![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Sudah selesai, Rin-sama."
"Kami berdua harap anda puas, Rin-sama."
Senyum Rei dan Rika kepada Rin. Menatap wajah cantik dari wanita yang mereka layani sejak kecil hingga menjadi seorang istri dan seorang ibu, mereka hanya dapat merasa betapa cepat waktu berjalan.
"Terima kasih, Rei-nee, Rika-nee."
Duduk di depan cermin, Rin tersenyum kecil menatap pantulan wajah Rei dan Rika. Perlahan, matanya turun menatap bayangannya sendiri dalam cermin. Mengenakan kimono merah berlambang barat, rambut yang tertata rapi, kulit putih bagai salju, mata coklat yang berbinar, serta pipi dan bibir merah merona bagaikan mawar—dia bagaikan melihat dirinya yang dulu; dirinya yang sehat dan berlari dalam taman bunga.
"Rin puas sekali dengan dandanan Rei-nee dan Rika-nee." Senyum Rin semakin lebar melihat pantulan wajahnya di cermin.
Rei dan Rika tersenyum semakin lebar melihat senyum musim semi yang begitu dicintai semua orang. Tidak peduli apapun yang terjadi, wanita manusia itu tetap merupakan makhluk terhangat yang pernah mereka lihat.
"Shura," memanggil pelan nama putranya, Rin kemudian menoleh wajah pada Shura yang berada di pangkuannya dalam diam dari tadi. "Apakah ibunda cantik?"
Shura yang dari tadi menatap Rin dalam diam tidak mengedipkan matanya sedikitpun menatap wajah tersenyum ibunya. Kedua mata emasnya terbuka lebar seakan sedang menatap permata terindah di dunia.
"Shura-sama terpesona dengan kecantikan anda, Rin-sama." Tawa Rei melihat reaksi Shura yang menatap ibu kandungnya.
"Iya," sambung Rika juga ikut tertawa. "Dia tidak bisa berpaling dari anda, Rin-sama."
Rin ikut tertawa mendengar ucapan kedua dayangnya sejak kecil. Menatap penuh cinta putranya, dia kembali tersenyum. "Ibunda sangat mencintaimu, Shura."
Ungkapan cinta yang tidak pernah berhenti diucapkan Rin pada Shura, seakan dia takut putranya tidak pernah menyadari betapa dia sebagai ibu mencintainya, Rei dan Rika hanya dapat bisa tersenyum. Kisaki mereka adalah ibu terlembut yang pernah mereka lihat—cintanya untuk putranya sungguh membuat semua yang ada berdecak kagum.
Shura tertawa bahagia mendengar ucapan Rin. Mengerti atau tidak, dia yang masih kecil bisa merasakan jelas betapa dirinya penting bagi wanita paling berharga dalam keberadaannya.
Krett
Suara pintu shoji kamar yang tertutup terbuka, menoleh menatap siapa yang masuk, Rei dan Rika segera membungkuk memberikan hormat. "Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru yang melangkah mendekati Rin tidak mengatakan apa-apa, kedua mata emasnya terpusat pada dua sosok paling penting dalam hidupnya.
Rin ikut menoleh pelan menatap Sesshoumaru. Tersenyum seindah musim semi, kedua mata coklatnya berbinar bahagia menatap sosok penguasa tanah barat. "Sesshoumaru-sama..."
Mendekati Rin, Sesshoumaru langsung duduk berlutut di depan wanita manusia itu, kedua mata emasnya menatap lekat wajah cantik yang dicintainya. Dengan lembut dan hati-hari, dia mengangkat tangan kanan menyusuri pipi sedingin es itu. "Rin..."
Rin menutup mata merasakan kehangatan tangan Sesshoumaru dan tersenyum semakin lebar. "Selamat ulang tahun, Sesshoumaru-sama..."
Sesshoumaru tersenyum kecil mendengar ucapan Rin. Menutup mata, dia bergerak dan mencium lembut kening kisakinya. "Selamat ulang tahun juga, Rin."
Selamat ulang tahun.
Hari ini adalah hari ulang tahun Sesshoumaru, sekaligus juga merupakan hari ulang tahun Rin. Hari yang ditunggu-tunggu semua penghuni istana tanah barat dalam musim dingin yang panjang ini. Namun berbeda dengan tahun lalu, tidak ada pesta dan perayaan meriah untuk merayakannya, karena semua penghuni sepakat; belum saatnya.
