![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Tanah barat.
Sejak awal tanah di jepang terbagi menjadi empat bagian yakni, utara, barat, selatan dan timur puluhan ribu tahun yang lalu, tanah barat merupakan daerah yang paling menonjol dan membuat semua orang kagum.
Sejarah sejak dulu mencatat; utara; ular berkuasa, selatan; serigala memerintah, timur; rubah memimpin dan barat—anjing menjadi raja.
Raja dari tanah barat—inuyoukai dari barat. Siapa yang tidak mengenal mereka? Di dunia di mana hukum rimba berlaku, dunia di mana yang kuat hidup dan yang lemah mati; inuyoukai dari barat yang sangat kuat berada dipucak. Lalu, dari semua inuyoukai yang ada, sang pemimpin dari klan inuyoukai sendiri; sang penguasa—dialah puncak dari segala puncak.
Darah sang penguasa tanah barat yang mengalir kepada keturunannya, penerusnya—mereka semua hidup sesuai dengan darah yang mengalir dalam nadi mereka; youkai sejati dengan kekuatan yang berdiri di pucak hukum rimba.
Kekuatan, kebijaksanaan, kehormatan, kebanggaan dan harga diri—semua penguasa tanah barat adalah perwujudan paling sempurna dari bangsawan sejati seorang youkai sejati.
Karena itulah barat selalu makmur. Di bawah kepemimpinan sang penguasa, daerah kekuasaannya mencakup luas seluruh jepang. Tanah yang subur dengan sumber daya alam yang melimpah, serta bawahan yang bersumpah darah setia seumur hidup kepada sang penguasa, yakni; klan-klan youkai kuat yang ada di jepang
Lalu—tanah utara.
Tanah utara di mana ular berkuasa. Dengan daerah kekuasaan yang hanya setengah dari luasnya tanah barat; dingin, gersang dan kekurangan sumber daya alam. Tanah dimana perpecahan dan penghiantan terus terulangi tanpa berhenti.
Tanah utara adalah daerah yang tidak dapat dibandingkan dengan tanah barat yang kuat dan jaya, baik dari luas daerah, sumber daya alam, bawahan dan juga—kepemimpinan.
Shui lahir di dalam keluarga utama garis penguasa tanah utara, dan meski dia bukan terlahir sebagai seekor ular, tapi karena kekuatannya yang luar biasa, dia tetap menjadi salah satu calon penguasa tanah barat seperti halnya Takeru.
Dibesarkan dalam istana bersama Takeru sebagai calon penguasa, Shui bisa melihat jelas semua yang ada di tanah utara; daerah yang miskin dengan tanah gersang, lalu yang paling penting—penghianatan.
Tanah utara adalah tanah yang penuh kekacauan, karena itulah, saat Shui kecil berhasil meninggalkan istana tanah utara untuk melarikan diri dari pembunuh yang mengincar nyawanya dan bertemu Inu No Taisho, dia melihat; tanah barat yang besar dan jaya.
Begitu berbeda dengan tanah utara yang miskin dan penuh penghianatan, tanah barat sangatlah kaya dan makmur; tanah di mana kebanggaan, kehormatan dan harga diri dijunjung tinggi.
Shui hanya dapat berpikir, alangkah bagusnya jika dia adalah calon sang penguasa tanah barat—alangkah bagusnya jika baratlah yang akan menjadi rumahnya, bukan; utara. Jika dia adalah putra dari Inu No Taisho sang penguasa tanah barat yang begitu sempurna, dia tahu, dia bisa memiliki segalanya—masa depan cemerlang dengan kebanggaan dan kehormatan tidak tertandingi.
Tapi, dia, Shui bukanlah putra Inu No Taisho—dirinya tidak memiliki darah keluarga penguasa inuyoukai barat yang begitu dipuja. Karena itulah, dia melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan untuk memiliki tanah barat.
Lalu—Sesshoumaru lahir. Pewaris tanah barat yang sah, inuyoukai sejati dengan darah keturunan sang penguasa tanah barat yang paling murni, dan Shui tahu; penghancur masa depannya.
