![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Mengendap-ngendap menghindari youkai yang ada, Inuyasha, Kagome, Sango, Miroku dan Kenji meneruskan perjalanan mereka. Wajah Inuyasha tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi senang sejak meninggalkan istana tanah barat, yang ada mukanya selalu kesal dan terhina.
"Sampai kapan kau mau memasang ekspresi muka seperti itu, Inuyasha?" tanya Kagome yang sudah tidak tahan dengan sikap suaminya.
"Kenapa aku harus menghindari para youkai yang jauh lebih lemah dariku, Kagome? Aku bisa melenyapkan mereka semua dengan sekali tebasan Tessaiga!" protes Inuyasha. Mata emasnya melotot menatap istrinya.
"Karena kita tidak mau menarik perhatian, Inuyasha." Sanggah Miroku yang tadi diam membisu. Matanya kemudian menatap Sango yang ada di sampingnya. Istrinya tidak berkata apa-apa, tapi dia tahu, dirinya menghawatirkan Maya, Aya, Mamoru dan Shiro yang ditinggalkan mereka bersama Kohaku di istana tanah barat.
Menghela napas, Miroku cuma bisa berpikir, tetnyata setelah berkeluarga dan memiliki anak, perjalanan mereka tanpa disadari telah berubah. Mereka tidak bisa dengan tenang berkelana kemana-mana lagi, sebab mereka akan selalu menghawatirkan anak mereka yang tidak disamping, terutama dalam keadaan perang yang akan dimulai tidak lama lagi.
Mereka semua pada awalnya berencana meninggalkan anak-anak di desa mereka tinggal. Namun, keadaan yang bahaya membuat mereka akhirnya memutuskan meninggalkan anak-anak di istana tanah barat dalam pengawasan Kohaku. Setidaknya istana tanah barat adalah tempat terakhir yang akan diserang selatan jika barat terdesak.
Kohaku awalnya tidak setuju untuk tetap tinggal di istana tanah barat menjaga anak-anak, sebab dia sendiri ingin mengikuti mereka menyelamatkan Rin. Namun, dia menyadari bahwa diantara mereka semua, dirinyalah yang paling lemah. Lebih baik mereka yang kuat yang pergi menyelamatkan Rin daripada dirinya.
Menepuk pelan bahu Sango, Miroku memberikan dukungan semangat, "Anak-anak akan baik-baik saja, ada Kohaku, tenanglah."
Sango tersenyum dan mengangguk kepala. Dia percaya dengan adiknya yang menjaga anak-anak, hanya saja kekhawatiran tetap ada.
Kagome diam membisu mendengar ucapan Miroku. Jika dia mengatakan dia tidak khawatir dengan anak-anak, maka itu adalah bohong, tapi mereka tidak mungkin membawa anak-anak dalam perjalanan ini.
Seakan bisa membaca pikiran Kagome, Kenji yang berjalan paling depan membuka mulutnya. "Jangan terlalu khawatir, perang memang sudah di depan mata, tapi perang ini juga tidak akan langsung terjadi. Predeksiku, kita masih memiliki waktu sekitar satu minggu."
"Kau yakin sekali?" sela Inuyasha. Melipat tangannya di dada, dia menatap Kenji dengan tatapan menghina. Dirinya tidak setuju dengan kata youkai monyet itu yang mengatakan mereka masih memiliki waktu sebanyak itu. Sesshoumaru dan para youkai yang menyukai darah tidak mungkin akan duduk sabar menunggu untuk memulai perang.
"Sesshoumaru dan Akihiko bukan youkai yang bertindak gegabah dan tidak berpikir panjang," menghentikan langkah kakinya, Kenji kemudian membalikkan badan menatap Inuyasha dan yang lainnya. "Aku mengenal mereka sejak kecil. Mereka berdua adalah youkai bangsawan sejati dengan jiwa kesastria tinggi, mereka tidak akan langsung berperang membabi-buta tanpa kehormatan."
"Keh," cibir Inuyasha tidak setuju. "Jiwa kesastrian tinggi apanya? Terutama Akihiko dari selatan itu! Apa menurutmu menculik Rin saat perang akan berlangsung merupakan jiwa kesastrian tinggi?"
Kenji mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Inuyasha. "Nah," ujarnya kemudian sambil menghela napas. "Itu yang tidak aku mengerti. Rin yang diculik sesungguhnya sangat jangal, aku ragu itu memang rencana Akihiko."
"Intinya Rin memang diculik," potong Inuyasha kesal. Kesabarannya habis saat mendengar Kenji terus beranggapan Sesshoumaru dan Akihiko adalah sosok yang patut dihormati. "Baik Akihiko maupun Seshoumaru mereka berdua ad— "
Aura dan bau tidak asing yang dicium Inuyasha membuat hanyou itu berhenti bicara. Mendekati Kagome, dia menempatkan istrinya di belakang, sedangkan sepasang mata emasnya menatap lurus semak-semak di depan dengan ekspresi tidak suka.
