Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 90


__ADS_3

Burung-burung berkicau di atas dahan pohon sakura dan angin bertiup lembut menerbangkan kelopak bunga sakura yang gugur ke bawah. Cahaya mentari pagi yang hangat menerangkan kamar tidur penguasa tanah barat yang terletak di paviliun istana tanah barat.


Dalam kamar, di atas futon besar, seorang inuyoukai tertidur sambil memeluk wanita manusia dengan erat. Selimut putih menutupi badan mereka yang polos tanpa sehelai benangpun.


Perlahan, mata inuyoukai yang tertutup terbuka, dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah dari wanita dalam pelukannya.


Dalam cahaya pagi, dengan berbantal tangan kirinya sebagai bantal, wanita itu tertidur tenang. Rambut hitam panjang tanpa bintang wanita itu terurai dengan indah di atas futon,  kulit putih seperti salju, bulu mata yang lentik dan panjang, hidung mancung, pipi dan bibir yang mekar bagaikan kelopak bunga–betapa pemandangan di depan itu merebut perhatian inuyoukai tersebut.


Seketika mata emas itu melembut, dan seulas senyum kecil memenuhi wajah tampan sang inuyoukai.


Untuk semua yang semalam terjadi di antara mereka. Dalam setiap pelukan dan ciuman yang ada, dalam setiap ******* dan air mata sang gadis, dalam setiap hasrat dan keinginan dirinya, dalam setiap sentuhan dan penyatuan mereka; gadis itu berubah menjadi seorang wanita di depan matanya.


Wanita miliknya–istrinya.


Inuyoukai itu, Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat sama sekali tidak bergerak, dia tetap berbaring dan mengamati wanita manusia itu dalam diam. Perlahan, tangan kanannya kemudian bergerak ke atas dan membelai lembut pipi istrinya.


Sesshoumaru sangat jarang tidur. Tidak seperti manusia ataupun youkai lemah, dia sesungguhnya tidak begitu membutuhkan yang namanya tidur. Jika penguasa tanah barat mau, dia bisa saja melewati beberapa dekade tanpa tidur, dan kalaupun tidur, dia hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Tidur adalah sesuatu yang tidak dibutuhkannya.


Namun, semalam, dia tertidur hingga pagi datang, dan itu semua adalah karena wanita manusia yang ada dalam pelukannya. Hangatnya tubuh dan harumnya musim semi, detakan jantung dan tarikan napas yang damai–semua itu bagaikan lagu pengantar tidur baginya–membuat dia tertidur.


Perlahan, mata Sesshoumaru jatuh pada tanda bulan sabit di leher sang wanita. Menurunkan tangan yang ada di pipi, dia menyentuh tanda itu. Sepertinya, dia tidak akan bosan melihat tanda itu di leher putih tersebut.


Tidak akan ada yang dapat merebut wanita ini darinya lagi dalam dunia youkai, tidak untuk Akihiko dan juga yang lainnya. Hubungan antara mereka berdua yang terjalin, untuk benang merah yang terikat–Sesshoumaru tahu, dia tidak akan pernah membiarkannya terputus.


"Sesshoumaru-sama..."


Suara pelan yang selalu indah bagaikan dentingan lonceng ditangkap telinga. Mengangkat pandangannya, Sesshoumaru menemukan sepasang mata coklat yang terbuka berbinar dengan begitu cemerlang dalam terangnya pagi, serta, seulas senyum musim semi abadi yang dicintainya.


"Rin.." panggil Sesshoumaru pelan. Tangannya kembali terangkat membelai pipi sang wanita.


Menutup mata dengan pelan, Rin mengangkat tangan kirinya menyentuh tangan Sesshoumaru. Senyum tidak kunjung menghilang dari wajahnya.


Cantiknya wanita yang tersenyum, menghangatkan seluruh relung hati Sesshoumaru. Tidur pada malam hari, bangun pada pagi hari. Jika wanita ini selalu ada menemaninya pada malam hari dan tersenyum seperti ini untuknya pada pagi hari–dia mau tertidur setiap hari.


