![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Kagome duduk diam tidak berani mengatakan apa-apa, begitu juga dengan Inuyasha yang ada di sampingnya. Diam membisu, mata mereka berdua tertuju pada Sesshoumaru yang ada di depan mereka. Inuyoukai penguasa tanah barat itu duduk menatap Rin yang tertidur tidak sadarkan diri di atas futon dalam kamar mereka.
Sebenarnya, tidak ada yang aneh dari pemandangan di depan, jika saja Inuyasha dan Kagome bisa mengabaikan seluruh badan Sesshoumaru yang masih penuh dengan darah manusia yang telah kering.
Tiga hari telah berlalu sejak perang manusia dan youkai—atau lebih tepatnya; pembantaian manusia menurut Kagome dan yang lainnya, dan dalam tiga hari itu juga, Sesshoumaru tidak meninggalkan Rin sedetikpun.
Sesshoumaru duduk menemani kisakinya yang tidak sadarkan diri tidak peduli dengan penampilannya yang kacau. Meski Inukimi telah memerintah penguasa tanah barat itu untuk membersihkan dirinya, inuyoukai itu tetap saja tidak bergeming sedikitpun.
Lalu, untuk keadaan inuyoukai itu—Kagome tidak tahu harus mengatakan apa. Wajah Sesshoumaru memang tenang seperti biasanya, tapi, aura yang dipancarkannya sangatlah mengerikan. Ketenangan di wajah tanpa ekspresi itu, miko masa depan dan semua yang melihat tahu, dapat menghilang dan mengila lagi setiap saat.
Menghela napas, mata Kagome kemudian jatuh pada Rin yang masih belum sadarkan diri. Wanita manusia itu tertidur dengan sangat damai dan tenang, seakan tidak terjadi apa-apa. Dirinya, Inukimi serta Jinenji telah memeriksanya dengan saksama, dan seperti biasa, selain kecapekan dan badan yang lemah, mereka tidak menemukan masalah apapun, begitu juga dengan anak dalam perut yang tidak dapat dirasakan.
Tapi, meskipun sudah memeriksa dengan saksama, mereka bertiga sesungguhnya juga tidak berani menjamin hasil pemeriksaan mereka, sebab kesehatan Rin sekarang sebenarnya tidak dapat dipredeksi. Mereka ingat dengan jantung wanita manusia yang bisa berhenti berdetak tanpa sebab. Bagaimana kalau itu terjadi?
Menghela napas sekali lagi, mata Kagome hanya dapat menatap sendu pada Rin. Seperti apa Rin dalam matanya; Rin adalah seorang wanita manusia yang cantik, manis, polos dan baik hati. Hangat, lembut, selalu tersenyum dan juga penuh dengan—keajaiban.
Dulu pada saat perang barat-selatan, Kagome dengan kepala mata sendiri telah melihat Rin menghidupkan para youkai yang mati, dan tiga hari lalu, sekali lagi, dia melihat wanita manusia itu menghidupkan lagi para manusia yang telah mati.
Satu perang dan satu pembantaian-keduanya berakhir dengan akhir yang mengejutkan. Perang dan pembantaian yang terjadi adalah sesuatu yang ditakuti dan memakan banyak korban jiwa. Tapi, dengam kehadirannya, wanita manusia ini menghentikan dan menyelamatkan semua orang.
Pada perang youkai barat selatan, Rin yang terseret perang memenangkan hati dan hormat dari semua youkai tanah barat dan selatan, dan untuk perang manusia-youkai, bagi para manusia mengharapkan kematian Rin—seperti apa pandangan para manusia akan wanita manusia ini sekarang?
Setelah semua yang terjadi, hal yang paling disyukuri Kagome dan yang lainnya sekarang mungkin hanyalah kenyataan bahwa para manusia tidak akan menyerang istana tanah barat lagi—tidak dalam waktu dekat. Para manusia pasti sudah sadar, meski mereka menang dalam jumlah, dihadapan Sesshoumaru sang inu daiyoukai penguasa tanah barat, mereka tidak lebih dari semut.
Tapi, jika suatu hari nanti, para manusia merasa mereka telah memiliki kekuatan yang bisa menyaingi Sesshoumaru, mereka mungkin akan datang lagi, sebab bagi mereka; manusia dan youkai adalah dua bangsa yang tidak bisa hidup berdampingan.
