![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Di dalam kamar, dimana semua orang berkumpul tanpa mengatakan sepatah katapun, Kagome menatap Rin yang tersenyum di depannya. Baik dia maupun Jinenji ataupun Inukimi telah memeriksa kisaki tanah barat itu, dan mereka tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskan kondisinya.
Rin sudah sadar, tapi keadaannya tidak berubah banyak. Siapapun yang melihatnya akan sadar, wanita manusia ini tidak dalam keadaan sehat. Meski tersenyum, meski mata coklat jernihnya bersinar indah—kondisinya masih sangat menghawatirkan.
Terlebih sekarang, meido seki yang berubah warna menjadi merah dan menempel di dada Rin. Batu itu berdetak seirama detakan jantung wanita manusia itu, seakan merupakan bagian dari kisaki tanah barat itu–jantungnya yang lain.
"Beristirahat yang banyak, Rin-chan," senyum Kagome lembut. Kondisi sekarang semakin tidak menentu, tapi, dia tidak mungkin mengatakannya pada Rin. Dia tidak ingin wanita manusia ini khawatir. "Kau akan sehat kembali seperti semula."
Rin mengangguk kepala pelan dengan seulas senyum di wajahnya. "Rin mengerti Kagome-sama."
Menoleh kepalanya ke samping Rin kemudian tertawa pada Sesshoumaru. Inuyoukai itu duduk tepat di sampingnya, dengan badan dan kedua tangan yang menopang tubuh mungilnya duduk di atas futon. "Rin sudah tidak apa-apa Sesshoumaru-sama.."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Rin. Wajah inuyoukai itu tanpa ekspresinya. Namun, meski begitu, dia bisa melihat jelas kekhawatiran dalam sepasang mata emas tersebut.
Tersenyum, perlahan, Rin mengangkat kedua tangannya menyentuh meido seki yang berdetak. Dia menyentuhnya dengan sangat lembut. "Meido seki tidak berbahaya untuk Rin, Sesshoumaru-sama.."
Rin tahu, semua yang ada di kamar ini sangat menghawatirkan dirinya, terutama untuk meido seki yang kini telah menjadi satu dengannya.
"Kenapa kau yakin, Rin kecil?" tanya Inukimi pelan. Dia adalah pemilik sebelumnya dari meido seki, dan juga, dia sudah melihat batu itu semenjak dia kecil. Namun sekarang, batu itu terlihat sangat asing baginya.
Pertanyaan Inukimi membuat Rin menurunkan kepala menatap batu merah yang disentuhnya lembut. "Rin tahu, Ibunda. Tapi, Rin tidak bisa menjelaskannya.."
Jawaban Rin hanya membuat semua orang bingung. Meido seki berbahaya karena Rin adalah manusia. Manusia tidak mungkin dapat menggunakannya, apalagi, batu itu kini telah menjadi bagian wanita manusia itu sendiri.
"Bukankah meido seki dua kali bersinar dan Rin menjadi baik-baik saja?" lanjut Rin lagi dan tertawa kecil. "Kali ini juga, bukankah Rin bangun lagi saat dia menjadi bagian dari tubuh Rin dan berdetak?"
Pembelaan Rin membuat semua yang ada dalam kamar terdiam. Apa yang Rin katakan sangat beralasan, selama ini saat keadaan Rin memburuk, meido seki memang selalu muncul menjadi penyelamat, tapi–mereka jelas tidak bisa melupakan kegilaan dari serangan batu itu yang tidak mengijinkan mereka mendekat di selatan.
"Meido seki itu baik.." senyum lembut memenuhi wajah cantik Rin. Mata coklat jernihnya berbinar penuh rasa terima kasih. "Rin berterima kasih padanya, karena dia selalu melindungi Rin..."
"Melindungi? Melindungimu dari apa?" tanya Kagome bingung.
Pertanyaan Kagome membuat Rin tertegun. Tapi, sejenak kemudian, dia kembali tertawa. "Rin tidak tahu. Tapi, tenanglah semuanya, Rin sudah tidak apa-apa."
