![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Berdiri dalam kegelapan yang tidak berujung, Rin membuka mata coklatnya yang tertutup dengan pelan. Di tempat yang tidak asing baginya, dia berdiri sendirian dalam diam dengan wajah tanpa ekspresi.
"Rinku tercinta.."
Suara aneh yang memanggil namanya terdengar dari belakang. Seketika, wajah tanpa ekspresinya berubah, seulas senyum memenuhi wajah cantik Rin. Membalikkan badannya, dia menatap sumber suara yang dia tahu adalah siapa. "Meido seki-sama!!"
Di hadapan Rin sekarang, Meido seki yang berwujud sebuah bola cahaya bersinar hangat dan terang, mengusir kegelapan yang ada. "Rinku tercinta..." panggilnya pelan. "Apakah ini sepadan?"
Pertanyaan Meido seki membuat Rin tertegun. Senyum di wajahnya menghilang, tapi sejenak kemudian dia kembali tersenyum dengan lebar. "Tentu saja."
Jawaban Rin membuat Meido seki terdiam. Tidak mengatakan apa-apa lagi, bola cahaya itu hanya bersinar dalam kegelapan dengan cahayanya yang terang dan hangat.
"Rin menang Meido seki-sama," lanjut Rin lagi. Senyum di wajahnya semakin melebar, kedua mata coklat jernihnya berbinar gembira. "Rin masih hidup."
"Rinku tercinta..."
"Rin akan selalu bersama Sesshoumaru-sama dan Shura," senyum Rin berubah menjadi tawa indah penuh kebahagiaan. "Tidak akan terpisah-selamanya bersama."
"Sang kematian akan datang untukmu lagi, Rinku tercinta," sela Meido seki pelan dan membuat Rin terdiam. Suaranya yang aneh tidak berubah. "Kematian tidak akan pernah melepaskanmu.."
Tapi, sedetik kemudian, seulas senyum kembali memenuhi wajah Rin. Mengangguk kepala pelan, dia tertawa tanpa rasa takut. "Rin tahu. Tapi, tidak peduli berapa kali kematian datang, Rin akan tetap menang."
Meido seki kembali terdiam. Menghela napas dengan pelan, dia terbang hingga berada tepat di depan Rin. "Rinku sayang, aku ingin memberitahumu..," suaranya terdengar sangat sedih. "—kau tidak akan dapat berenkarnasi lagi. Jiwa yang menolak kematian, tidak akan pernah dapat memasuki lingkaran reinkarnasi..."
Rin terdiam tidak membalas ucapan Meido seki. Tertegun, walau sejenak kemudian dia kembali tersenyum lagi. "Tidak apa-apa."
"Aku sudah memberitahumu sejak dulu. Tidak hanya ragamu, tapi jiwamu juga akan sangat menderita," lanjut Meido seki dengan suara anehnya yang tidak berubah. "Jiwamu akan terkikis dan hancur perlahan, hingga akhirnya—menghilang sepenuhnya."
Senyum di wajah Rin tetap tidak berubah. Dia hanya berdiri diam membisu menatap Meido seki dengan tenang seakan yang didengarnya tidak ada artinya sama sekali—seakan yang akan menerima konsekuensi itu bukanlah dirinya.
"Segala konsekuensi yang kau hadapi ini, apakah sepadan?"
Rin menutup mata mendengar pertanyaan Meido seki. Konsekuensi yang ada jika melawan kematian. Jiwa yang seharusnya tidak ada tapi tetap memaksa tinggal di dunia kehidupan—hukum kematian dan kehidupan yang diabaikannya. Segala konsekuensinya—in tahu.
Tapi...
'Rin.'
Wajah Sesshoumaru yang tersenyum melintas di pikirannya. Mata emas yang lembut, kebahagiaan yang terpancar di wajah inuyoukai yang begitu berarti baginya.
'Aaaa..Aaa..'
Wajah tertawa Shura yang begitu lucu. Kedua tangan kecil yang terarah padanya meminta pelukan. Putranya yang begitu dicintai dan tidak ternilai.
