![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Penghujung musim gugur di mana tidak ada lagi daun hijau seperti musim panas di pohon. Hutan kini penuh dengan coklatnya daun yang gugur dari rantingnya serta hawa dingin yang berhembus tidak terhentikan. Berjalan pelan dan penuh kewaspadaan, Shura memusatkan pandangannya ke sekeliling.
"Kenapa kita harus bersembunyi seperti ini lagi?" tanya Inuyasha pelan. Ada kerutan di dahinya, dia merasa apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu saat perang barat-utara terjadi kembali terulangi.
"Jawabanku tetap sama, Inuyasha," balas Miroku tidak peduli. Dia yang ada di depan Inuyasha tidak menoleh pandangan ke belakang sedikitpun pada inuhanyou sahabatnya. "Kita tidak mau menarik perhatian."
"Kita tidak bisa melawan semua youkai yang ada, Inuyasha." Tambah Sango yang ada di samping Miroku. Seperti halnya Miroku, dia juga tidak menoleh pada Inuyasha. Taijiya itu dengan pelan mengangkat tangan mengelus Kirara, youkai kucing di atas bahu yang berbunyi setuju dengan ucapannya.
Kohaku yang berada pada barisan paling depan dalam rombongan hanya tesenyum kecil mendengar pembicaraan tersebut. Inuyasha benar-benar tidak berubah dari dulu, dan untuk selamanya, dia pasti juga tidak akan berubah.
"Aku tidak tahu kau ini terlalu bodoh atau terlalu berani, Inuyasha," ujar Shippo yang ada di samping Kohaku sambil menoleh ke belakang menatap heran Inuyasha. "Atau kau buta?"
"Abaikan saja si bodoh ini." Ujar Kagome kemudian. Dia tidak peduli dengan pandangan tajam Inuyasha yang kini tertuju padanya di samping.
Shura dan Tsubasa yang berada dalam tengah rombongan tidak mengatakan apa-apa. Mereka juga tidak bermaksud sedikitpun untuk ikut dalam pembicaraan. Apa yang dikatakan Miroku dan Sango benar—mereka tidak boleh menarik perhatian, dan juga, mereka tidak akan dapat melawan semua youkai yang ada.
Waktu hanya berlalu tidak lama, tapi perubahan telah terjadi dengan luar biasa di tanah barat yang biasanya selalu tenang dan damai ini. Di atas langit, di atas tanah maupun dalam tanah—youkai merajalela. Mereka tidak bersembunyi dan menampakkan diri mereka dengan terang-terangan sekarang.
"Tapi, aku tidak menyangka keadaan separah ini sekarang," menghela napas, Shippo penuh kesedihan. "Ini bahkan lebih parah dari informasi Sora."
Inuyasha dan yang lainnya terdiam mendengar ucapan Shippo. Saat masih dalam tanah netral, mereka memang mendengar informasi bahwa youkai di mana-mana dan menyerang manusia. Hanya saja, melihat dan mendengar cukup berbeda. Mereka telah melewati beberapa desa dan juga kota yang biasanya selalu ramai, namun kini kosong dengan darah dan kehancuran di mana-mana.
"Apakah Sora tidak memilliki informasi di mana para manusia yang ditangkap berada, Shippo?" tanya Miroku pelan. Dari desa dan kota yang hancur dan penuh darah, mereka sama sekali tidak melihat adanya jenazah para penduduk. Biksu itu sungguh berharap tidak terjadi apa-apa kepada para penduduk yang tidak berdosa tersebut.
Shippo menghela napas dan menggeleng kepala. "Sora tidak tahu. Dia tidak bisa bergerak bebas. Kau sendiri lihat bukan, betapa sulit bergerak sekarang."
Inuyasha dan yang lainnya tetap diam tidak mengatakan apa-apa, mereka larut dalan pikiran mereka masing-masing. Keheninganpun memenuhi rombongan mereka.
Shura yang dari tadi diam membisu mendengar pembicaraan menatap sejenak rombongan mereka yang terdiri dari dirinya, Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Shippo, Kohaku dan Tsubasa. Dirinya bersyukur rombongan mereka tidak begitu besar, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Shiro dan yang lainnya juga ikut. Semakin besar rombongan akan semakin sulit mereka bergerak.
Wajah Shiro, terbayang dalam pikiran Shura. Dia ingat jelas ekspresi dan pandangan mata inuhanyou itu sebelum mereka berpisah. Tidak terima, kesal, marah dan kecewa—sepertinya inuhanyou itu ingin ikut. Lalu untuk Mamoru, Aya dan Maya, mereka tiga bersaudara terlihat seperti biasa walau jelas ada kekhawatiran dalam mata—menghawatirkan mereka yang berangkat. Lalu—Sakura.
