Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 138


__ADS_3

Tanah netral memilih Koharu dari klan tupai sebagai pemimpin mereka, dan dia secara resmi telah menulis surat mewakili tanah netral kepada tanah utara menolak tawaran bergabung," lapor Kira sambil berlutut di hadapan Sesshoumaru dalam ruang kerja sang penguasa tanah barat. "Tanah utara tidak memberikan tanggapan akan tanah netral, tapi Takeru sendiri menerima keputusan tersebut tanpa membuat keributan."


Duduk di kursi kerjanya, Sesshoumaru diam membisu mendengar laporan Kira dengan tenang seperti biasanya, begitu juga dengan Inukimi dan Kenji yang ada di samping.


"Dan untuk tanah timur, Asano sebagai penguasa mendapatkan banyak perlawanan dari klan di bawah kekuasaannya. Perang lima wilayah membuat posisinya sebagai penguasa terancam."


"Ahh," gumam Kenji pelan sambil tersenyum kecil penuh kegembiraan. "Kuberharap kali ini rubah tua itu mati."


"Lalu, untuk tanah selatan," lanjut Kira dengan suaranya yang datar tanpa berubah sedikitpun. "Tidak ada pergerakan sedikitpun dari tanah selatan. Keadaan juga tidak berubah, perang lima wilayah tidak memberikan efek sedikitpun pada Akihiko sebagai penguasa."


Baik Kenji, Inukimi dan juga Sesshoumaru tidak merasa keanehan sedikitpun tentang laporan akan tanah selatan. Akihiko sebagai penguasa tanah selatan bukanlah youkai yang bisa dipandang sebelah mata. Youkai serigala itu adalah penguasa kuat yang bisa mengontrol seluruh klan di bawahnya dengan baik.


"Pada akhirnya, yang bisa menyaingi tanah barat tetaplah tanah selatan." gumam Kenji pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Sesshoumaru tidak memberikn reaksi sedikitpun akan ucapan Kenji, namun tidak untuk Inukimi. Mantan penguasa tanah barat itu tersenyum menyeringai. "Apanya yang bisa menyaingi tanah barat? Selatan tidak akan pernah dapat memiliki pewaris seperti cucu emasku."


Ucapan Inukimi membuat Kenji menatap tidak percaya mantan penguasa tanah barat tersebut. Melihat kedua mata emas yang bersinar penuh kebanggaan, sang saru shogun hanya dapat menggeleng kepala—cinta seorang nenek yang luar biasa.


"Tanah selatan tidak akan pernah menyerang tanah barat tanpa alasan lagi," suara Sesshoumaru yang diam membisu dari tadi tiba-tiba terdengar. "Tapi—tetap awasi mereka."


Sesshoumaru tahu, Akihiko tidak akan mungkin menyerang tanah barat lagi, karena—janjinya pada Rin. Youkai serigala itu sampai matipun akan selalu menjaga janji yang telah dibuatnya, yakni; tidak akan menyerang tanah barat.


Ada perasaan tidak suka dirasakan Sesshoumaru dalam hati. Dia tahu, meski keadaan sudah seperti ini, meski Rin telah menjadi kisaki tanah barat, menjadi istrinya, menjadi seorang ibu—mata Akihiko saat menatap Rin tidak pernah berubah.


Sesshoumaru tidak perlu waspada pada tanah selatan, tapi dia selamanya akan selalu waspada terhadap Akihiko. Jika saja ada sedikit celah antara hubungannya dengan Rin, maka youkai serigala itu pasti akan berusaha masuk ke antara mereka untuk merebut Rin darinya.


Akihiko adalah youkai yang paling tidak disukai Sesshoumaru sekarang, akan tetapi, dia juga sangat mengerti penguasa tanah selatan tersebut—youkai serigala itu masih sangat mencintai Rin.


Seperti dirinya yang hanya mengejar kekuatan di masa lalu. Seorang youkai yang hidup di dunia gelap penuh darah dan jeritan—pesona Rin yang begitu cemerlang tidak akan terlupakan; Akihiko selamanya tidak akan pernah dapat melupakan Rin.


Sesshoumaru merasa lucu, karena pada akhirnya, mungkin dialah yang paling mengerti perasaan Akihiko tersebut—mencintai seorang wanita manusia bernama; Rin.


"Untuk tanah netral, tanah timur, dan terutama tanah utara," ujar Sesshoumaru lagi. Suaranya tetap tenang dan datar, tapi matanya bersinar tajam penuh perintah tidak terbantah. "Jika mereka melakukan pergerakan sedikit saja dengan tujuan menghancurkan kedamaian yang ada; hancurkan mereka tanpa sisa."


