![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Ada apa denganmu, Rin kecil?" tanya Inukimi melihat Rin yang duduk diam menatap langit biru pagi melalui jendela kamar. Ekspresi wajahnya terlihat tidak biasa, tidak ada senyum maupun tawa, namun juga tidak ada kesedihan, yang ada hanyalah kekosongan.
"Eh?" terkejut, Rin segera menoleh wajah menatap Inukimi yang ada di belakangnya. Mata coklatnya juga bisa menangkap sosok Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango yang menatapnya penuh kekhawatiran.
"Tidak apa-apa, Rin tidak apa-apa." Jawab Rin cepat sambil memaksakan sebuah senyum penuh kegugupan di wajahnya.
"Katakan padaku apa yang telah Sesshoumaru lakukan padamu, Rin?" sela Inuyasha tiba-tiba penuh kemarahan. "Aku benar-benar akan memberikannya pelajaran!"
Mata Rin terbelalak mendengar nama inuyoukai yang tiba-tiba meluncur keluat dari mulut Inuyasha. "Eh??"
"Baunya tercium sangat jelas dan kuat di badanmu semalam, Rin," tambah Inuyasha tidak mempedulikan semua yang kini menatapnya. "Kau pergi menemuinya, kan? Katakan padaku apa yang si berengsek itu lakukan padamu?"
Apa yang dilakukan Sesshoumaru padanya?–Rin mau tidak mau teringat lagi dengan apa yang terjadi semalam. Sentuhan, pelukan hangat, permintaan maaf, tatapan mata emas itu, lalu–ciuman bibir hangat serta jilatan lidah Sesshoumaru di tangannya.
Wajah Rin dengan segera berubah menjadi merah padam. Ekspresi wajahnya tidak terjelaskan lagi karena malu. Menundukkan kepala ke bawah, suaranya bergetar, namun dia berusaha menyembunyikannya dalam tawa penuh kegugupan. "S-sesshoumaru-sama tidak melakukan apapun pada, Rin."
Jawaban serta ekspresi Rin dengan segera membuat semua pasang mata yang ada dalam kamar menatapnya tidak percaya, tidak terkecuali Inuyasha yang biasanya tidak peka.
"R-rin!! Katakan padaku apa yang telah dilakukan si berengsek itu padamu?!" teriak Inuyasha. Dia langsung berdiri dengan ekspresi wajah penuh kepanikan.
"Tidak!!" balas Rin setengah berteriak juga sambil berdiri. Namun, wajahnya yang sudah memerah semakin memerah, bahkan, telinganya juga ikut memerah. "S-sesshoumaru-sama tidak melakukan apa-apa pada Rin."
Ucapan dan juga ekspresi wajah Rin membuat semua yang ada hanya dapat berpikir bahwa gadis di depan mereka benar-benar merupakan seorang pembohong yang gagal. Setiap gerak-geriknya jelas berlawanan dengan ucapabnya.
"Rin!! Tida–" teriak Inuyasha lagi. Dia melangkah mendekati Rin. Kepanikan luar biasa memenuhi hatinya, membayangkan inuyoukai berengsek itu telah menyentuh atau melakukan sesuatu yang tidak terpuji pada gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
"Osuwari." ujar Kagome yang dari tadi diam membisu.
"Akh–Kagome!!!!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Badannya tertekan ke bawah oleh gravitasi yang tidak terlihat. "Apaan kau!???"
Namun, belum selesai protes Inuyasha, Inukimi tiba-tiba mengangkat badannya dan melempar hanyou itu keluar dari kamar melalui jendela yang terbuka.
"Inukimi-san!! Apa yang kau lakukan!??" protes Inuyasha saat badannya jatuh tersungkur di atas tanah. Mengangkat kepala, dia berniat meluapkan kemarahannya lagi, namun, kemarahannya itu menghilang saat dia melihat Miroku terbang ke arahnya.
"Kenapa aku juga dilempar?" gumam Miroku sambil tertawa sedih.
Inuyasha segera menghindar Miroku yang juga jatuh tersungkur di atas tanah sepertinya tadi. Menoleh kembali ke kamar di mana Rin dan yang lainnya berada, inuhanyou itu berteriak kesal. "Apa-apan ini!??"
Inukimi yang berdiri di depan jendela tertawa keras. "Ini pembicaraan wanita, kalian laki-laki–enyah dari sini!!"
Tidak menunggu pembelaan dari Inuyasha maupun Miroku lagi, Inukimi langsung menutup jendela kamar dengan kuat.