"Kak Shura harus cepat pulang."
Memeluk erat Shura, Sakura tidak mau melepaskan inuyoukai itu meski di belakang mereka, Inuyasha dan Shiro berteriak keras memerintah mereka untuk melepaskan pelukan.
"Sakura, jangan memeluk si kecil itu!! Kecil, lepaskan putriku!!"
"Sakura, peluk ayah atau ibu saja!! Jangan peluk bocah itu!!"
Shura tidak mendorong Sakura menjauh, dia juga tidak peduli dengan pandangan tajam Inuyasha dan Shiro yang terarah padanya. Menatap sepasang mata emas besar yang menahan air mata, dia membiarkan tangan kecil itu memeluknya.
Hangat.
Badan kecil Sakura selalu hangat, dan baunya juga bisa menenangkan dirinya. Sampai hari ini, Shura masih tidak mengerti kenapa inuhanyou kecil ini bisa memberikan efek seperti ini padanya.
"Sakura akan menunggu kakak. Jadi, kakak harus segera pulang dengan pedang tensaiga."
Air mata Sakura mengalir turun menuruni pipinya. Kekhawatiran serta kesedihan karena akan berpisah terlihat jelas dalam mata emasnya, dan Shura yang melihat tidak tahu kenapa merasa—senang. Karena itu, mengangkat tangan kanannya, dia menghapus air mata yang ada. "Aku akan pulang secepatnya."
"Jauhkan tanganmu!!!"
"Lepaskan adikku!!!
"—Inuyasha, osuwari. Shiro, berhenti."
"Apa yang anda pikirkan, Shura-sama?" tanya Tsubasa pelan. Dia yang dari tadi diam membisu membuka mulutnya untuk pertama kali sambil menatap Shura, seulas senyum kecil mengembang di wajah cantiknya.
"Tidak ada." Jawab Shura singkat tanpa menoleh wajahnya dari jalan di depan.
Tsubasa hanya tersenyum semakin lebar. Shura mungkin tidak sadar, tapi dirinya yang dari tadi berada di samping inuyoukai kecil itu jelas bisa melihat jelas. Sangat tipis hingga hampir tidak terlihat, tapi ada seulas senyum di wajah datar tanpa emosi itu barusan. Kepada siapa senyum itu ditujukan?—youkai burung itu sebenarnya juga bisa menebaknya dalam hati.
__ADS_1
Ditatap terus dengan penuh senyum oleh Tsubasa, Shura tetap tidak menoleh. Dirinya sesungguhnya tidak mengerti kenapa youkai burung itu kini berada dalam rombongan mereka sekarang. Keberadaannya memang pasti akan sangat membantu, karena dia sendiri tahu betapa kuatnya Tsubasa, hanya saja pertanyaan tidak terjawab itu terus melintas dalam pikiran.
"Hamba ingin membalas budi." jawab Tsubasa pelan. Dia tahu, Shura bingung dengan keberadaannya dalam rombongan ini sekarang. Waktu yang dia habiskan besama inuyoukai ini di istana tanah selatan dulu membuatnya cukup dapat menebak pikiran sang pewaris tanah barat yang selalu tanpa emosi tersebut.
"Membalas budi?" menoleh menatap Tsubasa, kebingungan memenuhi mata emas Shura walau wajahnya tetap datar tanpa emosi.
Tsubasa tertawa pelan dan mengangkat kepala menatap langit musim gugur di atas. "Iya. Kepada ibu kandung anda—Rin-sama."
Jawaban Tsubasa membuat Shura tertegun sejenak. Inuyoukai itu tidak tahu apa hubungan antara ibu kandungnya dengan Tsubasa, tapi, dia selalu merasa youkai burung itu sangat menghormati dan menghargai keberadaan beliau.
Tawa Tsubasa beubah menjadi senyum, dia tahu Shura pasti bingung dengan jawabannya. Tapi, memang itulah kenyataannya. Rin dalam hidupnya adalah saingan cintanya, wanita yang memiliki hati pria yang dicintainya. Namun, dalam hidupnya jugalah, Rin adalah satu-satunya makhkuk hidup yang melihat dirinya dan menginginkan dia bebas serta bahagia.