"Kau tidak apa-apa, Rin?" tanya Sesshoumaru pelan. Mata emas itu tetap menatap lurus istrinya, penuh dengan kelembutan, namun juga kekhawatiran. Berkali-kali dia memeluk wanita itu semalam, bagaiman jika badan manusia itu tidak terluka?


Rin membuka mata kembali mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Seketika, kedua pipinya bersemu merah. Dia tahu jelas apa maksud pertanyaan inuyoukai itu. Menurunkan pandangannya bermaksud menghindar pertanyaan yang ada, wanita manusia itu menemukan badan mereka yang tidak mengenakan pakaian apapun hanya tertutup selimut.


Wajah merah Rin menjadi semakin merah. Apa yang terjadi semalam, dia ingat jelas semuanya. Sesshoumaru telah memeluknya semalam, dalam hubungan mereka yang telah berubah sepenuhnya–sebagai seorang suami pada seorang istri.


Tingkah Rin membuat Sesshoumaru kembali tersenyum. Menggerakkan tangan yang di pipi Rin, dia mengangkat wajah wanita itu hingga mata mereka bertemu.


"Kau tidak apa-apa, Rin?" tanya inuyoukai itu sekali lagi, suaranya tetap saja pelan, namun, tetap ada kekhawatiran yang terselip.


Mengigit bibir bawah, dengan wajah merah dan mata coklat yang berair karena menahan malu, Rin kemudian menggeleng kepala. "R-rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama.."


"Baguslah," tawa Sesshoumaru pelan. Menatap semakin lembut, dia kemudian bergerak dan mengecup pelan kening istrinya. "Kau tidak perlu malu akan semua yang terjadi, Rin."


Ucapan Sesshoumaru membuat Rin tertegun, namun sejenak, dia tersenyum. Meski wajahnya masih memerah, wanita itu kemudian mengangguk kepala. "R-rin mengerti.."


Tertawa sekali lagi, Sesshoumaru kemudian menarik badan wanita itu ke dalam pelukannya yang erat. Kulit dan kulit yang bersentuhan di balik selimut, membuat mereka berdua merasakan kehangatan dan juga kenyamanan.


Menutup mata, Rin kemudian menempelkan kepalanya pada dada Sesshoumaru. Telinganya bisa mendengar jelas, irama detak jantung inuyoukai itu yang stabil dan damai. Lalu, semakin dia mendengarnya, diapun sadar, kemiripan detak jantung mereka–seulas senyum merekah kembali di wajah cantiknya.


Sesshoumaru juga bisa mendengar detak jantung Rin yang stabil dan damai sepertinya. Senyum kembali memenuhi wajahnya, tandanya telah berkerja dengan sempurna pada wanita yang menjadi istrinya.


Tanda dalam dunia youkai adalah bukti ikatan yang tidak terputuskan. Tanda adalah bukti pernikahan dalam dunia youkai yang tidak terbantah oleh siapapun.


Kenapa?


Karena tanda akan membuat mereka menjadi satu dalam setiap detak jantung. Di setiap denyutan yang ada, di setiap irama yang ada–dua yang satu.


Mereka akan selalu merasakan satu sama lain. Jika salah satu dalam bahaya, yang lainnya akan mengetahuinya. Jantung mereka yang akan berdetak tidak sama akan memberitahu. Lalu, jika salah satu mati, selamanya dia yang hidup tidak akan menemukan detak jantung yang sama lagi.


Tanda adalah sesuatu yang sakral dalam dunia youkai karena tanda membuktikan kesetiaan. Di dunia ini, tidak banyak youkai yang berani memberikan tanda pada siapapun. Tidak banyak yang berani melakukan itu, apalagi kepada seorang manusia yang hidupnya begitu pendek.


Tapi, Sesshoumaru berani memberikannya. Konsekuensi yang ada di kedepannya, penguasa tanah barat itu bersedia menanggungnya demi kebahagiaan Rin dan dirinya dalam sisa hidup sang wanita.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin kemudian dengan pelan. Dengan mata yang masih tertutup dan kepala di dada inuyoukai itu, tertawa. "Rin sedang bermimpi."


"Kau tidak bermimpi, Rin." Balas Sesshoumaru pelan. Tangan kiri yang memeluk pinggang Rin semakin erat, sedangkan tangan kanannya bergerak membelai lembut rambut hitam panjang sang istri.


