Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 171


__ADS_3

Mamoru menatap Sakura, melirik ke samping, dia bisa melihat Aya dan Maya yang mengangguk kepala pelan ke arahnya. Sekian kali mencoba, dia tidak mengerti kenapa inuhanyou kecil yang biasanya selalu manis dan penurut tersebut sekarang berubah menjadi pendiam dan penyendiri. Ya—dia tahu jika Sakura marah, tapi bagaimana mungkin mereka membiarkannya menyusul Shiro?


"Sakura-chan," panggil Mamoru dengan senyum lebar di wajah. "Apakah kau ingin makan kue? atau kau ingin permen?"


"Tidak, Sakura tidak mau makan kue ataupun permen." Balas Sakura menatap Mamoru. Tidak ada senyum atau tawa di wajahnya seperti biasa, yang ada hanyalah datar tanpa ekspresi.


"Atau kau mau boneka?" tanya Mamoru lagi. Dia benar-benar tidak tahu cara menghibur inuhanyou kecil di depannya sekarang.


"Tidak." Jawab Sakura singkat.


Mamoru menghela napas putus asa dan menoleh menatap Aya serta Maya yang juga tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka berdua telah mencoba sejak tadi pagi, tapi, Sakura sama sekali tidak bergeming, inuhanyou kecil itu seakan ingin menutup dirinya dari siapapun yang mendekatinya.


Sakura sebenarnya bisa melihat kebingungan di wajah Mamoru, Aya serta Maya, dan sejujurnya, dia juga tahu dia salah. Tidak seharusnya dia bersikap seperti ini kepada mereka, sebab mereka sama sekali tidak bersalah. Hanya saja, dia tidak bisa menghentikan dirinya. Dia sangat kesal dan sedih, dia ingin menangis tapi juga tidak bisa—perasaannya sungguh kacau.


Sebuah detakan dan juga kehangatan dirasakan Sakura kemudian. Bersumber dari balik dada kimononya, dan inuhanyou kecil itu tahu, itu adalah batu aneh yang ditemukannya di taman.


Perlahan, Sakura mengeluarkan batu tersebut dan mengenggamnya di kedua tangan kecilnya. Menatapnya, dia bisa kembali merasakan detakan dan kehangatan yang terpancar. Bagaikan berusaha menghibur kekacauan hatinya, batu itu bisa menenangkannya. "Sakura tidak apa-apa."


Ucapan pelan Sakura dengan segera membuat Mamoru, Aya dan Maya menoleh menatap inuhanyou kecil tersebut. Kebingungan, mereka bisa melihat sesuatu di tangan kecil tersebut. Namun, belum sempat mereka bertanya, pintu kamar shoji ruangan tempat di mana mereka berada tiba-tiba terbuka dengan kuat.


Bersamaan, Sakura, Mamoru, Aya dan Maya menoleh menatap Yuki yang berdiri dengan wajah pucat pasi penuh kepanikan berlari masuk.


"Kalian, cepat lari dari sini! Desa ini telah diserang!!"


....xOxOx....


Suara derap langkah kaki manusia memenuhi sekeliling. Kehangatan cahaya matahari musim gugur yang tidak mampu mengalahkan dinginnya angin yang berhembus tidak membuat pasukan besar manusia yang terdiri dari taijiya, miko, biksu, pendeta dan prajurit biasa berhenti. Wajah mereka semua serius tanpa takut, walau mereka semua tahu tujuan mereka sekarang tidak menjamin keselamatan mereka.


Shura berjalan di dalam pasukan tersebut. Di sampingnya Inuyasha sekeluarga, Miroku, Sango, Shippo, Kohaku dan Tsubasa juga berjalan. Tidak seperti para manusia yang serius, rombongan mereka terlihat sangat santai, bahkan Miroku dan Shippo masih bisa bercanda untuk meramaikan keadaan.


Berjalan dan terus berjalan, Shura yang tidak peduli bisa merasakan dengan jelas tatapan para manusia yang tertuju padanya. Tidak secara langsung, tapi ada ratusan mata yang dengan hati-hati terus mencuri pandang kepada dirinya. Hanya saja, inuyoukai kecil tersebut tidak merasa pandangan itu penuh kebencian, malahan sebaliknya, pandangan itu adalah pandangan mata yang mirip dengan pandangan mata prajurit yanh membawakan mereka makanan kemarin—segan, malu dan juga hormat.


