Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 123


__ADS_3

Akihiko tidak mempedulikan Inuyasha maupun Kiri yang menatapnya penuh kemarahan. Berdiri diam membisu dalam taman, mata biru langitnya menatap Rin yang terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


"Akihiko-sama?" panggil Rin bingung. Ini adalah kedua kalinya sang penguasa tanah selatan muncul di depan kamarnya tiba-tiba seperti ini.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa. Datar tanpa ekspresi, kedua mata emasnya menatap tajam Akihiko. Sejak awal dia tidak memiliki hubungan baik dengan youkai serigala tersebut, terlebih lagi, dia tahu jelas perasaannya kepada Rin. Karena itu, kedatangannya kemari pasti bukanlah sesuatu yang baik.


Inuyasha yang menatap Akihiko tidak dapat menahan kemarahan yang ada. Menoleh menatap Sesshoumaru, dia berteriak keras. "Sesshoumaru," panggilnya. "Si mata putih sialan itu sekali, dan serigala sialan ini sudah dua kali! Kenapa kekai di istanamu ini lemah sekali???"


Kagome yang mendengar pertanyaan Inuyasha hanya dapat menghela napas. Sebenarnya, bukan kekkai istana ini yang lemah. Kekkai istana ini sangat kuat, hanya saja, daiyoukai dengan kekuatan penghancur luar biasa lebih kuat. Kekkai itu tidak akan dapat menghentikan mereka.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Inuyasha, bahkan dia juga terlihat tidak mempedulikannya, pandangan matanya tetap terarah pada Akihiko.


"Akihiko-sama," panggil Rin lagi. Kali ini dia tersenyum dan menatap ramah Akihiko yang tidak bergerak sedikitpun. "Ada apa anda kemari?"


Akihiko menatap senyum di wajah Rin tidak menjawab. Melihat senyum indah tersebut, dia hanya dapat merasa, keputusannya sekarang kemari tidak salah—dia ingin selalu melindungi senyum itu.


"Rin," panggil Akihiko pelan. Kedua mata biru langitnya menatap lurus mata coklat Rin. "Aku akan mengatakannya sekali lagi; tinggalkanlah tanah barat."


Ucapan Akihiko membuat Rin tertegun. Namun, untuk yang lainnya, mereka menatap semakin tajam dan tidak suka pada penguasa tanah selatan.


"Lagi???" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Kedua mata emasnya menatap tidak suka Akihiko. "Apa kalian serigala tidak tahu apa itu kata; menyerah??"


Akihiko tidak mempedulikan Inuyasha, seakan inuhanyou itu dan yang lainnya memang tidak ada. Di dalam matanya sekarang hanya ada Rin seorang saja. "Tinggalkan anjing itu, ikutlah denganku ke tanah selatan."


Sesshoumaru menggeram penuh kemarahan mendengar ucapan Akihiko. Mata emasnya berubah menjadi merah darah. Namun, Rin yang ada di sampingnya, segera menyentuh lengannya; menenangkannya.


Tersenyum lembut pada Akihiko, Rin menggeleng kepala dan membalas tatapan mata youkai serigala itu lurus. "Rin tidak akan pernah meninggalkan tanah barat, Akihiko-sama. Sekali lagi, Rin menjawab pertanyaan anda; Di dunia ini, Rin hanya ingin berada di samping Sesshoumaru-sama seorang saja, tidak ada yang lain lagi."


Ada kelegaan dan kebahagiaan memenuhi hati Sesshoumaru mendengar jawaban Rin. Hanya dia seorang—Rin hanya ingin berada disampingnya, bukan yang lain.


Jawaban Rin membuat Akihiko merasakan kesakitan dalam hati. Tapi, dia juga telah menduga dan menyiapkan diri untuk jawaban seperti ini.


Rin tidak pernah berubah. Wanita manusia itu selamanya tetaplah; bodoh. Meski sudah mengetahui semua konsekuensi yang ada, dia tetap tidak ajan merubah pikirannya sedikitpun—cintanya pada Sesshoumaru telah membutakannya.


