![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Bangunan utama istana tanah barat yang besar dan megah penuh dengan para youkai dan juga hanyou. Kecuali selatan, youkai dari timur, utara, hingga netral semua hadir. Walau penguasa mereka tidak hadir, mereka mengirimkan perwakilan mereka. Tapi tidak untuk barat, semua youkai dan hanyou di barat hadir di ruangan ini sekarang.
Saat indra pendengaran mereka yang tajam mendengar suara dentingan lonceng, mereka yang tadinya ribut kini menjadi diam tanpa suara sedikitpun. Pandangan mereka semua tertuju pada pintu masuk yang terbuka lebar secara bersamaan.
Suara dentingan lonceng ditangkap telinga mereka semakin jelas, dan perlahan, mata mereka menemukan rombongan pengantin yang berjalan memasuki ruangan.
Tidak ada yang berani bersuara. Menahan napas, mereka menatap sepasang pengantin yang akan melaksanakan ritual pernikahan sakral berjalan masuk dengan tangan yang tertaut.
Berambut perak pendek dengan sepasang mata berwarna emas, penampilan pengantin pria itu cukup mengejutkan semua youkai dan hanyou yang ada–siapa yang pernah melihat inuyoukai sang penguasa tanah barat itu berambut pendek seperti ini? Namun, tidak dapat dipungkiri juga, dia tetap tampan dan bermartabat tinggi seperti biasanya.
Lalu, pandangan semua yang ada kemudian tertuju pada sang pengantin wanita. Dengan kepala tertunduk ke bawah dan tersembunyi oleh wata boushi, dalam balutan shiromuku, dia begitu anggun dan membuat semua orang penasaran. Gadis manusia yang bisa menaklukkan hati daiyoukai penguasa tanah barat–secantik apa gadis itu di hari pernikahannya?
"Hmnn, aku benar tidak pernah menyangka ada hari di mana pernikahan secara tradisi manusia akan diadakan dalam istana ini," ujar seorang youkai tua pelan. Kedua mata besarnya menatap tidak percaya pada sosok rombongan yang masuk, tangannya tidak henti-hentinya mengelus kepala seekor kerbau di samping. "Kurasa Toga-sama juga tidak menyangka Sesshoumaru akan berubah seperti ini."
"Kau benar, Totosai," setuju seorang youkai kutu yang duduk di bahu Totosai. Keempat tangannya telipat di dada. "Sesshoumaru benar-benar berubah-bahkan, lihat! Dia membiarkan Inuyasha-sama dan keluarganya ikut dalam rombongan. Toga-sama akan sangat bahagia karena kakak-adik ini akhirnya bersatu."
"Hmm, kau benar Myoga," Totosai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Toga-sama sudah bisa beristirahat dengan tenang di alam sana."
Pernikahan dengan tradisi manusia yang diadakan Sesshoumaru adalah sesuatu yang sangat mengejutkan semua orang. Youkai pembenci manusia bersedia melakukan tradisi manusia tanpa takut ditertawakan atau dibicarakan bangsanya-apa yang sesungguhnya terjadi?
Siapa pengantin wanita dari sang penguasa tanah barat?-semua youkai dan hanyou yang hadir tahu, dia adalah gadis yang dihidupkan inuyoukai dengan pedang warisan keluargannya, tenseiga. Dia adalah seorang gadis manusia yang dikenal sebagai hime dari barat. Meski sangat cantik dan anggun, pintar dan menawan, dia tetaplah salah satu dari ras yang lemah dan tidak berguna; manusia.
Adalah sebuah teka-teki bagi setiap youkai dan hanyou bahwa penguasa tanah barat mau mengangkat seorang manusia menjadi kisaki. Apakah rumor yang beredar benar, penguasa tanah barat benar-benar mencintai seorang manusia? Atau rumor lainnya yang mengatakan gadis manusia itu adalah satu-satunya yang bisa menggunakan meido seiki?—kekuatankah yang diincar oleh penguasa tanah barat tersebut?
Namun begitu, tidak ada yang berani mengatakan apa-apa sekarang. Mereka tetap diam membisu melihat sepasang pengantin melangkah menuju panggung tempat pemberkatan dan duduk di tempat yang telah disiapkan.
