![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Boleh Rin menyentuh perut anda Kagome-sama?" tanya Rin penuh harap. Mata coklat besarnya menatap penuh harap Kagome yang ada di depannya.
Tersenyum, Kagome mengangguk kepala. Tidak membuang waktu, Rin langsung mengangkat tangan menyentuh perut miko di depannya. Senyum lebar langsung merekah di wajah saat dia merasakan bayi dalam kandungan itu menendang-nendang tangannya. "Kagome-sama! Dia bergerak! Dia menendang tangan Rin!"
Reaksi Rin hanya membuat Kagome tertawa geli. Meski gadis di depannya sekarang sudah bukan anak kecil lagi, sikap dan sifatnya tetap saja seperti anak kecil saat mereka pertama kali bertemu; polos dan lugu. Mengamatinya lagi, dia mengakui bahwa Rin memang sudah tumbuh besar, dan kencantikannya benar-benar sangat mencolok di mata siapapun yang melihatnya. Kecantikannya, gadis masa depan itu sadar, melampaui kecantikan para putri manusia dan youkai yang pernah dilihatnya.
"Kagome-sama, kenapa anda menatap Rin seperti itu? Apakah ada sesuatu yang aneh di wajah Rin?" tanya Rin saat menyadari Kagome menatapnya.
"Tidak apa-apa," jawab Kagome sambil tertawa, tangannya kemudian bergerak menyentuh pipi Rin dengan lembut. "Kau sudah tumbuh besar, Rin-chan. Dan kau sekarang benar-benar telah menjadi gadis yang sangat-sangat-sangat cantik."
"Iya. Kau benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis yang sungguh cantik Rin," senyum Sango menyetujuhi ucapan Kagome dan menoleh wajah pada kedua putri kembar dan putranya, "Benarkan kata ibu? Rin-chan adalah gadis yang cantik sekalikan, Aya, Maya, Mamoru?"
Aya dan Maya langsung mengangguk kepala sambil menatap Rin dengan pandangan terpesona penuh kekaguman, sedangkan Mamoru yang juga berada di sana tiba-tiba mengangkat tangan menarik kerah kimono Sango. "Ibu, kelak caat Mamoru cudah becar, Mamoru akan menjadikan Rin-chan istri Mamoru."
Mata Sango terbelalak mendengar ucapan putra satu-satunya. Sebelum dia mengatakan sesuatu, Miroku yang ada di sana segera mengacak-acak rambut putranya sambil tertawa. "Mamoru, kau benar-benar putraku. Matamu memang jeli dalam mencari calon istri. Kurasa ayah sudah boleh mulai mengajarimu cara merayu seorang wanita untuk bersedia melahir—aduh! Sango, aku hanya bercanda!" berteriak kesakitan, Miroku hanya dapat berusaha melepaskan telinganya yang ditarik Istrinya dengan wajah penuh kekesalan.
Rin yang melihat kejadian dan mendengar pujian semua yang ada hanya terdiam dengan pandangan tidak mengerti. Kecantikannya. Selama ini, siapapun yang melihatnya selalu memuji kecantikannya. Namun, dia tidak pernah mengerti dan selalu bertanya-tanya dalam hati, apa dia benar-benar cantik?
Kohaku yang melihat ekspresi wajah Rin yang kebingungan memberanikan diri sambil memasang senyum terbaiknya, "Abaikan saja itu, Rin," ujarnya pelan dan membuat gadis itu menoleh kepala menatapnya. Saat mata mereka bertemu, seketika juga, wajah taijiya muda itu memerah. "Dan, mereka semua benar, kau benar-benar tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."
Mengedipkan matanya beberapa saat, Rin hanya bisa berpikir kembali. Dia tidak pernah mengangap dirinya cantik. Jika dia benar-benar cantik seperti yang semua katakan, seharusnya, Sesshoumaru sudah memujinya seperti beliau memuji bunga ataupun bulan yang indah. Di dunia ini, dia yakin akan satu hal, demi menyenangkan dirinya, semua orang bisa berbohong kepadanya. Di dunia ini hanya Sesshoumaru seorang saja yang tidak akan pernah berbohong padanya; selalu jujur akan setiap perkataannya. Jadi, dia baru akan mempercayai dirinya cantik, jika beliau mengatakan dia cantik. Namun sekarang, menatap Kohaku dan yang lainnya, dia sadar, dia tidak boleh bersikap tidak sopan pada mereka yang memujinya. Memasang senyum lebar, dia kemudian tertawa kecil kepada taijiya muda di depannya. "Terima kasih, Kohaku, dan semuanya."