Sebagai seorang wanita dan juga sebagai ibu, untuk senyum dan tawa itu—bagaimana dia tega menghancurkannya? Cintanya untuk Sesshoumaru dan Shura, apakah ada yang mengerti? Pentingnya mereka, betapa berharga dan tak ternilai mereka berdua baginya—Rin tidak akan menemukan kata yang dapat menjelaskannya.
Air mata mengalir turun dari matanya yang tertutup. Membuka mata perlahan, masih menahan senyum di wajah, Rin menghapus air mata dan tawa. "Jawaban Rin tidak akan pernah berubah, Meido seki-sama—semua ini sepandan."
"Rinku sayang..."
"Tidak apa-apa jika Rin tidak bisa bereinkarnasi," lanjur Rin. Suaranya pelan, tapi tanpa keraguan sama sekali. "Sebab Rin juga tidak ingin bereinkarnasi lagi.."
Mengangkat kepala ke atas Rin kemudian menutup mata. "Jika Rin bereinkarnasi lagi, Rin akan melupakan Sesshoumaru dan Shura—Rin tidak ingin itu terjadi."
Meido seki masih diam membisu tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk wanita manusia di depannya.
"Melupakan mereka adalah sesuatu yang paling tidak Rin inginkan dalam keberadaan Rin," menurunkan kepalanya, Rin kembali menatap Meido seki dengan senyum lebar di wajah yang tetap ada. "Jadi, sejujurnya kondisi Rin sekarang adalah hal baik."
Meido seki tidak berkata apa-apa lagi. Diam membisu, dia menatap wanita manusia di depannya.
"Rinku sayang...." panggil Meido seki kemudian. Suaranya kembali terdengar pelan dan penuh penyesalan. "Jika saja aku tahu inilah akhirmu—tidak seharusnya aku meniupkan kekuatan di tensaiga-tidak seharusnya aku menghidupkanmu dulu untuk pertama dan kedua kalinya..."
__ADS_1
"Meido seki-sama..." Senyum Rin menghilang di wajahnya mendengar ucapan Meido seki yang diluar dugaan.
"Dengan begitu kau tidak akan menderita seperti ini—kau akan dapat bereinkarnasi dan hidup bahagia di kehidupan barumu.."
Rin hanya dapat tertegun mendengar ucapan Meido seki. Namun, sejenak kemudian, dia melangkah maju dan memeluk bola cahaya tersebut dan menutup mata. Seulas senyum memenuhi wajahnya yang cantik.
"Rin tidak menderita, Meido seki-sama," ujar Rin pelan dengan lembut. "—dan Rin bahagia."
Meido seki tidak bergerak dan mengatakan apa-apa lagi, diam membisu dia membiarkan Rin memeluknya.
Meido seki adalah keberadaan yang sudah sangat kuno. Dia telah ada saat dunia ini ada—keberadaan yang tidak dapat dijelaskan. Dia sudah melihat semuanya, seperti apa dunia kehidupan dan kematian ini. Jiwa-jiwa yang ada, manusia, youkai maupun hanyou, putih dan hitam, benar dan salah—bersih dan kotor.
Keberadaan yang kuno dan hanya satu, membuat dia tidak pernah merasakan perasaan lebih pada mereka. Kadang dia membantu mereka, namun kadang dia juga bisa menghancurkan. Semua itu karena dia ingin mengusir rasa bosan yang ada dalam hidupnya yang panjang.
Inu no taisho, Inukimi, dan-Sesshoumaru. Keluarga utama penguasa tanah barat dunia youkai, mereka adalah youkai-youkai yang cukup menarik perhatiannya. Mereka yang kuat, kejam dan juga—unik. Terutama pada Inu No Taisho dan Sesshoumaru, melihat mereka yang berubah dari tidak berperasaan menjadi berperasaan—dia merasa mereka sungguh; menarik.
Lalu—Meido seki mulai melihat Rin.
Sebuah jiwa yang diselamatkan dua kali, sekaligus jiwa termurni yang pernah dia lihat. Hidup dan mati di dunia yang kotor, dia tetap murni semurninya—jiwa yang sungguh langka; satu-satunya di dunia ini.