Pada masa depan tidak ada yang tahu, Kagome hanya dapat berharap, jika suatu hari manusia ingin datang lagi, mereka akan ingat pada sosok seorang wanita manusia yang menyelamatkan mereka dan mengurungkan niat yang ada.
Rin yang menyelamatkan para manusia, menghidupkan mereka dengan kekuatan meido seki—pengorbanan wanita manusia itu, Kagome berharap para manusia tahu.
Rin tidak memiliki kewajiban menyelamatkan para manusia yang datang dengan niat membunuhnya dan keluarganya. Tapi, di situlah wanita itu berdiri pada hari itu. Dalam genangan darah dengan badannya yang lemah dan meido seki di dada yang bersinar terang. Di dunia yang seperti ini, di jaman penuh kekacauan, Rin yang baik dan lembut—dunia ini mungkin memang tidak pantas untuknya.
Sama halnya dengan Kagome, Inuyasha diam membisu di sampingnya menatap Sesshoumaru dengan kedua tangan telipat di dada. Wajahnya datar tanpa ekspresi terarah pada kakak seayahnya. Apa yang ada dalam pikiran inuyoukai itu sekarang, dia tahu; Sesshoumaru menghawatirkan Rin dan Shura.
Dari tahun ke tahun, dunia ini berubah, begitu juga dengan—Sesshoumaru. Inuyoukai yang dulu sangat membenci manusia dan hanyou, kini bisa menggila dan mempertaruhkan semuanya hanya untuk seorang wanita manusia dan hanyou dalam perutnya.
Sosok Sesshoumaru yang dulu, Inuyasha tidak dapat menemukannya lagi. Kakak seayahnya yang dingin tanpa perasaan, kini telah berubah, dan yang merubahnya adalah—Rin.
Senyum kecil dan pandangan lembut mata emas yang menatap wajah Rin, kemarahan dan kegilaan saat ada yang mengincar hidup Rin, kekhawatiran dan kekacauan saat Rin tidak sadarkan diri—Rinlah yang merubah Sesshoumaru. Satu-satunya keberadaan di dunia ini yang mengajari inuyoukai berkebanggaan tinggi itu semua perasaan yang ada dalam sebuah kehidupan.
Inuyasha tidak pernah mengatakan dan juga tidak mau mengakui, tapi, jauh dalam hati, dia menyukai Sesshoumaru yang seperti itu; Sesshoumaru yang memiliki perasaan. Sebab, dengan begitu, hubungan mereka sebagai saudara yang dia kira tidak akan pernah terjalin, kini, perlahan telah terjalin—keluarga.
Lalu kepada Rin sendiri, Inuyasha selalu menganggap wanita manusia itu sebagai adik perempuan, dan juga, dia selalu merasa berhutang budi padanya. Selain Kagome, Rin adalah orang yang memberikannya keluarga. Tidak secara langsung, tapi wanita manusia itulah yang membantunya pada hari kelahiran Shiro, wanita yang menciptakan jalinan ikatan antaranya dan Sesshoumaru, serta wanita yang mengingatkannya pada cinta Izayoi—ibu kandungnya.
Pertama kali melihat Rin bertahun-tahun lalu, saat masih merupakan seorang gadis kecil yang mengikuti Sesshoumaru, Inuyasha tidak pernah menyangka dia akan tumbuh besar dan menjadi salah satu orang yang begitu penting dalam kehidupannya.
Karena itulah, seperti dirinya yang bahagia bersama Kagome dan Shiro, Inuyasha juga berharap Rin juga bisa hidup bahagia bersama Sesshoumaru dan Shura, bersama; keluarganya.
Sesshoumaru bisa merasakan tatapan mata Inuyasha serta Kagome yang terarah pada Rin. Dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran sepasang suami istri tersebut, dan dia juga tidak memiliki niat untuk menebaknya.
Tiga hari telah berlalu dan Rin masih saja belum sadar. Sesshoumaru tidak berani meninggalkan kisakinya sedetikpun, bahkan sesungguhnya, menutup mata saja, inuyoukai itu takut, sebab dia tidak mau saat dia membuka mata, wanita yang dicintainya bersama dengan anak mereka yang berharga menghilang dari dunia ini.
