Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 28


__ADS_3

Inuyasha mengelus-elus lehernya, mata emasnya menatap penuh kekesalan sosok kakak tirinya. Bekas cengkraman tangan inuyoukai itu masih membekas di lehernya. Tidak pernah dia mengira, Sesshoumaru akan melakukan itu saat dia menyampaikan berita bahwa Rin menghilang.


"Semenjak Rin menghilang lima hari yang lalu, aku, Inuyasha, Kaeda-san, Sango, Miroku dan Kohaku telah mencarinya ke mana-mana, Kakak. Kami sudah meminta bantuan dari semua yang kami kenal kurasa kita akan mendapatkan kabar keberadaan Rin-chan tidak lama lagi." Jelas Kagome pelan sambil menatap Sesshoumaru.


Mereka kini berada di depan pintu masuk desa, inuyoukai itu tetap terlihat tenang, meski di sampingnya, Ah-uh kini meringkih-ringkih penuh kemarahan, sepertinya naga itu mengerti apa yang dikatakannya, sedangkan Jaken, dia masih tertinggal dalam hutan dimana Inuyasha menemukan Sesshoumaru.


Inuyasha mengernyitkan alisnya saat mendengar istrinya memanggil Sesshoumaru 'Kakak', dan bahkan, sesungguhnya, dia juga bisa melihat ketidak sukaan di mata inuyoukai itu saat Kagome memanggilnya seperti itu.


"Kagome! Inuyasha!" Panggil Sango tiba-tiba dari kejauhan. Taijiya itu berlari mendekati mereka diikuti Miroku, Kaeda dan juga Kohaku di belakang.


"Bagaimana? apakah kalian menemukan Rin-chan?" tanya Kagome cepat.


"Tidak, Kagome," jawab Miroku pelan. "Kami tidak berhasil menemukan sedikit pun petunjuk akan keberadaan Rin-chan."


Jawaban Miroku membuat Kagome terdiam, matanya dengan hati-hati menatap sosok Sessshoumaru yang ada di samping. Saat dia melihat raut wajah Sesshoumaru yang tetap tenang tidak berekspresi, dia menghela napas lega, sepertinya inuyoukai itu tidak marah. Namun, dalam hitungan perdetik, Sesshoumaru tiba-tiba bergerak cepat mencengkeram leher Inuyasha dan mengangkatnya dari atas tanah. Mata emasnya kini telah berubah menjadi merah darah.


"Kakak!"


"Sesshoumaru-san!"


"Sesshoumaru-sama!"


Teriak Kagome, Miroku, Sango, Kaeda dan Kohaku terkejut. Inuyasaha berusaha keras melepaskan lehernya yang dicengkeram Sesshoumaru. Tapi, dia tidak berhasil. Malahan cengkeraman tangan inuyoukai itu semakin kuat, "Kutinggalkan Rin di sini dalam penjagaanmu, tapi kau membiarkannya diculik." suara yang biasanya tenang tanpa emosi, kini berubah menjadi berat penuh tekanan.


Tidak ada yang berani mendekati Sesshoumaru maupun Inuyasha. Mereka semua tahu, inuyoukai itu sedang marah. Salah ambil langkah, bisa-bisa mereka hidup mereka akan sgera berakhir.


"Lepaskan aku, berengsek! Memangnya kapan kau memintaku menjaganya?!" teriak Inuyasha sambil mencabut pedang Tessaiga dari pinggangnya untuk menyerang Sesshoumaru. Melepaskan tangannya Sesshoumaru meloncat ke belakang. Mencabut Bakusaiga dari sarungnya, dia juga bersiap untuk menyerang adik tirinya.


"Wah, sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat petarungan kedua inu bersaudara ini." kata Miroku santai menatap Sesshoumaru dan Inuyasha.


"Ini bukan saatnya mengatakan itu, Miroku." Sango mengeleng-geleng kepalanya, begitu juga dengan Kaeda, sedangkan Kohaku hanya bisa tertawa kecil penuh kegugupan.