Kesehatan Kisaki mereka tercinta yang memburuk, semua orang tahu. Karena itu, mereka semua memutuskan untuk mengadakannya saat wanita manusia itu sembuh, sebab mereka ingin pusat pesta selalu ada dan melihat dengan mata kepala sendiri meriahnya pesta untuk merayakan kelahirannya yang bagaikan keajaiban di dunia ini.
"Aaa..Bababa.." Suara renggekkan Shura seketika membuat Sesshoumaru dan Rin menatap putra mereka yang kini berwajah cemberut karena merasa tidak dipedulikan.
"Iya, putraku dari barat," tawa Rin melihat reaksi Shura. "Ayahanda dan Ibunda tidak mengabaikanmu."
Sesshoumaru kembali tersenyum, menurunkan wajahnya, dia juga mencium lembut kening Shura. "Kau harus merubah sikap burukmu ini saat besar, Shura."
Shura yang merasakan ciuman Sesshoumaru dan perhatian Rin tertawa bahagia. Mengangkat kedua tangan, dia menggerakkannya gembira ke arah kedua orang tuanya dan membuat mereka tersenyum.
Rei dan Rika yang melihat interaksi hangat keluarga penguasa tanah barat di depan mereka ikut tersenyum. Lalu, dengan hati-hati tanpa menganggu, mereka berdua kemudian mundur dan keluar dari kamar, meninggalkan keluarga kecil yang harmonis tersebut.
Mengangkat kepala menatap Rin lagi, Sesshoumaru bertanya dengan senyum lembut yang tetap ada di wajah tampannya. "Apa yang ingin kau lakukan hari ini, Rin?"
Rin tertawa mendengar pertanyaan Sesshoumaru. "Rin ingin menghabiskan hari ini seharian bersama Sesshoumaru-sama dan Shura."
"Baiklah." Balas Sesshoumaru pelan dan kembali mencium kening Rin sekali lagi. Menghabiskan waktu seharian bersama istri dan anaknya jelas adalah cara paling baik melewati hari ini.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan dengan wajah penuh senyum. "Rin ingin melihat salju di beranda kamar."
Sesshoumaru mengangguk kepala, dengan pelan dan hati-hati, dia segera menggendong Rin serta Shura yang ada dalam pangkuan ibunya. Mendengar tawa istri dan anaknya yang segera meluncur keluar, inuyoukai penguasa tanah barat merasa kehangatan serta kedamaian dalam hati.
Berjalan menuju beranda kamar, Sesshoumaru kemudian duduk sambil mengendong Rin dam Shura. Menempatkan mereka di depan dan memeluk pinggang ramping itu hati-hati mokomokonya bergerak dengan cepat menyelimuti kedua keberadaan paling penting dalam hidupnya dari hawa dingin yang ada.
Shura tertawa semakin keras dan menyamankan dirinya di atas dada Rin. Kedua mata emasnya yang indah terbuka lebar penuh kebahagiaan terarah pada kedua orang tuanya penuh cinta.
Menggerakkan kepalanya pelan, Rin mencium kening Shura. "Kau gembira hari ini, putraku tercinta?"
Menutup mata, tawa Shura semakin keras. menggerakkan tangan kecilnya, dia menangkap lembut wajah cantik Rin. "Ahhh..Babababa..."
Tidak tahu apa yang diucapkan Shura, Rin hanya bisa ikut tertawa. Menjauhkan wajahny, dia kemudian tersenyum, "Kau harus selalu tumbuh bahagia dan tertawa seperti ini, putraku. Senyum dan tawamu adalah hal terindah di dunia ini."
Ucapan lembut Rin membuat Sesshoumaru menatap istri dan anaknya terus. Hal terindah di dunia adalah senyum dan tawa putra mereka, dia setuju. Tapi baginya, senyum dan tawa Rin juga merupakan hal terindah di dunia.
Dengan senyum masih di wajah, Rin kemudian mengangkat kepalanya menatap Sesshoumaru. "Begitu juga dengan senyum dan tawa anda, Sesshoumaru-sama. Itu juga merupakan hal terindah di dunia."
Ucapan Rin kali ini tidak dapat menghentikan tawa Sesshoumaru lagi. Hatinya terasa hangat mendengarnya—sungguh, hari ini merupakan hari yang menyenangkan, bukan?
Tawa Sesshoumaru yang ditangkap telinga Shura membuat inuyoukai kecil itu menatap ayah kandungnya, dan seketika, dia ikut tertawa semakin keras karena bisa merasakan kebahagiaan yang ada.
