youkai monyet itu jelas tahu apa yang dipikirkannya barusan memang benar; ketiga anak ini pasti tahu sesuatu tentang apa yang terjadi di tanah jepang ini.


Mendengus tidak suka, Kenji kemudian mengangkat kepala dan menatap Shui. Dia tertawa keras. "Jika aku tidak mau?"


Shui ikut tertawa mendengar tawa Kenji. Sejak awal, dia sudah bisa menebak apa yang akan jawaban youkai monyet tersebut; Kenji memamg tidak berubah sejak dulu. "Kalau begitu aku akan merebut, Kenji-san."


Tawa Shui bagaikan sebuah aba-aba, selesai dia tertawa, semua pengawalnya meloncat dengan senjata yang terangkat menyerang Kenji, Shippo, Yuki dan Sora.


Kenji segera menggerakkan tongkatnya, memukul dan menahan serangan yang ada, dia berusaha melindungi, Shippo, Yuki dan Sora. Namun, youkai monyet itu juga tahu, keadaannya tidak menguntungkan. Pertarungan ini dari awal jelas berat sebelah, hanya masalah waktu saja dia akan kalah.


Shui tersenyum sangat lebar menatap Kenji yang mulai kewalahan. "Kakak pasti menunggumu di alam sana," tawanya pelan. "Apakah anda ingin mengunjunginya sekarang, Kenji-san?"


Kenji ikut tertawa mendengar pertanyaan Shui disela gerakan menahan serangan yang terarah pada dirinya dan ketiga youkai kecil di samping. "Aku tidak berniat mengunjungi anjing itu secepat ini."


Menggerakkan segenap kekuatan yang ada, Kenji kemudian mengayun dan memutar tongkat di tangannya. Lalu, bersamaan dengan putaran yang ada, tongkat itu memanjang dan membesar bagaikan sebatang pohon ratusan tahun.


Para pengawal Shui meloncat menghindar ke belakang, sebab tongkat yang diputar Kenji menciptakan angin kuat yang sanggup menghempas badan mereka.


Melihat kesempatan dan celah yang tercipta, Kenji segera mengeluarkan tiga bola kecil dari balik kimononya. Melemparnya ke bawah, asap tebal tiba-tiba muncul dan menutupi pandangan di sekeliling dalam radius berpuluh-puluh meter.


Shippo, Yuki dan Sora mematung di tempat karena terkejut dengan apa yang terjadi. Lalu, bersamaan, mereka merasa badan kecil mereka terangkat dari tempat mereka berpijak. Suara Kenji terdengar jelas di atas mereka. "Apa yang kalian tunggu lagi? Kita harus lari!"


"Eh??" seru Shippo, Yuki dan Sora terkejut. Namun belum sempat mengatakan apa-apa, Kenji telah berlari secepat yang dia bisa sambil memeluk ketiga youkai kecil tersebut.


"Kalian kira aku sekuat apa? Aku tidak mungkin menang melawan Shui dan seluruh pengawalnya sambil melindungi kalian." Ujar Kenji pelan sambil meloncat ke atas pohon dan berlari meninggalkan tempat mereka berada.


Shui yang berada dalam kabut tebal tidak dapat merasakan keberadaan Kenji dan yang lainnya. Tersenyum, dia menutup mata dan tertawa kecil. Kenji, sang jendral dan sahabat Inu No Taisho yang penuh tipu muslihat, apa yang dilakukannya sekarang sama sekali tidak mengejutkan.


Membuka mata dan encabut pedang yang ada di pinggang, Shui kemudian mengayunkannya. Angin yang kuat segera tercipta dan menyapu asap tebal yang ada hingga menghilang.


Melihat Kenji, Shippo, Yuki dan Sora yang telah menghilang dari pandangan, senyum di wajahnya semakin lebar, sedangkan binar kegembiraan dalam kedua mata putihnya semakin kuat. "Kejar."