"Inuyasha! Osuwari!" teriak Kagome kuat.


Tekanan gravitasi yang kuat tiba-tiba, menghantam Inuyasha, membuat hanyou itu terjatuh ke bawah, "Kagome! Apa yang kau lakukan?!" teriaknya penuh kemarahan menatap Kagome.


"Diam kau Inuyasha," perintah Kagome cuek, dia membalikkan badan menatap Sesshoumaru ragu-ragu, "Kakak, tenanglah. Ini bukan saatnya meladeni si bodoh itu. Yang harus kita lakukan sekarang ada melacak keberadaan Rin-chan."


Ucapan Kagome membuat mata merah darah Sesshoumaru kembali menjadi emas. Menyarungkan pedang Bakusaiga-nya, dia menatap Kagome dengan wajah yang telah kembali menjadi tanpa ekspresi. "Dimana hutan tempat Rin berada sebelum dia diculik?"


....xOxOx....


"Kenapa Rin ada di sini, Ibunda Sesshoumaru-sama-sama?" tanya Rin pelan sambil menatap sosok Inuyoukai di depannya.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Inukimi, inuyoukai yang melahirkan Sesshoumaru. Dia sedang duduk di atas sebuah kursi santai menatap ke depan dalam ruangannya, mengabaikan Rin yang ada di samping.


"Tidak ada apa-apa?" gumam Rin bingung. Menatap wajah Inukimi, dia kembali melontarkan sebuah pertanyaan dengan polos, "Kalau begitu, bagaimana Rin bisa berada di sini, Ibunda Sesshoumaru-sama-sama?"


Pertanyaan Rin tidak di jawab Inukimi, kedua bola mata emasnya menatap gadis cilik di depanya.


"Seingat Rin, Rin sedang berada di dalam hutan, tiba-tiba Rin mendengar suara dari balik semak-semak, lalu semua gelap," jelas Rin sambil mengenyitkan kedua alisnya, kedua mata coklat besarnya kembali menatap Inukimi, "Ibunda Sesshoumaru-sama-sama, apakah anda tahu bagaimana Rin bisa berada di sini? Lalu, ini dimana? Apakah tempat ini jauh dari desa tempat Rin tinggal sekarang?"


Pertanyaan-pertanyaan berturut-turut membuat Inukimi menatap Rin. Wajahnya tetap datar tanpa emosi, tapi matanya menatap penuh ketertarikan gadis cilik tersebut. Biasanya, seorang manusia, baik itu orang dewasa apalagi anak kecil pasti akan merasa takut, jika berada dalam kondisinya. Namun, anak di depannya ini tidak memperlihatkan ketakutan sedikit pun, malahan dia masih berani mengikuti dan bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa henti.


"Apakah kau tidak takut padaku, gadis kecil?" tanya Inukimi.


"Takut?" kebingungan memenuhi hati Rin. "Kenapa Rin harus takut pada anda, Ibunda Sesshoumaru-sama-sama?"


"Karena ini." Angin kuat tiba-tiba muncul menerpa wajah Inukimi, menebangkan rambut perak panjangnya ke belakang. Kuku tangannya memanjang, mata emasnya berubah menjadi merah darah, ujung bibirnya terangkat ke atas, memperlihatkan sepasang taring panjang.


Rin yang menatap perubahan Inukimi tidak bergerak sedikit pun, mata coklat besarnya berkedip-kedip, dan tetap hanya kebingungan yang ada di wajahnya, "Rin tidak mengerti," katanya pelan. "Apa yang harus Rin takutkan, Ibunda Sesshoumaru-sama sama?" tanyanya polos.

__ADS_1


Mata merah darah itu terbelalak, sejenak kemudian, mata itu kembali berubah menjadi emas, begitu juga dengan kuku, wajah dan angin yang tiba-tiba bertiup, semuanya kembali normal. Menatap Rin dengan pandangan tidak percaya, Inukimi langsung tertawa terbahak-bahak, "Kau memang sangat menarik, gadis kecil," tangannya menepuk-nepuk kepala gadis tersebut.