Melihatnya yang tumbuh dari kecil hingga dewasa, namun tidak pernah berubah. Selalu tersenyum dan tertawa, hangat dan lembut. Keberaniannya, kepolosannya, cara pandangnya—betapa Rin begitu menarik dibandingkan siapapun yang pernah dilihatnya.
Lalu, cinta Rin untuk Sesshoumaru. Cinta yang begitu polos dan tulus, begitu besar dan dalam—cinta yang sangat murni dan juga indah.
Melihat sebuah cinta polos seorang gadis kecil yang dari hari semakin tumbuh dan tumbuh. Sebuah kuncup bunga kecil yang kemudian mekar sebagai bunga terindah—Meido seki belajar apa itu perasaan.
Kebodohan dan penderitaan, kebingungan dan ketakutan, keputusasaan dan perjuangan, lalu kebahagiaan dan cinta Rin—apa yang dikatakan Inukimi memang tidak salah, dia mencintai Rin. Karena melihatnya, Meido seki bisa merasakan segala perasaan itu; tentang arti sebuah kehidupan yang tidak diketahuinya selama ini.
Hanya saja, seperti semua kehidupan yang ada, bunga yang mekar akan layu, indahnya kisah yang ada tetap akan berakhir. Jiwa yang tetap ada setelah mencurangi kematian, akhirnya mencapai ujung. Meido seki hanya bisa berusaha mencuri waktu untuk kebahagiaan wanita yang sangat berharga baginya tersebut sampai Shura, anaknya yang berharga—lahir.
Tidak akan ada yang pernah berhasil melawan kematian. Saat kematian benar-benar telah datang menjemput, jiwa polos itu tidak akan dapat bertahan menahan segala kesakitan dan penderitaan yang ada, sebab—kematian tidak terkalahkan.
Rin akan mati, dan Meido seki berharap dia akan mati dengan tenang. Tanpa penyesalan, dia akan berenkarnasi dan hidup bahagia sebagaimana mestinya. Tapi, semua diluar dugaan—Rin menang melawan sang kematian.
Bagaimana Meido seki tidak khawatir dan sedih? Bagaimana dia bisa tidak apa-apa dengan konsekuensi yang akan dihadapi jiwa murni yang begitu dicintainya ini? Bahagia—Meido seki ingin Rin bahagia. Tapi, itu sudah tidak mungkin lagi. Semua sudah terlambat, Rin tidak memiliki pilihan lain lagi.
Rin mengeratkan pelukannya pada Meido Seki. Walau diam, walau tidak memiliki wajah, dia tahu jelas, perasaan sedih serta bersalah bola cahaya yang selalu menemaninya di kegelapan tidak berujung ini.
"Terima kasih, Meido seki-sama," ujar Rin pelan sambil tersenyum menatap Meido seki dalam pelukannya. "Seperti tanpa Sesshoumaru-sama, tanpa anda, Rin yang sekarang juga tidak akan pernah ada. Menghidupkan Rin, andalah yang memberikan kesempatan pada Rin untuk bersama Sesshoumaru-sama dan Shura. Untuk segala yang anda lakukan kepada Rin—Rin benar-benar berterima kasih..."
Meido seki tetap diam membiarkan Rin memeluknya. Bola cahaya yang tidak bisa menangis, tapi kini dia merasakan kesedihan dan kesakitan yang sangat dalam. Kesedihan dan kesakitan karena melihat akhir yang dipilih jiwa yang sangat dicintainya.
"Dan jangan khawatir," lanjut Rin pelan. Melepaskan pelukannhnya, dia tersenyum pada Meido seki. "Di hidupkan kembali, bersama Sesshoumaru-sama dan Shura, Rin benar-benar bahagia. Rin tidak akan meminta kebahagiaan lain lagi selain kebahagiaan ini."
"Putriku yang bodoh.." gumam Meido seki pelan. Suaranya bergetar penuh kesedihan. "Kau benar-benar bodoh.."