Ekspersi wajah Kenji yang terus berlari dengan Shippo, Yuki dan Sora dalam pelukannya menjadi semakin serius, sebab dia bisa merasakan dengan jelas bahwa Shui dan pengawalnya kini telah berlari mengikuti mereka.


"Kenji-san," suara Shippo yang ada dalam pelukan Kenji tiba-tiba terdengar. Ada ketakutan yang terasa dalam suaranya yang bergetar. "A-apa kau yakin kita bisa lolos dari kejaran mereka?"


"Bisa atau tidak, kita tetap harus bisa." Balas Kenji pelan tanpa menoleh wajah kepada Shippo. Kedua kakinya masih berusaha lari secepat yang dia bisa.


Menelan ludah dan memberanikan diri, Shippo mengeluarkan suaranya. "Aku ada ide."


....xOxOx....


Nama no naka


Kaze no naka


Yume no naka


Telinga Sesshoumaru bisa menangkap jelas suara nyanyian yang lembut. Melangkah pelan, dia menuju sumber suara yang tidak lain berada dalam kamar tidurnya sendiri.


Wajah dan mata emas penguasa tanah barat itu datar tanpa emosi seperti biasanya, dia juga tidak mempedulikan Kiri dan Kira yang berada di depan pintu kamar berlutut memberikan hormat saat melihatnya


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Membuka pintu shoji kamar dengan pelan, dia tertegun menatap sang penyanyi yang merupakan seorang wanita manusia. Duduk di atas futon, dengan mata tertutup serta seulas senyum lembut di wajahnya yang pucat—wanita itu tetap sangat memesonakan.


Watashi wa hitori de machimashou


Shura wa hitori de machimashou


Wareware wa hitori de machimashou


Mata emas Sesshoumaru melembut melihat gerakan pelan tangan mungil sang wanita yang mengelus perut besarnya dengan penuh kasih sayang.


Sesshoumaru-sama omodori wo


Berjalan masuk, perlahan Sesshoumaru bisa melihat mata sang penyanyi terbuka. Senyum di wajah cantik itu semakin lebar dan tertuju padanya.


"Tadaima, Rin." Balas Sesshoumaru pelan. Duduk ke bawah, dia mencium pelan kening wanita itu lembut.


Rin tertawa pelan saat merasakan kehangatan di keningnya. Kehangatan yang dengan segera menjalar memenuhi setiap relung hatinya.


Perlahan, Sesshoumaru mengarahkan pandangan pada perut besar kisakinya. Menggerakkan tangan kanan pelan, dia mengelusnya lembut.


"Ayahanda sudah pulang, Shura." Ujar Rin pelan melihat tangan lembut Sesshoumaru yang mengelus lembut perutnya. Lalu, seakan mendengar ucapan ibunya, anak dalam perutnya bergerak tepat di mana tangan ayahnya berada.


"Shura menyambut anda, Sesshoumaru-sama," tawa Rin bahagia. Tersenyum, dia menggerakkan tangannya menyentuh tangan Sesshoumaru. Kedua mata coklat jernihnya menatap penguasa tanah barat lembut. "Shura juga mengucapkan okaeri."


Tawa, senyum dan ucapan Rin membuat Sesshoumaru mau tidak mau tersenyum kecil. Bergerak pelan, dia kemudian berpindah posisi ke belakang kisakinya. Memeluk pinggang dan perut wanita yang dicintainya pelan, dia menyandarkan punggung Rin pada dadanya.


Rin kembali tertawa kecil dan membiarkan Sesshoumaru melakukan apa yang telah menjadi posisi duduk mereka jika bersama. Menyandarkan kepala pada dada inuyoukai itu, dia kemudian menutup mata.


Perlahan, mengerakann jari jemarinya menyentuh tangan Sesshoumaru, dengan mata yang masih tertutup Rin membuka mulut dan bernyanyi pelan.


Anata no nayami o sutete


Ashita wa atarashī hi ga kuru


akishimete, osoreru koto wa nanimonai


Anata no yume wa tōkunaikara


Atama o yoko ni shite yasumu to


Anata no yume ga watashi no ai o hikitsugu yō ni


Suara yang lembut memenuhi ruangan, membuka mata pelan, mata emas Sesshoumaru menatap wajah damai Rin yang berada dalam pelukannya.