Rin juga ikut tertawa, mata coklatnya berbinar. Lebih dari emas dan permata, lebih dari keindahan segala musim, lebih dari segalanya—indahnya tawa Sesshoumaru dan Shura, kedua inuyoukai tersebut memang tidak tertandingi di dunia ini.
Tawa harmonis keluaga kecil memenuhi udara, mengantarkan kehangatan dan juga kebahagiaan. Lalu, saat tawa telah berhenti, dengan tenang dan damai, Shura yang merasa ngantuk dalam pelukan kedua orang tua tertidur dengan wajah penuh senyum
Rin tidak mengatakan apa-apa, dia juga menyamankan diri dalam pelukan Sesshoumaru yang semakin mengerat tapi juga sangat hangat dan lembut. Menoleh ke depan menatap hamparan salju putih di taman, dia tersenyum kecil.
Keadaan ini mengingatkan Rin dengan musim dingin yang biasanya dia lalui di istana tanah barat dulu. Dalam diam, dia dan Sesshoumaru akan menikmati indahnya musim saat dunia di dominasi warna putih di sepanjang mata memandang. Lalu, perlahan, musim akan berganti, warna putih akan menghilang digantikan jutaan warna dunia—musim semi yang hangat dan menyenangkan.
Musim semi.
Rin mau tidak mau teringat dengan hanami yang menyenangkan, dan juga dengan gunung hare yang indah. Gunung di mana bunga sakura bermekaran sepanjang mata memandang, gunung di mana dia dan Sesshoumaru menghabiskan waktu bersama hanya berdua.
"Ne, Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan dan mengangkat kepalanya menatap Sesshoumaru lagi. "Saat musim semi tiba, apakah menurut anda, bunga sakura di gunung hare akan bermekaran indah seperti musim semi tahun ini?"
"Tentu." Jawab Sesshoumaru singkat membalas tatap Rin.
Rin tersenyum lebar mendengarnya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke sana lagi? Rin sangat menyukai gunung hare. Tidur di bawah pohon sakura di samping danau, Rin merasa itu adalah tempat beristirahat paling menyenangkan."
Sesshoumaru mengangguk kepala. Dia setuju dengan ucapan Rin, tempat itu memang tempat yang sangat bagus untuk beristirahat. Tertidur di bawah guguran bunga sakura, dan saat membuka mata, dia akan bisa melihat wanita yang lebih indah dari musim semi tertidur damai di samping.
"Rin ingin menunjukkan tempat itu pada Shura," lanjut Rin lagi dan tertawa. "Tempat itu pasti juga akan sangat disukai, Shura."
"Kita akan pergi ke sana," balas Sesshoumaru cepat dan mencium kening Rin lembut. "Tidak hanya musim semi tahun depan, tapi untuk setiap musim semi yang akan datang—kita bertiga akan mengunjunginya."
"Iya," tawa Rin semakin lebar. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Kita akan ke sana setiap kali musim semi tiba."
__ADS_1
Setiap musim semi yang akan datang, Rin bisa membayangkan, dirinya, Sesshoumaru dan Shura tertidur di bawah pohon sakura tersebut. Dengan langit biru di atas langit dan kelopak sakura yang gugur di bawah angin—tempat beristirahat paling nyaman di dunia.
Menjauhkan wajahnya, Sesshoumaru menatap lembut wajah bahagia Rin yang begitu indah baginya. Tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya terus menatapnya lekat dengan sepasang mata emasnya seakan sedang mengukirnya di dalam ingatan.
"Ne, Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi dengan lembut. Wajahnya tersipu malu. "Apakah Rin cantik hari ini?"
Hari ini adalah hari yang spesial bagi Sesshoumaru dan dirinya, karena itulah Rin meminta Rei dan Rika mendandaninya. Cukup di hari ini, dia ingin inuyoukai itu melihat wajah dirinya yang sehat dan cantik, ingin melewati hari bersama dalam ketenangan seakan tidak terjadi apa-apa dalam hidup mereka.
"Cantik." Jawab Sesshoumaru cepat dengan singkat. Kedua mata emasnya menatap penuh dambaan dan pujaan wanita manusia yang kembali tersipu malu.
"Kalau begitu, anda harus selalu mengingat wajah Rin ini," ujar Rin lagi masih tersipu malu dengan senyum yang mulai merekah bagaikan bunga. "Soalnya, saat Rin sudah tua, Rin tidak akan secantik ini lagi."