Rin yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa menatap bingung Inukimi.


Saat tawanya telah berhenti, Inukimi tersenyum menyeringai menatap Rin, "Kau ingin membantuku melakukan sesuatu, Rin-kecil?"


....xOxOx....


Sesshoumaru berjongkok menyentuh seuntai kalung bunga yang sudah mengering di atas sebuah padang bunga. Dia, Inuyasha, Kagome dan yang lainnya berada dalam hutan tempat di mana Rin diculik. Melihat sekelilingnya, inuyoukai itu tahu, Rin pasti menghabiskan waktunya di sini, merangkai bunga dan bernyanyi seperti biasanya. Mengendus-endus bau yang ada, dia dapat mencium bau Rin yang tertinggal, bau yang menyenangkan, bau bermacam-macam bunga, bau musim semi. Lalu, samar-samar, dia juga bisa mencium bau youkai yang tertinggal.


"Aku sudah mengikuti bau yang tertinggal, namun bau itu menghilang tiba-tiba di luar hutan." jelas Inuyasha sambil melipat tangannya di dada dan menutup matanya, "Aku tid—Apaan, Kagome! Jangan menarik bajuku terus!" teriaknya menatap Kagome yang ada di sampingnya. Namun, saat dia melihat wajah pucat istrinya yag sedang menatap ke depan, ke arah Sesshoumaru, dirinya segera menoleh wajah menatap kakak tirinya tersebut.


Inuyasha langsung terdiam. Di depan mereka semua, mata emas Sesshoumaru telah berubah menjadi merah darah, kedua garis di pipinya menggelap, bibirnya terangkat ke atas memperlihatkan kedua taringnya yang panjang. Kemarahan terpancar dengan begitu jelas dari badan inuyoukai tersebut, dan itu membuat Inuyasha menelan ludahnya, tidak pernah dia melihat Sesshoumaru semarah ini sebelumnya, bahkan saat dulu dia memotong lengannya, dia tidak semarah ini.


"K-kakak.." Panggil Kagome pelan.


Sesshoumaru tidak memberikan reaksi sedikit pun pada Kagome. Dia mengangkat kepala ke atas menatap langit. Asap merah tiba-tiba muncul menyelubungi badan inuyoukai tersebut, dan sedetik kemudian, sosok tubuhnya telah diganti dengan sosok seekor anjing putih besar yang meloncat ke atas langit.


"Apa-apan si berengsek itu!" teriak Inuyasha penuh kemarahan bercampur bingungan.


"Ini bukan saatnya untuk berteriak seperti itu, Inuyasha!" teriak Kagome. "Kita harus mengejar Kakak. Dengan kondisinya sekarang, bisa-bisa dia sembarangan membunuh!"


....xOxOx....


"Anda yakin, ini tidak apa-apa, Ibunda Sesshoumaru-sama-sama?" tanya Rin sambil menatap Inukimi.


"Ya, Rin kecil," jawab Inukimi sambil tersenyum. "Tenang saja, rasa sakit ini hanya akan terasa sebentar saja."


Mengangguk kepala, Rin menjulurkan lengan tangan kanannya pada Inukimi. Mengigit bibir bawahnya, dia segera menutup mata. Dengan senyum yang masih ada di wajahnya, Inukimi mengangkat tangan kanannya yang berkuku tajam, mengores kulit seputih salju tersebut. Darah merah segera mengalir turun memenuhi sebuang mangkuk kecil yang tersedia di bawah. Rin tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dia mati-matian menahan rasa sakit yang menyerang lengannya.