Para keluarga dengan segera membubarkan diri dan duduk di tempat yang telah disiapkan. Lalu, dipimpin Kaeda karena tidak ada seorangpun pendeta shinto yang berani melakukan pemberkatan, pernikahan Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat dan Rin, hime dari barat di mulai.
Rin yang kepalanya tertunduk ke bawah, sama sekali tidak dapat berpikir jernih, dia tidak dapat mendengar doa yang dipanjatkan oleh Kaeda sedikitpun. Jantungnya masih berdetak kencang dan terus bertanya dalam hati; mimpi kah?
Sedangkan untuk Sesshoumaru, dia juga tidak mendengar doa yang dipanjatkan Kaeda, sebab dia memang tidak pernah mempercayai keberadaan dewa. Perlahan, inuyoukai itu menolehkan matanya pada sosok Rin yang ada di samping.
Sesshoumaru tidak bisa melihat ekspresi wajah Rin yang duduk dengan anggun dan tenang karena tertutup wata baoushi, akan tetapi dari suara detak jantung yang terdengar, dia tahu pengantinnya sangat gugup.
Dari hari dia melamarnya hingga hari pernikahan, Sesshoumaru tahu, gadis itu masih tidak mempercayai apa yang terjadi. Wajah yang bersemu merah, senyum malu-malu serta mata coklat yang berbinar penuh kebahagian dan harapan akan masa depan yang dia tidak tahu nyata atau tidak–mungkin dirinya benar-benar harus menyakinkan Rin sekali lagi bahwa ini bukanlah mimpi.
Pernikahan adalah kata yang asing bagi Sesshoumaru. Namun, disinilah dirinya kini berada. Pernikahannya ini, dia tahu, pasti akan menjadi pertanyaan bagi semua youkai, hanyou maupun manusia? Kenapa dia mau melakukan pernikahan dengan tradisi manusia?–karena Rin adalah manusia.
Menikah dengannya dan menjadi kisaki tanah barat, Rin benar-benar tidak memiliki jalan untuk keluar lagi dari dunia youkai. Selamanya, gadis manusia itu akan berada di dalam dunia youkai yang begitu berbeda dengan dunia manusia.
Sesshoumaru tahu dia tidak bisa memberikan banyak hal kepada Rin. Meminta gadis itu bersamanya, dia sudah merampas bagian terpenting kehidupan sebagai seorang wanita manusia yang sesungguhnya dari gadis itu, yakni; mereka tidak akan menua bersama. Wanita mana yang tidak ingin menua bersama pasangan hidupnya?
Untuk segala sesuatu yang tidak bisa diberikan, Sesshoumaru ingin memberikan Rin segala yang seharusnya gadis manusia itu rasakan sebagai manusia, salah satunya adalah ini, lamaran dan pernikahan seperti seorang wanita manusia sebagaimana mestinya.
Bersamanya, Rin mengorbankan banyak hal, karena itulah, untuk bersama Rin, Sesshoumaru bersedia mengorbankan segala hal.
Tidak jauh dari tempat Sesshoumaru dan Rin duduk, Inuyasha yang duduk di kursi keluarga sambil menggendong Shiro mulai merasa bosan. "Ugh, acara yang membosankan."
"Jaga suaramu, Inuyasha." Perintah Kagome sambil menatap tajam suaminya tersebut.
"Percayalah, si berengsek yamg duduk di atas sana juga tidak mendengar doa panjang lebar yang dibacakan Kaeda." Balas Inuyasha tidak mau kalah. Dia bukanlah tipe orang yang bisa bersabar dalam acara formal seperti ini.
"Apa ayah dan ibu juga menikah ceperti ini dulu?" suara Shiro yang pelan tiba-tiba terdengar menyela ucapan Inuyasha.
Menatap Shiro bersamaan, Inuyasha dan Kagome menatap bingung putra kandung mereka.
"Ceperti apa ayah dan ibu menikah?" tanyanya lagi. Kedua mata emasnya berbinar menanti jawaban.
Kagome tersenyum, membelai lembut kepala Shiro, dia kemudian tertawa kecil. "Ibu juga menggunakan shiromuku seperti Rin-chan. Ayah juga menggunakan kimono dan haori hitam seperti paman Sesshoumaru. Tidak banyak yang hadir seperti ini, tapi pernikahan kami juga diberkahti nenek Kaeda seperti ini."