Hanya karena darahlah Shui kalah dari Sesshoumaru—karena darahlah dia kehilangan tanah barat. Bagaimana dirinya bisa menerima itu? Tanah barat adalah miliknya, bukan Sesshoumaru.
Shui tahu, waktulah yang akan menjawab segalanya siapa yang sesungguhnya berhak akan tanah barat. Menahan diri dan menunggu, waktunya semakin dekat, dan tidak lama lagi, dia akan segera menunjukkan pada Inu No Taisho yang telah tiada dan semua yang ada di dunia; dialah sang penguasa tanah barat yang sesungguhnya.
"Lama tidak bertemu, Rin." Sapa Shui ramah, seulas senyum memenuhi wajah cantiknya. Namun, mata putihnya yang berbinar gembira penuh kegilaan menatap lurus Rin dan juga perut besarnya.
"Shui-sama, kapan anda tiba barat?" tanya Rin pelan sambil tersenyum. Namun, kewaspadaan memenuhi hatinya, saat dia melihat kejanggalan di mata putih yang biasanya bersinar lembut penuh keramahan.
Kagome dan Sango juga bisa merasakan jelas keanehan di wajah Shui. Kewaspadaan segera memenuhi hati. Dengan sigap, mereka memerintah anak-anak untuk berdiri di belakang.
Kiri yang menyeringai penuh kemarahan menatap Shui. Dia tidak tahu bagaimana youkai bermata putih itu bisa muncul tiba-tiba seperti ini. Saat auranya terasa, pemimpin tanah netral ini telah melesat dan mengarah dengan kecepatan luar biasa ke kamar di mana Rin berada.
Kiri memang tidak tahu apa tujuan Shui, tapi melihat matanya, pengawal pribadi kisaki tanah barat tahu, tujuannya bukanlah sesuatu yang beritikad baik.
"Aku baru saja tiba, Rin," jawab Shui, senyum di wajahnya semakin lebar. Mata putihnya bersinar makin gembira dan penuh kegilaan tertuju pada perut Rin. "Aku belum mengucapkannya padamu; selamat atas kehamilanmu, Rin."
"Terima kasih." Balas Rin dengan senyum yang tetap ada di wajahnya yang pucat.
"Selamat," tawa Shui dan mengarahkan pandangannya ke samping pada sosok seorang inuyoukai yang tidak tahu sejak kapan telah berada di samping Rin. "—Sesshoumaru."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, bahkan dia terlihat tidak mempedulikan Shui. Berjongkok ke bawah, kedua mata emasnya menatap Rin yang dengan cepat membalas tatapannya dengan seulas senyum.
"Rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama," Rin tahu arti pandangan mata Sesshoumaru meski inuyoukai itu tidak mengucapkan apa-apa. Menggerakkan tangan kanannya, dia menyentuh tangan penguasa tanah barat tersebut lembut. "Shura juga tidak apa-apa."
"Kau datang tak diundang, putih," suara Inukimi tiba-tiba terdengar. "Dan, tidak sopan sekali muncul tiba-tiba di depan kamar seperti ini."
Menoleh wajahnya pada sumber suara, Rin menemukan Inukimi telah berdiri di depan pintu kamar bersama dengan Kira. Mata coklatnya juga bisa melihat Inuyasha dan Miroku yang berlari masuk ke dalam kamar ke arah Kagome, Sango dan anak-anak.
"Aku ingin mengucapkan selamat pada Rin, bagaimanapun juga anak dalam kandungannya adalah cucu kakak," balas Shui sambil tertawa kecil dan menoleh wajahnya pada Inukimi. "Jika aku tidak muncul seperti ini, kalian tidak mungkin mengijinkanku bertemu dengannya, bukan?"
"Kau benar," balas Inukimi sambil tertawa sinis. Mata emasnya menatap tajam Shui penuh ketidak sukaan. "Sepertinya kau tidak lagi memakai topeng youkai terhormatmu. Kau memang lebih pantas seperti ini."
Shui tertawa semakin keras mendengar ucapan Inukimi. Perlahan, dia kembali menoleh pandangannya pada Sesshoumaru dan Rin. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajahnya. "Aku datang untuk menyampaikan sesuatu pada kalian Sesshoumaru, Rin."