Ucapan Rin hanya membuat Sesshoumaru kembali tertawa. Menempelkan keningnya pada kening Rin lembut, mata emasnya menatap lekat mata coklat Rin. "Rin, tahukah kau?" tanyanya pelan. "Kelak, meski rambutmu telah memutih, meski kulitmu telah keriput, dalam mata Sesshoumaru ini, tetap kaulah yang tercantik di dunia."
Mata Rin terbelalak mendengar ucapan Sesshoumaru yang diluar dugaan.
"Tidak akan ada yang dapat menandingi kecantikanmu dalam hati Sesshoumaru ini...."
Terucap pelan tanpa kebohongan dalam sepasang mata yang menatapnya, Rin tidak dapat menghentikan air matanya yang kemudian jatuh tanpa terhentikan. Tapi, seulas senyum indah memenuhi wajahnya. Begitu manis dan memabukkan, ucapan itu akan terukir abadi dalam hatinya.
Mengangkat tangan kanan pelan, Sesshoumaru menhapus air mata Rin. Perlahan, dia kemudian menutup mata dan mencium bibir wanita manusia itu dengan hati-hati penuh perasaan.
Rin adalah yang tercantik, selalu dan selamanya akan menjadi yang tercantik. Tidak peduli waktu berlalu, tidak peduli jaman berganti, Sesshoumaru tahu, wanita manusia dengan senyum musim semi tidak akan pernah tergantikan dalam keberadaannya.
Rin ikut menutup mata dan membalas pelan ciuman Sesshoumaru. Kehangatan menyelimutinya, kebahagiaan yang begitu menyenangkan, hidup bahagia yang didambakan, mereka memilikinya hari ini dan berharap juga untuk—selamanya.
Ehem!" suara seseorang tiba-tiba menyadarkan Rin dari ciuman Sesshoumaru. Bersamaan dengan inuyoukai itu, mereka berdua kemudian menoleh wajah ke arah sumber suara.
Tidak jauh di depan mereka, Sesshoumaru dan Rin bisa melihat Akihiko, sang penguasa tanah selatan yang berdiri dengan wajah tenang tanpa ekspresi di tengah taman dalam salju.
"Akihiko-sama.." Panggil Rin pelan dan tersenyum melihat youkai serigala di depannya.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengeratkan pelukannya pada Rin dan menatap lurus Akihiko yang menganggu waktu kebersamaannya dengan keluarganya.
Akihiko tersenyum menatap Rin, dia tidak mempedulikan sedikitpun pandangan Sesshoumaru seakan inuyoukai itu memang tidak ada di depannya. Hanya saja, tangannya tergepal kuat, dia melihat jelas adegan barusan—adegan yang tidak ingin dia lihat namun juga tidak dapat dihentikannya. Sebab, dia bukanlah siapa-siapa.
"Ada apa, Akihiko-sama?" tanya Rin lembut, dia tidak menyadari sedikitpun keanehan dari youkai serigala di depannya.
"Aku ingin mengucapkan padamu," jawab Akihiko dengan senyum yang masih ada di wajahnya. "Selamat ulang tahun, Rin."
Rin tersenyum semakin lebar mendengar ucapan selamat ulang tahun dari Akihiko. Tertawa pelan, dia mengangguk kepala pelan. "Terima kasih, Akihiko-sama."
"Hadiah ulang tahun untukmu masih belum kutemukan," lanjut Akihiko lagi dengan senyum semakin lebar melihat tawa Rin yang indah. "Tapi, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan menemukan hadiah yang paling kau dambakan itu."
Hadiah yang paling diinginkan Rin, Akihiko tahu, yakni; umur dan hidup yang panjang bersama keluarganya. Hadiah yang tidak mungkin, namun, dia akan menjadikannya mungkin. Dirinya tidak akan seperti Sesshoumaru yang tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa berdiam diri di samping wanita yang sekarat itu.
Ucapan Akihiko membuat Rin tertegun, tapi, sejenak kemudian dia kembali tersenyum. "Terima kasih, Akihiko-sama.."
Hadiah yang paling didambakannya, Rin tahu dengan pasti, hadiah itu tidak akan pernah ada. Pertemuannya dengan Akihiko dimulai setahun lalu, dan juga diantara mereka telah terjadi banyak sekali hal. Tapi, sampai detik ini juga, dia sangat senang dan gembira bisa mengenal penguasa tanah selatan tersebut. Niat baik dan ketulusan untuknya, dia sungguh menghargainya, walau dia tidak bisa membalasnya.
