![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Salju sepertinya akan turun lagi." Ujar Rin pelan. Dia yang duduk di atas futon dalam kamarnya tersenyum menatap keluar melalui jendela. Cahaya bulan purnama yang besar di langit malam musim dingin menjadi gelap karena tertutup awan.
Menoleh pandangannya ke samping, mata coklat Rin kemudian menemukan Sesshoumaru yang berpakai jirah lengkap dengan bakusaiga dan tensaiga duduk tenang.
"Rin merasa malam ini akan jadi malam yang panjang," ujar Rin lagi dan tertawa kecil. "Apakah menurut anda juga begitu, Sesshoumaru-sama?"
Sesshoumaru tidak langsung menjawab pertanyaan Rin. Mengangkat tangan kanannya, dia menyetuh lembut pipi kanan kisakinya. "Wajahmu pucat, tidurlah."
Tawa Rin semakin kentara mendengar ucapan Sesshoumaru. Pertama kali dia merasa bahwa inuyoukai penguasa tanah barat yang menjadi suaminya benar-benar merupakan pria yang unik. Bagaimana mungkin dia bisa tidur di malam ini?
Malam yang ditakuti banyak orang telah tiba. Meski tidak bisa merasakan, Rin tahu, di depan pintu gerbang istana, pasukan youkai di seluruh tanah jepang pasti sudah berkumpul—perang yang akan segera dimulai.
Menggerakkan tangan kirinya, Rin menangkap tangan Sesshoumaru. Dengan lembut dia mencium punggung telapak tangan itu dan menutup mata. Perasaan hangat dirasakannya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin dan membuka mata. Seulas senyum musim semi memenuhi wajah cantiknya yang pucat. "Apakah anda tahu, siapa wanita yang paling Rin kagumi di dunia ini?"
"Siapa?" tanya Sesshoumaru kembali. Matanya menatap lurus kisakinya yang tersenyum indah—senyum yang terukir abadi dalam keberadaannya.
Tertawa pelan, Rin kemudian tersenyum lebar. "Wanita yang paling kagumi di dunia ini adalah, Izayoi-sama, ibunda dari Inuyasha-sama."
Menoleh pandangan pada perut besarnya, tangan kanan Rin mengelus penuh kasih sayang anak dalam rahimnya. "Beliau sangat luar biasa. Sendirian, beliau mampu membesarkan anak dari pria yang dicintainya dengan baik."
Sesshoumaru diam membisu, tapi telinganya mendengar jelas setiap kata yang meluncur keluar dari mulut Rin.
"Youkai dan manusia, inuyoukai penguasa tanah barat dan wanita manusia," lanjut Rin pelan. Matanya kembali terarah pada Sesshoumaru. "Inu No Taisho dan Izayoi, Sesshoumaru dan Rin—kisah kita mirip dengan ayahanda dan Izayoi-sama, kan, Sesshoumaru-sama?"
Tertawa kembali, Rin menatap lembut Sesshoumaru. "Inuyoukai yang bertarung demi wanita manusia dan anak dalam perutnya—kisah masa lalu yang terulang kembali."
"Rin." Panggil Sesshoumaru pelan.
"Rin berpikir, Sesshoumaru-sama," ujar Rin terus tidak mempedulikan Sesshoumaru. Mengenggam tangan kanan Inuyoukai yang masih ada di pipinya erat, seulas senyum sendu menggantikan tawanya. "Apakah Rin bisa seperti Izayoi-sama?"
Pandangan mata Rin membuat Sesshoumaru tertegun. Diam membisu dia tidak menjawab pertanyaan yang ada.
"Jawabannya—Rin tidak bisa," jawab Rin sendiri. Menutup mata, dia kembali menarik telapan tangan Sesshoumaru dan menciumnya lembut. "Rin tidak bisa seperti Izayoi-sama—Rin tidak sekuat beliau.."
Apakah dia bisa bertahan di dunia ini bersama Shura jika Sesshoumaru menghilang? Di mulai dari kehidupan keduanya di dunia ini, inuyoukai itu adalah poros segalanya. Dia tahu, tanpa inuyoukai itu—tidak ada lagi dunia ini baginya.