"Ooo, begicu ya?" mata emas Shiro kemudian terarah pada Inuyasha. "Ayah, apa ibu cantik seperti Rin-chan?"
Pertanyaan diluar dugaan Shiro dengan segera membuat Kagome menatap Inuyasha. Mata hitamnya menatap lurus suaminya menunggu jawaban.
Ditatap oleh Kagome dan Shiro seperti itu, Inuyasha membuang muka. Namun, kedua pipinya bersemu merah. Dia ingat jelas sosok Kagome yang menggunakan shiromuku untuknya beberapa tahun yang lalu dan hari itu Kagome–"Cantik sekali."
Jawaban Inuyasha membuat pipi Kagome bersemu merah, tetapi seulas senyum lebar menghiasi wajahnya. "Kau juga sangat tampan hari itu, Inuyasha."
"Cih." Cibir Inuyasha. Inuhanyou itu tetap tidak menoleh wajah menatap Kagome mendengar pujian tersebut, tapi wajahnya semakin memerah.
Shiro tertawa melihat wajah merah Inuyasha, begitu juga dengan Kagome.
Menoleh wajah kepada Sesshoumaru dan Rin, mata hitam Kagome kemudian melihat Kaeda telah selesai membaca doa dan meminta Rei membawa mapan berisi teko dan tiga tumpuk cangkir sake.
Perlahan, Kaeda mengambil cangkir sake paling kecil dan menyerahkannya pada Sesshoumaru. Mengambil teko, miko tua itu kemudian menuangkan sake kepada inuyoukai itu.
Sesshoumaru meminum sake yang dituangkan kepadanya dalam tiga seruput, setelah itu, dia memberikan cangkir itu pada Rin.
Kaeda tidak dapat menahan senyumnya saat melihat apa yang terjadi di depannya. Perlahan, dia kemudian menuangkan sake kepada Rin.
Rin meminum sake yang dituangkan padanya dengan pelan. Gerakannya lugas dan anggun, dia tahu, apa yang dilakukannya bersama Shessoumaru sekarang adalah san-san-kudo yang merupakan tradisi manusia.
San-san-kudo, meminum sake dari cangkir yang sama. Kaeda dan Kagome sudah menjelaskan padanya makna dari acara ini.
Cangkir pertama adalah cangkir paling kecil—lambang dari masa lalu.
Cangkir kedua adalah cangkir sedang—lambang dari masa sekarang.
Lalu, cangkir ketiga adalah cangkir paling besar—lambang dari masa depan.
Seperti cangkir sake yang digunakan bersama, dalam masa lalu, masa sekarang dan masa depannya—mereka akan selalu bersama.
Rin menoleh wajah menatap Sesshoumaru setelah mereka menyelesaikan acara san-san-kudo, seulas senyum yang lebar memenuhi wajah cantiknya.
Rin merasa dia sangat beruntung. Pada awal-awal kehidupannya sebagai seorang manusia, dia bahagia bersama keluarga kandungnya, namun kemudian penderitaan datang, dia kehilangan semuanya. Lalu, dia bertemu dengan inuyoukai yang kini ada di hadapannya–Sesshoumaru ada dalam masa lalunya.
Kebahagiaan dalam hidupnya kembali hadir. Penuh dengam keceriaan, tawa dan senyum, tarian dan nyanyian, inuyoukai itu selalu ada–Sesshoumaru bersamanya sekarang.
Lalu untuk ke depan–untuk masa depan yang tidak diketahui siapapun, Rin tahu, inuyoukai itu juga akan selalu ada.
Makna dari san-san-kudo itu benar, dalam hidup seorang gadis manusia bernama Rin, Sesshoumaru adalah lambang dari masa lalu, masa sekarang dan masa depannya.
__ADS_1
Sesshoumaru tidak tahu apa yang dipikirkan Rin, tapi senyum indahnya membuat dia serasa ingin ikut tersenyum. Di dunia ini, hanya gadis manusia inilah satu-satunya yang bisa melakukan itu.
Acara san-san-kudo berakhir, acara selanjutnya adalah pembacaan ikrar pernikahan. Duduk berhadapan, mata emas Sesshoumaru tetap terpusat pada Rin yang tertunduk malu.