"Akihiko-sama," panggil Rin pelan dengan senyum yang tidak kunjunh menghilang. "Terima kasih telah hadir dalam dunia Rin. Apapun yang terjadi kelak di kedepannya, Rin sungguh berharap anda tetap menjadi anda—Rin berharap anda selalu sehat dan bahagia.."
Akihiko tertawa mendengar apa yang diucapkan Rin. Sehat dan bahagia? Sehat itu pasti, tapi; bahagia? dia tidak berani menjaminnya. "Tenang, aku akan selalu menjadi diriku sendiri, Rin."
Rin ikut tertawa dan mengangguk kepala pelan. Menatap Akihiko lagi, dia teringat juga dengan Tsubasa. Youkai burung yang mencintai penguasa tanah selatan dengan segenap perasaan. Mencintai dalam air mata, kesedihan, kehancuran dan juga ketidak berdayaannya yang begitu menyakitkan. Cinta besar yang bahkan mengorbankan kebahagiaann dirinya sendiri untuk pria yang dicintai.
"Dunia ini indah, Akihiko-sama," lanjut Rin lagi dengan suara tawanya yang bagaikan dentingan lonceng. "Begitu juga dengan dunia anda. Jangan membutakan mata anda dan melewatkan hal terindah yang telah anda miliki."
Rin hanya tersenyum dan menggeleng kepala. "Rin berharap anda akan mengerti maksud ucapan Rin suatu saat nanti, Akihiko-sama."
Rin tidak memiliki hak untuk menjelaskan ucapannya tersebut. Cinta tidak bisa dipaksakan. Baik Akihiko maupun Tsubasa, masa depan mereka, mereka sendiri yang menentukan. Tapi, dia benar berharap di masa depan yang ada, kedua orang itu akan menemukan penyelesaian kisah mereka dan bahagia sebagai mana mestinya.
Akihiko semakin bingung dengan ucapan Rin. Tapi, sebelum dia bertanya lagi, Sesshoumaru tiba-tiba menggerakkan tangan dan memendamkan wajah wanita itu ke dadanya. Menggunakan lengan kimononya yang lebar menutupi wajah cantik dari pandanga, kedua mata emasnya menatap tajam penguasa tanah selatan. "Jika urusanmu sudah selesai, pergi dan jangan menganggu kami."
Akihiko menatap tidak suka Sesshoumaru. Kedua mata biru langitnya ikut menajam menatap Inuyoukai itu, sedangkan kedua ujung bibirnya terangkat menunjukkan seringai kemarahan. Hanya saja, melihat Rin yang tidak bergerak dalam pelukan serta Shura yang tertidur tenang, dia kemudian menghentikan semuanya. Menutup mata, dia mengontrol emosinya, sebab penguasa tanah selatan tahu, dia tidak berhak.
Membuka mata, ekspresi wajah Akihiko kembali seperti biasa. Masih menatap Rin, dia tersenyum sekali lagi. "Sampai nanti, Rin."
Rin berusaha menatap Akihiko, tapi tangan Sesshoumaru tetap tidak bergeming. Berujar pelan, dia hanya dapat membalas pasrah. "Sampai nanti, Akihiko-sama.."
Sepeninggalan Akihiko, suasana kembali menjadi hening. Perlahan, Sesshoumaru kemudian menurunkan tangannya. Tidak mengatakan apa-apa, dia menatap Rin dengan ekspresi datar di wajahnya.
Rin juga menatap Sesshoumaru, dan seketika juga, senyum lebar memenuhi wajahnya yang kemudian berubah menjadi tawa bahagia.
"Apa yang kau tertawakan, Rin?" tanya Sesshoumaru bingung melihat tawa Rin.
"Ne, Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan dengan matanya yang berbinar bahagia. "Apakah anda cemburu?"
Pertanyaan Rin seketika membuat Sesshoumaru tertegun dan diam membisu. Cemburu?—dia tidak menyadarinya selama ini. Tapi, dia memang tidak pernah menyukai perhatian Rin yang kadang terarah pada Akihiko, sebab dia tahu jelas perasaan youkai serigala itu kepada wanita manusia dalam pelukannya.
"Apakah anda cemburu, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin sekali lagi dengan tawa di wajahnya yang tidak kunjung menghilang.
Menatap tawa Rin, Sesshoumaru kemudian menutup matanya. Tapi, saat membuka mata lagi, dia balas menatap lekat mata coklat kisakinya. "Iya. Sesshoumaru ini cemburu."