Sikap Rin dan jawaban Rin hanya membuat semua yang ada dalam kamar kembali terdiam. Dalam hati, mereka hanya dapat berharap, bahwa ucapan wanita manusia itu benar, tidak akan terjadi apa-apa lagi padanya.
"Baiklah," ujar Kagome kemudian memecahkan keheningan. "Kau beristirahatlah, Rin-chan. Kami tidak akan menganggumu lagi."
Semua yang ada dalam kamar tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Kagome. Tapi, mereka tahu ucapan miko itu benar, Rin memang membutuhkan istirahat.
Perlahan, mereka semua kemudian mempermisikan diri dan berjalan meninggalkan kamar. Kagome yang terakhir keluar, lalu menoleh wajah ke belakang menatap Sesshoumaru. "Kakak, aku ada dikamar sebelah, panggil aku jika butuh bantuan."
Seperti biasa, Sesshoumaru tidak membalas ataupun memberikan reaksi pada ucapan Kagome. Namun, miko masa depan itu tahu, inuyoukai itu mengerti.
Tidak mengatakan apa-apa lagi, Kagome kemudian menutup pintu kamar pelan, meninggalkan Rin dan Sesshoumaru saja dalam kamar.
Kesunyian membuat Sesshoumaru kemudian perlahan membaringkan Rin ke atas futon. Duduk di samping menatap kisakinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia melihat seulas senyum seindah musim semi di wajah kelelahan itu.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Mata coklatnya menatap lembut inuyoukai penguasa tanah barat. "Bersediakah anda berbaring di samping Rin sekarang?"
Sesshoumaru menatap Rin tanpa menjawabnya. Namun sejenak kemudian, dia membuka selimut futon dan ikut berbaring di samping istrinya.
Rin tersenyum semakin lebar melihat Sesshoumaru yang mengabulkan permintaannya. "Sesshoumaru-sama," panggilnya lagi. "Bersediakah anda memeluk Rin sekarang?"
Tetap tidak menjawab, Sesshoumaru segera mengangkat kedua tangan memeluk Rin, dan membuat wanita manusia itu tertawa lepas.
Memeluk erat Rin, Sesshoumaru menutup mata. Dia tidak tahu apa perasaanya sekarang–semuanya terasa sangat kacau. Dia masih tidak dapat merasa lega meski mata coklat jernih itu telah terbuka. Selama wanita manusia ini belum sehat seperti seharusnya–dia tidak bisa tenang.
Ratusan tahun hidupnya yang panjang, semuanya berubah. Dari kehampaan menjadi kebahagiaan, dan kebahagiaan perlahan menjadi ketidak jelasan. Perubahan apa yang akan terjadi lagi ke depannya? Di masa depan, seperti apa hidup mereka nantinya?–Sesshoumaru sungguh tidak tahu.
Pelukan yang hangat, tanpa sepatah katapun. Tapi, Rin bisa merasakannya, segala emosi yang dirasakan Sesshoumaru. Mengangkat tangan, dia kemudian membalas pelukan erat itu. "Kami akan selalu tinggal, Sesshoumaru-sama.."
Ucapan yang diucapkan Rin, sudah berapa kali Sesshoumaru mendengarnya. Di saat semua telah menghilang, saat semua harapan musnah, dia hanya berharap, kalimat itu akan menjadi benang merah yang akan menuntun selalu mereka kembali ke sampingnya.
"Berjanjilah pada Sesshoumaru ini," Sesshoumaru mengeratkan pelukannya. Suaranya datar, tapi penuh permohonan "Kalian berdua tidak akan pernah meninggalkan Sesshoumaru ini.."
Rin terdiam mendengar ucapan Sesshoumaru atau permohonan inuyoukai yang dicintainya dengan segenap jiwa dan raganya.
Melindungimu dari apa?
Pertanyaan Kagome barusan terlintas dalam kepala Rin. Dia menjawab miko masa depan itu dihadapan semua orang; dia tidak tahu–dia berbohong.