"Aku mengerti. Kau memang bodoh." Menutup mata, dia menarik napas. Lalu, saat dia membuka mata lagi, dia melesat dengan kecepatan yang luar biasa ke arah Rin sambil menghunuskan pedang kazakiri no kiba di tangan.


Gerakan cepat Akihiko membuat Inuyasha dan Kiri yang berdiri di depan pintu juga segera mencabut pedang mereka untuk menahan serangan. Namun, menggerakkan pedangnya, penguasa tanah selatan dengan mudah mendorong dan menghempaskan mereka berdua ke belakang.


Tidak menurunkan sedikitpun kecepatannya, Akihiko terus berlari ke arah Sesshoumaru dan Rin. Mengangkat pedangnya, dia mengarahkannya pada inuyoukai yang menatapnya tajam.


"Sesshoumaru-sama!!" teriak Rin ketakutan melihat apa yang terjadi dengan cepat.


Sesshoumaru mengangkat tangan kirinya menahan pedang Akihiko yang terarah padanya. Pedang bakusaiga dan tensaiga tidak ada padanya sekarang, kedua pedang itu berada di belakang. Darah merah segera mengalir menuruni lengan tangan kanannya.


Menggerakkan tangan kanannya menyerang Akihiko, cahaya hijau memenuhi telapak tangan Sesshoumaru. "Dokkaso."


Akihiko dengan cepat meloncat ke belakang menghindar serangan Sesshoumaru.


"Kakak!!" suara teriakan Kagome terdengar dalam kekacauan yang ada.


Menoleh ke sumber suara, mata Sesshoumaru menemukan Kagome yang tidak tahu sejak kapan telah berada di samping pedang bakusaiga dan tensaiga. Dengan sekuat tenaga, miko masa depan itu mengambil dan melemparkan kedua pedang itu pada pemiliknya. "Tangkap!!"


Dengan sigap, Sesshoumaru menangkap kedua pedang tersebut dan menyelipkannya di pinggang. Tidak membuang waktu yang ada juga, inuyoukai itu berlari maju sambil menghunuskan bakusaiga menyerang Akihiko. "Kiri! Lindungi Rin!"


Menuruti perintah Sesshoumaru, Kiri dengan cepat berlari ke arah Rin. Menggunakan badannya, dia memeluk erat dan menjadikan punggungnya sebagai tameng bagi kisaki tanah barat yang masih belum sadar dari perasaan terkejutnya.


Inuyasha juga bergerak cepat. Sama seperti Kiri, inuhanyou itu meloncat dan membuka kedua tangannya untuk memeluk erat Kagome.


Bakusaiga dan kazakiri no kiba beradu.


Kedua pedang daiyoukai di tangan tuan mereka masing-masing berbunyi, menciptakan dampak yang luar biasa. Angin kuat berhembus, lantai di mana mereka berdiri retak dan hancur.


Mengeratkan gengaman tangannya pada Bakusaiga, Sesshoumaru kemudian bergerak maju, mendorong Akihiko untuk menjauh dari tempat di mana mereka berada atau lebih tepatnya menjauh dari Rin.


Akihiko menyadari apa yang dilakukan Sesshoumaru, karena itu, dengan senang hati dia mengikuti rencana tersebut. Dia tidak peduli meski badannya menabrak pintu kamar hingga rusak, seulas senyum menyeringai memenuhi wajah tampannya.


Dengan mata mereka yang beradu; emas dan biru langit. Saat kaki menginjak taman, kedua daiyoukai tersebut tidak membuang kesempatan yang ada lagi. Menggerakkan pedang dengan kecepatan yang tidak dapat ditangkap mata normal, mereka kembali saling menyerang.


"Sesshoumaru-sama! Akihiko-sama! Hentikan!" teriak Rin. Dia yang masih lemah berusaha bangkit, namun, Kiri yang ada yang masih memeluknya menahannya.