Wajah Kohaku yang sudah memerah menjadi semakin memerah. Kepada gadis yang ada di depannya, sejak dulu sekali, dia sudah sangat tertarik padanya; tertarik pada kepolosan, keberanian dan kebaikannya. Namun, sekarang, melihat kecantikannya, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat, bersikap dan berkata apa lagi, karena takut melakukan sesuatu yang salah dan mempermalukan diri sendiri.
Jaken yang melihat ekspresi wajah Kohaku langsung tahu, taijiya muda itu tertarik pada Rin. Namun, sepertinya sekarang, juga hanya Rin seorang yang mungkin tidak menyadarinya. Dan dia tidak akan membiarkan itu. Memangnya siapa taijiya muda itu? Beraninya dia berusaha mendekati Rin mereka? Cantik? tentu saja Rin cantik, bagaimana dia tidak cantik? Kebutuhan Rin, dari pakaian, makanan, minuman hingga perawatan tubuhnya yang sekecil-kecilnya seperti sabun mandi, sampo bahkan hingga air untuk mencuci kaki, semuanya memiliki kualitas terbaik dari yang terbaik. Tidak ada yang boleh mendekati Rin! Manusia maupun youkai, tidak akan ada yang pantas untuk bersanding dengan Rin, sebab selamanya, Rin adalah milik mereka, miliknya dan Sesshoumaru-sama!
"Jaga sikapmu, manusia!" teriak Jaken kesal merebut perhatian semua yang ada. "Manusia hina seperti kalian tidak seharusnya boleh berbicara dengan Rin! Menatapnya, terlebih lagi berusaha mendekatintya! Sadari posisi kalian!"
Wajah Kohaku semakin memerah hingga dia sudah tidak yakin lagi dapat bertambah merah atau tidak. Dirinya tidak sepolos itu, kan? Sedangkan yang lainnya ada menatap Jaken terkejut.
"Cantik! Rin tentu saja cantik! Dia adalah putri angkat dari mantan Penguasa Tanah Barat, Inukimi-sama! Gadis dalam perwalian Sesshoumaru-sama, sang Penguasa Tanah Barat sekarang!" tambah Jaken lagi. "Semua kebutuhan dan apa yang dimilikinya adalah barang-barang terbaik di dunia! Dia berasal dari dunia yang sangat berbeda dengan kalian semua! Jadi, jangan berani-beraninya kalian semua berpikir bisa memilikinya!"
"Jaken-sama.." panggil Rin terkejut, tidak percaya dengan apa yang dikatakan youkai katak tersebut. Namun, yang bersangkutan tidak mempedulikannya
"Rin adalah milik kami! Sesshoumaru-sama, ak-Akhh! Lepaskan aku Rin!" teriak Jaken karena Rin tiba-tiba mengangkat badan kecilnya ke atas dan memeluknya dengan erat.
Memendamkan wajah pada dada Jaken, air mata Rin mengalir turun. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar Jaken berkata seperti itu. Youkai katak yang selalu terlihat kesal padanya, ternyata berpikir seperti ini akan dirinya. Betapa bahagianya dia sekarang. "Terima kasih, Jaken-sama. Iya. Rin adalah milik Sesshoumaru-sama, Jaken-sama dan Ah-un untuk selamanya..."
Pengakuan Rin membuat Jaken berhenti memberontak. Ada kebanggan dan kebahgiaan tersendiri yang dirasakannya mendengar pengakuan tersebut. Mengangkat tongkat ditangannya, dia memukul pelan kepala gadis tersebut. "Bagus kalau kau tahu itu."
"Iya! Iya! Rin tahu itu!" Tertawa, Rin kembali mempererat pelukannya dan membuat youkai katak itu kembali berteriak kesakitan meminta dirinya dilepaskan.
