Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 10


__ADS_3

Dengan pelan Shura membuka kedua matanya. Yang dilihatnya pertama kali adalah langit-langit kamarnya yang ada di istana tanah selatan, dan dia sedang berbaring di atas futonnya. Pewaris tanah barat itu berusaha untuk bangkit, namun seketika juga, rasa sakit yang sangat luar biasa menyerang seluruh tubuhnya, seakan memaksanya untuk tetap berbaring di atas futon dibawahnya.


"Shura-sama! Pelan-pelan! Luka anda akan terbuka lagi jika anda terus bergerak." Ujar seorang wanita tiba-tiba sambil membantu Shura bangkit ke posisi duduk.


Shura menatap pemilik suara itu dan dia menemukan Tsubasa, selir kesayangan Akihiko menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Melihat wajah khawatir itu, rentetan kejadian akan apa yang terjadi sebelum dia kehilangan kesadarannya kembali ke dalam kepalanya. Dia segera menurunkan mata emasnya menatap seluruh badannya. Bekas cakaran kuku tajam, lebam serta perban yang menutup luka di sekujur badan dan kakinya....


Dia telah kalah.


Pintu shoji kamar Shura tiba-tiba terbuka, dan suara teriakan Jaken langsung terdengar dengan jelas. "Shura-sama! Akhirnya anda sadar juga!"


Shura tidak mengangkat kepala untuk menatap Jaken yang telah berlari ke arahnya. Dia hanya diam membisu dan menutup matanya.


Dia kalah. Dia telah kalah.


"Shura-sama, apakah ada yang sakit? Anda tidak apa-apa, kan? Apakah anda memerlukan sesuatu?" tanya Jaken terus saat dia telah berada di samping Shura. Matanya menatap tuan mudanya itu dengan penuh kekhawatiran.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Shura sambil mengangkat wajahnya menatap Jaken dan Tsubasa tiba-tiba. Dia tidak mempedulikan pertanyaan Jaken sedikitpun.


"Anda tidak menyadarkan diri selama seminggu, Shura-sama." Jawab Jaken cepat.


Shura tertegun mendengar jawaban itu. Seminggu? Selama itukah dia tidak menyadarkan dirinya? Hatinya terasa sangat sakit, kesal dan marah. Betapa lemahnya dia. Dia lemah, dia terlalu lemah, karena itulah dia tidak bisa kembali ke barat.


Pintu shoji kamar Shura kembali terbuka, dan tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun, dia tahu siapa yang masuk dari bau dan juga auranya, pemilik istana ini, orang yang mengalahkannya; Akihiko.


Dengan pelan dan wajah tanpa ekspresi, Akihiko berjalan mendekati Shura. Tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun hingga suasana kamar menjadi hening. Penguasa tanah selatan itu hanya menatap pewaris tanah barat itu dalam diam saat dia tiba di sampingnya. Sejenak kemudian, Shura mengangkat wajah menatap Akihiko dengan tajam, ada kebencian dalam matanya sekarang.


"Lupakan barat. Selatanlah rumahmu mulai sekarang." Perintah Akihiko, tidak ada senyum dan juga ekspresi kebosanan di wajah sekarang, yang ada hanyalah keseriusan.


"Rumahku bukan selatan. Rumahku adalah barat." Balas Shura tajam.


"Kau bukanlah lagi pewaris tanah barat, Shura. Mulai hari ini, kau adalah pewaris tanah selatan, putraku." Balas Akihiko lagi dengan suaranya yang tetap tenang.


Kemarahan memenuhi hati Shura. "Aku bukan putramu! Aku adalah putra Sesshoumaru, sang penguasa tanah ba-"


"Dia telah membuangmu!" potong Akihiko.


Shura langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan Akihiko. Mata emasnya menyipit, dia tidak mengerti apa yang dimaksud penguasa tanah selatan itu sekarang. "Apa maksudmu?"


"Anjing itu telah membuangmu." Ulang Akihiko lagi sambil menatap lurus Shura.


"Bohong!" teriak Shura penuh kemarahan.


"Aku tidak bohong padamu! Ini buktinya!" balas Akihiko sambil melemparkan sehelai surat pada Shura.


