Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 31


__ADS_3

Ibunda?


Mata Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kaede terbelalak saat mendengar Sesshoumaru memanggil inuyoukai di depannya. Hanya Kohaku seorang saja yang tidak terkejut, sebab dirinya dulu sudah pernah bertemu dengan wanita yang melahirkan inuyoukai pewaris tanah barat itu.


"T-tidak mungkin," kata Kagome terbata-bata. "Ibunda? Tidak pernah terpikirkan olehku suatu hari nanti bisa melihat Ibu kandung Kakak."


"Inuyoukai yang sangat cantik," puji Miroku tiba-tiba, "Sama sekali tidak terlihat sebagai Ibu dari Sesshoumaru-san. Dia lebih terlihat seperti saudarinya. Muda, cantik, berkarisma. Dia pasti akan melahirkan hanyou yang cantik dan tampan jika-aduh!" teriak Miroku kesakitan karena telinganya yang ditarik Sango.


"Diam kau, mesum." Perintah Sango kesal.


Inuyasha hanya menatap sosok ibu kandung Sesshoumaru dengan pandangan tidak percaya. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Ibu kandung kakak tirinya, istri pertama ayah kandungnya—ibu tirinya. Dirinya mengakui, inuyoukai di depannya adalah inuyoukai yang sangat cantik dan kuat. Dengan ayah-ibu yang begitu rupawan dan kuat, tidak salah jika Sesshoumaru terlahir dengan rupa dan kekuatan yang begitu luar biasa.


"Aku sudah tidak memerlukanmu, Sesshoumaru," Kata Inukimi tiba-tiba dengan wajah tidak peduli. "Karena itu, tinggalkan istana ini."


Ucapan Inukimi tidak membuat Sesshoumaru bergeming sedikit pun. "Kenapa kau memerintah kedua pengawalmu menculik Rin dari desa manusia?" tanyanya tidak mempedulikan ucapan ibunya barusan. Perkataan ibu kandungnya yang mengusir dan tidak memerlukannya sama sekali tidak ada arti baginya.


Menutup kelopak matanya, Inukimi membuang muka. Dirinya tahu dengan jelas sifat dari anak kandungnya. Sesshoumaru tidak akan mungkin meninggalkan istana ini begitu saja tanpa mendapat jawaban yang diinginkannya. Kesombongan, keangkuhan dan keegoisan itu benar-benar diwarisi Seshoumaru darinya. Hanya saja, dirinya tidak tahu dari mana putranya itu menwarisi sikap dingin dan wajah tidak berekspresi yang sudah menjadi ciri khasnya. Dirinya tidak memiliki sikap itu, begitu juga dengan Inutaisho, ayah kandung Sesshoumaru.


Membuka matanya lagi, Inukimi mengangkat kepala menatap langit, "Aku sudah tua." katanya sambil berdesah pelan.


"Tua!?" seru Kagome dan Sango terkejut. Inukimi mungkin memang sudah sangat tua, usianya mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan tahun. Tapi, dengan rupa yang begitu rupawan bagaikan seorang wanita di awal dua puluh, kata tua sama sekali tidak pantas digunakannya. Dua puluh tahun ke depan, wajah dan bentuk badannya pasti masih sama, tidak seperti mereka yang akan menua dan keriput. Katanya bagaikan sebuah sindiran bagi manusia seperti mereka.


Inukimi tidak mempedulikan semua yang menatapnya, matanya menerawang menatap langit. "Sejak kematian Taisho, aku diangkat menjadi Penguasa Tanah barat menggantikannya," sebuah kerutan tiba-tiba mundul di dahinya, "Dasar pria berengsek! Seenaknya saja dia mati dan meninggalkan tangung jawab seorang laki-laki pada wanita sepertiku."


Ucapan Inukimi sekali lagi membuat, Inuyasha, Kagome dan yang lainnya terkejut. Namun, Sesshoumaru tetap saja tidak berekpresi sedikit pun seperti biasanya.