Iazyoi adalah wanita yang luar biasa, meski tidak pernah bertemu, Rin benar-benar mengagumi ketegaran dan keberanian wanita itu. Hidup dan mebesarkan seorang anak setelah kehilangan pria yang dia cintai di dunia yang keras ini sendirian—tidak semua orang mampu melakukannya, termasuk Rin. Dia tahu, dirinya tidak akan bisa seperti Izayoi.
Membuka mata, seulas senyum memenuhi wajah Rin, matanya menatap penuh permintaan pada Sesshoumaru. "Karena itu, Sesshoumaru-sama—anda harus pulang untuk Rin. Tidak apa walau anda terluka, tapi pulanglah kepada Rin dan Shura."
Berbagai perasaan memenuhi hati Sesshoumaru. Sedih karena harus meninggalkan Rin dan Shura, ragu karena tidak tahu apakah dia akan menang, takut jika dia kalah, lalu—percaya diri karena dia tahu dia akan pulang, berani karena tidak akan kalah, senang karena kedua keberadaan paling penting baginya akan menunggu kepulangannya. Semua perasaan itu bergabung, menciptakan sebuah perasaan tidak terjelaskan dalam hati.
Izayoi.
Wanita manusia yang dipilih dan dicintai Inu No Taisho, ayah kandungnya. Wanita manusia lemah dan tidak berguna dalam matanya itu, pada akhirnya, dia tahu; wanita manusia itu adalah wanita yang sangat mengagumkan seperti yang dikatakan Rin.
Sesshoumaru tidak pernah mengerti kenapa Ayahandanya mencintai Izayou, tapi hari ini akhirnya dia mengerti. Betapa kuatnya wanita manusia itu sebenarnya. Tetap hidup dan membesarkan Inuyasha, menerima segala hinaan dan cacian dengan tegar, menghadapi dunia ini sendirian tanpa tempat bergantung. Perjuangan dan pengorbanan Izayoi untuk Inu No Taisho dan Inuyasha—wanita seperti itu adalah wanita yang paling pantas menerima cinta dari seorang inudaiyoukai penguasa tanah barat.
"Rin," panggil Sesshoumaru kemudian. Kedua mata emasnya menatap balik Rin penuh kelembutan. Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. "Katamu benar, Izayoi memang merupakan wanita yang sangat mengagumkan. Tapi, Rin—kau tidak perlu menjadi sepertinya."
Rin diam membisu menatap Sesshoumaru, tertegun mendengar ucapan inuyoukai itu.
"Kau adalah Rin, dan aku adalah Sesshoumaru. Kita berdua bukanlah Izayoi dan Inu No Taisho—masa lalu tidak akan terulang kembali," jelas Sesshoumaru pelan dan mengelus lembut pipi Rin. "Sesshoumaru ini akan pulang kepadamu dan Shura. karena itu—tunggulah."
Air mata mengalir turun menuruni pipi Rin mendengar penjelasan Sesshoumaru. Perasaan sesak memnuhi hatinya—sesak karena apa, dia juga tidak tahu lagi.
Menghapus air mata Rin, Sesshoumaru kemudian memeluk erat kisakinya lembut. "Nyanyikanlah lagumu itu—kisah kita adalah kisah yang berakhir bahagia."
Rin balas memeluk Sesshoumaru erat. Dalam isak tangisnya yang pecah, dia mengangguk kepala. "Iya. Rin dan Shura akan menunggu anda pulang. Rin akan terus bernyanyi hingga anda pulang!"
Menutup mata, Sesshoumaru mengeratkan pelukannya. Membiarkan bau musim semi memenuhi indra penciumannya. Kisah yang berbeda—Sesshoumaru tidak akan membiarkan perpisahan menjadi akhir dari kisah mereka.
Tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Terus memeluk Rin, Sesshoumaru baru melepaskan wanita manusia itu saat dia telah tenang. Menatap wajah kisakinya dan menghapus sisa air mata yang ada, dengan perlahan, inuyoukai itu mencium lembut bibir mungil di depannya.
Ciuman yang lembut, namun dilimpahi segenap perasaan. Betapa penting wanita manusia tersebut dan anak mereka, Sesshoumaru, sang inuyoukai penguasa tanah barat tahu—mereka adalah segalanya; poros dunianya.
Memisahkan bibir mereka, Sesshoumaru tersenyum kecil menatap Rin yang balas menatapnya. "Tersenyumlah, Rin—Sesshoumaru ini menyukai senyum di wajahmu."
