![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Shiro, Mamoru, jangan lari!!" Panggil Aya dan Maya bersamaan. Kedua saudari kembar itu berlari mengejar kedua adik mereka di luar taman kamar Rin.
"Tidak!! Tangkap kami!!" Tawa Mamoru gembira.
"Cangkap!! Cangkap!!" Sambung Shiro sambil tertawa lepas.
Suara tawa para anak kecil memenuhi taman terdengar sampai dalam kamar Rin. Namun, di dalam kamar itu sendiri, sang pemilik kamar menatap bingung Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Inukimi yang duduk di depannya.
Kecuali Inuyasha yang berwajah masam, yang lainnya menatap dirinya dengan senyum lebar yang sangat aneh. Tidak ada seorangpun yang menjawabnya saat Rin bertanya ada apa, mereka hanya menggeleng kepala dengan senyum yang tetap sama.
"Rin-sama," suara panggilan seseorang yang serak tiba-tiba terdengar. "Bolehkah hamba masuk?"
Rin dan semuanya langsung menolehkan kepala pada pintu kamar yang tertutup. Kebahagiaan memenuhi hati gadis manusia itu, tapi sejenak kemudian kerutan kecil muncul di dahinya. Suara tadi suara Jaken-sama, kan?–apakah ini berarti Sesshoumaru-sama sudah pulang?–tapi, kenapa dia memanggil dirinya, Rin-sama?
"Masuk, katak kecil." Tawa Inukimi gembira. Dia menjawabnya menggantikan Rin yang kebingungan.
Pintu kamar Rin segera terbuka, dan mata semua orang dapat melihat sosok Jaken yang berjalan masuk dengan sebuah kotak besar berwarna hitam di tangannya.
Berlutut dan memberi hormat pada Rin, Jaken mempersembahkan kotak di tangan pada gadis manusia yang menatapnya penuh kebingungan. "Sesshoumaru-sama meminta hamba mengantarkan ini pada anda, Rin-sama."
"Jaken-sama, kenapa anda memanggil Rin, Rin-sama?" tanya Rin bingung. "Dan kenapa anda bersikap penuh hormat seperti ini? Anda sakit, ya?"
Jaken segera menggeleng kepala. "H-hamba baik-baik saja, Rin-sama. Tidak perlu khawatir."
Jawaban Jaken hanya membuat Rin semakin bingung. Jelas ada yang salah pada youkai katak di depannya. Sejak kecil hingga besar, tidak pernah Jaken bersikap seperti ini padanya.
"Indah sekali.." suara Kagome yang pelan penuh kekaguman tiba-tiba menarik perhatian Rin.
Menoleh matanya menatap Kagome, dia bisa melihat, tidak hanya miko masa depan itu, baik Inuyasha, Sango, Miroku maupun Inukimi, mata mereka tertuju ke depan pada Jaken, atau tepatnya pada kotak hitam yang dibawa Jaken.
Perlahan, mata coklat Rin kembali terarah ke depan. Tertegun, dirinya tidak dapat mengatakan apa-apa, saat dia memperhatikan baik-baik kotak hitam yang ada di depannya.
Kotak itu cukup besar dengan panjang sekitar satu meter dan lebar setengah meter. Kotak terbuat dari kayu eboni yang dicat hitam mengkilat dengan emas murni yang dibentuk menjadi bunga sakura menghiasi sekeliling kotak. Permata berlian besar berwarna putih dan merah jambu tersebar memenuhi tiap kelopak bunga. Lalu, lambang kebesaran barat yang terbuat permata rubi merah berlampis emas menghiasi tengah kotak.
Sekali lihat–siapapun akan sadar, kotak hitam ini adalah kotak yang tidak terkira harganya.
"I-ini.." ujar Rin terbata-bata tidak tahu harus mengatakan apa karena masih tertegun dengan kotak hitam tersebut.
"Ugh, Sesshoumaru benar-benar luar biasa.." gumam Miroku dan menggeleng kepala. Dia menoleh wajah menatap Inuyasha dan yang lainnya yang masih terdiam membisu. Seumur hidup, dia yakin, kotak itu akan menjadi barang paling berharga yang pernah dilihat mereka.