Saat darah Rin yang mengalir turun berhasil memenuhi setengah mangku kecil di bawah, Inukimi segera menjulurkan lidahnya untuk menjilat luka yang dibuatnya. Air liur rasnya mungkin memang beracun, tapi, air liur mereka juga merupakan obat untuk menghentikan luka yang sangat berkhasiat. Darah di lengan Rin segera berhenti mengalir, begitu juga dengan lukanya, luka tersebut menutup.


Namun, meski lukanya telah menutup, Rin merasa pandangannya menjadi kabur, sebab dia telah kehilangan lumayan banyak darah. Kepalanya terasa berat dan badannya kehilanggan tenaga. Sepasang tangan Inukimi segera memeluk tubuh kecil itu, inuyoukai itu mengangkat tangan membelai rambut gadis kecil tersebut.


"Ibunda..." pangilnya pelan sambil tersenyum dan menyerahkan kesadarannya pada kegelapan.


....xOxOx....


"Kau tahu kemana Sesshoumaru pergi, Inuyasha?" tanya Kagome yang berada di punggung Inuyasha penuh kebingungan.


"Mana aku tahu, kagome!" Jawab Inuyasha kesal, dia berlari secepat yang dia bisa mengejar anjing putih besar yang berada di depannya, di samping mereka, Kirara berlari dengan Miroku, Sango, di atas punggungnya, serta Kohaku dan Kaeda yang ada di atas Ah-uh.


"Sepertinya, Sesshoumaru tahu siapa yang menculik Rin." Ujar Miroku.


"Kurasa, iya." Setuju Sango.


"Cih, kalau begitu, gadis kecil itu sangat sial! Diculik hanya gara-gara kenal dengan si berengsek itu!" cibir Inuyasha.


"Inuyasha-san, mungkin yang anda katakan benar. Tapi, Sesshoumaru-sama pasti akan menyelematkan Rin-chan. Beliau tidak akan membiarkan terjadi apa-apa padanya." Balas Kohaku cepat. Taijiya muda itu tahu, apa yang dikatakan Inuyasha benar, Rin diculik karena Sesshoumaru. Tapi dia tidak setuju dengan ungkapan bahwa pertemuan Rin dan Sesshoumaru adalah sebuah kesialan bagi Rin. Dirinya tahu, betapa gadis itu memuja inuyoukai tersebut. Tanpa Sesshoumaru, di dunia ini tidak akan pernah lagi ada gadis bernama Rin yang mereka kenal sekarang.


Kaeda tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap sosok Sesshoumaru. Mengernyitkan kedua alisnya, dia hanya merasa ternyata apa yang dipikirkannya selama ini benar, Sesshoumaru seharusnya memutuskan semua hubungannya dengan gadis tersebut. Sesshoumaru hanya akan membawakan bahaya bagi gadis manis itu.


....xOxOx....


Seorang inuyoukai wanita berambut perak pendek berdiri menatap Inukimi. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua mata emasnya menatap penuh kebingungan penguasa tanah barat di depannya. Inukimi sedang duduk sambil tersenyum, di atas pangkuannya, seorang gadis manusia kecil tertidur nyenyak dengan seulas senyum di wajah. Mokomokonya menutupi badan gadis kecil gadis itu bagaikan sebuah selimut, sedangkan tangan cakarnya tidak henti-hentinya membelai rambut hitam sang gadis dengan lembut.


"Inukimi-sama, hamba membawakan kimono yang anda minta." kata inuyoukai wanita itu pelan sambil menyerahkan sehelai kimono berwarna putih kemerahan dengan beberapa motif lingkaran di sekelilingnya.


Inukimi tidak mempedulikan ucapan wanita inuyoukai itu, mata emasnya masih menatap sosok gadis manusia yang sedang tertidur. Tangan yang membelai rambutnya kemudian bergerak menyentuh pipi gadis manusia itu dengan lembut. "Rin kecil, bangun," panggilnya lembut.


Panggilan lembut Inukimi, serta sentuhan hangat di pipinya, membuat Rin membuka mata coklat besarnya dengan pelan. Saat pandangannya melihat sosok Inukimi yang sedang tersenyum lembut padanya, sebuah senyum lebar melintas di wajah munggilnya. Mata coklatnya tertutup, pipinya bersemu kemerahan, kebahagiaan terpancar dengan jelas.