Di acara ini, Sesshoumaru dan Rin sudah memutuskan, mereka tidak akan membacakan apa-apa. Tapi, di saat inilah Sesshoumaru akan memberikan tanda pada Rin sesuai tradisi youkai.
Tanda dalam dunia youkai adalah bukti ikatan yang tidak terputuskan. Tanda adalah bukti pernikahan dalam dunia youkai yang tidak terbantah oleh siapapun.
Mendekati Rin, tangan Sesshoumaru bergerak menyusuri pipi kanan gadis manusia itu. Menengadahkan kepala sang gadis menatapnya, mata emasnya melihat wajah merah sempurna yang ada didepannya.
Dengan bibir yang digigit dan mata coklat jernih berbinar indah, sekali lagi, Sesshoumaru hanya dapat berpikir bahwa pengantin wanitanya benar-benar sangat cantik.
Bergerak pelan, tangan Sesshoumaru kemudian turun pada leher sang pengantin wanita yang tertutup wata boushi. Dia bisa merasakan kehangatan di setiap sentuhan yang ada.
Bergerak terus, tangannya kemudian berhenti pada kerah furisode yang dikenakan Rin. Menarik kerah itu pelan hingga memperlihatkan tulang selangka, penguasa tanah barat itu kemudian menurunkan wajahnya pada celah leher gadis itu.
Sesshoumaru bisa mencium jelas bau harum musim semi yang menyenangkan, dan dia juga bisa merasakan badan gadis itu gemetaran. Senyum kecil memenuhi wajah tampannya. "Rin, ini akan sakit, jadi, bertahanlah.."
Melingkarkan tangan kanan pada pinggang Rin, sedangkan tangan kiri menahan kepala sang gadis, Sesshoumaru menutup mata. Mulutnya terbuka, dan dua taringnya yang panjang menancap pada celah leher putih yang ada di depannya.
Rasa sakit dirasakan Rin saat kedua taring Sesshoumaru menancap di lehernya. Panas seperti terbakar. Menutup mata dan mengigit bibir bawahnya, dia menahan rasa sakit yang ada tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Sesshoumaru bisa merasakan, dari daging yang terkoyak di dalam mulutnya, rasa manis yang luar biasa dirasakan indra perasanya. Seperti gula namun bukan gula, seperti madu tapi juga bukan madu. Sangat memabukkan bagaikan candu, membuat dia ingin lebih. Penguasa tanah barat tahu, ini adalah; darah Rin.
Melepaskan gigitannya, Sesshoumaru tidak melepaskan Rin. Tangan kanan yang memeluk pingangnya semakin erat, begitu juga dengan tangan yang menahan kepala gadis itu. Lalu, dengan cepat, dia kembali membuka mulutnya, tapi kali ini bukanlah mengigit–dia mengisap dan menjilat darah yang ada bagaikan kehausan.
Rasa manis yang dirasakan membuat Sesshoumaru gelap mata. Rasa ini adalah rasa Rin, dan dia ingin memilikinya.
Mencium, menghisap, lalu–menjilat, Sesshoumaru terus melakukan itu. Rin yang tidak bergerak mulai merasa rasa sakit pada gigitan di lehernya perlahan menghilang. Tidak ada lagi rasa sakit seperti awalnya, namun, di setiap sentuhan bibir, hisapan dan jilatan lidah yang ada, dia merasa perubahan pada inuyoukai yang memeluknya.
Rin bisa merasakan badan Sesshoumaru yang memanas, dia juga bisa melihat napas inuyoukai itu yang menjadi tidak beraturan. Mengangkat kedua tangan, perlahan dia memeluk penguasa tanah barat itu erat. "Sesshoumaru-sama.."
Suara pelan yang memanggil namanya pelan dan lembut membuat Sesshoumaru tersadar. Kedua matanya yang tertutup segera terbuka lebar, begitu juga dengan apa yang dilakukannya–semuanya terhenti.
Apa yang telah dilakukannya? Sesshoumaru sendiri tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukannya saat memberikan tanda pada Rin, tanpa disadarinya, sisi buasnya hampir saja lepas kendali.
"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin sekali lagi.
Menjauhkan wajahnya dari leher Rin, Sesshoumaru menatap wajah gadis itu. Sepasang bola mata coklat menatapnya lurus, tidak ada rasa takut pada dirinya yang hampir lepas kendali, malahan, yang ada adalah khawatir dan kebingungan.