Keberanian meninggalkan Akihiko dan kedamaian dalam hatinya sekarang, Rinlah yang memberikannya walau dirinya terlambat sepuluh tahun untuk meraihnya. Jadi, bagaimana dia tidak berhutang budi?—selamanya, wanita manusia itu akan selalu menjadi sosok yang sangat penting dan tidak tergantikan dalam hati Tsubasa.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi. Dalam diam mereka kembali melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa meter mereka ambil, baik Shura, Inuyasha dan Tsubasa bisa merasakan aura dari banyak youkai yang mengarah ke mereka dari depan maupun belakang.
"Berhenti!" ujar Inuyasha cepat. "Ada youkai yang menuju kemari."
Bersamaan dengan ucapan Inuyasha, Shura, Kagome dan yang lainnya segera menyembunyikan diri. Ada keanehan dirasakan mereka, sebab mereka telah menyembunyikan aura keberadaan mereka sejak awal, ditambah lagi dengan bubuk untuk mengacaukan indra penciuman youkai dari Kohaku yang mereka gunakan, keberadaan mereka terdeteksi tidaklah begitu mudah.
Dari tempat bersembunyi mereka, Shura dan yang lainnya bisa melihat sejumlah besar youkai yang melaju dari depan dan juga belakang tempat di mana mereka berada. Namun, suara tidak asing seseorang dengan seketika membuat mereka tertegun tidak percaya.
"Sialan!! Mati kalian!! Sankontesso!!!"
Di depan pasukan youkai yang melaju dari belakang, sosok seorang inuhanyou berkimono merah berlari sambil menyerang dan memaki para youkai yang menyerangnya.
"Shiro??!!!"
....xOxOx....
Tidak mengijinkan Mamoru, Aya, Maya maupun youkai di tanah netral mendekatinya, Sakura duduk sendirian di beranda kamar menatap taman di depan. Wajah manis yang biasanya selalu tersenyum sangat cemberut sekarang, sebab, bagaimana bisa mereka semua menghentika niatnya untuk menyusul Shiro, kakaknya?
Tidak ada orang yang sadar bahwa sesaat Shura dan yang lainnya meninggalkan desa tersembunyi tanah netral, Shiro mengikuti. Inuhanyou itu hanya meninggalkan sebuah pesan kepada Mamoru, Aya dan Maya untuk menjaga Sakura dalam kamar. Kepanikan dengan segera memenuhi mereka semua, namun mereka juga tidak dapat berbuat banyak. Keadaan sekarang sangat tidak menentu serta berbahaya, dan tidak akan mudah juga bagi youkai tanah netral yang lemah mengejar mereka yang telah meninggalkan desa seharian.
Sakura sangat marah sekarang, sebab dia merasa telah ditipu Shiro. Sesaat setelah Shura dan yang lainnya meninggalkan desa, Shiro meminta dirinya untuk tidur dan beristirahat dalam kamar. Tapi, dia tidak menyangka saat dia bangun keesokan harinya, sosok kakak kandungnya telah menghilang dari desa.
Dirinya yang tertidur pulas karena pengaruh wewangian yang dibakar, serta Mamoru, Aya, Maya dan yang lainnya tidak megunjungi kamar mereka meski seharian dirinya tidak terlihat—Sakura merasa kakaknya telah lama menyiapkan rencana ini.
Dengan alasan mereka ingin sendiri dan tidak akan ikut makan malam sebab sudah ada makanan dalam kamar, Shiro dengan suksesnya mengelabui Mamoru dan yang lainnya. Mungkin wajahnya yang penuh kesedihan cukup menyakinkan semua yang melihatnya—Sakura tidak mengerti bagaimana bisa kakaknya itu memanfaatkan dirinya seperti ini??
Menutup mata, Sakura berteriak keras penuh kekesalan. "Kak Shiro jahat!!!!"
Menarik napas panjang berusaha menenangkan amarah dalam hatinya, Sakura kemudian membuka mata. Lalu, sesuatu menarik perhatiannya.
Tidak jauh di depannya, di atas tanah dalam taman, Sakura bisa melihat sesuatu yang berkilau. Rasa penasaran yang luar biasa segera memenuhi hati inuhanyou kecil tersebut. Tanpa disadarinya, dia telah meloncat turun dari beranda tempatnya duduk dan berlari mendekat.
Mata emas Sakura bisa melihat apa benda berkilau tersebut, yakni; sebuah batu permata. Berbentuk bulat seperti bola dengan warna hitam keunguan, permata tersebut berkilau ditimpah cahaya matahati musim gugur.
Mengangkat batu permata tersebut, Sakura menatapnya lekat. Seulas senyum memenuhi wajahnya. "Cantik sekali..."
....xOxOx....
"Sankontesso!!"