Rin tahu, dari apa meido seki melindunginya. Tapi, dia tidak bisa mengatakannya. Batu yang berdetak ini melindunginya dari waktu yang telah kembali bergerak–melindungi keberadaan yang tidak seharusnya berada di dunia ini lagi.
Tapi, berada dalam pelukan ini sekarang, dengan anak mereka yang belum lahir–Ah, Rin benar tidak ingin berpikir lagi. Tidak apa-apa, belum waktunya, semuanya akan baik-baik saja. Untuk Sesshoumaru, untuk anak mereka–dia akan melewati ini semua.
Mengeratkan pelukannya. Mencium baunya yang khas dan menenangkannya, merasakan kehangatan tubuh yang disukainya serta mendengar detak suara detak jantung mereka yang sama–Rin akan tinggal.
"Iya, Rin berjanji pada anda Sesshoumaru-sama, Rin dan anak kita tidak akan pernah meninggalkan anda.."
Janjinya–apapun yang terjadi, Rin akan menepati janji ini.
....xOxOx....
Kohaku benar-benar ingin berteriak keras dan melemparkan kusarigama miliknya pada bangsawan bertubuh gendut dan pendek yang duduk di depan sekarang. Tidak pernah dia melihat manusia yang memiliki otak sempit seperti ini.
"Pasukanku kuat dan banyak," tawa bangsawan itu. Duduk sambil mengipas udara panas, dia menatap Kohaku dengan pandangan merendahkan. "Bangsawan lain juga bersedia membantu, belum lagi taijiya, miko dan pendeta."
Kohaku yang berada dalam istana bangsawan manusia penguasa Mio yang berpengaruh merasakan sakit kepala luar biasa sekarang. Semenjak mendapatkan info yang mengatakan adanya bangsawan yang mencari jasa membunuh kisaki tanah barat, dia memutuskan untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi.
Ketidak percayaan dan kebingungan adalah hal pertama yang dirasakan Kohaku saat mengetahui penyebabnya. Dunia manusia sekarang mengecap Rin, sang kisaki tanah barat sebagai seorang wanita manusia serakah yang ingin menguasai seluruh jepang dan menjadikan manusia budak youkai. Namun, yang lebih mengejutkan adalah ada bangsawan yang mau menyerang youkai barat dan membunuh kisaki tanah barat.
"Kami tidak akan kalah, kami pasti bisa memusnahkan youkai dari barat dan membunuh penguasanya."
__ADS_1
Kohaku menarik napas panjang mendengar ucapan bangsawan Mio yang penuh kepercayadirian. Memusnahkan youkai dari barat?–membunuh Sesshoumaru? Apa penguasa bodoh di depannya ini tahu apa yang dikatakannya?
Siapa Sesshoumaru?–dia adalah seorang daiyoukai yang bahkan ditakuti oleh youkai. Di tangannya, ada beribu-ribu youkai kuat yang rela mati untuknya–Kohaku ingat betapa besar dan mengerikannya pasukan youkai yang dipimpin penguasa tanah barat itu pada perang barat-selatan tahun lalu. Sosoknya itu–dia adalah penguasa dari penguasa. Bagaimana manusia bisa membunuhnya? Jangankan membunuh, mungkin menyentuhnya saja, pasukan gabungan yang dibanggakan bangsawan Mio inipun tidak mampu.
"Kami pasti bisa menghancurkan ambisi dan membunuh wanita murahan itu. Kami akan menyelamatkan umat manusia."
"Tarik ucapanmu!!" perintah Kohaku dengan suara keras. Kemarahan memenuhinya saat dia mendengar bagaimana penguasa bodoh di depannya menyebut Rin. "Dia bukan wanita murahan."
Bangsawan Mio terdiam mendengar ucapan Kohaku. Dia bisa merasakan kemarahan luar biasa dari taijiya muda di depannya, sepasang mata yang menatapnya sekarang begitu tajam dan menakutkan.