Menggeleng kepala, Rin kemudian melepaskan diri dari pelukan Sesshoumaru. Duduk di samping inuyoukai itu, dia kemudian membuka mata. Seulas senyum merekah di wajah cantiknya. "Menjadi istri Sesshoumaru-sama, mimpi Rin telah menjadi kenyataan Rin–sekarang Rin hidup dalam mimpi."


Wanita yang duduk di hadapanya dan menatap dirinya lembut. Tanpa tertutup sehelai benangpun dalam limpahan cahaya matahari pagi, dengan rambut hitam yang tergerai  ke bawah, bola mata coklat yang begitu cemerlang penuh dengan cinta yang tiada akhir, serta seulas senyum seindah dan sehangat musim semi–Sesshoumaru tertegun; terpesona.


"Karena itu, bersediakah Sesshoumaru-sama menemani Rin merajut mimpi ini?"


Suara yang lembut dengan pertanyaan yang aneh. Tapi, begitu hangat hati terasa, betapa semuanya benar sebagaimana mestinya. Ikut bangkit, Sesshoumaru menggunakan tangan kanannya menangkap kembali pipi sang wanita. Mendekatkan wajah mereka hingga dahi dan dahi bertemu, inuyoukai itu menjawab pelan. "Sesshoumaru ini akan menemani Rin merajut mimpi.."


Rin kembali menutup mata dan tertawa. Meniadakan jarak di wajah mereka, Sesshoumaru kembali bergerak maju dan menangkap bibir semerah kelopak mawar dalam sebuah ciuman.


Merajut mimpi.


Di dunia yang luas dan ruang waktu yang tidak bisa dikendalikan, dengan tangan yang tertaut tidak terlepaskan, untuk setiap detakan jantung yang satu, dalam perasaan mereka yang sama–mereka berdua tahu, mereka akan terus merajut mimpi indah yang tidak akan pernah berakhir ini.


....xOxOx....

__ADS_1


Dalam bangunan utama istana tanah barat, para youkai serta hanyou dalam wilayah barat berlutut menatap penguasa tanah barat serta kisakinya.


Dengan kimono putih berlambang barat lengkap dengan baju jirah dan pedang tensaiga serta bakusaiga di pinggang, Sesshoumaru berdiri tegap dengan wajah tanpa ekspresi.


Di sampingnya, Rin, kisaki tanah barat yang juga mengenakan kimono putih berlambang barat berdiri anggun. Rambut hitam panjangnya tersanggul naik ke atas dengan kanzashi dari rubi merah, kerah kimononya yang sedikit terbuka memperlihat jelas tanda bulan sabit di leher. Lalu, di atas dadanya, meido seki lambang sang kisaki tanah barat  berkilau indah.


Wanita yang berdiri di depan itu memang merupakan seorang manusia. Tapi, tidak ada seorangpun yang akan ragu dengan statusnya sebagai kisaki tanah barat saat melihatnya.


Dengan wajah cantik dan senyum menawan, berdiri di samping sang penguasa tanah barat, dia begitu memikat dan membuat jantung semua yang ada berdetak kagum.


Tanpa aba-aba, serentak tanpa perintah, semua youkai dan hanyou barat yang berlutut mengangkat tangan dan memberikan hormat kepada sepasang penguasa tanah barat yang jaya.


"Untuk barat yang jaya dan abadi, kami memberi hormat pada Penguasa dan Kisaki."


Di sudut ruangan tidak jauh dari Sesshoumaru dan Rin, Inuyasha, Kagome, Miroku dan yang lainnya berdiri menatap lekat pemandangan di depan tanpa suara.


Melihat para youkai dan hanyou di tanah barat yang berlutut memberi hormat seperti ini–untuk pertama kali, Inuyasha merasa bahwa kakak seayahnya itu memanglah seorang penguasa yang sangat di hormati di dunia youkai.


Hari ini adalah hari pertama Rin berdiri di depan semua yang ada sebagai kisaki tanah barat, dan hari ini jugalah, dia akan menerima sumpah darah dari youkai dan hanyou di bawah kekuasaan tanah barat.