Shura segera mengambil dan membuka surat itu. Dia tahu surat yang ada ditanganntnya sekarang memang surat dari ayahandanya, sebab dia mengenal dengan baik tulisan yang rapi dan teratur itu, terlebih lagi, dia masih bisa mencium bau Ayahndanya yang masih tertinggal. Hanya ada satu kalimat dalam surat itu.


...Lakukan saja apa yang kau mau....


...Sesshoumaru....


"Aku memintanya memberikanmu padaku, dan itulah jawabannya."


Shura tidak tahu harus menjawab apa, sebab dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Suara Akihiko terasa sangat jauh, bagaikan sebuah mimpi, bukan kenyataan.


"Shura-sama..." Panggil Jaken pelan. Dia tidak tahu harus berbuat apa melihat keadaan tuan mudanya sekarang, sebab dia tahu apa yang dikatakan Akihiko benar. Dia melihat dengan jelas bahwa yang mengantar surat itu benar-benar merupakan salah satu penghuni istana tanah barat. Dia sangat terkejut, benar-benar terkejut saat mengetahui apa yang tertulis. Sesshoumaru-sama berniat melepaskan Shura? Membiarkan Shura menjadi penerus Akihiko, rivalnya? Tidak! Jaken tidak mempercayai itu! "Dia berbohong Shura-sama! Sesshoumaru-sama tidak mungkin membuang anda!" teriak Jaken tiba-tiba sekuat tenaganya.


Shura tidak mengatakan apapun, dia hanya mengangkat kepala menatap Jaken dalam diam.


"Anda adalah satu-satunya anaknya! Pewarisnya! Beliau tidak mungkin membuang anda!" Lanjut Jaken lagi berusaha keras menyakinkan Shura.


Tsubasa yang juga ada di sana tidak mengatakan apapun, dia hanya diam membisu melihat apa yang terjadi dengan penuh kebingungan.


"Dia tidak menginginkanmu, Shura." Ujar Akihiko lagi tiba-tiba. "Sejak awal, dia tidak pernah menginginkanmu..."


Ucapan Akihiko kembali membuat Shura mengangkat wajah menatap penguasa tanah selatan itu. Dia ingin sekali mengeluarkan suara untuk membantah apa yang dikatakannya, namun, dia tidak bisa. Dia tidak bisa menemukan suaranya, kerongkongannya terasa sangat kering.


"Akihiko-sama, hamba mohon, hentikan pembicaraan ini. Hamba mohon.." Pinta Tsubasa tiba-tiba. Dia tidak tahan dengan pembicaraan ini lagi. Meski sangat kuat, pintar dan dewasa, Shura tetaplah seorang anak kecil. Dia tidak mungkin dapat menghadapi kenyataan ini dengan santai.


Namun, Akihiko tidak mempedulikan permintaan Tsubasa, sebab dia memang sudah memutuskan bahwa apapun yang terjadi, dia tidak membiarkan Shura kembali ke barat lagi. "Dia tidak pernah mencintaimu, dia membencimu, Shura. Anjing itu membenci—"


"Keluar.." Ujar Shura tiba-tiba memotong ucapan Akihiko sambil menundukkan kepala ke bawah.


"Shura-sama.." Panggil Tsubasa dan Jaken pelan, kekhawatiran memenuhi hati mereka melihat sikap inuyoukai kecil di depan mereka


"Keluar dari sini!" Teriak Shura tiba-tiba sambil mengangkat kepala ke atas menatap mereka semua. Mata emasnya telah berubah menjadi merah darah karena marah. Dia tidak ingin mendengar lagi, dia tidak mau mengetahui apapun lagi, dia ingin sendiri!


Akihiko, Jaken dan Tsubasa terdiam saat mendnegar teriakan penuh kemarahan Shura. Melihat ekspresi wajahnya sekarang, mereka sudah tahu betapa marah dan sedihnya dia. Mata merahnya itu berisikan kemarahan, namun juga tidak dapat dipungkiri, ada kesedihan.


"Pikirkanlah baik-baik kataku barusan.." Ujar Akihiko tiba-tiba dan berjalan menjauh. Dia tahu, Shura pasti tahu apa yang dikatakannya benar, tidak peduli bagaimana dia berusaha untuk menyangkalnya. Tujuan kedatangannya menemui Inuyoukai kecil itu sudah tercapai, meski hal ini akan membuat Shura membencinya, dia tidak peduli. Dia tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang pernah dia lakukan dulu.