Sesshoumaru tetap tidak memberikan reaksi sedikitpun akan ucapan Shui. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, dia diam membisu menatap youkai bermata putih tersebut.
"Apa yang ingin anda sampaikan, Shui-sama?" tanya Rin pelan. Dari semua yang ada dalam kamar maupun luar kamar, hanya dialah satu-satunya yang masih tersenyum pada Shui.
__ADS_1
"Kau tahu, Rin," jawab Shui pelan dan tersenyum lebar kepada Rin. "Kau telah merusak keseimbangan dunia ini."
Jawaban Shui seketika membuat Inuyasha dan yang lainnya tertegun. Tapi tidak untuk Rin, Sesshoumaru, Inukimi, Kiri dan Kira.
"Manusia tidak seharusnya menjadi kisaki dari youkai," lanjut Shui lagi sambil mendonggak kepalanya menatap langit siang di atasnya. "Dan—hanyou tidak seharusnya menjadi pewaris tanah youkai."
Menurunkan kepalanya menatap Sesshoumaru, seulas senyum menyeringai kembali memenuhi wajah Shui. Mata putihnya berbinar gembira tidak normal. "Karena itu, Sesshoumaru. Turunkanlah Rin dari tahtanya dan juga tarik ucapanmu akan pewaris hanyoumu."
"Apa??!" seru Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango bersamaan karena terkejut.
Untuk Kiri dan Kira, mereka berdua menggeram penuh kemarahan memperlihatkan taring panjang mereka. Kedua mata emas mereka juga kini telah berubah menjadi merah darah menatap Shui.
Hanya Sesshoumaru, Inukimi dan—Rin saja yang tetap tenang mendengar apa yang diucapkan Shui. Tidak ada perubahan ekspresi sedikitpun di wajah mereka.
"Jika Sesshoumaru tidak mau?" tanya Inukimi kemudian. Tidak ada kemarahan dirasakannya, malahan dia mati-matian menahan tawa yang akan meluncur keluar dari mulutnya. Ini adalah lelucon terbaik yang didengarnya selama ini—tanah netral berani menekan tanah barat?
"Anda tahu konsekuensinya," senyum Shui menjawab pertanyaan Inukimi. "Ini bukan keinginanku sebagai pemimpin tanah netral, melainkan keinginan bersama dari tanah utara, timur dan juga mungkin—selatan."
Tidak mempedulikan semua yang menatapnya, Shui terus berbicara dengan gembira. "Selatan memang belum memberikan jawaban, tapi tinggal menunggu waktu saja," menatap Sesshoumaru lagi, dia kembali tersenyum. "Ini adalah keinginan dunia youkai, Sesshoumaru."
Konsekuensinya—semua orang tahu; perang. Keinginan dunia youkai, Shui hari ini datang dengan niat buruk dan ancaman.
Sesshoumaru tetap diam membisu tidak memberikan reaksi. Kedua mata emasnya yang menatap Shui juga datar tanpa emosi.
"Cih," cibir Inuyasha yang sudah tidak tahan mendengar apa yang diucapkan Shui dari tadi. "Keseimbangan dunia apaan?? Manusia, hanyou, memangnya apa yang salah, sialan??!!"
Teriakan kemarahan Inuyasha membuat Shui semakin gembira. "Inuyasha," panggilnya. "Manusia menjadi kisaki tanah barat dan hanyou akan menjadi pewaris. Keseimbangan sudah hancur, cepat atau lambat, manusia akan menguasai dunia. Perang sudah pecah—kau sudah mendengar bukan? Desa youkai yang musnah. Ah—kau bahkan sudah melihatnya sendiri tidak lama ini; manusia yang menyerang istana youkai tanah barat. Manusia menjadi semakin berani dan kuat karena berpikir bisa memerintah youkai, sebagaimana wanita manusia menjadi kisaki youkai dan hanyou akan menjadi penguasa youkai. Manusia tidak boleh memerintah youkai, begitu juga dengan hanyou."
