![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Pagi telah tiba dan Sesshoumaru yang berbaring di atas futon tidak menutup matanya semalaman. Kedua mata emas inuyoukai itu hanya terfokus menatap wanita manusia yang tertidur damai di sampingnya tidak mempedulikan waktu.
Sudah seminggu lebih berlalu dari kejadian yang menguncang kehidupan bahagia mereka, dan dalam seminggu lebih ini jugalah, dia, Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat terperangkap dalam–ketakutannya.
Wajah cantik yang selalu tersenyum indah bagaikan musim semi itu kini begitu berbeda, tidak ada lagi rona merah kelopak mawar di pipinya, yang ada hanyalah putih; pucat.
Kesehatan Rin tetap sama, tidak peduli obat dan ramuan apapun yang diberikan Jinenji, Kagome maupun Inukimi, kondisi tubuh kisaki tanah barat tetaplah lemah. Wanita manusia itu tidak dapat berlari ataupun berdiri dalam taman lagi, setiap hari, dia hanya dapat berbaring dan beristirahat di atas tempat tidur.
Mengangkat pelan tangan kanannya, Sesshoumaru mengelus lembut pipi Rin. Kulit itu masih hangat seperti biasa, dia juga masih bisa mendengar detakan jantung mereka yang seirama, walau dia juga bisa mendengar detakan kecil pada meido seki.
Perlahan, Sesshoumaru kembali menggerakkan tangannya lagi, turun ke bawah hingga menyentuh perut rata Rin. Usia kandungan anak mereka sudah sebulan, tidak lama lagi, perut rata ini akan membesar.
Pandangan mata Sesshoumaru melembut. Dia membayangkan, seperti apa rupa Rin saat perutnya telah membesar, dan seperti apa reaksinya jika merasakan anak dalam kandungannya bergerak–Rin pasti akan tersenyum dan tertawa bahagia.
Menjauhkan tangannya dari perut Rin. Sesshoumaru kemudian menggerakkan badannya dengan hati-hati. Perlahan, dia kemudian memeluk tubuh kisakinya, membenamkan wajah pada celah leher putih itu dan menghirup bau musim semi yang ada.
Namun, saat dia memeluknya, sesuatu kembali dirasakannya. Rasa sakit yang menyerang dan jantungnya berdetak tidak karuan. Seketika, suhu tubuh hangat yang dipeluknya turun sangat dratis, menjadi dingin seperti es. Detakan jantung Rin yang seiramanya semakin pelan dan pelan.
Melepaskan pelukannya, Sesshoumaru segera menatap wajah Rin. Ketakutan kembali memenuhi wajahnya saat dia melihat wajah pucat itu semakin pucat hingga bagaikan tidak ada darah. Napasnya semakin pendek hingga akhirnya berhenti.
"Miko!!!!"
Suara teriakan Sesshoumaru yang keras terdengar memenuhi istana. Kagome dan Inuyasha yang memang ditempatkan di samping kamar tidur penguasa tanah barat segera terbangun.
Kagome segera bergerak. Berdiri, dia langsung lari ke kamar sebelah. Dia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan benar, tapi jika sampai seorang Sesshoumaru berteriak seperti ini, jawabannya cuma satu; telah terjadi sesuatu pada Rin.
Yang pertama kali dilihat Kagome saat membuka pintu shoji yang tertutup adalah sosok Rin Sesshoumaru yang memeluk Rin erat.
"Rin tidak bernapas."
Ketakutan memenuhi hati Kagome. Mendekati Rin, dia segera meminta Sesshoumaru membaringkan wanita manusia itu. Memeriksa jantung Rin yang kembali berhenti berdetak, dia segera menggunakan tangannya memompa jantung wanita yang tidak sadarkan diri.
"Rin-chan, bangun!!!"
Apa yang terjadi? Kenapa ini terjadi lagi? Dimana letak kesalahan dari ini semua? Kagome tidak tahu lagi.
....xOxOx....
Rin berjalan dalam kegelapan yang tidak berujung. Kaki telanjangnya terus melangkah tanpa arah. Di sini gelap, sunyi dan juga–dingin. Tidak ada tanda kehidupan selain dirinya. Di mana ini?
Rin mengernyitkan dahinya. Dia tidak pernah tahu di mana ini, tapi, tidak tahu kenapa, tempat ini juga tidak terasa asing baginya. Sepertinya dia sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya.
