Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 48


__ADS_3

Sesshoumaru berdiri di balkon ruang kerjanya yang berada di puncak Istana Tanah Barat dalam diam. Dirinya tidak menatap sedikitpun pemandangan salju yang telah mentupi seluruh dataran di luar jendela, mata emasnya tertutup rapat dengan sebuah botol kecil di tangan kanannya. Di belakangnya Inukimi, Kenji, Kiri, Kira, Inuyasha dan Kagome berdiri diam.


Pintu shoji ruang kerja Sesshoumru tiba-tiba terbuka, seorang inuyoukai prajurit istana segera masuk dan berlutut menghadap punggung Sesshoumaru yang tidak bergeming sedikit pun. "Lapor, Seshoumaru-sama. Kami tidak bisa menemukan Rin-sama maupun penculiknya."


"Cari sampai ketemu!" teriak Inukimi tiba-tiba. Sedetik saja dia telah berada di depan prajurit tersebut dengan mata emasnya yang telah berubah menjadi merah darah. Bibirnya terangkat memperlihatkan taringnya yang panjang. Suaranya memberat bagaikan sebuah desiran. "Tidak peduli bagaimana dan dengan cara apa pun, temukan putriku dan penculiknya!"


Raut wajah dan kemarahan Inukimi membuat prajurit tersebut menjadi takut. Tergagap dia segera mengangguk kepala. "H-hamba mengerti, Inukimi-sama."


"Bunuh mereka! Jangan berani kalian membiarkan satupun dari mereka hidup!" perintah Inukimi lagi. Tangannya yang memiliki cakar tajam bergerak mencengkeram leher prajurit yang tidak bisa bergerak sedikit pun.


"Inukimi, tenangkan dirimu!" teriak Kenji melihat sikap mantan Penguasa Tanah Barat yang dikuasai kemarahan.


Melepakan prajuit tersebut, Inukimi menatap Kenji. Kemarahannya semakin menjadi-jadi. "Tenang katamu! Saat putriku yang berharga diculik dari diriku!"


Kenji terdiam mendengar apa yang diucapkan Inukimi. Kemarahan Inukimi, dia bisa memakluminya, tapi, marah dan membunuh prajurit yang tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua, justru merupakan sebuah perbuatan yang salah.


"Sesshoumaru-sama!" panggil seseorang tiba-tiba. Pintu shoji ruang kerja tempat semuanya berada terbuka, dan Kohaku berserta Sango berjalan masuk.


"Sesshoumaru-sama, yang menculik Rin adalah Tsu—" ucap Kohaku lagi berusaha memberitahu siapa penculik Rin. Namun, belum selesai ucapan Kohaku, seorang prajurit berlari masuk. "Sesshoumaru-sama!"


Prajurit yang masuk tersebut bukanlah prajurit Istana. Pakaiannya meski masih memiliki lambang barat, jelas tidak sama persis dengan pakaian prajurit istana. Berlutut di hadapan Sesshoumaru tidak mempedulikan yang lainnya, wajahnya terlihat jelas sangat panik. "Sesshoumaru-sama, hamba adalah prajurit dari perbatasan Selatan. Sekitar sepuluh ribu pasukan selatan kini telah berada dan berkemah di depan benteng perbatasan."


Mengeluarkan sebuah gulungan, dia menangkat untuk menyerahkannya pada Sesshoumaru. "Mereka mengantarkan ini untuk anda, Sesshoumaru-sama."


Sesshoumaru tetap tidak bergerak, dia tetap membelakangi prajurit tersebut. Inukimi yang masih penuh kemarahan melangkah mendekati prajurit tersebut. Mengangkat tangan, dia segera merebut gulungan tersebut dan membukanya. Mata merahnya terbelalak dan tidak mempedulikan apa-apa, dia menarik gulungan tersebut menjadi dua dan melemparnya ke atas tatami ruangan. "Kurang ajar! Kurang ajar! Beraninya! Berani-beraninya serigala kecil itu!" teriak Inukimi.


