Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 68


__ADS_3

Melipat kedua tangan di dada, Inuyasha menatap tidak suka pada Akihiko yang berada di samping Rin. Dalam jamuan makan malam ini, dalam ruangan besar dan penuh dengan orang, kenapa serigala berengsek itu harus menempatkan gadis manusia itu di sana?


Inuyasha menghabiskan masa kecilnya dalam istana manusia. Meski tidak pernah menghadiri acara jamuan karena jati dirinya sebagai hanyou, dia masih tahu, susunan tempat duduk yang benar. Dalam ruangan besar ini sekarang, dia, Kagome dan Inukimi duduk di barisan kanan, Miroku dan Sango di barisan kiri, lalu Akihiko dan Rin di barisan tengah. Barisan tengah adalah barisan tuan rumah, Akihiko yang duduk di sana memang benar, tetapi kenapa Rin juga duduk di sana?


"Apakah makanannya sesuai dengan seleramu, Rin?" tanya Akihiko tiba-tiba dengan senyum yang ada di wajahnya.


Rin yang terkejut dengan pertanyaan Akihiko segera menoleh wajah pada penguasa tanah selatan itu dan mengangguk kepala."Iya, enak."


"Baguslah kalau begitu," balas Akihiko. Senyum di wajahnya semakin lebar. "Jika kau tidak keberatan, bagaimana kalau selesai makan malam, aku membawamu melihat taman sakura di mana hanami akan kita adakan."


"Eh?" tertegun, Rin menatap kebingungan Akihiko. Tidak tahu kenapa, dia merasa sikap penguasa tanah selatan di depannya sedikit berubah-dia menjadi lebih; bersahabat.


Namun, belum sempat Rin menjawab pertanyaan youkai serigala itu, Inuyasha telah berdiri dan menjawabnya. "Tidak! Terima kasih. Selesai jamuan makan malam ini, kami akan segera pulang."


"Kita baru sampai ke istana tanah selatan, Putra Taisho. Jika kau ingin pulang, pulang saja sendiri," ujar Inukimi yang duduk di samping Kagome tiba-tiba. Tersenyum, dia menatap Akihiko. "Kau akan menjamuku sebaik mungkin, kan, serigala kecil?"


Akihiko membalas senyum Inukimi dengan tawa kecil. "Tentu saja. Anda adalah ibu dari Rin, Inukimi-san. Aku pasti menjamu anda sebaik mungkin."


"Oh?? Jadi kau menjamuku karena aku adalah ibu dari Rin kecil, ya?" tawa Inukimi, mata emasnya menatap penguasa tanah selatan penuh arti.


Akihiko tidak menjawab pertanyaan Inukimi lagi. Dia hanya membalasnya dengan seulas senyum yang juga penuh arti.


"Inukimi-san!! Rin tidak aman berada dalam sarang serigala ini!" protes Inuyasha, kedua mata emasnya menatap lekat Inukimi. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mantan penguasa tanah barat itu. Menatap Kagome, dia berusaha meminta bantuan. "Kagome, katakan sesuatu!!"


Kagome yang dari tadi duduk diam memakan nasi segera meletakkan mangkuk dan sumpit di tangannya. Tersenyum lebar, dia menatap Akihiko. "Kondisi kesehatan Rin-chan tidak terlalu baik karena dia masih cukup kelelahan. Jadi, usahakan dia tidak kecapekan, Akihiko-san."


"Kagome, kau ada di pihak siapa??!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Ada apa sebenarnya ini? Tidak hanya Inukimi, bahkan Kagome juga sepertinya ada di pihak serigala berengsek itu. Menoleh wajah menatap Miroku dan Sango yang dari tadi diam, inuhanyou itu meminta bantuan.


Miroku tertawa pelan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal melihat tatapan Inuyasha, dia juga sebenarnya cukup bingung dengan sikap Inuimi dan Kagome yang di luar dugaan.


"Kami akan merepotkan anda dalam beberapa hari ini, Akihiko-san." senyum Sango dan menatap Akihiko. "Kuharap kau tidak keberatan."


Ucapan Sango dengan seketika membuat Inuyasha dan juga Miroku terbelalak tidak percaya. Inukimi dan Kagome, mereka bisa memaklumi pikiran mereka yang aneh. Tapi, kenapa Sango yang paling rasional di antara mereka juga seperti itu?


"S-sango.." panggil Miroku terbata-bata. Dia menatap tidak percaya istrinya, apakah ibu dari anaknya ini terhipnotis oleh penguasa tanah selatan ini?