"Anakku..."
Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang Rin, membuat wanita manusia itu segera membalikkan badan menghadap sumber suara. Suara yang ditangkap telinganya adalah suara teraneh yang pernah didengarnya, seperti suara seorang perempuan, tapi juga bukan perempuan, seperti anak kecil tapi juga seperti orang dewasa dan juga orang tua.
Tapi, tidak ada siapa-siapa di belakang Rin. Yang dilihat matanya tetaplah satu; kegelapan yang tidak berujung. "Siapa???" teriak Rin keras.
Tidak ada jawaban, dan itu membuat Rin menghela napas. Mungkin suara itu hanyalah khayalannya saja, dia sendiri di sini, tidak ada orang lain. Membalikkan badannya lagi, dia berniat melangkah, tapi sekali lagi, dia kembali mendengar suara itu.
"Anakku tercinta.."
Rin berhenti melangkah. Dia yakin suara yang didengarnya benar ada dan bukanlah khayalannya. Menarik napas, dia kemudian membalikkan badan ke belakang. "Siapa?"
Di belakang Rin, kini ada sesuatu, tapi sesuatu itu juga bukanlah makhluk hidup seperti manusia ataupun youkai. Yang dibelakangnya adalah cahaya–atau lebih tepatnya, sebuah bola cahaya berwarna putih keemasan yang indah.
__ADS_1
"Rinku sayang.."
Suara itu terdengar lagi, dan Rin yakin sekarang bahwa bola cahaya inilah yang berbicara itu. Menatap lekat bola cahaya itu, dia bertanya. "Ada apa anda yang memanggil Rin?"
Ada suara tawa terdengar dari bola cahaya itu. "Kau mau ke mana Rinku tercinta?" tanya suara itu lagi.
"Rin ingin ke depan." Jawab Rin sambil menunjukkan arah di mana tadi dia melangkah. Seulas senyum manis memenuhi wajahnya.
"Kenapa kau ingin ke depan?" tanya suara itu lagi.
Pertanyaan itu membuat Rin tertegun. Terdiam, dia berpikir, kenapa dia mau ke depan?–dia sama sekali tidak tahu. Mengernyitkan dahinya lagi, dia kembali menatap bola cahaya itu. "Rin tidak tahu. Apakah anda tahu?"
Bola cahaya itu kembali tertawa. "Aku tahu, karena itu aku tidak akan membiarkanmu ke sana–tidak untuk sekarang."
"Kenapa?" tanya Rin bingung.
"Rinku tercinta," panggil bola cahaya itu lagi dengan pelan. Walau suaranya aneh, Rin bisa merasakan kasih sayang dan kelembutan saat suara itu memanggilnya. "Tempat itu akan menjadi tempat yang akan membuatmu sedih dan menderita jika kau pergi sekarang."
"Begitu, ya?" gumam Rin pelan. Sejenak kemudian, dia kembali tersenyum dengan sangat manis. "Kalau begitu, terima kasih sudah memberitahu Rin."
Bola cahaya itu kembali tertawa. Ada kegembiraan memenuhi suaranya. "Rinku tercinta, kau percaya padaku?"
Rin segera mengangguk dengan senyum yang masih ada di wajah. "Percaya."
"Kenapa?"
"Rin merasa anda bukan orang jahat," jawab Rin sambil tertawa. "Dan, suara anda lembut sekali. Rin senang bisa berbicara dengan anda."
Bola cahaya itu kembali tertawa. "Aku juga sangat senang berbicara denganmu, Rinku tercinta. Kau tidak tahu sudah berapa lama aku ingin berbicara denganmu–sudah berapa lama aku ingin kau menyadari keberadaanku."
"Rinku tercinta," panggil bola cahaya itu lagi. Suaranya makin melembut. "Kau sungguh-sungguh tercinta, betapa lugu dan murninya jiwamu."
Rin tersipu malu dan menundukkan kepala ke bawah mendengar ucapan bola cahaya–bola cahaya itu sedang memujinya, kan?
"Rinku tercinta," panggil bola cahaya lagi. "Apakah kau bahagia selama ini?"
Rin mengangkat kepala dan tersenyum sangat lebar. "Tentu!! Rin sangat bahagia selama ini. Rin memiliki..."
