![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Inuyasha duduk diam tidak tahu harus berbuat apa. Melipat kedua tangan di dada, mata emasnya menatap para prajurit di luar jendela yang sedang menyiapkan atribut-atribut perang mereka. Wajah mereka terlihat penuh tekad dan kemarahan, mungkin perang memang tidak dapat dihindari.
"Apakah perang ini benar-benar tidak dapat dihindari?" tanya Kagome yang duduk di samping Inuyasha pelan. Matanya menatap sendu Shiro yang ada dalam pelukannya, dia tidak menyukai perang sedikitpun, sebab aka nada berapa banyak orang yang akan kehilangan orang yang mereka cintai?
"Cih," cibir Inuyasha. "Memang ini yang diinginkian si berengsek itu sejak dulu."
"Kau salah dan Kagome benar, Inuyasha," ujar Kenji tiba-tiba mengejutkan Inuyasha dan Kagome dari belakang mereka. "Perang ini memang tidak dapat dihindari."
"Jangan muncul tiba-tiba di belakangku, sialan!" teriak Inuyasha sambil berdiri, tangannya bersiap sedia mencabut Tensaiga.
"Inuyasha," panggil Kagome pelan. "Osuwari."
Inuyasha langsung jatuh ke bawah ditekan gravitasi berat. "Kagome! Apa-apaan, kau?! " protesnya.
Kagome tidak mempedulikan protes suaminya, matanya menatap lurus youkai monyet di depannya. Dia bisa merasakannya, di istana ini sekarang, selain mereka, mungkin Kenjilah satu-satunya yang tidak menginginkan perang ini terjadi.
"Anda kenal baik dengan Inukimi-sama dan Kakak, bukan, Kenji-san?" tanya Kagome. "Maukan anda mencoba membujuk mereka untuk menghentikan semua ini."
Kenji menghela napas mendengar ucapan Kagome. "Tidak mungkin aku bisa menghentikan perang ini. Satu-satunya orang yang bisa menghentikan perang ini tidak berada lagi di sini."
"Orang yang bisa menghentikan perang ini?" tanya Inuyasha binggung bercampur terkejut. "Siapa itu?"
Pertanyaan Inuyasha membuat Kagome menghela napas. Beberapa hari ini dalam Istana Tanah Barat ini, tidakah suaminya itu sadar dengan sesuatu yang begitu jelas itu? "Tentu saja maksunya adalah R—"
"Rin-chan." potong seseorang pelan.
Inuyasha, Kagome dan Kenji menoleh kepala menatap sumber suara dan menemukan Miroku, Sango serta Kohaku berdiri menatap mereka. "Hanya Rin-chan seorang yang bisa menghentikan perang ini. Benar, kan?" tanya Miroku sambil tersenyum.
Kenji mengangguk kepala. Yang bisa menghentikan perang ini memang hanya gadis manusia itu seorang. Begitu dipuja dan dicintai seluruh tanah barat, semua youkai barat pasti bersedia mendengar pintahnya jika dia meminta, tidak terkecuali Sesshoumaru. Sayangnya, dia tidak berada di sini, dan lebih ironis lagi, kemarahan tanah barat ini selain disebabkan karena tanah selatan yang mengumumkan perang, juga disebabkan karena gadis manusia itu telah diculik selatan.
"Karena itu," lanjut Miroku dengan senyum yang masih ada di wajah dan berjalan mendekati ketiga orang di depannya. "Tidakkah ini mengingatkan kalian pada masa muda kita, Inuyasha, Kagome?"
"Hah?" Inuyasha dan Kagome menatap penuh kebingungan Miroku.
"Ayo kita pergi ke Tanah Selatan dan menyelamatkan Rin." Jelas Sango. "Seperti dulu-dulu saat kita mengembala bersama mencari Shinkon No Tama."
"Ehhh?" seru Inuyasha dan Kagome bersamaan.
"Terlalu lama hidup damai, kalian sudah melupakan masa lalu kita, ya?" Miroku menutup mata dan menggeleng kepala. "Seperti dulu, ayo kita pergi menyelamatkan, Rin. Membawanya pulang dan dia akan menghentikan perang yang ada."
"Tidak semudah itu," sela Kenji tegas. "Memasuki Tanah Selatan tidak semudah yang kalian kira."
"Ya, tidak akan mudah," setuju Inuyasha dan bangkit berdiri. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Menatap istrinya, dia melihat secercah senyum di wajah cantik tersebut. "Tapi, ini semua tidak akan sesulit kita mengalahkan Naraku."