Kenji yang melihat sikap Inukimi segera berlutut mengangkat gulungan tersebut. Matanya terbelalak, sebab meski telah rusak dia masih bisa membaca jelas apa yang tertulis dalam gulungan tersebut. Inuyasha yang tidak mengerti apa yang terjadi segera mendekati Kenji, merebut gulungan tersebut dan membacanya dengan keras.


...Dari Selatan untuk Barat....


...Kedamaian sungguh membosankan....

__ADS_1


...Hujan darah sungguh kurindukan....


...Mari kita biarkan jeritan dan tanggisan menentukan...


...Barat yang bertahan atau Selatan yang berjaya....


...Akihiko...


Menatap Sesshoumaru, semua terdiam. Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku memang tidak mengenal langsung siapa Akihiko, tapi mereka tahu, nama itu adalah nama dari youkai penguasa Tanah Selatan. Kenji juga tidak bisa mengatakan apa-apa, dia masih kurang dapat mempercayainya, Akihiko serigala putih penguasa Tanah Selatan, melalui surat itu, jelas telah menyatakan perang terhadap barat.


"Sesshoumaru-sama!" panggil Kohaku lagi. Ketakutan memenuhi dirinya, jika selatan menculik Rin dan menyatakan perang, tidak salah lagi, Rin akan menjadi alat dari perang youkai ini; menjadi sandera selatan. "Rin! Yang menculik Rin adalah Tsuba—"


Sesshoumaru mengangkat tangan kirinya yang bebas ke atas, menandakan supaya Kohaku diam. Tidak diberitahu siapapun, dia tahu siapa yang menculik Rin, yakni; Tsubasa, selir kesayangan Penguasa Tanah Selatan. Dia tidak mencium maupun merasakan lagi bau serta aura Tsubasa dan semua pengikutnya sejak tadi pagi, bersamaan dengan hilangnya bau serta aura Rin. Mereka telah menipunya dengan menggunakan botol ramuan parfum di tangannya. Mengelabuinya dan menculik Rin dari istananya, lalu, kini ada surat untuknya, selatan yang menyatakan perang pada barat?


Membalikkan badannya, Sesshoumaru menatap semua yang ada. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi, namun saat matanya terbuka, semua yang berada di sana tidak kecuali Kiri, Kira, Kenji maupun Inuyasha dan inukimi langsung merinding. Mata emasnya kini telah berubah menjadi merah darah pekat yang saking pekatnya bahkan terlihat seperti hitam.


Tidak ada yang berani mengatakan apa-apa, semua diam membisu. Melihat mata Sesshoumaru sekarang, mereka tahu betapa marahnya inuyoukai penguasa Tanah Barat tersebut. Inuyasha hanya dapat menelan ludah, dia pernah melihat Sesshoumaru marah besar beberapa kali, namun kemarahannya kali ini sungguh berbeda, dan mau tidak mau, dalam hati, dia bersyukur karena kemarahan tersebut bukan ditujukan padanya.


"Kiri, Kira," panggil Sesshoumaru. Suaranya tetap datar, namun kengerian terasa dengan jelas.


"Siapkan pasukan Barat. Jika Selatan memang menginginkan hujan darah, maka Sesshoumaru ini akan mengabulkannya." Perintah Sesshoumaru.


"Mengerti!" Balas Kira dan Kiri lagi bersamaan. Tidak mengatakan apa-apa lagi, mereka berdua langsung bangkit dan berjalan keluar menjalankan perintah Sesshoumaru.


Inukimi tersenyum menyeringai penuh kepuasan mendengar apa yang dikatakan Sesshoumaru. Keputusan putranya sungguh memuaskan hatinya. Dia akan berdiri di depan garis perang saat pertempuran berlangsung, sebab dengan tangan sendiri, dia akan mengoyak badan dan mencabut jantung Tsubasa yang telah berani menculik Rin dari Tanah Barat.


Kenji diam membisu berusaha keras memikirkan solusi terbaik untuk menghindari perang. Dia tidak ingin selatan dan barat berperang, berapa banyak nyawa yang akan menajdi bayarannya, baik itu youkai maupun manusia. Kedamaian yang ada akan segera berakhir. Tapi, melihat keadaan sekarang, melihat ekspresi wajah Sesshoumaru dan Inukimi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, sebab dirinya tidak mempunyai kekuasaan untuk menghentikan perang yang telah dikorbarkan.


Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku juga hanya diam membisu seperti Kenji. Hanyou dan para manusia yang mendengar penyataan perang yang telah dinyatakan juga tidak bisa berbuat apa. Perang youkai, mereka tidak bisa ikut campur, tapi, mereka juga tidak menginginkan itu terjadi. Perang youkai tidak pernah menjadi berita baik bagi siapapun yang mendengarnya.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa lagi, dia kembali membalikkan badan menatap pemandangan salju di depannya. Mengepalkan tangannya dengan kuat, dia berusahan menahan kemarahan dan kebencian luar biasa yang memenuhi hatinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, inuyoukai Penguasa Tanah Barat tersebut merasakan kemarahan yang seperti ini. Kemarahan yang ditujukannya pada Selatan dan juga dirinya sendiri. Pada selatan yang berani menyatakan perang serta menculik Rin. Pada dirinya sendiri yang membiarkan itu semua terjadi. Kenyataan akan untuk pertama kalinya dia menyadari perasaannya yang sesungguhnya pada gadis manusia itu membuatnya bimbang. Dirinya tenggelam dalam perasaannya semalaman, terus berusaha menepis kenyataan bahwa dirinya telah menjadi seperti ayahandanya; mencintai seorang manusia. Namun, dia tidak berhasil, dan yang terjadi adalah dirinya lengah hingga tidak tahu gadis itu telah menghilang dari istananya.

__ADS_1


Sesshoumaru tidak berani bertindak sembarangan, sebab Akihiko bukanlah youkai yang mudah dipredeksi. Dalam perang youkai antara Barat-Selatan ini, salah satu langkah saja, nyawa Rin bisa melayang, dan jika itu terjadi, dia tidak akan dapat menghidupkannya kembali lagi untuk ketiga kalinya.


Rin.


Wajah tertawa dan tersenyum Rin terbayang dalam pikiran Sesshoumaru. Gadis manusia yang dihidupkan dan dibesarkannya, gadis manusia yang telah mekar menjadi bunga terindah di dunia ini, gadis manusia paling berharga baginya, gadis manusia miliknya; Rin-nya. Dia akan menghancurkan Selatan. Jika mereka berani melukai gadis itu sehelai rambut saja, maka dia akan memastikan bahwa Selatan berserta seluruh isinya akan musnah dari dunia ini selamanya.


....xOx....


Membuka matanya Rin berbaring di atas sebuah futon. Mengucek-ngucek mata dengan tangannya, dia menguap. Kapan dirinya tertidur? Dia tidak bisa mengingatnya. Namun, saat dirinya mengamati sekelilingnya, dia sadar, dia tidak berada dalam kamarnya sendiri di Istana Tanah Barat. Langit-langit kamar jelas sangat asing bagi Rin, begitu juga dengan dinding-dindingnya. Tidak banyak perabotan di dalamnya dan kamar tersebut sekilas mirip dengan salah satu kamar tamu di Istana Tanah Barat.


Bangkit, Rin menemukan dirinya masih menggunakan yukata tidurnya. Menatap sekeliling lagi, dia melihat lampu minyak menerangi kamar tempatnya berada. Berjalan pelan, gadis itu menuju pintu shoji kamar dan membukanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah lorong koridor gelap dan panjang dengan beberapa lampu minyak sebagai penerang.


Melangkah kaki, Rin menyusuri koridor tersebut dengan pelan. Dari jendela di sekeliling koridor, dia bisa melihat sekarang adalah malam. Tidak ada matahari yang bersinar, yang ada hanyalah bintang dan bulan. Terus melangkah, dia yakin, dirinya berada dalam sebuah Istana, hanya saja, keheningan dan ketenangan di sekelilingnya terasa begitu janggal. Di tempat seperti ini, tidak ada seorang penjaga jelas bukanlah sesuatu yang benar.