Kali ini, giliran Rin yang tertegun, sebab dia tidak pernah menyangka Sesshoumaru akan menjawabnya seperti ini.
"Sesshoumaru ini ingin mata Rin hanya tertuju pada Sesshoumaru seorang saja."
Rin tidak bergerak sedikitpun, kedua mata coklatnya terbelalak mendengar pengakuan Sesshoumaru. Lalu, sedetik kemudian, bagaikan bunga yang mekar, senyum merekah bahagia di wajahnya. "Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama. Selalu dan selamanya, tidak ada yang lain, hanya anda..."
Pengakuan cinta yang manis. Mulut mungil yang menyatakan cinta abadi untuknya, Sesshoumaru tahu jelas, betapa luar biasa cinta wanita manusia itu untuknya yang seperti ini—cinta yang melebihi kehidupan dan kematian.
Sesshoumaru ikut tersenyum, perlahan dia menutup mata dan kembali mengecup bibir Rin bdengan lembut. "Ya. Sesshoumaru ini tahu..."
Rin tertawa pelan untuk kesekian kalinya. Hatinya terasa sangat hangat. Pelukan dan ciuman yang ada pada hari bahagia ini, bersama dengan Sesshoumaru serta Shura yang tertidur di atas dadanya—keseharian ini adalah keseharian abadi yang diinginkannya dalam hidupnya.
Tidak mengatakan apa-apa lagi, dengan senyum yang terus terukir di wajah, Rin kembali menyamankan dirinya dalam pelukan Sesshoumaru.
Sesshoumaru juga tidak mengatakan apa-apa, tangan kirinya bergerak pelan terus membelai rambut hitam Rin dan kadang membelai Shura yang tertidur sambil tertawa dalam dekapan kedua orang tua.
Tanpa suara, dengan tenang dan damai, menatap salju yang turun pelan menumpuk dengan tebal, keluarga kecil yang hangat dan harmonis—mereka bagaikan lukisan indah bagi siapapun yang melihatnya.
"Rin," panggil Sesshoumaru kemudian memecahkan keheningan yang ada. Tangannya tidak henti membelai rambut hitam wanita manusia dalam pelukannya. "Hadiah ulang tahun apa yang kau inginkan?"
Hadiah ulang tahun Rin, Sesshoumaru sebenarnya cukup ragu untuk bertanya, sebab dia tahu jelas hadiah ulang tahun yang diharapkan wanita manusia itu, namun sekaligus tidak dapat diberikan—tidak untuk sekarang.
Membuka mata pelan, Rin menatap Sesshoumaru. Dia bisa melihat jelas keraguan dalam sepasang mata emas itu. Tidak seperti Akihiko yang yakin akan mendapatkannya, kenyataan menyakitkan yang ingin dilupakan, inuyoukai itu tahu jelas.
Tapi, untuk dirinya yang sekarang ini, sebenarnya baik Sesshoumaru maupun Akihiko salah, Rin tidak pernah mengharapkan lagi selamanya bersama. Karena itu adalah angan semu—sesuatu yang tidak mungkin. Dirinya sudah berhenti mengharapkan harapan kosong tersebut, dan memutuskan harapan baru yang dia tahu akan lebih baik dalam kehidupan inuyoukai yang dicintainya.
"Hadiah ulang tahun yang Rin inginkan tahun ini adalah," ujar Rin pelan dan tersenyum lembut. Kedua mata coklatnya berisikan cinta tidak terucapkan. "Kebahagiaan Sesshoumaru-sama..."
__ADS_1
Jawaban Rin membuat Sesshoumaru tertegun.
"Mulai hari ini dan kedepannya, sampai selamanya, tidak peduli apapun yang akan terjadi, Rin ingin Sesshoumaru-sama selalu bahagia...."
Sesshoumaru tidak dapat membalas jawaban Rin. Dengan cepat, dia kembali membenamkan wajah kisakinya ke dadanya. Hatinya terasa sakit, namun dia tidak dapat mengungkapkannya. Hadiah yang diinginkan Rin terasa berat, sangat berat, dan dia tidak yakin dapat memberikannya jika suatu saat wanita itu menghilang dari hidupnya.