Inuyasha terdiam seribu bahasa. Tidak tahu mengapa, dia mulai merasa sepertinya tidak peduli Kagome maupun Inukimi, mereka berdua selalu mengusirnya dan Miroku yang merupakan laki-laki jika menyangkut Rin akhir-akhir ini. Apa kesalahan mereka sebagai laki-laki hingga diperlakukan seperti ini?
"Kurasa kita akan jadi pengawal lagi." tawa Miroku melihat apa yang terjadi sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Pengawal?" gumam Inuyasha pelan dengan kepala tertunduk. Namun sejenak kemudian dia kembali mengangkat kepala penuh kemarahan. "Tidak akan kubiarkan!! Aku akan mencari si berengsek itu meminta kejelasan!!!"
"Eh? Kau akan mencari Sesshoumaru?" tanya Miroku terkejut. Berdiri, dia melangkah mundur pelan. "Kalau begitu, silakan Inuyasha. Aku tidak menem–"
"Kau juga ikut!!" potong Inuyasha. Tangannya dengan segera menarik baju dan menyeret Miroku kasar, tidak dipedulikan sedikitpun protes dari sahabatnya tersebut.
"Inuyasha!! Lepaskan aku!!" teriak Miroku memenuhi taman di mana kamar Rin berada putus asa.
Sedangkan di dalam kamar Rin, Inukimi, Kagome dan Sango duduk tersenyum menatap gadis yang penuh kebingungan di depan.
"Rin-chan," panggil Kagome pelan. Matanya menatap lekat Rin, senyum di wajah melebar. "Bisa kau ceritakan pada kami, apa yang kakak lakukan?"
"Eh?" seru Rin terkejut. Kenapa topik pembicaraan mereka tetap saja mengenai hal ini?
"Wajahmu memerah seperti itu," tambah Sango sambil tersenyum juga. "Pasti ada sesuatu yang Sesshoumaru lakukan padamu, kan?"
"Eh?" seru Rin lagi. Wajahnya dengan segera kembali memerah.
"Apakah putra bodohku telah menandaimu, Rin kecil? Tapi, kenapa aku tidak mencium baunya padamu?" sela Inukimi semangat, hidungnya mencium-cium bau Rin dengan cermat.
Mata Rin terbelalak mendengar pertanyaan Inukimi. Kepanikan segera memenuhi wajahnya. "T-tidak Ibunda!! Sesshoumaru-sama tidak mungkin melalakukan itu!! Menandai adalah sesuatu yang sakral, Ibunda!!"
Menandai atau tanda. Dalam dunia youkai, youkai hanya memberikan tandanya pada pasangan hidup mereka, dan tanda itu juga hanya dapat diberikan pada satu orang saja sepanjang hidup. Karena itulah, youkai tidak pernah sembarangan memberikan tanda pada seseorang.
Youkai bisa tinggal bersama, mereka bisa memiliki anak, tetapi mereka mungkin tidak saling menandai, Inu no taisho dan Inukimi adalah salah satu contohnya.
__ADS_1
Menandai adalah sesuatu yang sangat sakral di dunia youkai. Tanda adalah bukti dari status yang sama, keselarasan, kesatuan dan juga dapat diartikan–ikatan pernikahan.
Ikatan yang utuh dan satu untuk selamanya tidak peduli apa yang akan terjadi–meski maut memisahkan.
Sesshoumaru adalah daiyoukai penguasa tanah barat. Youkai terkuat yang ditakuti dan disegani kawan maupun lawan. Karena itu Rin tahu, mana mungkin inuyoukai itu akan memberikan tanda yang begitu penting padanya??
"Jadi belum, ya? Cih, kenapa Sesshoumaru tidak mewarisi bakat si berengsek Taisho dalam memenangkan hati wanita yang dicintainya, ya?" gumam Inukimi pelan dan menghela napas. Wajahnya yang tadi penuh semangat dan senyum kini digantikan dengan kejengkelan.
"Anda mengatakan sesuatu, Ibunda?" tanya Rin bingung melihat reaksi Inukimi yang dapat berubah dengan begitu cepat.
Inukimi menggeleng kepala dan kembali tersenyum, "Tidak," tawanya dan menatap Rin lagi dengan mata berbinar. "Jadi bisa katakan pada Ibunda apa yang Sesshoumaru lakukan?"
"Eh??" seru Rin kembali kesekian kalinya lagi karena pertanyaan yang tidak berubah dari tadi.
"T-tidak a–" jawab Rin cepat terbata-bata. Namun, tangan Kagome yang tiba-tiba menyentuh pundaknya menghentikan ucapanya.