Kedamaian.


Sesshoumaru sesungguhnya tidak mempedulikan itu, tapi, Rin sangat menginginkan itu untuk hidup Shura. Seperti kisakinya yang berusaha keras untuk menciptakan dunia damai seperti itu, dirinya juga akan berusaha keras mempertahankannya selama yang bisa.


Kenji hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan Sesshoumaru. Kata 'kedamaian' yang diucapkan sang penguasa tanah barat itu benar-benar membuatnya ingin tertawa. Siapa sangka akan hari di mana dia akan mendengar dan melihat inuyoukai tidak berperasaan itu ingin menjaga kedamaian—Rin-rin sungguh telah mengubah Sesshoumaru.


Inukimi tidak mengatakan apa-apa. Keputusan Sesshoumaru sekarang, dia cukup puas. Jawaban Rin untuk tanah netral telah mengunci gerakan mereka untuk dipergunakan siapa saja, tanah selatan juga tidak akan menyerang karena janji Akihiko, lalu tanah timur dan tanah utara juga tidak bisa melakukan apa-apa—keadaan sekarang benar-benar bagus untuk dirinya yang akan menghabiskan sisa hidup bersama anak, menantu serta cucu emasnya.


"Hamba mengerti, Sesshoumaru-sama." Balas Kira yang masih berlutut penuh hormat.


"Bagus, mundurlah." Perintah Sesshoumaru pelan.


Kira tidak mengucapkan apa-apa lagi. Bangkit berdiri, dia kemudian mundur keluar dari ruang kerja penguasa tanah barat menyisahkan Sesshoumaru, Inukimi dan Kenji.


"Keadaan sudah normal dan tenang kembali, aku berharap kau juga bisa kembali pada pekerjaanmu, Sesshoumaru," ujar Inukimi kemudian. Mata emasnya menatap lurus pada Sesshoumaru. "Serahkan kesehatan Rin kecil padaku."


"Dan serahkan urusan fushi no kusuri padaku," tambah Kenji sambil tertawa. "Aku akan berusaha."


Bagi Sesshoumaru sekarang, dia hanya menghawatirkan dua hal, yakni; kesehatam dan waktu hidup Rin. Tapi, dia tidak pesimis, kisakinya akan sehat dan dia pasti akan menemukan fushi no kusuri untuk memperpanjang hidupnya.


Selamanya bersama.


Sesshoumaru tersenyum. Untuk mimpi yang terajut dan akan terus berlanjut, dia akan mengabulkan harapan yang mustahi tersebut. Dirinya, Rin dan Shura—selamanya bersama dengan sebagai keluarga.


....xOxOx....


"Shura tampan sekali." Puji Aya pelan. Kedua matanya menatap lekat Shura yang balas menatapnya tidak suka dalam gendongan Rin.


"Terima kasih pujiannya, Aya-chan." Senyum Rin lembut. Duduk di atas futon karena badannya yang masih cukup lemah, dia menatap lembut putra kesayangannya.


"Iya, dia adalah bayi tertampan yang pernah kulihat—dia mirip paman Sesshoumaru." Tambah Maya. Seperti saudari kembarnya, matanya juga menatap lekat pewaris tanah barat tersebut.


"Apakah Shiro saat bayi kalah tampannya dengan Shura?" sela Shiro menatap Aya dan Maya dengan mata emasnya penuh kepolosan.


"Ah," tawa Aya tidak dapat menahan kegelian akan pertanyaan Shiro. "Kau juga sama tampannya dengan Shura, Shiro."


"Rambut putih perak, mata emas, kulit putih—kalian benar-benar sudah tampan sejak lahir. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan ketampanan kalian." Sambung Maya dan membuat senyum lebar memenuhi wajah Shiro.


"Tidak!" potong Mamoru kesal. Dia menatap tidak suka kedua kakak kandungnya. "Bayi paling tampan itu aku!! Kakak!! Kalian ini kakak siapa sebenarnya??"


"Kau bukan yang paling tampan, Mamoru," balas Aya sambil tersenyum menyeringai. "Terima saja nasibmu itu."


"Iya," timpah Maya tidak mau kalah dalam mengoda adiknya tersebut. "Kau tergolong tampan, tapi bukan paling tampan."

__ADS_1


"Kakak!!!" teriak Mamoru penuh kemarahan. Air mata menumpuk di mata hitamnya melihat kedua kakaknya lebih memilih orang lain ketimbang dirinya yang merupakan adik kandung mereka.