Wajah tampan seorang laki-laki terbayang dalam pikiran Rin. Rambut perak panjang yang indah, wajahnya yang tampan, senyum kecil yang menawan dan sepasang mata yang menatapnya lembut. Namun, bersamaan dengan bayangan laki-laki itu, rasa sakit yang luar biasa dirasakan dadanya–siapa?
Jawaban Rin terhenti. Siapa itu? Siapa laki-laki itu? Apa hubungan laki-laki itu dengannya?–dengannya? Sadar, Rin bertanya pada diri sendiri, siapa dirinya? Siapa Rin?
Kebingungan, Rin menatap kembali bola cahaya, "Bola cahaya-sama, apakah anda tahu siapa laki-laki yang ada dalam pikiran Rin barusan? Lalu, siapa Rin ini?"
Bola cahaya itu diam membisu. Namun, sejenak kemudian dia kembali bertanya dengan suara yang lembut. "Rinku tercinta, siapa yang lebih penting, laki-laki itu atau kau?"
Pertanyaan bola cahaya membuat Rin kembali tertegun. Siapa yang penting? Dia tidak tahu siapa laki-laki itu, dan dia juga tidak tahu siapa dirinya sendiri–siapa lebih penting? Dia tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Tapi...
Sepasang mata emas yang menatapnya lembut. Dia hanya dapat merasa, betapa indah mata itu–betapa warna emas itu bersinar menakjubkan dan membuat hatinya terasa hangat. Siapa lebih penting–laki-laki itulah yang lebih penting.
"Laki-laki itu," jawab Rin kemudian penuh keyakinan. "Laki-laki itu lebih penting dari Rin sendiri. Bola cahaya-sama, kau tahu siapa laki-laki itu?"
Bola cahaya kembali diam. Namun, tidak tahu mengapa, Rin merasa bola cahaya itu seakan tersenyum padanya. Sejenak kemudian, suara lembut kembali terdengar. "Rinku tercinta, lihatlah perutmu.."
__ADS_1
Rin segera menurunkan pandangannya pada perut ratanya. Dia kembali tidak mengerti maksud dari bola cahaya. Namun, melihat perut ratanya, bayangan laki-laki itu muncul lagi dalam pikirannya.
Pandangan lembut di sepasang mata emas itu, senyum kecil di wajah tampan itu, tangan yang menyentuh penuh kasih sayang perut ratanya, serta suara berat yang berbisik pelan–'Anak kita.'
Rin tersadar. Dengan segera, dia mengangkat kedua tangan memeluk perut ratanya. Dia bisa melihat sekarang, ada cahaya dalam perutnya–ada kehidupan baru dalam rahimnya. Ada anaknya dengan laki-laki itu dalam dirinya; anaknya dengan Sesshoumaru.
Mengangkat kepala dengan kedua tangan yang memeluk erat perutnya, Rin kembali menatap bola cahaya. Air mata mengalir turun dari pipinya. "R-rin ingin pulang pada Sesshoumaru-sama. Rin tidak ingin berada di sini lagi.."
'Tinggal, tinggal. Sesshoumaru ini memerintahkan, jangan pernah pergi dari Sesshoumaru ini...'
Ucapan Sesshoumaru, perintahnya, permohonannya–Rin ingat semua sekarang. Dia sudah berkata, dia tidak akan kemana-mana; dia dan anak mereka akan selalu bersama dengan inuyoukai itu.
"Bola cahaya-sama, bisakah anda menunjukkan pada Rin dan anak kami jalan pulang pada Sesshoumaru-sama.." pinta Rin dengan wajah berlinang air mata.
"Rinku tercinta," ujar bola cahaya pelan penuh kelembutan. "Aku bisa membimbing kalian pulang padanya.."
"Terima kasih!" balas Rin cepat. Senyum indah mengembang di wajahnya. Kelegaan memenuhi wajahnya. "Terima kasih bola cahaya-sama!! Terima kasih!!"
"Tapi, Rinku tercinta," suara bola cahaya kembali berbicara. "Waktu yang terhenti sudah kembali bergerak kembali. Kali ini, aku tidak dapat menghentikannya lagi.."
"Eh?" Rin tertegun mendengar kalimat itu. Itu kalimat yang tidak asing banginya, kalimat yang dengan seketika membuat ketakutan luar biasa memenuhi hatinya.