Melepaskan tangan kiri yang menahan kepala Rin, Sesshoumaru kembali menyentuh pipi gadis manusia itu. "Sesshoumaru ini tidak apa-apa."
Rin mengangguk kepala pelan mendengar ucapan Sesshoumaru, seulas senyum kembali memenuhi wajah cantiknya.
"Sake!!!!"
Suara teriakan Inukimi yang keras tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan yang ada. Mantan penguasa tanah barat itu berdiri dan tertawa lebar, tangannya mengangkat tinggi cawan sake. "Tanda sudah diberikan!! Kisaki tanah barat telah lahir!!!"
Bersamaan dengan suara teriakan Inukimi, para youkai dan hanyou yang ada ikut berdiri dan mengangkat cangkir sake di tangan.
"Untuk kisaki tanah barat!!
"Selamat!!!"
"Bersulang!!"
Rin menatap bingung keributan yang terjadi, namun, sejenak kemudian dia ikut tertawa melihat para hadirin yang memulai pesta mereka.
Kembali menatap Sesshoumaru, Rin tersenyum. Rin adalah manusia, meski dia mengigit Sesshoumaru, dia tidak bisa memberikan tanda pada inuyoukai tersebut. Karena itu, untuk ikrar pernikahannya, dia memberanikan diri. Melepakan tangan yang ada pada pinggang Sesshoumaru, dia berdiri dan membungkukkan badan. Perlahan, bibirnya mencium lembut kening Sesshoumaru. "Rin akan selalu mencintai Sesshoumaru-sama. Selalu dan selamanya–hingga akhir waktu."
Sentuhan bibir mungil yang hangat, suara yang lembut, Sesshoumaru merasa kehangatan luar biasa menyelimuti hatinya. Pandangan mata emasnya kemudian jatuh pada bekas gigitan yang dibuatnya.
Bekas gigitan itu telah berubah, tidak adalagi lubang akibat taringnya, yang ada adalah tanda bulan sabit berwarna biru tua–tandanya.
Kepuasan luar biasa memenuhi seluruh relung hati Sesshoumaru. Tandanya, Rin kini telah memiliki tandanya. Gadis manusia itu adalah dia yang setara dengannya, pasangannya, kisakinya–istrinya.
"Sesshoumaru ini tahu, Rin."
....xOxOx....
Malam sudah tiba, namun dalam istana tanah barat, pesta terus berlanjut. Para tamu undangan yang menyukai pesta tidak berhentinya meneguk sake yang ada, nyanyian dan tarian membahana memenuhi malam.
Inuyasha yang meneguk sake melihat sekelilingnya dalam diam. Seperti biasa, pesta yang dihadiri youkai dan hanyou ini sudah lepas kendali.
Di sudut ruangan, dia bisa melihat Inukimi yang sangat bahagia dengan hari ini bersulang dan meminum sake tidak henti-hentinya bersama Kenji, dia juga melihat Totosai, Myoga, Shippo dan Jinenji menghibur Jaken yang terus menangis.
"Kau masih sanggup minum, Inuyasha?" tanya Miroku yang ada di samping Inuyasha tiba-tiba sambil tersenyum.
"Ini akan menjadi cangkir terakhirku, aku tidak akan minum lagi." Jawab Inuyasha sambil menghela napas. "Kagome akan marah jika aku minum terlalu banyak."
Miroku tertawa mendengar jawaban Inuyasha, meski Kagome sudah tidak ada di tempat jamuan karena menidurkan Shiro bersama Sango dan anak-anak mereka, inuhanyou ini tetap saja takut pada istrinya itu. Tapi, dia mengerti, miko masa depan itu memang sangat menakutkan jika sedang marah.
"Kau masih akan minum?" tanya Inuyasha kemudian menatap Miroku.
Miroku menggeleng kepala dan tertawa. "Tidak. Aku tidak mau merasakan sakit kepala seperti hanami di selatan lagi."
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa lagi mendengar jawaban Miroku. Namun, sebuah kerutan kecil muncul di dahinya saat pandangannya jatuh pada sosok Kohaku yang telah mabuk berat dan masih meminum sake sendirian.
"Biarkan dia," suara Miroku tiba-tiba menyela. Dia tersenyum kecil. "Biarkan Kohaku minum sepuasnya. Dia ingin meluapkan segala perasaannya."