__ADS_1


Melihat senyum di wajah Rin, Inukimi tidak dapat membendung tawanya, dengan segera dia mengangkat badan kecil itu dan memeluknya dengan erat. Gadis kecil itu memang manusia, tapi dia sangat mengemaskan. Senyumnya yang polos dan indah benar-benar merupakan sesuatu yang sangat indah, begitu juga dengan bau badannya yang seperti musim semi, bau yang sangat menyenangkan. Senyum di wajah Rin segera berubah menjadi tawa kecil, memendamkan wajah di dada Inukimi, tangannya terangkat membalas pelukan inuyoukai tersebut.


Inuyoukai berambut pendek yang menatap pemandangan di depannya menjadi semakin bingung. Dia tidak tahu kenapa Inukimi, inuyoukai penguasa tanah barat bisa bersikap seperti itu pada seorang manusia, dan bukan hanya Inukimi saja, bahkan begitu juga dengan putra beliau, Sesshoumaru. Dirinya tahu, gadis cilik di depannya adalah gadis cilik yang dihidupkan Sesshoumaru, mengikuti, dilindungi dan menjadi bahan gosip semua youkai di jepang. Apa sesungguhnya yang spesial pada gadis kecil manusia ini, sehingga daiyoukai yang ditakuti semua orang bisa bersikap seperti itu padanya?


Melepaskan tangannya yang memeluk Rin, Inukimi mengangkat tangan kembali membelai rambut hitam gadis manusia itu, "Ganti pakaianmu, Rin kecil," perintahnya lembut. Rin mengangguk kepala. Dengan pelan, Inukimi menoleh kepala menatap inuyoukai wanita di depannya. Dengan cepat, inuyoukai itu berlutut menyerahkan kimono di tangannya pada Rin.


Rin menatap penuh penasaran inuyoukai wanita tersebut, selain Sesshoumaru dan Inukimi, ini ada pertama kalinya dia melihat inuyoukai lain sedekat ini. Rin segera memperkenalkan dirinya, "Halo, namaku, Rin. Senang bertemu dengamu, Inuyoukai-sama."


Ucapan Rin membuat inuyoukai wanita itu tertegun, terkejut sekaligus bingung, tidak pernah dia bertemu dengan manusia yang mau memperkenalkan dirinya seorang youkai selama ini, biasanya para manusia akan ketakutan setengah mati saat berhadapan dengan youkai.


Inukimi yang melihat sikap Rin tertawa, dan merebut perhatian gadis kecil itu, "Namanya Kiri, Rin kecil. Dia adalah pengawal pribadiku." jelasnya.


Menatap wajah Kiri sekali lagi, Rin langsung tersenyum lebar, "Rin mengerti," katanya riang, "Senang bertemu dengan anda, Kiri-sama."


Senyum Rin membuat Kiri tidak tahu harus berbuat apa, dalam hidupnya yang panjang, ini adalah pertama kalinya seseorang tersenyum seperti ini padanya, senyum polos penuh ketulusan. Tangan kecil Rin kemudian terulur untuk menerima kimono yang ada ditangan Kiri. Dibantu Inukimi, dia melepaskan kimono yang dipakainya dan menggantinya dengan kimono tersebut.


Mata Rin langsung terbelalak saat dia melihat kimono yang dikenakannya. Kimono ini sangat indah, dan juga terbuat dari kain sutra yang sangat bagus. Tersenyum lebar menatap Inukimi, Rin ingin mengucapkan terima kasih, namun, pintu shoji kamar mereka tiba-tiba terbuka, seorang inuyoukai laki-laki berambut pendek berwajah serupa dengan Kiri berjalan masuk ke dalam, diikuti seorang youkai rubah di belakangnya yang membawa mapan berisi makanan. Wajah inuyoukai itu tanpa ekspresi, dan saat dia melihat Inukimi, dia menundukkan kepala memberi hormat, begitu juga dengan youkai rubah dibelakangnya.