"Kau tidak boleh sembarangan bergerak, Rin-kecil." suara Inukimi tiba-tiba terdengar dalam kekacauan.


Menoleh kepada sumber suara, mata coklat Rin menemukan Inukimi yang tidak tahu sejak kapan telah berada di sampingnya. Kedua mata emas mantan penguasa tanah barat menatapnya serius tidak mengharapkan penolakan akan apa yang barusan dikatakannya. "Ingat Shura."


Rin terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Inukimi. Tapi, meski begitu, bagaimana mungkin dia membiarkan Sesshoumaru dan Akihiko bertarung terus seperti ini?


Suara keributan yang ada segera menarik perhatian penghuni istana. Seketika juga, para prajurit yang datang, begitu juga dengan Miroku.

__ADS_1


"Kagome, Rin," panggil Miroku cepat begitu menginjakkan kaki ke dalam kamar yang telah hancur. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Kalian berdua tidak apa-apa?"


"Kami tidak apa-apa," jawab Kagome yang berjalan mendekati Rin bersama Inuyasha. Ada sedikit kepanikan di matanya. "Anak-anak?"


"Tenang. Sango menjaga mereka," balas Miroku dengan seulas senyum untuk menenangkan miko masa depan tersebut. "Mereka jauh dari keributan ini."


Kagome bernapas lega mendengar jawaban Miroku. Berjongkok ke bawah, dia segera memeriksa nadi Rin.


"Rin, tenang." Ujar Kagome pelan melihat kepanikan di wajah Rin, walau dalam hati dia juga tahu, bagaimana mungkin wanita manusia ini bisa tenang. Tapi, tidak baik bagi ibu hamil untuk terkejut dan panik seperti ini, apalagi jika kesehatannya sedari awal tidak sehat.


"Inuyasha-sama!" panggil Rin. Kedua tangannya segera menangkap tangan Kagome, sedangkan matanya menatap Inuyasha. "Rin mohon, hentikan Sesshoumaru-sama dan Akihiko-sama!"


Permintaan Rin membuat Inuyasha menghela napas. Sejujurnya dia tidak ingin menghentikan kedua daiyoukai itu sama sekali, tapi, melihat ekspresi wajah wanita manusia yang sedang memohon padanya, dia juga tidak tega.


"Biar aku saja yang menghentikan mereka berdua." Potong Inukimi tiba-tiba.


"Eh??" bersamaan Rin, Kagome, Imuyasha dan Miroku menatap Inukimi.


Inukimi menoleh wajah membalas tatapan mata semuanya dan tertawa. "Biarkan aku yang tua ini saja yang menghentikan mereka."


"Ibunda?" panggil Rin tidak percaya, bukankah tadi Inukimi menahan dirinya yang ingin menghentikan Sesshoumaru dan Akihiko?


"Aku menyuruhmu tidak bergerak putriku," jawab Inukimi sambil tertawa. Dia bisa melihat jelas pertanyaan di wajah Rin. "Aku tidak bilang tidak ingin menghentikan mereka."


Ucapan Inukimi membuat mata coklat Rin berbinar gembira. "Maafkan Rin yang salah paham, Ibunda," senyumnya lebar. "Kalau begitu, Rin akan merepotkan anda menghentikan Sesshoumaru-sama dan Akihiko-sama."


Inukimi tertawa melihat senyum Rin. Melangkah ke depan dengan tenang, mata emasnya menatap sosok Sesshoumaru dan Akihiko yang bertarung di taman.


Taman yang indah tersebut kini telah hancur berantakan. Baik Sesshoumaru dan Akihiko sama sekali tidak mempedulikan sekeliling mereka. Tanah yang hancur, pohon yang tumbang—Inukimi bersyukur sekarang musim dingin sehingga tidak ada bunga yang tumbuh. Jika tidak, Rin pasti akan sedih melihatnya.