"Buka kotak itu, Rin kecil." Perintah Inukimi yang ada di belakang Rin tiba-tiba. Senyum puas memenuhi wajah cantiknya. Dia senang, karena putra bodohnya itu tahu hadiah lamaran yang tidak akan mempermalukan kebesaran barat.
"Eh??" seru Rin tersadar dari rasa tertegunnya. Dia segera menoleh wajahnya ke belakang.
"Benar! Bukalah kotak itu, Rin-chan!" setuju Kagome cepat. Kedua mata hitamnya berbinar penuh suka cita.
"Iya, Rin-chan," tambah Sango tidak mau kalah. "Bukalah kotak itu."
Penuh kebingungan dan kehati-hatian, perlahan, Rin kemudian membuka kotak tersebut. Kedua mata coklatnya terbelalak saat melihat isinya.
Sehelai kimono berwarna putih dengan obi berwarna merah muda terlipat rapi di dalamnya.
Mengeluarkan kimono putih itu, Rin kembali kehilangan kata. Kimono putih ini adalah kimono terindah yang pernah dilihatnya. Berwarna putih indah bagaikan salju dengan bunga sakura yang mekar indah menghiasi lengan dan bawah kimono. Bunga itu sendiri terasa sangat nyata bagaikan hidup. Berwarna merah jambu dengan benang emas tipis terjahit mengelilinginya.
Rin tidak tahu dari bahan apa kimono indah ini dibuat, tapi, kimono itu sangat lembut dan juga hangat. Menyentuhnya, tidak tahu mengapa, dia teringat pada sosok inuyoukai yang dicintainya.
"Indah sekali.." puji Kagome dan Sango bersamaaan. Mata mereka kembali terpana, kimono di tangan Rin merupakan kimono terindah yang pernah dilihat mereka.
"S-sesshoumaru.." Ujar Inuyasha tiba-tiba. Kedua matanya terbelalak tidak percaya menatap kimono tersebut. Berdiri, dia segera melangkah mendekati Rin dan mencium-cium bau kimono tersebut.
"Tidak mungkin!" Seru Inukimi kemudian. Berdiri, dia juga ikut melangkah mendekati Rin. Kedua mata emasnya juga ikut terbelalak menatap kimono itu lekat.
Rin, Kagome, Miroku dan Sango yang melihat reaksi Inuyasha dan Inukimi menjadi penuh kebingungan.
"Katak kecil," panggil Inukimi pelan. Mata emasnya terarah pada Jaken yang masih berlutut tanpa gerak. "Apa yang kulihat dan kucium ini benar?"
Jaken menelan ludahnya mendengar pertanyaan Inukimi. Mantan penguasa tanah barat ini memang jeli, dia langsung mengetahui apa bahan utama dari kimono itu sesungguhnya. "I-iya, yang anda lihat itu benar, Inukimi-sama."
Jawaban Jaken langsung membuat Inukimi tertawa terbahak-bahak. Mengangkat tangan kanannya menutup mata, dia menggeleng kepala tidak percaya. Putranya yang bodoh, putranya berkebangaan tinggi–dia telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dipredeksinya.
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa saat mendengar jawaban Jaken dan melihat reaksi Inukimi. Berdecak tidak suka, dia kemudian kembali ke tampat duduknya. Melipat kedua tangan dia membuang muka tidak peduli. Tetapi, tidak dapat dipungkiri juga, ada perasaan lega dalam hati; keseriusan Sesshoumaru, dia bisa melihatnya dalam kimono itu.
"Ada apa sebenarnya, Inuyasha?" tanya Kagome bingung.
"Cih, bukan urusanku." Jawab Inuyasha tidak peduli.
Jawaban ambigu Inuyasha membuat Rin, Kagome dan yang lainnya kebingungan. Namun, belum sempat bertanya lebih, suara Jaken yang tiba-tiba merebut perhatian semua yang ada. "Rin-sama, Sesshoumaru-sama juga meninggalkan pesan untuk anda."
Menelan ludah karena pandangan semua orang yang tertuju padanya, Jaken kembali membuka mulut. "Sesshoumaru-sama, meminta anda memakai kimono ini dan menemuinya di ruang kerjanya, j-jika anda ingin bersamanya."
"Eh???" seru semua yang ada dalam kamar bersamaan, kecuali Rin yang kembali kebingungan.