Sekali lagi, Sesshoumaru membenci keadaannya sekarang. Sebab, dia tidak bisa melakukan apapun kecuali duduk menunggu mata coklat jernih yang tertutup di depannya terbuka kembali. Perasaan di mana dia tidak berdaya dan tidak berguna—inuyoukai itu sungguh ingin menggila.
Mencintai.
Sesshoumaru selalu mencintai Rin sebagaimana Rin sesungguhnya. Dari senyum dan tawa, kepolosan dan keluguan, keceriaan dan keberanian. Namun, untuk pertama kali, dia juga membenci banyak hal dari wanita manusia itu, dia membenci kehangatan dan kelembutannya, dia membenci; hati Rin yang terlalu baik.
Kenapa Rin menghidupkan kembali lagi para manusia yang pantas mati itu?—menghidupkan kembali manusia yang datang untuk membunuhnya dan anak mereka. Kenapa dia harus menyelamatkan mereka dan mengorbankan kesehatannya sendiri?—membahayakan dirinya dan anak mereka.
Rin adalah seorang manusia. Manusia yang seharusnya egois, manusia seharusnya hanya memikirkan diri sendiri. Tapi, kenapa Rin jauh dari semua itu?
Sesshoumaru membenci keegoisan dan ketamakan manusia, membenci manusia yang hanya memikirkan diri sendiri. Tapi sekarang, dia sungguh berharap Rin memiliki semua hal yang dibencinya itu.
Sesshoumaru ingin Rin egois, dia ingin wanita manusia itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak perlu memikirkan para manusia yang mati ditangannya, cukup memikirkan dirinya dan anak mereka—cukup memikirkan kebahagiaan mereka di masa depan.
Lucu bukan? Sesshoumaru tidak pernah menyangka akan hari di mana dia akan berpikir seperti ini. Semuanya berubah jika sudah menyangkut Rin, sebab wanita manusia dan anak mereka dalam kandunganlah pusat dunianya sekarang.
Menggerakkan tangannya, Sesshoumaru kemudian menyentuh pipi Rin lembut.
"Bangun, Rin," ujar Sesshoumaru pelan. Mata emasnya menatap penuh permohonan pada wanita yang tertidur di depannya. "Jangan tidur lagi."
....xOxOx....
Rin membuka mata coklatnya dan mendapati dirinya berdiri sendirian dalam kegelapan tidak berujung yang sunyi. Kedinginan dirasakan kakinya yang tidak beralas, dan perlahan, seulas senyum memenuhi wajahnya.
Tidak peduli keadaan sekitarnya, dengan hati-hati, Rin duduk ke bawah. Kedua tangannya bergerak mengelus perut besarnya penuh kasih sayang.
"Anakku.."
Suara yang tidak asing ditangkap telinga Rin. Suara yang aneh seperti suara seorang perempuan, tapi juga bukan perempuan, seperti anak kecil tapi juga seperti orang dewasa dan juga orang tua.
__ADS_1
Dengan senyum yang semakin lebar, Rin menoleh wajah pada sumber suara. Saat matanya menatap sebuah bola cahaya di belakangnya, senyum berubah menjadi tawa "Bola caha—ah, tidak. Meido Seki-sama."
Suara tawa bahagia terdengar memenuhi kegelapan tidak berujung. "Kau sudah tahu siapa aku, Rinku tercinta?"
Rin mengangguk kepala cepat penuh senyum. "Iya. Rin sudah tahu, anda adalah Meido Seki-sama."
Suara tawa lebih keras terdengar lagi dari Meido Seki. Terbang turun ke samping Rin, cahaya yang ada membuat kedinginan di sekeliling menghilang.
"Meido Seki-sama," panggil Rin pelan. Kedua matanya menatap lembut Meido Seki penuh rasa terima kasih. "Terima kasih telah mengabulkan semua permintaan Rin."
"Kau sangat berharga bagiku, Rinku tercinta," balas Meido Seki lembut. Ada kegembiraan yang terkadung dalam suara anehnya. "Aku sangat menyanyangimu."
Rin tersipu malu sekaligus gembira mendengar ucapan Meido Seki. Dia memang baru mengenal Meido Seki tidak lama, tapi dia tahu, Meido Seki selalu melindunginya. Tersenyum sangat lebar, mata coklatnya menatap semakin lembut bola cahaya tersebut. "Rin juga sangat menyayangi anda, Meido Seki-sama."