Sebenarnya, meski Sesshoumaru dan Akihiko bertarung dengan kekuatan mereka yang mengerikan, Inukimi tahu, mereka tidak benar-benar saling membunuh. Meski setiap serangan mengincar nyawa lawan, dia tidak merasakan niat membunuh seperti pertarungan mereka sebelumnya. Tapi, petarungan youkai tetaplah petarungan youkai, apalagi pertarungan daiyoukai—kehancuran yang diakibatkan akan sangat parah.


Menginjakkan kakinya ke taman, Inukimi kemudian berhenti dan berdiri tegak. Seketika juga, moko-mokonya melesat cepat ke arah dua daiyoukai yang sedang bertarung.


Moko-moko itu terbelah menjadi dua dan mengincar kepala Sesshoumaru dan juga Akihiko. Kecepatannya sungguh luar biasa dan juga tidak diragukan sangat kuat.


Baik Sesshoumaru dan Akihiko secara bersamaan mengerakkan pedang di tangan mereka menahan moko-moko Inukimi. Meloncat menghindar, mereka berdua menatap mantan penguasa tanah barat yamg tersenyum lebar kepada mereka.


"Sudah cukup," ujar Inukimi dengan senyum yang tidak kunjung menghilang. "Aku tidak ingin kalian berdua terus bertarung hingga memaksa putriku menggunakan meido seki untuk menghentikan kalian."


"Sesshoumaru-sama, Akihiko-sama." suara Rin yang lemah terdengar. Digendong Kiri, wanita manusia itu mendekati Inukimi. Kedua mata coklatnya menatap kedua daiyoukai yang balas menatapnya.


Sesshoumaru segera bergerak mendekati Rin. Wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa, tapi ada kekhawatiran di dalamnya melihat ekspresi penuh kepanikan kisakinya.


Rin segera menggerakkan tangannya menarik tangan kanan Sesshoumaru. Kedua matanya menatap khawatir luka ditelapak tangan inuyoukai  yang menahan serangan Akihiko barusan. "Anda tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama?" tanyanya pelan.


Luka ditelapak tangan Sesshoumaru tidak parah. Bagi daiyoukai sepertinya, luka itu akan sembuh dalam beberapa jam. Terlebih lagi, dia tahu, serangan Akihiko sejak awal tidak benar-benar mengincar nyawanya.


"Anjing itu terluka," suara Akihiko tiba-tiba terdengar. Youkai serigala itu menatap lurus Rin yang kini menoleh menatapnya kebingungan. "Kau bisa melihatnya sendiri bukan, Rin?"


Pertanyaan Akihiko membuat Rin kebingungan, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak mengerti maksud dari pertanyaan penguasa tanah selatan tersebut.


"Dia bukan tidak terkalahkan," lanjut Akihiko lagi. Matanya menatap sinis Sesshoumaru yang tetap tenang tanpa ekspresi. "—anjing itu bisa mati."


"Hei! Apa-apaan maksudmu, sialan??!" teriak Inuyasha kesal. Dia yang mendekati Sesshoumaru, Rin dan yang lainnya bersama Kagome serta Miroku tidak dapat menahan mulutnya.


Akihiko tidak mempedulikan Inuyasha, dia hanya menatap Rin. "Dia bisa terluka melawanku—apakah menurutmu dia masih akan hidup jika melawan tanah netral, utara dan timur bersamaan?"


Pertanyaan Akihiko membuat semua yang ada tertegun, kecuali Sesshoumaru, Inukimi dan Kiri yang menatap tajam penguasa tanah selatan tersebut.


"Di perang yang akan datang, tanah barat berada di posisi yang tidak menguntungkan—barat akan kalah. Saat itu tiba, kau tahu konsekuensi yang akan kau hadapi, Rin?—anakmu tidak akan dapat hidup."


Kiri menggeram penuh kemarahan mendengar ucapan Akihiko yang mengatakan tanah barat akan kalah. Inukimi tidak bergerak, tapi dia menatap tidak suka youkai serigala tersebut.