"Tidak seperti ini, kakak!!" teriak Kagome kesal tiba-tiba. "Kakak ini sama saja dengan Inuyasha??! Tidak mengerti hati wanita!!"
"Hei, Kagome!! Jangan samakan aku dengan si berengsek itu!!" protes Inuyasha kesal. Kedua mata emasnya menatap lekat Kagome tidak suka.
"Aahhh, ternyata Inuyasha dan Sesshoumaru memang saudara," sela Miroku dan menghela napas panjang. "Padahal aku sudah memberikan tips-tips untuknya."
Sango tertawa kecil dan menepuk pundak Miroku. "Sesshoumaru itu kayu, Miroku. Kau sudah berjuang."
Rin yang tidak mengerti maksud pembicaraan Inuyasha dan yang lainnya hanya dapat berdiam diri menatap mereka penuh kebingungan. Dia merasa hari ini adalah hari yang aneh, sikap Jaken, Inukimi, Inuyasha dan yang lainnya sama sekali tidak dapat dimengertinya.
"Rin kecil," panggil Inukimi tiba-tiba. Tangan kanannya kemudian menepuk pundak Rin pelan. "Pesan putra bodohku, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan mengenakan kimono ini dan menemuinya? Apakah kau mau bersamanya?"
Rin tersenyum lebar mendengar pertanyaan-pertanyaan Inukimi. Kenapa mantan penguasa tanah barat ini masih bertanya padanya?–bukankah sudah jelas sekali bahwa keinginan terbesarnya seumur hidup adalah selalu bersama inuyoukai itu. Hari ini benar-benar hari yang aneh sekali.
"Rin akan memakainya dan menemui Sesshoumaru-sama." Tawa Rin kemudian.
Senyum dan tawa Rin seketika membuat Inukimi sadar. Gadis manusia ini sepertinya tidak menyadari makna dari kimono dan maksud pesan Sesshoumaru. Tapi, dirinya juga tidak mau menjelaskannya; itu tugas putra bodohnya.
Tersenyum, Inukimi menatap Inuyasha dan yang lainnya. "Laki-laki keluar. Miko aneh, taijiya, bantu aku mengganti kimono Rin kecil."
....xOxOx....
"Rin pergi sekarang." Ujar Rin yang segera di sambut senyum Kagome dan yang lainnya.
Melangkah meninggalkan kamar, mata Kagome dan yang lainnya menatap sosok gadis berkimono putih indah itu hingga menghilang dari pandangan.
"Inuyasha, Inukimi-san," panggil Kagome kemudian. Kedua mata hitamnya menatap inuhanyou dan inuyoukai itu bersamaan. "Kenapa kalian berdua terkejut sekali saat melihat kimono itu? Apakah ada yang aneh dari kimono itu?"
Pertanyaan tiba-tiba Kagome membuat Inuyasha berdecak tidak suka dan membuang muka. Namun, tidak untuk Inukimi, inuyoukai itu tertawa terbahak-bahak.
"Karena bahannya." Jawab Inukimi kemudian sambil tersenyum.
"Bahan?" tanya Kagome, Sango dan Miroku bersamaan bingung.
Inukimi mengangguk kepala. "Iya. Bahan untuk kimono Rin adalah ....."
"Apa??????"
....xOxOx....
Rin berjalan pelan menuju ruang kerja Sesshoumaru. Semakin dekat, jantungnya semakin berdetak cepat. Kedua mata coklatnya kembali mengamati kimono yang dikenakannya untuk kesekian kalinya.
Kimono putih ini merupakan kimono terindah yang pernah dilihatnya. Berapa harga kimono ini, Rin sendiri juga tidak berani membayangkannya. Kenapa Sesshoumaru menghadiakannya kimono ini, dia sebenarnya tidak tahu. Lalu, yang paling penting, benarkah dirinya boleh mengenakan kimono ini?
Namun, mengesampingkan semua perasaan bingung itu, dia juga tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia dalam hati, sebab–Sesshoumaru sudah pulang. Dia bisa melihat lagi inuyoukai itu setelah sekian lama.
Tiba di depan pintu ruang kerja Sesshoumaru, Rin menelan ludah dan mengamati penampilannya sekali lagi, sebelum membuka suaranya. "Sesshoumaru-sama."
