![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Langit siang menggelap, badai salju turun tanpa bisa dihentikan, begitu juga dengan pertempuran yang telah terjadi di puncak gunung houshi.
Pasukan youkai dari barat dan selatan itu beradu. Tidak seperti perang manusia, medan perang tidaklah hanya di atas tanah, melainkan juga di atas langit.
Youkai-youkai yang ada saling melancarkan jurus mereka untuk membunuh lawan. Suara ledakan membahana, menghancurkan sekeliling. Pohon-pohon terbakar, membuat puncak gunung houshi menjadi merah. Tanah-tanah hancur, salju mencair dan lubang-lubang besar maupun kecil tercipta.
Suara teriakan kesakitan, kemarahan serta suara tawa mengiringi darah merah berceceran membasahi tanah. Bau anyir darah tercium kuat, beberapa tubuh youkai yang telah kehilangan nyawa terpotong-potong berserakkan mengerikan.
Perang youkai adalah perang yang brutal dan mengerikan. Mereka tidak ragu dalam membunuh, mencabik atau memutilasi lawan.
Yang lemah mati dan yang kuat hidup.
Perang youkai adalah hutan rimba. Tidak ada belas kasihan bagi yang lemah dan tidak ada iba dari yang kuat.
Tsubasa bergerak cepat, dua pedang cakram ditangannya telah penuh darah, begitu juga dengan badannya. Senyum menyeringai dengan bibir lebar melukis wajahnya sedangkan mata merah darahnya memancarkan kepuasaan dan kegilaan.
Sudah berapa banyak musuh yang dia bunuh, Tsubasa tidak tahu. Tapi, dia akan terus membunuh hingga barat musnah. Dia kuat dan karena itulah Akihiko menyayanginya. Semakin banyak yang dibunuhnya, penguasa tanah selatan itu pasti akan melihatnya.
Mengangkat cakram ditangan kanannya, Tsubasa bersiap sedia menebas salah satu youkai di depannya, tetapi, sesuatu yang mirip dengan selendang bulu besar tiba-tiba melesat mengikat lengannya.
Terkejut, Tsubasa tidak memiliki waktu untuk memotong apa yang mengikat lengannya. Selendang bulu itu dengan mudah menghempaskan dia ke bawah tanah.
Tsubasa tidak terluka, dia segera membuka mata dan bangkit berdiri. Mata merah darahnya kemudian jatuh pada sosok seorang inuyoukai wanita di depannya.
Wajah inuyoukai wanita itu sudah berubah hampir kembali ke wujud aslinya, mata merah darah dan bibir lebar yang tersenyum menyeringai memamerkan gigi taringnya yang tajam—Inukimi, sang mantan penguasa tanah barat.
"Ketemu," tawa Inukimi, baju kimononya yang biasanya selalu bersih kini penuh darah, ditangan kanannya, dia menyeret sosok seorang youkai yang sudah tidak bernyawa. "Ketemu juga kau penculik putriku.."
Tsubasa langsung memasang kuda-kuda siap untuk bertarung. Yang didepannya adalah youkai kuat dan berbahaya, dan dia tahu, dia tidak boleh meremehkannya.
Inukimi melempar youkai ditangan kanannya dan meloncat ke arah Tsubasa penuh tawa. "Dia milikku!! Aku yang akan membunuhnya!!!"
Tsubasa segera menghindar, dia bisa melihat jelas kuku-kuku tajam Inukimi terarah kepadanya. Meloncat ke samping dia melemparkan pedang cakramnya. Namun, dengan mudah juga sang mantan penguasa tanah barat itu menghindar.
Saat menginjak kaki di atas tanah lagi, Tsubasa menatap Inukimi dalam diam. Namun, selir kesayangan penguasa tanah selatan itu kemudian tersenyum. Jika dia bisa mengalahkan Inukimi, mungkin Akihiko akan semakin mengakuinya, dan mungkin saja, penguasa tanah selatan itu juga akan tertawa dan tersenyum lembut kepadanya seperti yang dilakukannya kepada gadis manusia itu.
Menangkap pedang cakramnya yang berputar kembali kepada pemiliknya, Tsubasa tersenyum menyeringai dan bergerak cepat menyerang Inukimi.
