![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sudah beberapa hari Shippo, Yuki dan Sora berjalan pelan mengikuti para prajurit yang menghancurkan desa youkai klan tikus putih dan kupu-kupu salju. Apa yang dikatakan dan dirasakan Shippo ternyata terbukti benar, prajurit-prajurit itu bukanlah manusia, melainkan; youkai.
Rupa mereka yang mirip manusia hanyalah kamuflase. Setelah meninggalkan desa youkai klan kupu-kupu salju yang mereka hancurkan cukup jauh, mereka semua kembali ke bentuk semula mereka; youkai.
Baik Shippo, Yuki maupun Sora tidak mengetahui dari mana youkai-youkai itu berasal. Jumlah mereka cukup banyak dan teroganisir, mereka tidak terlihat sebagai youkai biasa.
Mengikuti para youkai tersebut, Shippo, Yuki dan Sora mengambil jarak yang terpaut cukup jauh untuk keamanan. Karena itulah, mereka bertiga tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
Mengikuti para youkai itu, Shippo tahu resiko yang ada, begitu juga dengan Yuki dan Sora. Tapi, mereka juga tidak bisa membiarkan para youkai itu begitu saja. Mengikuti dari belakang secara sembunyi-sembunyi, setidaknya, mereka berharap bisa menemukan dalang dari semua ini.
"Menurutmu, mereka siapa dan apa mau mereka, Shippo-kun?" suara Yuki yang sedikit bergetar tiba-tiba terdengar dan membuat Shippo menatap youkai tikus putih itu, serta adiknya Sora yang tertidur di samping. "Kenapa mereka membunuh keluargaku...."
"Haih," Shippo nenghela napas dan menjawab pasrah. Dia bisa melihat kesedihan di wajah Yuki dengan jelas. "Aku tidak tahu."
Menatap Sora, Yuki kembali menangis dan mengelus lembut rambut adiknya yang tertidur pulas. "Ke depannya, kami harus apa, Shippo-kun?"
Pertanyaan Yuki membuat Shippo tertegun sejenak. Tapi perlahan, dia kemudian mengangkat kepalanya menatap langit biru di atas. "Aku tidak tahu, tapi—tetaplah berjuang untuk hidup."
"Eh?" seru Yuki bingung. Dia kembali menatap Shippo.
"Kau tahu, aku juga yatim piatu," ujar Shippo pelan mengingat masa lalunya. "Aku kehilangan ayahku yang merupakan satu-satunya keluargaku di tangan youkai—tapi, aku tetap berjuang untuk hidup dan membalaskan dendam."
"Kau berhasil membalas dendam kalau begitu," ujar Yuki pelan, Shippo yang kuat pasti bisa membalaskan dendamnya berbeda dengannya yang lemah. "K-kami, bagaimana kami bisa..."
"Tidak," balas Shippo pelan. "Aku terlalu lemah untuk membalaskan dendam ayahku."
"Eh?" seru Yuki terkejut.
Shippo kemudian tersenyum, dengan mata berbinar bahagia dia menatap Yuki. "Tapi, aku terus berjuang hidup, dan aku akhirnya bertemu—mereka."
Wajah Kagome, Inuyasha terbayang, begitu juga dengan Miroku, Sango dan Kirara.
"Aku bertemu teman. Dengan bantuan mereka, aku berhasil membalas dendamku. Namun, yang paling penting—aku tidak sendirian lagi."
"Teman?" tanya Yuki lagi bingung.
"Youkai kecil seperti kita tidak akan bisa hidup sendirian. Tapi jika kau memiliki teman yang ada selalu ada untukmu—dunia tidak seberat itu lagi," tawa Shippo bahagia. "Saat kau tidak memiliki keluarga lagi, temanmu lah yang akan menjadi keluarga barumu."
Shippo ingat jelas bagaimana perubahan hidupnya setelah bertemu Kagome dan Inuyasha, lalu Miroku dan Sanggo, lalu juga anak-anak mereka, Kirara, Kohaku, Kaeda dan yang lainnya—mereka menjadi keluarganya; dia tidak sendirian lagi.