Sekali lagi, Meido seki tertawa keras. Mengikutinya, senyum Rin juga berubah menjadi sebuah tawa.
Setelah beberapa saat Rin dan Meido seki berhenti tertawa. Dengan senyum di wajah, Rin kemudian menurunkan pandangannya pada perut besarnya. Tangan kanannya tidak berhenti mengelus penuh kasih sayang harta berharga dalam dirinya.
"Meido Seki-sama," panggil Rin pelan. Dia tidak menatap Meido seki, matanya masih terpusat pada perutnya. Senyum masih da di wajah, tapi senyum itu bukanlah senyum bahagia lagi, melainkan senyum yang sendu."Menurut anda, apakah keputusan Rin salah?"
Meido Seki tahu apa maksud dari pertanyaan Rin, tapi, dia tidak menjawabnya. Diam membisu, keheningan kembali memenuhi mereka.
Menoleh pandangan mematap Meido Seki, Rin menatap bola cahaya itu lurus. "Keputusan Rin, apakah akan menjadi masalah bagi Shura di masa depan?"
"Menurutmu sendiri, Rinku tercinta?" tanya Meido Seki kembali.
"Rin tidak tahu.." tertawa kecil, dengan senyum sendu yang tidak berubah dia kembali menatap perutnya. "Keputusan Rin, salah atau benar, Rin sudah melakukannya dan tidak bisa ditarik kembali. Rin hanya berharap Shura di masa depan akan selalu baik-baik saja."
"Tidak ada salah atau benar pada keputusanmu, anakku," suara pelan Meido Seki kembali terdengar, "Benar atau salah, itu presepsi. Yang kau katakan benar mungkin salah di mata orang, dan yang kau katakan salah mungkin benar di mata orang lain. Salah atau benar, kau yang menentukannya."
Jawaban Meido seki membuat Rin sekali lagi menatap bola cahaya di sampingnya.
"Lalu untuk masa depan yang kau takuti. Konsekuensi yang akan datang suatu hari nanti—kau hanya bisa mempersiapkan yang terbaik bagi Shura untuk menghadapinya."
Rin diam membisu mendengar penjelasan Meido seki. Menggelus perutnya lagi, seulas senyum sendu kembali menghiasi wajah cantiknya. "Rin merasa bersalah, Meido Seki-sama. Rin telah membuat masalah bagi Shura bahkan sebelum dia lahir."
Meido Seki tertawa mendengar ucapan Rin, terbang mendekati perut wanita manusia itu, dia berhenti tepat di atasnya. "Jangan khawatir, Rinku tercinta. Anakmu akan lahir dan tumbuh besar dengan kuat-dia mampu menghadapi dunia ini."
Ucapan Meido Seki membuat senyum sendu Rin mau tidak mau menjadi seulas senyum lembut. Putra mereka yang berharga, dia tahu apa yang dikatakan Meido Ski benar-anak dalam kandungannya akan tumbuh kuat kelak. Menatap perutnya penuh kasih sayang, dia tertawa lembut. "Iya, Rin tahu. Shura akan menjadi anak yang kuat."
Meido Seki tidak mengatakan apa-apa lagi. Diam membisu, dia tetap berada di atas perut Rin, seakan memang sedang melihat kehidupan baru di dalam perut itu.
Rin hanya tersenyum. Keheningan dengan segera memenuhi mereka. Mengelus perutnya lembut, Rin kemudian kembali mengeluarkan suaranya. "Rin ingin memberikan yang terbaik untuk Shura," senyum di wajahnya semakin lembut penuh kasih sayang. "Segala yang bisa Rin berikan, Rin ingin memberikannya..."
Rin tertawa dan kembali menatap Meido seki. "Yang paling ingin Rin berikan pada Shura sekarang mungkin adalah; waktu. Rin ingin selalu berada di samping Shura dan melihatnya tumbuh besar dan-bahagia."
Meido Seki kembali terdiam mendengar jawaban Rin. Jawaban Rin membuat dia tertegun, beberapa saat kemudian dia kembali mengeluarkan suaranya. "Rinku tercinta..."