"Jangan membuatku tertawa dengan omong kosongmu!!" hardik Inuyasha keras. Kemarahannya semakin memuncak.
Kagome tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Shui. Dia berpikir dalam hatinya. Manusia mengungguli youkai. Dari segi kekuatan fisik dan bertahan hidup, serta batas usia, youkai jauh lebih unggul dari manusia, tapi—kenapa di masa depan tempatnya berasal tidak ada youkai? Kemana semua youkai pergi? Apa yang terjadi? Apakah yang diucapkan Shui benar, inilah penyebab manusia menggungguli youkai?
"Apa kau sudah selesai berbicara?" suara Sesshoumaru yang dari tadi diam membisu tiba-tiba terdengar dan membuat semua yang ada menoleh pandangan padanya.
Ekspresi wajah Sesshoumaru tetap tidak berubah sedikitpun, begitu juga dengan suaranya yang datar. "Sejak kapan tanah netral, utara, timur dan selatan memiliki hak untuk ikut campur di tanah barat?"
Semua yang dikatakan Shui sebenarnya tidak mengejutkan Sesshoumaru sedikitpun. Desa youkai yang hancur, manusia yang menyerang, surat Kenji yang memintanya berhati-hati pada netral—penguasa tanah barat sudah menduganya walau tidak berpikir akan menjadi ternyata seperti ini, dan apakah Sesshoumaru peduli?—jawabannya; tidak.
Manusia menjadi kisaki youkai dan hanyou menjadi pewaris tahta youkai—Sesshoumaru sudah mengetahui konsekuensi yang ada. Untuk barat yang besar dan jaya, musuh akan mengawasi, mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan.
Lalu—Shura.
Darah dagingnya, keturunannya; anaknya. Kepada siapa lagi dia akan menwarisakan segala warisannya dan keluarga mereka yang begitu panjang dan besar?—Shura, dialah satu-satunya pewaris darah dari sang penguasa tanah barat yang sah. Untuk kebanggaan dan harga diri—kehormatan tanah barat; Sesshoumaru tidak akan tunduk pada siapapun.
Sesuai katanya, siapapun yang berani datang, barat akan menyambutnya. Manusia atau youkai, dunia manusia maupun dunia youkai—bagi Sesshoumaru itu tidak ada bedanya.
Inukimi tiba-tiba tertawa keras. Berusaha menahan tawanya, dia menatap Shui. "Putih," panggilnya pelan sambil tersenyum. "Ternyata inilah yang kau incar?—kau, kan? dalang yang berada di belakang layar dari apa yang terjadi akhir-akhir ini? Si berengsek Taisho akan bertepuk tangan untukmu di dunia sana. "
"Anda tidak memiliki bukti, Inukimi-san." Jawab Shui ikut tersenyum. Sesshoumaru dan Inukimi bisa menebak tepat perannya akanbapa yang terjadi tidak mengejutkannya, sebab Kenji yang dibiarkannya tidak mungkin berdiam diri. Monyet itu pasti telah meminta barat berhati-hati.
Menatap Sesshoumaru kembali, senyum Shui semakin lebar. "Jadi apa jawabanmu, Sesshoumaru?"
"Datanglah, barat akan menyambut kalian semua." Jawab Sesshoumaru datar seakan apa yang dikatakannya tidak memiliki arti sama sekali.
Shui mati-matian menahan kegembiraan dalam hatinya mendengar jawaban Sesshoumaru. Sesuai predeksinya, inuyoukai dengan kebanggaan dan harga diri tinggi itu benar-benar menjawab tanpa berpikir panjang—rencananya telah sempurna.
Perlahan, Shui menoleh wajahnya menatap Rin yang dari tadi diam membisu tidak mengatakan apa-apa. Tertawa kecil, dia bertanya, "Bagaimana denganmu, Rin? Sesshoumaru tidak ingin melakukannya—apakah kau bersedia turun tahta dan menghentikan niat Sesshoumaru mengangkat anak kalian sebagai pewaris?"
Pertanyaan Shui membuat semua yang ada menatap Rin. Wajah wanita manusia itu datar, tidak ada lagi senyum yang biasanya selalu menghiasi.