Miroku jelas tahu apa perasaan adik iparnya itu terhadap pengantin wanita hari ini. Semua terlihat sangat jelas sejak dulu-dulu sekali. Taijiya muda itu memang membutuhkan sake untuk melewati hari ini.
Inuyasha hanya dapat kembali menghela napas. Menatap sekeliling lagi, mata emasnya kemudian jatuh pafa kursi kosong tempat di mana Sesshoumaru duduk. "Kemana si berengsek itu?"
"Sesshoumaru sudah meninggalkan pesta ini sejak tadi, Inuyasha," tawa Miroku lepas. Kedua mata hitamnya bersinar penuh canda. "Dia tidak mungkin akan berada di pesta ini sampai pagi, kan? Kau dulu juga begitu."
Ucapan Miroku membuat Inuyasha merasa kesal. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa. Membuang muka, dia hanya menglipat kedua tangan di dada.
Rin sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat saat malam sudah mulai larut, sebab, semua orang tahu, gadis itu tidak mungkin mampu mengikuti jamuan yang akan berakhir besok pagi. Tapi, untuk Sesshoumaru yang juga ikut menghilang tanpa memberitahu siapapun–setidaknya dulu dia masih memberitahu Miroku dan yang lainnya saat meninggalkan pesta.
....xOxOx....
__ADS_1
Dalam kamar Sesshoumaru yang kini juga telah menjadi kamarnya, Rin duduk di depan cermin. Dia menurunkan kerah kimono putih tidurnya menatap tanda yang diberikan Sesshoumaru.
Di antara tulang selangka dan lehernya, Rin bisa melihat jelas bulan sabit berwarna biru tua. Di atas kulitnya yang putih seperti salju, bulan sabit itu bergitu mencolok di mata.
Menyentuh tanda itu pelan, Rin kemudian menutup mata dan tersenyum. Dia kini memilikinya– tanda dari Sesshoumaru, suaminya.
Suami.
Kata yang tidak asing, namun membuat dirinya malu. Sesshoumaru adalah suami sahnya sekarang di mata youkai maupun di mata manusia.
Membuka mata, Rin bisa melihat sendiri betapa merah wajahnya yang terpantul di cermin. Seketika dia menjadi semakin malu, namun juga tidak dapat dipungkiri–bahagia.
Berdiri, dia kemudian berjalan untuk menghilangkan rasa malu dalam hatinya. Mengamati kamar Sesshoumaru–tidak! Kamar mereka lebih tepatnya sekarang.
Seketika, Rin kembali merasa wajahnya memanas. Menutup mata, dia mengabaikan perasaan itu sekuat tenaga dan menarik napas menenangkan diri.
Membuka mata setelah tenang, kisaki tanah barat itu kembali mengamati kamar tempatnya berada. Sesshoumaru adalah seorang penguasa dari tanah barat yang besar dan makmur. Namun, pribadi dari inuyoukai itu selalu rapi dan sederhana. Semua itu tercermin dari kamarnya. Dalam kamar yang lumayan besar ini, tidak ada banyak barang milik Sesshoumaru, malahan lebih banyak barang Rin yang baru dipindah masuk.
Barang milik Sesshoumaru hanyalah berupa alas tulis kaligrafi dan alat lukis yang tertata rapi. Sama sekali tidak ada barang-barang berharga yang ada.
Lalu, pandangan mata Rin jatuh pada sebuah lukisan yang ada dalam kamar. Mendekati lukisan itu, dia hanya diam membisu menatapnya dan kembali tersipu malu.
Sesshoumaru mengatakan padanya, lukisan tersebut adalah lukisan dari Kisaki tanah barat, Kisaki dari Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat–lukisannya.
Secantik inikah dia dalam mata inuyoukai yang telah menjadi suaminya?–Rin ingat dengan jelas apa yang terjadi hari itu. Selamanya, hari itu tidak akan pernah terlupakan dari dirinya, untuk setiap ucapan, untuk setiap sentuhan dan ciuman.
Kriekk
Suara pintu yang terbuka segera menyadarkan Rin. Menoleh ke belakang pada pintu kamar, dia melihat Sesshoumaru berjalan masuk. Wajah tampannya tanpa ekspresi, tenang dan datar seperti biasanya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin sambil tersenyum lebar. Membalikkan badan, dia segera berjalan mendekati inuyoukai itu. "Anda sudah ingin beristirahat?"
