Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 178


__ADS_3

Bersembunyi dalam semak-semak, mata Inuyasha menatap lurus sepasang ayah-anak inuyoukai yang berjalan tidak jauh di depan. Kedua mata emasnya tidak dapat menyembunyikan kekesalan karena dari tadi ayah-anak tersebut tidak berinteraksi sedikitpun, dalam gunung hare ini, mereka hanya terus berjalan dengan wajah tanpa ekspresi yang sangat identik.


"Inuyasha, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu terus?" tanya Kagome yang juga bersembunyi di sampingnya pelan.


"Iya, ayah, ada apa?" tambah Sakura yang juga ada di samping mereka berdua.


"Ayah hanya merasa Paman Sesshoumaru dan Shura kurang dekat, Sakura." Timpah Shiro pelan, seperti orang tua dan adik perempuannya, dia juga berada di sana.


Sakura menatap Shiro sejenak dan kemudian membuang muka. Diam membisu, dia tidak mengatakan sepatah katapun. Tangannya bergerak mengusap lembut meido seki yang kini telah menjadi kalung dan dipakainya.


"S-sakura," panggil Shiro pelan terbata-bata. Air mata menumpuk di matanya. Memeluk erat Sakura, dia berteriak keras. "Maaf! Maafkkan kakak! Kakak tidak akan berani lagi melakukannya, jadi kakak mohon jangan bersikap seperti ini!!"


Sakura yang dipeluk Shiro tidak mengatakan apa-apa. Dalam hati dia merasa bersalah, dia sesunggunya sudah tidak marah dan telah memaafkan kakaknya. Namun, dia sama sekali tidak bisa melakukan karena permintaan kedua orang tuanya.


Inuyasha dan Kagome menatap Shiro yang menangis memeluk Sakura. Mereka berdua merasa sangat puas, hukuman paling mujarap untuk Shiro memang tidak lain adalah ketidak pedulian Sakura. Lihat apa putra mereka itu masih berani bertindak sembarangan setelah ini?


"Kalian bisa diam tidak??" suara kesal Jaken tiba-tiba terdengar. Dia yang juga bersembunyi di samak-semak samping Inuyasha menatap keluarga tersebut tajam. "Bagaimana kalau Sesshoumaru-sama dan Shura-sama mengetahui keberadaan kita? Dasar kalian keluarga idiot!!"


"Apa katamu???!!!" teriak Inuyasha dan Shiro bersamaan mendengar ucapan Jaken.


"Pelankan suara kalian!!" teriak Jaken membalas tanpa takut.


Tidak jauh di belakang Inuyasha dan yang lainnya, Shippo menatap apa yang terjadi sambil menggeleng kepala. "Mereka semua memang idiot! Bagaimana mereka percaya bahwa Sesshoumaru dan Shura tidak menyadari kehadiran mereka?"


"Ya, itulah keluarga Inuyasha dan Jaken." Balas Miroku sambil tersenyum. Dia sama sekali tidak merasa aneh dengan apa yang terjadi di depannya.


Sango, Kohaku, Mamoru, Aya, Maya dan bahkan Kaeda yang berada di samping Miroku ikut mengangguk kepala setuju, sedangkan untuk Yuki, Sora, Koharu dan beberapa youkai tanah netral mereka tidak memberikan reaksi, sebab mereka tahu bagaimanapun juga keluarga Inuyasha adalah bagian dari keluarga inti penguasa tanah barat.


"Aku lebih tidak mengerti," sela Kenji sambil menggaruk kepalanya menatap yang lainnya penuh kebingungan. Tidak tahu kapan, dia juga berada dalam rombongan tersebut. "Kenapa juga kita semua harus berada di sini kalau kalian tahu ayah dan anak itu sudah menyadari kehadiran kita semua."


Tidak hanya dirinya seorang, Inukimi, Kiri, Kira dan para youkai tanah barat juga berada di sana. Mengangkat kepala menatap mereka yang ada di atas pohon, Kenji bertanya pada mantan penguasa tanah barat tersebut. "Kenapa juga kita harus bersembunyi??"


"Cih," cibir Inukimi tidak suka. Dia menurunkan padangannya yang tadi terarah kepada Sesshoumaru dan Shura kepada Kenji. "Kita harus memberikan waktu berdua untuk ayah-anak itu, monyet keparat."


Kiri dan Kira tidak mengatakan apa-apa, tapi dari pandangan tajam mereka yang terarah pada Kenji, terlihat jelas mereka setuju dengan Inukimi, sedangkan untuk para youkai tanah barat, mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan tersebut.