Melihat Akihiko berjalan keluar, Tsubasa segera berdiri dan mengejarnya. Dia tidak mengerti kenapa Akihiko bersikap seperti ini tiba-tiba. Tidak hanya melukai Shura, dia kini bahkan ingin merebutnya dari Seshoumaru. Apa yang sesungguhnya terjadi?


"Shura -sama.." Panggil Jaken pelan penuh kekhawatiran sambil menatap tuan mudanya.

__ADS_1


"Keluar Jaken. Tinggalkan aku sendiri." Perintah Shura lagi.


Jaken ingin menolak, namun, akhirnya dia menuruti perintah itu, sebab dia tahu, Shura tidak akan mungkin mengubah keputusannya. Dengan pelan, youkai katak itu berdiri dan berjalan keluar.


Sepeninggalan mereka semua, saat dia tinggal sendirian dalam kamarnya, Shura membaringkan badannya kembali ke atas futon, mengabaikan rasa sakit yang menyerangnya. Dia mengangkat kedua tangan menyusuri rambut dan menutup mata.


"Dia tidak pernah mencintaimu, dia membencimu, Shura."


Ucapan Akihiko itu terlintas dalam kepala Shura. Tidak peduli betapa kerasnya dia berusaha melupakannya, ucapan itu terus tergiang dalam kepalanya.


Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.


Kalimat itu tiba-tiba terlintas dalam kepalanya. Youkai adalah makhluk tanpa perasaan. Dia dan Ayahndanya adalah youkai, makhluk tanpa perasaan, karena itu, dia tidak memerlukan perasaan. Dia tidak memerlukan cinta. Bukankah sejak awal dia sudah tahu, bagi ayahandanya dia tidak lebih dari alat. Sejak awal, bagi ayahandanya keberadaannya pasti tidaklah begitu penting.


Namun...


Kenapa? Kenapa hatinya terasa sangat sakit? Kenapa saat mendengar ayahandanya tidak mencintainya, saat mendengar ayahandanya telah membuangnya, dia merasakan kesakitan ini? Rasa sakit yang sangat menyesakkan, bagaikan ada yang meremas hatinya dengan begitu kuat. Dia tidak mengharapkan cinta ayahandanya, dia tidak mengharapkannya! Jadi kenapa dia merasakan rasa sakit ini? Mengapa?


....xOxOx....


"Akihiko-sama! Tunggu!" panggil Tsubasa berusaha menghentikan Akihiko yang berjalan di depannya. Namun, Akihiko tidak berhenti dia tetap berjalan.


"Akihiko-sama! Berhenti!" teriak Tsubasa keras tiba-tiba.


Suara teriakkan Tsubasa yang sangat keras memanggilnya berhasil membuat Akihiko berhenti. Dia membalikkan wajahnya menatap selirnya itu. Tsubasa tidak pernah berteriak padanya, Tsubasa selalu menjaga suaranya tetap rendah saat berbicara padanya, namun sekarang dia berteriak padanya. Mata biru langit Akihiko bertemu mata merah Tsubasa, dan yang dapat dilihatnya dari mata merah itu hanyalah dua, kebingungan dan kesedihan.


"Mengapa anda melakukan ini? Kenapa anda mengatakan hal itu pada, Shura-sama?" tanya Tsubasa pelan.


"Aku tidak ingin dia menjadi seperti anjing itu." Jawab Akihiko tanpa keraguan sedikit pun dan langsung membuat Tsubasa terdiam. "Dia terlalu mirip dengan anjing itu. Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi anjing itu yang dingin dan tidak berperasaan."


"Akihiko-sama..." panggil Tsubasa pelan.


"Shura sudah tahu akan Rin. Dia ingin meminta penjelasan akan siapa Rin sebenarnya pada anjing itu," potong Akihiko pelan. Mata Tsubasa langsung terbelalak karena terkejut, tidak mempercayai apa yang dikatakannya. "Dan aku tidak mengijinkan itu terjadi...."


Tsubasa hanya diam membisu tidak tahu harus mengucapkan apa.