Rin tetap tersenyum dan diam membisu. Hadiah yang dia inginkan, dia sungguh berharap, Sesshoumaru bisa memberikannya. Dalam hidup seorang inudaiyoukai yang panjang, apa yang paling dia inginkan dari seorang Sesshoumaru, Rin sudah menyadarinya, yakni; kebahagiaan. Karena kebersamaan selamanya adalah mustahil, jadi sebagai gantinya, dia ingin inuyoukai itu selalu puas dengan hidup panjangnya, tidak akan pernah bersedih dan selalu bahagia—bahagia meski suatu saat nanti dia tidak lagi dapat berada di sampingnya.
Ulang tahun—hadiah ulang tahun.
Sesshoumaru bertanya pada apa yang dia inginkan, dan Rin berani menjawab. Tapi, untuk Rin sendiri, dia tidak berani bertanya apa yang paling diinginkan inuyoukai itu, sebab itu adalah sesuatu yang tidak berani dijanjikannya.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan dan melepaskan wajah Rin yang didekapnya. "Bernyanyilah untuk Sesshoumaru ini, lagu yang kau nyanyikan tahun lalu—Sesshoumaru ini ingin mendengarnya."
Rin cukup kebingungan dengan permintaan Sesshoumaru yang tiba-tiba. Tapi, menuruti permintaan tersebut dia mengangguk kepala. Dengan senyum terus yang merekah, saat Sesshoumaru melepaskan dekapannya, dia mulai bernyanyi pelan.
Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu
Bernyanyi pelan, Rin menatap lembut Sesshoumaru. Lagu yang dinyanyikannya dulu. Lagu berisikan segala pujaan dan juga cinta yang dimilikinya untuk inuyoukai yang merupakan penyelamat hidupnya.
Disetiap langkahku
Kukan s'lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tapi semakin dia bernyanyi sambil menatap wajah Sesshoumaru, Rin bisa merasakan hatinya yang sakit. Ah, sejak kapan? Tanpa disadarinya, sejak kapan lagu ini berubah?
Takkan mampu menghadapi semuaa
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Lagu ini adalah lagu yang manis. Setiap liriknya dinyanyikan dengan hati yang berdebar-debar membayangkan sang pujaan—ini adalah lagu seorang wanita manusia bernama Rin.
Tapi sekarang, semua terasa sangat ironis sekali. Lagu ini dia yang menyanyikan, tapi kenapa sekarang lagu ini menjadi seperti ini? Kenapa menatap wajah Sesshoumaru, Rin sadar, ini adalah lagu Inuyoukai itu? Isi hati terdalam dari inuyoukai yang selalu sempurna tanpa kecacatan tersebut. Harapannya, hadiah ulang tahun yang diinginkannya namun tidak terucapkan—ketakutan dan keputusasaannya.
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna, Sempurna...
Lagu yang selesai, air mata mengalir turun dari pipi Rin. Padahal dia tidak ingin menangis sedih seperti ini pada hari ini, padahal dia hanya menginginkan air mata kebahagiaan pada hari spesial ini. Ternyata—dia tidak bisa.
Sesshomaru memang pintar, inuyoukai itu tahu dirinya tidak akan berani bertanya apa yang dia inginkan sebagai hadiah, karena itu dia memintanya bernyanyi untuk menyadari apa yang diinginkan—sesuatu yang tidak mungkin di dunia.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Tersenyum di dalam air mata yang terus mengalir turun tidak terhentikan, dia menata hatinya yang hancur. "Anda tahu...."
Sesshoumaru tidak menjawab, dia hanya diam membisu menatap Rin.
"Rin kecil tidak tahu, karena itu dulu dia bertanya, 'jika suatu saat Rin telah tiada, apakah anda akan selalu mengingat Rin?"
"Rin." Panggil Sesshoumaru dengan intonasi suaranya yang meninggi, tanda dia tidak ingin Rin berbicara lagi.
Tapi, Rin tidak peduli, dengan senyum yang terus dipertahankannya, dia masih meneruskan ucapannya yang belum selesai. "Tapi, Rin yang telah besar tahu, 'Jika suatu saat nanti Rin telah tiada, anda boleh melupakan Rin, Sesshoumaru-sama.."
Sesshoumaru tidak bergerak, dia diam membisu mendengar ucapan Rin tersebut.
"Lupakanlah Rin, jika anda akan berwajah seperti ini setiap kali mengingat Rin..."
Ekspresi wajah Sesshoumaru, Rin sungguh tidak ingin melihatnya. Tidak terjelaskan penuh dengan kesedihan, penderitaan dan juga keputusasaan. Jangan bersedih karenanya, jangan menderita karenanya, jangan putus asa hanya karena seorang Rin.