Inukimi tertawa keras penuh kegilaan melihat mangsanya yang bergerak menyerang. Dia mengeluarkan senjatanya yang berupa cambuk putih dan menghentakkannya. "Bagus!! Ayo kemarilah burung kecil!!"
Dilain pihak, Akihiko sang penguasa tanah selatan maupun Sesshoumaru sang penguasa tanah barat tidak bergerak.
Tidak ada seorangpun youkai yang berani menyerang mereka, sebab insting youkai mereka meminta mereka menjauhkan diri dari kedua daiyoukai tersebut. Dalam perang ini, mereka berdua adalah yang terkuat.
"Sesshoumaru," panggil Akihiko kemudian, mata merah darahnya menatap sosok inuyoukai di depannya. "Sudah berapa lama kita tidak bertatapan muka seperti ini?"
Sesshoumaru tidak menjawab.
"Lima puluh tahun? Seratus tahun?" senyum Akihiko melanjutkan ucapannya.
Sesshoumaru tetap tidak menjawab.
"Kau tidak berubah," senyum Akihiko semakin melebar. "Karena itu, Rin untukku."
Sesshoumaru tidak bisa mengontrol emosinya mendengar nama gadis manusia yang paling berartinya keluar dari mulut sang penguasa tanah selatan.
Dia tidak tahu jelas apa maksud Akihiko bahwa Rin untuknya. Tapi dia tahu bahwa youkai serigala itu menginginkan gadis manusia itu. Rin bukan barang. Dia tidak akan pernah mengijinkan siapapun memperlakukan serta memandang gadis yang dicintainya seperti itu.
Dengan pedang bakusaiga di tangannya, Sesshoumaru bergerak maju dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata.
Akihiko juga bergerak maju. Sama halnya Sesshoumaru, penguasa tanah selatan itu juga menghunuskan pedang taringnya, Kazakiri no kiba.
Penguasa dan penguasa bertarung, pedang dan pedang beradu—pertarungan mereka dimulai.
....xOxOx....
Sen melempar Aya yang mengendong Shiro dan Maya yang mengendong Mamoru ke atas tanah yang telah putih di tutup salju. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya terarah lurus ke depan menatap medan pertempuran barat dan selatan.
Jarak Sen dengan medan pertempuran tidaklah jauh, namun, tidak ada yang menyadari kehadirannya. Semua youkai sudh larut dalam nafsu membunuh mereka.
__ADS_1
Tempatnya sekarang cukup untuk membuat kematian inuhanyou dan anak manusia ini seakan terseret perang yang berlangsung.
Menoleh matanya menatap Aya dan Maya yang ketakutan di depannya, Sen tersenyum kecil. Membunuh anak manusia dan inuyoukai kecil yang tidak berdaya sebenarnya bukanlah kegemarannya, tapi dia tidak bisa membantah perintah langsung dari tuannya.
Tangan kanannya kemudian mencabut sebilah pedang kecil di belakang punggungnya. Mengarah ke atas, bilah pedang tertuju pada Aya dan Maya yang menutup mata mendekap Shiro serta Mamoru dengan kuat.
"Kematian kalian akan cepat, jadi tidak perlu takut." Ujarnya pelan dan menggerakkan pedang ke arah Aya dan Shiro.
Sebuah pedang tiba-tiba melesat cepat mengenai pedang pendek di tangan Sen. Pedang di tangan youkai itu langsung terpental ke belakang, lepas dari genggamannya.
Belum sadar dari rasa terkejutnya, Sen bisa merasakan serangan youki yang sangat kuat meluncur ke arahnya.
Tidak membuang waktu, Sen langsung meloncat menghindar. Matanya terarah tajam menatap siapa yang menyerangnya. Ekpresi wajahnya berubah menjadi penuh kekesalan saat dia melihat siapa itu.
Seorang inuyoukai wanita berambut pendek dengan mata berwana merah mematapnya-sang kembar dari barat; Kiri.
"Sepertinya utara juga bermaksud meramaikan perang ini." senyum Kiri menyeringai.
Sen berdecak tidak suka. Dia tidak menyangka dirinya akan ketahuan. Dalam rencana Takeru, tidak boleh ada seorangpun yang tahu keberadaannya dalam perang ini. Utara tidak akan dapat merekayasa cerita kematian anak Inuyasha dan teman manusianya jika mereka tahu dia ada. Bagaimanapun juga, satu-satunya jalan yang tersisa sekarang adalah membunuh Kiri.