"Dia mencintainya, Tsubasa. Jauh dalam hatinya, Shura mencintai Rin meski dia tidak bisa mengingatnya. Obi rin yang selalu digenggam dan dilihatnya setiap hari adalah buktinya," lanjut Akihiko dan terdiam sejenak. "Anjing itu pasti akan memberitahu segalanya pada Shura. Kenyataan sesungguhnya. Anjing itu tidak pernah menginginkan Shura sejak awal."


"Siapa yang mengatakan Sesshoumaru-sama tidak pernah menginginkan Shura-sama!" potong Jaken tiba-tiba dan membuat Akihiko serta Tsubasa menolehkan wajah menatapnya yang ada di belakang mereka.


"Kau tahu siapa Shura-sama sebenarnya, kan? Beraninya kau mengatakan Sesshoumaru-sama tidak menginginkan Shura-sama! Tidak mencintainya?!" lanjut Jaken lagi sambil menatap Akihiko dengan tajam penuh kemarahan. Tidak ada ketakutan sedikit pun dirasakannya sekarang, kemarahan telah membuatnya lupa bahwa yang sedang dihadapinya sekarang adalah youkai penguasa tanah selatan.


Akihiko membalas tatapan mata Jaken. "Justru karena aku tahu siapa Shura sebenarnya, aku yakin anjing itu membencinya.."


"Apa maksudmu?!"


....xOxOx....


Dua hari telah berlalu semenjak kejadian itu. Berita telah menyebal ke mana-mana, mengenai Shura yang kini menjadi pewaris tanah selatan dan juga Sesshoumaru yang telah membuangnya. Tidak seorang pun penghuni istana selatan yang mengatakan sepatah kata pun akan hal itu, sebab jauh dalam hati mereka, mereka sudah bisa menduganya.


Luka disekujur badan Shura sudah mulai sembuh, namun, dia tetap tidak mengijinkan siapa pun memasuki kamarnya. Dia ingin sendiri, dan hal itu membuat Jaken serta Tsubasa sangat khawatir.


"Shura-sama.." panggil Tsubasa dari luar kamar Shura, "Bolehkah hamba masuk?"


Tidak ada jawaban.


"Shura-sama! Hamba mohon, biarkanlah hamba masuk!"pinta Jaken yang juga ada di luar.


Tetap tidak ada jawaban.


"Shura-sama! Hamba mohon!" panggil Jaken lagi sambil berlutut dan menangis memohon.


Melihat hal itu, Tsubasa menarik napasnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Namun, tiba-tiba saja suara Shura yang berada dari balik pintu shoji kamarnya terdengar. "Masuklah kalian berdua."


Jaken langsung tersenyum bahagia mendengar ucapan Shura itu. " Terima kasih, Shura-sama!" balasnya gembira sambil membuka pintu kamar Shura, sedangkan Tsubasa hanya bisa bernapas lega karena Shura akhirnya bersedia menemui mereka.


Saat Jaken dan Tsubasa melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kamar tersebut, mereka melihat Shura sedang berdiri menatap langit musim dingin dari jendela kamar yang terbuka. Wajahnya tidak berekspresi seperti biasa.


"Sampaikan pada Akihiko-sama... Aku tidak akan menjadi anaknya." Ujar Shura tiba-tiba tanpa menolehkan kepala sedikit pun pada Jaken dan Tsubasa.


"Shura-sama.," panggil Tsubasa pelan, sedangkan Jaken segera berteriak penuh semangat. "Kau dengar itu, wanita! Shura-sama tidak akan menjadi anak dari serigala itu."


"Meski Ayahanda membuangku, tidak menginginkanku, dan membenciku... Aku tidak akan pernah menjadi Shura dari selatan. Selamanya, aku hanya akan menjadi Shura dari barat." Lanjut Shura tanpa mempedulikan Jaken.


Tsubasa hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Namun, saat melihat mata Shura, dia akhinya mengangguk kepala menandakan dia mengerti. Mata yang menatapnya tidak akan berubah, Itu adalah mata tanpa keraguan akan suatu keputusan-tatapan mata yang sama dengan tatapan mata seorang gadis manusia yang dulu pernah dilihatnya.


"Lalu Jaken.. " panggil Shura sambil menolehkan kepalanya menatap Jaken.


"Iya, Shura-sama." Balas Jaken gembira.


"Mana obi-ku? Mana obi Rin milikku?"