....xOx....
__ADS_1
Sesshoumaru berdiri menatap taman bunga di depannya. Sejauh mata menatap, hanya ada putihnya salju. Memejamkan matanya, dia merasakan perasaan—perasaan tidak menyenangkan dalam hati. Tidak seharusnya dia berdiri diam di tempat ini sendirian, seharusnya disampingnya sekarang, ada gadis manusia yang sedang menganggam erat jari-jemarinya, memberikannya kehangatan yang begitu menyenangkan. Lalu, saat dia membuka mata, seharusnya yang dilihatnya adalah senyum musim semi yang begitu hangat tertuju padanya.
Namun, semua itu sekarang lenyap. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa dan tidak bisa juga menepis perasaan kehilangannya. Tidak pernah dia menyangka ternyata keberadaan gadis manusia itu kini begitu penting baginya.
"Sesshoumaru." Panggil Inukimi pelan dari belakang.
Sesshoumaru tidak membalikkan badan menatap Ibu kandungnya. Dia membuka pelan matanya, "Apa yang kau inginkan Ibunda?"
Inukimi melangkah kaki mendekati Sesshoumaru dan berdiri tepat di sampingnya. Mata emasnya menatap lurus salju putih di depan. "Apa yang sedang kau pikirkan Sesshoumaru?"
Sesshoumaru diam membisu.
"Perang di depan mata atau Rin kecil?" tanya Inukimi lagi.
Sesshoumaru tetap diam membisu.
Inukimi tahu, Sesshoumaru tidak akan menjawab, karena itu dia membalikkan badan dan berjalan menjauh. Namun, baru beberapa langkah dia melangkah suara Sesshoumaru menghentikannya. "Tidakkah kau takut aku akan berakhir seperti Ayahanda?"
"Kalian berbeda, Sesshoumaru," jawab Inukimi pelan dan mengangkat kepala menatap langit di atas. "Kau adalah kau, Taisho adalah Taisho, Izayoi adalah Izayoi, Rin adalah Rin."
Jawaban Inukimi kembali membuat Sesshoumaru diam membisu. Inukimi tidak mengatakan apa-apa lagi, dia berjalan menjauh meninggalkan putranya sendirian.
Taisho dan Izayoi.
Sesshoumaru dan Rin.
Youkai yang mencintai manusia dan manusia yang mencintai youkai. Dua ras yang begitu bebeda, satu kuat dan satu lemah, apakah mereka bisa bersama sampai akhir? Apakah mereka bisa bahagia? Bahagiakah Ayahandanya setelah menikahi Izayoi? Bahagiakah Izayoi dalam hidupnya? Kisah mereka berakhir dengan begitu menyedihkan.
Sesshoumaru-sama
Senyum dan tawa Rin terlintas dalam pikiran Sesshoumaru, membuat Penguasa Tanah barat itu merasakan kehangatan dan juga kegetiran. Dia bisa mengingatnya dengan jelas, air mata serta wajah sedih Izayoi yang ditinggal mati Ayahandanya dulu. Dan dia tidak bisa membayangkan air mata dan kesedihan itu di wajah Rin.
Mencintai manusia, kehilangan daerah kekuasaan serta kehormatannya sebagai Youkai, lalu mati demi Izayoi, Taisho berani melakukannya. Sekarang Sesshoumaru bertanya pada dirinya sendiri, beranikah dia? Apakah dia juga akan melakukan itu semua demi Rin?
Cintai adalah perasaan manusiawi. Cinta adalah perasaan tidak berguna. Cinta akan membuatmu lemah dan musnah;cinta adalah kelemahan.
Ajaran yang selalu diajarkan padanya terlintas. Perasaan tidak berguna. Mungkin dia seharusnya menghentikan itu semua, berhenti mencintai Rin yang seorang manusia. Sesshoumaru menutup mata dan membayangkan, bagaimana hidupnya akan berlanjut tanpa Rin? Bagaimana dia akan hidup jika dia tidak pernah bertemu dengan Rin?—Dia akan tetap menjadi Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat yang ditakuti semua orang. Barat tetap akan berjaya, tidak akan ada yang berubah, yang berubah mungkin hanyalah dia tidak dapat melihat senyum musim semi itu. Tidak akan bisa merasakan kehangatan serta mencium bau harum tubuh gadis itu—dia hanya tidak akan pernah mengetahui bagaimana perasaan dicintai dan mencintai.