Kehangatan dan bau yang disukainya memenuhi indra penciuman sang penguasa tanah barat. Ikut menutup mata, inuyoukai itu membiarkan dirinya larut dalam kedamaian yang ada.


Yoku kiite, Nishi no musuko


Sekai wa zankokudesuga


Mada kagayaku hikari ga arimasu


Watashitachi no jinsei no mottomo kurai hi ni


Lagu yang dinyanyikan Rin lembut, cinta dan kasih sayang yang dijanjikan, Sesshoumaru tahu, betapa Shura, anak mereka berarti baginya.


Seulas senyum kecil kembali memenuhi wajah tampan Sesshoumaru. Dia tahu, kelak, saat putra mereka telah lahir dan besar, dirinya haruslah memberitahu, betapa besar cinta ibunya kepadanya.


Subete no kibō ga ushinawa reta yō ni mieru toki


Soshite, anata wa anata no michi o mitsukeru koto ga dekimasen


Sora o mitsumeru toki no koto o kangaete


Menggerakkan tanganngya pelan, Sesshoumaru kembali mengelus lembut perut besar Rin.


Rin selalu menyanyikan lagu ini untuk Shura, begitu juga dengan lagu aneh yang dinyanyikannya saat menunggu kepulangannya, dan sejujurnya—Sesshoumaru sangat menyukainya.


Kelak, jika putra mereka sudah lahir, dia berharap, mereka akan selalu melewati hari seperti ini. Saat dia pulang, saat dia membuka pintu, kedua keberadaan paling penting dalam hidupnya akan selalu ada—keluarga kecilnya yang bahagia.


Ko kōzan, anata no mirai wa akarui


Anata no chichi no chi ga anata no jōmyaku ni


Kurayaminonakade, watashi wa anata ga tatakau koto o inoru


Sekai ga sugu ni anata no namae o shiru yō ni narukara


Lagu yang dinyanyikannya telah selesai, membuka mata perlahan, Rin menatap tangannya dan tangan Sesshoumaru yang ada di perut besarnya. Tersenyum, dia ikut mengelus perutnya "Sesshoumaru-sama.." panggilnya pelan.


"Hn." Balas Sesshounaru pelan. Dia tidak membuka matanya, inuyoukai itu masih membiarkan dirinya larut dalam kehangatan yang ada.


"Para manusia sudah mengumpulkan pasukannya, kan?" tanya Rin pelan dengan senyum yang masih ada di wajahnya.

__ADS_1


Pertanyaan Rin membuat Sesshoumaru tertagun. Membuka mata, dia melihat Rin yang menjauhkan badannya dan membalikkan badan ke belakang menatapnya. Seulas senyum lembut memenuhi wajah cantik itu. "Rin ingin tahu kapan manusia datang, Sesshoumaru-sama."


"Rin.." panggil Sesshoumaru pelan. Wajahnya datar tanpa emosi, tapi kedua mata emasnya tidak dapat menyembunyikan emosi yang ada. Kemarahan memenuhi hatinya. Siapa? Siapa yang memberitahu Rin ini semua?!


Menggerakkan tangan kanannya, Rin menyentuh pipi kiri Sesshoumaru lembut dan tertawa kecil. Di dunia ini, meski merupakan seorang manusia, dia adalah satu-satunya makhluk hidup yang paling mengerti inuyoukai di depannya. Apa yang ada dalam pikiran penguasa tanah barat, dia tahu.


"Tidak ada yang memberitahu Rin, Sesshoumaru-sama," ujar Rin pelan dan kembali tersenyum. "Rin tahu dengan sendirinya."


Rin tahu, Sesshoumaru yang mulai sering meninggalkan dirinya dan menuju ruang kerja untuk mendengar laporan dari Kiri dan Kira, wajah Inuyasha yang tidak peduli dan juga wajah Kagome, Miroku dan Sango yang selalu berusaha menyembunyikan kesulitan dan kebingungan—sesungguhnya, kenyataan yang ingin mereka sembunyikan darinya terlihat jelas di mata coklatnya.