Sesshoumaru tidak mengatakan apapun meski sedari tadi Akihiko terus saja mengatakan bahwa dia dan tanah barat akan kalah. Perlahan, dia menolehkan matanya pada Rin yang masih berada dalam gendongan Kiri.


Ekspresi wajah Rin sangat damai, kedua mata coklat jernihnya bersinar tenang. Seulas senyum memenuhi wajahnya. "Tanah barat tidak akan kalah."


Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampan Sesshoumaru mendengar apa yang dikatakan Rin. Kisaki tanah barat yang terhormat dan penuh percaya diri—tidak ada keraguan sedikitpun di matanya saat menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.


Akihiko tertawa mendengar jawaban yang diberikan Rin. "Kau memang bodoh, Rin. Kau tetap saja percaya pada anjing itu!"


"Hei, berengsek!!" teriak Inuyasha memotong, dia sudah tidak tahan lagi dicuekin seperti itu oleh Akihiko. "Jadi ini maksudmu kemari?? Kau datang hanya untuk semua omongan omong kosongmu???!"


Berhenti tertawa, Akihiko menatap Rin. "Rin," panggilnya lembut. "Aku akan mengatakankannya untuk terakhir kalinya; tinggalkanlah tanah barat, ikutlah denganku ke selatan. Jadilah kisakiku, dan aku akan melindungimu serta anakmu."


"Kau mengatakan sesuatu yang lucu, Akihiko-san," sela Miroku tiba-tiba. Dia menatap Akihiko dengan seulas senyum di wajah. Jika pembicaraan ini terus berlanjut, bisa-bisa Sesshoumaru dan Akihiko kembali bertarung lagi—dia tidak menginginkan itu terjadi, sebab anak-anak masih berada dalam istana ini

__ADS_1


"Rin-chan menjadi kisaki tanah barat ataupun kisaki tanah selatan—itu semua tidak ada bedanya. Jika Sesshoumaru tidak bisa melindunginya, bagaimana mungkin kau bisa melindunginya?"


Akihiko kembali tertawa, mata biru langitnya menatap Miroku. Seulas senyum memenuhi wajah tampannya. "Tentu saja berbeda. Menjadi kisaki tanah selatan sangat berbeda dengan menjadi kisaki tanah barat."


"Manusia yang menjadi kisaki youkai sebenarnya bukanlah masalah," jelas Akihiko pelan. "Jika Kisaki itu bukanlah satu-satunya wanita di samping sang penguasa."


"Hah??"


"Apa??"


Semua yang ada menatap tidak percaya dengan jawaban diluar dugaan yang diberikan Akihiko.


"Kau gila, ya??" hardik Inuyasha. Dia benar tidak mengerti lagi akan Akihiko. Sebodoh-bodohnya seorang wanita, mana ada yang mau berbagi suaminya sendiri dengan wanita lain?


"Jika kau menjadi kisakiku, kau tidak perlu melakukan apa-apa, semua tugas akan dijalankan selirku. Tidak akan ada yang dapat mengatakan kau ikut campur urusan dunia youkai," jelas Akihiko datar menatap lembut Rin. "Untuk anakmu. Dia akan menjadi anakku, Akihiko dari selatan. Dia tidak akan menjadi pewaris tanah barat—tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengincar hidupnya lagi."


Inuyasha benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa mendengar penjelasan gila Akihiko. Namun, tidak untuk Miroku dan Kagome, sesungguhnya, apa yang dikatakan youkai serigala itu cukup beralasan. Keberadaan selir dan Akihiko bisa mengubah segalanya. Siapapun yang melihat hubungan Sesshoumaru dan Rin yakin, inuyoukai itu tidak akan membuka pintu menerima kehadiran seorang selir dalam istananya; sebab Rinlah satu-satunya yang dia inginkan, dan untuk Akihiko sendiri—youkai serigala itu juga terlihat jelas sangat mencintai Rin.