"Angkat kepalamu, Kira." perintah Inukimi pada inuyoukai tersebut.


Saat Kira mengangkat kepala, mata emasnya segera bertemu dengan mata coklat besar Rin yang menatapnya penuh penasaran dari dekat. "Kenapa wajah anda mirip sekali dengan wajah Kiri-sama, Kira-sama?" tanyanya.


"Karena kami adalah saudara kembar." jawab Kira singkat, matanya menatap Rin, walau wajahnya tanpa ekspresi, perasaan penasaran dan juga bingung memenuhi hatinya, kenapa gadis cilik ini tidak menunjukkan perasaan takut sedikit pun? Kenapa gadis ini berani menatap wajahnya sedekat ini?


"Begitu, ya? Pantas," senyum Rin, "Rin juga senang bertemu dengan anda, Kira-sama."


Sama halnya dengan Kiri, Kira tertegun melihat senyum di wajah Rin. Dia tidak tahu harus berkata apa, hingga indra pendengarnya yang tajam berhasil menangkap bunyi perut Rin yang keras.


Wajah Rin langsung berubah menjadi merah padam, dia bisa mendengar sendiri bunyi perutnya yang keras, apalagi para youkai yang memiliki indra pendnegaran tajam. Tertawa, Inukimi menatap youkai rubah yang sedang membawa mapan berisi makanan. Youkai rubah itu dengan cepat berjalan mendekati Rin dan meletakan mapan itu di depan sang gadis.


"Silakan menikamati makanannya Rin-sama." kata youkai rubah itu pelan.


Kata 'sama' yang digunakan Youkai rubah itu membuat Rin mengernyitkan alisnya, dia tidak mengerti kenapa dia dipanggil penuh hormat seperti itu. Namun, sebelum dia menanyakannya, Inukimi tiba-tiba mengangkat badan kecil rin dan menempatkannya di pangkuannya. Tangannya kemudian bergerak mengambil sumpit yang ada dan mulai menyuap makanan ke mulut Rin, "Buka mulutmu, Rin kecil. Kau sudah laparkan."


Rin tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Inukimi saat melakukan ini semua padanya, namun, dia juga tidak menolaknya, dengan segera dia membuka mulut untuk memakan makanan yang disodorkan. Senyum lebar menghiasi wajahnya, sikap Inukimi benar-benar membuat hatinya terasa sangat hangat dan gembira, samar-samar, dia bisa mengingat, ini adalah perasaan yang dirasakannya dulu saat bermanja-manja pada ibundanya, perasaan yang dipikirnya tidak akan pernah dirasakannya lagi.


Inukimi kembali tersenyum menatap Rin. Gadis kecil di depannya sungguh sangat manis, melihatnya, tidak tahu mengapa, naluri keibuannya bangkit. Kapan terakhir kalinya dia merasakan perasaan-perasaan ini? Sepertinya sudah berabad-abad yang lalu. Dan, kapan ada seseorang anak yang mau bermanja-manja padanya? Jawabannya adalah; tidak pernah ada. Sesshoumaru, anaknya satu-satunya tidak pernah bermanja-manja padanya. Putranya terlalu kalem, mandiri dan tidak ada manis-manisnya sama sekali. Dia tidak pernah memberikan kesempatan bagi dirinya untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya selayaknya seorang ibu.


Saat Rin menyelesaikan makannya, saat Inukimi selesai membersihkan mulutnya dengan sapu tangan yang tersedia di atas mapan, dia menatap lekat-lekat wajah inuyoukai tersebut. Dengan pelan, dia tiba-tiba bangkit dan mengecup pelan pipi kanan inuyoukai tersebut dengan lembut, mengejutkan semua yang ada, termasuk Inukimi.


