Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 58


__ADS_3

Kohaku dan Shippo berlari secepat yang mereka bisa, berpacu dengan waktu untuk mencapai gunung houshi. Mereka tidak beristirahat sedikitpun meski sejujurnya mereka sudah mulai kecapekan.


"Itu dia!! Gunung houshi!!" teriak Shippo gembira. Meski masih cukup jauh, matanya sudah berhasil menangkap puncak gunung houshi.


Kohaku tidak berteriak gembira seperti Shipo, dia mengepal kuat jari-jarinya dan menahan napas. Meski jauh, dia bisa merasakan betapa banyak dan mengerikannya aura youkai yang berkecamuk terpancar dari puncak gunung.


Menghela napas yang ditahannya, tiba-tiba saja, dari kejauhan, Kohaku merasakan suatu perasaan ganjil mememuhi hatinya. Memicingkan mata menatap lurus ke depan, dia menemukan sebuah kekkai kasat mata.


"Shippo," panggil Kohaku menghentikan larinya. "Kau bisa merasakan ada sebuah kekkai di depan."


Shippo segera menghentikan langkah kakinya. Memusatkan pandangan ke depan, seperti halnya Kohaku, dia juga bisa meradakan keberadaan kekkai tersebut.


Penuh kewaspadaan, taijiya dan youkai rubah tersebut berjalan mendekati kekkai tersebut. Kekkai tersebut tidak akan bisa dilihat mata manusia biasa, namun, jika mereka yang merupakan youkai dan taijiya memusatkan indra penglihatan, akan terlihat jelas sebuah kekkai besar.


"Kenapa ada sebuah kekkai di sini?" ujar Shippo bingung, tangan kecil terangkat untuk menyentuhnya. Namun, tidak seperti halnya kekkai biasa yang menghalangi seseorang masuk, tangannya dengan mudah menembus kekkai tersebut.


Terkejut, Shippo menoleh pandangannya pada Kohaku yang juga balas menatapnya. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tapi mereka berdua dengan penuh kewaspadaan memutuskan masuk ke dalam kekkai.


Melangkah masuk, mata Kohaku dan Shippo langsung terbelalak terkejut. Mereka bisa merasakan jelas, tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang, terdapat aura sejumlah besar pasukan youkai.


"B-bagaimana bisa ada pasukan youkai di sini??" ujar Shippo terbata-bata tidak percaya.


Kohaku juga tidak bisa mempercayai apa yang dirasakannya. Namun, sejenak kemudian dia sadar, kekai ini bukanlah kekkai yang bertujuan menghalangi siapapun masuk, melainkan kekkai yang digunakan untuk menyembunyikan aura sepasukan besar youkai.


Pasukan selatan, kah? Jika selatan menyembunyikan pasukan di sini, jelas barat akan berada di posisi yang tidak menguntungkan.


"Kita harus terus maju Kohaku," ujar Shippo tiba-tiba walau ketakutan terlihat jelas di wajahnya. "Di depan kita adalah arah menuju gunung houshi yang tercepat. Kita harus terus maju dan menghindari pasukan besar di depan."


Kohaku mengangguk kepala. Apa yang dikatakan Shippo benar, mereka tidak punya jalan lain sebab setiap detik, nyawa Shiro dan yang lainnya semakin berbahaya.


Penuh kewaspadaan dan hati-hati, Kohaku dan Shippo kembali melanjutkan perjalanan mereka. Semakin dekat mereka dengan pasukan besar di depan, semakin kuat aura youkai yang dirasakan.


Menghindar pasukan youkai di depan adalah keputusan yang benar, Kohaku yakin sekali, dirinya dan Shippo tidak akan sanggup menghadapinya.


"K-kohaku," panggil Shippo tiba-tiba dengan muka pucat pasi. Suaranya bergetar. "A-aku tahu siapa yang ada di depan, aku mengenal aura ini."


Ucapan Shippo membuat taijiya muda itu menolehkan wajah menatap youkai rubah itu terkejut.


"Aura ini adalah aura youkai penguasa tanah utara, Takeru."


....xOxOx....


Sen menatap tajam Kiri penuh kemarahan. Dia mulai kewalahan dan terdesak. Setiap serangan yang dilancarkannya dapat ditahan oleh inuyoukai di depannya.