"Aku berjanji akan mencintaimu seorang meskipun istanaku memiliki banyak selir, aku tidak keberatan meski kau memiliki tanda orang lain," tambah Akihiko lagi. Kedua matanya menatap lurus penuh keseriusan tanpa keraguan akan janji yang diucapkannya. "Dan, aku juga janji akan membesarkan anakmu sebagaimana aku akan membesarkan darah dagingku sendiri. Meski tidak akan menjadi pewarisku, aku berjanji akan memberikan dia semua yang terbaik dan melindunginya seumur hidup."


Ucapan Akihiko, janji yang dikatakannya mau tidak mau membuat semua yang ada tidak bisa berkata apa-apa. Keseriusannya, semua yang ada dapat merasakannya.


"Apa omong kosongmu sudah selesai?" suara Sesshoumaru yang datar tiba-tiba memecahkan keheningan. Dia yang berdiam diri mendengar semua ucapan Akuhiko dari tadi tidak dapat menahan diri lagi.


"Sesshoumaru-sama." panggil Rin. Tangannya yang mengenggam tangan kiri Sesshoumaru mengerat dan membuat inuyoukai itu menolehkan mata menatapnya.


Seulas senyum memenuhi wajah Rin. Menggeleng kepala, dia meminta Sesshoumaru menahan segala emosi yang ada dalam hatinya.


"Kiri-sama," panggil Rin pelan. Dengan senyum yang masih ada di wajah, dia menatap Kiri yang menggendongnya. "Turunkan Rin."


Kiri sempat ragu mendengar perintah Rin, tapi melihat Sesshoumaru dan Inukimi yang tidak mengatakan apa-apa, diapun akhirnya menurunkan wanita manusia dalam gendongannya.


Berdiri tegak sambil menyentuh perut besarnya, Rin melangkah maju tiga langkah dengan pelan. Menghela napas, dia kembali tersenyum ramah pada Akihiko. "Terima kasih, Akihiko-sama. Rin mengerti maksud anda."


Menutup mata, Rin tahu, meski sikap dan ucapan Akihiko sangat mengejutkan semua yang ada di sini, tujuan youkai serigala itu adalah demi—kebaikannya. Youkai serigala itu memberikannya sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.


Perang di kedepannya, perang dimana dirinya sendiri sebagai kisaki memerintahkan tanah barat maju—Rin tahu segala kekurangan dan konsekuensi tanah barat dalam perang tersebut. Jumlah pasukan yang tidak akan seimbang; kekuatan yang tidak seimbang, sebab tanah barat akan melawan tanah netral, utara, timur dan juga—selatan bersamaan.


Apa yang akan terjadi jika barat kalah? Bohong jika Rin tidak tahu. Tanah barat akan runtuh, Sesshoumaru akan mati, begitu juga dengan dirinya dan—Shura. Perang yang akan terjadi adalah perang yang mempertaruhkan seluruh keberadaan tanah barat.


Resiko perang tersebut tidak terkirakan. Tapi, sebagai kisaki tanah barat, Rin tahu; sejarah tanah barat.


Rin adalah manusia yang dibesarkan youkai. Dia hidup dan tumbuh besar mempelajari semua hal tentang youkai, terutama tentang tanah barat, tempat dimana dia tumbuh besar. Dia belajar tentang sejarah panjang akan tanah barat yang telah berusia puluhan ribu tahun; tentang kekuatan mereka, tentang kebanggaan mereka, tentang keberanian mereka, tentang kebesaran mereka, tentang—kehormatan tanah barat.


Dia adalah seorang ibu, dan juga sekaligus seorang kisaki. Karena itu, di dunia ini sekarang, keberadaaan Shura kini telah menjadi kehormatan tanah barat. Sebagai ibu dia tidak akan menginjinkan kehormatan anaknya diinjak, dan sebagai seorang kisaki, dia tidak akan mengijinkan kehormatan tanah barat hancur.