"Kau sudah mendapatkan jawaban, sialan! Kenapa harus bertanya pada Rin lagi??!" sela Inuyasha kesal. Datang tanpa diundang dan membuat keributan, dia ingin sekali menyerang Shui dengan menggunakan tessaiga sekarang.
Bagaimana dengan Rin? Apa yang akan dilakukan wanita manusia itu?—semua orang tahu. Wanita manusia dengan hati yang begitu lembut dan baik, jika keberadaannya sebagai kisaki tanah barat dan Shura sebagai pewaris akan menjadi masalah, maka dia pasti akan meninggalkan tahtanya serta menghentikan niat Sesshoumaru mengangkat Shura sebagai pewaris. Sebab, dia adalah wanita yang tidak pernah serakah dan hanya mencintai kedamaian.
"Shui-sama," panggil Rin pelan kemudian. Kedua mata coklatnya yang jernih menatap lurus Shui di depan. "Keseimbangan dunia tidak akan terganggu karena Rin menjadi kisaki tanah barat."
Jawaban Rin membuat semua orang yang ada terkejut, tidak terkecuali Sesshoumaru. Sebab, jawaban Rin adalah jawaban yang di luar dugaan mereka.
"Rin adalah manusia," lanjut Rin lagi dan tersenyum kecil. "Berapa lama Rin sanggup duduk di tahta ini? Bagi kalian semua, itu hanyalah satu kedipan mata."
"Rin." Potong Sesshoumaru. Kedua matanya menatap tajam Rin, pemguasa tanah barat tidak menyukai sedikitpun apa yang diucapkannya. Namun, wanita manusia itu tidak peduli, dia meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Rin tidak pernah ikut campur dengan urusan dunia youkai meski Rin adalah kisaki tanah barat—keputusan selalu ada di tangan Sesshoumaru-sama," suara Rin tegas tanpa keraguan sedikitpun. "Jika tugas yang Rin jalankan sebagai kisaki tanah barat menjadi masalah, maka, kenapa dulu-dulu sekali saat Ibunda memberikan semua tugasnya pada Rin tidak ada seorangpun yang mengatakan sesuatu?—keseimbangan yang hancur karena Rin; itu hanyalah sebuah alasan untuk menyerang tanah barat."
Rin selalu tersenyum dan tertawa, penuh kelembutan dan juga kehangatan. Karena itu, melihat ekspresi serius dan ketegasan suaranya, serta logika yang diucapkannya, semua yang ada—tertegun. Tidak ada yang salah dengan penjelasannya, karena memang sejak dulu, jauh sebelum menjadi pasangan sah Sesshoumaru, dia telah menjalankan semua tugas sebagai kisaki tanah barat.
"Lalu—Shura," dengan suara yang tidak berubah sedikitpun, Rin menurunkan pandangan pada perutnya. Tatapan matanya kemudian melembut, kedua tangannya membelai penuh kasih sayang anak dalam kandungan. "Putraku..."
Shura, putranya dan Sesshoumaru—anak mereka yang berharga. Rin mau tidak mau hanya dapat berpikir, betapa keras hidup anaknya kelak. Dunia manusia menginginkan kematiannya, dan dunia youkai menolak keberadaannya—hanya karena putranya seorang; hanyou.
Hanyou—setengah manusia dan setengah youkai. Keberadaan diantara dua dunia yang tidak dapat bersatu. Keberadaan yang dikatakan tabu oleh kedua pihak.
Tapi, di mana letak kesalahannya? Keberadaan Shura adalah bukti cintanya—sesuatu yang merupakan keajaiban dalam dunia ini. Tidak ada salahnya terlahir menjadi seorang hanyou, hanya dunia ini saja yang tidak bisa menerimanya. Karena itu, Rin berpikir, akankah dirinya meminta Sesshoumaru menarik kembali ucapannya yang akan mewarisakan tanah barat Shura? Akankah dia melakukan itu demi kehidupan di masa depan anak mereka?
Shura, sang putra dari barat. Darah ayahnya yang mengalir dalam nadinya—darah inuyoukai penguasa tanah barat yang besar dan jaya, dia berhak sepenuhnya memiliki tanah barat; karena memang itulah warisan darahnya yang sah.