Sasumata di tangan Sen dan tombak Kiri terus beradu. Tapi, siapapun yang melihat akan tahu, bahwa dalam pertarungan ini, Kiri lah yang lebih unggul.


Namun, yang membuat Sen marah adalah senyum menghina di wajah inuyoukai itu. Senyum yang jelas mengatakan bahwa dirinya lemah.


"Bisakah kau mengerahkan semua kekuatanmu," ujar Kiri tiba-tiba demgan senyum yang masih di wajah cantiknya. "Aku tidak berminat membuang waktu lama di sini."


Ucapan Kiri adalah sebuah hinaan yang tidak bisa diterima Sen, badannya bergetar karena kemarahan. Di utara, dia adalah salah satu youkai yang disegani oleh siapapun, dia adalah salah satu youkai kepercayaan Takeru, penguasa tanah utara, tapi di barat, dia begitu rendah hingga tidak dianggap.


Senyum di wajah Kiri semakin melebar, inuyoukai itu ingin sekali bermain lebih lama dengan youkai utara di depannya. Tapi, dia tidak bisa membuang waktu lebih lama di sini.


Menggertakkan giginya, mata Sen berubah menjadi merah, asap hijau memenuhi badannya. Dan sedetik kemudian, badan manusianya membesar dan memanjang hingga akhirnya berubah menjadi sesosok ular python besar.


Kiri hanya berdiri diam menatap sosok asli Sen yang berkali lipat lebih besar darinya. Tidak ada sedikitpun perasaan gentar dalam hatinya. Kalaupun ada, yang ada hanyalah perasaan kecewa. Inuyoukai itu mengira Sen adalah youkai kuat yang, ternyata dia salah, youkai ular di depannya sama sekali bukan lawannya.


Sen mengherakkan ekornya menyerang Kiri, dan dengan lincah, inuyoukai itu meloncat menghindar. Tapi, Sen tidak membiarkannya, meski sosok aslinya sangat besar, dia juga sangat lincah. Mengejar, dia membuka mulut besarnya untuk menerkam sosok lawannya.


Kiri tersenyum melihat serangan Sen. Meloncat ke atas, dengan mudah dia mendarat di atas kepala youkai ular tersebut. Tidak membuang waktu sedikitpun, dia menancapkan ujung tombaknya pada mata kanan lawan.


Sen berteriak kesakitan, badan besarnya menggeliat tak beraturan. Meloncat turun, dengan cepat juga, Kiri menggerakkan tombak di tangannya menyerang. "Hyaku no yari."


Serangan bertubi-tubi tombak Kiri tidak dapat dihindari Sen. Dengan cepat, tombak itu menyayat badannya, membasahi salju putih di bawah dengan warna merah darah.


Saat serangan Kiri telah berhenti, Sen sudah sangat kewalahan; dia sudah terluka parah. Dia kehilangan mata kanannya, tapi inuyoukai di depannya masih berdiri tanpa luka. Seketika dia sadar, dia harus mundur, dia bukan tandingan inuyoukai tersebut.


Mata merah Sen, menatap sekeliling, berusaha mencari jalan atau celah untuk meloloskan diri. Lalu, mata merah kirinya jatuh pada sosok Shiro, Aya, Maya dan Mamoru yang berdiri mematung ketakutan melihat pertarungannya dan Kiri.


Menggerakkan seluruh kekuatan yang masih tersisa, Sen melesat dengan secepatnya ke arah hanyou dan anak manusia tersebut. Ekornnya melilit Shiro dan yang lainnya, sedangkan mulutnya yang terbuka menunjukkan gigi runcing besar, terarah tepat di belakang mereka. "Jangan mendekat, atau mereka akan mati di depanmu!"


Kiri menatap Sen tanpa mengubah sedikitpun ekpresi wajahnya. Sejenak kemudian, dia tersenyum. "Silakan."


Mata Sen terbelalak mendengar ucapan Kiri, dan itu membuat inuyoukai itu tertawa. Mata emasnya menatap sejenak Maya, Aya dan Mamoru yang kini juga balas menatapnya dengan wajah pucat pasi tak percaya, serta Shiro yang kebingungan tidak tahu apa yang terjadi.