Tidak mengatakan apa-apa, Sen berlari cepat ke arah Kiri. Mengeluarkan senjatanya secara tiba-tiba, yakni sebuah sasumata, senjata berbentuk mirip garpu dengan bagian ujungnya melengkung dua arah keluar, youkai itu menyerang.
Kiri tidak bergerak sedikitpun, dia juga mengeluarkan senjatanya, yakni sebuah tombak putih untuk menahan serangan Sen.
Kiri sedang marah. Sejak Rin diculik dan selatan menantang barat, kemarahannya semakin hari semakin besar. Saat perang di mulai, yang dia incar adalah Tsubasa, sang penculik Hime dari barat. Namun, Inukimi telah mengumumkan bahwa selir kesayangan penguasa tanah selatan adalah mangsanya.
Lalu saat Kiri sedang membantai beberapa youkai selatan untuk melampiskan kemarahannya, dia mencium bau Sen yang dulu pernah ditemuinya di utara serta Shiro, Aya, Maya dan Mamoru.
Kiri memang tidak tahu apa yang diincar Sen dengan membunuh Shiro dan yang lainnya. Tapi, utara yang dibawah pimpinan Takeru yang licik pasti memiliki niat buruk terhadap barat.
Menatap wajah Sen, Kiri tahu, youkai di depannya ini kuat, karena itu, dia adalah lawan yang sepandan-dia boleh berbuat sesuka hatinya terhadap lawannya asal tidak membunuhnya. Kepada utara dia tidak akan ragu.
"Aku tidak akan membunuhmu," senyum Kiri semakin lebar. Mata merah darahnya bersinar penuh kegilaan. "Kau akan menjelaskan pada Sesshoumaru-sama apa yang kau lakukan di sini setelah kami menang, kan?"
....xOxOx....
Kenji melempar tongkat di tangannya ke arah Yukimura yang terbang di atas langit.
Kenji tidak menghindar, dia menahan udara dalam mulutnya hingga mengelembung dan meniupnya keluar. "Hi no ibiki!"
Semburan api yang sangat besar keluar dari mulut Kenji. Yukimura cukup terkejut, tapi sekali lagi, dia berhasil menghindar dan terbang ke atas langit.
Kenji menatap Yukimura dan menangkap tongkatnya yang berputar kembali ke arahnya.
"Anda tidak diragukan memang tangan kanan Inu no taisho dari barat, Kenji-sama," ujar Yukimura sambil tersenyum. "Anda memang kuat."
Kenji tidak membalas ucapan Yukimura, dia mengamati tengu itu. Menghindar dan kemudian menyerang saat ada kesempatan, ini memang gaya serangan klan tengu di bawah Yukimura dari timur, tapi dia sudah mulai kesal dan kehilangan kesabaran dengan pertarungan ini.
"Cukup basa-basinya," potong Kenji kemudian dan memasang kuda-kudanya. "Kerahkan semua jurusmu, aku tidak punya waktu untuk melayanimu lama-lama."
Ucapan Kenji membuat Yukimura tertegun, namun sejenak senyum lebar menghiasi wajahnya. "Kalau itu mau anda."
Menukik kembali ke bawah, Yukimura kembali menyerang, namun kali ini kecepatannya sungguh luar biasa. Polanya tetap sama menyerang-mundur dan kembali menyerang.
Kenji menggunakan tongkatnya menahan serangan. Dia terdesak, dia bisa merasakan jelas kecepatan Yukimura yang semakin cepat dan cepat seiring waktu, dan juga kekuatan serangannya tidak main-main, dia mulai terdorong ke belakang.
Lalu, saat pedang pendek Yukimura berhasil menggores tangan Kenji yang menghindar, dia merasakan genggaman tangannya melemah—racun.
Yukimura tersenyum melihat reaksi Kenji. Dia tahu, youkai monyet itu sudah menyadari keistimewaan dari kedua pedang pendeknya—dokubari. Namun, semua itu sudh terlambat.
