![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Hanya ada kegelapan di sekelilingnya. Shura berlari dengan cepat, walau sebenarnya, dia juga tidak mengerti kenapa dirinya berlari. Yang dia tahu, kakinya terus saja bergerak, berlari ke depan tanpa tujuan.
"Shura.."
Suara yang sangat lembut bagaikan dentingan lonceng terdengar memanggil namanya. Shura segera menolehkan kepala ke sumber suara. Matanya terbelalak. Di kejauhan, dia melihat gadis manusia dalam lukisan itu—Rin.
"Shura.."
Gadis itu berada dalam taman paviliun timur istana tanah barat. Sama persis dengan lukisan itu, gadis itu sedang memeluk bunga dengan senyum musim semi di wajah cantiknya. Tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya, senyum segera mengembang di wajah Shura yang biasanya tanpa ekspresi. Melangkahkan kakinya lagi, dia segera berlari ke arah gadis manusia itu.
"Shura..."
Senyum musim semi, senyum yang tidak pernah berubah sedikitpun. Senyum yang dapat menenangkan dan ingin dilihatnya—senyum yang sangat-sangat dicintainya.
"Shura.."
Percikan api tiba-tiba muncul di sekeliling gadis itu. Mata Shura kembali terbelalak, senyum di wajahnya segera berubah menjadi ketakutan. Api menjalar dengan cepat, merayap naik membakar kimono gadis manusia tersebut. Namun, senyum musim semi tetap merekah di wajah itu, tidak ada kesakitan sedikit pun diperlihatkannya, begitu juga dengan suara lembut yang memanggil namanya.
"Shura.."
Shura segera mengerahkan kakinya secepat yang dia bisa. Dia harus memadamkan api itu. Dia harus menyelamatkannya. Namun, berpuluh-puluh tangan hitam tiba-tiba muncul menangkap kakinya, menahan dirinya untuk berlari. Dia berusaha untuk membebaskan diri, tapi gagal. Tangan-tangan itu menahan dirinya begitu kuat.
Panik, Shura kembali mengangkat kepala menatap gadis di depannya. Ketakutan yang luar biasa segera menyerangnya. Api itu kini telah merayap membakar seluruh tubuh gadis yang begitu berarti baginya.
"Shura.."
Api telah menjalar ke wajah cantik itu. Namun, senyum dan panggilan lembut bagai dentingan lonceng itu tetap tidak berubah.
"Tidak! Hentikan!"
"Aku mencintaimu, Shura..."
"Tidak! Aku mohon! Hentikan!"
__ADS_1
"Tidak! Hentikan! Hentikan!"
"Bangun! Bangun, Shura!" Panggil Shiro keras sambil memukul kedua pipi Shura.
Kedua mata emas Shura langsung terbuka. Dia langsung bangkit dari futon tempatnya berbaring. Wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah, keringat mengalir menuruni dahinya dan ketakutan memenuhi wajahnya.
"Kak Shura, ada apa? Kenapa dengan Kakak?" tanya Sakura tiba-tiba sambil menyentuh wajah Shura.
Kehangatan tangan Sakura langsung membuat Shura sadar sepenuhnya. Dia segera menolehkan kepala menatap sekelilignya. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah khawatir dari Sakura, Shiro, tiga bersaudara taijiya serta Tsubasa. Dia ada dalam kamarnya, di atas futonnya dengan tubuh yang babak beluk.
"Kak Shura tidak apa-apa?" tanya Sakura lagi. Air mata mengalir menuruni pipinya. Tangan kecilnya yang berada di pipi Shura memaksa inuyoukai itu menatapnya.
Shura hanya diam membisu. Mimpi. Yang tadi dilihatnya hanyalah mimpi. Sebuah mimpi buruk.
"Shura-sama, anda tidak apa-apa?" tanya Tsubasa cemas. Dia tidak pernah melihat inuyoukai itu seperti ini selama ini. Kondisinya sekarang sangat tidak wajar.
Shura tetap tidak menjawab. Dia menundukkan kepala ke bawah. Apa yang dia lihat tadi memang mimpi. Tapi, hatinya tidak bisa tenang. Mengapa dia bisa bermimpi seperti itu? Inuyoukai itu tahu. Istana Tanah Barat telah diserang hingga rusak parah. Dia tidak menghawatirkan Ayahandanya, sebab dia tahu, beliau yang begitu kuat pasti tidak akan apa-apa. Yang dirinya khawatirkan sebenarnya hanya satu, yakni; lukisan Rin yang ada dalam paviliun timur istana tanah barat.