Rin sesungguhnya, meski telah menjadi kisaki tanah barat, tidak pernah mengingikan para youkai dan hanyou di daerah kekuasaan tanah barat memberikan sumpah darah padanya. Sebab, dia tahu akan jati dirinya yang merupakan seorang manusia lemah.


Akan tetapi, Sesshoumaru tidak setuju. Inuyoukai itu mengingikan semua yang ada di bawahnya tunduk pada wanita itu. Dia tidak menerima penolakan ataupun protes dari siapapun. Hingga akhirnya, setelah melewati pembahasan yang lama antara sepasang suami istri tanah barat tersebut, diputuskan mereka akan memberikan kebebasan penuh pada para youkai dan hanyou untuk memilih, bersedia bersumpah atau tidak.


Sesshoumaru menatap tanpa ekspresi para bawahannya yang berlutut saat waktu memberikan sumpah tiba. Ada kepuasan dalam hatinya saat dia melihat, tidak ada seorangpun youkai maupun hanyou yang ada berdiri dan meninggalkan tempat.


Mata emasnya melihat jelas, para youkai dan hanyou mengigit jari telujuk kanan mereka hingga berdarah. Menyatukan kepalan tangan kanan pada telapak tangan kiri yang terbuka, mereka menundukkan kepala ke bawah.


Darah dari jari telunjuk mereka mengalir dan menetes ke bawah lantai. Bersamaan mereka mengucapkan sunpah kepada kisaki tanah barat. "Kami dan seluruh klan kami dari tanah barat, di hadapan Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat, mengakui Rin, kisaki tanah barat sebagai tuan. Kami bersumpah, taring kami adalah untuk melindungi anda, hidup kami adalah untuk menwujudkan keinginan anda."


Sumpah diberikan tanpa paksaan. Dalam ratusan klan di tanah barat, seorang wanita manusia biasa tanpa kekuatan spritual menjadi tuan. Posisi Rin sebagai kisaki di tanah barat mulai sekarang sampai selamanya tidak akan pernah tergoyangkan.


"Meski sudah melihatnya, aku tetap saja takjud," ujar Miroku yang ada di samping Inuyasha. Matanya menatap lekat sumpah darah para youkai dan hanyou di depan. "Rin-chan benar-benar telah menjadi seorang Kisaki dari tanah barat."


"Iya," setuju Sango sambil tersenyum. Matanya menerawang mengingat sosok Rin kecil dan membandingkannya dengan kisaki anggun di depan mata. "Gadis kecil yang dulu selalu mengikuti Sesshoumaru-san, kini telah dewasa."


Kagome yang menggendong Shiro tertawa mendengar ucapan Sango, tapi dia setuju, gadis kecil itu memang telah dewasa–dia telah menjadi kisaki yang dihormati dan dicintai oleh semua yang ada. "Waktu berlalu dengan cepat."


Menatap lagi Sesshoumaru dan Rin, Kagome kembali tersenyum. Melihat wanita manusia itu menerima sumpah dan meminta para youkai dan hanyou berdiri, dia kembali berpikir, betapa indah kisah di antara mereka berdua. Lebih indah dari cerita cinderella ataupun sleeping beauty yang pernah di dengarnya. Kisah daiyoukai dan gadis manusia yang dihidupkannya–dia akan menceritakan kisah ini pada cucu-cucunya kelak.


"Sepertinya, aku benar-benar terlambat." Suara berat seorang laki-laki tiba-tiba terdengar memenuhi ruang utama istana tanah barat.


Bersamaan, semua yang ada menoleh kepala menatap sumber suara. Dari luar pintu utama yang terbuka lebar, mata mereka bisa melihat serombongan youkai berjalan masuk dengan pelan.


Rombongan itu berjumlah sepuluh youkai yang berdiri menjadi dua barisan, lengkap dengan pakaian jirah berwarna putih. Baik laki-laki maupun perempuan, wajah menawan mereka datar tanpa ekspresi.


"Shui-sama?" panggil Rin terkejut melihat youkai yang tiba-tiba muncul tersebut.