"Aku ingin kembali hidup bebas seperti dulu. Mengembara dan bebas melakukan apa pun yang aku inginkan tanpa terkurung di istana ini mengurus tanah barat," lanjut Inukimi, kepalanya kemudian menoleh menatap Sesshoumaru, "Lalu, aku sadar ada kamu, Sesshoumaru," wajah Inukimi tiba-tiba berubah menjadi beseri-seri. "Kau adalah putraku dan Si Berengsek Taisho. Kau adalah hasil dari persatuan dua Inuyoukai terkuat di barat, dilahirkan dengan tujuan untuk menjadi Penguasa Tanah Barat."

__ADS_1


Masih menatap Inukimi, mata merah darah Seshoumaru kembali ke warna emas. Dirinya sudah mulai bisa menebak maksud dari ucapan serta tujuan ibunya itu sekarang.


"Kau sudah cukup dewasa dan kuat. Kau sudah pantas menerima jabatan itu, lalu diriku sendiri juga sudah sepatutnya sudah pensiun," wajah berseri-seri Inukimi tiba-tiba kembali meredup diganti wajah sedih dan kecewa. "Tapi, kau, memang putra Si Bersengsek Taisho yang suka seenaknya. Kau tidak mau dan lebih memilih hidup bebas mengembara ke mana-mana untuk melatih kekuatan yang sepatutnya sudah tidak diperlukan, dasar anak berengsek!"


"Benarkah itu Ibu kandung Sesshoumaru-san? Kenapa aku merasa sifat dan sikap mereka berdua tidak ada miripnya sama sekali?" tanya Sango pelan penuh kebingungan. Yang lainnya termasuk Inuyasha hanya mengangguk kepala mereka setuju, sebab sifat mereka benar-benar bertolak belakang.


"Lalu, aku teringat dengan Rin kecil yang kau hidupkan dulu," senyum mengembang diwajah Inukimi. "Kau terlihat sangat peduli dengannya, Demi dia, kau rela menginjakkan kaki dan memutuskan untuk tinggal di dunia kematian untuk menyelamatkannya. Bahkan, kau rela membuang Tensaiga dan kekuatan yang kau cari saat mengetahui hidup Rin kecillah bayaran yang harus kau bayar. Kurasa, demi dirinya lagi, kau pasti bersedia tinggal di istana ini dan menjadi Penguasa Tanah Barat."


Perkataan Inukimi membuat Inuyasha dan yang lainnya kecuali Kohaku menoleh kepala menatap Sesshoumaru. Mata mereka terbelalak tidak percaya. Sesshoumaru menginjak kaki dan memutuskan untuk tinggal di dunia kematian? Membuang Tensaiga dan kekuatan yang dicarinya? Benarkah itu?


"Karena itukah kau memerintah pengawalmu menculik Rin dari desa manusia?" tanya Sesshoumaru dengan suara datar dan wajah tanpa ekspresi.


Inukimi mengangguk kepala. "Iya. Aku tidak mengerti dirimu, Sesshoumaru. Kenapa kau meninggalkan Rin kecil di desa manusia tanpa penjagaan sedikit pun? Yang kau lakukan itu sebenarnya adalah memancing musuhmu untuk memanfaatkan gadis manis dan lugu tersebut. Kau lihat sendirikan sekarang, betapa mudahnya Kiri dan Kira menculiknya tanpa diketahui siapapun? Dia bisa saja mati tanpa diketahui siapa pun akibat kebodohanmu!" katanya lagi penuh kemarahan, mata emasnya berubah menjadi merah darah. Namun, sejenak kemudian, mata merah darah itu kembali menjadi emas. Masih menatap Sesshoumaru, sebuah kerutan kecil muncul di wajahnya yang rupawan, "Bagaimana kau bisa mengetahui Rin kecil ada di sini? Aku sudah meyiapkan jebakan untukmu. Namun, sepertinya kau berhasil menyingkapnya dengan mudah."