Kenji hanya dapat menghela napas tidak tahu harus mengatakan apa. Memutar kepala ke belakang, dia kemudian menatap Akihiko, Tsubasa, Koga dan para youkai tanah selatan yang sejak tadi juga berada di sana. "Sedangkan kalian? Kenapa kalian ada di sini?"


"Apakah ini adalah gunungmu?" tanya Akihiko tidak peduli. Dia tidak menatap Kenji sama sekali, begitu juga dengan Tsubasa dan yang lainnya.


"Bukan." Jawab Kenji singkat.


"Kalau begitu, diam dan jangan banyak omong kosong." Balas Akihiko lagi. Tidak ada rasa hormat sedikitpun diberikannya kepada youkai yang ratusan tahun lebih tua darinya.


"Benar!"


"Jangan sembarangan, Kenji-san!!"


Koga dan para youkai tanah selatan berteriak setuju membuat Kenji tidak dapat berbuat apa selain menghela napas. "Terserah kalian."


Tsubasa tertawa melihat apa yang terjadi. Menoleh menatap Akihiko, youkai burung itu tersenyum. "Apakah anda akan ikut dalam hanami ini, Akihiko-sama? "


Akihiko menatap Tsubasa sejenak dan membuang muka. "Aku tidak tertarik untuk ikut hanami bersama anjing itu. "


Tsubasa masih tetap tersenyum mendengar jawaban Akihiko, walau sejujurnya dia ingin tertawa, sebab dia tahu, youkai serigala itu bohong. Semua yang ada di sini berkumpul untuk pesta yang belum terlaksanakan sejak akhir musim gugur tahun lalu—bagaimana penguasa tanah selatan itu mengatakan dia tidak tertarik padahal sudah tahu itu?


Perang telah berakhir empat bulan lamanya, tapi kerusakan dan juga masalah-masalah yang harus ditangani sangat banyak, tidak peduli itu di barat, selatan maupun netral. Terlebih lagi utara dan timur yang tidak memiliki penguasa lagi.


Baik Sesshoumaru maupun Akihiko sama sekali tidak tertarik dengan tanah utara dan tanah timur, sehingga perang saudara memperebutkan tahta penguasa pecah di kedua daerah sampai di detik ini. Sedangkan untuk dunia manusia, berkat Sesshoumaru yang menghidupkan para manusia, malapetaka yang ada terhindari, dan mereka sudah mulai membangun kembali desa maupun kota yang hancur—kehidupan mereka sudah mulai kembali seperti biasanya dalam kedamaian.


Akihiko kemudian kembali menatap Tsubasa. "Kemana kau akan pergi setelah ini? "


Tsubasa sudah meninggalkan tanah selatan. Sejak musim panas tahun lalu sampai sekarang, youkai burung itu berkelana ke berbagai tempat. Tanpa tujuan menikmati kebebasan dan alam yang ada di jepang.


"Hamba akan ke timur—hamba dengar bunga sakura di sana cukup indah untuk dinikmati. " Jawab Tsubasa sambil tersenyum lebar.


Akihiko mengangguk kepala. Menatap wajah Tsubasa, dia tahu, youkai burung itu sangat menikmati hari-hari yang dilaluinya sekarang, dan dia ikut gembira untuk itu, sebab mereka adalah sahabat. "Jika suatu saat kau sudah lelah berkeliling dunia, ingatlah—tanah selatan selalu ada untukmu."


Senyum Tsubasa hanya semakin lebar mendengar ucapan Akihiko. Mengangguk pelan, dia merasa hangat dalam hatinya. Perasaannya untuk youkai serigala tersebut sekarang tidak menyakitkan lagi-apakah dia tidak mencintainya lagi?—dia masih sangat mencintainya. Hanya saja sekarang, dia belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri.


Hiduplah dengan bahagia..


Ucapan wanita manusia itu, Tsubasa kini berani mengatakan dia mulai bisa melakukannya-dia bahagia. Kebebasan dan kedamaian—kebahagiaan yang tidak pernah dia sangka ada, karena dulu dia berpikir kebahagiaan itu hanya ada saat Akihiko membalas cintanya.


"Anda akan pulang ke tanah selatan, kan, Tsubasa-sama?" tanya seorang youkai muda pelan menatap penuh harap pada Tsubasa.


Tsubasa menatap youkai muda itu dan mengenalnya, yakni; Ren. Putra satu-satunya dari Kei, pemimpim klan youkai beruang putih keeprcayaan Akihiko.