Para youkai dan hanyou tanah barat yang ada di hadapan Sesshoumaru dan Rin membuka jalan bagi youkai berambut biru itu begitu melihatnya. Namun, mata mereka semua menatap penuh kewaspadaan dan juga kebingungan akan sosok tersebut.


Shui tersenyum semakin lebar menatap Rin. Berjalan melewati para youkai dan hanyou barat, dia kemudian berhenti saat berada tidak jauh dari Sesshoumaru dan Rin.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa saat melihat kehadiran Shui. Wajahnya tenang tanpa ekspresi, tapi, mata emasnya jelas mengikuti setiap gerak-gerik youkai berambut biru tersebut.


"Anda datang, Shui-sama?–terima kasih, Rin senang sekali." Tawa Rin lepas. Kedua mata coklatnya berbinar menatap youkai di depannya itu.


Pandangan mata putih Shui terarah pada Rin. Melihat sosok gadis manusia yang kini telah menjadi seorang wanita, serta tanda bulan sabit di leher dan meido seki, youkai berambut biru itu tertawa pelan. "Kau benar-benar tumbuh menjadi sangat cantik, Rin."


"Terima kasih atas pujian anda, Shui-sama." Senyum Rin lagi.


Mata Shui menatap lembut senyum Rin. Dua tahun berlalu, tapi wanita manusia ini tidak berubah sama sekali, tetap hangat dan menawan. Dia terus mekar dan mekar–seindah bunga sakura pada musim semi.


Pandangan mata Shui kemudian teralih pada Sesshoumaru yang berdiri diam menatapnya. Senyum di wajahnya semakin melebar, mata putihnya berbinar dengan emosi tidak terbaca. "Kau semakin mirip dengan kakak, Sesshoumaru."


Sesshoumaru tetap tidak menjawab, dia masih diam membisu.


"–rupamu dan juga sikapmu."


Ucapan Shui terucap dengan penuh senyum, tapi dengan segera membuat mata Sesshoumaru menajam. Apa maksud ucapan youkai di depannya, penguasa tanah barat tidak tahu, tapi dia bisa merasakan makna tersembunyi yang ada.


Kakak? Siapa kakak yang dimaksud Shui, mungkin tidak banyak yang tahu, tapi Sesshoumaru jelas tahu.


"Aku tidak pernah merasa putra kandungku mirip dengan kakak bodohmu." Suara tawa Inukimi tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan.


Tidak tahu dari mana, mantan penguasa tanah barat itu tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Sesshoumaru. "Kakak bodohmu akan menyambutmu penuh senyum, tidak seperti Sesshoumaru yang tanpa ekspresi, putih."


Shui tertawa mendengar ucapan Inukimi. Dia menatap inuyoukai itu dan kembali tersenyum. "Kau benar, Inukimi-san."


"Siapa itu?" ujar Inuyasha yang dari tadi melihat pembicaraan antara Sesshoumaru, Rin, Shui dan Inukimi bingung.


Inuyasha tidak tahu siapa youkai berambut biru itu, tetapi dari aura yang terasa, instingnya mengatakan bahwa dia adalah youkai yang berbahaya. Lalu, dari cara semua youkai dan hanyou barat menatapnya serta sikap Sesshoumaru dan Inukimi–youkai itu sepertinya mempunyai status yang tidak biasa.


"Youkai itu adalah Shui, sang putih dari netral." Jawab suara Kenji tiba-tiba dari samping Inuyasha yang dengan segera membuat inuhanyou itu meloncat terkejut.


"Berengsek!! Jangan muncul tiba-tiba disampingku!!" teriak Inuyasha kesal sambil menatap tajam youkai monyet tersebut.


"Shui? Sang putih?" seru Kohaku terkejut. Kedua matanya terbelalak tidak percaya. "Sang terhormat dari tanah netral?"

__ADS_1


Kagome, Miroku, Sango, Shippo dan juga Kaeda yang ada disana juga menatap tidak percaya sosok youkai di depan tersebut.


Kenji mengangguk kepala sambil membelai jenggot panjangnya. "Aku tidak menyangka dia akan datang."


"Sang putih? Tanah netral? Apaan itu?" tanya Inuyasha lagi kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu mengapa semua yang ada menatap terkejut sosok asing tersebut.