Berteriak sambil menyerang para youkai yang berusah menyerang dan menangkap dirinya, Shiro berlari secepat yang dia bisa. Mata emasnya bisa melihat puluhan youkai yang mengejarnya di belakang. Bagaimana bisa dia berada dalam keadaan sekarang ini?
Shiro telah mengikuti rombongan Shura dari belakang. Menjaga jarak agar dirinya tidak ketahuan, dia bermaksud baru menunjukkan diri saat mereka melawan para youkai. Setidaknya jika dia muncul sebagai bala bantuan, baik ayah maupun ibunya pasti tidak akan menyalahkannya. Tapi, kenapa justru dia yang ketahuan para youkai duluan?
"Sankontesso!!" melancarkan serangannya lagi, Shiro mulai kewalahan menghadapi musuh yang menyerang. Mereka terlalu banyak untuk dia lawan sendiri, terlebih lagi dia melihat sejumlah besar youkai yang menuju ke arahnya dari depan.
"Kaze no kizu!!!"
__ADS_1
Serangan kuat meluncur menyerang para youkai yang berada di depan Shiro, dan seketika juga inuhanyou itu tidak bisa menghentikan senyumnya. Menoleh ke arah datangnya serangan, dia memanggil penolongnya. "Ayah!!!!"
Di kejauhan Shiro bisa melihat Inuyasha dan Kagome berlari mendekat, begitu juga dengan Shura, Miroku, Sango, Kohaku, Shippo dan Tsubasa. Namun kegembiraan dalam hatinya tidak bertahan lama saat dia melihat ekspresi wajah ibunya. Seketika dia tahu, selamat dari para youkai ini, dia akan masuk ke dalam bahaya besar lagi.
"Sang pewaris tanah barat!!"
"Itu putra Sesshoumaru!!"
"Tangkap dia!! Kita telah menemukan sang pewaris!!"
Para youkai yang melihat Shura berteriak keras penuh kegembiraan, dan sosok Shiro seakan terlupakan. Para youkai yang tadinya menuju ke arah inuhanyou itu dengan segera merubah arah menuju sang pewaris tanah barat yang telah lama dicari mereka.
Shura, Inuyasha dan yang lainnya tahu, pertarungan tidak terhindari lagi. Mengancungkan senjata di tangan, mereka melesat untuk melawan musuh yang mengincar mereka di depan.
Sango meloncat ke atas melempar hiraikotsu, bumerang raksasanya, begitu juga dengan Kohaku yang melempar Kusarigama senjatanya. Untuk Kagome, dia terus melepaskan anak panahnya, sedangkan Miroku, biksu itu melemparkan kertas mantranya. Mereka yang bisa melakukan pertarungan jarak jauh dan juga merupakan manusia berusaha menjaga jarak karena tidak akan mudah menghadapi musuh jika mereka masuk ke dalam kerumunan para youkai.
Berbeda dengan Shura, Inuyasha dan Tsubasa yang percaya diri dengan kekuatan mereka, tanpa berpikir panjang mereka langsung melesat maju dengan senjata melawan youkai di depan mata. Hanya Shippo yang masih berdiam diri di tempat persembunyian. Youkai rubah itu kebingungan dengan musuh yang begitu banyak di depan mata. Daripada melawan, dia lebih berpikir mencari waktu yang tepat untuk melempar bom asapnya agar mereka semua bisa melarikan diri.
Serangan demi serangan bertemu, Inuyasha yang kemudian berhasil menyusul dan berada di samping Shiro berteriak keras. "Shiro, apakah hanya kau sendiri atau masih ada yang lain?!"
Shiro menelan ludah mendengar pertanyaan ayahnya. Dia bisa merasakan kemarahan dalam suara ayahnya sekarang—dirinya benar-benar berada dalam masalah besar sekarang. "Tidak. Hanya aku sendiri."
Inuyasha bernapas lega mendengar jawaban Shiro sambil menyerang youkai di depan. Setidaknya Mamoru, Aya, Maya dan terutama Sakura tidak berada di sini, sebab dengan jumlah youkai yang begitu banyak, akan sulit baginya melindungi mereka.
Shura dan yang lainnya berusaha keras melawan dan membebaskan diri dari para youkai. Namun, karena keributan dari pertarungan yang ada, para youkai yang ada di dalam hutan menyadari keberadaan mereka. Bersamaan, mereka melesat ke medan pertempuran, hingga dalam waktu beberapa menit saja, mereka telah berhasil mengepung rombongan sang pewaris tanah barat.
"Sial!! Mereka tidak ada habisnya!!" teriak Shippo melihat musuh yang makin lama makin banyak tidak peduli berapa banyak telah mereka bunuh. Dirinya tidak bisa bersembunyi lagi karena kemunculan para youkai, karena itu, youkai rubah tersebut berlari ke arah Kagome dan berusaha membantu dengan api rubahnya.