Sesshoumaru mengangguk kepala. Dia tidak ingin kembali ke tempat pesta yang sudah mulai lepas kendali itu lagi. Meskipun hari ini adalah hari pernikahannya, dia tidak berkeinginan sedikitpun untuk meladeni semua para tamu undangan yang datang mengucapkan selamat padanya.
"Baiklah," tawa Rin. Kedua mata coklatnya menatap lembut inuyoukai di depannya yang masih mengenakan kimono dan haori hitam. "Apakah anda ingin mandi, Sesshoumaru-sama? Rin akan meminta–"
Ucapan Rin terhenti karena tiba-tiba saja, tangan kanan Sesshoumaru menyentuh pipinya.
"Rin." Panggil Sesshoumaru pelan. Kedua mata emasnya menatap lurus gadis manusia yang balas menatapnya penuh senyum.
"Ya, Sesshoumaru-sama?"
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sesshoumaru kemudian. Hari ini, dia memberikan tanda pada Rin, dan dia tahu bekas taringnya meski sudah menutup, luka itu masih tetap ada.
Rin segera menggeleng kepala dan tertawa. Menarik kerah kimono tidurnya ke bawah, dia memperlihatkan tanda bulan sabit di celah lehernya. "Tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Lihatlah, lukanya sudah tidak ada."
Leher putih dan tanda bulan sabit yang diperlihatkan Rin seketika membuat Sesshoumaru tertegun. Namun, sejenak kemudian dia mengangkat tangan kirinya menyentuh tanda itu.
Melihat tanda itu, perasaannya tetap tidak berubah, yakni; kepuasan. Tidak pernah menyangka dalam hidupnya, bahwa ada hari dimana dia merasa sangat puas melihat seorang wanita memiliki tandanya.
Tidak mengatakan apa-apa, Sesshoumaru kemudian melepaskan tangan kanannya yang menyentuh pipi Rin dan melingkar pinggang ramping itu. Memendamkan wajahnya pada celah leher sang gadis, bibirnya mencium lembut tanda itu.
Bau musim semi yang menyenangkan, kehangatan tubuh mungil dan rasa manis yang memabukkan–Sesshoumaru tahu, dia tidak akan menemukan keberadaan lain seperti gadis ini lagi.
Sentuhan bibir yang hangat, mata Rin terbelalak dengan apa yang tiba-tiba dilakukan Sesshoumaru. Tapi, dia tidak menolak ataupun bergerak. Berdiri diam, dia membiarkan inuyoukai itu terus mencium lehernya.
Namun, sentuhan bibir yang hangat makin lama terasa semakin panas. Lalu, saat dia merasakan lidah yang menjilat lehernya, rasa panas dan geli yang muncul menjadi tidak tertahankan.
"Ah..." suara erangan kecil lolos dari mulut Rin tidak tertahankan.
Suara Rin dengan segera membuat Sesshoumaru membuka mata dan menjauhkan wajahnya dari leher gadis itu. Mata emasnya bisa melihat wajah gadis manusia yang memerah itu segera menunduk ke bawah.
Perlahan, tangan kanan dan kiri Sesshoumaru bergerak menyentuh pipi Rin, mengangkatnya hingga mata mereka bertemu. Melihat wajah yang memerah itu, bibir yang tergigit erat, mata coklat yang berbinar dan menahan air mata–Sesshoumaru tidak bisa menahan hasrat yang muncul dalam hatinya.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan. Mata emasnya menatap lurus gadis itu dengan emosi tidak terbaca. "Apakah kau tahu apa yang akan Sesshoumaru ini lakukan?"
Pertanyaan Sesshoumaru seketika membuat wajah Rin yang sudah merah semakin memerah. Apa yang akan dilakukan Sesshoumaru? Pada malam pertama pernikahan, apa yang akan dilakukan sepasang pengantun baru, Inukimi, Kagome dan Sango sudah menjelaskannya pada dirinya. Hanya saja dia tidak menemukan keberanian menjawab pertanyaan inuyoukai di depannya.