"Anda harus pulang. Tanah selatan adalah rumah anda walau apapun ymg terjadi. Banyak yang menunggu anda pulang" lanjut Ren cepat. Wajahnya yang menatap Tsubasa kemudian memerah. "A-aku juga menunggu anda pulang... "

__ADS_1


Akihiko yang mendengar ucapan dan melihat reaksi Ren tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Dia tidak bodoh, semua yang melihat pasti mengerti maksud ucapan youkai muda tersebut. Mendekati Tsubasa tepat di depannya?—keberanian itu patut dipuji.


"Ren!!" Koga memukul keras punggung Ren. Dia yang dari tadi melihat youkai muda itu tidak dapat menahan dirinya. "Apakah kau berpikir kau memiliki kesempatan meskipun Tsubasa-san sudah tidak bersama Akihiko-sama?"


Wajah Ren memerah luar biasa mendengar pertanyaan Koga. Menatap Tsubasa yang tidak memberikan reaksi sedikitpun, dia kemudian melarikan diri tanpa mengatakan apapun.


"Koga," Kei, sang youkai beruang putih, ayah dari Ren menepuk pundak Koga dan menghela napas. "Setidaknya sisakan lah sedikit wajah untuk anakku di depan wanita yang sudah disukainya selama dua ratus tahun. "


"Oh," seru Koga. Sadar dengan apa yamg dilakukannya, dia kemudian tertawa gugup meminta maaf. "Maaf, aku sudah keterlaluan."


Ren, putra dari Kei sang pemimpin youkai klan beruang putih menyukai Tsubasa sudah bukanlah rahasia lagi. Youkai beruang itu sudah menyukai youkai burung tersebut sejak pertama kali melihatnya dua ratus tahun yang lalu.


Menatap Tsubasa, Kei tertawa. "Maklumi putraku jika ada yang menyinggungmu, Tsubasa. "


Tsubasa tersenyum dan menggeleng kepala. "Tidak, Kei-san, ucapan Ren tidak salah. Suatu saat, saat aku sudah cukup melihat dunia, aku pasti akan pulang ke tanah selatan, sebab tanah selatan selamanya adalah rumahku."


Tsubasa lahir di tanah selatan dan tumbuh besar di selatan, dari seekor burung hingga menjadi youkai, terlebih lagi, saat dia melihat wajah-wajah mereka yang ada di depannya sekarang, dia tahu bahwa seumur hidupnya, selatan selamanya adalah rumah di mana orang yang berarti baginya berada.


"Kau kira aku takut padamu, Inuyasha???!!" Suara teriakan kuat Jaken terdengar. "Aku masih belum membuat perhitungan denganmu akan sikap kurang ajarmu dan putramu kepada Shura-sama!! Kalian benar-benar tidak terdidik!! Shura-sama adalah penguasa tanah barat masa depan, tahu!!!"


"Ulangi sekali lagi!!" balas Inuyasha sambil berteriak. "Kau cari mati, ya???"


Tsubasa melihat perdebatan Inuyasha dan Jaken yang tidak ada habisnya. Mengabaikannya, dia kemudian menatap Sesshoumaru dan Shura yang terlihat tidak peduli sedikitpun dengan apa yang terjadi. Seulas senyum kemudian memenuhi wajahnya—wanita manusia yang telah tiada itu pasti gembira melihat ayah-anak itu telah berhasil melewati batasan pemisah diantara mereka.


Dikejauhan, Shura yang bisa mendengar jelas interaksi semua orang tidak berkata apa-apa, tapi keributan yang ada sejujurnya sangat menganggu dirinya.


"Abaikan mereka, Shura" ujar Sesshoumaru tiba-tiba. Dia hanya menatap ke depan tanpa menoleh pada Shura, tapi dia jelas tahu apa yang ada dalam pikiran putranya. "Anggap saja ini adalah latihan untuk mengendalikan dirimu."


"Shura mengerti, ayahanda." Balas Shura pelan. Dia tidak mengatakan apapun lagi, begitu juga dengan Sesshoumaru. Dalam diam, kedua ayah anak itu melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak gunung hare. Hanya saja, mata sang anak tidak pernah lepas dari mata sang ayah.


....xOxOx....