"Nak Kohaku," ujar Myoga tiba-tiba sambil meloncat-loncat di bahu Kohaku. "Apa yang dikatakan Jaken tidak salah. Rin-chan memang sangat terkenal akan kecantikanya. Tapi, jika kau benar-benar ingin bersanding dengannya, kau harus berpikir lagi, sebab semua youkai di tanah barat tidak akan membiarkannya terjadi, terutama Sesshoumaru." melipat tangannya, youkai kutu itu menutup mata dan mengangguk-angguk kepala. "Mungkin kalian tidak tahu, tapi, di dunia youkai, di mata para youkai, Rin merupakan Hime-sama dari barat."
Semua yang mendengar penjelasan Myoga tidak tahu harus berkata apa, terutama Kaede. Dia tahu apa yang dikatakan Myoga benar. Rin, gadis itu meski manusia, dia sudah dianggap sebagai hime-sama dari barat. Pakaian Rin, meski sederhana, sekali lihat, miko tua itu tahu, itu adalah kain sutra terbaik buatan youkai. Lalu, melalui ucapan Jaken barusan, dia tidak dapat membayangkan betapa mewah dan dimanjakannya gadis manusia itu oleh youkai.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya suara seseorang tiba-tiba sambil membuka pintu shouji kamar. Badannya yang tinggi besar dengan kulit berwarna oren serta mata berwarna biru membuat siapapun juga dengan sekali lihat tahu, dia adalah hanyou.
Mata semua yang ada termasuk Rin dan Jeken, langsung menoleh menatap hanyou itu. Seketika juga, Rin langsung mengenal siapa itu. Tersenyum lebar, dia langsung memanggil salah satu temannya yang sudah lama sekali tidak dijumpai. "Jinenji-sama!"
"R-Rin.." panggil Jinenji tidak percaya dengan gadis kecil yang dulu pernah ditolongnya itu.
Melepaskan Jaken, Rin langsung berlari mendekati Jinenji, "Jinenji-sama! Lama tidak bertemu! Apakah anda sehat-sehat saja? Rin sehat-sehat saja? Rin senang bisa bertemu lagi dengan anda! Bagaimana anda bisa berada di sini?"
Jinenji yang masih belum sadar sepenuhnya dari perasaan terkejut menatap lurus gadis di depannya yang terus mengajukan pertanyaan tanpa henti.
"Dia disini karena dialah yang bertangung jawab akan kesehatan Kagome sekarang." Jawab Inuyasha tiba-tiba dari belakang Jinenji.
__ADS_1
"Inuyasha-san." panggil Jinenji terkejut.
Tidak mempedulikan semuanya, Inuyasha segera berjalan masuk mendekati Kagome dan memeluknya dengan pelan namun erat.
"Inuyasha, ada apa?" tanya Kagome bingung dengan sikap Inuyasaha. Namun, Inuyasha tidak menjawab, dia hanya menggeleng kepala dan memendamkan wajah pada celah leher Kagome, menyembunyikan ekspresi wajahnya dari siapapun.
Mengangkat tangan, Kagome kemudian tersenyum lembut dan membalas pelukan Inuyasha. Dia tahu, tanpa diberitahu, Kagome tahu apa yang terjadi pada Inuyasha. Sesshoumaru pasti menolak menolong mereka. Sikap Inuyasha sekarang adalah sikapnya yang berusaha keras menepis ketakutan, ketidakberdayaan dan keputusasaan yang bersatu menjadi satu dalam hati—ketidakmauan kehilangan dirinya dan anak mereka yang belum lahir.
"Tidak apa-apa, Inuyasha," bisik Kagome pelan." Kami tidak akan apa-apa. Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian.."
Rin yang melihat interaksi antara Inuyasha dan Kagome hanya bisa tertegun. Dia tidak tahu apa yang terjadi, namun, dia tahu, telah terjadi sesuatu, dan yang terjadi pasti bukanlah sesuatu yang baik.
....xOxOx....
"Ada apa dengan Kagome-sama, Sango-sama?" tanya Rin sambil menatap Sango.