Apakah dia bisa menerima itu? Jawabannya; tidak. Bagaimana dia bisa menerima itu setelah dia tahu betapa indahnya senyum musim semi itu? Begitu harumnya bau musim semi abadi itu, serta begitu hangatnya sentuhan dan pelukan gadis itu. Pertama kali, dia mengakui dalam hati, betapa berbeda hidupnya setelah Rin ada. Senyum dan tawa hadir, nyanyian tercipta, warna-warni terlukis. Dunianya tidak lagi dunia tanpa warna dimana hanya terdapat suara teriakan dan tangisan, dunia dimana dentingan senjata dan darah merah mengalir.
Gadis manusia yang diselamatkannya dulu, telah mengubah dunianya. Apakah dia mau kembali kedunia tanpa warna dan dingin itu lagi? Pertanyaan yang bodoh; tidak akan ada yang mau kembali ke dalam dunia yang dingin setelah mengenal hangatnya dunia. Karena itu, melupakan atau melanjutkan hidup tanpa gadis itu? Bagaimana dia bisa melakukannya?
Sesshoumaru tahu, dia tidak akan bisa lagi. Ironis bukan? Bahkan untuk sekarang, saat perang sudah di depan mata, dia lebih memikirkan keselamatan gadis itu dibandingkan kemenangan atau kekalahan dirinya. Perasaannya tidak mau mengikuti pikirannya lagi, inikah mencintai itu? Lebih penting dari harga dirinya, lebih dari kehormatan, kekuatan dan kekuasaan, lebih dari hidupnya sendiri—itukah arti dari seseorang yang kau cintai?
Keangkuhan karena tidak ingin mengakui, keegoisan karena ingin memiliki, ketakuan karena mencintai, kebahagiaan karena dicintai. Perasaan yang bercampur aduk tanpa bisa dipisahkan. Sangat rumit dan menyiksa, namun sekaligus sangat jujur dan benar. Inikah perasaannya saat seorang youkai mencintai seorang manusia?
__ADS_1
Mengangkat kepala menatap langit di atas, Sesshoumaru membuka matanya, "Inikah yang kau rasakan Ayahnda? Seperti inikah kau mencintai Izayoi?"
....xOx....
Kaki kecil itu melangkah dengan riang mengikuti Tsubasa, senyum lebar menghiasi wajahnya dan mata coklatnya berbinar-binar menatap sekeliling. "Istana Tanah Selatan ternyata tidak berbeda jauh dengan Istana Tanah Barat, ya, Tsubasa-sama?"
Tsubasa tidak menjawab atau menoleh menatap gadis manusia dibelakangnya. Dia tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti; tidak takutkah gadis itu? Kenapa dia masih tersenyum dengan riang dalam kondisinya sekarang?
"Dan Rin hampir lupa," tawa Rin. Berlari kecil ke depan, dia menyamakan langkah kakinya dengan youkai burung tersebut. "Terima kasih sudah membiarkan Rin meminjam baju anda. Tsubasa-sama. Rin sungguh sangat berterima kasih."
Tsubasa tetap tidak menjawab. Dia meminjamkannya Kimono musim dinginnya karena perintah dari Akihiko. Dan juga, dia tidak mungkin membiarkan gadis manusia itu mati karena kedinginan di selatan, kan? Dia menculiknya bukan untuk membiarkannya mati karena kedinginan.
"Ah!" teriak Rin tiba-tiba dan berlari meninggalkan Tsubasa, "Akihiko-sama!"
Menatap ke depan, Tsubasa melihat Penguasa Tanah Selatan sedang berdiri diam di taman menatap langit biru di atas. Selir penguasa tanah selatan itu tidak mengatakan apa-apa, namun langkah kakinya mengikuti Rin mendekati Akihiko.
Akihiko menurunkan kepala menatap Rin yang berlari ke arahnya. Melihat senyum gadis manusia itu, dia tidak mengatakan apa-apa, namun dia jelas mengamati penampilannya yang telah berubah. Dengan Kimono berwarna biru langit—warna selatan, mau tidak mau, ada perasaan puas dalam hatinya. Gadis itu lebih cocok dengan warna birunya selatan, daripada warna merah barat.
"Apakah anda akan berlatih pedang lagi, Akihiko-sama?" tanya Rin penuh harap saat tiba di depan Akihiko. "Boleh Rin menontonnya? Rin tidak akan menganggu."