Shura tidak perlu siapapun menjelaskan arti pandangan tersebut, sebab dia tahu arti pandangan itu sekarang. Menatap ke depan, melihat ratusan manusia yang bersedia membantunya mencapai gunung hare—inuyoukai kecil itu tidak pernah menyangka akan adanya hari ini.


Youkai dan manusia adalah ras yang berbeda dan bertolak belakang. Tapi hari ini dihadapannya, mereka bisa bersatu untuk mengapai tujuan yang sama. Ini benar-benar seperti sebuah keajaiban—keajaiban yang ditinggalkan ibu kandungnya.


Kagome bercerita kepadanya apa yang terjadi sepuluh tahun lalu. Apa maksud ucapan maaf dan terima kasih para prajurit manusia tersebut—ibundanya yang penuh kasih.


Apa yang terjadi dan dilihatnya sekarang bisa terjadi karena ibundanya. Jika sepuluh tahun yang lalu beliau tidak menghidupkan kembali para manusia dan mengampuni mereka, maka Shura tahu, para manusia ini tidak akan ada, dan juga, mereka tidak akan mungkin setuju membantunya mencapai puncak gunung hare. Sebab, tujuan utamanya ke gunung hare adalah untuk menghidupkan kembali ayah kandungnya, Sesshoumaru, sang daiyoukai penguasa tanah barat, sekaligus juga—pembunuh mereka.


Takdirkah ini?—Shura tidak tahu. Tapi, dipikir lagi, tidak hanyalah manusia ini, youkai tanah netral juga begitu. Mereka semua juga terlihat jelas sangat menghormati ibundanya. Tanpa disadari siapapun, apa yang dilakukan beliau dulu kini menjadi sebuah jembatan yang digunakan olehnya—putranya.


nata no nayami o sutete


( Singkirkanlah kekhawatiranmu sayangku )


Ashita wa atarashī hi ga kuru


( Karena besok akan datang hari yang baru )


Dakishimete, osoreru koto wa nanimonai


( Berpeganglah padaku, tidak ada yang perlu ditakuti )


Anata no yume wa tōkunaikara


( Karena mimpimu tidaklah jauh )


Lagu yang dinyanyikannya Rin untuknya saat kecil teringat oleh Shura. Lagu yang terkadang didengarnya dalam mimpi—lagu penuh cinta yang dinyanyikan ibu kandungnya untuk dirinya.


Atama o yoko ni shite yasumu to


( Saat kau membaringkan kepalamu dan beristirahat )


Anata no yume ga watashi no ai o hikitsugu yō ni


( Semoga mimpimu mengambil alih, cintaku )


Yoku kiite, Nishi no musuko


( Denganlah baik-baik, putraku dari barat )


Sekai wa zankokudesuga


( Walaupun dunia kejam )


Mada kagayaku hikari ga arimasu


( Masih ada cahaya yang bersinar )


Watashitachi no jinsei no mottomo kurai hi ni


( Dalam hari-hari tergelap kehidupan kita )

__ADS_1


Ibunda yang selalu dilihatnya dalam mimpi. Apakah dia tahu akan seperti inilah hidupnya kelak?—karena itulah, meski beliau sudah tidak berada di sampingnya lagi, beliau tetap ada; menjadi cahaya dalam gelap hidupnya.


Subete no kibō ga ushinawa reta yō ni mieru toki


( Saat semua harapan kelihatannya telah hilang )


Soshite, anata wa anata no michi o mitsukeru koto ga dekimasen


( Dan kau tidak dapat menemukan jalan )


Sora o mitsumeru toki no koto o kangaete


( Pikirkan aku saat kau melihat ke langit )


Menatap keatas langit, Shura memikirkan ibundanya sesuai dengan lagu yang dinyanyikan beliau dulu. Mungkin—iya. Ibundanya adalah cahaya dalam hidupnya. Walau berada dalam keadaan apapun dan sampai kapanpun, beliau akan selalu ada untuknya.