Lukisan Rin. Betapa berartinya lukisan itu bagi dirinya mungkin tidak ada seorang pun yang tahu. Lukisan itu adalah satu-satunya benda yang bisa memperlihatkan padanya senyum musim semi yang sangat dicintainya dalam dunia nyata. Bukti dan juga gambaran kenangan terkuat akan keberadaan gadis manusia yang begitu berarti baginya. Apa yang akan terjadi jika lukisan itu rusak? Tidak berani dia membayangkan jika lukisan itu benar-benar terbakar seperti Rin yang ada dalam mimpinya?
"Keluar." perintah Shura tiba-tiba. Kepalanya dengan pelan terangkat ke atas, menatap semua yang ada di depannya dengan wajah tanpa ekspresi. "Keluar dari kamarku. Tinggalkan aku sendirian."
"Kak Shu—" panggil Sakura cepat. Hanyou kecil itu tidak ingin keluar, namun sepasang tangan Tsuabasa tiba-tiba menarik badannya. "Mari, semuanya. Kita tinggalkan kamar ini. Shura-sama perlu beristirahat. Jangan menganggu beliau lagi." Ujar Tsubasa pelan.
Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang sebenarnya juga tidak tahu harus berbuat apa memutuskan untuk menuruti ucapan Tsubasa. Namun, Sakura tetap saja bersikap keras kepala. Dia memberontak diri sekuat yang dia bisa untuk melepaskan gengaman tangan Selir Penguasa Tanah Selatan.
"Keluarlah. Aku ingin berisitirahat." Kata Shura tiba-tiba sambil menatap Sakura. Tidak ada emosi sedikit pun di mata emas itu sekarang, dan hal itu membuat Sakura tertegun. Perasaan terkejut memenuhi hatinya, dirinya terdiam. Sejenak kemudian, kesedihan memenuhi hati hanyou kecil itu. Air mata mengalir menuruni pipinya. Tidakkah Shura menginginkannya lagi? Tidak inginkah inuyoukai itu jika dirinya berada di samping?
Memanfaatkan kesempatan yang ada, Tsubasa segera menarik keluar Sakura dari kamar tempat mereka berada. Shiro dan tiga bersaudara taijiya segera membuka pintu shoji kamar dalam diam dan berjalan keluar. Sakura tidak mengatakan apa pun lagi, namun, mata emasnya yang masih meneteskan air mata terus saja menatap sosok inuyoukai itu penuh kesedihan hingga pintu tertutup.
Air mata Sakura tergambar dengan begitu jelas dalam benak Shura. Dia sungguh membenci dirinya sendiri. Betapa menyedihkannya dia sekarang. Betapa tidak inginnya dia hanyou kecil itu melihat kondisinya sekarang. Dia yang begitu lemah hanya bisa membuat Sakura takut, sedih dan juga menangis.
Menutup matanya, Shura memutuskan untuk kembali berlaring. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar, dan Sakura yang masih saja terus meneteskan air mata berlari dengan cepat masuk. Hanyou kecil itu segera membuka kedua tangannya dan memeluk erat inuyoukai yang benar-benar sangat terkejut.
__ADS_1
"S-Sakura tidak mau keluar! Sakura mau di sini! Sakura mau di samping Kak Shura! Kak Shura jangan mengusir Sakura! Kak Shura jangan membenci Sakura!" teriaknya keras dalam isak tangis.
Shura menatap bingung Sakura. Sejenak kemudian, dia mengangkat kepala menatap pintu kamarnya yang terbuka. Dirinya bisa melihat Shiro, tiga bersaudara taijiya dan Tsubasa berdiri menatapnya dan Sakura dengan ekspresi wajah pasrah.
Shiro menghela napasnya. Shura memerlukan Sakura sekarang, dia tahu itu. Meski tidak mau mengakuinya, hanyou itu sesungguhnya bisa melihat jelas, sudah ada sebuah jalinan ikatan yang tercipta antara Shura dan Sakura. Sakura terbukti benar-benar dapat menghentikan kegilaan Shura yang tiba-tiba menyerang Akihiko. Karena itu, adiknya itu pasti bisa menyemangati inuyoukai itu juga. Dia tidak suka Shura yang sedang patah semangat dan bersedih. Itu tidak cocok, inuyoukai itu seharusnya selalu kuat, penuh kebanggan dengan harga diri tinggi. Mencibir, Shiro membuka mulutnya, "Biarkan Sakura di sini saja. Aku mirip ayahku, sedangkan Sakura mirip ibuku. Percayalah, Sakura mewarisi semua sikap keras kepala ibu kami. Tidak akan mungkin ada orang yang dapat menariknya keluar dari kamar ini sekarang. "
Selesai berkata seperti itu, tidak mempedulikan reaksi Shura, Shiro segera menutup kembali pintu yang terbuka, meninggalkan Sakura bersama inuyoukai tersebut.