Rin tersenyum dan tetap menatap Meido seki dengan sepasang mata coklat jernihnya. "Rin rasa, Rin bisa memberikan itu pada Shura, kan?"
Meido Seki tidak menjawab pertanyaan Rin. Tetap tidak berpindah tempat, dia kemudian kembali berbicara dengan suaranya yang aneh. "Waktu yang berjalan tidak dapat dihentikan, anakku..."
Rin terdiam. Namun, sejenak kemudian dia mengangguk kepala dengan senyum yang tetap tidak berubah. "Rin tahu, Meido Seki-sama. Tapi, Rin tetap akan menghentikannya—demi Shura dan juga; Sesshoumaru-sama."
"Anakku yang bodoh," ujar Meido seki pelan. Suaranya penuh dengan kekhawatiran. "Jika kau memaksa melakukan itu, konsekuensinya tidak akan terbayang. Kau akan sangat menderita dan lenyap.."
"Rin siap menghadapinya," balas Rin cepat dan tertawa, "Rin sudah mengatakan dulu, bukan Meido Seki-sama? Semua konsekuensi yang ada, Rin bersedia menghadapinya."
Perlahan Meido seki terbang ke atas tepat di depan wajah Rin. "Kau berubah, Rinku tercinta," ujarnya pelan. "Kau menjadi—tamak."
Rin tertegun dengan ucapan Meido Seki yang tiba-tiba. Senyum di wajahnya menghilang.
"Awal kita bertemu, kau hanya ingin melahirkan anakmu. Namun sekarang, kau ingin bersamanya dan ayahnya selalu.."
Rin menundukkan kepala ke bawah mendengar ucapan Meido Seki. Yang dikatakan bola cahaya di depannya benar, dia memang telah berubah. Dulu saat itu, saat pertama kali mereka bertemu, saat dia berada di sini dan tidak tahu jalan pulang, dia hanya berpikir untuk Shura. Namun sekarang..
'Ayahandamu ini akan selalu melindungimu, Shura.'
Bayangan Sesshoumaru yang menyentuh dan mencium perut besarnya lembut terbayang dalam ingatan Rin.
'Sesshoumaru ini percaya padamu, lahirkan anak kita dan hidup.'
Ucapan yang diucapkan Sesshoumaru. Permintaan dan juga permohonan inuyoukai yang dia sanggupi, serta janji yang Rin ucapkan sendiri untuk selalu hidup dan bersama.
Bagaimana Rin bisa melanggar janji yang telah disanggupinya? Bagaimana bisa dia meninggalkan mereka yang begitu berharga baginya?
Iya, dia tamak. Rin sadar, dia sungguh tamak. Tamak karena meski dia tahu waktunya sudah hampir berakhir, dia masih berani berjanji bahwa dia tidak akan meninggalkan mereka berdua—dia ingin bersama Sesshoumaru dan Shura selamanya.
Kebahagiaan.
Masa depan yang bahagia. Kebahagiaan sangat dekat namun juga sangat jauh. Begitu dekat hingga saat mengangkat tangan dirinya seakan bisa meraihnya. Namun, saat dia mencoba, dia akan sadar; jauh—kebahagiaan yang ingin dia raih sungguh sangat jauh.
__ADS_1
Kebahagiaan yang begitu dia dambakan ada di depan mata, dan; Rin tidak mau kehilangannya. Karena itu, untuk mempertahankannya, dia rela menerima konsekuensinya tidak peduli betapa menderita prosesnya—ya, Rin tahu dia pasti sanggup menghadapinya; dia tidak akan melanggar janji-janji yang telah dia ucapkan.
Mengigit bibir bawahanya, Rin mengangkat wajahnya kembali menatap Meido seki. Kedua matanya bersinar penuh keberanian dan juga keteguhan. "Rin kuat."
Meido seki tertegun dengan jawaban Rin. Diam membisu menatap wanita manusia di depannya, dia menghela napas pelan. "Kau benar-benar bodoh, anakku.."
Rin menguatkan hatinya. Dia tidak berniat mundur. Meskipun Meido Seki tidak bersedia membantu, dia tidak akan menyerah. Demi kebahagiaan masa depan, kebahagiaan Sesshoumaru dan kebahagiaan Shura—kebahagiaan mereka bertiga.