Jaken langsung mematung mendengar pertanyaan Shura, senyum di wajahnya menghilang. "H-hamba tidak tahu..," jawab Jaken terbata-bata. "Hamba tidak mengambilnya. Akihiko.. Serigala itu yang mengambilnya."

__ADS_1


Shura langsung diam membisu mendengar jawaban Jaken dan mengepalkan tangannnya. Mata emasnya berubah menjadi merah karena kemarahan. Obi itu ada pada Akihiko. Obi Rin ada pada Akihiko. Dan menilai apa yang terjadi, Shura tahu, Akihiko tidak mungkin mengembalikan obi itu padanya lagi. Dia telah kehilangan semua yang dimilikinya sekarang karena dia terlalu—lemah.


Mata merahnya kembali berubah menjadi emas saat pikiran itu merasukinya. Ayahandanya benar, dia terlalu lemah. Andaikan saja dia lebih kuat, ini semua tidak akan terjadi, dia tidak akan terperangkap di sini, dia tidak akan kehilangan obi itu, dan yang terpenting, dia tidak akan dibuang Ayahandanya.


Dia terlalu lemah.


"Shura-sama..." Panggil Jaken khawatir saat melihat perubahan sikap tuan mudanya, begitu juga dengan Tsubasa.


"Keluar." Perintah Shura tiba-tiba.


"Shura-sama.." Panggil Jaken lagi, namun tidak ada jawaban. Dengan pelan, sambil menghela napas, akhirnya youkai katak itu memutuskan untuk keluar juga. Dia tidak punya kemampuan untuk mengubah keputusan tuan mudanya ini, dia yakin itu.


Tsubasa yang juga tidak tahu harus berbuat apa pun segera berjalan mengikuti Jaken. Namun, saat kakinya akan melangkah keluar dari pintu shoji kamar tersebut, dia membalikkan mata merahnya menatap Shura lagi. Melihat ekspresi wajah Shura, dia tidak dapat menahan kesedihannya. Inuyoukai di depannya masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa, tapi, dia sudah dihadapkan dengan masalah yang berat seperti ini.


"Keluarlah.." Perintah Shura lagi sambil menatap lurus Tsubasa. Dia bisa merasakan keprihatinan dari Tsubasa, hanya saja, dia tidak memerlukan itu.


Sambil menutup matanya, Tsubasa kembali mengangguk kepala dengan pelan dan berjalan keluar.


Saat pintu shoji kamarnya telah tertutup, saat dia telah tinggal sendirian, Shura menatap kedua telapak tangan dan mengepalnya dengan pelan, berusaha membayangkan bahwa obi merah muda itu masih ada di tangannya. Namun, dia tidak bisa berbohong, obi itu sudah tidak ada di sana, satu-satunya bukti akan keberadaan gadis itu sudah tidak ada.


Shura kemudian menutup mata. Kebingungan menyelimutinya, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak ingin berada di sini? Dia ingin pulang ke barat? Namun, Ayahandanya sudah tidak menginginkannya? Beliau telah membuangnya, ke mana dia harus pergi sekarang?


Takut.


Dia takut. Dalam hatinya, dia merasakan apa yang dimaksud dengan takut untuk pertama kalinya. Dia tidak bisa melihat ke depan lagi, semuanya sangat gelap.


Sendirian.


Dia sendirian sekarang. Tidak tahu harus mempercayai siapa, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Hilang, dia telah tersesat.


Betapa berharapnya dia obi itu masih ada di tangannya sekarang, sebab dia tahu, obi itu pasti dapat menenangkannya. Kehangatan yang dirasakan saat mengenggam obi itu, kehangatan saat dia mendekapnya di dada pasti dapat mengusir semua yang dirasakannya.


"Shura-sama, hamba masuk." Ujar Tsubasa tiba-tiba membuyarkan lamunan Shura.


Belum sempat Shura mengucapkan sepatah kata pun, pintu shoji kamarnya telah terbuka. Tsubasa tidak mengucapkan apa pun, dia berjalan masuk mendekatinya dengan langkah kaki yang pelan.


"Apa maumu?" tanya Shura dengan wajah tanpa ekspresi saat selir penguasa tanah selatan itu tiba di depannya.


Tsubasa tidak menjawab pertanyaan Shura. Di mengangkat kedua tangannya dan menyerahkan sesuatu pada Shura.