Jika saja, taijiya muda itu bukanlah Kohaku, sang pembantai youkai yang terkenal itu, dia tidak akan sudi meluangkan waktu untuk berbicara dengannya. Memangnya dia kira siapa dirinya di depan bangsawan penguasa Mio ini?
"Hentikan apa yang anda rencanakan," lanjut Kohaku lagi, berusaha mengontrol emosinya yang sudah hampir meledak. "Anda hanya akan memimpin pasukan anda menuju kehancuran."
Ucapan Kohaku dengan segera membuat ketakutan bangsawan Mio berubah digantikan kemarahan. Berdiri, dia berteriak keras dan membuat prajurit yang ada di sekitarnya menghunuskan pedang dan tombak pada taijiya muda itu. "Apa maksudmu!!!??"
Menghentikan rencananya menaklukkan youkai dari barat? Apa taijiya bodoh di depannya tahu bhwa dirinya, bangsawan besar ini akan kehilangan apa jika melewatkan kesempatan emas ini??–tanah dan kejayaan!!
Youkai tanah barat sejak dulu memiliki tanah kekuasaan yang luar biasa luas. Setiap tanahnya makmur dengan sumber daya alam yang berlimpah. Jika dia benar dapat melenyapkan youkai tanah barat, itu semua akan menjadi miliknya.
Sejak dia mendengar tentang rumor tentang kisaki tanah barat yang beredar, dia dan beberapa bangsawan tinggi lainnya telah merencanakan penyerangan ini. Mengabungkan kekuatan mereka dan menarik para taijiya, miko dan pendeta dengan alasan kelangsungan hidup manusia–tidak akan ada orang yang tidak setuju dengan keputusan mereka; mereka akan dipandang sebagai pahlawan di masa depan.
Tanah dan sumber daya alam akan dibagi antara mereka para bangsawan dan untuk para taijiya, miko serta pendeta–bukankah mereka akan puas menwujudkan tujuan hidup mereka membunuh youkai? Sekali dayung dua pulau terlampaui–bagaimana mungkin mereka melewatkan kesempatan ini?
Kohaku menatap kemarahan bangsawan di depanya. Dia tahu, apapun yang dikatakannya tidak akan berguna. Menyelamatkan umat manusia? Taijiya muda itu sungguh ingin tertawa mendengarnya. Dia tahu apa yang diinginkan para bangsawan manusia ini–ketamakan di mata mereka terlihat jelas.
Berdiri, Kohaku tidak mempedulikan bangsawan Mio dan prajuritnya. "Kirara!"
Seekor nekomata besar berekor dua tiba-tiba menerobos masuk melalui jendela mengejutkan bangsawan Mio dan para parajurit yang ada. Suara ketakutan dan teriakan dengan segera memenuhi ruangan.
Kohaku segera meloncat naik ke atas punggung Kirara, nekomata tersebut. Dia tidak menolehkan sedikitpun pandangannya pada bangsawan Mio yang berteriak penuh kemarahan padanya.
Meloncat keluar dari kamar tempat mereka berada, Kirara terbang di atas langit biru sambil menghindari anak panah yang meluncur ke arahnya dan Kohaku.
Menepuk-nepuk kepala Kirara pelan, mata Kohaku bersinar penuh tekad untuk melindungi. "Kirara, kita ke istana tanah barat sekarang."
....xOxOx....
"Apa yang ingin kalian sampaikan pada Sesshoumaru ini?"
Berdiri dalam ruang kerja, Sesshoumaru menatap Kagome, Jinenji dan Inukimi yang berdiri di depannya dalam diam.
Seminggu telah berlalu sejak serangan terakhir akan jantung Rin yang berhenti berdetak. Namun, dalam seminggu ini pula, kondisi wanita manusia yang merupakan kisaki tanah barat mulai membaik. Meski masih lemah dan pucat, dia sudah mulai bisa berjalan walau sebentar saja.