Sesshoumaru tidak bisa menahan rasa geli dalam hati melihat ekspresi wajah Rin sekarang, seulas senyum kecil muncul di wajahnya. Dia tahu, gadis itu sadar dengan apa yang ingin dia lakukan, tapi, dia tidak akan memaksa jika Rin tidak mau. Rin adalah yang terpenting baginya, karena itu, untuk kehidupan pernikahan mereka, dia ingin memprioritaskan perasaan gadis itu.
"Tidak perlu takut," ujar Sesshoumaru kemudian, kedua tangannya membelai lembut pipi istrinya. "Sesshoumaru ini akan menunggumu.."
Senyum dan ucapan lembut Sesshoumaru membuat Rin tertegun. Tapi, seketika, perasaan hangat memenuhi hatinya. Tidak pernah berubah, inuyoukai itu selalu menjaga dan melindunginya. Dia tidak pernah memaksa dan memberikan kebebasan penuh padanya.
Mengangkat kedua tangannya, Rin menurunkan tangan Sesshoumaru yang ada di pipinya sambil tertawa dan menggeleng kepala. Lalu, dengan kedua bola mata coklatnya semakin melembut, dengan pipi yang masih bersemu merah bagaikan kelopak mawar, dan seulas senyum indah, Rin menatap balik sang penguasa tanah barat penuh kepercayadirian. "Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama. Cinta, cinta, cinta, sangat mencintai anda, hanya anda."
Pengakuan cinta yang sudah tidak tahu keberapa kalinya, namun, Rin tidak pernah bosan mengatakannya; karena inilah cintanya.
Melangkah maju meniadakan jarak diatara mereka, Rin meletakkan kedua tangan di dada Sesshoumaru dan menjinjit kaki ke atas. Menutup mata dengan jantung yang berdebar kencang dan mengumpulkan segenap keberanian yang ada, dia menangkap bibir suaminya, sang penguasa tanah barat.
Sentuhan lembut di bibirnya membuat Sesshoumaru terbelalak. Namun sedetik kemudian dia sadar. Melingkarkan kedua tangan, di pinggang Rin, Sesshoumaru menutup mata dan membalas ciuman yang ada.
Ciuman pertama mereka adalah sebuah kecupan ringan yang singkat. Ciuman kedua adalah ciuman yang lembut dan manis. Namun, tidak untuk ciuman ketiga. Ciuman ketiga mereka adalah ciuman yang dalam, memabukkan dan menghanyutkan.
Sesshoumaru tidak peduli lagi dengan apapun, dia mencium, mengigit dan ******* bibir mungil itu dengan tamak dan rakus. Dia bisa merasa Rin mulai kewalahan, tangan mungil yang ada di dadanya meremas erat kerah kimononya, dan dia juga bisa merasakan napas sang gadis yang mulai menipis.
Rin tidak bisa berpikir, seisi dunia seakan berputar dan menghilang. Lalu, saat pasukan napasnya hampir habis, Sesshoumaru menjauhkan wajah. Tapi, gadis manusia itu hanya bisa bernapas beberapa detik sebelum inuyoukai itu kembali ******* bibirnya.
Mengigitnya pelan hingga terbuka dan menjelajahi isi mulutnya dengan lidah, ciuman Sesshoumaru terus berlanjut tanpa henti.
Panas, memabukkan serta menghanyutkan. Rin seakan merasa Sesshoumaru menggendongnya, dan saat sadar, dia telah berbaring di atas futon dalam kamar dengan inuyoukai itu di atasnya.
Membuka mata, Rin bisa melihat Jelas wajah Sesshoumaru. Dengan napas yang terengah-engah, ekspresi wajah yang tidak terbaca dan sepasang mata emas yang berpadu dengan warna merah darah–tidak pernah dia melihat penguasa tanah barat itu seperti ini sebelumnya.
"Rin, kau adalah milikku.." gumam Sesshoumaru dalam suaranya berat dan dalam.
Tidak ada rasa takut, yang ada adalah kebahagiaan. Dengan air mata yang mengalir, Rin kemudian melingkarkan kedua tangan di leher Sesshoumaru dan kembali menangkap bibirnya dalam sebuah ciuman.
Miliknya.
Sejak awal sampai akhir, kenyataan itu tidak akan pernah berubah, Rin tahu itu; dia adalah milik Sesshoumaru–seutuhnya.
__ADS_1
....xOxOx....