"Kecil," panggil Inuyasha sambil menatap Shura yang ada di depannya lekat. "Bagaimana bisa kau menyia-nyiakan waktumu bersama Sesshoumaru dalam keheningan seperti itu?? "


Shura menatap Inuyasha malas. Duduk di atas tikar yang terbentang di atas tanah, dia yang dari tadi menatap Sesshoumaru di kejauhan sama sekali tidak membalas pertanyaam inuhanyou tersebut. Pewaris tanah barat itu bahkan juga tidak peduli dengan kesibukan dan keributan para youkai tanah barat maupun selatan yang sedang menyiapkan keperluan pesta.


"Inuyasha," Kagome memukul kepala Inuyasha pelan dan tersenyum pada Shura. "Jangan mempedulikan dia, Shura. "


"Paman dan Shura itu sejenis," Sela Shiro, matanya menatap Shura penuh waspada, sedangkan kedua tangannya terangkat untuk memisahkan Sakura dari inuyoukai kecil tersebut. "Jadi, apa yang dapat diharapkan?"


Miroku, Sango, Shippo, Kohaku dan bahkan Kaeda yang juga ada disana mengangguk kepala setuju dengan ucapan Shiro.


"Aku selalu berharap cucuku mirip dengan ibunya," timpah Inukimi tiba-tiba. Tidak tahu sejak kapan, di telah berada di sana bersama Kenji, Kiri, Kira dan bahkan, Jaken. "Tapi, dia terlalu mirip dengan ayahnya."


"Apa salahnya mirip dengan Sesshoumaru-sama??" teriak Jaken marah. "Shura-sama akan tumbuh besar menjadi penguasa luar biasa seperti ayah kandungnya!!!"


Kiri dan Kira tidak memberikan reaksi, tapi ini adalah pertama kalinya mereka setuju dengan ucapan youkai katak tersebut.


Shura tetap tidak memberikan reaksi, dan sejujurnya dia juga malas menjelaskan pada mereka. Namun, saat mata emasnya bertemu dengan mata emas Sakura yang menatapnya penuh kekhawatiran, dia menghela napas. Sampai hari ini, Shura masih tidak mengerti, bagaimana mata emas Sakura yang begitu identik dengan mata ayah dan kakaknya bisa memberikan efek yang begitu luar biasa untuknya—dia cuma ingin mata itu berbinar gembira.


"Ayahanda bercerita banyak tentang ibunda." Ujar Shura pelan dengan wajahnya yang datar tanpa emosi.


Ucapan Shura seketika membuat semua yang ada menatapnya bingung. Mereka yakin tidak ada pembicaraan sedikitpun antara ayah-anak itu sepanjang perjalanan.


"Mata ayahanda bercerita," lanjut Shura menjelaskan. Dia ingat betapa lembut mata ayahandanya sepanjang perjalanan. "Mata ayahanda kadang akan melihat ke depan namun kadang ke belakang, dan Shura ini tahu, beliau melihat bayangan ibunda di sana—ibunda adalah orang yang akan berjalan dengan bebas saat bersama ayahanda. Mata ayahanda akan berhenti sesaat waktu melihat bunga di tepi jalan—ibunda adalah orang yang menyukai bunga. Mata ayahanda akan mengikuti kupu-kupu yang terbang—ibunda adalah orang yang akan berlari mengejar kupu-kupu saat melihatnya. Ibunda adalah wanita yang ceria, penuh semangat dan menyukai alam... "


Semua yang ada terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan Shura.


"Shura ini tidak perlu menjelaskannya satu persatu pada kalian, kan?" tanya Shura datar menatap semua yang ada.


Keheningan masih memenuhi mereka. Namun, suara tangis keras Jaken tiba-tiba terdengar. "Benar!! Seperti itulah Rin!! Anda benar sekali akan sosok ibu kandung anda, Shura-sama!!!"


Plok-plok-plok.


Kagome, Miroku, Sango dan Shippo bertepuk tangan menatap takjud Shura. Ini adalah pertama kali mereka mendengar inuyoukai itu berbicara sepanjang ini, dan juga, apa yang dikatakannya sungguh tepat.


"Ternyata Shura memang putra Rin," Ujar Miroku yang tidak henti-hentinya bertepuk tangan. "Dia bisa membaca mata Sesshoumaru dan menafsirkannya dalam kalimat."


Shura tidak berkomentar apapun lagi. Mata emasnya kembali mencari mata Sakura, dan saat dia melihat mata itu berbinar gembira, dia kembali menoleh menatap Sesshoumaru. Inuyoukai kecil itu tidak peduli lagi dengan suara tangis Jaken atau pembicaraan Inuyasha dan yang lainnya.