Namun, Sango tidak peduli, dia menoleh kepala menatap Rin. "Anggap saja kita sedang berlibur Rin-chan. Nikmati saja kedatangan kita ke istana tanah selatan ini."


"Kata Sango benar, Rin-chan," tambah Kagome sambil menepuk tangannya. Senyum di wajah semakin lebar. "Kita nikmati perjalanan ini sepuasnya."


"Benar," tawa Inukimi keras. "Kita perlu liburan setelah sekian lama."


Rin menatap penuh kebingungan apa yang terjadi di depannya. Dia merasa ada yang aneh, tetapi dia tidak tahu apa keanehan itu. Sedangkan untuk Inuyasha dan Miroku, mereka mulai ketakutan, ada apa dengan para wanita ini?


Akihiko tersenyum melihat apa yang terjadi, dia memang tidak tahu jelas apa yang ada dalam pikiran Inukimi, Kagome maupun Sango. Tetapi, sikap mereka itu jelas membantu dirinya.


Tertawa pelan, Akihiko mengangguk kepala. "Kalian semua tamuku, silakan nikmati selatan ini."


....xOxOx....


"Pegang tanganku, Rin," ujar Akihiko pelan. Mengulurkan tangannya pada Rin. Dia tersenyum kecil. "Di sini agak gelap, aku tidak ingin kau jatuh."


Rin menatap tangan Akihiko yang terulur padanya penuh kebingungan. Mereka berada dalam salah satu koridor istana tanah selatan sekarang, dan sejujurnya, mata manusianya masih bisa melihat jelas sekeliling karena cahaya bulan yang ada.


"Aku sudah janji akan menjagamu dengan baik pada Kagome-san, Rin." Lanjut Akihiko lagi dengan senyum yang tetap menghiasi wajah tampannya.


Ucapan Akihiko mau tidak mau membuat Rin teringat kembali dengan apa yang terjadi barusan. Sesaat mereka selesai makan malam, Inukimi, Kagome dan Sango dengan antusias menyuruh Akihiko membawa Rin melihat taman bunga sakura di istana tanah selatan.


Tidak mempedulikan protes Inuyasha, ataupun menanyai kebersediaan Rin, mereka menitip pesan pada Akihiko untuk menjaga gadis manusia itu dan menikmati taman bunga sakura pada malam hari.


Menghela napas, Rin benar-benar tidak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Semua terjadi sangat cepat dan dia tidak bisa melakukan apapun.


"Rin," panggil Akihiko pelan. Senyum tidak menghilang di wajahnya begitu juga dengan tangan yang masih terulur menunggu Rin mengapainya. "Ayo."


Melihat sikap Akihiko, Rin kemudian mengangguk kepala dan meletakkan jari jemari mungilnya pada tangan penguasa tanah selatan tersebut.

__ADS_1


Merasakan hangatnya tangan Rin, senyum di wajah Akihiko semakin lebar. Mengengam erat jari jemari gadis manusia itu, dia menuntunnya menyusuri koridor tanpa mengucapkan apa-apa lagi.


Rin yang mengikuti Akihiko juga tidak mengatakan apa-apa. Diam membisu, pikirannya hanya bisa kembali berpikir apa yang harus dilakukannya sekarang dan ke depannya. Perintah Sesshoumaru–dia sudah melanggarnya. Memang bukan karena keinginannya, tapi kenyataan dirinya sudah berada di istana tanah selatan tidak terbantah.


Suara dingin dan wajah kemarahan Sesshoumaru terlintas dalam pikiran Rin. Membuat gadis manusia itu segera menutup mata dan menahan rasa sakit yang menyerang hatinya.


Sesakit ini, kah?–mencintai seseorang itu. Ternyata cinta itu tidak seperti yang dia bayangkan selama ini. Dulu saat dia masih kecil, Rin melihat kebahagiaan dari cinta antara Inuyasha dan Kagome. Jadi dia berpikir cinta adalah kebahagiaan, lalu Sesshoumaru mengatakan padanya, cinta adalah–kelemahan.


Cinta adalah sebuah kelemahan yang akan membuatnya musnah.


Rin kecil tidak pernah mengerti kenapa kebahagiaan akan menjadi kelemahan. Namun sekarang dia mengerti. Cinta tidak selamanya hanya menandakan kebahagiaan, ada berbagai perasaan yang tercampur di dalamnya.


Ketakutan dan kesedihan jika cinta tidak terbalas. Keegoisan dan ketamakan karena ingin memiliki. Kesakitan karena kenyataan tidak bisa bersama.