"Bau pengawalmu tertinggal dengan jelas dalam hutan tempat Rin diculik. Aku memang tidak pernah bertemu dengan mereka, tapi, aku ingat dengan bau mereka yang kucium pada kunjungan ke istana ini beberapa tahun yang lalu. Kau terlalu merendahkanku, Ibunda. Apakah kau kira Sesshoumaru ini adalah orang bodoh yang akan tertipu dengan tipuan murahanmu?" Suara Sesshoumaru tetap datar, namun ada nada kemarahan dalamnya, membuat semua yang ada merinding ketakutan.


Inukimi sendiri sangat terkejut dengan jawaban putranya yang diluar dugaan. Benar, Kiri dan Kira ada di saat Sesshoumaru mengunjunginya di istana ini saat mencari rahasia Tensaiga, hanya saja, saat itu, jarak mereka terpisah sangat jauh, sebab kedua pengawalnya berada di belakang istana melakukan tugas yang diperintahkannya. Bisa mengenali dan menghapal bau mereka dalam istana yang penuh dengan inuyoukai dalam waktu sesaat, jelas bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan siapa pun. Kebanggaan memenuhi hatinya, putra kandungnya ini memang luar biasa, tidak diragukan lagi, dia adalah youkai yang sangat mengagumkan, penguasa yang luar biasa. Namun, itu semua tidak berarti dirinya akan membiarkan Sesshoumaru berbuat seenaknya di sini, yakni; memisahkan Rin darinya.


"Apa yang membuatmu merubah keinginanmu, Ibunda?" Sikap ibunya yang selalu berubah-ubah dan tidak dapat dimengertinya bukanlah sesuatu yang baru dan mengejutkan. Namun, ibunya merubah sebuah keinginan adalah sesuatu hal yang mustahil. Jika beliau sudah menginginkan sesuatu, dia akan melakukan apapun juga untuk menwujudkannya.


"Itu bukan urusanmu," Jawab Inukimi datar dan membuang wajahnya.


Tahu ibunya tidak akan menajwab pertanyaannya, Sesshoumaru kembali membuka suaranya untuk menyuarakan apa tujuannya menginjakkan kaki serta membuat keributan di Istana Tanah Barat. "Kembalikan Rin padaku."


Ucapan Sesshoumaru langsung membuat Inukimi menoleh wajah menatapnya. Kedua mata emasnya langsung berubah menjadi merah darah. Ujung bibirnya tertarik ke atas memperlihatkan seringai penuh kemarahan. "Jangan pernah kau mencoba merebut dia dariku!"


Sesshoumaru sebenarnya cukup terkejut dan bingung degan sikap Inukimi sekarang, namun, dia yang memang tidak pernah mengerti wanita yang melahirkannya mengesampingkan itu semua. Inuyoukai adalah youkai yang sangat terposesif dengan semua yang diklaim sekali miliknya. Rin adalah bawahannya, dia menghidupkannya dari kematian, membesarkan dan menjaganya. Di matanya, Rin adalah miliknya. Namun, menculik, menyembunyikan dan bahkan melukainya dari desa di mana dia meninggalkan gadis kecil itu—dia tidak akan membiarkan ini begitu saja, walau itu adalah Ibu kandungnya.

__ADS_1


Menatap Inukimi, mata emas Sesshoumaru berubah menjadi merah darah seperti Inukimi. Tangannya langsung menyentuh pegangan pedang Bakusaiga di pinggangnya saat melihat ibunya memasang kuda-kuda untuk menyerang.


Dalam sekali kedipan mata, Inukimi telah meloncat menyerang putra kandungnya sendiri dengan cakar tangannya yang panjang. Sesshoumaru juga tidak membuang waktu, dia menarik Bakusaiga untuk menahan serangan tersebut.


"Oke! Kurasa inuyoukai itu bukan Ibu kandung Kakak," seru Kagome yang benar-benar tidak dapat menerima apa yang dilihatnya. Kepalanya menoleh menatap Inuyasha, "Dan, Inuyasha, ayah kandungmu sebenarnya memiliki berapa banyak istri?"