"Kau adalah jiwa pertama yang dipertahankan dua kali. Kau juga jiwa yang berbeda dengan semua jiwa yang ada, karena itu konsekuensinya–"
"Kumohon!!" potong Rin cepat. Dia tahu apa yang ingin dikatakan bola cahaya. Tidak diberitahu, dia juga sudah tahu jawabannya. Lubuk hatinya yang terdalam, jiwa dan raganya tahu semuanya. Tapi....
"Anakku.." suara Rin bergetar, ketakutan dalam hati berganti menjadi kesedihan. Berlutut, dia memeluk perutnya. "Aku mohon, untuk anak kami... Rin tidak peduli konsekuensinya, biarkan Rin melahirkan anak kami..."
Bola cahaya kembali terdiam. Tapi, sejenak kemudian, dia kembali berbicara dengan suara lembutnya. "Aku mengerti."
"Terima kasih!! Terima kasih, bola cahaya-sama!" senyum tawa kembali memenuhi wajahnya. Menghapus air mata yang ada, Rin mengucapkan ucapan terima kasih setulusnya pada bola cahaya tersebut.
Terbang mendekati Rin, bola cahaya bersinar sangat terang. Lalu, perlahan, dalam limpahan cahaya dia menuju dada Rin dan memasuki badan wanita manusia itu. "Anakku, Rinku tercinta, aku akan berdetak membimbingmu.."
Rin membuka kedua matanya lebar. Jantungnya yang berhenti kembali berdetak seperti biasa. Membuka mulutnya, dia segera mengisi paru-parunya yang kosong dengan udara. Pandangannya yang buram perlahan fokus, dan seketika dia menemukan dirinya dalam sebuah pelukan hangat.
"Rin-chan!!" suara gembira Kagome terdengar. Menoleh wajah ke samping, Rin melihat miko masa depan itu tertawa dengan mata penuh air mata. "Syukurlah, kau sudah sadar."
Menoleh ke samping lagi, menatap sekeliling, mata Rin bisa melihat, Inuyasha, Miroku, Sango, Jinenji, Inukimi, Kiri dan Kira tersenyum lega menatapnya.
Belum sempat dia mengatakan sesuatu, pelukan hangat yang menyelimutinya menarik perhatian Rin. Pelukan itu semakin kuat dan erat, namun dia juga bisa merasa, betapa bergetarnya tubuh hangat kokoh yang memeluknya.
Mengangkat kedua tangan, Rin kemudian membalas pelukan itu. "Sesshoumaru-sama, Rin masih di sini, kami tidak akan kemana-mana..."
Sesshoumaru tidak membalas, dia hanya menutup mata dan memeluk semakin erat wanita yang dicintainya. Hampir. Sekali lagi, dia hampir kehilangan mereka. Ketidakberdayaan dirinya, ketakutannya–Sesshoumaru merasa ingin gila menghadapi ini semua.
"Sesshoumaru-sama," suara lembut bagaikan dentingan lonceng terdengar lagi. Dia bisa merasakan tangan hangat yang menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Sudah tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja..."
Ucapan dan sikap yang menenangkannya. Menarik napas, Sesshoumaru kemudian mengatur perasaannya dan membuka mata. Melepaskan pelukannya, mata emasnya menatap Rin yang tersenyum padanya.
Wajah Rin masih pucat, badannya juga terlihat sangat kelelahan, tapi jantungnya telah kembali berdetak seirama dengan–? Mata Sesshoumaru terbelalak.
Tidak mempedulikan semua yang ada, Sesshoumaru kembali mengangkat tangannya dan membuka kerah lebar kimono Rin. Telinganya bisa mendengar, bukan satu, tapi dua–ada dua detakan jantung yang sama dengan detakan jantungnya sekarang.
Mata semua yang ada tertegun, dan mata mereka terbelalak tidak percaya. Bukan karena sikap Sesshoumaru, melainkan dengan apa yang mereka lihat. Ketakutan kembali menguasai hati mereka. Di dada Rin, batu utama meido seki yang berwarna biru kini berubah menjadi merah, dan batu itu telah menempel sempurna pada daging wanita manusia itu. Dengan nadi-nadi merah yang terhubung dan mengalirkan darah–meido seki berdenyut seirama dengan jantung pasangan penguasa tanah barat.
__ADS_1
....xOxOx....