Itu semua ada dalam cinta. Sesshoumaru benar, Rin bisa melihat seperti apa dirinya sekarang, dia melemah, senyum dan tawanya menghilang–kebahagiaannya sirna. Perlahan dia mulai hancur.


Pertama kali setelah sekian lama, Rin sadar, bagaimana mungkin dia bisa membiarkan Sesshoumaru menjadi sepertinya sekarang? Bagaimana bisa dia mengharapkan inuyoukai itu membalas cintanya?–membuatnya memiliki kelemahan; merasakan semua perasaan menyiksa ini.


"Rin, kita sudah sampai." suara Akihiko segera menyadarkan Rin dari lamunannya. "Kau melamun?"


"Eh?" terkejut, Rin segera mengangkat kepala dan menemukan Akihiko yang kini membungkukkan badan hingga mata mereka sejajar tepat di depannya.


Melepaskan jari jemari yang digenggamnya, Akihiko menluruskan badannya dan melipat kedua tangan di dada. "Kau berubah banyak, Rin."


"Eh?" Rin hanya bisa berseru bingung mendengar ucapan Akihiko.


"Melihatmu yang seperti ini, sepertinya kau benar-benar tidak ingin mengunjungi istana tanah selatan ini," lanjut Akihiko lagi. Senyum di wajahnya menghilang digantikan wajah terluka. "Kau tidak ingin menepati janjimu, ya?"


"Eh? T-tidak seperti itu, Akihiko-sama," potong Rin cepat. Kedua mata coklat besarnya tidak dapat menyembunyikan kepanikan dalam hati. "R-rin tidak berniat melanggar janji Rin. R-rin hanya, Rin tidak tahu.."


Suara Rin semakin mengecil, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada penguasa tanah selatan di depannya apa yang terjadi. Terdiam, dia menundukkan kepala ke bawah karena perasaan bersalah.


Akihiko kembali tersenyum melihat sikap gadis manusia di depannya. Tidak pernah berubah, tetap seperti buku yang terbuka, begitu mudah di baca. Rin tetap saja polos seperti awal pertama mereka bertemu.


"Baiklah," tawa Akihiko kemudian. Mata biru langitnya semakin lembut menatap gadis manusia di depannya. "Angkat kepalamu, Rin. Kau masih belum melihat taman bunga sakura istana tanah selatan."


"Lapangan paviliun utara istana tanah selatan," senyum Akihiko, tangan kanannya terangkat membelai rambut hitam Rin yang ditiup angin malam. "Tempatku berlatih pedang selama ini."


"B-bagaimana bisa?" tanya Rin bingung. Beberapa bulan yang lalu, lapangan ini jelas merupakan tanah tandus tanpa sebatang rumput pun. Tapi, sekarang, dia bisa melihat, berpuluh-puluh batang pohon sakura yang tinggi dan besar bermekaran dengan indah.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa taman ini akan sangat indah jika dipenuhi pohon sakura, Rin?" tertawa pelan, Akihiko menyelipkan rambut Rin di belakang telinga gadis manusia tersebut. "Aku menanaminya untukmu."


Rin tidak bisa membalas ucapan Akihiko. Kedua matanya hanya dapat menatap tidak percaya apa yang di dengarnya.


"Aku meminta youkai pohon menanam dan memekarkan bunga sakura pada musim semi ini secepatnya," membalikkan badan, Akihiko melangkah maju mendekati pohon sakura yang ada. Berhenti melangkah, penguasa tanah selatan itu menoleh kepala menatap penuh senyum pada Rin di belakang. "Dan kau benar, lapangan ini menjadi sangat indah. Aku harus berterima kasih padamu, Rin. "


Wajah Rin memerah karena ucapan terima kasih Akihiko. Dalam hati dia merasa tidak enak, sebab ucapannya dulu itu hanyalah ucapan tanpa pikir panjang. Siapa sangka penguasa tanah selatan itu benar-benar akan menwujudkannya?


"Kemarilah, Rin," panggil Akihiko lagi. Dia kembali mengulurkan tangannya pada gadis manusia itu. "Kita berjalan menuju tengah taman. Di sana bunga sakura lebih indah."


Mengangguk kepala, Rin segera melangkah mendekati Akihiko. Jari jemarinya menerima uluran tangan youkai serigala itu, membiarkan dia mengenggam tangannya sekali lagi.