Gelarnya sebagai pewaris, harga diri, kebanggaan dan kehormatan dari darah yang mengalir dalam nadi putranya—akankah dia sebagai ibu mencorengnya?
Menutup mata coklatnya, Rin tersenyum kecil. Ah, dia sadar. Shura tidak bersalah. Kesalahan sesungguhnya adalah pada dirinya sendiri; karena darahnya yang lemah akan mengalir dalam nadi putranya—karena dia adalah; manusia.
Rin tidak bisa memberikan apapun kepada Shura. Sejak berada dalam rahimnya, keberadaannya sebagai seorang manusia akan terus memberikan masalah bagi putranya—dia adalah seorang ibu yang tidak berguna.
Tapi, cintanya. Cintanya sebagai seorang ibu kepada putra dalam kandungannya—betapa besar dan dalam cinta itu. Dia tidak mengharapkan apa-apa, hanya kebahagiaan dan keselamatan putranya.
Kami-sama.
Rin tidak pernah lagi berdoa pada kami-sama. Karena dia tahu, kami-sama itu tidak ada. Dulu saat dia kehilangan keluarga dan sendirian di dunia ini, dia sudah tahu, kami-sama hanyalah sebuah; ilusi. Saat itu, dia terus berdoa keluarganya masih hidup dan dirinya tidak sendirian; berdoa semua adalah mimpi buruk. Tapi—doanya tidak pernah terkabulkan; kami-sama tidak nyata.
Tapi, kali ini dia bersedia berdoa kepada keberadaan yang dia tahu tidak nyata itu. Sekali lagi dalam hidupnya, dia akan berdoa pada kami-sama dan mempercayai keberadaannya. Jika kesalahan adalah pada darahnya, jika darahnya akan melemahkan putranya dan membuatnya kehilangan segala yang merupakan haknya, maka—tariklah darahnya.
Orang mengatakan, doa seorang ibu adalah doa paling mustajab. Doa tulus seorang ibu adalah doa yang dapat menembus langit—karena itu Rin berdoa pada kami-sama.
Rin tidak akan menwariskan darahnya pada Shura. Darah manusia tidak akan mengalir dalam nadi putranya. Hanyou bukanlah kesalahan, tapi jika seorang hanyou akan membebani hidup putranya, maka, untuk putranya, dia akan melahirkannya sebagai seorang— youkai sejati.
Membuka matanya, Rin mengangkat kepalanya kembali menatap Shui. Kedua mata coklatn itu jernih penuh dengan keseriusan, keyakinan dan ketegasan. "Putraku tidak akan terlahir sebagai hanyou. Shura—dia akan terlahir sebagai seorang youkai sejati."
Ucapan Rin sekali lagi membuat semua yang ada tertegun, dan karena tatapan matanya yang begitu jernihbdan cemerlang, tidak ada seorangpun dapat mengatakan sesuatu untuk menyanggahnya, termasuk; Shui.
"Keberadaan Shura tidak akan menghancurkan keseimbangan dunia. Sepenuhnya, dia akan berada dalam dunia youkai sebagaimana mestinya."
Perlahan, Rin kemudian menoleh wajahnya yang serius pada Sesshoumaru. Menatapnya lurus dia kemudian tersenyum seindah musim semi. "Darah manusia Rin tidak akan membuatnya menjadi hanyou. Shura akan lahir sebagai Inuyoukai sejati berharga diri tinggi. Tampan, bijaksana dan kuat, seperti anda Sesshoumaru-sama."
"Rin.." Sesshoumaru benar-benar sangat tertegun dengan penyataan Rin. Selama bertahun-tahun dia mengenal wanita manusia ini, tidak pernah dia melihat sisi tersembunyinya yang seperti ini.
Menutup mata, Rin kemudian menarik napas. Saat dia membuka matanya lagi, keseriusan dan ketegasan kembali memenuhi wajahnya, "Karena itu, Sesshoumaru-sama—pertahankan. Warisan Shura, keehormatan Shura; kehormatan tanah barat—Rin sebagai kisaki tanah barat memerintahkan; berperanglah."