"Sudah-sudah," Sango yang tidak tahan lagi segera melerai anak-anak. Matanya menatap tajam kedua putri kembarnya. "Aya, Maya, jangan menggoda adik kalian terus."


Mamoru yang menangis segera berlari dan memeluk Miroku yang ada di samping Sango. "Ayah, Kak Aya dan Kak Maya jahat!!"


"Ah, tenang Mamoru," hibur Miroku sambil mengelus pelan kepala Mamoru. "Kau cukup tampan, dan ketampanaan bukan hal paling berguna dalam mengait perasaan wanita."


"Benarkah ayah?" tanya Mamoru. Tangisnya terhenti dan dia menatap Miroku penuh antisipasi akan pembenaran yang ada.


Miroku mengangguk kepala. "Yang paling berguna adalah hati yang lembut dan pengertian. Kata-kata romatis yang memabukkan. Ayah bisa mengajarimu nan—aduh!! Sakit Sango!!"


Suara pelan Miroku berubah menjadi teriakan kesakitan karena Sango yang mencubit pipinya dengan kuat.


"Jangan mengajari Mamoru yang tidak-tidak." ujar Sango kesal tanpa menatap Miroku sedikitpun.


Kohaku yang berada di samping hanya dapat menggeleng kepala melihat keluarga kakaknya yang tidak pernah berubah sedikitpun.


Rin, Inuyasha, Kagome, Kaeda dan Shippo yang melihat interaksi keluarga Miroku juga tidak mengatakan apa-apa dan tertawa. Sampai tuapun sepertinya Miroku tidak akan pernah berubah.


Berkumpul melihat Shura yang telah mendapatkan sosok manusianya, kamar tidur penguasa tanah barat menjadi ceria penuh tawa. Rasa hangat menyelimuti seluruh mereka meskipun di luar musim dingin masih berlanjut.


Dengan Sesshoumaru yang tidak ada dalam kamar serta Kiri yang berdiri di luar pintu kamar sebagai penjaga, Rin tahu, inuyoukai penguasa tanah barat tersebut ingin memberikan waktu baginya dan Shura untuk berinteraksi dengan anak-anak serta yang lainnya.


Para anak-anak sampai sekarang masih saja takut pada Sesshoumaru, dan itu tetap saja tidak dimengerti Rin. Apa yang menakutkan dari inuyoukai itu?—dia tampan dan sangat baik, kan?


"Tapi," ujar Shippo kemudian menyadarkan Rin dari lamunannya. Mata youkai rubah kecil itu menatap Shura yang masih saja memasang wajah tidak suka pada semua yang ada dalam kamar. "Shura benar-benar mirip dengan Sesshoumaru."


"Iya," sambung Kaeda pelan. "Dia adalah kopian ayahnya. Aku bisa membayangkan jelas seperti apa wajahnya kelak."


"Cih," cibir Inuyasha dan membalas tatapan tajam Shura. "Sifatnya juga sama. Si kecil ini akan sangat keras kepala dan sulit dijaga saat dia sudah bisa berjalan kelak. Kau harus bersiap-siap, Rin."


"Aku tidak setuju dengan itu Inuyasha," tepis Kagome cepat. Senyum memenuhi wajahnya saat menatap Shura. "Shura akan menjadi anak yang penurut dan tidak akan menyusahkan Rin-chan dan Kakak. Kau tidak lihat bagaimana matanya saat menatap Rin-chan?"


Inuyasha terdiam mendengar pertanyaan Kagome. Menatap Shura kembali, dia menatap wajah Rin. Mengingat-ngingat, mata inuyoukai kecil tersebut saat menatap ibu dan ayahnya memang sangat berbeda.


Rin hanya tersenyum. Perlahan, dia menurunkan matanya yang penuh kasih sayang pada putra dalam gendongannya. "Shura akan jadi anak penurut, bukan?"


Shura tidak mengerti pertanyaan Rin. Tapi, mendengar suara lembut serta melihat senyum yang begitu dicintainya, dia tertawa dan mengangkat kedua tangan ingin menyentuh wajah sang ibu.


"Eh!! Dia tertawa!!"


"Shura lucu sekali!!"


"Mamoru lebih lucu!!"


Tawa Shura seketika membuat semua yang ada dalam kamar Rin menjadi ribut. Semua yang ada melihatnya sama sekali tidak percaya bahwa inuyoukai kecil yang selalu mamasang wajah tidak suka pada mereka bisa tertawa sebahagia ini tiba-tiba.