Ko kōzan, anata no mirai wa akarui


( Anakku, masa depanmu cerah )


Anata no chichi no chi ga anata no jōmyaku ni


( Karena darah ayahmu dalam nadimu )


Kurayaminonakade, watashi wa anata ga tatakau koto o inoru


( Di saat-saat gelap, aku berdoa kau akan bertarung )


Sekai ga sugu ni anata no namae o shiru yō ni narukara


( Karena dunia akan segera tahu namamu )


Masa depannya—Shura tahu, apa masa depan yang diinginkan ibundannya untuk dirinya, yakni; kebahagiaan. Lalu, yang paling penting, dia akan bertarung tanpa takut, sebab darah ayahnya mengalir dalam nadinya dan doa sang ibu selalu menyertainya—dia akan hidup sesuai namanya.


Shura—bertarung.


....xOxOx....


Sakura, Mamoru, Aya dan Maya berlari cepat mengikuti Yuki dalam hutan samping desa tanah netral. Mata mereka bisa melihat api yang berkobar dan asap hitam yang membumbung tinggi dari rumah-rumah di desa, begitu juga dengan suara teriakan pertarungan—mereka berada dalam tengah zona pertempuran.


Youkai tidak dikenal menyerang desa tanah netral, dan jumlah mereka juga sangat banyak. Tapi, yang paling penting adalah mereka kuat. Para youkai tanah netral mulai kewalahan menghadapi mereka.


"Kak Yuki, bagaimana dengan paman Sesshoumaru?" tanya Mamoru cepat. Dia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap tenang.


"Yuki, di sini!"


Yuki langsung berhenti begitu mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Tidak jauh di depan, dia bisa melihat Koharu, sang youkai tupai melambaikan tangan ke arahnya. Tidak m


embuang waktu sedikitpun, dia kembali berlari menuju Koharu, diikuti Sakura, Mamoru, Aya dan Maya.


Koharu dengan segera membuka sebuah pintu tersembunyi yang akan menghubungkan mereka kepada sebuah terowongan bawah tanah. "Terowongan ini akan membawa kalian keluar dari desa. Dari sana, pergi ke utara. Kalian akan menemukan desa tanah netral lainnya."


"Baik." Jawab Yuki segera. Dia menatap Koharu sejenak dan berujar pelan. "Pastikan kau menyusul kami begitu Sora tiba dengam Sesshoumaru-sama, paman Koharu."


Koharu tersenyum dan mengangguk kepala. "Iya. Ayo, cepat! Jangan membuang waktu lagi."


Yuki mengangguk kepala. Menoleh menatap Sakura dan yang lainnya, dia meminta mereka memasuki terowongan bawah tanah tersebut. Namun, belum sempat mereka melakukannya, suara seseorang tiba-tiba terdengar.


"Hooo, aku tidak menyangka kalian memiliki rute melarikan diri seperti ini—ide yang sangat bagus."


Serentak, Sakura dan yang lainnya termasuk Yuki dan Koharu menoleh pandangan mereka pada sumber suara, dan mereka melihat tidak jauh dari mereka, seorang pria tua berdiri sambil tersenyum kepada mereka.


"Asano.."


Panggil Koharu pelan. Seketika juga, dia dan Yuki langsung memasang kuda-kuda bertarung, begitu juga dengan Mamoru, Aya dan Maya. Mereka berlima jelas tahu siapa pria tua dihadapan mereka sekarang—Asano, sang penguasa tanah timur.


"Aku sama sekali tidak dapat menemukan cucuku, Shura. Apakah kalian tahu dimana dia berada?" tanya Asano sambil tertawa bersahabat.


Akan tetapi, tawa bersahabatnya hanya membuat Mamoru dan yang lainnya semakin waspada. Youkai di depan mereka adalah youkai yang sangat berbahaya, mereka sama sekali tidak boleh lengah sedikitpun.


"Kalian pergi sekarang!!" teriak Yuki tiba-tiba dan melesat ke depan. Dengan dua kunai di tangannya, dia menyerang Asano, begitu juga dengan Koharu yang menggunakan pedang.


Tapi, sekali lagi, belum sempat Sakura, Mamoru, Aya dan Maya bergerak, penguasa tanah timur dengan mudah menahan serangan dan melempar kedua youkai tersebut ke belakang.


Aya dan Maya yang melihat itu dengan segera ikut bersiap siaga untuk menyerang. Mereka berdua tahu, dalam keadaan seperti ini, akan mustahil bagi mereka semua untuk melarikan diri.