Ada saatnya untuk menjadi lemah, ada saatnya untuk memilih kedamaian. Jika dia bukanlah seorang ibu atau seorang kisaki, dia akan memilih itu. Namun, kenyataannya, dia adalah seorang ibu dan juga kisaki. Meski akan mengorbankan kedamaian dan nyawa para pengikut, dia tidak akan menjadi lemah—dia tidak mengijinkan dirinya mundur.


Solusi yang diberikan Akihiko bisa menyelamatkan keadaan. Tapi, solusi Akihiko juga selamanya akan menghancurkan kehormatan yang telah berusia puluhan ribu tahun. Dia tidak akan mungkin kabur dan meninggalkan tanah barat meski konsekuensinya tidak terkirakan. Dia adalah kisaki. Kisaki yang akan tetap berdiri tegak tidak peduli apa yang terjadi; kisaki tanah barat.


Membuka mata, ketegasan menggantikan kelembutan di mata coklat jernih Rin. Berdiri tegak penuh keanggunan, senyum menghilang dari wajahnya. "Rin adalah kisaki tanah barat—tidak peduli apa yang akan terjadi."


Berdiri tegak dan anggun dengan perut besar di bawah langit musim dingin, tatapan mata dan ketegasan di wajah cantik yang pucat itu, Akihiko tertegun melihatnya. Rin yang seperti ini dia tidak pernah melihatnya, tapi tidak dapat dipungkiri, betapa wanita manusia itu tetap begitu menyilaukan.


Kisaki.


Ya—Akihiko bisa melihatnya, wanita di depannya adalah kisaki. Kisaki dengan kehormatan tinggi yang tidak akan takut dan tunduk kepada siapapun—kisaki tanah barat bukan kisaki tanah selatan.


Ada rasa sakit luar biasa memenuhi hati Akihiko. Ternyata, pada akhirnya, tidak peduli apa yang dilakukannya, Rin tidak akan pernah memilih dirinya.


"Kau memang bodoh, Rin." ujar Akihiko pelan. Kedua mata biru langitnya menatap sendu wanita yang begitu dicintainya namun tidak akan dimilikinya.


Rin tersenyum kecil dan mengangguk kepala. Ada perasaan bersalah dalam hatinya melihat ekspresi Akihiko sekarang. Perasaan penguasa tanah selatan padanya sangat tulus, namun, dia tidak bisa membalsanya. "Rin selamanya akan tetap bodoh seperti ini, Akihiko-sama.."


Rin yang bodoh dan tidak pernah berubah, sama seperti dirinya yang juga bodoh dan tidak pernah berubah—mereka sama bodohnya. Tapi, jika memang inilah keputusan Rin, maka Akihiko juga telah membulatkan keputusannya. "Aku harap kau tidak akan menyesali pilihanmu ini, Rin."


Sesshoumaru tidak berdiam diri lagi dengan semua yang dikatakan Akihiko. Bergerak ke belakang Rin, dia mengangkat kedua tangan memeluk erat dan membiarkan badan mungil kisakinya bersandar di dadanya. Kedua mata emasnya menatap lurus penuh peringatan pada Akihiko. "Tanah barat tidak akan runtuh—Sesshoumaru ini tidak akan kalah."


Akihiko mendengus dan tertawa sinis mendengar ucapan Sesshoumaru. Membalas tatapan itu, senyum menyeringai memenuhi wajahnya. "Kalau begitu," ujarnya pelan. "Sampai ketemu di medan perang, Sesshoumaru."


Tidak mempedulikan apa-apa lagi, Akihiko kemudian membalikkan badannya. Meloncat ke atas langit, dia terbang menjauh meninggalkan istana tanah barat berserta kekacauan yang diciptakannya.


Lalu, tidak jauh dari taman tempat semuanya terjadi, di atas atap salah satu paviliun timur istana tanah barat, Tsubasa berdiri anggun melihat segalanya.


Seulas senyum memenuhi wajahnya, kedua matanya berbinar gembira melihat Akihiko. Namun, juga tidak dapat dipungkiri, betapa sakit hatinya terasa.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2