"Tanah netral adalah tanah tanpa pemilik, Inuyasha. Mereka tidak memiliki penguasa seperti barat, timur, utara maupun selatan. Akan tetapi, semua klan netral menjunjung dan mematuhi seorang youkai. Youkai itu adalah Shui, sang putih. Bahasa sederhanannya, dia adalah pemiminpin youkai netral."


Kenji menjelaskan pertanyaan Inuyasha tanpa menatap inuhanyou itu, kedua mata masih terpusat pada Shui yang berbicara dengan Inukimi.


"lalu, Shui adalah–adik angkat Taisho, ayahmu, Inuyasha."


"Eh??"


"Apa??"


Semua yang ada kembali menatap Kenji tidak percaya mendengar penjelasan youkai monyet itu?–adik angkat ayah kandung Sesshoumaru dan Inuyasha?


"Tapi, berwaspadalah padanya. Shui itu–berbahaya."


Peringatan Kenji dengan seketika membuat Inuyasha dan yang lainnya kebingungan. Namun, belum mereka sadar dari rasa terkejut yang ada, Shui yang ada di depan tiba-tiba membalikkan badan menatap inuhanyou itu dan yang lainnya.


"Kau Inuyasha, bukan?" tanya Shui sambil tertawa ramah. "Kemarilah, biarkan aku melihatmu bersama keluargamu."


Inuyasha dan Kagome menatap kembali Shui begitu mendengar ucapan pemimpin youkai netral tersebut. Namun, mereka tidak bergerak. Peringatan Kenji barusan masih tergiang jelas dalam pikiran, dan meski tersenyum ramah, mereka tetap merasa ada yang aneh dari sosok di depan mata.


"Cih," cibir Inuyasha kesal dan melipat tangan. "Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?"


Ucapan dan sikap Inuyasha membuat Shui tertegun, tapi kemudian, dia tertawa. Melangkah pelan, pemimpin youkai netral tersebut mendekati inuhanyou itu dan keluarganya.


Inuyasha, Kagome dan yang lainnya langsung berwaspada saat Shui tiba di depan mereka. Mata mereka menatap lekat setiap gerak gerik youkai tersebut.


Shui mengamati lekat wajah Inuyasha yang penuh kewaspadaan. Senyum di wajahnya semakin melebar. "Kau tidak mirip sama sekali dengan Kakak, Inuyasha. Kau juga tidak mirip dengan ibumu–kau mirip dengan siapa, ya?"


Ucapan Shui sekali lagi membuat kekesalan memenuhi hati Inuyasha. "Apa maksudmu??"


Tapi, Shui tidak peduli, dia menoleh wajah menatap Kagome dan kemudian jatuh pada Shiro yang ada dalam pelukan miko masa depan tersebut.


"Anakmu juga tidak mirip dengan Kakak." ujar Shui sambil menghela napas. "Sayang sekali, padahal aku sangat berharap cucu kakak akan mirip dengan kakak yang telah tiada."


Tidak menpedulikan Inuyasha yang masih menatapnya kesal, Shui kemudian melangkah kaki kembali ke tempat Sesshoumaru, Rin dan Inukimi.


"Aku tidak akan menganggu lagi," Senyum Shui kemudian. Mata putihnya berkilat menatap sosok Sesshoumaru yang terlihat jelas tidak menyukai kehadirannya yang tiba-tiba. "Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat pada Rin."


"Eh?" seru Rin yang dari tadi diam membisu.


"Selamat Rin," tawa Shui pelan. Matanya bersinar lembut menatap kisaki tanah barat yang menatapnya lurus. "Maaf karena aku tidak dapat hadir pada pesta pernikahanmu. Tapi, aku benar mengucapkan selamat padamu yang telah menikah dan menjadi kisaki tanah barat."


Ucapan dan pandangan lembut Shui membuat Rin tersenyum. "Terima kasih, Shui-sama. Rin sangat senang."


Senyum Rin membuat Shui kembali tersenyum. Tidak mempedulikan siapapun yang ada dalam ruang utam istana tanah barat, perlahan, dia melangkah mendekati kisaki tanah barat. Mengangkat tangan kanannya, dia bermaksud menyentuh pipi yang merona seindah kelopak mawar.