Wajah Rin memerah, dia tahu apa yang dilakukannya mungkin tidak sopan, tapi ini adalah apa yang dulu dilakukannya saat ingin berterima kasih pada ibundanya. Menatap Inukimi dengan malu-malu, dia berbisik pelan, "T-terima kasih, Ibunda. M-maksudku, terima kasih, Ibunda Sesshoumaru-sama-sama.."


Inukimi benar-benar tidak dapat menahan perasaan yang membanjiri hatinya lagi, dengan cepat dia memeluk erat gadis kecil dalam pangkuannya. Gadis ini benar-benar sangat manis. Dia menginginkannya! Dia ingin gadis ini menjadi anak perempuannya. Dia pasti akan memanjakannya sepuas-puasnya, kimono bagus, makanan enak, mainan dan semuanya, dia akan memberikannya pada gadis kecil ini—Putri kecilnya.


"Panggil aku, Ibunda," perintah Inukimi tanpa melepaskan pelukannya. "Mulai hari ini, panggil aku Ibunda, Rin kecil."


Mata Rin terbelalak mendengar perintah Inukimi. Inuyoukai berstatus tinggi ini bersedia membiarkan dirinya yang merupakan seorang manusia hina memanggilnya 'Ibunda'? kebahagiaan memenuhi hatinya, tertawa lebar, dia segera membalas pelukan itu, mulutnya segera terbuka mengucapkan kata yang sudah lama sekali tidak diucapkannya, yakni, "I-Ibunda.. Ibunda, ibunda, ibunda..."


....xOxOx....


"Apa si berengsek itu tidak tahu apa itu maksudnya beristirahat sejenak?" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Sudah setengah hari lebih dia dan yang lainnya mengejar Sesshoumaru dalm sosok anjing putih besar yang sedang berlari di depan, dirinya sudah mulai kelelahan, begitu juga dengan yang lainnya.


"Ugh..," gerutu Kagome yang ada di punggung Inuyasha. "Kurasa Kakak memang tidak merasa kelelahan sedikit pun, Inuyasha."


"Kalau begitu, bolehkah aku berhenti dan beristirahat sejenak, Kagome?" tanya Inuyasha.


"Tidak boleh!" teriak Kagome sambil mengangkat tangan memukul kepala Inuyasha. "Kita tidak boleh mebiarkan Kakak berkeliaran tanpa pengawasan dalam kondisi seperti ini, bodoh!"


Inuyasha terdiam mendengar ucapan Kagome, kepalanya tidak habis berpikir, sebenarnya, apa yang ada dalam pikiran istrinya sekarang? Berkeliaran tanpa pengawasan? Memangnya dia menganggap Sesshoumaru itu apa? Semenjak Sesshoumaru memiliki Bakusaiga, dirinya sudah tahu, sebisa mungkin dia tidak mau menjadi lawan atau musuh inuyoukai itu lagi. Sesshoumaru kuat, sangat kuat hingga menakutkannya, walau ya, dia tidak akan mungkin mengakuinya pada siapa pun, termasuk Kagome.


Ketakutan tiba-tiba menyerang hati Inuyasha. Bagaimana jika Rin terluka atau lebih parahnya lagi; mati? Jika itu terjadi, menilai sikap Sesshoumaru yang penuh kemarahan sekarang ini, dia pasti akan mengamuk, dan saat itu, tidak akan ada lagi yang mungkin dapat menghentikannya, kecuali.. mereka. Tidak! Inuyasha tidak mau melakukan itu! Dia tidak mau lagi melakukan sesuatu yang membahayakan Kagome dan yang lainnya! Bukan karena pengecut atau apa, karena dirinya memang tahu, mereka bukanlah lagi tandingan inuyoukai di depannya itu.

__ADS_1


"Ahhh!" teriak Inuyasha frustasi tiba-tiba, "Kau lebih baik masih hidup dan tidak mengalami luka sedikit pun, gadis kecil!"


....xOxOx....


__ADS_2