Masih belum mengerti apa yang terjadi, Shura hanya bisa diam membisu. Tangan Sakura tiba-tiba bergerak menyentuh pipi Shura, membuat mata inuyoukai itu kembali terarah padanya, "Kak Shura, Sakura mohon, jangan membenci S-Sakura.." Pintahnya dengan mata berlinang air mata.
Shura hanya bisa menghela napas saat mendengan permintaan itu. Kedua tangannya segera terangkat menghapus air mata yang ada. "Aku tidak membencimu. Karena itu, jangan menangis."
Senyum kecil mengembang di wajah Sakura, dengan cepat dia mengangguk kepalanya. Namun, air matanya tidak berhenti. Air matanya terus mengalir. Mulut kecilnya kembali terbuka. "Kak Shura, Sakitkah? Apakah luka di tubuh Kak Shura sakit?"
"Tidak sakit. Karena itu, berhentilah menangis," jawab Shura datar. Namun, air mata di wajah hanyou kecil itu tetap tidak berhenti. Air mata itu tetap mengalir dengan deras. "Kenapa kau menangis?" tanyanya kemudian.
Sakura hanya menangis terisak-isak mendengar pertanyaan tersebut. Saat Shura mengatakan dia tidak membenci dirinya. Dia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ketakutan yang ada di hatinya segera menghilang tanpa bekas. Namun, saat dia menatap wajah inuyoukai itu, dia tidak bisa menghentikan air matanya. Sebab, melalui sepasang mata emas itu, meski wajah dihadapannya itu begitu tenang dan tanpa ekspresi, dia bisa melihat kesedihan, keputusasaan, kesakitan, ketakutan, kebencian pada diri sendiri serta; air mata yang tersembunyikan.
"K-karena Sakura mengantikan Kak Shura untuk menangis." Jawab Sakura sambil menyentuh wajah Shura. Shura selalu kuat dan tidak akan pernah memperlihatkan air matanya, Sakura tahu itu, oleh karena itu, dirinyalah yang akan mengantikannya untuk menangis.
Mata Shura terbelalak tidak mepercayai apa yang diucapkan Sakura.
"S-Sakura memang tidak tahu apa yang terjadi pada Kakak, tapi Sakura tahu, Kak Shura sebenarnya ingin menangis, kan? Tidak apa-apa. Biarkan Sakura yang mengantikannya? Biarkan Sakura yang menangis dan Kak Shura yang tersenyum kali ini serta seterusnya..."
Shura segera mengangkat tangannya memeluk erat tubuh kecil Sakura saat mendengar jawaban yang di dapatkannya. Membenamkan wajah hanyou kecil itu di dadanya, tidak dipedulikan lagi luka yang ada di tubuhnya. Jawaban Sakura membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Ada kesedihan, namun tidak dapat dipungkiri ada kebahagiaan dalam hatinya.
Menangis.
Sudah berapa lama dia melupakan itu? Air matanya. Sesungguhnya, sudah berapa lama dia menahan air matanya? Sejak terperangkap di selatan, sudah berapa kali dia menahan air matanya. Kekalahan demi kekalahan yang diterimanya dari Akihiko. Luka menganga di seluruh tubuh. Kerinduannya pada barat. Keinginannya untuk pulang, keinginan untuk bertanya pada ayahandanya, serta keinginan sederhana untuk senyum musim semi dalam lukisan di paviliun timur yang begitu dicintainya. Dia ingin menangis dan berteriak. Namun, dia tidak bisa. Dirinya takut jika dia mengijinkan dirinya menangis, dia akan menjadi lemah dan kesempatan menjadi kuat untuk menglahkan Akihiko akan lenyap selamanya.
"Apa yang kau inginkan, kak Shura?" tanya Sakura tiba-tiba sambil membalas pelukan Shura.
Mengigit mulutnya, Shura membenamkan wajahnya pada rambut Sakura. "A-Aku ingin kembali ke barat... Aku hanya ingin pulang ke rumah..."
__ADS_1
....xOxOx....