"Masuk, Rin." Suara tenang dan datar Sesshoumaru terdengar dari dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Menghela napas dan memberanikan diri, Rin kemudian membuka pintu ruang kerja dan melangkah masuk ke dalam.
Dengan kepala tertunduk ke bawah, wajah Rin memerah. Dia tidak tahu apa reaksi yang akan diberikan inuyoukai itu saat melihatnya mengenakan kimono seindah ini. Apakah dia akan terlihat cantik? Atau apakah dia akan terlihat aneh?
"Rin..."
Suara Sesshoumaru yang memanggil namanya dengan pelan terdengar, dan itu membuat wajah Rin semakin memerah. Gadis manusia itu bisa merasakan sepasang mata emas itu menatapnya, serta langkah kaki yang mendekat ke arah dia berada.
Masih tidak berani mengangkat kepala, Rin bisa melihat jelas sosok tubuh inuyoukai penguasa tanah barat yang kini telah berdiri di depannya. Tidak tahu mengapa, dia merasa gugup sekali hari ini.
Menelan ludah sekali lagi, Rin kemudian tertawa. Mengangkat kepalanya ke atas, dia membuka kedua tangannya untuk memperlihatkan kimono putih yang dikenakannya. Mulutnya dengan sendiri mengatakan kata-kata yang tidak dapat dikontrolnya. "Sesshoumaru-sama, apakah Rin terlihat aneh dan jelek? Rin tahu Rin bodoh, Rin hanya berusaha mempercantik diri supaya tidak memalukan anda, sebab Rin selamanya adalah bawahan anda.."
Ucapan Rin tidak pernah terselesaikan, sebab sosok Sesshoumaru yang ada di depannya membuat dia kehilangan semua kata.
"S-s-sesshoumaru-sama," panggil Rin terbata-bata. Kedua mata coklatnya terbelalak besar tidak percaya. "K-kenapa dengan rambut anda??"
Sesshoumaru berdiri di depan Rin dengan kimono putih sederhana berlambang barat. Wajah tampannya tetap datar tanpa ekspresi seperti biasa, bedanya hanyalah rambut putih keperakan panjangnya kini telah tepotong pendek.
Sesshoumaru bisa melihat jelas ekspresi terkejut gadis manusia di depannya. Tetapi, dia tidak peduli. Kedua mata emasnya terus menatap sosok Rin yang mengenakan kimono hadiahnya–kimono yang terbuat dengan rambut dan darahnya.
Dua bahan yang diminta oleh Onimura untuk membuat kimono itu adalah rambut dan darahnya. Rambut untuk menemun kain, dan darah merah untuk melukiskan bunga sakura.
Kimono itu selamanya hanya akan ada satu di dunia, dan yang dapat mengenakannya juga selamanya hanyalah gadis manusia di depannya; Rin.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi. Tangan kanannya terangkat menyentuh pipi Sesshoumaru. Kedua mata coklatnya bersinar penuh kekhawatiran. "Apa yang terjadi?"
Sesshoumaru tetap tidak menjawab, tangan kirinya bergerak menangkap tangan Rin yang menyentuh pipinya. Kedua mata emasnya menatap gadis manusia yang mengenakan surainya penuh kebanggaan.
Baunya tercium jelas dari badan Rin, membaur dengan harumnya bau musim semi gadis itu. Seulas senyum kecil melintas di wajah Sesshoumaru, kebahagiaan memenuhi hatinya; gadis manusia ini adalah miliknya.
"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin lagi. Pipinya bersemu merah saat melihat ekspresi dan senyum lembut di wajah tampan inuyoukai itu.
"Kau memakainya?–kau menerimanya?" tanya Sesshoumaru pelan.
Rin tertawa dan mengangguk kepala malu-malu. "Iya. Rin suka sekali dengan kimono ini, Sesshoumaru-sama, walau Rin ragu apakah Rin pantas memakainya."
"Kau pantas," balas Sesshoumaru lagi, mata emasnya menatap semakin lembut gadis manusia itu. "Kau satu-satunya yang pantas memakainya."
Jawaban Sesshoumaru membuat jantung Rin berdetak semakin cepat, pipinya kembali bersemu merah. Tapi, kebahagiaan tidak terkira juga memenuhi hati. Mengangguk kepala, dia tersenyum manis.