Senyum Rin berubah menjadi tawa. Tapi kali ini, dia tidak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya tersenyum. Dia tahu, dirinya memang bodoh. Tapi, tidak apa-apa, meski bodoh, dia adalah si bodoh yang bahagia.
Terbang tinggi ke atas, Meido seki kemudian bersinar sangat terang. "Kembalilah Rinku sayang, mereka berdua sedang menunggumu.."
Rin mengangguk kepala pelan. Menatap Meido seki yang bersinar sangat terang di atasnya, dia kemudian menutup mata. "Terima kasih, Meido seki-sama..."
Membuka kedua matanya, Rin merasakan pandangannya yang tidak fokus menjadi fokus. Yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit kamar yang tidak pernah asing baginya.
"Rin."
Suara yang selalu dikenalinya memanggil namanya. Menoleh menatap sumber suara dengan pelan, Rin tersenyum kecil saat melihat Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama..."
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sesshoumaru. Suaranya datar tapi Rin bisa menangkap jelas kekhawatiran yang ada, begitu juga dengan mata emasnya yang biasanya selalu tenang.
Mengangkat tangan kanannya dengan perlahan menyentuh wajah Sesshoumaru, Rin tetap tersenyum. "Rin tidak apa-apa."
__ADS_1
Perlahan, mata Rin kemudian jatuh pada Shura yang ada sampingnya. Dengan mata tertutup, inuyoukai kecil itu tertidur dengan bekas air mata di wajahnya. Tangan kecilnya mengenggam erat rambut hitam sang ibu, seakan takut jika melepaskannya, dia akan kehilangannya.
"Shura..." panggil Rin pelan. Menurunkan tangannya yang ada di pipi Sesshoumaru, dia membelai lembut kepala putranya penuh kasih sayang. "Maaf Rin telah membuatmu menangis.."
Merasakan sentuhan sang ibu, Shura bergerak dalam tidurnya. Mulutmya terbuka dan tertutup, tapi dia tidak bangun. Sang pewaris tanah barat masih tertidur dengan pulas.
Ada perasaan bersalah dalam hati Rin melihat Shura sekarang. Putranya yang tidak pernah menangis selama ini—telah berapa lama dia menangis karena dirinya?
"Kakak," panggil Kagome yang ada di belakang Sesshoumaru pelan. Dia sesungguhnya tidak ingin mengangguk interaksi ibu-anak di depan, tapi, miko masa depan itu ingin memastikab kesehatan Rin. "Boleh aku memeriksa nadi Rin-chan?"
Suara Kagome yang pelan, membuat Rin menyadari keberadaan Kagome yang ada dalam kamar. "Kagome-sama..."
"Periksa Rin." Ujar Sesshoumaru kemudian. Bergerak ke samping, dia membiarkan Kagome bergerak maju untuk memeriksa nadi Rin.
Kagome yang memeriksa Rin, berkonsentrasi penuh. Kondisi Rin adalah sesuatu yang tidak dapat dia jelaskan selama ini. Dia bisa membaik namun juga sekaligus memburuk di satu saat. Badannya kembali melemah hingga menakutkan semua yang ada, dan yang paling sekarang adalah jantungnya—jantung yang berdetak dengan sangat lambat dan tidak wajar.
Rin yang menatap ekspresi wajah Kagome hanya bisa kembali tersenyum. Dia tahu apa arti dari raut muka miko masa depan tersebut. "Rin tidak apa-apa, Kagome-sama.."
Rin yang terus mengatakan dia tidak apa-apa, Kagome sama sekali tidak mempercayainya. Menghela napas, mata miko masa depan itu menatap wajah kisaki tanah barat serius. "Rin-chan, apakah kau tahu bagaimana kondisi badanmu sekarang sesungguhnya?"
Rin tertegun mendengar pertanyaan tiba-tiba Kagome. Namun sejenak kemudian, dia kembali tersenyum dan mengangguk kepala. "Rin tahu, dan benar Kagome-sama, Rin tidak apa-apa..."