Berjalan semakin ke tengah taman, mata Rin benar-benar terpesona melihat bunga sakura di sekitarnya. Tanpa sadar, dia melepaskan jari jemarinya yang digenggam Akihiko dan melangkah maju ke bawah pohon sakura terbesar yang ada.


Mengangkat kepala menatap sakura di atasnya, mata coklat Rin tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Dalam limpahan cahaya bulan, bunga sakura di atasnya begitu indah. Warna pink lembut dan putih bersatu, selaras tanpa paksaan-membuatnya kehilangan kata.


Akihiko tidak bergerak melihat pemandangan di depan. Tertegun, sedetik kemudian jantungnya berdetak kencang. Penguasa tanah selatan itu tidak dapat mengalihkan pandangannya sedikitpun dari gadis manusia di depannya.


Dalam limpahan cahaya bulan, dikelilingi pohon sakura yang mekar dengan indah, gadis manusia itu berdiri sendirian dengan kepala terangkat ke atas. Angin malam dengan lembut memainkan rambut hitam panjangnya, dan beberapa kelopak bunga sakura jatuh seakan ingin menyentuhnya.


Cantik.


Akihiko tahu Rin cantik, dan sekian lama tidak melihatnya, gadis manusia itu semakin cantik dan cantik. Dalam taman bunga sakura yang indah ini, dalam cahaya bulan, kecantikannya benar-benar bagaikan ilusi. Lebih cantik dari pada bunga sakura maupun bulan, kecantikan yang tidak nyata.


Pemandangan di depannya adalah sebuah lukisan. Namun, ada sedikit kekurangan dalam lukisan di depannya sekarang, yakni; senyum yang hilang.

__ADS_1


Kenapa Rin kehilangan senyum, kenapa gadis itu murung dan menjadi pendiam, apa alasan gadis manusia itu kesulitan menepati janjinya–Akihiko tahu semuanya.


Dan bagi Akihiko, itu semua justru sangat bagus. Untuk senyum yang hilang pada lukisan di depannya sekarang, dia akan menjadi pelukis. Dia akan mengubahnya. Ke depannya, alasan gadis manusia itu tersenyum kembali bukanlah lagi Sesshoumaru, melainkan dia; Akihiko.


....xOxOx....


Jauh di belakang taman sakura yang bermekaran dengan indah. Dalam paviliun utara istana tanah selatan, seorang youkai wanita berdiri diam. Mata youkainya dapat melihat jelas daiyoukai dan gadis manusia di tengah taman.


Hatinya terasa sangat sakit. Dia bisa melihat betapa lembutnya mata biru langit daiyoukai yang menatap gadis manusia tersebut. Betapa dia mendambakan pandangan itu tertuju padanya, bukanlah orang lain.


Tapi, ratusan tahun berlalu, meski selalu mengikuti dan mendampinginya, mata daiyoukai itu tidak pernah menatapnya seperti itu. Menutup mata, dia hanya dapat menghela napas dan tersenyum sendu. "Kau sungguh bodoh, Tsubasa.."


....xOxOx....


Bagaimana bisa kalian membiarkan Rin bersama dengan serigala berengsek itu sekarang!?" tanya Inuyasha penuh kemarahan. Matanya menatap tajam Inukimi, Kagome dan Sango yang sedang menyeduh teh dengan tenang.


"Ini bukan urusanmu, Putra Taisho," jawab Inukimi sambil tersenyum dan meneguk teh di tanganya. "Duduklah dengan tenang di tempatmu itu."


"Bagaimana ini bukan urusanku!??" teriak Inuyasha sambil berdiri. Kemarahan dalam hatinya membesar tidak tertahankan.


"Osuwari." ujar Kagome yang ada di samping Inukimi pelan. Dia tidak menatap suaminya itu sedikit pun.


"Kagome!!!" Inuyasha hanya dapat memprotes saat tekanan gravitasi memaksanya jatuh tersungkur ke bawah tanpa gerak.


Miroku yang melihat Inuyasha jatuh tersungkur ke bawah sama sekali tidak peduli. Meneguk teh di tangan sekali, dia tersenyum menatap Inukimi, Kagome dan Sango. "Aku tidak bisa menebak maksud dari rencana kalian para wanita, keberatan kah kalian menjelaskannya?"


Kagome tersenyum mendengar ucapan Miroku. "Kami hanya ingin Rin-chan memiliki pilihan."


"Pilihan?" tanya Inuyasha yang masih tersungkur di atas tatami kebingungan.


Sango tertawa pelan. "Rin-chan selama ini hanya menatap Sesshoumaru. Dalam pandangannya, tidak ada yang lain selain Sesshoumaru, dan itu–tidak baik."