Mengumpulkan segenap tenaga yang dimiliki, Rin kemudian tersenyum. Senyum terbaik yang dimilikinya untuk inuyoukai yang dicintainya.
Mata Sesshoumaru kemudian terarah pada perut besar Rin. Menggerakkan tangan kanannya, dia mengelusnya lembut. "Tunggulah Ayahandamu ini bersama Ibundamu, Shura."
Seakan mematuhi perintah Sesshoumaru, Shura yang berada dalam perut Rin bergerak pelan.
Senyum di wajah Sesshoumaru berubah menjadi tawa kecil. Membungkukkan badannya, dia mencium pelan perut Rin. "Jaga ibundamu selama ayahandamu tidak ada di samping, putraku."
Rin tersenyum mendengar ucapan Sesshoumaru. Mengelus lembut rambut panjang Sesshoumaru, dia kemudian tertawa kecil. "Ya, Shura akan melindungi Rin."
Meluruskan kembali badannya, sekali lagi, Sesshoumaru mendekatkan wajahnya pada Rin dan mencium keningnya lembut.
"Sesshoumaru ini berangkat, Rin.." itu adalah ucapan Sesshoumaru pada Rin. Berdiri dan berjalan tegap meninggalkan kisakinya, penguasa tanag barat tidak menolehkan kepala sedikitpun lagi ke belakang.
Rin menatap sosok Sesshoumaru hingga akhirnya menghilang di balik pintu kamar shoji yang tertutup. Dia tidak memanggil nama inuyoukai itu lagi, karena dia tahu, dia juga harus kuat sekarang.
Menatap perutnya, Rin mengelusnya lembut dan menutup mata. Dia mempercayai ucapan Sesshoumaru, kisah masa lalu yang tidak akan terulangi lagi—kisah Sesshoumaru dan Rin dari tanah barat adalah kisah yang akan berakhir bahagia.
Dalam kesunyian kamar, sendirian hanya ditemani anak dalam perutnya, Rin membuka mulut dan bernyanyi lembut.
Nama no naka
Kaze no naka
__ADS_1
Yume no naka
Sesshoumaru bisa mendengar suara Rin yang bernyanyi pelan dari balik pintu kamar yang tertutup. Berdiri tegap dengan wajah tanpa ekspresi, mata emasnya menangkap sosok Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan juga; Inukimi.
"Jaga Rin." ujar Sesshoumaru pelan. Tidak menunggu jawaban mereka, inuyoukai itu melangkah kakinya dan berjalan menjauh.
Tidak ada yang bergerak, mata mereka semua terarah mengikuti punggung tegap penguasa tanah barat yang semakin menjauh.
Inuyasha merasa sangat kesulitan untuk mengontrol perasaannya sekarang. Pembicaraan Sesshoumaru dan Rin, dia mendengarnya semua dengan jelas, tentang—Izayoi, ibu kandungnya.
Sesshoumaru yang selalu menyebut ibu kandungnya sebagai wanita hina dan tidak berguna, kini menyebut wanita yang melahirkan dan membesarkannya sebagai wanita yang sangat mengagumkan. Bagaimana Inuyasha masih bisa tenang?
Sesshoumaru bukan orang yang suka berbohong. Dia juga tidak memiliki alasan untuk berbohong, karena itu, Inuyasha tahu, yang didengarnya tidak salah; inuyoukai itu memuji ibu kandungnya—mengakuinya.
Perasaan gembira tidak tertahankan memenuhi hati Inuyasha. Wajah tersenyum Izayoi terbayang dalam pikirannya; Rin benar, ibu kandungnya adalah wanita paling mengagumkan di dunia ini. Sebagai anak, betapa bahagia dia rasakan saat wanita yang melahirkan dan membesarkannya mendapatkan pujian dan pengakuan seperti itu?
"Pergilah, Inuyasha." Suara Kagome yang lembut tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan.
Inuyasha menatap Kagome, kebingungan memenuhi wajahnya mendengar ucapan miko masa depan tersebut.
Tersenyum lembut, Kagome menatap lurus Inuyasha. "Pergilah bantu Kakak."
Kakak.