Akihiko tetap diam menatap Rin yang tersenyum manis. Melihat senyum itu, dia teringat lagi dengan rumor yang beredar, tentang betapa indahnya senyum Hime dari barat. Mungkin rumor itu memang tidak salah, kecantikan gadis manusia di depannya memang sangat langka.
"Akihiko-sama," salam Tsubasa sambil menundukkan kepalanya sedkit memberikan hormat.
"Semua persiapan kita telah selesai, kan?" tanya Akihiko dan menoleh kepala menatap langit lagi. Matanya menerawang membayangkan perang yang akan terjadi. "Jangan sampai ada kesalahan dan sesuatu yang tidak diperlukan lagi."
"Hamba mengerti," jawab Tsubasa cepat. "Hamba tidak akan melakukan kesalahan lagi."
Tsubasa tidak berani berkata banyak. Mau tidak mau dia merasa sedikit takut dan bodoh, kenapa dia sampai menculik Rin. Rencana penculikan Hime dari Barat adalah sebuah rencana tidak terduga yang dilakukannya secara spontan. Dia menghadiri pesta ulang tahun Sesshoumaru memang bukanlah untuk menculik, tapi untuk menyelidiki kekuatan dan sekutu barat. Hanya saja, saat melihat cara menatap Penguasa Tanah Barat saat Rin mempersembahkan tariannya, Tsubasa merasa, Seshoumaru dari Barat yang terkenal tanpa celah dan kelemahan menganggap penting gadis manusia peliharaannya. Gadis itu mungkin bisa berguna bagi selatan nantinya. Dan mungkin juga, gadis manusia ini adalah kelemahan Sesshoumaru.
Jawaban Tsubasa membuat Akihiko mendengus pelan. Gadis manusia itu penting bagi Sesshoumaru? Akihiko ingin tertawa. Sesshoumaru membiarkan gadis manusia itu disamping hanyalah satu memperlihatkan kepada semua orang bahwa barat memiliki kecantikan langka. Hanya untuk menyombongkan Barat. Dia mengenal Sesshoumaru sejak kecil, kebenciannya terhadap manusia dan harga dirinya—gadis manusia ini tidak mungkin kelemahannya.
"Akihiko-sama," panggil Rin lagi yang merasa tidak dipedulikan Penguasa Tanah Selatan tersebut. "Rin bertanya sekali lagi, bolehkah Rin menonton Akihiko-sama saat berlatih pedang lagi?"
Pertanyaan Rin membuat Akihiko menurunkan kepalanya. Dia tetap diam, namun matanya menatap gadis itu.
Tatapan mata Akihiko membuat Rin tersenyum, dia tahu jelas maksud tatapan mata itu. Penguasa Tanah Selatan sedang bertanya padanya; kenapa?
Tertawa lepas, Rin mengangkat tangan kanannya ke atas dan berputar, meniru salah satu gerakan kecil dari ilmu pedang Akihiko. "Karena anda terlihat sangat indah."
Akihiko tekejut mendengar ucapan Rin. Namun, sedetik kemudian, rasa terkejutnya berubah menjadi tertegun. Mengangkat tangan, berputar dan menggerakkan badannya, gadis manusia di depannya itu bergerak meniru gerakan latihan pedang Akihiko dengan pelan. Angin yang berhembus menerbangkan rambut Rin yang bergerak, membawa harusmnya bau musim semi ke hidung Akihiko, suara tawa bagaikan dentingan lonceng ditangkap telinganya, lalu kecantikan senyum gadis manusia itu merebut pandangannya.
Gerakan Rin membuat Tsubasa tertegun, namun sejenak kemudia dia segera sadar dan menoleh wajah menatap Akihiko. Ada perasan tidak enak muncul dalam hatinya saat melihat tatapan Akihiko yang terarah pada Rin. Sama dengan semua yang ada di dalam pesta ulang tahun Sesshoumaru, setiap gerakan gadis manusia itu dapat menghipnotis siapa saja yang melihatnya.
Rin terus bergerak meniru gerakan latihan pedang Akihiko yang ada dalam kepalanya, mengangkat kepala menatap langit biru diatas dan tersenyum. Wajah Sesshoumru terbayang dalam benaknya. Gerakan pedang Akihiko menginspirasinya sebuah tarian. Jika dia bisa menyepurnakannya selama di sini, maka, saat pulang ke Barat, dia bisa menunjukkannya pada Sesshoumaru. Pandangan Ssshoumaru saat melihat tariannya, serta pujiannya—Rin tidak sabar menunggu kebersamaan mereka lagi.
__ADS_1
....xOxOx....