"T-tapi Sesshoumaru-sama," panggil Rin kemudian tersadar akan pertanyaannya yang belum terjawab. Kedua bola matanya menatap rambut pendek inuyouki itu sedikit kebingungan "Kenapa rambut anda menjadi pendek seperti ini?"
"Tidak apa-apa. Tidak perlu kau pikirkan." Jawab Sesshoumaru datar. Dia menurunkan tangan Rin yang ada di pipinya, tapi tidak melepaskannya.
Rin kembali mengangguk kepala. Meski masih bingung dia tidak akan bertanya banyak jika Sesshoumaru tidak mau menceritakannya.
Tersenyum lagi, Rin kemudian tertawa. "Sesshoumaru-sama, bunga sakura dan bunga lainnya di taman sudah mekar, apakah anda mau melihatnya?"
Pertanyaan Rin membuat Sesshoumaru tertegun. Reaksi gadis manusia itu mau tidak mau membuat dia merasa ada yang aneh. "Rin, apakah kau tahu apa makna dari kimono yang kau kenakan?"
"Makna kimono? Maksud anda Sesshoumaru-sama?" tanya Rin kembali penuh kebingungan.
"Apakah miko, taijiya dan biksu itu tidak memberitahumu?"
"Memberitahu apa?" kebingungan Rin terlihat jelas di wajahnya. Kedua mata coklatnya menatap semakin bingung Sesshoumaru yang tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sesshoumaru menatap takjub pada Rin yang menatapnya polos penuh kebingungan. Meski sudah mengenakan kimono itu, gadis manusia ini masih tidak tahu dia telah melamarnya?
Sesshoumaru tidak tahu harus marah atau tertawa sekarang. Dia sadar, ada sesuatu yang salah dari semua proses lamaran ini sekarang. Dia melamar Rin sesuai dengan tradisi manusia karena gadis itu adalah seorang manusia. Tapi, dia lupa pada kenyataan gadis manusia itu dibesarkan oleh youkai sesuai tradisi youkai dan buta akan tradisi manusia.
Lalu, melihat reaksi Rin sekarang, dia juga yakin, baik miko, taijiya maupun biksu itu juga tidak menjelaskan pada Rin tradisi manusia yang ada. Mengertakan giginya, Sesshoumaru hanya dapat menahan kemarahan dalam hati–dasar manusia tidak berguna!!
"Sesshoumaru-sama, ada apa?" tanya Rin lagi. Kebingungan, dia hanya dapat bertanya pada diri sendiri lagi, kenapa hari ini semua orang aneh sekali?
"Tidak apa-apa," jawab Sesshoumaru dan menutup mata emasnya. Menenangkan diri, dia menepis kemarahan dalam hatinya. Dia tidak ingin hari ini berantakan karena manusia-manusia yang tidak berguna itu. Membuka mata lagi, dia kemudian menatap Rin. "Ayo."
Sikap aneh Sesshoumaru tidak luput dari pandangan Rin. Namun, dia juga tidak bertanya lebih jauh lagi. Mengangguk kepala, dia membiarkan inuyoukai itu mengenggam tangan dan membimbingnya menuju taman sakura di depan kamar tidur sang penguasa tanah barat.
Sesshoumaru mengangguk kepala. Kedua mata emasnya bisa melihat keindahan dalam tamannya. Bunga sakura di atas serta bunga anggrek, mawar, lily, peony, dan sebagainya mekar dengan sempurna. Warna biru, merah, kuning, merah muda, jingga, hijau, coklat, putih dan sebagainya memenuhi pandangan.
Gadis itu berdiri di sana, diantara jutaan warna. Tersenyum dengan begitu cantiknya, lebih indah dari bunga, lebih bersinar dari pada matahari.
Sesshoumaru tahu, meski waktu akan berlalu, meski sosok itu akan menua, meski suatu hari, gadis ini akan menghilang dari hidupnya–selamanya, gadis itu akan tetap menjadi musim seminya.
"Rin," panggil Sesshoumaru kemudian. Mata emasnya menatap lembut gadis yang tersenyum manis. "Duduklah di bawah pohon Sesshoumaru ini ingin melukismu."