Kata itu tidak terasa menggelitik hati Inuyasha. Perlahan tapi pasti, inuhanyou itu bisa melihat, jarak antaranya dengan Sesshoumaru semakin menipis. Dulu kakak seayahnya itu begitu jauh, namun sekarang, jika dia mengangkat tangannya, dia tahu, dia bisa mengapainya.
Kagome benar, Sesshoumaru adalah keluarga terdekatnya selain Kagome dan Shiro. Inuyoukai itu adalah satu-satunya kakak yang dia miliki di dunia ini—keluarganya yang berharga.
Senyum lebar segera memenuhi wajah tampan Inuyasha. Tertawa keras, dia merasa benar kusut yang merangkai hubungannya dan Sesshoumaru kini telah terurai rapi. "Baiklah, aku mengerti, Kagome."
"Serahkan Rin padaku," tawa Kagome lepas melihat kebahagiaan di wajah Inuyasha. Dia juga mendengar jelas pembicaraan Sesshoumaru dan Rin, karena itu dia tahu apa isi hati suaminya sekarang. "Ingat pulang padaku dan Shiro."
Tawa Inuyasha semakin keras. Mencium pipi Kagome, dia kemudian berlari mengejar Sesshoumaru. "Tenang!! Aku pasti akan pulang!!"
Kagome tersenyum dan menggeleng kepala melihat Inuyasha. Dia mempercayai ucapan inuhanyou tersebut, dan dia sangat menyukai tawa kebahagiaan yang terpancar di wajah tampan tersebut.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Suara Rin yang masih bernyanyi pelan kemudian merebut perhatian Kagome. Menatap pintu kamar yang tertutup, miko masa depan itu kembali tersenyum.
Rin.
Wanita manusia inilah yang menjadi jembatan dalam hubungan Sesshoumaru dan Inuyasha. Tanpa disadari, melalui sikap dan ucapannya, dia berhasil mengajarkan pada Sesshoumaru, apa itu arti hidup dan—keluarga.
Watashi wa hitori de machimashou
Wareware wa hitori de machimashou
Sesshoumaru-sama omodori wo
....xOxOx....
"Kau tidak apa-apa, nak?"
Duduk di atas tanah penuh ketakutan, mata putih seorang youkai kecil menatap sosok seorang inu daiyoukai yang menebas kepala seorang youkai yang ingin membunuhnya.
Senyum menyeringai memenuhi wajah tampan inu daiyouki itu. Ditimpah cahaya matahari, mata emasnya berbinar penuh keangkuhan—membuat youkai kecil bermata putih itu terkagum-kagum.
Menyarungkan pedang di tangan ke pinggangnya. Inu daiyoukai itu berjongkok ke bawah. Menatap lambang keluarga di kimono youkai kecil itu, sebuah kerutan kecil muncul di wajah tampannya. "Kau bukan ular, tapi kenapa kau mengenakan lambang utara—Ah, kau anak itu, ya?"
Tawa memenuhi wajah inu daiyoukai itu saat dia menyadari siapa youkai kecil di depannya. Menggeleng kepala, dia tertawa semakin keras. "Utara memang menarik. Selalu penuh penghianatan sejak dulu."
Youkai kecil itu tidak mengatakan apa-apa, mata putihnya masih terarah pada sosok penyelamatnya.
Berdiri, inu daiyouki itu mengulurkan tangan pada youkai kecil itu. "Sampai kapan kau mau duduk di situ?" tanyanya sambil tersenyum.
Youkai kecil itu segera mengenggam tangan yang terulur kepadanya. Kehangatan dirasakannya saat tangan mereka bersentuhan.
"Oh, gengaman yang kuat," tawa Inu daiyoukai itu lagi. "Aku mengerti kenapa kau bisa menjadi salah satu calon pewaris tanah utara meski kau bukan ular—kau akan tumbuh kuat kelak."
Youkai kecil itu tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua mata putihnya tidak bisa lepas dari inu daiyoukai di depannya, sebab dalam matanya, di bawah limpahan cahaya matahari, Inu daiyoukai itu bagaikan matahari itu sendiri.
"Shui-sama." Suara Koharu yang memanggil namanya membuat Shui tersadar dari kenangan masa lalunya yang berharga.
Menoleh pandangannya pada Koharu yang ada di samping, Shui tersenyum ramah. "Ada apa, Koharu-san?"