Kiri merasa lucu dalam hatinya. Siapa hanyou dan anak manusia itu baginya?-bukan siapa-siapa. Hanya karena keberadaan Rin yang dicintai di Barat, apakah semua youkai di utara, selatan maupun timur berpikir, youkai barat menyukai hanyou dan manusia?


Pemikiran yang bodoh sekali. Mereka tidak menyukai manusia, mereka hanya bisa mentoleransi keberadaan makhluk lemah itu. Dan itupun dikarenakan mereka ingin mengukir senyum di wajah cantik seseorang.


Mencintai dan menyukai, sesungguhnya youkai barat hanya mencintai dan menyukai seorang manusia saja, yakni; Rin.


"K-kiri-san..." panggil Maya dan Aya terbata-bata. Dia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Kiri yang tidak peduli dengan hidup-mati mereka. Inuyoukai yang dilihatnya selalu bersikap lembut dan tersenyum kepada Rin-chan, ternyata begitu tidak berperasaan.


"Kau!!!" teriak Sen penuh kemarahan. Sandera ditangannya sama sekali tidak berarti. Menggerakkan ekornya, dia bermaksud mehempaskan sanderanya pada inuyoukai di depan.


Namun, belum sempat dia melakukan itu, Kiri tiba-tiba bergerak cepat hingga tiba tepat di depannya. Meloncat ke atas, ujung tombaknya menyerang mata kiri youkai ular tersebut.

__ADS_1


Berbeda dengan serangan yang melukai mata kanan Sen pertama kali, inuyoukai itu menekan kuat dan mencongkel keluar bola mata kiri lawannya. Lalu, memutar badan, kakinya terangkat menghantam kepala youkai ular itu dengan kuat hingga menyentuh tanah salju di bawah.


Badan Sen ambruk ke bawah dan kehilangan kesadaran. Lilitan badannya pada Shiro, Aya, Maya dan Mamoru pun terlepas.


Berjalan pelan turun dari kepala Sen, mata emas Kiri bertemu dengan mata Shiro, Aya, Maya dan Mamoru yang tidak bisa menyembunyikan ketakutan dan shock akan apa yang mereka lihat.


"T-terima kasih, Kiri-san.."


"Terima kasih sudah menyelamatkan kami.."


Aya dan Maya segera mengucapkan terima kasih. Tidak peduli apapun yang terjadi, inuyoukai di depannya telah menyelamatkan mereka.


"Kiri-san, barusan itu bercanda, kan?" tanya Maya kemudian, sambil mengeratkan pelukannya pada Mamoru yang masih diam ketakutan. Seulas senyum canggung memebuhi wajah. "Mempersilakan youkai itu membunuh kami semua, itu cuma trikmu, kan?"


Kiri tidak menjawab pertanyaan Maya, dia hanya tersenyum. Hidup-mati mereka, inuyoukai itu benar-benar tidak peduli, tapi jika mereka mati, Rin-sama pasti akan sedih. Jadi, demi senyum gadis manusia itu, kali ini dia bersedia menyelamatkan mereka.


....xOxOx....


Tsubasa melempar pedang cakramnya kepada Inukimi. Namun, inuyoukai itu dengan mudah menghindar. Seulas senyum gembira menghiasi wajah mantan penguasa tanah barat tersebut.


"Ayo, lempar lagi mainanmu itu sampai mengenaiku," tawa Inukimi menatap Tsubasa. "Jangan mengecewakan orang tua sepertiku ini."


Menangkap pedang cakram yang terbang ke arahnya, Tsubasa bergerak maju menyerang, mengincar kepala Inukimi. Tapi, dengan mudah, inuyoukai mantan penguasa tanah barat itu menghentikannya. Kedua pedang cakram itu terhenti karena beradu dengan cambuk ditangan lawannya.


Tiba-tiba saja, dari belakang punggung Tsubasa sepasang sayap putih besar muncul. Dan bagaikan senjata, kedua sayang itu bergerak menyerang Inukimi.


Inukimi yang terkejut segera melompat menghindar, sehingga serangan tersebut hanya mengenai tanah salju di bawah dan meledakkannya.