Pertanyaan Kagome langsung membuat Inuyasha melipat tangan dan menatap penuh kejengkelan istrinya tersebut. "Apa maksud pertanyaanmu barusan, Kagome?"


Semua yang ada dalam taman istana hanya dapat menonton pertarungan kedua ibu-anak di depan mereka. Mereka serius dan tidak main-main, cakar panjang Inukimi yang terarah kepada Sesshoumaru terus saja mengincar letak jantungnya, dan ayunan pedang saat Sesshoumaru menghindar sambil meyerang juga tidak main-main, sebab, sudah ada sebatang pohon yang terbelah dua karena sebetan pedangnya.


"Aku mengerti sekarang!" kata Miroku tiba-tiba sambil menepuk tangannya dan membuat Inuyasha, Kagome dan yang lain menatapnya.


"Apa yang kau mengerti?" tanya Sango bingung.


Menoleh menatap Sango, Miroku tersenyum, "Aku bisa mengerti kenapa Sesshoumaru-san bisa memiliki sikap seperti itu sekarang? Dibesarkan oleh Ibu seperti Inuyoukai wanita di depan itu, aku justru tidak akan percaya jika dia tidak memiliki sikap dingin, tidak peduli dan selalu merasa dirinya yang paling benar serta superior."


Sebuah batu kecil tiba-tiba melesat dengan cepat melukai kepala Miroku, "Aduh!" teriaknya kesakitan. Mengangkat kepala penuh kekesalan menatap arah datangnya batu tersebut, dia hanya dapat menelan ludah. Sepasang mata merah darah Sesshoumaru menatapnya dengan tajam dalam pertarungannya. Menelan ludah sekali lagi, Miroku hanya dapat berdoa semoga saat pertarugan di depan mereka selesai, inuyoukai itu sudah lupa dengan apa yang dikatakannya barusan.


Sango hanya bisa menggeleng kepala melihat sikap Miroku yang memang suka mencari masalah, sedangkan yang lainnya hanya dapat menghela napas. Jika Miroku tidak menjaga mulutnya lagi dari sekarang, mereka pasti akan kembali mendapat masalah besar setelah semua ini terselesaikan.


"Jangan pernah mengalihkan pandangan dariku, anak berengsek!" teriak Inukimi penuh kemarahan saat melihat Sesshoumaru mengalihkan pandangannya dalam sela-sela pertarungan mereka. Tangan cakarnya terangkat ke atas, berusaha mencakar wajah lawannya. Apakah putranya ini begitu meremehkannya? Hinga berani meladeni kata-kata seorang manusia manusia saat bertarung dengannya.


Sessoumaru meloncat ke belakang, dan saat mendarat dia menatap kembali Ibunya. Mata merah darah Inukimi semakin menggelap, begitu juga dengan sepasang garis di pipinya. Tiba-tiba saja, angin bertiup dengan kencang, menerpa rambut peraknya hingga terbang ke atas. Mokomokonya yang terangkat ke atas, tidak lagi terlihat sebagai selendang bulu yang menutupi badannya, mokomoko itu terbuka dan berpencar menjadi berpuluh-puluh bagian—menjadi sebuah senjata yang siap menyerang.


Tidak membuang waktu juga, Sesshoumaru, mengangkat Bakusaiga di tangannya. Ibunya tidak main-main, begitu juga dengan dia. Mengumpulkan youkinya, dia segera menyiapkan serangan andalan Bakusaiga.


Kedua Ibu-anak itu saling menatap dengan tajam, berusaha mencari timing yang pas untuk melancarkan serangan. Namun, indra penciuman mereka yang tajam tiba-tiba menangkap bau musim semi yang sangat dikenalinya. Menoleh kepala menatap sumber bau, mereka langsung menghentikan apa yang mereka lakukan. Di atas tangga bangunan utama istana tanah barat, seorang gadis manusia berusia sekitar bsepuluh tahun berdiri menatap mereka dengan wajah penuh ketakutan; Rin.

__ADS_1


"Sesshoumaru-sama..." panggil Rin pelan.


....xOxOx....


__ADS_2