Sebuah pita—pita berwarna merah.


Kebingungan, Shura mengangkat wajah menatap Tsubasa.


"Untuk anda Shura-sama." Ujar Tsubasa tiba-tiba.


Shura semakin bingung. Dengan pelan dia mengangkat tangannya menyentuh pita tersebut, sedangkan mata emasnya menatap lekat-lekat benda itu, memeriksanya.


"Ini adalah miliknya... Ini adalah pita milik Rin-sama..."


Mata Shura langsung terbelalak, dan seketika itu juga dia kembali mengangkat wajah menatap Tsubasa.


"Kau mengenalnya?" tanya Shura.


Tsubasa tersenyum kecil dan mengangguk kepala dengan pelan. "Ya, hamba mengenalnya, Shura-sama."


"Beritahu aku! Siapa dia?! Siapa Rin itu sesungguhnya!? Apa hubungannya dengan Ayahandaku!?" tanya Shura tiba-tiba sambil mengangkat tangannya mencengkram kedua lengan Tsubasa dengan kuat.


Tsubasa bisa merasakan kesakitan dari genggaman Shura. Namun dia tidak menunjukkannya, sebab, dari pada sakit, dia lebih merasakan kesedihan. Pertanyaan, teriakkan, kebingungan serta keputusasaan, serta kesedihan, semua terlihat dengan begitu jelas di wajahnya kecil itu sekarang. Betapa inginnya dia memberitahu siapa sebenarnya Rin itu pada Shura. Namun dia tidak bisa, benar-benar tidak bisa.


"Maafkan hamba. Hamba tidak bisa menjawabnya Shura-sama." Jawab Tsubasa kemudian sambil menundukkan kepala, mengalihkan matanya dari wajah Shura.


Melihat sikap dan juga kesedihan di wajah Tsubasa, Shura segera melepaskan tangannya. "Akihiko-sama mengenalnya juga, kan?" tanyanya.


Tsubasa mengangguk kepalanya.


"Namun, dia sama denganmu, kan? Dia tidak akan menjawabnya."


Tsubasa kembali mengangguk kepala dan membuat Shura berhenti bertanya. Tidak akan ada yang menjawab pertanyaanya.


"Shura-sama," panggil Tsubasa tiba-tiba. "Kukembalikan pita itu pada anda, sebab pemilik pita itu memang seharusnya adalah anda."


"Apa maksudmu?"


"Jangan bertanya padaku seperti itu, Shura-sama." Balas Tsubasa pelan sambil tersenyum kecil. "Hanya ini yang bisa hamba beritahu pada anda."


Shura tidak bertanya lagi, dia menurunkan kepalanya menatap pita di tangannya. Pita di tangannya adalah pitanya—pita Rin.


Dengan pelan, inuyoukai kecil itu mengangkat pita itu dan menciumnya dengan pelan. Sebuah senyum kecil terlintas di wajahnya. Kehangatan. Dia bisa merasakan kehangatan itu lagi. Kelegaan memenuhi hatinya. Bukan ilusi, gadis itu, Rin selamanya tidak akan pernah menjadi ilusi baginya.


Melihat senyum Shura, Tsubasa tersenyum kecil dan membungkukkan badannya, mempermisikan diri. Dia tidak perlu berada di kamar ini lagi. Tidak peduli bagaimana dia berusaha untuk menghibur dan menyemangati inuyoukai kecil di depannya, dia tidak akan berhasil. Tidak akan ada yang bisa berhasil. Hanya keberadaan Rin yang bisa, keberadaan Rin yang ada dalam pita itu yang bisa—ikatan tidak terputuskan yang ada diantara mereka.


"Baiklah, Shura-sama. Hamba mohon diri, silakan berisirahat." Ujar Tsubasa pelan.

__ADS_1


Shura mengangguk kepala dan membiarkan Tsubasa berjalan keluar, dia tidak bertanya apa pun lagi. Namun saat Tsubasa akan membuka pintu kamar Shura, dia kembali menolehkan kepalanya pada Inuyoukai kecil itu dan tersenyum kecil. "Hamba hampir melupakannya.. Selamat ulang tahun yang ke sembilan, Shura-sama..."


....xOxOx....


__ADS_2