"Jadi, jangan menyerah untuk hidup." Senyum Shippo. Ada rasa bangga memenuhi hatinya. Rasanya dia telah mengatakan sesuatu yang bijaksana sekarang.
"Teman," gumam Yuki pelan. Perlahan, dia kemudian memgangkat wajahnya menatap Shippo. "Shippo-kun, apakah kau mau menjadi teman untuk aku dan Sora?"
Shippo tertegun dengan pertanyaan Yuki. Namun, sejenak dia kembali tertawa. "Bukankah aku sudah menjdi temanmu dari kemarin-kemarin?"
Yuki tidak mengatakan apa-apa lagi. Tertawa kecil, dia segera mengangguk-nganguk kepala. Mata merahnya bersinar penuh kebahagiaan.
Shippo tersipu malu dengan tawa Yuki. Namun, ada rasa hangat memenuhi hatinya. Sekarang, dia sudah menjadi Shippo yang hebat, bukan? Ayahnya yang telah tiada pasti akan bangga melihat dirinya yang sudah bisa menolong dan diandalkan orang lain.
Yuki masih tertawa. Namun, tiba-tiba saja, Shippo segera menutup mulutnya dan menarik badan youkai tikus putih itu berserta adiknya yang masih tertidur ke dalam semak-semak tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Sttt," Shippo menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya dan berbisik pelan. "Ada yang mendekat."
Yuki yang sadar segera menutup mulut Sora yang terbangun. Dia mengangguk pelan dan menatap adiknya itu memintanya untuk diam.
Menahan napas, dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, mata Shippo, Yuki dan Sora menatap keluar dari dengan hati-hati dari semak-semak tempat mereka berada.
Tidak begitu jauh dari mereka, mata mereka bisa melihat seorang youkai dengan baju jirah putih berjalan pelan menuju arah para youkai yang menyamar menjadi manusia.
Sebuah kerutan kecil muncul di dahi Shippo. Dia tidak kenal youkai itu, tapi tidak tahu kenapa, baju jirah putih yang dikenakannya terasa tidak asing—di mana dia pernah melihatnya, ya?
"S-shippo-kun," panggil Yuki terbata-bata saat youkai itu telah menghilang dari pandangan mereka. Kedua matanya penuh ketakutan dan ketidak percayaan. "A-aku kenal youkai itu.."
"Eh?? Kau kenal youkai barusan?" tanya Shippo terkejut.
Yuki menelan ludah dan mengangguk kepala. "I-iya, dia salah satu bawahan Shui-sama, sang terhormat dari netral.."
Jawaban Yuki membuat Shippo tersadar. Dia ingat sekarang, di mana dia melihat baju jirah putih itu sebelumnya—di istana tanah barat, sehari setelah pernikahan Sesshoumaru dan Rin; pengawal Shui.
....xOxOx....
"Apa rencanamu sekarang, Miroku?" tanya Sango pelan menatap suaminya yang berjalan di samping.
Miroku tidak menjawab, dia menghela napas pasrah.
"Aku tidak menyangka Sesshoumaru bergerak secepat ini," ujar Kaeda yang juga sedang berjalan di samping Sango pelan. "Dan aku juga tidak menyangka dia akan mengirimkan bawahan kepercayaannya untuk menyampaikan pesan seperti itu pada manusia."
Miroku dan Sango diam membisu mendengar ucapan Kaeda. Apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, terlintas dalam kepala mereka, betapa kacaunya tempat pertemuan para ketua aliansi miko, biksu dan pendeta dengan kemunculan Kira yang tiba-tiba.
__ADS_1
'Datanglah dan barat akan menyambut kalian semua.'
Pesan dari Sesshoumaru mengagetkan semua yang ada. Miroku, Sango dan Kaeda tidak dapat membayangkan betapa marahnya Sesshoumaru hingga inuyoukai yang tidak pernah mau berhubungan dengan manusia itu bersedia mengirimkan pesan penuh tantangan—atau mungkin lebih tepatnya surat peringatan.