Sikap Inuyasha dengan segera membuat Kagome, Miroku, Sango dan Kenji waspada. Inuyasha yang merupakan seorang inuhanyou selalu dapat mempredeksi siapapun yang mendekat dengan indera penciumannya yang tajam, jadi, tidak diragukan lagi ada yang youkai mendekati mereka sekarang.
Semak-semak di depan mereka tiba-tiba bergerak, mereka semua bisa merasakan aura youkai tersebut. Namun, saat mereka melihat siapa youkai tersebut, mereka tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka.
"Koga??!!"
....xOxOx....
Akihiko berjalan pelan menyusuri lorong istana tanah selatan dalam kegelapan malam. Wajahnya tanpa ekspresi. Langkah kakinya yang pelan berjalan menuju tempat latihan pedang. Dirinya ingin melepaskan segala kebosanan sebagai seorang penguasa terlebih lagi dengan persiapan perang di depan mata seharian. Menggerakkan badan dan berlatih pedang selalu efektif menghilangkan rasa bosannya.
Nama no naka
__ADS_1
Kaze no naka
Telinga Akihiko menangkap suara nyanyi seorang wanita. Suara itu sangat merdu bagaikan dentingan lonceng. Membuat dirinya sedikit penasaran dengan siapa yang bernyanyi.
Yume no naka
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Dia mengernyitkan dahinya saat mendengar suara nyanyian itu menyebutkan nama dari musuh bebuyutannya. Rasa penasaran dalam hatinya langsung menghilang, dia tahu yang sedang bernyanyi adalah gadis manusia itu; Rin, hime dari barat.
Watashi wa hitori de machimashou
Sesshoumaru-sama omodori wo
Saat kaki Akihiko menginjak lapangan gersang tempatnya berlatih pedang, dirinya tertegun. Ditengah lapangan itu, gadis manusia itu duduk di atas tanah mendongak kepala menghadap langit malam dengan mata tertutup.
Cahaya bulan yang tidak penuh menyinari gadis manusia tersebut. Dan Akihiko harus mengakui; cantik. Gadis manusia itu sangat cantik. Dengan rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, pipi dan bibir munggil yang sewarna mawar merah—di tanah gersang ini, dia bagaikan setangkai bunga.
Menyadari kehadiran seseorang, gadis manusia itu membuka mata dan menurunkan kepala menatap Akihiko. Sejenak kemudian, seulas senyum indah merekah di bibirnya—senyum yang kembali membuat penguasa tanah selatan itu tertegun.
Senyum itu lagi. Akihiko tidak dapat menjelaskan apa yang dirasakannya saat melihat senyum itu. Dan, yang paling penting; dia tidak mengerti, kenapa gadis manusia itu mau tersenyum seperti itu kepadanya.
Senyum yang tetap ada di wajah gadis manusia itu membuat Akihiko mulai merasa marah. Apakah gadis itu tidak tahu perbedaan mereka? Perbedaan antara youkai dan manusia. Jika memang begitu, dia akan menunjukkannya.
Melepaskan nafsu membunuhnya, mata Akihiko berubah menjadi merah darah. Asap biru tebal mengelilingi badan penguasa tanah selatan itu, dan sedetik kemudian sosok badannya yang rupawan telah digantikan dengan seekor serigala putih besar.
Rin menghentikan langkah kakinya begitu melihat sosok asli Akihiko, sang penguasa tanah selatan.
Serigala itu sangat besar, kedua mata merahnya menatap lekat Rin dengan nafsu membunuh, menyeringai memperlihatkan taring-taringnya yang tajam.
Rin tertegun sejenak. Serigala. Sesumgguhnya dalam hatinya yang terdalam, dia memiliki sedikit rasa takut terhadap serigala, sebab kematian pertamanya adalah karena serigala. Namun, tidak tahu mengapa, melihat serigala putih besar di depannya, dia tidak bisa merasa seperti itu. Dibawah sinar bulan yang tidak penuh, bulu putih serigala itu seakan berwarna perak cemerlang, dan dia harus mengakuinya. "Cantik..." gumannya pelan.
Meski pelan, Akihiko bisa mendengar apa yang digumankan Rin. Dia kembali tertegun, namun, sedetik kemudian, penguasa tanah selatan itu menepis perasaan itu dengan kemarahan. Kepalanya yang besar diarahkan tepat ke depan gadis manusia itu, menggeram penuh kemarahan siap menerkam dalam jarak beberapa sentimeter.
Tatapan penuh kemarahan Akihiko tidak membuat Rin gentar sedikitpun, sebaliknya dia tersenyum. "Wujud asli anda menawan sekali Akihiko-sama. Seperti arti nama anda Pangeran yang cemerlang."
Akihiko terkejut dengan apa yang diucapkan Rin. Nafsu membunuh serta seringai kemarahannya menghilang. Masih menatap gadis manusia itu, dia mau tidak mau, bertanya, "Apakah kau tidak takut padaku?"
"Kenapa Rin harus takut?" tanya Rin tidak mengerti.
Masih dalam sosok aslinya, Akihiko menjawab. "Karena aku adalah youkai dan kau adalah manusia."
"Rin tahu itu, lalu?" tanya Rin lagi. Kedua mata coklat besarnya menatap lurus Akihiko.