"Eh??" seru Rin terkejut. Namun, sejenak dia kembali tersenyum dan mengangguk kepala. "Baik. Rin mengerti."
Membalikkan badannya, Sesshoumaru berjalan menuju kamarnya dan mengambil semua peralatan lukis yang ada. Perlahan, inuyoukai itu kemudian duduk di dalam teras kamarnya dan menatap keluar mencari sosok manusia yang sedang memetik bunga tidak jauh darinya.
"Sesshoumaru-sama, Rin boleh memeluk bunga, kan?" tanya Rin pelan. Dia menoleh ke belakang dan tertawa.
Sesshoumaru mengangguk kepalanya pelan. Kedua tangan inuyoukai itu perlahan menata cat dan kuas yang akan digunakannya ke atas lantai kayu. Membuka kain kanvas mutu terbaik, dia kemudian kembali menatap Rin.
Yang dilihat oleh mata emas itu lagi adalah senyum musim semi yang dicintainya. Duduk di bawah pohon sakura dengan memeluk berbagai bunga yang ada, Rin tertawa kepadanya. Hati Sesshoumaru terasa sangat hangat. Dia ingin mengabadikan waktu ini. Perlahan, inuyoukai itu menggerakkan kuas di tangannya.
Biru untuk langit, hijau untuk rumput, coklat untuk batang pohon sakura, merah muda untuk kelopak bunga sakura, putih untuk bunga lily, merah untuk bunga mawar, jingga untuk bunga anggrek–sejuta warna untuk Rin.
Di setiap gerakan kuas dan setiap warna yang terlukis, dia menyimpan keindahan itu dalam ingatannya. Untuk senyum musim semi itu–Sesshoumaru mengukirnya abadi dalam hati.
Rin tidak bergerak, dia tersenyum menatap Sesshoumaru. Mata lembut dan wajah serius tanpa ekspresi itu. Betapa dia mencintainya. Selamanya, sampai akhir waktu, Rin tahu, dia akan selalu mencintai inuyoukai itu.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin kemudian dengan senyum yang tidak berubah.
Menghentikan gerakan kuasnya, Sesshoumaru mengangkat kepala menatap Rin sejenak.
"Rin mencintai anda–selamanya dan selalu."
Pengakuan cinta yang tidak tahu keberapa kalinya. Namun, selalu membuat hati Sesshoumaru hangat. Tersenyum, inuyoukai itu kembali menundukkan kepala ke bawah dan melukis. "Sesshoumaru ini tahu, Rin."
Rin tidak mengatakan apa-apa lagi dengan pipi yang bersemu merah. Menatap Sesshoumaru dia tertawa kecil. Hari ini, sudah dua kali dirinya melihat inuyoukai itu tersenyum lembut.
Perubahan Sesshoumaru, Rin jelas bisa merasakannya, dan dia–menyukainya. Betapa tampannya inuyoukai itu saat tersenyum lembut, dia tidak menemukan kata untuk mengambarkannya. Seperti mimpi, jika bisa, dia ingin selamanya seperti ini, hanya mereka berdua–Sesshoumaru dan Rin selamanya.
Mebuka mulutnya lagi, sambil mengamati Sesshoumaru yang melukisnya, Rin mulai bernyanyi dengan lembut.
Sakura
hira hira mai ochiru
momo’iro no hanabira
tsunaida kimi no te wo
gyutto nigitta
Sesshoumaru bisa mendengarnya lagi. Lagu yang sama dengan lagu yang dinyanyikan Rin di hanami dalam istana tanah selatan. Lagu cinta yang dikarang gadis manusia itu tahun lalu.
sakura tsudzuku massugu na michi
kaze ga futari wo sotto tsutsumu
tonari aruku dake de
konna shiawase wo
kanjirareru nante
shirarnakatta
Suara yang merdu bagai dentingan lonceng menyanyikan lagu cinta untuknya. Sesshoumaru hanya bisa tersenyum kembali.