Dalam seminggu ini, Sesshoumaru tidak pernah meninggalkan Rin sedetikpun juga, dia bahkan mengerjakan semua perkerjaannya sebagai seorang penguasa dalam kamar mereka–menjaga dan menemaninya selalu.
Sekarang ini, Sesshoumaru berada dalam ruang kerjanya dan tidak berada di samping Rin, tidak lain karena Inukimi yang memintanya. Dia tidak tahu apa maksud ibu kandungnya, tapi saat dia masuk ke dalam dan menemukan Kagome dan Jinenji, inuyoukai itu tahu, ada sesuatu yang penting dan berkaitan dengan Rin yang ingin mereka sampaikan.
Pertanyaan Sesshoumaru tidak membuat Kagome, Jinenji maupun Inukimi membuka mulut menjawab. Mereka masih diam membisu, tidak tahu harus bagaimana menyampaikan informasi yang ada.
"Sesshoumaru," Inukimi lah yang kemudian membuka mulutnya. Wajahnya terlihat tenang, tapi tidak untuk mata emasnya. Ada emosi tidak terbaca yang memenuhinya. "Ini menyangkut Rin dan anak dalam perutnya."
Ucapan Inukimi membuat Sesshoumaru tertegun. Tapi, dia tetap tidak mengatakan apa-apa, kedua mata emasnya menatap semakin tajam Inukimi.
"Rin adalah manusia, dan anak dalam kandungannya adalah hanyou," lanjut Inukimi lagi. Ada rasa sakit luar biasa memenuhi hatinya saat dia mengatakan itu semua. "Bagi seorang manusia, mengandung seorang hanyou tidaklah mudah. Sangat sulit dan membutuhkan tenaga.."
"Katakan inti dari ucapanmu, Ibunda." Suara Sesshoumaru semakin memberat, membuat bulu kuduk Kagome dan Jinenji berdiri. Matanya dari emas perlahan berubah menjadi merah.
Inukimi tetap tenang melihat reaksi putra kandungnya. Namun, kesedihan di wajahnya tidak tertahankan lagi. "Kondisi kesehatan Rin kecil yang tidak kunjung membaik tidak memungkinkannya mengandung seorang hanyou sekarang. Hanya ada dua kemungkinan jika dia tetap mengandung, yaitu Rin kecil akan mati saat proses melahirkan dan anak kalian hidup–atau kondisi terburuk, Rin kecil berserta anak kalian akan mati bersamaan saat proses melahirkan.."
"Maksudmu ibunda?" tanya Sesshoumaru lagi. Matanya telah memerah sempurna, kedua bibirnya terangkat memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Rin kecil dan anak kalian tidak bisa hidup bersamaan.."
....xOxOx....
"Kau beristirahat yang tenang ibu mertua," tawa Mamoru penuh kepercayadirian sambil memukul-mukul dada dengan kepalan tangannya. "Bunga-bunga di taman sudah kuurus semua."
"Apa maksudmu, Mamoru??" sela Aya kesal. Kedua matanya melotot menatap adik laki-lakinya tersebut. "Kau hanya berdiri dan bermain dengan Shiro di taman. Menyiram air, memberikan pupuk itu semua aku dan Maya yang melakukannya!!"
"Benar!! Kau tidak tahu malu sekali mengatakan itu pada Rin-chan di hadapan kami berdua!!" tambah Maya, suaranya meninggi penuh kemarahan.
Mamoru segera memalingkan wajah melihat kemarahan kedua kakak kembarnya. Dengan wajah tidak bersalah dia menatap Shiro yang ada di sampingnya. "Shiro, kita berdua juga membantu kan? Kita sama sekali tidak bermain, kan?"
"Iya!!" teriak Shiro gembira. Kedua mata emasnya berbinar menatap Mamoru. "Chiro dan Mamoru bantu!! Chiro dan Mamoru menangkap kumbang tanduk di pohon cakura!!!"
"Tidak, Shiro," potong Mamoru cepat. "Kita tidak menangkap kumbang, kita berdua menyiram air dan memberikan pupuk pada bunga."