Namun, Sesshoumaru yang ada di samping Rin tiba-tiba menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Kedua mata emasnya yang berbaur sedikit dengan warna merah menatap penuh keinginan membunuh pada Shui.


"Jaga sikapmu, Shui." Suara Sesshoumaru datar tanpa intonasi. Tapi, semua bisa mendengar jelas ancaman dan peringatan di dalamnya. Ruang utama istana tamah barat yang awalnya hangat dengan segera menjadi berat penuh tekanan.


Shui tertegun dengan sikap Sesshoumaru. Menurunkan tangannya, dia kemudian tertawa keras. Tidak ada yang lucu, tetapi pemimpin youkai netral tersebut tertawa seakan melihat sesuatu yang sangat lucu.


Rin yang kebingungan dengan sikap Sesshoumaru dan Shui mengernyitkan dahinya. Menatap sosok paman dan keponakan tersebut, dia merasa ada yang salah.


"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ujar Shui kemudian saat dia telah berhenti tertawa. Senyum ramah kembali muncul di wajahnya. "Aku akan pulang ke rumahku sekarang, Sesshoumaru. Tidak perlu mengantarku."


Membungkukkan badan hingga pandangan matanya segaris dengan Rin yang berada dalam pelukan Sesshoumaru, senyum Shui semakin lebar. "Aku senang kau bahagia, Rin. Karena itu, sempurnakanlah kebahagiaanmu secepat mungkin–lahirkanlah seorang putra yang seperti kakak untuk tanah barat."


"Eh?" seru Rin terkejut, namun sedetik kemudian, semu merah di wajahnya semakin kentara.


Meluruskan badannya, Shui kembali menatap Sesshoumaru. Seketika senyum lebar di wajah cantiknya semakin melebar tidak wajar, kedua bola mata putih berbinar penuh emosi tidak terjelaskan penuh kegilaan. "Jadilah semirip kakak, Sesshoumaru. Kebahagiaan sempurna kisakimu–lindungi dia semampumu."


Mata emas Sesshoumaru berubah menjadi merah darah begitu mendengar ucapan Shui. Kedua bibirnya terangkat memperlihatkan seringai kemarahan.


Namun, Shui tidak peduli, dia kembali tertawa keras dan membalikkan badan. Berjalan pelan, tidak menpedulikan siapapun yang menatapnya, dia dan rombongannya berjalan keluar dari ruang utama istana tanah barat.


Rin yang berada dalam pelukan Sesshoumaru bisa melihat jelas perubahan suasana hati penguasa tanah barat. Menyentuh pelan pipi suaminya, dia bertanya pelan. "Ada apa, Sesshoumaru-sama?"


Sentuhan hangat menyadarkan Sesshoumaru dari kemarahannya. Seketika, mata merah darahnya berubah kembali menjadi emas. Menatap wanita dalam pelukannya, dia menjawab pelan pertanyaan yang ada. "Tidak apa-apa."


Rin mengangguk kepala pelan mendengar jawaban Sesshoumaru. Meski hatinya masih penuh pertanyaan dan merasa ada yang salah, dia tidak bertanya lebih. Jika inuyoukai itu tidak mau menjelaskan,  dia tidak akan memaksa.


Tersenyum kembali, Rin kemudian tertawa. "Baguslah."


Sesshoumaru menatap senyum dan tawa Rin yang masih berada dalam pelukannya. Menutup mata, dia kemudian menpererat pelukan yang ada hingga wajah kisaki tanah barat tersembunyi di dadanya.


Ucapan Shui–kebahagiaan Rin. Sesshoumaru bisa menangkap maksud buruk dari sang terhormat dari wilayah netral tersebut.


Membuka mata lagi, mata emasnya kembali menjadi merah darah. Menatap keluar pintu yang terbuka, menatap sosok punggung Shui yang menghilang, seringai kemarahan kembali muncul di wajah tampan penguasa tanah barat.


Sesshoumaru tidak peduli. Meskipun Shui adalah adik angkat dari ayahnya, meski youkai berambut biru itu adalah pemimpin wilayah netral–dia akan membunuh dan menghancurkan siapapun yang berani mengganggu kebahagiaan Rin.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2