Inukimi yang mendarat di belakang tersenyum melihat lawannya. Di depannya kini, Tsubasa berdiri dengan sepasang sayap besar putih di punggungnya. Wajah selir kesayangan penguasa tanah selatan itu telah berubah. Garis-garis hitam memenuhi wajah dengan sepasang mata merah darah, dirinya telah mulai kembali ke sosok asli youkainya.


"Kau kuat, burung kecil," tawa Inukimi memperlihatkan gigi taringnya yang panjang. Mata merah darahnya bersinar penuh kepuasan. "Aku akan dengan senang hati akan mematahkan sayapmu."


Tidak membuang waktu lagi, Inukimi melesat maju. Dia menghunuskan cambuknya menyerang, namun dengan sigap Tsubasa menangkisnya dengan pedang cakram di tangan.


"Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi." gumam Inukimi pelan tersenyum. Sedetik kemudian, moko-moko di badannya langsung bergerak, terpecah menjadi berpuluh-puluh bagian, meruncing menyerupai senjata menyerang.


Tsubasa cukup terkejut, serangan Inukimi sekarang, jelas merupakan gaya serangannya tadi. Mengepakkan sayapnya, selir kesayangan penguasa tanah selatan itu terbang ke belakang menghindar.


"Tidak segampang itu, burung kecil!!" Tawa Inukimi, dia ikut meloncat terbang ke atas. Menghempas cambuknya lagi, ujung tali besi cambuk mengikat kaki Tsubasa hingga membuat dia kesulitan bergerak. Lalu, moko-moko senjatanya melesat lebih cepat mengarah youkai burung tersebut.


Tsubasa yang terdesak, menyeringai marah. Melipat kedua sayap putihnya menutup badan, api biru tiba-tiba muncul memenuhi seluruh badannya. Membuka kedua sayapnya lagi, serangan angin dan api yang kuat menghantam Inukimi, memaksa inuyoukai itu mundur ke bawah.


Mendarat di bawah, Inukimi mendongak kepala menatap Tsubasa. Sosok selir kesayangan penguasa tanah selatan itu sudah berubah total, tidak ada lagi sosok cantik layaknya seorang manusia. Bagian punggung hingga kakinya telah berubah serupa dengan burung bercakar besar. Mata merah darah, gigi runcing, kulit pucat pasi dan yang penting api biru yang memenuhi seluruh badannya bagaikan sebuah pelindung.


Tidak mengatakan apa-apa, Tsubasa menukik ke bawah dengan pedang cakram di kedua tangan. Inukimi meloncat menghindar, tetapi dengan mudah Tsubasa mengejar. Kecepatannya bertambah beberapa kali lipat saat dia kembali ke sosok asli youkainya.


Inukimi menangkis serangan kedua pedang cakram Tsubasa, dan harus diakuinya, bukan hanya kecepatan, kekuatan youkai burung itu juga bertambah, terbukti dia dapat menekannya ke bawah hingga tanah salju yang diinjaknya pecah.


Seketika semburan api biru yang sangat kuat dan besar meluncur keluar dari mulut Tsubasa menghantam mantan penguasa tanah barat dan meledak.


Inukimi yang menerima serangan secara langsung terpental ke belakang. Badannya menerima luka bakar yang cukup serius dan itu membuat kemarahan yang luar biasa memenuhi hatinya.


"Beraninya kau!!!" teriak Inukimi penuh kemarahan. Asap hijau memenuhi badannya, angin kuat berhembus, lalu perlahan, badan rampingnya berubah menjadi sesosok besar anjing putih bermata merah darah. Mengais-ngais tanah salju di bawah, mulutnya terbuka memperlihatkan taring panjang yang meneteskan racun. Sosoknya sekarang bagaikan seekor anjing gila yang akan membuat gentar siapapun yang melihatnya.


Lalu, secara tiba-tiba Inukimi meloncat maju, membuka mulut besarnya untuk menerkam Tsubasa. Menghindar, youkai burung itu terbang ke atas, namun, mantan penguasa tanah barat itu mengejar. Badan yang besar tidak membuat kecepatan gerakannya berkurang, yang ada malahan semakin cepat.


Tsubasa tidak terus menghindar, dia sadar, dia akan terdesak jika terus menghindar. Membalikkan badan saat dia melihat jarak mereka yang tinggal setengah meter, youkai burung itu mulutnya terbuka dan kembali melancarkan serangan dengan seluruh kekuatannya. "Hinoiki!"