Kagome telah tertidur dengan tenang sekarang, di sampingnya Inuyasha duduk menatap istrinya dengan pandangan lembut. Tangan cakarnya mengenggam erat tangan miko tersebut. Hanyou itu tidak mempedulikan sedikit pun semua yang ada disampingnya.
Sango tidak langsung menjawab pertanyaan Rin. Mengajukan pertanyaan terus terang dan tidak pernah mempedulikan sistuasi dan kondisi, sepertinya sifat polos gadis itu tidak akan pernah berubah. Dia menatap Inuyasha sejenak, menimbang apakah pantas dia menjelaskan kondisi temannya itu di depan hanyou itu sekarang.
"Kagome sakit," jawab Inuyasha tiba-tiba tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun pada Rin. "Badannya melemah dan sudah dipastikan akan mengalami proses melahirkan yang sulit."
"Eh?" seru Rin terkejut.
"Kaede, Jinenji dan semua yang kami kenal sudah berusaha keras untuk menguatkan badan dan menyembuhkan sakitnya. Namun, tidak berhasil. Proses mengandung dan melahirkan setiap hanyou berbeda, Jinenji, Kaede dan semua orang tidak tahu bagaimana proses melahirkan inuhanyou yang sesungguhnya."
"Jadi, inikah alasan kenapa Inuyasha-sama mengirimkan surat kepada Sesshoumaru-sama? Alasan kenapa Inuyasha-sama menginginkan Sesshoumaru-sama berada di desa ini sekarang?"
Inuyasha mengangguk kepala. "Dunia ada banyak hanyou. Tapi, di dunia ini inuhanyou hanya ada satu, yaitu; aku. Yang tahu bagaimana proses mengandung dan melahirkan hanyou di dunia hanya ada seorang yaitu; Sesshoumaru." menutup matanya Inuyasha menarik napas. "Dan aku juga sudah berpikir, kalaupun ternyata aku benar-benar kehilangan mereka berdua saat proses melahirkan nantinya, setidaknya jika Sesshoumaru bersedia membantu, tensaiga masih dapat mengembalikan mereka padaku—"
"Tapi, Sesshoumaru-sama tidak bersedia membantu?" potong Rin.
"Tidak!" teriak Rin tiba-tiba mengejutkan semua yang ada di sana. Inuyasha segera membalikkan wajah menatap Rin penuh kekesalan. "Pelankan suaramu, gadis kecil! kau mau membangunkan Kagome?" perintah Inuyasha setengah berteriak.
Rin tidak mempedulikan sedikit pun ekspresi kekesalan di wajah Inuyasha. Wajahnya yang biasa selalu penuh senyum dan tawa kini berubah menjadi marah—ekspresi yang pertama kali mereka lihat di wajah cantik itu. Sesshoumaru bukan youkai yang kejam dan tidak berperasaan, dia tidak akan pernah mengijinkan siapapun mengatakan inuyoukai itu kejam dan tidak berperasaan. Inuyoukai itu sesungguhnya baik, dibalik ekspresi dan sikapnya yang datar dan dingin, sesungguhnya, Sesshoumaru adalah youkai dengan hati paling baik di dunia.
"Sesshoumaru-sama bukan youkai kejam dan tidak berperasaan!" teriak Rin lagi, "Inuyasha-sama tidak pernah mengenal baik Sesshoumaru-sama seperti Rin! Karena itu, Inuyasha-sama tidak memiliki hak untuk mengatakan Sesshoumaru-sama seperti itu! Di dunia ini, melebihi siapapun, Rin tahu, Sesshoumaru-sama adalah youkai terbaik di dunia!"
Apa yang diucapkan Rin membuat semua yang ada terkejut, terutama Inuyasha. Menatap gadis di depannya, dia hanya dapat berpikir bahwa gadis di depannya ini benar-benar bodoh atau mungkin sudah gila. Baik? Sesshoumaru baik? Dunia akan kiamat jika kakak tirinya itu memang benar-benar baik. Gadis itu benar-benar telah dicuci otaknya oleh inuyoukai itu. Menarik napas sekali lagi, Inuyasha kemudian membuang muka sambil melipat tangan di dada. "Terserah kau, gadis kecil. Itu bukan urusanku!"