Namun, sayangnya, pesan itu tidak dipedulikan para pemimpin aliansi. Mereka tertawa dengan angkuh dan tetap berpendirian untuk menyerang barat. Bahkan mereka membiarkan Kira meninggalkan tempat pertemuan tanpa melukainya dengan sebuah pesan.
'Tunggu kami datang.'
Senyum Kira saat mendengar ucapan para pemipin aliansi sampai sekarang masih diingat Miroku, Sango dan Kaeda—itu senyum yang menjanjikan kengerian dan kematian.
"Haisss," Miroku menghela napas sekali lagi. "Apakah para pemimpin aliansi itu tidak bisa berpikir untuk hidup tenang saja? Kenapa harus membuat situasi semakin kacau dan memancing kemarahan Sesshoumaru?"
"Kau tahu, Miroku," sela Sango pelan tiba-tiba. Senyum kecil yang aneh memenuhi wajahnya. "Aku tidak menyalahkan Sesshoumaru untuk marah kali ini."
Miroku terdiam menatap Sango, begitu juga dengan Kaeda, miko tua itu juga menoleh wajah menatap taijiya itu.
"Dia hanya ingin melindungi Rin-chan dan anak mereka," lanjut Sango dan mengangkat kepala menatap langit di atas. "Dia hanya menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami melindungi istri dan anaknya."
Sesshoumaru dan tanah barat. Semenjak inuyoukai itu menjadi penguasa dengan Rin kecil di sampingnya, dia tidak pernah mencelakai manusia. Karena itu, jika perang antara para manusia dan youkai pecah, siapa yang salah?
Siapa yang salah kali ini?—Sango tahu; manusia lah yang salah. Tidak tahu bagaimana, mereka percaya dan memanfaatkan rumor tidak berdasar untuk menyerang tanah barat. Untuk kepuasan mereka, untuk ketamakan dan keegoisan yang ada—mereka mengangap apa yang mereka lakukan adalah paling benar.
Miroku mengangkat tangan dan menepuk pelan pundak Sango. Seulas senyum memenuhi wajahnya. "Jangan memikirkan terlalu banyak, Sango. Aku tahu maksudmu."
Miroku tidak bohong saat dia mengatakan dia mengerti maksud ucapan Sango. Dia juga merupakan seorang suami dan ayah. Melindungi istri dan anak adalah tugas dan kewajiban seorang suami dan juga seorang ayah. Jika dia berada di posisi Sesshoumaru—dia pasti juga akan melakukan apa yang dilakukan inuyoukai itu.
"Semakin lama, dunia ini semakin korup," ujar Kaeda tiba-tiba sambil menggeleng kepala. "Dan kita harus mati-matian berjuang dan berpikir untuk menyelamatkannya—sungguh masa tuaku ini tidak damai."
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Miroku kemudian kembali membuka mulut untuk berbicara. "Sebenarnya, aku memiliki cara untuk menghentikan perang ini? Mungkin manusia tetap akan menyerang, tapi setidaknya, angka kematian tidak akan tinggi dan ras manusia masih bisa bertahan di dunia ini."
"Apa rencanamu?" tanya Sango dan Kaeda bersamaan menatap Miroku.
Masih menggaruk kepala yang tidak gatal, wajah Miroku menjadi sangat tidak nyaman. "Aku berpikir untuk meminta bantuan Rin-chan untuk menghentikan Sesshoumaru."
Jawaban Miroku membuat Sango dan Kaeda tertegun tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu, rencanaku bukanlah rencana yang bagus," lanjut Miroku cepat sambil tertawa kecil. Namun, ada kesedihan di wajahnya. "Karena untuk menjalankan rencana ini, kita harus menceritakan semua situasi dan juga rumor yang ada padanya, dan juga, aku merasa jika aku sampai meminta bantuannya, maka kita benar-benar sangat—egois."
Sango dan Kaeda sekali lagi, tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab ucapan Miroku. Kata biksu itu benar, Rin mungkin memang bisa menghentikan Sesshoumaru. Tapi—bagaimana bisa mereka menceritakan rumor yang ada tentangnya pada wanita manis itu.