"Anda terlihat sedang memikirkan sesuatu," jawab Koharu pelan. Dia menatap khawatir Shui. "Apa ada yang menganggu pikiran anda?"
Shui tertawa dan menggeleng kepala. "Tidak. Aku hanya teringat masa lalu."
Koharu tersenyum mendengar jawaban Shui. Ada perasaan syukur memenuhi wajahnya. Dia tidak ingin apapun menganggu pikiran pemimpin tanah netral sekarang—tidak untuk saat perang akan segera berlangsung.
Menatap ke belakang, seulas senyum memenuhi wajah cantik Shui. Di belakangnya sekarang, ribuan youkai netral berdiri. Pandangan mereka semua terarah padanya—pemimpin mereka.
Perang yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba. Hari ini, berdiri di depan istana tanah barat, Shui tahu, babak akhir dari ini semua akan segera di mulai, karena itulah dia teringat akan pertemuannya dengan Inu No Taisho.
Siapa Inu No Taisho bagi Shui?—inu daiyoukai itu adalah sosok yang dihormatinya—penyelamat hidupnya. Ratusan tahun telah berlalu semenjak pertemuan mereka, tapi sampai hari ini, penimpin tanah netral masih ingat jelas hari itu—hari dimana semuanya berubah.
Shui tidak terlahir sebagai ular, tapi dia bisa menjadi salah calon penguasa tanah utara karena dia kuat dan juga karena ibunya yang telah meninggal adalah adik perempuan dari penguasa tanah utara sebelumnya.
Dibesarkan di istana tanah utara, dia yang sebatang kara tidak memiliki masa kecil yang bahagia. Tanah utara adalah tanah miskin penuh kekacauan. Perebutan kekuasaan, penghianatan, pembunuhan—itu semua adalah hal yang biasa.
__ADS_1
Posisinya sebagai salah satu calon penguasa tanah utara tidaklah menjamin keselamatannya, yang ada malahan sebaliknya. Shui sendiri sudah lupa berapa kali hidupnya hampir berakhir di ujung pedang ataupun pada racun dalam makanan. Yang diingatnya semasa kecil di istana tanah utara hanyalah cara bertahan hidup.
Lalu, diapun bertemu Inu No Taisho. Saat melarikan diri dari pembunuh yang mengincar nyawanya, tanpa sengaja dia bertemu dengan inu daiyoukai dari barat yang begitu dihormati serta ditakuti semua yang ada.
Shui yang diselamatkan Inu No Taisho hari itu, mengikutinya. Dia tidak tahu apa maksud inu daiyoukai yang memang bermaksud mengunjungi istana tanah utara mengijinkan seorang youkai kecil sepertinya berjalan di belakang.
Bagi Shui, perjalanan mereka itu adalah hal paling bahagia yang pernah dirasakannya. Kekuatan dan kharisma Inu No Taisho, kepuasan memenuhi hatinya saat melihat semua penghuni istana tanah utara tidak berkutik di depan inuyoukai itu.
Terus mengikuti Inu No Taisho, Shui kemudian menginjakkan kaki ke tanah barat untuk pertama kali. Tanah yang berbeda dengan tanah utara. Tanah di mana dia tahu, dia akan lebih bahagia.
Alangkah bagusnya jika dia adalah bagian dari tanah barat bukan tanah utara. Alangkah bagusnya jika dia adalah pewaris tanah barat bukan tanah utara—pewaris dari inu daiyoukai dengan kekuatan dan kharisma luar biasa itu; putranya. Tapi, Shui bukan bagian tanah barat, terlebih lagi dia bukan putra Inu No Taisho.
Karena itu, Shui melakukan segala yang dia bisa untuk menjadi putra Inu No Taisho. Ucapan Inudaiyoukai tersebut yang mengatakan dia akan mengangkatnya menjadi anak jika tidak memiliki anak menjadi harapannya.
Dirinya kemudian meninggalkan istana tanah utara untuk selamanya. Dia tidak butuh tanah utara yang seperti itu, dan dia yang kuat juga tidak akan membiarkan siapapun menghalangi apa yang dia inginkan lagi. Mereka yang menentang, melawan dan meremehkannya—dia membunuhnya.