"Mamoru, bawa Sakura pergi dari sini sekarang!!" perintah Aya sambil berlari menuju Asano. Menghunuskan dua pedang pendek, dia menyerang, sedangkan kembarannya, Maya melompat ke atas dan melempar keras mantra yang dimiliki.


Baik Aya maupun Maya tahu, meski menambah diri mereka dalam pertarungan, Asano tidak akan dapat mereka kalahkan. Tapi, setidaknya mereka dapat mengulur waktu supaya Sakura dan Mamoru lepas dari mala petaka ini.


Mamoru mengigit bibir bawahnya mendengar perintah Aya, dan saat melihat kedua saudaranya melawan musuh di depan. Dia menoleh menatap Sakura. "Sakura-chan, kau bisa pergi sendiri, kan?—maaf, aku tidak bisa meninggalkan kedua kakakku disini."


Mamoru tidak bersedia meninggalkan kedua saudari kembarnya begitu saja. Apa yang akan terjadi kalau dia pergi?—dia tidak berani membayangkannya. Tapi, setidaknya bertambah seorang lagi pasti akan sangat membantu.

__ADS_1


Sakura sangat kebingungan. Inuhanyou kecil itu masih tidak dapat mencerna sepenuhnya apa yang terjadi karena semuanya terjadi dengan sangat cepat.


Mamoru yang tidak dapat menunggu jawaban Sakura kemudian menoleh pandangannya kembali ke depan. Tidak membuang waktu, dia segera mengeluarkan senjatanya yang berupa tongkat besi dan berlari membantu Aya serta Maya.


Baik Aya dan Maya tidak dapat berbuat banyak dalam menyerang Asano. Meski Yuki dan Koharu sudah kembali bangkit dan membantu, mereka berempat tetap saja tidak mampu menghadapi sang penguasa tanah timur.


Mengepung dari keempat sisi yakni depan, belakang, kiri dan kanan, mereka berempat menggerakkan senjata mereka secepat yang mereka bisa untuk menyerang. Akan tetapi, Asano tetap tidak bergeming. Dia bisa menahan serangan yang begitu banyak terarah padanya dengan mudah, karena pada dasarnya kecepatan youkai rubah itu memang jauh lebih cepat.


"Terimalah ini, sialan!!" Suara teriakan Mamoru terdengar kuat. Dari atas Asano, pemuda yang meloncat tinggi menggerakkan tongkat besinya untuk mengincar kepala lawan.


Asano yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Tanpa menggerakkan badannya, kesembilan ekornya tiba-tiba muncul membungkus tubuhnya bagaikan sebuah kekai.


Serangan Mamoru terhenti saat mengenai ekor Asano, begitu juga dengan serangan Aya, Maya, Yuki dan Koharu. Lalu, sedetik kemudian, ekornya kembali terbuka menyerang dan menghempaskan mereka semua ke belakang dengan kuat.


Mamoru, Aya, Maya, Yuki dan Koharu tidak menyangka akan serangan balasan Asano yang tiba-tiba. Terjatuh ke atas tanah, mereka mengalami luka yang cukup serius, terutama untuk Mamoru, Aya dan Maya yang merupakan manusia.


"Aku mulai malas bermain dengan kalian," Ujar Asano pelan penuh kemalasan. Menatap Mamoru yang ada di depannya, dia kemudian menggerakkan salah satu ekornya menyerang lagi. "Jadi—matilah."


"Mamoru!!!"


"Mamoru, awas!!"


Teriak Aya dan Maya bersamaan. Wajah mereka menjadi pucat pasi penuh ketakutan dan kepanikan melihat serangan kuat Asano yang terarah pada adik laki-laki mereka.


Mamoru tidak dapat bergerak, dan dia juga tahu, dirinya tidak akan dapat menghindari serangan tersebut. Apakah dia akan mati seperti ini saja?—dia bahkan belum menikah!!!


Kobaran api yang sangat besar tiba-tiba muncul dan menyerang Asano. Terkejut, sang penguasa tanah timur segera menghentikan serangannya dan meloncat menghindar. Kedua mata tuanya menatap tajam sumber api tersebut.


Tidak jauh dari mereka, Asano melihat seorang youkai katak berdiri dengan wajag penuh ketakutan mengenggam erat sebuah tongkat dengan kepala wanita dan pria tua—Jaken.