Menceritakan betapa dia dipandang rendah, dihina, dicaci dan dimaki oleh manusia yang sebangsa dengannya, lalu, memintanya menyelamatkan mereka yang datang untuk membunuhnya serta anak dalam kandungannya—Miroku benar, mereka sangatlah egois jika melakukan itu.
Wajah Rin yang tersenyum lembut membelai perutnya terbayang dalam benak Sango, begitu juga dengan tangis penuh air mata dan permohonan untuk melindungi anak dalam kandungannya. Bagaimana bisa mereka memintanya melakukan itu?
"Kita harus memikirkan cara lain.."
....xOxOx....
"Kiri-san, tunggu!!!" panggil Kohaku keras. Dia duduk di atas punggung Kirara yang berlari mengejar Kiri di depan mereka.
Menoleh ke belakang sejenak, Kiri kemudian berhenti. Membalikkan badan, dia menatap Kohaku dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi dalam diam.
Ditatap oleh Kiri seperti itu, Kohaku langsung kehilangan kata. Menatap balik inuyoukai di depannya, dia tidak tahu harus berkata apa. Namun, sejenak kemudian dia menghela napas dan membuka mulutnya. "Kau tidak apa-apa, Kiri-san?"
Kiri tetap diam membisu tidak menjawab pertanyaan Kohaku. Mata emasnya menatap taijiya itu aneh.
Kohaku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Pertanyaannya itu mungkin aneh terdengar aneh di telinga inuyoukai itu, tapi taijiya muda itu benar-benar khawatir, sebab dia ingat berapa banyaknya taijiya berpengalaman yang menyerang Kiri kemarin.
Ya! Menyerang.
Para taijiya yang berada dalam markas menyerang inuyoukai di depannya itu tanpa pandang bulu. Walau pada akhirnya, Kiri berhasil mengalahkan mereka semua.
Kiri kuat, Kohaku sudah tahu sejak perang barat selatan. Tapi dia tidak menyangka dia sekuat itu. Para taijiya sama sekali tidal berkutik di hadapannya, dan untuk para taijiya juga—bagaimana mereka mau melwan Sesshoumaru jika pengawalnya saja mereka tidak mampu?
Tidak menjawab pertanyaan Kohaku, Kiri kemudian kembali membalikkan badannya dan melangkah maju.
"K-Kiri-san.." panggil Kohaku lagi. Tapi, dia sendiri juga bingung tidak tahu ingin mengatakan apa pada inuyoukai di depannya.
"Mereka berani datang, barat akan menyambut dengan hangat." Ujar Kiri tiba-tiba datar tanpa menolehkan wajahnya pada Kohaku.
Kiri tahu—dan sebenarnya bukan hanya dia, semua youkai di bawah klan tanah barat, sesungguhnya telah mengetahui rencana manusia yang ingin menyerang barat dan membunuh kisaki tanah barat serta anak dalam kandungannya.
Manusia yang berencana menyerang barat, mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan—mereka sebenarnya sedang memancing kemarahan semua youkai di bawah klan barat. Demi kisaki tanah barat yang begitu dihormati dan dicintai mereka—semua youkai tanah barat akan dengan senang hati memusnakam mereka semua.
"Kalian tidak perlu membung waktu untuk menghentikan para manusia." lanjut Kiri lagi tenang. "Manusia itu tidak akan mendengarkan."
Miroku, Sango dan Kohaku yang meninggalkan istana tanah barat dengan tujuan menghentikan para manusia, Kiri, Kira, Inukimi serta Sesshoumaru juga tahu, dan mereka tidak menghentikan niat itu.
Seperti apa manusia itu, mereka tahu jelas. Tamak, serakah, egois dan selalu merasa merekalah yang paling benar.
__ADS_1
Tidak peduli apapun yang Miroku, Sango dan Kohaku lakukan, tidak peduli meski Sesshoumaru memberikan pesan peringatan—manusia tetap akan menyerang.
Manusia sungguh merupakan makhluk yang menjijikkan. Karena itulah, dalam mata Kiri dan youkai lainnya, Rin; sang kisaki tanah barat tidaklah pernah seorang manusia.