"Rin-chan.." Kagome mulai merasa frustasi. Keadaan Rin sekarang benar dalam keadaan yang sangat menghawatirkan, jika ingin dikatakan, bahkan lebih parah dari pada saat dia mengandung Shura. Jantung adalah bagian terpenting dari makhluk hidup, dan jantung manusia Rin yang berdetak lambat adalah hal yang sangat menakutkan.
"Badan ini adalah badan Rin, bagaimana kondisinya, Rin adalah orang yang paling tahu," menghela napas pelan, Rin menutup mata. Saat membuka matanya lagi, senyum di wajahnya semakin melebar. "Jadi, jangan khawatir, Rin tidak apa-apa.."
Kagome benar-benar putus asa dengan ucapan Rin. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan untuk menyadarkan Rin akan kondisi tubuhnya yang tidak wajar.
"Jangan kau melakukan apa yang kau lakukan kemarin lagi, Rin." Suara Sesshoumaru yang dari tadi diam membisu tiba-tiba terdengar.
Menoleh menatap Sesshoumaru, baik Rin maupun Kagome menemukan inuyoukai itu menatap tajam kisakinya yang berbaring lemah di atas futon.
"Jika Sesshoumaru ini memerintahkan, apapun itu—kau harus mendengar dan menurutinya," lanjut Sesshoumaru lagi. Mata emasnya berubah menjadi merah darah, kemarahan yang mati-matian ditahannya karena kondisi Rin kini meluap. "Kau mengerti??"
Kagome yang melihat ekspresi wajah Sesshoumaru sangat terkejut. Ketakutan dengan segera memenuhi hatinya—inudaiyoukai yang ada di sampingnya memancarkan aura yang sangat mengerikan.
Namun, tidak untuk Rin. Tidak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya. Dengan senyum yang tetap di wajah, dia mengangkat tangannya ke arah Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama.."
Sesshoumaru tertegun. Menutup mata, tidak mempedulikan Kagome, dia bergerak mendekati Rin. Mengenggam erat tangan itu, dia menempelkan telapak tangan mungil itu di pipinya. "Jangan kau lakukan itu lagi kepada Sesshoumaru ini.."
Rin tidak bisa berkata, menahan senyum di wajahnya, dia hanya bisa tersenyum dan terus tersenyum. Tapi, di balik senyum itu, dia hanya bisa terus berucap-maaf.
Maaf.
Maaf.
Dan-maaf.
Saat kau sekarat, saat kau tahu untuk mempertahankan hidupmu akan sangat menderita, akankah kau memberitahu mereka? Akankah kau memperlihatkan sosok itu pada orang yang sangat berarti bagimu? Apakah kau bisa melihat dia menderita dan merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa untukmu—Rin tidak akan pernah bisa.
Masa kehamilannya dulu telah mengajari Rin. Ekspresi wajah Sesshoumaru saat keadaannya memburuk, emosinya yang tidak stabil, ketidak berdayaan dan ketakutannya—dia tidak ingin melihatnya lagi.
Inuyoukai yang tenang, dingin dan tidak berekspresi. Elegan dan bermartabat tinggi, kuat dan tidak terkalahkan. Sosok yang akan membuat siapapun yang melihatnya kagum dan juga takut—Rin ingin Sesshoumaru selamanya seperti itu.
"Tidak apa-apa, Rin tidak apa-apa. Tenanglah, Sesshoumaru-sama..."
Tidak apa-apa.
Ucapan Rin, Sesshoumaru hari ini tahu untuk pertama kali, Rin adalah seorang pembohong yang sangat-sangat lihai. Kesakitannya, semua yang dilaluinya hingga kondisinya sekarang-Sesshoumaru tahu. Tanda yang diberikannya telah memberitahu betapa wanita manusia itu menderita dan sekarat, tapi di depannya, dia tetap tersenyum dan terus mengucapkan; tidak apa-apa.
Ketidakberdayaan dan ketakutan, perasaan itu datang lagi. Masa depan bahagia yang dilihat untuk keluarga kecilnya kembali tertutup kabut ketidak pastiaan—Sesshoumaru hanya dapat bertanya kembali, dimana letak segala kesalahan ini?
__ADS_1
....xOxOx....