"Tapi, itu urusan Rin!" protes Rin lagi. Berjalan mendekati Inuyasha, dengan wajah yang masih penuh kemarahn, tangannya segera menangkap pipi hanyou itu dan mengarahkannnya hingga mata mereka bertemu. "Rin tidak bisa membiarkan siapapun yang menghina Sesshoumaru-sama! Meski itu adalah Inuyasha-sama, Rin tetap tidak akan membiarkannya!"
Inuyasha hanya dapat menatap tidak percaya gadis di depannya, begitu juga dengan semua yang ada di sana. Mereka memang sudah tahu bahwa gadis itu sangat menghormati, memuja dan setia pada inuyoukai, Penguasa Tanah Barat, namun, mereka tidak pernah mengira bahwa itu semua akan sampai pada titik seperti ini.
"Kau—" ucapan inuyasha itu langsung terhenti karena Kagome yang tadinya maih tertidur tiba-tiba berteriak kesakitan. "Akhhh!"
Menatap Kagome, semua yang ada terkejut saat melihat mata miko muda itu terbuka dengan ekspresi kesakitan di wajah. Hidung Inuyasha yang tajam langsung menangkap sebuah bau yang memenuhi udara. Membuka selimut Kagome, ketakutan yang luar biasa memenuhi hatinya, sebab futon putih itu kini tidak lagi berwarna putih, melainkan merah-merahnya darah.
"Kagome!" teriak Inuyasha panik. Namun, Kagome seakan tidak mendengar ucapannya, dia terus berteriak kesakitan dan badannya tiba-tiba kejang-kejang.
"Dia akan melahirkan!" wajah Kaede berubah menjadi pucat pasi, begitu juga dengan Jinenji. Mereka tahu, Kagome akan melahirkan, tapi, ada yang berbeda, tidak ada air ketuban, yang ada hanyalah darah merah.
"Kagome! Tenang!" Sango berusaha menenangkan Kagome, namun dia juga tidak dapat menyembunyikan kepanikannya, apalagi saat dia melihat ketiga anaknya menatap apa yang terjadi dengan wajah pucat ketakutan. Menatap Miroku dan Kohaku, dia segera memerintahkan mereka membawa keluar putra-putrinya. "Miroku! Kohaku! Bawa Aya, Maya dan Mamoru keluar!"
Miroku dan Kohaku segera menuruti perintah Sango. Tidak bertanya apa pun, mereka langsung mengendong Aya, Maya dan Mamoru keluar. Jaken yang tidak tahan dengan keadaan juga segera berlari keluar diikuti Myoga dibelakangnya.
"Inuyasha! Kau, keluar!" perintah Kaede segera. Kepanikan dan ketakutan di wajah hanyou itu membuat miko tua itu tahu, Inuyasha tidak boleh berada dalam kamar ini, pada proses melahirkan yang tidak diketahui apakah akan berakhir dengan baik atau buruk.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Kagome!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Ketakutannya kehilangan Kagome dan anak mereka membuatnya tidak dapat berpikir lagi, Mengangkat tangannya yang berupa cakar, dia bersiap sedia untuk menyerang siapa pun yang berani memisahkannya dari keluarganya. "Aku tida—"
'Plak!'
Suara tamparan yang sangat kuat terdengar, dan semua yang ada langsung terdiam saat melihat Rin menampar pipi kanan Inuyasha dengan begitu kuat. Mengangkat kedua tangannya menangkap pipi hanyou itu, mata coklat besar gadis itu kemudian menatap lurus mata emas Inuyasha, "Tenangkan diri anda, Inuyasha-sama! Ini bukan saatnya anda panilk seperti ini!" teriaknya.
Inuyasha tertegun mendengar ucapan Rin, dirinya tidak bisa bergerak, karena terkejut sekaligus tidak percaya. Namun, berkat tamparan itu juga, kepalanya menjadi jernih, apa yang dikatakan gadis itu benar, sekarang bukan saatnya untuk panik; kepanikannya tidak akan menyelesaikan masalah apapun.