Tawa dan senyum yang diberikan, pelukan hangat dan bunga indah yang dia hadiahkan, hatinya yang polos dan lembut—Rin yang tumbuh besar dalam istana tanah barat jauh dari para manusia yang menjijikkan, meski sejatinya merupakan seorang manusia, dia bukanlah milik dunia manusia, melainkan milik dunia youkai. Jadi apa dasarnya manusia mengatainya?
Kohaku terdiam mendengar ucapan Kiri. Tapi, dia jug tahu, apa yang dikatakan Inuyouki itu benar. Mata penuh kemarahan Arata saat menatap Kiri yang meninggalkan markas taijiya sambil tertawa setelah mengalahkan mereka telah menjawab—taijiya tetap akan bergabung dengan para bangsawan untuk menaklukkan barat.
Ke depannya, apa yang akan terjadi?
....xOxOx....
"Aku tahu kalian tidak mempedulikannya laki-laki atau perempuan," ujar Kagome tersenyum menatap Rin yang duduk dalam pelukan Sesshoumaru. Pemandangan ini tidaklah lagi aneh bagi miko masa depan itu. "Tapi, menurut kalian, anak kalian laki-laki atau perempuan, Rin-chan?"
"Eh??" balas Rin bingung, sedangkan untuk Sesshoumaru, dia hanya menatap Kagome dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Di depannya dan Sesshoumaru sekarang, Kagome, Inuyasha duduk tenang dengan anak-anak yang bersembunyi di belakang mereka. Mereka yang datang kamar menemaninya berbicara sudah menjadi rutinitas harian, walau Rin masih tidak mengerti dengan anak-anak yang sampai sekarang masih takut pada penguasa tanah barat di belakangnya—inuyoukai itu tidak menakutkan, bukan?
"Bukankah kalian sudah boleh mulai memikirkan nama untuk keponakanku?" lanjut Kagome lagi dengan senyum yang masih ada di wajah cantiknya.
"Nama..." gumam Rin pelan dan menurunkan pandangannya pada perutnya. Perlahan, dia mengelusnya pelan. "Nama untuknya..."
"Menurutku dia perempuan," suara Mamoru tiba-tiba terdengar, membuat semua yang ada menatapnya. Dia yang menjulurkan kepalanya keluar dari punggung Inuyasha langsung memucat saat melihat tatapan Sesshoumaru.
"D-dia pasti perempuan."
"Kau mencelakakan putramu sendiri, Miroku." Inuyasha menggeleng kepala mendengar ucapan Mamoru.
Rin dan Kagome tersenyum pada Mamoru tanpa mengatakan apa-apa, mereka berdua jelas tahu betapa terobsesi serta berharapnya Mamoru pada anak yang akan dilahitkan Rin adalah seorang perempuan dan menjadi istri masa depannya. Dia bahkan sudah memanggil Rin 'ibu mertua' dengan lantang.
Perlahan, Rin kemudian mengarahkan pandangannya pada Sesshoumaru yang masih berwajah datar tanpa ekspresi. Dia bertanya dalam hati, apakah inuyoukai ini tahu Mamoru bermaksud menjadikan anak mereka sebagai istri kalau seorang perempuan?—mungkin dia tahu, tapi dia tidak mempedulikannya.
Seulas senyum kembali memenuhi wajah Rin. Sebenarnya, sejak dulu dia sudah tahu, Sesshoumaru mempunyai sisi lembut dan lebih bisa mentoleransi anak kecil—bukankah dia dan Kohaku adalah buktinya? Kali ini pasti juga sama.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan, dengan senyum yang masih ada di wajah. "Nama anak kita kelak, anda yang ten—"
"Sesshoumaru ini ingin kau yang menamakannya." potong Sesshoumaru datar, tapi kedua mata emasnya menatap lembut Rin yang ada dalam pelukannya.
Kagome sedikit tertegun mendengar ucapan Sesshoumaru. Mau tidak mau, dia berpikir, apa nama yang inuyoukai itu pilih untuk menamai anaknya, sebab sampai sekarang, miko masa depan itu masih meragukan kemampuan keluarga penguasa tanah barat dalam menamai seorang anak. Sesshoumaru yang berarti penghancur kehidupan dan Inuyasha yang berarti anjing setan adalah bukti tidak terelakkan—apakah kakak iparnya ini juga akan seperti ayah mertuanya yang memiliki selera aneh dalam menamai anak?