__ADS_1
Mata coklat besar yang menatap lurus dirinya membuat Akihiko seakan tidak bisa berbicara. Mata itu sangat jernih, dan dia bisa melihat jelas, gadis itu benar-benar tidak mengerti penjelasannya—dia benar-benar tidak tahu perbedaan youkai dan manusia.
Menjauhkan kepala serigalanya dari Rin, mata merah darah Akihiko tidak melepaskan pandangannya dari sosok gadis manusia itu. "Karena youkai adalah makhluk yang haus darah."
Haus darah.
Jawaban Akihiko membuat Rin tertegun sejenak. Haus darah; Akihiko bukanlah yang pertama yang mengatakan itu padanya. Sejak mengerti dunia ini, dia telah diajarkan youkai adalah makhluk yang haus darah, kejam dan tidak berperasaan. Youkai adalah makhlul berbahaya yang harus dihindari.
Tapi, dalam hidupnya. Ada manusia yang lebih berbahaya daripada youkai, bukankah semua keluarga manusianya mati di tangan manusia? Lalu, youkai...
Wajah Sesshoumaru terbayang dalam benak Rin. Youkai yang menyelamatkannya, youkai yang memberikanya hidup sampai sekarang. Berbahayakah dia?—tentu saja tidak.
Jadi, youkai dan manusia, apa perbedaannya?
Dan jikapun ada perbedaannya, perbedaannya hanyalah satu, yaitu....
selamanya bersama.
Ada perasaan sakit dirasakan Rin saat kata itu terlintas. Menundukkan kepala ke bawah, dia meremas bagian dada kimono yang dipakainnya. Perbedaan youkai dan manusia yang paling nyata adalah manusia yang memiliki masa hidup singkat dan youkai yang memiliki masa hidup panjang—selamanya bersama yang mustahil.
Akihiko bisa merasakan perubahan suasana hati Rin. Dia bisa melihat senyum yang menghilang dari wajah sang gadis manusia, namun, tidak tahu mengapa, dia tidak merasa senang.
"Tidak penting," ujar Rin tiba-tiba. Mengangkat kepala lagi, dia menatap lurus mata Akihiko. Sebuah senyum kembali menghiasi wajah cantiknya. "Bagi Rin itu tidak penting. Manusia atau youkai, itu semua tidak penting."
Rin tidak mau memikirkannya. Dia tahu, dia sadar, tapi dia tidak mau memikirkan kenyataan itu; selamanya bersama. Dia masih hidup, bukankah itu sudah cukup untuk sekarang?
Akihiko kehilangan suaranya melihat senyum Rin lagi. Senyum yang hangat dan tatapan yang lurus tanpa kebohongan, membuat dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan. Gadis ini berbeda dengan semua manusia yang pernah dilihatnya. Begitu berbeda hingga terasa tidak nyata. Dirinya telah hidup beratus-ratus tahun, inilah pertama kalinya dia melihat sebuah jiwa yang benar-benar murni bebas dari segala noda dunia. Cara pikirnya, pandangan hidupnya—tanpa disadari, jantung sang penguasa tanah selatan berdetak cepat.
....xOxOx....
Sepasang mata merah Tsubasa menatap sosok serigala besar dan manusia yang berdiri berhadapan dari kejauhan. Wajah cantiknya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut yang dirasakannya. Rasa terkejut yang dengam segera berubah menjadi kemarahan.
"Tsubasa-sama.." panggil Himiko dayang pribadi selir kesayangan sang penguasa tanah selatan itu pelan. Dia bisa merasakan jelas kemarahan tuannya itu.
Tsubasa diam tidak membalas. Mata merahnya tidak bisa lepas dari sosok Akihiko. Dia melihat semuanya dari awal, interaksi dari pria yang dicintainya serta gadis manusia itu. Kenapa Akihiko tidak membunuh gadis itu? Dan yang terpenting, kenapa jantung sang penguasa tanah barat itu berdetak begitu cepat? Kenapa pandangan matanya yang terarah pada gadis manusia itu begitu berbeda?
....xOxOx....
Akiko menuliskan sesuatu di secarik kertas. Senyum lebar melintas di wajahnya yang cantik. Dirinya masih berada di istana tanah barat, tidak terlintas sedikitpun niatnya untuk kembali ke timur meski perang barat dan selatan yang ada di depan mata.
"Antarkan surat ini pada ayahandaku." Perintah Akiko pada salah satu dayangnya setelah selesai menulis.
Dengan sigap dan hormat, dayang Akiko melakukan apa yang diperintah. Tidak bertanya apa-apa lagi, dia langsung berjalan keluar meninggalkan kamar Akiko.
Tidak bergerak, Akiko menolehkan wajahnya pada jendela kamar yang terbuka. Bayangan akan seorang gadis manusia yang dikenal sebagai Hime dari barat muncul dalam pikirannya, dan seketika, senyum seringai melintas di wajah. Hime dari barat yang kini berada di selatan, gadis manusia yang dicintai banyak youkai—dirinya tidak sabar untuk menghancurkannya.
__ADS_1