Lupakanlah Rin, jika itu sangat menyakitkan. Rin tidak akan keberatan dilupakan, asal Sesshoumaru bisa kembali seperti dulu, selalu dipuncak tanpa kelemahan. Hapuslah semua kenangan indah mereka yang ada jika itu akan menjadi titik hitam dalam indah dan germelapnya masa depan yang ada—berbahagialah dalam dunia tanpa dirinya.
Sesshoumaru segera memeluk Rin dan memendamkan wajah wanita itu di dada. Dia tidak mau melihat senyum Rin sekarang, dia tidak mau melihat matanya dan juga dia tidak mau mendengar apa yang diucapkannya. "Sesshoumaru ini tidak akan mengulanginya lagi; diam Rin."
Rin diam membisu kali ini, dia bisa merasakan tangan Sesshoumaru yang memeluknya bergetar, dan dia sungguh berharap dia bisa menggerakkan tangannya, supaya dia bisa memeluk inuyoukai yang mencintainya begitu dalam.
Cinta.
Untuk cinta yang terjalin dengan begitu indahnya diantara mereka yang saling mencintai, Rin memikirkan masa lalu dan juga masa sekarang. Dalam waktunya yang terus melaju semenjak bertemu Sesshoumaru, semuanya hanya berisikan kebahagiaan. Karena itu, dia harus memberitahunya.
"Sesshoumaru-sama, terima kasih..." ujar Rin pelan dan menutup mata. Dia tidak pernah mengucapkannya selama ini, kata terima kasih dalam hatinya. "Terima kasih telah melihat Rin saat itu dalam hutan, terima kasih telah menghidupkan Rin, terima kasih mengijinkan Rin mengikuti anda, melindungi dan selalu ada setiap kali Rin memanggil nama anda..."
Ucapan terima kasih Rin tidak dibalas Sesshoumaru, memeluk semakin erat badan mungil itu, dia menutup mata.
"Terima kasih telah mengijinkan Rin berada di istana tanah barat, terima kasih telah menemani Rin setiap saat, terima kasih untuk segala hadiah yang ada, terima kasih telah memilih Rin dari semua wanita yang ada..." lanjut Rin terus tanpa henti. "Terima kasih telah memberikan Shura pada Rin, dan terima kasih telah mencintai Rin..."
Terima kasih.
Terima kasih dan terima kasih, puluhan terima kasih, ratusan, ribuan dan jutaan terima kasih. Terima kasih telah memberikannya segala yang begitu makjudkan, terima kasih untuk kehangatan, keindahan dan warna-warni sebuah kehidupan.
Mengangkat wajah menatap Sesshoumaru, Rin tertawa kecil. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama. Terima kasih untuk semua yang telah anda berikan pada Rin, terima kasih..."
Sesshoumaru membuka mata dan menatap Rin. Tapi dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya terus menatap dan terus menatap wajah wanita dalam pelukannya.
Rin masih tertawa kecil namun perlahan rasa ngantuk menghampirinya. Dengan senyum dan air mata yang mengalir, dia kemudian perlahan menutup mata dan membiarkan tidur menghampiri. Ah, terima kasih kematian. Terima kasih telah tidak datang hari ini, terima kasih telah menginjinkan Rin melewati hari ini dengan sempurna sesempurnanya.
Suara tarikan napas tenang Rin yang tertidur seperti halnya Shura membuat Sesshoumaru kemudian ikut menutup mata. Menempelkan pipi kirinya pada kepala Rin, semua ucapan Rin hari ini tergiang kembali dalam pikirannya.
Bersamaan dengan itu, bayangan Rin yang meringkui sendirian dalam kamar serta kegelapan tidak berujunh juga mengikuti.
Jika kau benar-benar mencintainya, maka lepaskanlah dia..
Ah, Sesshoumaru tidak mau memikirkan lagi. Sangat berat dan menyakitkan, sangat sulit dan menghancurkan. Lupakanlah dan tidurlah. Dia ingin tidur seperti halnya Rin dan Shura. Membebaskan diri dari semua hal, bermimpi indah dimana mereka satu keluarga selalu bersama.
Salju terus turun tanpa bersuara. Dalam beranda kamar tidur sang pemguasa tanah barat, baik Sesshoumaru, Rin maupun Shura larut dalam mimpi mereka. Dunia tidak mengijinkan selamanya bersama untuk mereka, karena itu, mereka akan mencarinya dalam mimpi—mimpi dimana selamanya mereka akan bersama dalam kebahagiaan.
....xOxOx....
__ADS_1