"Tapi," lanjut Meido Seki lagi dengam suaranya yang lembut. "Aku tidak membenci kebodohanmu..."
Mendengar ucapan Meido Seki lebih lanjut, giliran Rin yang tertegun. Sedetik kemudian, seulas senyum lebar memenuhi wajah, kedua mata coklat langsung bersinar gembira.
"Aku tidak bisa membantumu selamanya, Rinku tercinta," suara Meido Seki yang pelan terdengar sangat lembut. "Tapi, selama aku sanggup, aku akan membantumu."
"Terima kasih, Meido Seki-sama," balas Rin cepat sambil tertawa bahagia. "Terima kasih."
"Ketamakanmu," Meido seiki kembali terbang ke atas dan bersinar sangat terang. "Mereka berdua yang kau cintai itu sangat beruntung..."
Cahaya yang bersinar semakin terang hingga Rin menutup matanya. Tapi, cahaya yang ada juga terasa sangat hangat menyelimutinya.
"Pulanglah Rinku tercinta, dia sedang menunggu kalian..."
Membuka mata coklatnya, Rin melihat langit-langit yang tidak asing baginya.
"Rin."
Suara yang berat dan tidak asing terdengar dari samping Rin. Menoleh ke samping, dia menemukan Sesshoumaru duduk menatapnya dengan sepasang mata emas yang tidak dapat menyembunyikan suka cita dan juga kekhawatiran.
"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin pelan. Seulas senyum lemah memenuhi wajahnya yang pucat.
Sesshoumaru tidak membalas panggilan Rin. Menggerakkan kedua tangannya, dia segera memeluk badan kisakinya, badannya bergemetaran.
Rin bisa merasakan badan gemetaran Sesshoumaru, perlahan, dia mengangkat tangan membalas pelukan inuyoukai tersebut. "Tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Rin dan Shura tidak akan meninggalkan anda.."
Sesshoumaru tetap diam membisu. Dia masih memeluk Rin, meluapkan semua ketakutan yang ada dalam dirinya tiga hari ini. Ada kelegaan dirasakannya saat melihat sepasang mata coklat itu terbuka lagi, dia tidak berani membayangkan jika Rin tetap saja tidak sadar lebih lama lagi.
Kagome dan Inuyasha yang berada di samping tidak mengatakan apa-apa melihat Sesshoumaru yang memeluk erat Rin. Penampilan dan kacaunya inuyoukai itu tidak mengejutkan mereka lagi, yang ada dalam hati mereka sekarang hanyalah kelegaan, sebab jika Rin tetap tidak sadar, mereka takut Sesshoumaru akan menggila lagi.
Sesshoumaru baru melepaskan pelukannya saat dia bisa mengontrol emosi dalam dirinya. Menatap wajah Rin yang tersenyum begitu lembut padanya, dia kemudian menoleh mata menatap Kagome.
Kagome seketika tahu apa arti pandangan mata Sesshoumaru. Tidak membuang waktu, dia langsung mendekati Rin dan memeriksa kesehatan wanita manusia tersebut.
Rin menatap wajah Kagome dengan senyum lembut yang tidak berubah. "Rin tidak apa-apa, Kagome-sama."
"Ada apa-apa maupun tidak apa-apa, aku tetap harus memeriksa kesehatanmu, Rin-chan." Balas Kagome dengan seulas senyum kecil. Tapi, jauh dalam hati, dia merasa sangat sedih, sebab melihat Rin sekarang, tanpa memeriksapun sebenarnya dia tahu, keadaan Rin jauh dari kata baik.
Tapi, dari semua itu, ada juga yang Kagome syukuri kali ini, sebab efek menggunakan Meido seki tidak sebahaya sebelumnya. Walau ya, mereka tetap harus terus mengontrol dan mengamati perkembangan kesehatan Rin.
Rin tidak mengatakan apa-apa lagi, diam membisu, dia membiarkan Kagome memeriksanya.
"Tubuhmu masih lemah dan kecapekan, Rin-chan," ujar Kagome setelah selesai mengecek kesehatan Rin. Dia menatap wanita itu lurus dan berusaha menyembunyikan kekhawatiran dalam hati. "Kusarankan kau beristirahat di tempat tidur sampai Shura lahir."
Rin mengangguk kepala pelan, kedua tangannya bergerak mengelus perut besarnya pelan. "Rin mengerti."