"Ohh," seru Shiro polos dan tersenyum lebar. "Iya, Mamoru dan Chiro menyiram air dan memberikan pupuk!!"
"Mamoru!! Jangan mengajarkan Shiro berbohong!!!" teriak Aya dan Maya bersamaan karena tidak tahan lagi dengan sikap Mamoru.
"Sudah, sudah," relai Sango sambil menggeleng kepala melihat sikap anaknya. "Jangan ribut, kalian akan menganggu Rin-chan beristirahat."
Rin yang duduk di atas futon hanya tertawa melihat tingkah para anak-anak yang ada di sampingnya.
Sango, Miroku, anak-anak mereka berserta Inuyasha dan Shiro berada dalam kamar penguasa tanah barat sekarang. Mereka datang untuk mengunjungi Rin karena mereka tahu, Sesshoumaru tidak ada dalam kamar.
Semenjak kesehatan Rin memburuk, inuyoukai penguasa tanah barat tidak pernah meninggalkan wanita manusia itu. Dia yang selalu ada disekitarnya dengan emosi yang tidak terbaca dan kewaspadaan tinggi, membuat Aya, Maya, Mamoru dan juga Shiro tidak berani mendekat–mereka takut padanya.
Sango yang berada di samping futon Rin bersama anak-anak kemudian menoleh wajah menatap tajam Miroku dan Inuyasha yang duduk tidak jauh di belakang. "Miroku, katakan sesuatu untuk mengubah sikap Mamoru ini!"
Mamoru tertawa mendengar ucapan Miroku. "Tenanglah, Sango. Saat besar nanti, sikapnya ini akan berubah. Aku dulu juga kurang lebih seperti itu."
__ADS_1
Dengan kedua tangan terlipat di dada, Inuyasha menoleh perlahan wajah menatap Miroku mendengar tawa sahabatnya tersebut. "Sampai sekarang kau juga tidak pernah berubah–berbohong dengan wajah tidak berdosa."
"Ah," senyum Miroku cepat. Dia segera mengangkat tangan menepuk-nepuk pundak Inuyasha. "Bicara apa kau Inuyasha? Kapan aku berbohong??"
Inuyasha tidak menjawab pertanyaan Miroku. Namun sejenak kemudian, ekspresi tidak peduli di wajahnya menjadi serius saat merasakan aura yang mendekat.
Shiro yang merupakan inuhanyou juga dapat merasakan aura itu. Ketakutan, dia segera berlari ke arah Inuyasha dan memeluknya erat. Untuk Aya, Maya dan Mamoru, melihat sikap Shiro, mereka segera tahu apa yang terjadi. Bergerak cepat, mereka bersembunyi di balik punggung Sango.
"Sesshoumaru sudah kembali." ujar Miroku pelan. Dia juga bisa merasakan aura mengerikan yang ada, begitu juga dengan Sango yang diam membisu.
Perlahan, pintu shoji kamar terbuka dan memperlihatkan sosok daiyoukai penguasa tanah barat yang berjalan masuk dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Sesshoumaru-sama." Panggil Rin dengan seulas senyum indah di wajah.
Seperti biasa, Sesshoumaru tidak membalas panggilan kisakinya tersebut. Melangkah masuk, dia menuju arah Rin yang duduk di atas futon.
"Kami pergi dulu, Rin," ujar Inuyasha tiba-tiba. Bangkit berdiri dia segera menggendong Shiro yang masih ketakutan. "Kau istirahat yang banyak."
"Inuyasha benar, kau istirahat yang cukup, Rin-chan," senyum Miroku dan ikut berdiri, begitu juga untuk Sango. Taijiya itu menatap lembut Rin. "Kami tidak menganggumu lagi."
Aya, Maya dan Mamoru tidak mengatakan apa-apa. Mengikuti Sango dan Miroku, mereka bertiga kemudian menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada wanita manusia itu.