"Kami akan membantumu, Rin-chan," senyum Kagome lebar, saking lebar, ekspresi wajahnya terlihat tidak normal. "Kita semua wanita, katakanlah pada kami apa yang kakak lakukan padamu."
"Tidak perlu malu Rin-chan." tambah Sango sambil tertawa. Dia berdiri tepat di belakang Kagome mematap Rin dengan ekapresi yang sama dengan Kagome.
Rin yang berhadapan dengan Kagome, Sango dan Inukimi sekarang hanya dapat menatap mereka takut. Sepertinya mereka tidak akan melepaskannya jika tidak menjawab pertanyaan itu.
....xOxOx....
"Sesshoumaru!!" teriak Inuyasha keras memenuhi hutan tidak jauh dari istana tanah selatan. Kedua mata emasnya menatap tajam Sesshoumaru yang duduk tenang di bawah sebatang pohon sakura.
Sesshoumaru tidak bergerak, kedua mata emasnya tertutup dengan wajah tenang tanpa ekspresi, begitu juga dengan Kira dan Kiri yang ada di sampingnya. Kedua pengawal kepercayaan penguasa tanah barat berdiri dengan wajah datar menatap Inuyasha.
"Sesshoumaru, apa yang telah kau lakukan pada Rin?!!" tanya Inuyasha penuh kemarahan sambil melangkah mendekati Sesshoumaru.
"Kau ini sebenarnya adik Sesshoumaru atau Kakak Rin, Inuyasha? Kenapa aku merasa kau berada di pihak yang salah sekarang?" tanya Miroku yang mengikuti Inuyasha dari belakang sambil menggeleng kepala.
Inuyasha tidak mempedulikan pertanyaan Miroku, dia terus berjalan dan berdiri tidak jauh dari Sesshoumaru yang masih tidak menpedulikannya.
"Jawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan?" tanya Inuyasha sekali lagi.
Perlahan, Sesshoumaru membuka mata emasnya. Menatap datar Inuyasha, dia membuka mulut. "Bukan urusanmu, hanyou."
"Kukoreksi Inuyasha, Rin-chan bukan adikmu, tapi kau adalah adik Sesshoumaru." sela Miroku sambil tersenyum di belakang Inuyasha.
"Diam kau Miroku!!" hardik Inuyasha kesal. Dia mulai merasa menyesal menyeret dan membawa Miroku bersamanya sekarang, biksu ini sama sekali tidak membantunya.
Menatap Sesshoumaru sekali lagi, Inuyasha mengontrol emosinya. "Apa yang kau lakukan pada Rin hingga dia berwajah merah seperti itu dan tidak berani mengatakannya?"
Pertanyaan tiba-tiba Inuyasha itu membuat Sesshoumaru tertegun sejenak. Apa yang dilakukannya semalam terlintas dalam kepalanya. Muka merah dan ekspresi wajah Rin, lalu–sentuhan kulit hangat di bibirnya dan juga rasa manis di lidahnya.
Sesshoumaru segera menutup matanya. Ada perasaan aneh yang masih memenuhi hatinya. Perasaan aneh yang tidak pernah dirasakannya selama ini, bukan bahagia, sedih, bingung atau sejenisnya. Apa yang dia lakukan pada Rin, dia merasa bersalah dan dia tidak ingin ada yang mengetahuinya. Dia tidak tahu harus melakukan dan berekspresi apa jika ada yang mengetahuinya, dia merasa–malu.
Mata emas Sesshoumaru terbuka dan terbelalak saat kata asing itu melintas dalam kepalanya. Mengangkat tangan kanan, dia menyusuri rambutnya dan menutup mata kembali.
Malu?–ya, Sesshoumaru sadar, apa perasaan aneh yang memenuhi hatinya sejak semalam sekarang. Pertama kali dalam hidup panjangnya, dia merasa malu dengan apa yang dia lakukan. Apa yang telah Rin lakukan padanya? Kenapa dengan begitu mudahnya gadis manusia itu bisa membuatnya merasakan emosi-emosi yang tidak pernah ada dalam dirinya?
Inuyasha yang merasa tidak dipedulikan Sesshoumaru menatap bingung kakak seayahnya itu, sebab tidak pernah dia melihat inuyoukai itu seperti ini sebelumnya, begitu juga dengan Miroku, Kira dan Kiri.
Kira dan Kiri tidak mengatakan apa-apa, tapi di dalam hati, mereka juga tahu ada sesuatu yang terjadi pada Sesshoumaru dan Rin. Mereka ingat wajah merah padam dan bau kuat Sesshoumaru pada gadis manusia itu semalam. Lalu, meski tidak mengatakan apa-apa, gerak-gerik Sesshoumaru sekarang jelas menunjukkan ada sesuatu yang menganggunya.