"Rin sudah bukan lagi anak kecil, Sesshoumaru-sama." tawa Rin kemudian dengan pelan.


Sesshoumaru tidak bergerak mendengar ucapan Rin. Kemarahan dalam hatinya menghilang digantikan perasaan tertegun. Menggerakkan tangan kirinya, Sesshoumaru menangkap tangan kanan Rin yang menyentuhnya. Kembali menutup mata, dia mencium tangan itu lembut.


Bukan anak kecil.


Sesshoumaru tahu, Rin bukanlah anak kecil lagi, tapi melebihi siapapun, inuyoukai itu ingin wanita manusia itu tetaplah seperti anak kecil. Anak kecil yang hidup tanpa kerisauan, tanpa ketakutan, tanpa kesedihan—bebas dan penuh kebahagiaan, penuh senyum dan tawa.


"Sesshoumaru ini akan selalu ada untuk kalian berdua," ujar Sesshoumaru pelan. Membuka mata, dia menatap lurus wajah Rin. "Sesshoumaru ini bersumpah untuk itu."


Rin tersenyum dan mengangguk kepala pelan. "Iya, Rin tahu. Sesshoumaru-sama akan selalu ada untuk Rin dan Shura."


"Sesshoumaru ini tidak akan membiarkan siapapun melukai kalian," lanjut Sesshoumaru lagi. Suaranya datar tapi penuh dengan tekad, kedua mata emasnya berbinar penuh emosi penuh kegilaan yang tidak terbendung. "Sesshoumaru ini akan membunuh siapapun yang berani mencobanya."


"Iya," ujar Rin pelan. Senyum di wajahnya tidak berubah, tidak ada rasa takut dirasakannya saat melihat ekspresi wajah Sesshoumaru sekarang. "Rin tahu."


Sesshoumaru akan selalu ada untuknya dan Shura, Rin tidak pernah meragukannya. Karena itu, siapapun yang berani datang untuk melukai dirinya dan anak mereka, inuyoukai itu akan memusnahkannya.


Bergerak pelan, Rin kemudian memeluk dan menyandarkan wajahnya pada dada Sesshoumaru yang secara reflek segera membalas pelukannya erat. Menutup mata, dia membiarkan kehangatan inuyoukai yang dicintainya menyelimuti dirinya sekali lagi.


Apa nasib para manusia jika berani datang, Rin tahu—kematian. Kematian yang akan sangat mengerikan, kematian yang tidak akan terhindari dan mengerikan. Lalu, saat itu tiba, Rin bertanya pada dirinya sendiri, apa yang harus dia lakukan?


Dunia yang aneh dan kejam, dunia yang tidak pernah adil, serta manusia yang egois—seulas senyum kecil memenuhi wajah Rin.


Egois.


Rin berpikir, bolehkan dia egois untuk kali ini saja?—untuk Shura anak dalam rahimnya, bolehkah dia menutup mata dan membiarkan Sesshoumaru membunuh semua manusia yang bermaksud melukai anak mereka?


Rin sungguh tidak tahu.


....xOxOx....


Berlari dalam hutan malam mengejar Kenji, Shui tetap tenang. Mata putihnya menatap lurus ke depan, seulas senyum memenuhi wajahnya saat dia berhasil menangkap sosok punggung youkai monyet yang masih berusaha melarikan diri dengan tiga youkai kecil dalam pelukan.


Tidak membuang waktu, Shui mengangkat tangannya dan menciptakan jarum-


jarum es kecil yang tajam. Melemparkannya, jarum-jarum es tersebut melesat cepat ke arah Kenji.


Kenji yang berlari bisa merasakan serangan Shui yang melesat cepat ke arahnya. Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, secara reflek, youkai monyet itu segera meloncat ke samping menghindar dengan Shippo, Yuki dan Sora yang berteriak ketakutan dalam pelukan.