Rin membalas lambaian tangan mereka dengan senyum lembut di wajah cantiknya. Dia tidak mengatakan apa-apa dan menatap sosok mereka semua yang kemudian menghilang di balik pintu shoji.
Saat tinggal berdua dengan Sesshoumaru, Rin kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Sesshoumaru yang telah duduk di belakangnya. Perlahan dengan senyum yang tidak kunjung menghilang, dia menyandarkan punggungnya pada dada sang penguasa tanah barat.
Sesshoumaru segera mengangkat kedua tangannya memeluk perut Rin. Membenamkan wajahnya yang tanpa ekspresi pada celah leher Rin, dia menyembunyikan wajah dan matanya dari wanita yang dicintainya.
"Sesshounaru-sama.." panggil Rin pelan. Tidak tahu mengapa, dia merasa ada yang aneh dengan pelukan inuyoukai ini sekarang. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa." Balas Sesshoumaru pelan dengan suaranya yang datar tanpa emosi. Namun, dia tetap tidak mengangkat wajahnya sama sekali.
Rin tidak bertanya lagi mendengar jawaban Sesshoumaru. Dia mengangguk kepala pelan, walau dalam hati, dirinya tahu, ada sesuatu yang menganggu pikiran inuyoukai itu sekarang.
Menggerakkan kedua tangannya, Rin kemudian menyentuh tangan Sesshoumaru yamg ada di atas perutnya. Apa yang menganggu inuyoukai itu, Rin memang tidak tahu, tapi dia yakin, itu berhubungan dengan kesehatannya.
Ada kesedihan dirasakan Rin, bersamaan dengan perasaan bersalah. Seperti apa sosok Sesshoumaru sekarang?–dia sangat kacau. Walau wajahnya tetap tanpa ekspresi, walau suaranya tetap tenang, Rin bisa melihat semua emosi sesungguhnya dari inuyoukai itu dari sepasang mata yang menatapnya.
Ada kesedihan, ada kebingungan, ada ketidakberdayaan–ada ketakutan. Sesshoumaru yang kuat dan tidak takut dengan apapun, sekarang gara-gara dirinya–dia takut. Betapa itu sesungguhnya sangat menyakitkan bagi Rin.
Rin selalu menyukai sosok Sesshoumaru yang sejak dulu dilihatnya. Begitu kuat, berharga diri tinggi, tenang dan tanpa rasa takut. Tapi–sosoknya yang begitu menawan berubah. Melihat seseorang yang kau cintai berubah gara-gara dirimu sendiri, betapa Rin membenci dirinya sekarang.
Mencintai.
Jika sejak awal Rin tahu, cintanya akan mengubah inuyoukai ini menjadi seperti ini, apakah dia akan berani mencintainya?–mungkin dia tidak akan berani, sebab dia tidak pernah mau sosok yang memiliki segalanya itu berubah.
Tapi...
Untuk kehidupan baru yang ada dalam rahimnya, apakah Rin berani mengorbankannya? Berani kehilangannya?–Rin tidak berani. Mencintai Sesshounaru dan mencintai anak mereka. Antara mereka berdua, berani atau tidak–semua jawaban yang ada sungguh menyakitkan.
Rin sering berpikir sekarang, kenapa ini terjadi pada mereka? Apa kesalahan mereka hingga takdir seperti ini dituliskan untuk menjadi kisah mereka?–dia hanya ingin mencintai dan hidup bahagia bersama Sesshoumaru dan anak mereka. Salahkah itu?
Selamanya bersama.
Permintaanya sejak dulu, keinginan dan harapannya sejak kecil. Salahkah itu?–sungguh semua yang ada sangat menyakitkan.
Apa yang harus dilakukan sekarang? Rin tidak tahu. Semua gelap dan menakutkan. Namun, yang dia tahu; dia haruslah kuat. Kuat sekuat yang dia bisa. Demi Sesshoumaru, demi anak mereka–demi masa depan yang ada.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi dengan pelan. Mengelus pelan perutnya, dia tersenyum. Rasa ngantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerangnya. "Rin pasti akan memberikan Sesshoumaru-sama keluarga yang bahagia..."