"Hmnnn," gumam Rin pelan. Dia kembali menatap perutnya dan mengelusnya lembut. "Rin berpikir akan menamainya Sakura jika dia adalah per—aduh!"
Rin berteriak sedikit kesakitan karena tiba-tiba merasakan gerakan kuat dari bayi dalam perutnya.
Sesshoumaru, Kagome dan Inuyasha langsung berwaspada dan menatap Rin penuh kekhawatiran. "Ada apa, Rin-chan?" tanya Kagome cepat.
Rin menghela napas dan tersenyum menggeleng kepala. Tangannya kembali mengelus pelan perutnya. "Tidak apa-apa, bayiku sepertinya menendang dengan kuat."
"Kurasa anak itu sedang protes karena dia adalah anak laki-laki bukan perempuan," ujar Inuyasha dan melipat tangan di dada. "Kau lebih baik memikirkan nama untuk laki-laki saja."
Ucapan Inuyasha membuat Rin tertegun. Tetapi, tidak tahu kenapa, dia setuju dengan ucapan tersebut bahwa anaknya adalah seorang laki-laki, apakah ini adalah intuisi seorang ibu?
Menatap Sesshoumaru, Rin tersenyum lembut. "Mungkin Rin memang harus memikirkan nama anak laki-laki, Sesshounaru-sama."
"Tidak!! Dia pasti perempuan!" potong Mamoru cepat. Matanya sedikit memerah menahan air mata. Bagaimana mungkin bayi itu laki-laki?—jika benar laki-laki, bagaimana nasib istri masa depannya?
"Shiro ingin adik laki-laki," sela Shiro yang dari tadi diam tiba-tiba. Dia ikut menjulurkan kepalanya keluar dari punggung Inuyasha. "Shiro mau bermain bola dengannya. Adik perempuan tidak asyikk."
"Tidak, Shiro," Mamoru mengoyangkan badan Shiro pelan. "Adik perempuan lebik asik, adik perempuan juga bisa menemanimu bermain bola."
"Aku juga ingin adik laki-laki," sela Aya pelan. Dia memberanikan diri berbicara meski masih takut dengan kehadiran Seashoumaru dari belakang Kagome. "Adik laki-laki yang bisa diandalkan dan tidak nakal sepertimu, Mamoru."
"Aku setuju," tambah Maya tidak mau kalah. "Bayi Rin-chan pasti laki-laki, ayah juga mengatakannya."
"Perempuan!!!" teriak Mamoru kesal karena tidak ada yang berpihak padanya.
Rin tertawa mendengar pembicaraan anak-anak, sedangkan untuk Kagome dan Inuyasha, mereka menghela napas melihat sikap Mamoru yang tidak tahu mengapa mengingatkan mereka pada Miroku. Tidak diragukan lagi, Mamoru pasti benar-benar akan menjadi seperti ayahnya kelak.
Hanya Sesshoumaru seorang saja yang tetap berwajah datar mendengar pembicaraan anak-anak. Matanya terarah pada Rin yang masih lemah namun tertawa bahagia dalam pelukannya.
Namun, sejenak kemudian, wajah Sesshoumaru yang datar dan Inuyasha yang menghela napas berubah menjadi serius. Mereka berdua bisa merasa jelas aura seorang youkai yang menuju ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa.
Berdiri, Inuyasha langsung menarik Shiro dan Mamoru yang ada di belakangnya kepada Kagome. Mencabut pedang tessaiga di pinggangnya, dia menhunuskannya ke arah pintu yang tertutup rapat. "Kenapa kau ada di sini, sialan??"
Bersamaan dengan suara teriakan Inuyasha, pintu shoji kamar terebuka dan memperlihatkan seorang youkai berambut perak pendek dengan dua pasang garis biru di pipinya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi mata biru langitnya menatap lekat Rin yang ada dalam pelukan Sesshoumaru.
"A-Akihiko-sama??"
....xOxOx....
__ADS_1