"Bukan hanya mengerti." Potong Sesshoumaru yang ada di samping Rin tiba-tiba dan membuat semua yang ada dalam ruangan menatap inuyoukai itu kebingungan.
Tidak mempedulikan keberadaan Kagome yang ada di samping Rin, Sesshoumaru menggerakkan badannya. Membungkukkan ke bawah, kedua jari-jemarinya bergerak menangkap wajah wanita manusia di bawah. Mendekatkan wajah mereka, mata emasnya telah berubah menjadi merah darah menatap mata coklat di depannya lurus. Kedua bibir inuyoukai itu tertarik ke atas, memperlihatkn serigai penuh kemarahan.
"Bukan mengerti," ulang Sesshoumaru sekali lagi, dengan suaranya yang tidak dapat menyembunyikan kemarahan dalam hati. "Kau harus mengukir itu dalam hatimu!"
Rin tertegun dengan ekspresi wajah penuh kemarahan Sesshoumaru yang berada begitu dekat dengannya, sebab inuyoukai itu tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti ini kepadanya, selain pertemuan pertama mereka.
"Sesshoumaru ini bersumpah, Rin. Jika terjadi sesuatu padamu dan Shura, maka Sesshoumaru ini akan menghancurkan dunia ini!! Manusia yang kau lindungi, Sesshoumaru ini akan membantai mereka hingga tidak tersisa! Dunia ini akan menghilang bersama kalian saat kalian menghilang dari Sesshoumaru ini!!"
Ucapan Sesshoumaru membuat bulu kunduk Inuyasha dan Kagome berdiri. Mereka berdua tahu, apa yang dikatakannya itu bukanlah kata-kata kosong belaka, inuyoukai itu serius, dia benar-benar akan menghancurkan dunia jika terjadi sesuatu pada Rin dan Shura.
Kemarahan dan ucapan Sesshoumaru seharusnya sangatlah menakutkan. Tapi, melihat mata dan ekspresi iniyoukai itu, Rin mengerakkan kedua tangannya. Menangkap jari jemari penguasa tanah barat yang ada di pipinya, dia tersenyum lembut. "Iya, Rin tahu, Sesshoumaru-sama."
Ucapan dan senyum lembut Rin membuat Sesshoumaru tertegun. Menutup mata, dia kemudian menggerakkan jari jemarinya dan memeluk wanita manusia tersebut. Membenamkan wajah pada celah di leher kisakinya, dia kembali merasakan ketidak berdayaan.
Rin yang mengatakan dia tahu, Sesshoumaru tidak tahu, wanita manusia ini benar-benar mengerti maksud ucapannya atau tidak. Baginya, di dunia ini, tidak ada yang lebih penting baginya selain Rin dan Shura. Nyawa seluruh manusia dan youkai di dunia ini bahkan tidak sebanding dengan seujung rambut mereka berdua—dunia berserta seluruh isinya tidak akan pernah sebanding dengan nyawa istri dan anaknya.
Mencintai Rin dan memiliki Shura, Sesshoumaru tidak tahu lagi, itu adalah berkah atau kutukan. Mereka memberikannya kebahagiaan tiada batas, namun sekaligus kehancuran jika kehilangan.
Pelukan Sesshoumaru membuat Rin menutup mata. Melingkarkan kedua tangan pada leher inuyoukai itu, dia membalas pelukan yang ada. "Rin dan Shura tidak akan pernah menghilang dari anda, Sesshoumaru-sama—Rin berjanji untuk itu."
Selamanya bersama.
Untuk Sesshoumaru yang dia cintai dengan seluruh jiwa raganya, dan untuk Shura yang begitu berharga—meski tamak, meski salah dan melawan hukum alam, meski akan sangat menderita, Rin tahu keputusannya benar; Rin menginginkan selamanya bersama dengan Sesshoumaru dan Shura.
Inuyasha dan Kagome yang diam membisu melihat Sesshoumaru dan Rin tidak bisa mengatakan apa-apa. Tapi, apa ucapan Sesshoumaru tergiang dalam kepala mereka. Sumpah Sesshoumaru untuk menghancurkan dunia jika Rin dan Shura tidak selamat—tidak ada yang menginginkannya.
__ADS_1
....xOxOx....