Menatap punggung Sesshoumaru yang berdiri menatap pohon sakura tempat peristirahatan terakhir ibu kandungnya, Shura tahu, ayah kandungnya pasti sedang mengenang beliau yang telah tiada.


Di kejauhan, Sesshoumaru menatap pohon sakura yang mekar dengan sempurna di depannya tidak mempedulikan apapun—tidak untuk suara keributan yang ada, tidak juga untuk pandangan Shura yang terarah padanya. Inudaiyouki hanya terus menatap pohon sakura tersebut—pohon tempat peristirahatan wanita manusia yang dicintainya. Kenangan akan senyum dan tawa sang wanita memenuhi pikiran, hanya saja kali ini, tidak ada lagi kesakitan dalam hati.


Suara langkah kaki seseorang tiba-tiba mendekatinya, dan Sesshoumaru tidak menoleh sedikitpun meski dia tahu yang mendekatinya sekarang adalah sang penguasa tanah selatan, Akihiko.


Berdiri di samping Sesshoumaru, Akihiko juga mengangkat kepalanya menatap sakura di depan. Dia tidak mengatakan sepatah katapun, diam membisu, keheningan memenuhi mereka. Hanya kebisingan dari mereka yang sedang menyiapkan hanami saja yang terdengar di belakang.


"Rin," ujar Akihiko kemudian, mata biru langitnya melembut seakan sedang melihat wanita yang telah tiada tersebut. "Aku sudah menepati janjiku."

__ADS_1


Sesshoumaru tetap tidak mengatakan sepatah katapun mendengar ucapan Akihiko.


"Dan aku akan selalu menepati janji itu—aku akan selalu melindungi putramu," Lanjut Akihiko lagi sambil tersenyum.


Sesshoumaru mendengar semua ucapan Akihiko, tapi, dia tidak memberikan reaksi seakan tidak mendengarnya.


"Aku ingin memberitahumu, putramu akan tinggal di istanaku, dia mengatakan akan ikut denganku ke selatan setelah hanami ini selesai. Karena dia ingin menepati janji diantara kami, di mana dia tidak akan pulang ke barat sebelum mengalahkanku." Tertawa keras, Akihiko merasakan kepuasan dalam hatinya saat mengingat bagaimana sosok inuyoukai kecil itu masih memegang teguh janji di antara mereka.


Sesshoumaru masih diam membisu. Keputusan Shura ini, dia sudah tahu, dan dia tidak keberatan sedikitpun, karena dia percaya putranya akan menang dan pulang ke tanah barat cepat atau lambat.


"Aku tidak akan mengalah untuk hal ini," masih tertawa, Akihiko tidak menolehkan sedikitpun pandangannya dari bunga sakura di atasnya. "Karena itu, putra kesayanganmu itu masih akan tinggal untuk waktu yang lama di selatan."


Tawa Akihiko kemudian terhenti dan berubah kembali menjadi senyum lembut. "Tapi tenanglah, aku berjanji padamu, setiap tahun saat musim semi datang dan bunga sakura mekar, aku akan membawanya mengunjungimu di sini—kau bisa melihatnya setiap tahun."


Rin.


Wanita manusia yang dicintainya; obsesinya. Walau cintanya tidak pernah tersambut, walau dia telah melupakan obsesinya—walau manusia itu telah tiada, bagi Akihiko, wanita itu selamanya akan menjadi sosok yang sangat berharga.


Akihiko-sama, terima kasih telah hadir dalam dunia Rin. Apapun yang terjadi kelak dikedepannya, Rin sungguh berharap anda tetap menjadi anda—Rin berharap anda selalu sehat dan bahagia...


Akihiko yang telah melepaskan semua yang ada bisa merasa, seperti halnya Tsubasa yang tidak pernah mendapatkan cintanya namun sudah mulai menemukan kebahagiaannya, sang penguasa tanah selatan tahu, dia juga akan menemukan kebahagiaannya.


"Aku akan bahagia," sepuluh tahun yang lalu, dia tidak bisa mengucapkan dia bisa bahagia, tapi sekarang dia bisa mengucapkannya. Cinta tidak berarti memiliki, cinta tidak berarti harus bersama—cinta itu mengajarkan kita arti hidup. Hidup sebagai dirimu sendiri, karena kebahagiaan adalah pilihan dan berada pada tanganmu sendiri bukan orang lain. "Sampai ketemu lagi, Rin."