"A-akulah lawanmu!!!" teriak Jaken terbata-bata dengan suaranya yang bergetar.


Jaken tidak menyangka sama sekali dia akan melihat pertempuran ini saat mencoba menyelamatkan diri ke dalam hutan dari youkai yang menyerang desa. Sejujurnya, dia tidak ingin terlibat, namun melihat Mamoru yang hampir celaka, mau tidak mau, dia muncul. Dia memang pengecut, tapi tidak berarti dia akan melihat anak kecil yang dikenalnya mati begitu saja.


Asano yang mendarat menoleh menatap Jaken. Wajahnya yang barusan tersenyum kini berubah. Terlihat jelas, dia mulai merasa kesal dan marah. "Kenapa ada banyak sekali serangga di sini?"


Aya, Maya, Yuki dan Koharu segera berlari mendekati Mamoru dan memeriksa keadaan pemuda tersebut. Jaken juga begitu, setidaknya berenam akan lebih kuat dari pada satu saat melawan Asano.


Saat melihat keadaan Mamoru baik-baik saja, Aya, Maya, Yuki dan Koharu bernapas lega. Bersamaan lagi, mereka kembali menatap Asano, berusaha memikirkan taktik baru untuk melawannya.


"Aku tidak ingin membuang waktu lagi." ujar Asano pelan. Mengangkat tangan kanan, dia mengumpulkan youkinya. Lalu, saat dia mengibaskan tangannya, serangan youki dengan kekuatan penghancur yang kuat melesat cepat ke arah Mamoru dan yang lainnya.


Mamoru dan yang lainnya dengan segera mengangkat senjata untuk menahan serangan youki tersebut. Namun, tiba-tiba saja, di depan mereka semua, Sakura muncul. Membuka kedua tangannya lebar-lebar, dia menjadikan badan kecilnya sebagai perisai.


"Sakura!!"


"Tidak!! Sakura!!"


Suara teriakan Mamoru dan yang lainnya terdengar, dan menatap serangan yang semakin mendekat, Sakura menutup matanya erat karena takut. Lalu tiba-tiba, dari balik dada kimononya, sesuatu bersinar terang.


Sebuah kekai muncul, dan kekai itu bukanlah kekai sembarangan. Dinding elemen angin, air, api, tanah, kayu, logam serta petir bergabung dan berputar melindungi Sakura dan yang lainnya


Mamoru, Aya, Maya, Yuki dan Koharu memang tidak pernah melihat kekai seperti ini secara langsung, dan mereka hanya mengetahuinya dari cerita. Tapi,tidak untuk Jaken yang pernah melihatnya secara langsung sepuluh tahun yang lalu.


Terjatuh kebawah, Jaken menatap tidak percaya Sakura yang ada di depannya. "T-tidak mungkin... Meido seki..."


Dari balik dada kimono Sakura, semua yang ada bisa melihat sebuah batu berbentuk seperti bola bersinar terang. Walau mereka juga dapat melihat retakan kecil dimana-mana dalam bola permata tersebut, itu tidak salah lagi adalah—pusaka tanah barat yang hilang;meido seki.


Asano juga menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, seketika perasaat terkejutnya berubah menjadi ketakutan. Dia harus segera membunuh inuhanyou yang dapat menggunakan kekuatan meido seki sekarang juga, sebab jasad Sesshoumaru juga berada dalam desa ini. Semua rencana mereka akan hancur jika kekuatan asli dari pusaka tanah barat itu menghidupkan kembal\i inudaiyoukai tersebut.


Mengeluarkan tongkat senjata dan mengumpulkan segenap youkinya, Asano melesat maju menyerang—dia harus menghentikan ini semua tidak peduli apapun yang terjadi sebelum semuanya terlambat.


....xOxOx....


Dalam kamar yang hening walau diluar suara pertempuran ada di mana-mana, Sesshoumaru yang tidak bernapas berbaring tidak bergerak. Wajahnya yang tenang terlihat bagaikan sedang tertidur tidak mempedulikan apa yang terjadi.


Tenang.


Tanpa suara.


Tanpa napas.


Tanpa kehidupan.


.


.


.


Di dalam kegelapan tidak berujung, Sesshoumaru, inudaiyoukai penguasa tanah barat berdiri.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2