Youkai adalah makhluk yang memiliki kecepatan gerak sangat cepat. Waktu beberapa detik yang digunakan Kenji untuk menghindar serangan, dengan segera telah membuat jarak antara mereka dan pengejar mereka menjadi sangat dekat.


"Serahkan lah anak-anak itu, Kenji-san. Aku tidak berniat melukai anda, aku hanya ingin anak-anak itu. " Tawa Shui kembali terdengar. Sekali lagi, dia kembali menciptakan jarum-jarum es untuk menyerang Kenji.


Mengertakkan giginya keras, Kenji kembali meloncat menghindar jarum-jarum es tersebut. Dia tahu, mereka tidak boleh berlari seperti ini terus, tapi, dia juga tidak mempunyai pilihan lain.


Mendarat ke atas tanah, Kenji segera berlari menembus semak-semak di depan menghindar kejaran. Tapi, tidak lama dia berlari, kakinya kemudian terhenti. Kedua mata hijaunya terbelalak saat melihat jurang dalam dan curam di depan.


Bersiap sedia meloncat ke atas langit, Kenji mengeratkan pelukannya pada Shippo, Yuki dan Sora yang telah tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena ketakutan. Hanya saja, belum sempat dia melakukan itu, serangan jarum es Shui kembali melesat, dan kali ini, meski dia tidak berhasil menghindar lagi. Jarum-jarum itu menancap pada lengannya yang mengendong ketiga youkai kecil tersebut.


"Ughh!!" gumam Kenji menahan rasa sakit yang menyerangnya. Pelukannya pada ketiga youkai kecil itu terlepas dan jatuh ke atas tanah. Menahan keseimbangan badannya, dia segera berjongkok ke bawah.


"Kenji-san!!" panggil Shippo keras. Penuh ketakutan dia mengangkat kepala menatap Kenji. Matanya terbelalak saat melihat kedua lengan youkai kini telah diselimuti es yang keras. "Anda tidak apa-apa??"


Yuki dan Sora tidak memgucapkan apa-apa, tapi kedua mata merah mereka menatap penuh ketakutan dan kekhawatiran pada Kenji yang terluka karena melindungi mereka.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Kenji pelan. Mengangkat kedua mata ke depan, kemarahan memenuhi hati saat melihat Shui yang tersenyum serta para pangawalnya telah kembali mengepung dirinya dan anak-anak.


Shippo, Yuki dan Sora yang menyadari keberadaan Shui dan pengawalnya semakin ketakutan. Tidak mengatakan apa-apa, mereka bertiga segera bersembunyi di balik punggung Kenji.


"Aku tidak akan menyerangmu seperti ini kalau anda menyerah mereka padaku, Kenji-san," ujar Shui pelan. Seulas senyum bersahabat memenuhi wajah cantiknya. "Kau sahabat kakak. Aku tidak mungkin mencelakaimu."


"Simpan saja ucapanmu itu, Shui," balas Kenji, kedua mata hijaunya menatap lurus pada Shui penuh kebencian. "Apa yang kau rencanakan?"


"Apa yang aku rencanakan tidak ada kaitan dengan anda, Kenji-san." tawa Shui pelan. Mengangkat kepala menatap langit malam, dia tersenyum. "Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi hakku."


"Hakmu??" potong Kenji dan ikut tertawa. Kedua mata hijaunya menatap Shui dengan pandangan merendahkan. "Hak akan tanah barat?? Kau tidak memiliki hak apapun di tanah barat, Shui!!"


Shui menurunkan kepalanya menatap Kenji dan kembali tersenyum. "Jika aku memang tidak berhak, aku tinggal membuat diriku memiliki hak. Bukankah itu sederhana?"


Kenji tidak membalas ucapan Shui. Melihat senyum di wajah tersebut, dia merasa apapun yang dikatakannya tidak akan dimengerti oleh pemimpin youkai netral tersebut. Daripada membuang waktu berbicara, lebih baik dia memikirkan cara meloloskan diri dari keadaan yang tidak menguntungkan sekarang.