"Hei, berengsek!!" panggil Inuyasha kemudian memecahkan keheningan. "Kapan kau akan menjawab pertanyaanku??
Sesshoumaru menurunkan tangan kanannya, namun dia tidak mempedulikan Inuyasha sama sekali, seakan hanyou itu memang tidak ada di depannya. Dia masih berusaha mengontrol perasaan asing dalam dirinya.
Inuyasha yang sudah sangat kesal langsung melangkah maju mendekati Sesshoumaru. Namun, Kira dan Kiri tiba-tiba bergerak maju dan menghadangnya.
"Minggir kalian berdua!! Aku ada urusan dengan si berengsek itu!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Tangan cakarnya bergerak maju untuk menyerang.
Namun, Miroku segera menarik Inuyasha ke belakang, kedua matanya menatap si kembar dari barat sambil tersenyum. "Maafkan sikap Inuyasha. Dia dari dulu memang tidak pernah dewasa."
"Lepaskan aku Miroku!! Kau dipihak siapa??" teriak Inuyasha penuh kemarahan menatap biksu sahabatnya.
"Apa yang kulakukan pada Rin tidak ada hubungannya denganmu, hanyou." Suara tenang dan datar Sesshoumaru tiba-tiba terdengar memecahkan keributan.
Bangkit dari posisi duduknya, Sesshoumaru melangkah maju mendekati Inuyasha. Kira dan Kiri segera membuka jalan kepada penguasa mereka penuh hormat.
__ADS_1
Berdiri tepat di depan Inuyasha tenang, mata emas Sesshoumaru menatapnya tajam. "Jangan ikut campur, hanyou."
"Cih," berdecak kesal, Inuyasha menepis tangan Miroku yang menariknya. Mata emasnya balik menatap Sesshoumaru sama tajamnya. "Aku akan terus ikut campur kalau kau berani melukai dan menpermainkannya!"
Sesshoumaru diam mendengar ucapan Inuyasha. Dia tahu, dia telah melukai Rin dulu, tetapi tidak lagi sekarang dan kedepannya. Dan mempermainkan?–bagaimana mungkin dia mempermainkan Rin? Rin adalah hal yang paling berharga baginya.
"Apa bagusnya kau berengsek!! Seharusnya dulu aku tidak mengijinkan Rin kembali padamu, dengan begitu dia tidak akan menyukaimu yang tidak berperasaan ini!!"
Ucapan demi ucapan Inuyasha membuat Sesshoumaru mau tidak mau bertanya dalam hati. Rin sejak dulu selalu menyukai dan mencintainya, tetapi dia tidak pernah memikirkan, kenapa gadis itu mencintainya?
"Aku peringatkan kau, Sesshoumaru!! Aku tidak akan membiarkanmu!!"
Teriakan suara Inuyasha bergema memenuhi hutan. Terengah-engah menarik napas, inuhanyou itu merasa lebih lega setelah mengeluarkan segala kekesalan dalam hatinya.
"Kau sudah selesai, hanyou?" tanya Sesshoumaru pelan.
"Kau!!" kemarahan kembali memenuhi hati Inuyasha. Mata emasnya menatap semakin tajam Sesshoumaru.
Namun, Sesshoumaru tidak peduli. Membalikkan badan, dia kemudian melangkah menjauh. Kira dan Kiri segera mengikuti.
"Berhenti kau Sesshoumaru!!" perintah Inuyasha penuh kemarahan lagi. Dia melangkah kaki bermaksud mengejar inuyoukai itu, Namun, ucapan Sesshoumaru menghentikan langkah kakinya.
"Pilihan ada pada Rin, bukan pada Sesshoumaru ini."
....xOxOx....
Bulan menghiasi langit malam, begitu juga dengan bintang-bintang kecil yang ada. Di dalam taman sakura istana tanah selatan, suara musik, suara teriakan dan suara tawa terdengar jelas.
Berpuluh-puluh youkai duduk dalam taman beralas matras jerami. Api youkai terbang menyala menyinari sekeliling, makanan enak dan sake tersajikan melimpah di mana-mana.
Di atas panggung besar yang menjadi pusat hiburan, beberapa youkai wanita cantik duduk manis memainkan berbagai alat musik dengan merdu. Dengan bulan di langit dan pohon sakura yang bermekar indah sebagai latar, pemandangan di depan jelas bukan pemandangan yang dapat dilihat tiap hari.