Melihat Inuyasha yang mulai tenang, tangan Rin dengan cepat bergerak mengenggam tangan kanan Inuyasha. "Ayo, Inuyasha-sama." ajaknya. "Bersama Rin, kita mencari Sesshoumaru-sama. Beliau pasti akan menolong. Rin akan memohon untuk itu," sebuah senyum lembut yang menawan segera terukir di wajahnya. "Kagome-sama dan bayinya akan selamat. Rin janji akan itu."
Senyum dan janji Rin membuat Inuyasha kembali tertegun. Namun, tidak tahu mengapa, melihat senyum itu, dia merasakan ketenangan. Dalam hatinya, muncul keyakinan dan kepercayaan. Ya! Sesuai kata gadis itu barusan, Kagome dan anaknya pasti akan selamat! Gadis ini pasti dapat menyelamatkan Kagome dan bayi mereka.
"Iya. Ayo kita pergi." Balas Inuyasha pelan. Tidak membuang waktu, dia segera bangkit dan mengendong gadis itu dipunggungnya, berlari keluar kamar, menuju aura dimana Sesshoumaru berada. Tidak dipedulikannya sedikitpun teriakan-teriakan yang berusaha menghentikan mereka. Meski harus memohon, berlutut dan mengiba-iba kali ini, dia akan melakukannya, dia tidak memerlukan harga dirinya, persetan dengan harga diri! Itu semua tidak sebanding dengan nyawa dari istri dan anaknya.
'Tunggulah, Kagome! Aku pasti akan menyelamatkanmu dan anak kita!'
....xOxOx....
Sesshoumaru duduk di bawah sebatang pohon sakura tidak jauh dari desa Rin berada. Dia menutup matanya membiarkan angin musim gugur menerpa wajahnya, dari aura serta bau yang dirasakannya, dia tahu, Inuyasha bersama Rin sedang bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju arahnya.
"Sesshoumaru-sama!" suara panggilan Rin terdengar. Membuka kedua mata emasnya, ketidaksukaan dan kemarahan langsung dirasakannya saat melihat sosok inuyasha berlari kearahnya dengan Rin yang berada di atas punggung. Beraninya hanyou itu menggendong Rin seperti itu! Tidak sadarkah hanyou itu bahwa siapa yang berada dipunggungnya sekarang? Dia sama sekali tidak pantas menyentuh Rin!
"Sesshoumaru-sama!" panggil Rin lagi.
Sesshoumaru tetap tidak bergerak, mati-matian dia menahan niatnya untuk berlari mendekati mereka dan memisahkan Rin dari Inuyasha. Dia sadar, jika dia melakukan itu, itu bukan sifatnya. Dirinya pasti akan dianggap aneh, terlebih lagi oleh seorang penonton yang ada. Lalu, perasaan tidak suka dan marah dalam hatinya, dia tidak tahu apa arti perasaan itu, namun yang terpenting, dia tidak tahu mengapa dia merasa seperti itu. Dia tidak menyukainya, perasaan yang sungguh menganggu.
Saat Rin dan Inuyasha tiba di depan Sesshoumaru, gadis itu segera meloncat turun dan berlutut di samping inuyoukai itu. Tangannya segera mengenggam erat lengan Sesshoumaru. " Sesshoumaru-sama! Tolonglah Kagome-sama dan Inuyasha-sama! Rin Mohon!"
Seshoumaru hanya menatap Rin, reaksi gadis itu sekarang, dia sudah bisa mempredeksinya sejak pertama kali melihat Kagome. Hatinya yang begitu baik, tidak akan mungkin membiarkan Kagome begitu saja. Dia pasti akan memohon mati-matian padanya supaya menyelamatkan nyawa miko dan anaknya itu.
Inuyasha yang melihat Rin memohon pada Seshoumaru sangat terkejut. Demi dirinya, Kagome dan anak mereka, gadis itu benar-benar memohon pada inuyoukai yang terkenal begitu kejam dan tidak berperasaan. Perasaan malu memenuhi hatinya, dia mengatakan demi Kagome dan anak mereka, dia tidak akan mempedulikan harga diri atau apapun lagi, tapi, dirinya tidak pernah memohon seperti itu pada kakak tirinya. Ternyata dia benar-benar sungguh bodoh dan tidak pernah berusaha sebisanya.