Semburan api biru kembali meluncur keluar dari mulut Tsubasa. Namun, Inukimi tidak memghindar, malahan dia menerjang.


Tsubasa sangat terkejut, sebab dia tidak menyangka Inukimi akan menerjang jurusnya tanpa mempedulikan luka yang akan diterima. Api biru besar membungkus tubuh besar itu, menciptakn ledakan yang membahana memenuhi medan perang.


Asap hitam pekat memenuhi sekeliling, menghentikan beberapa youkai yang sedang bertarung di bawah maupun di langit.


Tsubasa tetap terbang di atas langit meski asap hitam mengelilinginya. Dia tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya. Namun, tidak dipungkiri, ada perasaan gembira memenuhi hatinya. Menangkah dia?—apakah dia telah berhasil mengalahkan mantan penguasa tanah barat tersebut? Dia tidak merasakan aura keberadaan Inukimi lagi.


"Aku tidak jadi matahkan sayapmu, burung kecil," ujar suara Inukimi tiba-tiba dari belakang Tsubasa. "Aku akan memutuskan kepalamu."


Membalikkan badannya karena terkejut, yang dilihat Tsubasa adalah mulut besar Inukimi yang terbuka lebar tepat di depannya, lalu, semua gelap, sebab mantan penguasaha tanah barat itu telah berhasil menggigit kepalanya hingga putus.


....xOxOx....


Ledakan yang kuat karena pedang Sesshoumaru dan Akihiko yang beradu membuat tanah salju tempat mereka berpijak retak. Mengerakkan tangan mereka, serangan demi serangan dilancarkan tanpa cela.


Kecepatan maupun kekuatan kedua daiyoukai tersebut kurang lebih sama, setiap kali Akihiko mampu mengukirkan goresan luka dengan pedangnya, Sesshoumaru juga akan menggoreskan luka.


Meloncat ke belakang, Sesshoumaru kemudian mengayun dan melancarkan serangan khas pedangnya. "Bakusaiga!"


Youki kuat melesat ke arah Akihiko, aliran-aliran listrik yang menjalal di keseluruhan serangan menghancurkan tanah salju di bawahnya.


Akihiko tersenyum, dia juga melancarkan serangan youkinya. "Ara kaze!"


Serangan youki kuat melesat keluar dari pedang Akihiko. Berbeda dengan serangan bakusaiga Sesshoumaru, serangan youki penguasa tanah selatan itu bersifat angin dan pecah menjadi berpuluh-puluh bagian yang bergerak liar tidak beraturan.


Suara ledakan yang sangat dahsyat membahana dan menguncangkan puncak gunung houshi. Kedua serangan youki itu seakan bertarung, bergerak liar saling mendominasi, aliran listrik dari Seshoumaru dan gerakan angin dari Akihiko.


Namun, dalam serangan tersebut, tidak ada yang mengungguli lawan. Kedua serangan youki itu bisa dikatakan seimbang dengan menyisakan sebuah lubang besar di atas tanah salju yang telah lenyap tak tersisa.

__ADS_1


Semua youkai yang ada tertegun dan berhenti bertarung melihat serangan youki kedua daiyoukai tersebut. Kekuatan mereka benar-benar luar biasa sekaligus mengerikan.


Akihiko menatap lurus Sesshoumaru yang ada di depan. Baik dirinya maupun inuyoukai itu, tidak ada yang bergerak, mereka hanya saling menatap. Mencerna, berpikir dan mencari celah untuk kembali menyerang.


Menghunus pedang bakusaiga ke samping, tanpa mengubah ekpresi wajahnya yang datar, Sesshoumaru berlari ke arah Akihiko. Tidak gentar, youkai serigala itu juga melesat maju menghadapi penguasa tanah barat.


Mereka berdua meloncat terbang di atas lubang besar bekas serangan mereka. Beradu pedang, mereka berdua bergerak dan mengayunkam pedang dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti oleh mata youkai.


....xOxOx....


"Bagus!! Ayo Sesshoumaru! Ayo Akihiko! Tebaslah leher kalian!!" tawa seorang youkai gembira dari kejauhan melihat pertarungan kedua daiyoukai penguasa tanah barat dan selatan tersebut.