Shui akan menjadi putra Inu No Taisho, dia akan meninggalkan semua kehinaan yang diterimanya di tanah utara. Menuju tanah tempat tidak bertuan, dengan tangannya sendiri, dia menciptakan tanah baru—tanah netral.
Namanya menjadi terkenal, dia dipuja dan dihormarti. Membantu youkai lemah maupun manusia, selangkah demi selangkah, Shui tahu, dirinya akan dapat berdiri berdampingan dengan inu daiyoukai itu. Dirinya akan menjadi satu-satunya yang pantas memanggil sosok itu, 'Ayahanda' dan menwarisi segala yang dimilikinya.
Lalu, Sesshoumaru lahir dan menghancurkan segala yang dilakukannya selama ratusan tahun. Dia tidak bisa menjadi anak inu daiyoukai itu lagi, dia hanya dapat menjadi adik—gelar kosong tidak berguna yang tidak diinginkannya.
Tapi, tidak apa-apa, sesuatu yang memang miliknya tidak akan ke mana-mana. Apa yang manjadi milik haknya tidak akan dimiliki Sesshoumaru—putra yang membiarkan ayahandanya sendiri, inu daiyoukai yang begitu dihormati semua yang ada; mati.
Seperti bagaimana Inu No Taisho mati, Shui juga ingin begitulah Sesshoumaru mati. Seperti masa lalu yang terulangi kembali, sang anak akan mengalami segala yang dirasakan ayahnya.
Darah yang begitu dibanggakan Inu No Taisho, darah tanah barat yang paling sempurna dan murni dalam nadi Sesshoumaru serta anak dalam kandungan Rin, Shui sendiri yang akan mengakhirinya dengan tangannya sendiri.
Di alam sana, saat Sesshoumaru dan anaknya telah berkumpul dengan Inu No Taisho lagi, saat itulah, inu daiyoukai itu baru akan sadar, siapa yang sesungguhnya pantas menjadi penguasa tanah barat dan memanggilnya, 'Ayahanda'.
"Shui-sama, tanah utara dan tanah timur sudah tiba!" suara Koharu sekali lagi membuat Shui tersadar.
Mengangkat kepala menatap langit malam musim dingin, dia melihat dua pasukan besar youkai terbang ke arah dirinya dan pasukan tanah netral. Yang memimpin paling depan tidak lain adalah Takeru, sang penguasa tanah utara dan juga Asano, sang penguasa tanah timur serta Akiko, hime dari timur.
Koharu dan para youkai tanah netral menyambut dengan gembira kedua pasukan yang bergabung dengan mereka. Rasa percaya diri mereka membesar seiring dengan membesarnya pasukan mereka. Hanya tinggal tanah selatan saja, jika Akihiko, sang penguasa tanah selatan berserta pasukannya tiba, maka pasukan mereka akan sempurna—mereka akan menyerang tanah barat dan memperbaiki keseimbangan dunia yang rusak.
Shui tersenyum dan mengangguk kepala pada Takeru dan Asano yang kemudian berdiri di sampingnya. Mata putihnya bisa melihat kegembiraan di wajah mereka, dan dia mengerti—mereka sudah tidak sabar menantikan tanah barat yang dipimpin Sesshoumaru runtuh.
"Ahh!! Itu tanah selatan!!" suara teriakan youkai terdengar. Bersamaan dengan itu, mata semua yang ada bisa melihat pasukan besar yang dipimpin Akihiko, sang penguasa tanah selatan mendekati mereka dengan cepat.
Wajah Akihiko tanpa ekspresi, begitu juga dengan Tsubasa dan Koga yang berada di sampingnya. Terbang turun, youkai serigala itu berjalan ke arah Shui, Takeru, Asano dan Akiko berada.
"Akihiko-san, akhirnya anda tiba," senyun Shui menyambut Akihiko. "Pasukan kita sudah lengkap."
Akihiko tetap diam membisu tidak mengatakan sepatah katapun. Pandangan matanya yang tajam terarah pada Shui. Namun, pemimpin tanah netral tersebut tidak peduli, malahan, senyum di wajahnya semakin melebar.
Meboleh pandangannya pada pintu istana tanah barat, mata putih Shui berbinar penuh kebahagiaan saat melihat pintu yang tertutup rapat mulai terbuka.
"Ah—" gumam Shui pelan. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajahnya. "Sudah akan di mulai."