Menyusuri koridor tersebut lebih jauh lagi, Rin kemudian menyadarinya. Ternyata apa yang dipikirkannya barusan salah. Dia bisa merasakan dengan jelas sekarang; ada berpuluh-puluh mata yang mengawasi setiap langkah kakinya dari dalam kegelapan, dan dia juga tahu, itu adalah mata youkai, bukan manusia. Namun, tidak sedikit pun ketakutan dirasakannya. Dirinya yang selama ini selalu dikelilingi youkai tidak merasakan sedikitpun perasaan yang seharusnya dirasakan seorang manusia pada posisinya sekarang.


Berjalan beberapa lama Rin akhirnya memasuki sebuah taman. Beda dengan taman yang berada di Istana Tanah Barat tempatnya dibesar, di mana meski musim dingin walau tidak berbunga masih penuh dengan batang pohon sakura yang akan berbunga saat musim semi. Taman tempatnya berada sekarang, sangat kosong dan gersang, tanpa pohon, bunga maupun rumput sehelaipun.


Menarik yukata dan menggosok-gosok telapak tangannya, Rin berusaha melawan hawa dingin yang dirasakannya. Mata manusianya masih bisa melihat sekelilinganya dengan baik berkat bantuan sinar bulan di atas langit malam yang masih cukup penuh. Namun seberkas cahaya tiba-tiba merebut perhatiannya.


Di tengah-tengah taman yang gelap dan gersang, Rin melihat jelas, ada seberkas cahaya putih yang terus bergerak-gerak cepat. Tidak berpikir panjang, melangkah kakinya yang tidak beralas, gadis manusia itu segera mendekati cahaya tersebut. Semakin dekat Rin dengan cahaya tersebut, matanya pun akhirnya bisa melihat apa sosok sesungguhnya dari cahaya putih yang dilihatnya, yakni; seorang pria, atau lebih tepatnya seorang youkai.


Dalam kegelapan dengan sinar bulan sebagai cahaya, youkai itu sedang berlatih pedang, meloncat dan mengarahkan pedangnya seakan sedang menghadapi musuh. Sinar bulan membuat Rin bisa melihat jelas wajah tampan youkai tersebut, berambut putih kebiruan yang dipotong pendek, mata sewarna dengan langit biru, hidung yang mancung, telinga yang runcing serta dua garis biru tua di pipinya. Pakainya adalah sehelai haori biru dan hakama hitam. Sekilas melihat saja, Rin tahu, pakaiannya terbuat dari sutra dengan mutu terbaik. Namun, yang paling jelas, sekilas melihat, Rin juga tahu, dia adalah youkai kuat yang memiliki kekuasaan tinggi seperti Sesshoumaru.


Tebasan youkai tersebut sangat kuat dan tajam, namun tidak dapat dipungkiri sangat rapi dan anggun, membuat Rin sangat terpesona. Gerakan demi gerakan, sebetan serta tusukan yang disertai loncatan dalam mata Rin, terlihat bagaikan sebuah tarian yang indah. Dengan pelan, gadis manusia itu kemudian duduk di atas tanah menonton youkai di depannya, tidak mempedulikan yukata tidurnya menjadi kotor.


Berapa lama Rin menonto youkai itu berlatih pedang, dia tidak tahu. Namun, mata coklatnya terus mengikuti gerakan tersebut hingga akhirnya youkai tersebut berhenti, menandakan latihannya telah selesai.


'Plok-plok-plok-plok.'


Tepuk tangan terdengar memecahkan keheningan yang ada. Menoleh kepala menatap sumber suara, youkai tersebut terpana melihat apa yang ada di depannya. Tidak jauh di depannya, seorang gadis manusia duduk dengan cahaya bulan menyinarinya. Seulas senyum lebar melintas di wajahnya yang sangat cantik, sedang kedua mata coklat besarnya yang jernih berbinar-binar penuh kegembiraan. Membuka mulut munggilnya, suara yang begitu lembut dan indah bagaikan lonceng terdengar.

__ADS_1


"Hebat! Indah sekali!"


....xOxOx....


__ADS_2