Tangan kananya bergerak menyusuri rambut hitam pendeknya, sedangkan mata hijaunya memancarkan kegembiraan tidak tertahan.


"Anda gembira sekali, Takeru-sama." senyum seorang youkai wanita yang berdiri di samping Takeru, sang penguasa tanah utara.


Berhenti tertawa, Takeru menoleh wajahnya pada youkai wanita itu. Senyum lebar menghiasi wajah tampannya. "Kau juga harus ikut bergembira, Akiko."


Akiko, putri dari penguasa tanah timur tertawa mendengar ucapan Takeru. "Anda benar, Takeru-sama. Hamba harus bergembira."


Takeru kemudian mengarahkan pandangannya pada pasukan besar yang berdiri di belakangnya. Senyumnya semakin lebar.


Semua sesuai rencananya. Barat dan selatan yang berperang. Tidak peduli siapapun yang menang nantinya, tidak akan ada masalah, sebab pemenang akan mengalami kemerosotan kekuatan yang luar biasa.


Itulah saatnya dia, Tekeru dari utara akan muncul dengan pasukannya. Pasukan yang baru menang dari perang, pasukan yang masih terluka dan lemah tidak akan sanggup menghadapi pasukannya. Jika perang ini selesai, di jepang ini, tidak akan ada lagi barat dan selatan, yang ada hanyalah utara dan timur. Lalu, dengan Akiko dari timur yang telah bersedia menjadi pasangannya, seluruh jepang akan berada ditangannya.


....xOxOx....


Pedang yang terus beradu tanpa bisa ditentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah. Sesshoumaru berusaha menekan kemarahan yang semakin membuncah dalam hati.


Akihiko yang menyadari hal itu. Meski wajah inuyoukai itu tetap datar tanpa emosi, tetapi kedua mata emasnya berkata lain, ada emosi kemarahan yang terpancar, dan itu membuat penguasa tanah selatan tersenyum menyeringai. "Kau benar-benar tidak berubah, Sesshoumaru."


Sesshoumaru tidak membalas ucapan Akihiko, dia tetap menfokuskan dirinya menyerang.


"Tidak berekspresi dan berperasaan," lanjut Akihiko lagi dengan senyum yang masih ada di wajahnya. "Karena itulah, Rin untukku."


Mendengar nama Rin meluncur keluar dari mulut Akihiko, mata emas Sesshoumaru berubah menjadi merah darah, kemarahan yang ditahannya sejak tadi meluncur keluar. Mengerakkan tenaganya, dia menekan Akihiko ke belakang.


Akihiko meloncat menghindar tekanan bakusaiga Sesshoumaru. Dia kemudian mendarat turun di atas tanah. Mendongak kepala ke atas pada inuyoukai yang masih ada di udara, dia tertawa. "Kau tidak akan mengikuti jejak ayahmu, kan, Sesshoumaru?"


Pertanyaan Akihiko membuat Seshoumaru tertegun.


"Mencintai manusia yang lemah dan musnah. Kau akan mengikuti jejak itu??" tanya Akihiko lagi, tersenyum menyeringai menatap sosok Seshoumaru yang tertegun.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Akihiko. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang terus berputar dalam pikirannya. Mencintai?—dia telah mencintai. Tapi, beranikah dia?—dia tidak tahu.


Sesshoumaru-sama.


Senyum musim semi abadi gadis tersebut terlintas dalam benak Sesshoumaru. Senyum indah yang membekas dalam hatinya.


Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari pada dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshoumaru-sama.


Pengakuan cinta gadis itu semasa kecil, beranikah dia membalasnya?—Seshoumaru tidak tahu.


"Kau tidak bisa menjawab, kan, Sesshoumaru?" Akihiko kembali tertawa menghina. Penguasa tanah selatan tahu, meski dia baru tidak lama mengenal gadis manusia itu, dia tahu; Rin mencintai Sesshoumaru. Tapi, dia juga tahu, Seshoumaru sang penguasa tanah barat tidak akan pernah membalas cinta itu.


Sejarah akan terulang jika Seshoumaru berani memiliki Rin. Sejarah Inu no taisho dan Izayoi yang terkenal dari barat. Sesshoumaru yang begitu menghormati ayahnya, namun, dengan hati dingin bisa membiarkan ayahnya mati karena mencintai manusia, tidak mungkin berani mengikuti jejak itu.