Shura adalah pewaris tanah barat, penguasa tanah barat di masa depan—dialah tanah barat itu sendiri di masa depan. Kehormatan Shura adalah kehormatan tanah barat—Rin tidak akan membiarkan siapapun menginjaknya.
Berperanglah.
Kata yang diucapkan Rin membuat semua orang menatapnya tidak percaya. Rin yang menghentikan dua perang kini meminta Sesshoumaru berperang?—berperang melawan seluruh dunia youkai?
Hati Sesshoumaru berdetak kencang. Mendengar dan menatap mata jernih Rin sekarang, dia tidak dapat menemukan kata untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Kisaki.
Yang di hadapannya sekarang adalah seorang—kisaki. Dunia youkai mengatakan bahwa Rin tidak pantas duduk di tahta sebagai kisaki tanah barat, tapi mereka salah, karena kenyataannya, wanita inilah satu-satunya keberadaan yang paling pantas duduk di kursi singsana itu.
Walau seluruh isi dunia menghunuskan pedang padanya, dia tidak takut. Dia tetap berdiri tegak untuk menjaga kehormatan tanah barat. Kebijaksanaan dan keberanian, kelembutan dan kebaikan, harga diri dan—kehormatan; Rinlah kisaki tanah barat paling sempurna yang pernah ada.
Menggerakkan tangan kanannya, Sesshoumaru mengangkat rambut Rin dan menciumnya lembut. Kedua matanya bersinar penuh kebanggaan menatap kisakinya tercinta. "Sesshoumaru ini mengerti, Kisakiku," ujarnya dengan seulas senyum. "Kehormatan Shura, kehormatan tanah barat—Sesshoumaru ini akan menjaganya."
Ucapan Sesshoumaru membuat Kiri serta Kira yang melihat dan mendengar pembicaraan sang penguasa dan kisakinya tersadar. Berlutut ke bawah menghadap Rin, kedua inuyoukai kembar itu memberikan hormat dengan wajah penuh kebanggaan. "Kami dua bersaudara dari barat, mengerti, kisaki-sama."
Inukimi tersenyum penuh kebanggaan. Putri angkatnya, menantunya, kisaki tanah barat setelah dirinya—dia memang tidak salah memilih. Kehormatan tanah barat, meski seorang manusia biasa, Rin bisa menjaganya—wanita manusia itu pantas duduk di tahta singgasana tersebut.
Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan anak-anak terdiam seribu bahasa melihat apa yang terjadi. Bagi anak-anak, itu karena mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi, untuk orang tua mereka, mereka diam karena apa yang terjadi sangat mengejutkan. Mereka kini melihat Rin dengan pandangan berbeda. Ucapannya, sikapnya, pembawaannya dan perintahnya—wanita manusia yang lembut itu memang selalu penuh kejutan.
Shui menatap tidak suka pada apa yang dilihatnya. Melihat sikap Rin sekarang, dia merasa bingung dan tidak percaya. Youkai bermata putih itu yakin, jika dia bertanya pada Rin, maka wanita manusia itu pasti akan menangis dan memohon pada Sesshoumaru untuk menuruti tuntutan yang disampaikannya. Dia bertanya pada wanita manusia itu karena ingin melihat wajah putus asa Rin dan wajah tidak berdaya Sesshoumaru.
Tapi—tidak apa-apa. Tujuannya kemari dan keinginannya sejak awal memang tidak mengharapkan barat menerima tuntutan netral. Jadi, meski apa yang terjadi tidak sesempurna yang direncanakanya, tujuan utamsnya telah terpenuhi—perang.
Kembali memasang seulas senyum di wajahnya, Shui kemudian tertawa. "Baiklah. Jika inilah jawaban tanah barat—aku mengerti."
__ADS_1
Membalikkan badannya, pemimpin tanah netral itu kemudian berjalan menjauh dengan seulas senyum memyerigai dan mata yang bersinar penuh kegilaan. "Sampai ketemu di medan perang, Sesshoumaru.."
....xOxOx....