Suara ribut yang ada membuat tawa di wajah Shura menghilang. Menoleh menatap Inuyasha, Kagome dan yang lainnya, dia menyeringai marah dengan mata emas yang berubah menjadi merah darah.


Semua yang ada langsung terdiam, menatap wajah Shura sekarang, mereka hanya dapat kembali merasa betapa luar biasa miripnya dia dengan Sesshoumaru.


"Shura, jangan seperti ini," ujar Rin pelan menenangkan Shura. Menundukkan kepala ke bawah, dia mencium kening putranya lembut. "Rin lebih menyukai Shura yang tertawa atau tersenyum."


Ciuman di kening membuat kemarahan di wajah Shura menghilang, begitu juga dengan mata merahnya yang kembali menjadi emas. Menatap Rin sejenak, dia kemudian menutup mata dan memendamkan wajahnya di dada sang ibu.


Rin hanya bisa kembali tertawa dan menggeleng kepala dengan sikap Shura.


"Shura mewarisi tawamu, Rin-chan." senyum Kagome kemudian dan menatap Rin. Matanya berbinar gembira. "Dia akan tumbuh menjadi sangat-sangat tampan kelaknya."


"Cih, syukurlah dia mewarisi senyum dan tawamu," sela Inuyasha, melipat tangan di dada dan membuang muka. "Setidaknya ada hal bagus yang si kecil ini dapatkan darimu. Anak laki-laki ini lebih baik mirip dengan ibunya."


"Hmnn, aku setuju dengan itu," timpah Shippo sambil mengangguk kepala. "Anak laki-laki lebih baik mirip ibunya. Aku juga berharap Shiro mewarisi lebih banyak hal bagus dari Kagome daripada darimu, Inuyasha."


"Apa maksudmu, Shippo?!" menatap tidak suka Shippo, Inuyasha segera mengangkat tangan untuk memukul kepala youkai rubah tersebut.


Shippo segera berlari menghindar dan bersembunyi di belakang Kagome. "Lihat itu!! Aku berharap Shiro tidak mewarisi sifat kasarmu ini kelak!!"


"Shiro anak baik!! Shiro tidak kasar!!" teriak Shiro menyela ucapan Shippo. Matanya kemudian terarah pada Kagome, "Ibu, Shiro akan jadi anak baik!!"


Kagome menggeleng kepala melihat sikap Inuyasha dan Shippo, dia juga tidak mengerti Shiro yang ikut dalam keributan.


Kaeda yang tidak mempedulikan keributan menatap Rin yang tepat berada di depannya. Dia tersenyum lembut. "Kau harus menjaga dirimu baik-baik, Rin. Kau seorang ibu sekarang."


Kondisi Rin sekarang masih belum pulih seperti semula. Luka yang dapatkannya dari proses melahirkannya yang berat meski sudah sembuh, tetap saja memberikan efek yang cukup menghawatirkan. Dia menjadi lemah dan diharuskan beristirahat panjang.


Rin tersenyum semakin lebar dan mengangguk kepala. "Iya, Rin mengerti Nenek Kaeda."

__ADS_1


"Bagus-bagus." Tawa Kaeda menatap Rin yang sudah dianggap bagaikan cucunya. Melihat kebahagiaan di wajah cantik itu, dia dengan tulus ikut berbahagia.


Rin tersenyum.


Senyum yang begitu bahagia dan indah, karena baginya sekarang; dia telah mendapatkan segalanya. Seesuatu yang selalu dia harapkan dan dambakan, angan-angan semu yang menjadi nyata—bersama mereka yang begitu berarti baginya.


Lalu, sedetik kemudian—senyum di wajahnya menghilang.


Kedua matanya terbelalak. Wajah pucatnya semakin pucat. Menggerakkan tangannya, dengan segera, dia menyerahkan Shura yang ada dalam gendongannya kepada Kaeda.


Apa yang dilakukan Rin seketika membuat semua yang ada kebingungan. Suara Shura yang kini mengeluarkan protes karena tidak berada dalam dekapan sang ibu terdengar memenuhi kamar. Namun, yang lain tidak peduli, mata semua yang ada terarah pada kisaki tanah barat yang menundukkan kepala ke bawah.


"Rin-chan, ada apa?" tanya Kagome bingung. Dia segera mengangkat tangan kanannya ingin menyentuh Rin, hanya saja suara wanita manusia itu tiba-tiba menghentikannya.


"Keluar."


"Eh??"


Seru semua orang tertegun. Mata mereka yang terarah pada Rin kemudian berubah menjadi ketakutan saat wanita manusia itu mengangkat wajahnya ke atas.