Lalu, tepat di depan panggung, sang tuan rumah istana, Akihiko penguasa tanah selatan duduk dengan seulas senyum di wajahnya. Youkai serigala itu duduk dengan santai, hanya saja, pandangan matanya tidak terarah pada panggung di depan, tetapi pada seorang gadis manusia yang duduk di sampingnya.
Gadis manusia itu duduk dengan anggun dalam balutan kimono berwarna merah. Kedua mata coklat jernihnya berbinar-binar menatap panggung, terhibur dengan musik yang didengannya. Lalu, di wajah cantiknya, seulas senyum indah memghiasi–senyum yang bagi Akihiko lebih indah dari apapun yang pernah dilihatnya.
Hanami yang dijanjikan telah dimulai sekarang, Akihiko merasa puas dalam hatinya, sebab Rin, gadis manusia di sampingnya terlihat jelas sangat menyukainya. Demi senyum ini, dia rela mengadakan hanami ini setiap tahun.
Rin bertepuk tangan saat pertunjukan di depannya selesai. Mata berbinarnya kemudian terarah pada Akihiko yang ada di samping. "Terima kasih Akihiko-sama sudah mengundang Rin ke pesta hanami anda ini!"
Akihiko membalas senyum itu. Matanya menatap lembut gadis manusia di depannya. "Asal kau gembira, Rin."
Tidak jauh dari Rin dan Akihiko, duduk terpisah di samping mereka berdua, mata emas Inuyasha menatap penguasa tanah selatan itu tajam. Kedua tangannya telipat di dada, kekesalan memenuhi wajahnya.
"Makan Inuyasha," ujar Kagome sambil mencicipi makan yang tersajikan di depannya. Dia tidak mempedulikan sedikitpun wajah kesal suaminya. "Nikmati hanami ini."
"Sake ini enak sekali." Puji Inukimi sambil meneguk sake di tangannya.
"Ha..," Sango menghela napasnya dan menatap pangung pertunjukkan yang kini kosong dan menunggu pertunjukkan selanjutnya. "Jika saja aku tahu perjalanan ke selatan kali ini seperti ini, aku akan membawa anak-anak."
"Kita bisa melakukannya tahun depan," senyum Miroku sambil mengamati Akihiko yang tersenyum menatap Rin. "Kurasa Akihiko-san akan mengadakannya lagi tahun depan untuk Rin."
"Kenapa kalian semua masih bisa sesantai ini??!" tanya Inuyasha kesal melihat Kagome, Inukimi, Miroku dan Sango yang terlihat sangat menikmati hanami di malam hari ini. Tangannya kemudian menunjuk Rin dan Akihiko yang berada tidak jauh dari mereka. "Lalu, apakah kalian tidak merasa aneh?? Kenapa Rin duduk di sana bukan di samping kita??!"
Pertanyaan berturut-turut Inuyasha membuat Kagome, Inukimi, Miroku dan Sango menatap inuhanyou itu dalam diam.
"Rin-chan, tamu terhormat, Inuyasha," jawab Miroku kemudian sambil tertawa. "Jadi tidak salah dia duduk di sana."
"Kalian percaya dengan alasan itu??!" tanya Inuyasha lagi. Kekesalan di wajahnya tidak tertahankan lagi. "Itu tempat duduk tuan rumah!!"
Tempat duduk Rin di samping Akihiko sebenarnya memang sangat aneh, sebab siapapun yang melihatnya pasti akan sadar, bahwa itu adalah tempat duduk bagi nyonya rumah. Rin awalnya juga menolak duduk di sana, namun, Akihiko dan beberapa youkai selatan menyakinkan dia bahwa itu adalah tempat yang disediakan bagi selaku tamu kehormatan dalam pesta hanami ini–penyelamat dari ratusan youkai selatan dalam perang tahun lalu.
Rin yang terus menolak tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi Inukimi yang tiba-tiba menyela dan meminta Rin duduk di tempat terhormat itu sambil tersenyum.
Menatap Inukimi yang masih meminum sake, Inuyasha berteriak marah. "Kenapa kau mengijinkan Rin duduk di sana, Inukimi-san? Kau benar-benar ingin menjodohkannya pada serigala berengsek itu??!"
Inukimi tertawa keras mendengar ucapan Inuyasha. Mengangkat kepala menatap langit malam, dia kemudian tersenyum gembira. "Karena aku ingin si bodoh itu segera bergerak."
Jauh dari keramaian, luar dari taman sakura istana tanah selatan, di atas atap istana, Sesshoumaru berdiri diam dengan Kira dan Kiri di belakang, kedua mata emasnya menatap lekat sosok gadis manusia yang tersenyum di samping Akihiko.
....xOxOx....
__ADS_1