Sesshoumaru mengatupkan kuat giginya dan menutup mata mendengar ucapan Rin. Rasa sakit yang luar biasa menyerang dirinya, bagaikan irisan pedang yang tidak berkesudahan pada jantungnya. Perih dan sungguh menyakitkan.
Mengeratkan pelukannya, Sesshoumaru bisa merasakan tangan mungil yang bergerak perlahan berhenti, dan dia juga bisa merasakan wanita manusia yang berada dalam pelukannya tertidur.
Perlahan, menjauhkan wajahnya dari celah leher Rin, Sesshoumaru membuka mata menatap wajah wanita yang dicintainya dalam diam.
Keluarga yang bahagia.
Betapa kata-kata itu sangat menyakitkan sekarang. Keluarga yang bahagia di mana dirinya, Rin dan anak mereka akan selalu bersama. Akan tetapi..
Rin kecil dan anak kalian tidak bisa hidup bersamaan..
Sesshoumaru tidak dapat memilikinya–keluarga yang bahagia. Keadaan memaksanya, dia diminta memilih–memilih sesuatu yang sungguh menyakitkan; Rin atau anak mereka.
Wanita yang sangat dicintainya dan anak mereka yang berharga. Senyum musim abadi yang dicintainya atau kehangatan pada perut rata itu saat di pertama dia menyadari keberadaannya–Sesshoumaru sungguh berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi buruk.
Mimpi di mana saat dia membuka mata, dia akan menemukan Rin tertawa dan tersenyum padanya dengan pipinya yang merona merah bagaikan mawar. Kenyataan bahwa sesungguhnya, wanita manusia yang dicintainya serta anak mereka yang berharga sehat-sehat saja.
Siapa yang harus dia pilih? Apakah dia bisa kehilangan Rin?–dia tidak bisa. Apakah dia bisa kehilangan anak mereka?–dia juga tidak tahu. Keduanya sama-sama berharga, sesuatu yang tidak ada nilainya di dunia ini. Bagaimana dia bisa memilih?
Tapi–dia tetap harus memilih. Sesshoumaru tidak memiliki waktu yang banyak, sebelum anak dalam kandungan Rin membesar, dia harus memilih diantar mereka; Rin atau anak mereka.
Menatap Rin dan kemudian menatap perut rata itu, Sesshoumaru sungguh ingin tertawa sekarang. Siapa yang menyangka, akan ada hari seperti ini dalam hidup Sesshoumaru, sang daiyouki penguasa tanah barat yang ditakuti semua manusia dan youkai?–dia tidak pernah menyangkanya.
Tidak ada satupun pilihan yang benar dalam kondisi ini. Tapi, untuk meminimalkan konsekuesinya, Sesshoumaru tahu, dia harus memaksa diri memilih pilihan terbaik yang ada.
Menggerakan tangannya pada perut rata Rin, Sesshoumaru menatap sendu kehidupan yang dia tahu ada di dalamnya.
"Kau boleh membenci ayahandamu ini," ujar Sesshoumaru pelan dengan suaranya yang bergetar. "Maafkan Sesshoumaru ini, anakku..."
Dalam kamar yang sunyi, dengan memeluk kisakinya yang tertidur tenang serta anak dalam kandungannya, Sesshoumaru mengucapkan kata maaf untuk kedua kalinya dalam hidupnya yang panjang. Dia pertama kali mengucapkan maaf dalam hidupnya adalah kepada Rin yang telah dilukainya di tanah selatan musim semi lalu, dan kini— dia mengucapakan maaf kepada anak mereka yang tidak bisa dimiliki.
Maaf.
__ADS_1
Maaf karena tidak memilihmu, maaf karena harus mengorbankanmu, maaf karena tidak dapat mempertahankanmu, dan maafkan, karena tidak bisa melindungimu–maaf.
....xOxOx....