Kagome mengangguk kepala. "Masa depan itu tidak tertebak. Bagaimana jika Rin-chan memang tidak berakhir dengan Kakak pada akhirnya? Rin-chan berhak mendapatkan kebahagiaan, bukan?–kami ingin dia sadar bahwa dia memiliki pilihan selain Sesshoumaru."


Mencintai seseorang dengan sepenuh hati itu tidak salah. Tapi, jika cinta itu adalah cinta yang tidak terbalas dan menghancurkan diri sendiri–cinta itu akan menjadi sebuah cinta yang salah.


Kesedihan, air mata, kesehatan yang memburuk serta senyum Rin yang menghilang telah menjelaskan betapa gadis manusia itu mulai hancur karena cintanya. Baik Kagome maupun Sango tidak menginginkan itu terjadi. Jika cinta Rin adalah cinta yang salah, mereka berdua tidak ingin dia terpaku pada cinta itu. Mereka ingin gadis itu membuka lembaran baru dan bahagia.


"Apakah tidak ada pilihan lain selain serigala berengsek itu dalam kepala kalian!?" hardik Inuyasha penuh kemarahan. Dia berusaha bangkit melawan tekanan gravitasi yang ada. Namun semua sia-sia karena Kagome kembali bergumam pelan. "Osuwari."


Miroku menganguk-anguk kepala mendengar penjelasan Kagome dan Sango. Dia mulai mengerti tujuan dari para wanita di depannya. "Sesshoumaru terlalu sempurna, jika kita memilih orang lain, maka orang itu akan menghilang ditutupi kesempurnaannya."


"Benar sekali," senyum Sango melihat Miroku mengerti dengan cepat tujuan dari rencana mereka. "Bukankah Akihiko, penguasa tanah selatan itu juga tidak kalah sempurnanya dari Sesshoumaru? Dan yang paling penting, kau juga bisa melihatkan sikap dan pandangan matanya kepada Rin-chan."


Miroku kembali mengangguk kepala. Sikap dan pandangan mata Akihiko kepada Rin jelas dapat ditangkapnya, bahkan Inuyasha yang tidak peka saja mengetahuinya. Keseriusannya terhadap Rin jelas bukan main-main meski dia adalah seorang daiyoukai sejati.


"Tapi, pilihan tetap ada di tangan Rin-chan," lanjut Kagome lagi dan tertawa kecil. "Kami hanya ingin dia bahagia."


"Aku mengerti maksud kalian sekarang," senyum Miroku. Sejenak kemudian dia menoleh wajah menatap Inukimi yang masih tersenyum meminum tehnya. "Apakah anda tidak keberatan jika Rin-chan kelak memilih Akihiko, Inukimi-san?"


Pertanyaan Miroku membuat Inukimi tersenyum penuh arti. Dan sejenak kemudian, dia tertawa keras. "Aku ingin putriku bahagia."


Inukimi menginginkan Rin bahagia, itu adalah kenyataan. Namun, kebahagiaan Rin yang paling diinginkannya adalah kebahagiaan gadis manusia itu di samping putra bodohnya, Sesshoumaru.


Rin terlalu polos dan Sesshoumaru  terlalu bodoh. Meski perasaan mereka sama, hubungan mereka hanya terus berjalan menuju ketidak pastian. Karena itu, inuyoukai dan gadis manusia tersebut memerlukan dorongan dalam hubungan mereka, terutama untuk Sesshoumaru.


Inukimi ingin Sesshoumaru tahu, Rin sangat berharga tidak hanya dalam matanya seorang saja. Di luar, ada berpuluh-puluh pasang mata yang bisa melihat nilai dari gadis manusia itu dan rela melakukan apapun untuknya–ada banyak orang yang mengharapkan cinta Rin.


Lalu untuk Rin sendiri–memilih?


Ya. Rin memang berhak memilih. Tapi apakah Rin bisa melihat pilihan yang tersedia untuknya?–itulah yang menjadi pertanyaannya.


Sejak dulu, sejak pertama kali melihat Rin, Inukimi bisa melihat ikatan kasat mata yang terjalin antara putranya dengan gadis manusia tersebut. Ikatan yang kuat dan tidak terputuskan.


Mrembawa Rin ke selatan sendiri memiliki resiko yang sangat tinggi. Inukimi sendiri sadar, perjalanan ke selatan ini sesungguhnya adalah taruhan baginya, dan dia bertaruh pada ikatan antara Sesshoumaru dan Rin.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2