Shui tidak mengatakan apa-apa lagi melihat sikap Kenji, dia tahu apa yang ada dalam pikiran youkai monyet itu sekarang, dan dia tidak mungkin membiarkannya. Melangkah maju pelan, dengan senyum yang masih ada di wajah, dia kemudian mendekati Kenji.


"Shippo," panggil Kenji pelan melihat Shui yang mendekati mereka. Mengeluarkan dua bola kecil dari balik kimononya lagi, dia berbisik pelan. "Lari."


Mendengar perintah serta melihat Kenji kembali melempar bola kecil di tangannya ke atas tanah, Shippo tidak membuang waktu yang ada lagi. Menarik tangan Yuki dan Sora, dia segera melangkah kaki untuk berlari menjauh.


Asap tebal kembali memenuhi pandangan. Mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa, tidak peduli dengan tangannya yang terselimuti es, Kenji kembali mengayunkan tongkat di tangan dan berlari maju ke arah Shui serta pengawalnya yang juga ikut maju.


Sekali lagi, Kenji memanjangkan dan membesarkan tongkat di tangan. Menahan serangan yang ada, dia berusaha memukul mundur musuh di depan. "Aku lawan kalian, berengsek!!" teriaknya keras.


Menahan semua serangan yang ada, Kenji berusaha menciptakan waktu bagi Shippo, Yuki dan Sora untuk meloloskan diri. Lalu, tiba-tiba saja, dari dalam asap tebal di depannya, berpuluh-puluh tombak es melesat keluar dengan kecepatan yang sangat luar biasa.


Wajah Kenji langsung memucat, dia yang masih menahan serangan para pengawal Shui sama sekali tidak bergerak untuk menahan serangan tersebut. Tapi, yang membuat wajah pucatnya semakin memucat adalah saat dia menyadari bahwa tombak es itu tidak kerarah padanya, melainkan pada Shippo, Yuki dan Sora yang berada tidak jauh di belakangnya. "Shipooo!!! Awas!!!"


Suara teriakan Kenji yang keras membuat Shippo, Yuki dan Sora menolehkan pandangan mereka bersamaan pada youkai monyet tersebut, dan sedetik kemudian, mereka terpental ke belakang dengan tombak es yang telah menusuk tembus seluruh badan kecil mereka.


Kenji tidak mempedulikan serangan para pengawal Shui lagi melihat apa yang terjadi. Meloncat ke belakang, dia segera berlari ke arah Shippo, Yuki dan Sora. Mengerakkan tangannya secepat yang dia bisa, dia berusaha menangkap badan mereka yang terpental jatuh ke dalam jurang di belakang.


"Ship—" teriak Kenji. Namun, suara teriakkannya terhenti, begitu juga dengan gerakannya saat dia melihat badan Shippo, Yuki serta Sora yang telah tidak bernyawa dan hancur jatuh dan menghilang ke dalam jurang gelap di bawah.


Kenji tidak bergerak sama sekali, kedua mata hijaunya menatap tidak percaya apa yang terjadi di depannya. Kemarahan luar biasa dengan segera memenuhi dirinya. Mata hijaunya berubah menjadi merah darah, begitu juga dengan bentuk wajahnya. Tidak ada lagi sosok wajah seperti seorang manusia, yang ada hanyalah wajah dari seekor monyet yang menyeringai penuh kemarahan.


Menoleh wajah ke belakang, tidak mempedulikan apapun, Kenji melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah Shui. Mengayunkan tongkatnya, dia menyerang pemimpin youkai tanah netral dengan membabi buta.


Shui meloncat menghindar setiap serangan Kenji ke belakang. Tertawa keras, dia kemudian memcabut pedang di pinggang dan mengayunkannya. Angin yang sangat kuat muncul dan menyapu asap tebal sekeliling mereka.


Saat mendarat di atas tanah, senyum di wajahnya semakin melebar saat melihat sosok Kenji yang telah hampir kembali ke sosok asli youkainya—seekor monyet besar dengan bulu berwarna emas. "Kenji, Saru Shogun dari barat, sudah ratusan tahun aku tidak melihat sosokmu ini."