Wajah cantik yang pucat sekarang semakin pucat hingga seakan tidak ada darah yang mengalir. Kedua mata coklat jernihnya penuh dengan ketakutan, sedangkan badannya bergemetaran hebat.


"Keluar!!!"


Teriak Rin keras, dan bersamaan dengan teriakannya, meido seki di dadanya bersinar terang. Pintu shoji kamar yang tertutup rapat tiba-tiba terbuka, angin kuat bertiup kencang dan menghembus Inuyasha serta yang lainnya keluar.


Apa yang terjadi sangat cepat. Kecuali Inuyasha yang memiliki reflek paling bagus, dia segera melompat dan berlari maju menerjang angin kuat yang berhembus ke arah Rin, begitu juga dengan Kiri yang sedari awal berada di luar pintu.


Kiri yang tidak tahu apa yang terjadi tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Apa yang terjadi? Kenapa Rin tiba-tiba menggunakan kekuatan meido seki? Lalu, muka pucatnya—inuyoukai pengawal pribadi kisaki tanah barat hanya tahu dia harus menghentikan tuannya. Konsekuensi bagi badan lemah itu saat menggunakan kekuatan berbahaya itu—dia tidak berani membayangkannya.


Namun, saat tiba di depan pintu kamar yang terbuka, baik Inuyasha maupun Kiri tertahan dengan sebuah kekai kasat mata yang tidak tahu sejak kapan ada.


"Rin!!"


"Rin-sama!!"


Teriak Inuyasha dan Kiri yang keras penuh kebingungan bercampur takut. Mata emas mereka menatap lekat Rin, sedangkan tangan yang terkepal memukul-mukul kekai tersebut, berusaha menghancurkannya.


"Rin!!"


"Rin-chan!!"


Suara Kagome dan yang lainnya yang sambung menyambung juga ikut terdengar kuat memanggil nama Rin yang ketakutan. Namun, wanita tersebut tidak mempedulikannya, hingga suara tanggis bayi ditangkap telinganya—Shura.


Mata Rin jatuh pada sosok kecil Shura yang berada dalam pelukan Kaeda. Inuyoukai kecil itu menangis keras dengan kedua mata emas yang terbuka lebar terarah padanya. Kedua tangan kecilnya terangkat dan bergerak-gerak terus—ingin kembali pada pelukan ibunya.


Shura.


Shura yang selalu tenang, putranya yang tidak pernah menangis bahkan pada hari dia dilahirkan sedang menangis sekarang—menangis karena tidak ingin berpisah dengan dirinya.


Perlahan, seulas senyum kecil memenuhi wajah cantik Rin yang pucat. Ketakutan di wajahnya menghilang digantikan kelembutan dan cinta kasih untuk putranya. "Jangan menangis, putraku dari barat. Ibunda tidak apa-apa..."


Ucapan Rin terucap pelan dan lirih. Seiring dengan pintu shoji yang perlahan tertutup dengan sendirinya, mata coklatnya tidak pernah lepas dari sosok putranya yang begitu berharga baginya.


"Tunggulah, Ibunda..."


Pintu shoji tertutup rapat, begitu juga dengan jendela. Kekai yang ada mengelilingi seluruh kamar seakan ingin menutup dan memisahkan wanita manusia di dalamnya dengan dunia luar.


"Rin!!"


"Rin-sama!!!"


"Rin-chan!!!"


....xOxOx....


Sesshoumaru, ada apa?" tanya Inukimi pelan. Mata emasnya menatap binggung Sesshoumaru yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, begitu juga dengan Kenji.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Inukimi, dan dia juga tidak mempedulikan tatapan bingung ibu kandung serta Kenji yamg terarah padanya.


Sesshoumaru merasa jantungnya berdetak cepat tidak karuan. Perasaan asing yang tidak menyenangkan memenuhi hatinya, begitu juga dengan—takut yang luar biasa.


Sesshoumaru-sama.


Senyum dan tawa Rin yang begitu indah bagaikan musim semi melintas dalam pikiran Sesshoumaru. Senyum yang sangat dicintainya—senyum yang terukir abadi dalam hatinya.


Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama.

__ADS_1


Detik itu juga, Sesshoumaru berlari. Berlari secepat yang dia bisa menuju kamar di mana Rin dan Shura berada. Jantung yang berdetak tidak karuan, perasaan takut yang tidak tertahankan—Sesshomaru saat itu tidak pernah menyangka, itulah awal dari akhir yang paling ditakutinya.


....xOxOx....


__ADS_2