Shura menyadari keadaan yang tidak menguntungkan mereka. Dia tahu, mereka tidak bisa melawan terus dalam keadaan seperti ini dan jalan satu-satunya hanyalah melarikan diri. Memusatkan youkinya, inuyoukai itu bermaksud kembali ke sosok aslinya. Jika dia menggunakan badan besarnya menerobos kepungan musuh dan membuka jalan, mereka semua pasti bisa meloloskan diri.
Asap merah muncul mengelilingi badan Shura. Perlahan wajah inuyoukai itu mulai berubah, namun, tiba-tiba saja, dari luar kepungan para youkai ada, serangan bertubi-tubi melesat menyerang musuh dari satu sisi.
Serangan tersebut berupa panah suci dan juga kertas mantra yang sangat banyak. Kematian tidak terhindari bagi youkai-youkai tersebut karena mereka tidak menyadarinya sama sekali, tapi, karena itu jugalah jalan terbuka untuk Shura dan yang lainnya.
"Di sini!!!!"
Suara teriakan seorang pria terdengar keras, dan di kejauhan depan jalan yang terbuka, Shura dan yang lainnya bisa melihat seorang pria melambaikan tangan.
Tidak membuang waktu, Shippo yang menyadari hal tersebut segera melempar bom asapnya untuk mengelabui pandang youkai yang mengepung mereka. Memaanfatkan keadaan yang tercipta, Shura yang berhenti kembali ke sosok aslinya serta Inuyasha dan lainnya segera berlari menuju arah pria tersebut.
Para youkai yang kemudian sadar dan berusaha mengejar Shura serta yang lainnya tidak bisa berbuat banyak, sebab panah suci serta kertas mantra yang terus menghujani mereka.
"Ikuti aku!!" teriak pria tersebut sambil berlari saat melihat Shura dan yang lainnya telah berhasil lolos dari kepungan para youkai.
Shura dan yang lainnya tidak bertanya banyak karena situasi yang tidak mendukung, tapi mereka bisa melihat jelas sekarang sosok pria tersebut. Dia adalah seorang manusia separuh baya, dan dari pakaiannya, terlihat jelas dia adalah seorang taijiya.
"Arata-san?" suara penuh kebingungan Kohaku kemudian terdengar jelas. Menatap pria tersebut, dia jelas mengenalnya. Pria yang menolong mereka sekarang jelas merupakan Arata, pemimpin dari para taijiya di jepang.
....xOxOx....
"Kau yakin?"
"Hamba yakin, Asano-sama," jawab seorang youkai penuh senyum menatap Asano, sang pemimpin tanah timur di depannya. "Tempat itu adalah desa tersembunyi youkai tanah netral."
Asano tersenyum mendengar jawaban yang didapatkannya. Hilangnya Shura dan jenazah Sesshoumaru, dia bisa menebak bahwa itu adalah ulah para youkai tanah netral. Siapa lagi yang akan menolong mereka kalau bukan tanah netral? Sejak sepuluh tahun yang lalu, tanah netral bergantung pada tanah barat. Jatuhnya tanah barat secara tidak langsung juga berarti jatuhnya tanah netral, karena para youkai tanah netral pasti tahu, Shui tidak akan membiarkan mereka begitu saja saat dia berkuasa.
Kemungkinan Akihiko dari tanah selatanlah yang menolong Shura memanglah ada, tapi sampai saat ini, Asano tahu, youkai serigala itu tidak bergerak. Terlebih lagi hubungan Akihiko dan Sesshoumaru sejak dulu bagaikan air dan minyak, jadi tidak mungkin dialah yang mengambil jenazah inudaiyoukai tersebut.
Senyum Asano hanya semakin lebar membayangkan masa depan yang akan ada. Utara, timur, barat, netral dan terakhir; selatan. Setelah putra Sesshoumaru mereka singkirkan, maka mereka akan menyerang selatan. Karena itu tidak lama lagi, utara, barat, netral dan selatan akan bersatu di bawah Shui, dan sesuai janji mereka, jika Akiko yang nantinya menjadi penguasa tanah timur melahirkan anak untuk youkai naga tersebut, maka—cucunyalah yang kelak akan menjadi sang penguasa mutlak; sang raja youkai.
"Baiklah," ujar Asano pelan. Membalikkan badannya, dia menatap para youkai bawahannya yang berlutut menunggu perintahnya. "Saatnya kita menghancurkan netral."
__ADS_1
....xOxOx....