Tidak mempedulikan Sesshoumaru yang masih diam membisu, Akihiko kemudian membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Dia menuju tempat di mana Tsubasa, Koga, Kei dan para youkai tanah selatan berada. Mata biru langitnya bisa melihat senyum dan tawa di wajah mereka saat menyambutnya. Seulas senyum menghiasi wajah tampannya. Mereka yang selalu ada untuknya—Ya, penguasa tanah selatan bahagia sekarang.


Sesshoumaru yang ditinggalkan sendiri tidak bergerak. Dia tahu, youkai serigala itu secara tidak langsung memberitahunya bahwa dia bis melihat Shura di sini setiap musim semi saat bunga sakura mekar. Tapi, dari pada itu, dia lebih memikirkan ucapan Akihiko akan—bahagia.


"Ayahanda.."


Sesshoumaru membalikkan badannya begitu memdengar suara Shura yang memangilnya pelan. Mata emasnya melihat putranya berdiri tidak jauh dibelakangnya.


"Semua persiapan sudah selesai," ujar Shura pelan. Berdiri tegap, mata emasnya membalas tatapan mata Sesshoumaru lurus. "Pesta akan segera dimulai."


Mengangkat pandangannya ke depan, dia melihat Inuyasha dan yang lainnya, Inukimi dan para youkai tanah barat melambaikan tangan kepadanya.


"Kakak!! Ayo, kemari!!"


"Sesshoumaru, jangan membuat ibumu menunggu lama, cepat kemari!!"


"Pesta tidak akan dimulai tanpamu, Sesshoumaru-san!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


Kehangatan kecil tiba-tiba menyentuh tangan kanan Sesshoumaru, menurunkan pandangannya, dia melihat jari-jemari Shura telah mengenggam jarinya. Seulas senyum musim semi yang dicintainya memenuhi wajah sang anak. "Ayo, ayahanda..."


Angin bertiup lembut membawa harumnya musim semi di udara, dan Sesshoumaru merasakan sepasang tangan kecil yang kasat mata mendorongnya dari belakang, bisikan lembut penuh cinta tergiang dalam telinganya.


Bahagia...


Sesshoumaru mengangguk dan membalas gengaman tangan Shura. Melangkah bersama putranya, dia menuju tempat dimana cahaya-cahaya dalam hidupnya ada-keluarganya, sahabatnya; tempat dia seharusnya berada.


Ya, Sesshoumaru ini akan bahagia...


.......


.......


.......


.......


Dulu-dulu sekali, ada sebuah kisah. Kisah yang tidak tertulis dalam sejarah, hanya diceritakan melalui mulut ke mulut-sebuah cerita rakyat atau dongeng; sebuah legenda. Ada yang mengatakan kisah ini berasal dari daerah Kyoto, tapi ada juga yang mengatakan kisah ini berasal dari daerah Osaka, namun diceritakan kisah ini berasal dari wilayah barat jepang.


Kisah yang bercerita tentang seorang youkai dan seorang wanita manusia. Mereka bertemu dititik terendah hidup mereka, dan tidak tahu bagaimana, mereka yang begitu berbeda melalui waktu bersama, lalu dalam berjalannya waktu, tanpa disadari—cinta hadir di antara mereka.


Karena cintanya pada youkai, pada saat perang youkai melanda, saat para youkai mati, dengan air matanya, sang wanita menghidupkan para youkai yang mati. Lalu, pada saat wanita itu telah tiada, saat malapetaka dialami manusia, saat ribuan manusia kehilangan nyawa, karena cintanya pada sang wanita, sang youkai mengayunkan pedangnya dan menghidupkan para manusia.


Youkai dan manusia.


Sejak dahulu kala, cinta antara mereka adalah cinta yang menentang hukum alam. Youkai tidak seharusnya mencintai manusia dan manusia juga tidak seharusnya mencintai youkai—cinta yang salah; tabu. Tapi, dalam kisah sang youkai dan sang wanita yang ada, siapa yang bisa menyalahkan cinta mereka? Jika cinta mereka adalah cinta yang salah, bagaimana cinta yang benar di dunia ini?


Hanya saja, legenda tidak dapat dibenarkan, kisah yang tidak tertulis dalam sejarah tidak memiliki bukti kebenarannya. Tidak ada yang dapat membuktikan keaslian legenda. Tapi, kisah itu tidak pernah terhenti dan akan selalu diceritakan sepanjang waktu—kisah cinta seorang Inudaiyoukai dan seorang wanita manusia dari barat.


.......


.......

__ADS_1


.......


...The end....


__ADS_2