__ADS_1
hira hira mai ochiru
momo’iro no hanabira
kisetsu ga kawattemo
zutto soba ni ite
Gadis yang sedang bernyanyi dalam taman bunga, mekar bagaikan bunga itu sendiri.
kimi no sugata ga mieru dake da
naze ka itsumo anshin dekiru
kurushii koto ga aru to
kimi ni sasaerarete
ureshii koto ga aru to
tsutaetakute
Betapa damai dan tenangnya saat mereka bersama. Sesshoumaru menyadari, betapa dirinya bisa tersenyum hanya dengan melihatnya.
ima waratta kao mo
namae wo yobu koe mo
kimi jyanakya dame da yo
dou ka shitte’ite
Ingin melindunginya, ingin dia selalu tersenyum dan tertawa–ingin dia bahagia. Tidak tahu sejak kapan, itu menjadi sesuatu yang paling diinginkannya, melebihi keinginan menjadi kuat.
tatta hitori no hito
mitsuketa ki ga shiteru
tonari de kimi mo
onaji kimochi nara …
Gadis manusia itu merubahnya. Cara pikirnya, cara pandangannya, cara hidupnya–perasaannya. Namun, Sesshoumaru tidak menyesal. Jika waktu diputar kembal, dia tetap akan menghidupkan dan bersama gadis manusia ini lagi.
Kenapa?–karena gadis manusia inilah yang mengajarkannya arti hidup yang sesungguhnya–arti kebahagiaan.
hira hira mai ochiru
momo’iro no hanabira
kisetsu ga kawattemo
zutto soba ni ite
Nyanyian perlahan usai, tersenyum lagi, Rin menatap Sesshoumaru. Matanya berbinar gembira penuh suka cita–kebahagiaan.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi. Rin duduk dalam diam dengan seulas senyum di wajah dan kadang tertawa. Sedangkan Sesshoumaru, inuyoukai itu hanya terus melukis, menatap gadis manusia itu sejenak dan kembali melukis lagi.
Kedamaian dan ketenangan.
Langit biru berubah menjadi kemerahan, dalam waktu yang terus berjalan, tidak ada suara lain lagi di taman, hingga akhirnya Sesshoumaru meletakkan kuas di tangan yang menandakan lukisannya telah selesai.
"Apakah lukisannya sudah selesai, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin kemudian dengan wajah penuh senyum.
Sesshoumaru mengangguk kepala menjawab pertanyaan gadis itu.
Tertawa, Rin segera bangkit berdiri dan berlari ke arah Sesshoumaru. Meletakkan bunga yang dipeluknya, dia segera duduk di samping inuyoukai itu menatap lukisan yang baru selesai.
Rin tertegun saat melihat lukisan itu. Sesshoumaru sangat berbakat dalam melukis, dia sudah tau. Lukisannya selalu indah hingga dia selalu teresona. Namun, untuk lukisan ini–gadis manusia itu kehilangan kata.
Gadis manusia dalam lukisan tergambar dengan sangat baik bagaikan hidup. Rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir munggil serta pipi sewarna mawar merah, mata coklat besar yang jernih dan bersinar penuh keluguan—gadis manusia yang sangat-sangat cantik.
"Apakah ini Rin, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin pelan. Dia menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru. "Apakah Rin secantik lukisan ini?"
Sesshoumaru seakan ingin tersenyum lagi mendengar pertanyaan Rin. Cantik?–sesungguhnya, bagi Sesshoumaru, lukisannya ini masih belum dapat menangkap kesempurnaan kecantikan gadis manusia itu.
"Iya, ini lukisanmu, Rin." Jawab Sesshoumaru kemudian.
Rin tersipu malu dan kembali menatap lukisannya. Jantungnya berdetak kencang dan hatinya bersorak gembira. Secantik inikah dirinya di dalam mata inuyoukai itu?
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan dan membuat gadis manusia itu kembali menoleh mata menatapnya. "Menurutmu, apa judul lukisan Sesshoumaru ini?"
"Judul?" tanya Rin tertegun. Namun, sedetik kemudian senyum mengembang di wajahnya. "Musim semi!!"
Sesshoumaru menatap lembut gadis manusia itu dan menggeleng kepala.
"Ahh!" seru Rin dengan mata berbinar. "Karena ada Rin, jadi judul lukisan ini; Rin dan musim semi!!"
Sesshoumaru kembali menggeleng kepala dan menutup matanya.
"Kalau begitu, apa judul lukisan ini, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin bingung, dia tidak menemukan judul lain untuk lukisan ini.