Menggerakkan pedang pendek di tangga kanannya lagi, Yukimura melancarkan jurusnya. Kedua pedang itu memancarakan aura hijau gelap dan meneteskan cairan racun mematikan "Senbon no hari!"
Pedang Yukimura berubah bentuk, pedang itu menjadi seribu jarum kecil yang meluncur ke arah Kenji.
Dengan jarak mereka yang dekat dan Kenji yang cuma bisa bertahan karena kekuatan dan kecepatan serangannya, Yukimura tahu, tangan kanan Inu no taisho dari barat yang penuh kebanggan tinggi itu akan mati ditangannya hari ini. "Matil!!" tawanya gembira.
Kenji tersenyum mendengar tawa Yukimura. Youkai tengu ini benar-benar sangat merendahkan dirinya. Memusatkan youkinya, dia kemudian memusatkannya ke seluruh badannya. Seketika sebuah kekai muncul menutupi seluruh badannya dan mementalkan jarum kecil beracun lawan.
Yukimura terkejut, namun belum hilang rasa terkejutnya, Kenji melepaskan tangannya yang mengenggam tongkatnya dan menangkap kedua lengan tengu itu.
__ADS_1
"Masih butuh seribu tahun bagimu jika ingin mengalahkanku." Senyum Kenji menyeringai.
Yukimura berusah meloloskan diri, namun rasa sakit yang luar biasa menyerang bahunya, saat dia sadar apa yang terjadi, Kenji telah menarik putus kedua lengannya.
"Ahhhhh!!!!!!!" teriakan Yukimura keras. Darahnya bercucuran dan dia terduduk ke bawah menahan rasa sakit luar biasa yang menyerangnya.
"Kau tidak akan mati begitu saja, bodoh." ujar Kenji lagi sambil mengangkkat tongkanya memukul kepala Yukimura.
Yukimura tidak dapat menghindar lagi, dia kehilangam kesadarannya saat tongkat itu mengenai kepalanya.
"Kenji-san!!!"
"Kenji-san!!"
Suara panggilan wanita dan pria yang ditangkap telinga Kenji, membuat youkai monyet itu menoleh kepala pada sumber suara. Sebuah senyum melintas di wajahnya saat dia melihat Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango yang berlari ke arahnya.
....xOxOx....
Sepasang kaki itu berjalan secepat yang dia bisa menyusuri jalan yang sudah ditutup salju. Langit gelap dan badai salju yang telah bertiup membuatnya sulit berjalan maju, tapi itu tidak membuat dirinya menyerah, walau kedinginan dan kesulitan, Rin terus melangkah ke depan.
Rin menarik sehelai jaket kimono tebal yang diberikan Kenji saat mereka mereka meninggalkan istana tanah selatan, dia berusaha menghangatkan badan. Dirinya tidak begitu tahu arah pasti, tapi dia bisa melihat gunumg houshi di depan.
"Ayo cepat!!"
Dari kejauhan, Rin tiba-tiba mendengar suara teriakan seseorang. Mengangkat kepala dan menfokuskan pandangannya, dia melihat rombongan orang manusia berjalan ke arahnya.
"Permisi! Apakah ini jalan yang benar menuju gunung Houshi?!" tanya Rin sambil berteriak. Mendekati mereka, Rin menebak mereka pasti merupakan penduduk desa di sekitar gunung houshi.
Para penduduk desa mengarahkan pandangannya pada sumber suara, mereka tertegun saat melihat gadis di depannya. Gadis di depannya adalah gadis tercantik yang pernah dilihat mereka dan juga kimono musim dingin mewah yang dikenakannya jelas membuat mereka sadar, gadis di depannya adalah seorang bangsawan.
"Apakah jalan ini jalan menuju gunung houshi?" tanya Rin lagi saat tiba di depan para penduduk desa.
"P-putri," panggil seorang pria terbata-bata. Ketakutan memenuhi wajahnya. "Ini memang jalan menuju gunung houshi. Tapi, jangan pergi ke gunung houshi sekarang. Youkai barat dan selatan telah memulai perang di sana. Kau akan mati jika terseret dalam perang!!"
Rin mengigit bibir bawahnya, matanya kemudian terarah pada penampilan para penduduk desa. Pakaian dan barang bawaan mereka yang seadanya dalam badai salju ini, jelas membuktikan mereka melarikan diri dari desa tanpa persiapan demi menghindari perang yang telah berlangsung. Dan dengan keadaan itu-berapa banyak yang akan mati.