Lalu, beranikah dirinya, Akihiko dari selatan memiliki gadis manusia itu?—dia berani. Dalam kehidupan panjang yang monoton dan membosankan sebagai youkai penguasa tanah selatan, untuk pertama kalinya dia merasakan perubahan sejak gadis itu muncul dalam hidupnya. Dalam hitungan hari, dengan senyum, tawa dan kehangatan yang diberikan, gadis itu membawa dia keluar dari hidup monoton dan membosankan itu.


Mencintai? Apakah dia, Akihiko dari selatan mencintai Rin, gadis manusia itu?—sejujurnya dia tidak tahu. Tapi, jika dengan mencintai gadis itu, gadis itu bisa selalu berada di sampingnya, dia tidak keberatan.


"Matilah ditanganku hari ini, Seshoumaru. Aku akan memberikan dia segala sesuatu yang tidak bisa kau berikan. Akan kupastikan dia meninggalkanmu; akan kupastikan dia melupakanmu."


Ucapan Akihiko membuat bola mata merah darah Sesshoumari semakin menggelap hingga mendekati hitam. Aura youki mengerikan terpancar keluar karena kemarahan, membuat para youkai di bawah ketakutan.


Kemarahan luar biasa memenuhi Seshoumaru. Rin meninggalkannya? Rin melupakannya? Memberikan segalanya?-tahu apa youkai yang menyombongkan diri di depannya itu sekarang? Tahu apa dia akan Rin? Tahu apa dia dengan apa yang sesungguhnya diinginkan gadis manusia itu?


Rin ingin selalu bersama Sesshoumaru-sama.


Selalu bersama yang Seshoumaru tahu tidak mungkin. Manusia dan youkai, jurang yang selalu memisahkan mereka, melebihi siapapun, Sesshoumaru adalah yang paling sadar dengan apa itu cinta seorang youkai pada manusia. Tahu apa Akihiko akan arti mencintai Rin yang seorang manusia?


Menggerakkan seluruh kekuatannya, Sesshoumaru melesat kuat ke arah Akihiko, menyerang. Penguasa tanah selatan itu juga ikut menyerang dengan menggerahkan seluruh kekuatannya. Mereka bertemu di atas udara, dan sekali lagi pedang mereka beradu.


Sesshoumaru terus melancarkan serangannya dalam kemarahan. Sosok manusianya sudah mulai berubah, bibirnya terkoyak memperlihatkan taringnya yang panjang, begitu juga dengan Akihiko, penguasa tanah selatan itu juga mulai kembali ke sosok asli youkainya.


Serangan mereka menimbukan kerusakan yang parah. Aliran listrik dari youki Sesshoumaru dan angin dari Akihiko menghancurkan sekeliling; tanah salju, batang-batang pohon. Para youkai di bawah hanya bisa berusaha menyelamatkan diri, sebab salah sedikit saja, nyawa mereka akan melayang. Kedua penguasa yang bertarung itu jelas tidak mempedulikan hidup-mati mereka sekarang.


Seshoumaru semakin mempercepat kekuatan dan serangannya. Yang ada dalam pandangan penguasa tanah barat itu sekarang hanyalah membunuh Akihiko. Tidak pernah dia merasakan kemarahan yang membuat dirinya lepas kontrol seperti ini.


Bunuh, bunuh dan bunuh! Yang berani berpikir merebut Rin darinya! Bunuh!!


Bagaikan sebuah mantra. Semua pandangannya menggelap, dia hanya menginginkan darah lawannya sekarang—dia memang merupakan seorang youkai yang haus darah.


"S-Sesshoumaru-sama..."


Sayup-sayup ditengah kekacauan dan suara keributan yang ada, bagaikan menyadarkannya, telinga Sesshoumaru menangkap suara seseorang yang memanggil namanya.

__ADS_1


Suara yang tidak asing, suara yang selalu diingatnya. Matanya terbelalak saat pandangannya jatuh pada sosok gadis manusia yang berdiri cukup jauh dari tempatnya bertarung. Gadis yang kini menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran;Rin.


....xOxOx....


__ADS_2