Mengigit bibirnya sejenak, Inuyasha kemudian berteriak memanggil nama kakak tirinya, "Sesshoumaru!" berlutut, hanyou itu segera membungkukkan badan dan menempelkan dahinya di atas tanah. "Kumohon padamu! Terserah apa yang kau inginkan dariku! Tensaiga, bahkan nyawaku, akan kuberikan padamu! Tapi, aku mohon! Selamatkan istri dan anakku!"
Ucapan Inuyasha yang tiba-tiba itu berhasil membuat Sesshoumaru mengalihkan mata padanya. Dulu sekali, tawaran Inuyasha itu pasti sangat mengiurkan, tapi sekarang, dia merasa tawaran itu sama sekali tidak ada harganya. Tensaiga? Dia tidak memerlukan pedang yang tidak bisa digunakannya, dan juga, dia sudah memiliki Bakusaiga. Lalu nyawa? Dia tidak memerlukan nyawa hanyou itu. Membunuhnya, tidak akan membuatnya puas lagi, terlebih lagi, jika dia benar-benar membunuhnya, Rin pasti akan menangis dan sedih, dan juga, bagaimana jika gadis itu jadi membencinya? Membenci, takut dan menjauhinya, karena telah membunuh hanyou yang merupakan saudara tirinya sendiri.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi. Air mata mengalir turun dari matanya. "R-Rin, Rin mohon, tolonglah Kagome-sama dan bayinya.."
Air mata Rin membuat Sesshoumaru kembali tertegun. Walau ekspresi wajahnya tetap datar, melihat air mata itu, jauh dalam hati, dia merasa kesal. Tidak tahu sejak kapan, dirinya menjadi sangat membenci air mata itu, dia tidak ingin gadis di depannya menangis, dia hanya ingin gadis itu selalu tersenyum dan tertawa lepas.
"Aku tidak bisa membantu," ujar Sesshoumaru tiba-tiba. "Aku tidak tahu bagaimana proses melahirkan inuhanyou."
Mengangkat wajahnya, Inuyasha segera menatap Sesshoumaru. "Jika begitu, gunakan Tensaiga jika keadaan benar-benar menjadi yang terburuk!"
"Tidak." Balas Sesshoumaru tenang.
Mata Rin dan Inuyasha terbelalak. "A-apa?" tanya Inuyasha terbata-bata tidak percaya, begitu juga dengan Rin.
Mengangkat kepalanya menatap pohon sakura di atasnya, Seshoumaru menutup mata. "Jika keberadaanmu di desa ini memang adalah karena hanyou dalam perut miko itu, sampai kapan kau mau bersembunyi?"
Pertanyaan Sesshoumaru membuat Rin dan Inuyasha kebingungan, mereka berdua tidak tahu kepada siapa inuyoukai itu menujukan pertanyaannya. Namun, tiba-tiba saja, sepasang tangan bergerak dengan cepat memeluk badan Rin dan mengangkatnya dari atas tanah.
"Kya!" teriak Rin terkejut, dan saat dia menolehkan kepala menatap pemilik tangan itu, matanya langung terbelalak karena terkejut." I-ibunda??"
Inukimi, sang mantan Penguasa Tanah Barat tersenyum lebar saat mendengar Rin memanggil dirinya. Mempererat pelukannya, dia memendamkan kepala gadis itu pada dadanya. "Rin kecil, putriku, lama tidak bertemu," senyumnya. "Kau benar-benar tumbuh menjadi semakin cantik dan cantik saja." pujinya.
Inuyasha yang melihat Inukimi yang muncul tiba-tiba benar-benar sangat terkejut, sebab sedikitpun, dia tidak menyadari keberadaan inuyoukai yang begitu kuat itu.
__ADS_1
Tidak mempedulikan perasaan terkejut Inuyasha maupun Rin, Inukimi kemudian menoleh kepala pada hanyou dibelakangnya dan tersenyum menyeringai. "Nah, putra Taisho, antarkan aku pada istrimu itu."
....xOxOx....