....xOxOx....
Pintu gerbang istana tanah barat terbuka lebar, dan Sesshoumaru melangkah keluar dengan tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tidak ada emosi sedikitpun dirasakannya saat melihat pasukan besar yang berada di depannya.
Di belakang Sesshoumaru, Kiri dan kira berdiri, lalu di belakang kedua inuyoukai bersaudara tersebut, pasukan tanah barat mengikuti. Sama halnya dengan penguasa mereka, tidak ada takut maupun gentar mereka rasakan meski jumlah pasukan yang tidak seimbang.
Tanah barat adalah tanah kuat dengan kehormatan dan harga diri tinggi. Tidak akan takut dan melarikan diri—itu tertanam dalam hati semua pasukan di bawah kendali Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.
Inuyasha yang berlari mengejar Sesshoumaru dari belakang kemudian meloncat tinggi ke atas dan mendarat tepat di samping inuyoukai penguasa tanah barat tersebut.
"Cih," cibir Inuyasha dan membuang muka. Dia tidak berani menatap mata Sesshoumaru yang terarah padanya sekarang. "A-aku datang bukan untukmu—aku di sini untuk Rin."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Inuyasha. Menatap inuhanyou tersebut, dia kemudian mengangkat kepala menatap langit malam di atas.
"Inuyasha." panggil Sesshoumaru. Suaranya datar dan tenang seperti biasa.
"Apa??" balas Inuyasha. Secara reflek, dia menoleh wajah menatap Sesshoumaru yang menatap langit malam.
"Dulu, Sesshoumaru ini tidak mengerti," ujar Sesshoumaru pelan dan menutup mata. "Karena itu, Sesshoumaru ini berdiri dan membiarkan ayahanda mati."
Inuyasha tertegun dengan ucapan Sesshoumaru yang tidak di mengertinya.
"Tapi, sekarang, Sesshoumaru ini mengerti," membuka matanya, Sesshoumaru kemudian menurunkan pandangannya. Kedua mata emasnya menatap mata emas Inuyasha yang identik dengannya. "Jika inilah perasaan ayahanda pada hari itu, maka Sesshoumaru ini akan berdiri di samping beliau pada malam kelahiran adiknya.."
Perasaan Inu No Taisho pada malam kelahiran Inuyasha, Sesshoumaru telah mengerti saat dia berdiri menghadapi pasukan manusia pada musim gugur. Kebodohan ayahandanya yang tidak dia mengerti, perasaan sesungguhnya dari inuyoukai yang dia hormati—tangung jawab sebagai seorang suami dan seorang ayah; Sesshoumaru sudah mengerti semuanya.
Mata Inuyasha terbelalak mendengar apa yang dikatakan Sesshoumaru. Terkejut dan tidak percaya. Sejak dulu inuyoukai itu memang pernah mengatakan dia adalah adiknya, tapi itu dikatakan dengan penuh hinaan dan kejijikan. Namun, sekarang—kata adik yang meluncur keluar tidak lagi seperti itu. Inuyoukai itu mengucapkannya dengan—tulus.
Kebahagiaan memenuhi hati Inuyasha, bibirnya melengkung menjadi seulas senyum.
Keluarga.
Ikatan darah, ikatan saudara yang terjalin antara dirinya dan Sesshoumaru adalah ikatan yang rumit dan mudah putus. Namun, Inuyasha yakin, mulai detik ini, ikatan mereka tidak akan pernah terputuskan lagi—ikatan mereka akan kuat dan kukuh; karena mereka adalah keluarga.
"Hah," cibir Inuyasha lagi, tapi senyum tidak kunjung menghilang dari wajah tampannya. Menatap musuh di depan, dia mencabut pedang tessaiga dari sarungnya. "Dasar kau memang; bodoh."
Sesshoumaru diam membisu dengan wajahnya yang tetap tanpa ekspresi. Tidak ada kemarahan ataupun kekesalan dirasakan mendengar apa yang dikatakan inuhanyou itu.
Tertawa, Inuyasha kemudian kembali menatap pada Sesshoumaru yang mencabut bakusaiga dari sarungnya. "Ayo, kita basmi mereka semua, Kakak."
Seulas senyum kecil memenuhi wajah Sesshoumaru. "Ayo, Inuyasha."
....xOxOx....
__ADS_1