Kenji tidak membalas ucapan Shui. Dia menyeringai penuh kemarahan dengan mata berwarna merah darah menatap youkai bermata putih itu.


Para pengawal Shui kembali bergerak, dengan senjata di tangan, mereka melesat maju untuk menyerang Kenji. Akan tetapi, suara sang pemimpin youkai netral tiba-tiba terdengar menghentikan mereka. "Mundur."


Perintah dari Shui adalah sesuatu yang mutlak dalam hidup pengawal pemimpin youkai tanah netral tersebut. Bersamaan, kesepuluh pengawal itu berhenti menyerang Kenji dan melompat ke belakang.


Kenji tetap tidak bergerak, mata merah darahnya tidak menoleh sedikitpun dari Shui yang tersenyum dan berjalan mendekatinya. Tapi, genggaman tangan pada tongkatnya mengerat, dan dia bersiap sedia jika musuh di depan menyerang.


"Aku tidak ingin bertarung dengan anda, Kenji-san." tawa Shui pelan melihat reaksi Kenji. Mata putihnya menatap ramah youkai monyet tersebut. "—tidak untuk sekarang."


"Apa yang kau inginkan?" tanya Kenji pelan. Suaranya dangat rendah rendah, berusaha menahan kemarahan yang ada dalam dirinya.


Shui tersenyum. Kedua matanya berbinar gembira. "Anda mengatakan aku tidak memiliki hak, bukan? Karena itu, aku akan menunjukkan padamu kalau aku memiliki hak."


"Jangan bermimpi!! Kau kira aku akan membiarkannya!?" teriak Kenji, kemarahan yang ditahannya kembali meledak.


"Tidak. Anda tidak akan membiarkan," Shui kembali tertawa dan menggeleng kepala pelan. Tersenyum menyeringai dia menatap Kenji penuh kebahagiaan. "Tapi, apa yang bisa kau lakukan, Kenji-san?"


Kenji kembali terdiam. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Sejujurnya, sampai sekarang, dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baik Shippo, Yuki maupun Sora tidak sempat memberitahunya, tapi, melihat keberadaan dua youkai tikus putih, dia tahu, kejadian yang menimpa beberapa desa youkai di seluruh jepang ini tidaklah sederhana.


"Apa yang kau rencanakan, Shui?" tanya Kenji lagi. Dia tahu Shui tidak akan menjawab, tapi dia tetap bertanya.


Dengan senyum yang tidak berubah. Tidak mempedulikan Kenji sedikitpun, Shui kemudian membalikkan badannya dan berjalan menjauh meninggalkan youkai monyet itu. "Silakan cari jawabannya sendiri, Kenji-san." tawanya keras.


Kenji tetap tidak bergerak, kedua mata merah darahnya menatap tajam sosok Shui yang berjalan menjauh diikuti pengawalnya hingga menghilang dari pandangan. Dia tidak mengejar, sebab dia tahu, dirinya sekarang tidak mungkin dapat menang—tidak dengan jumlah yang jelas tidak seimbang ini.


"Shui-sama," panggil salah satu pengawal Shui pelan. Kedua matanya menatap lurus pemimpin youkai netral tersebut dengan wajah tanpa ekspresi. "Apakah anda ingin membiarkan Kenji, sang Saru Shogun?"


"Biarkan saja. Masih belum saatnya. Aku ingin dia melihat sendiri apa yang akan terjadi ke depannya," balas Shui sambil tertawa. "Dia tidak akan menemukan apapun."


Kenji tidak akan menemukan apapun, semua bukti yang akan menunjuk pada dirinya kini telah tiada. Dirinya hanya tinggal menunggu waktu untuk babak selanjutnya.


Tidak memiliki hak?


Shui akan menunjukkan pada Kenji dan semua yang ada di dunia ini, dialah yang sesungguhnya paling berhak memiliki tanah barat, bahkan melebihi Sesshoumaru.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2