Rin tahu, para penduduk desa yang melarikan diri dari desa tidak akan dapat bertahan hidup semuanya. Wanita, orang tua, anak kecil akan menjadi korban. Akan ada yang kehilangan orang tua, anak—kehilangan keluarga seperti dirinya dulu.
Perang hanya membawa kesedihan dan kematian. Rin sadar itu, dan dia tidak pernah mau itu terjadi. Kenapa harus berperang? Untuk apa berperang?
"Putri, ikutlah dengan kami," ujar seorang wanita yang ada di samping pria itu tiba-tiba, ditangannya dia menggendong seorang bayi. Terlihat jelas dia adalah istri pria tadi, sebab ekspresi khawatir pria itu terlihat jelas. "Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang juga, bagaimana jika ada youkai yang mengejar kita."
Ucapan wanita itu membuat para penduduk desa sadar akan kondisi mereka. Dalam beberapa detik saja, para penduduk desa yang berhenti itu kembali melangkahkan kaki mereka.
Rin menggeleng kepala, dia kemudian membuka jaket kimono tebal yang diberikan Kenji menyelimuti wanita dan bayi dalam gendongannya.
"Pergilah kalian semua," senyum Rin. "Rin tidak akan mengikuti kalian."
Tidak mempedulikan reaksi wanita dan pria itu yang panik dan ingin menghentikannya, Rin kembali melangkah maju ke depan.
"Putri!!" panggil wanita itu berusaha mengapai tangan Rin, begitu juga dengan suaminya. Namun, penduduk desa yang lain menghentikan mereka. "Biarkan saja, kita tidak tahu siapa gadis itu, kita tidak boleh membuang waktu lebih lama di sini. Ingat nyawa kita taruhannya."
Pasangan suami istri itu terdiam. Menatap punggung Rin yang semakin menjauh, mereka kemudian dengan berat hati membalikkan badan dan mengikuti rombongan penduduk desa dalam diam.
Rin tahu, penduduk desa tidak akan mengejar atau menghentikannya. Manusia mungkin akan menghawatirkannya, tapi mereka juga tidak akan membuang waktu untuk menghentikannya karena nyawa mereka adalah taruhannya. Tidak akan ada yang mau membuang hidupnya hanya untuk orang yang tidak dikenal mereka.
Manusia itu selalu mementingkan diri sendiri.
Lucu bukan, manusia selalu takut dan mengatakan hanyou atau youkai adalah makhluk egois yang mementingkan diri sendiri, tapi sadarkah mereka, bahwa begitu juga manusia itu.
Kalimat itu mungkin benar, tapi Rin juga percaya tidak semua manusia seperti itu. Wajah Kagome, Miroku, Sango kemudian terlintas, dan Rin tersenyum. Bukankah mereka manusia yang seperti itu?—tidak egois dan mementingkan diri sendiri. Lalu Inuysha-sama yang merupakan hanyou, juga begitu bukan? Lalu juga—Sesshoumaru-sama yang menyelamatkannya dulu. Bukankah beliau menghidupkan dirinya yang seorang anak manusia tidak dikenal? Melindungi dan membesarkannya, beliau tidak pernah egois dan mementingkan diri sendiri.
Dan terakhir, dirinya yang merupakan seorang manusia. Rin berpikir dia ada dikategori mana?—dia ingin berada di kategori yang tidak egois dan mementingkan diri sendiri. Dia ingin menjadi seperti Kagome, Sango, Miroku dan Inuyasha-dia ingin menjadi seperti Sesshoumaru.
Manusia, hanyou dan youkai, bukankah mereka sesungguhnya mirip? Kenapa mereka selalu mengatakan mereka berbeda?
Manusia bersedih saat kehilangan mereka yang dicintai, youkai juga seperti itu bukan? Tidak ada makhluk hidup yang sedih jika ditinggalkan orang dekat mereka. Karena itu, untuk perang ini, akan ada berapa banyak kesedihan yang akan ditinggalkan?
Perang yang akan meninggalkan luka seperti itu, Rin tidak menginginkannya.
__ADS_1
....xOxOx....