Membuka mata, sepasang mata emas Sesshoumaru menatap lekat mata coklat gadis manusia itu. Seulas senyum lembut memenuhi wajahnya. "Judul lukisan ini adalah–Kisaki.
"Eh??"
"–Kisaki tanah barat."
Mata Rin terbelalak terkejut mendengar jawaban Sesshoumaru. Tidak dapat bergerak, dia menatap inuyoukai itu seperti orang bodoh.
"Rin," panggil Sesshoumaru sekali lagi. Tangan kanannya bergerak menyusuri pipi kiri gadis manusia itu. "Menikahlah dengan Sesshoumaru ini.."
Rin tetap tidak bergerak. Dia masih menatap Sesshoumaru dengan ekspresi wajah yang sama. Mimpikah? Apakah dirinya sedang bermimpi?–hari ini semua orang bersikap sangat aneh, mungkin dirinya memang sedang bermimpi. Tapi, tangan Sesshoumaru yang ada di pipinya terasa begitu nyata.
"R-rin sedang bermimpi, kan, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin terbata-bata. Kedua matanya menatap Sesshoumaru tidak percaya.
Demgan senyum lembut yang ada, Sesshoumaru menggeleng kepala. "Tidak. Menikahlah denganku dan jadilah kisaki tanah barat–jadilah kisaki Sesshoumaru ini.."
Dengan tangan yang bergemetaran hebat, Rin kemudian mengangkat kedua meyentuh kedua pipi Sesshoumaru. Pandangannya menjadi buram karen air mata yang tiba-tiba mengalir turun. Dia bisa menyentuh inuyoukai itu, ini bukan mimpi. "Jika ini adalah mimpi, jangan bangunkan Rin lagi. Biarkan Rin berada di mimpi ini selamanya; mimpi bisa menjadi pengantin Sesshoumaru-sama."
Jawaban Rin membuat perasaan hangat penuh kebahagiaan memenuhi seluruh relung hati Sesshoumaru, saking hangat dan bahagianya dia merasa seakan ingin meledak. Senyum di wajahnya melebar dan melebar, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah tawa kebahagiaan. "Kau tidak bermimpi, Rin. Kaulah satu-satunya pengantin Sesshoumaru ini di dunia."
Air mata Rin mengalir semakin deras memenuhi wajahnya. Namun, meski menangis, seulas senyum yang sangat lebar dan cantik memenuhi wajahnya.
Menggerakkan tangan kirinya, Sesshoumaru menyentuh pipi kanan Rin, menangkap kedua pipi itu seperti gadis manusia itu menangkap kedua pipinya. Menghapus air mata yang ada, dia tersenyum. "Jangan menangis Rin."
Rin mengangguk kepala dan melepaskan tangan di wajah Sesshoumaru. Berusaha menghentikan air matanya, dia kembali gagal. Air matanya terus mengalir tidak terhentikan.
Tertawa sekali lagi, Sesshoumaru menghapus air mata yang mengalir dengan lembut dan menempelkan dahi mereka. "Tersenyum, Rin. Tertawalah.."
Ucapan dan sikap Sesshoumaru kali ini kembali membuat Rin mengangguk kepala dengan air mata yang masih tidak berhenti. "Jika ini mimpi, biarkan Rin hidup selamanya di mimpi ini."
Sikap Rin membuat Sesshoumaru tersenyum. Gadis manusia ini sepertinya masih tidak dapat mempercayai kenyataan ini. Memajukan wajahnya, perlahan inuyoukai itu kemudian menangkap bibir gadis manusia itu dalam sebuah ciuman singkat.
Sentuhan bibir yang hangat dan lembut membuat air mata Rin seketika berhenti. Kedua matanya kembali terbelalak menatap wajah Sesshoumaru yang berada sangat dekat dengannya.
"Ini bukan mimpi." bisik Sesshoumaru pelan. Menutup mata emasnya, sekali lagi, inuyoukai itu memajukan wajahnya dan menangkap bibir mungil itu dalam sebuah ciuman lembut.
Mata Rin kembali terbelalak, namun, sejenak kemudian, perlahan, dia ikut menutup matanya. Sentuhan bibir yang lembut, sentuhan bibir yang hangat–dia membiarkan dirinya larut dalam ciuman yang ada.
....xOxOx....
__ADS_1